cover
Contact Name
Zulkipli Lessy
Contact Email
jkiipasca@gmail.com
Phone
+6288227810471
Journal Mail Official
jkiipasca@gmail.com
Editorial Address
Published by Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta Website: http://ejournal.uin-suka.ac.id/pasca/jkii Gedung Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner
ISSN : 25794930     EISSN : 27758281     DOI : https://doi.org/10.14421/jkii.v6i2.1195
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner welcomes original research for manuscripts with various theoretical perspectives and methodological approaches. It invites researchers and scholars of all backgrounds related to Islamic studies to contribute their research covering all aspects of Islam and the Islamic world in the areas of philosophy, history, religion, political science, international relations, psychology, sociology, anthropology, economics, environmental and development issues etc. related to scientific research. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner offers an open platform for exchanging knowledge and ideas (with various perspectives) to facilitate methodological reform in Islamic studies and promote critical academic methodologies that respond to the current issues in Islam and the Islamic world.
Articles 95 Documents
Pernikahan Anak Dan Kualitas Bonus Demografi (Maqasid Shariah Dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Tentang Batas Usia Perkawinan) Isna Noor Fitria
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v3i1.1214

Abstract

Sebagai salah satu bidang terpenting dalam hukum Islam, hukum keluarga mendapatkan legitimasi hukum dalam pembentukan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan yang merupakan hasil kesepakatan (konsensus) banyak pihak, baik politisi, organisasi wanita, maupun agamawan, dan menjembatani ketegangan kepentingan negara serta antara hukum Islam dan hukum adat, yang telah menjadi living law (hukum yang hidup) di masyarakat. Aturan-aturan yang bersifat reformatif-progresif untuk kaum wanita diterapkan, di antaranya asas monogami, pencatatan perkawinan, dan batas usia perkawinan. Selama empat dekade UU Perkawinan dicanangkan, terhitung hanya ada dua perubahan mendasar terkait materi undang-undang, yaitu status anak luar kawin dan perjanjian setelah perkawinan berlangsung. Beberapa permohonan judicial review yang lain ditolak oleh Mahkamah Konstitusi, di antaranya tentang batas usia perkawinan bagi perempuan. Melalui putusan Nomor 30-74/PUU-XII/2014, Mahkamah Konstitusi menolak seluruh uji materi permohonan judicial review Pasal 7 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan terkait batas usia minimal 16 tahun bagi perempuan untuk menikah. Putusan ini mengundang kekecewaan banyak pihak dikarenakan anggapan bahwa Mahkamah Konstitusi membiarkan anak perempuan mengalami kematian dan cacat sebagai resiko dari melahirkan di usia dini, serta terputusnya akses terhadap pendidikan. Pernikahan anak secara tidak langsung mempengaruhi kualitas bonus demografi generasi produktif yang akan dihadapi Indonesia pada rentang watu 2020-2030 mendatang. Penelitian ini mendiskusikan tentang dasar-dasar pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara serta apakah putusan tersebut sudah sesuai dengan tujuan pernikahan? Bersifat  deskiptif-kualitatif  dengan  menggunakan  pendekatan  maqa>s}id  shari}ah  Jasser  Auda, penelitian ini menemukan bahwa putusan tersebut tidak memperhatikan tujuan universal pensyariatan pernikahan yakni sebagai institusi pembentuk karakter generasi, yang menuntut tidak  hanya  kecukupan  umur  tapi  juga  kesiapan  mental.  Pembacaan  dengan  maqāṣid  sharīah  diarahkan pada upaya tercapainya kesetaraan dan keadilan gender, terpenuhinya hak anak-anak, serta dapat berkontribusinya hukum Islam terhadap human development (pembangunan manusia).[As one of the most important parts of Islamic law, family law has gained its legal protection through Law No. 1/1974 on Marriage which was consensus of many sides, like politicians, women organizations, and scholars. This law has bridged the tension among country interest as well as Islamic law and customary law; both are living law. The reformative- progressive rullings, especially for women, are established, such as monogamy in principle, marriage registration and marriageable age. During four decades of the enactment of the law, there are only two approved-judicial reviews, namely the status of illegitimate child and postnuptial agreement. The Indonesian Constitutional Court rejected other objection requests, like marriageable age for woman. Through decision no. 30-74/PUU-XII/2014, the Constitutional Court rejected all judicial review requests of Article 7 (1) of Law No.1/1974 on Marriage relating to minimum age of marriages for females of 16. Many parties were disappointed with the ruling, arguing that government allow women to die and suffer health problems as an impact of giving birth at child age as well as child marriage means the end to get education. Early marriage also indirectly effects demography bonus quality of productive generation in which Indonesia will deal with in the later 2020-2030. This study discussed the judges consideration in deciding the case and whether the decision is in accordance with the purpose of marriage? Applying descriptive-qualitative method and  using  Jasser  Audah  maqāṣid  sharīah  approach,  this  study  found  that  the  verdict  fails  to consider the global purpose of marriage for the place of children character building, which requires  not  only  the  age  adequacy  but  the  mental  readiness  also.  The  reading  with  maqāṣid  sharīah  is directed to gain gender equality, protection over children’s rights, and to help Islamic law contribute in human development.]
Hindu-Buddha: Cara Masyarakat Nusantara dalam Berspiritual Sebelum Datang Islam Domidoyo Marthinus
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v5i2.1142

Abstract

Nusantara adalah suatu wilayah kepulauan yang berada di antara dua benua, Asia dan Australia, sebagai benua yang berada dalam dua samudera raya yang di kenal sebagai samudera India dan samudera Pasifik. Kepulauan ini memotong ekuator dari 95 derajat sampai 141 derajat bujur timur. Penduduk pulau ini menarik perhatian berbagai masyarakat dari penjuru dunia, karena tanah subur dengan  limpahan rempah-rempah dan corak masyarakat yang akomodatif dengankecenderunganfriendly dengan kehadiran tamu. Hal ini memicu para pedagang untuk berniaga dan sekaligus bersyiar atau berdakwah. Orang India yang beragama Hindu dan Buddha menjadi orang pertama yang berlabuh untuk berdagang dan sekaligus memperkenalkanagama yang di anut. Hal ini menjadikan identitas sangat bagus untuk diperbincangkan. Sebagai pendatang dantamu di Nusantara, orang-orang India membawa segala identitas termasuk budaya dan agama. Paper ini menjelaskan cara agama dari India hidup dan besar di tengah masyarakat.[The Nusantara is an archipelago located between two continents, Asia and Australia, as a continent located in two major oceans known as the Indian Ocean and the Pacific Ocean. These islands intersect the equator from 95 degrees to 141 degrees east longitude. The inhabitants of the island attract the attention of various people from all over the world because the land is fertile with an abundance of spices and an accommodating community style with a friendly inclination to the presence of guests. It triggered the traders to trade and simultaneously spread or preach. Indians who were Hindus and Buddhists were the first to anchor to trade and at the same time introduce the religion adherence embraced. It makes identity important to talk about. As guests and guests in the archipelago, Indians carry all identities, including culture and religion. This paper explains the way religions from India live and grow in society.]
Perempuan Dalam “Misi Suci” Kesejahteraan Sosial: Wujud Dikotomi Ignes Novirensi
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v3i1.1209

Abstract

Kesejahteraan sosial merupakan sebuah “misi suci” yang dikonsepkan serta dijalankan di seluruh negara maju dan negara berkembang, termasuk Indonesia sebagai negara berkembang. Banyak yang telah dilakukan pemerintah dari masa ke masa pergantian rezim melalui program bantuan sosialnya, tidak terkecuali perempuan sebagai penerima manfaat. Perempuan di Indonesia masih disebut sebagai golongan yang lebih rentan tehadap kemiskinan.Melalui Program Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), MAMPU, Jaminan Persalinan (Jampersal), dan Program Keluarga Harapan (PKH) Indonesia berusaha mewujudkan “misi suci” kesejahteraan sosial bagi warga negaranya. Tulisan ini mendeskripsikan perjalanan perempuan sebagai penerima bantuan program kemiskinan dalam konteks isu kesejahteraan sosial. Representasi perempuan sebagai penerima bantuan program kemiskinan menampilkan dikotomi antara gagasan kesetaraan dengan praktek implementasi programnya. Perempuan diposisikan siap menjadi objek dari program kesejahteraan sosial namun pada prakteknya menurut konsep gender nature dan nurture serta ide pemikiran Bordieou masih terdapat beberapa poin yang belum maksimal mengingat rencana Indonesia menyongsong tahun 2050 diperkirakan menjadi negara terkaya keempat di dunia yang merujuk pada Graduate Forum UIN Sunan Kalijaga. Memahamimasalah ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif studi pustakaan dengan mengumpulkan dan menganalisa literatur terdahulu. Tulisan ini lalu mencoba menguraikan dinamika sekaligus tantangan dan problematika secara kultural dan struktural. [Social welfare is a “holy mission” conceptualized and implemented in all developed and developing countries, including Indonesia as a developing country. Government has done many efforts from time to time of regime changes through their social assistances including women as beneficiaries. Women in Indonesia are categorized as more vulnerable to poverty. Through Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), MAMPU, Jaminan Persalinan (Jampersal), and Program Keluarga Harapan (PKH) Indonesia has attempted to realize the “holy mission” of social welfare for the citizens.This paper describes the journey of women as beneficiaries of poverty programs in the context of social welfare issue. Women’s representation as the beneficiaries of poverty programs performs a dichotomy etween the idea of equality and the practice of program implementation. Women are positioned to be ready as the objects of social welfare programs but in the practice based on nature and nurture gender concept and Bordieou’s idea there are still some points that have not been maximized considering that Indonesia is planned to be the fourth richest country in the world in 2050 that refers to Graduate Forum UIN SunanKalijaga. Understanding this problem the author used literature studies of quality approach by collecting and analyzing previous literatures. This paper then tried to describe the dynamics as well as challengesand problems in a cultural and structural way.]
Religious Archives: Peran Arsip Dan Dokumentasi Dalam Penulisan Sejarah Peradaban Islam Di Indonesia Ulul Absor
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v2i1.1082

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki sejarah berlimpah ruah, dari masa penjajahan maupun setelah merdeka. Indonesia sampai saat ini juga dikenal sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Sejarah peradaban Islam bermula dilakukan oleh para pedagang Arab dibantu oleh para pedagang Persia dan India. Abad ke 7 Masehi merupakan awal kedatangan agama Islam. Pada masa ini, baru sebagian kecil penduduk yang bersedia menganutnya karena masih berada dalam kekuasaan raja-raja Hindu-Budha. Sejarah tersebut menjadikan tolak ukur dalam pembentukan gagasan pokok karya tulis ini. Terkait dengan judul artikel ini, dalam penelusuran sejarah peradaban Islam di Indonesia sangat membutuhkan arsip dan dokumentasi sebagai bahan literasi dalam penyusunannya. Studi pustaka merupakan jurus jitu untuk mengumpulkan materi-materi yang diinginkan. Hasilnya bahwa sejarah peradaban Islam di Indonesia harus ditinjau kembali dan dilestarikan dalam bentuk apapun supaya memori masa lampau bisa diingat oleh generasi di masa mendatang.[Indonesia is one country that has a history abound, from the era of colonialism and after independence. Indonesia today is also known as the largest Muslim country in the world. The history of Islamic civilization originated conducted by Arab merchants aided by merchants Persia and India. 7th century AD is the early arrival of Islam. At this time, only a small portion of the population willing to embrace it because they are in the power of Hindu-Buddhist kings. This history makes the benchmark in the formation of the basic idea of this writing. Related to the title of this article, tracing the history of the civilization of Islam in Indonesia needs archives and documentation as literacy materials in their preparation. A literature study is a sniper stance to gather the desired material. The result is that the history of Islamic civilization in Indonesia should be reviewed and preserved in any form in order to the memory of the past can be remembered by future generations.]
Selebritas dan Transformasi Keagamaan: Citra Ganda Artis Perempuan Muslim Neneng Irwanti
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v5i1.1136

Abstract

Transformasi merupakan perubahan, pada dewasa ini sering menjadi citraganda dalam selebritas khususnya pada perempuan muslimah. Transformasi keagamaan sering di artikan proses perubahan agama yang tidak sesuai syariat agama menjadi yang sesuai dengan syariat agama, yang di lakukan pada sebritis. Pada penelitian ini peneliti memiliki tujuan, untuk mengetahui bagaimana gaya hidup selebritis perempuan muslimah yang menjadi rujukan masyarakat yang sedang melakukan transformasi keagamaan, dan citraganda yang dimiliki oleh artis perempuan muslimah yang sedang berhijrah, karena dalam proses ini para selebriti tidak kehilangan popularitas dan proses hijrahnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni kualitatif dengan melakukan observasi, terhadap para selebriti yang sedang melakukan proses hijrah dan menjadi rujukan masyarakat. Selain itu peneliti juga menggukan analisis dokumentasi yang di bagikan selebritis dalam media sosia, dan trasnsformasi keagamaan yang dilakukan selebritis dapat menjadikan rujukan bagi masyarakat.[Transformation is a change, in this day and age it is often a celebrity in celebrities especially in Muslim women. Religious transformation is often interpreted as a process of religious change that is not in accordance with religious law to be in accordance with religious law, which is carried out on sebritis. In this study, researchers have a goal, to find out how the lifestyle of celebrity Muslim women who become a reference for people who are doing religious transformation, and the image that is owned by Muslim women artists who are emigrating, because in this process celebrities do not lose popularity and the hijrah process. The method used in this research is qualitative by observing celebrities who are doing a migratory process and become a community reference. In addition, researchers also useddocumentation analysis that celebrities share on social media. Religious transformation carried out by celebrities can be a reference for the community.]
Dakwah Youtube Sebagai Komoditas Masyarakat Perkotaan Iin Nur Zulaili
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v3i2.1204

Abstract

Dakwah Youtube menjadi salah satu alat media untuk mentransformasikan ilmu tentang ajakan, larangan maupun berita melalui YouTube. Jika hal itu dijadikan sebagai medium aktivitas maka persepsi tentang dakwah sebagai aktivitas keluar rumah atau berpidato di depan orang banyak tentu mengalami perubahan. Dakwah saat ini mengalami pergeseran makna dan gerakan. Metode yang penulis lakukan ialah metode kualitatif diperkuat dengan teori New Social Movement. Metode ini untuk mengungkapkan makna dari beberapa konten Islami yang ada di Youtube yang digerakkan oleh masyarakat perkotaan sehingga akan terlihat bagaimana media dakwah tersebut memberikan dampak yang terjadi pada kebanyakan anak muda saat ini. Kemudian teori gerakan sosial baru akan memberikan gambaran secara global bahwa gerakan dakwah lewat media Youtube tersebut tmengartikulasikan gerakan perubahan pola pikir pada masyarakat Indonesia dalam menyikapi dan memanfaatkan media.[Da'wah Youtube is one of the media tools to transform knowledge about invitations, prohibitions and news through YouTube. If it is used as a medium of activity, the perception of da'wah as an activity to leave the house or make speeches in front of the crowd will certainly experience a change. Da'wah is currently experiencing a shift in meaning and movement. The method used by the author is a qualitative method reinforced by the theory of the New Social Movement. This method is to reveal the meaning of some Islamic content on Youtube that is driven by urban communities so that it will be seen how the preaching media has an impact on most young people today. Then the new social movement theory will provide a global picture that the da'wah movement through Youtube media articulates a movement of changing mindsets in Indonesian society in responding to and utilizing the media.]
Sekolah Pascasarjana PTAIN (Ujian Komprehensif, Upaya Peningkatan Kualitas Program Doktor) Akh. Minhaji
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v1i2.1064

Abstract

Tidak ada abstrak
Penguatan Pendidikan Karakter melalui Program Konseling Pondok Pesantren Mahir Arriyadl di Keling Kepung Kediri Khoirul Anwar
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v6i2.1149

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa tentang penguatan pendidikan karakter melalui Program Konseling Pondok Pesantren Mahir Arriyadl di Keling Kepung Kediri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti mendapatkan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Tahap-tahap penelitian meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian ini berupa: (1) Penerapan Penguatan Pendidikan karakter melalui program konseling di Pondok Pesantren Mahir Arriyadl Keling Kepung Kediri dilatarbelakangi oleh rasa tanggung jawab pondok dalam melaksanakan secara langsung kepada para santri tentang materi-materi yang sudah diajarkan terutama adap tingkah laku melalui program konseling, serta penerapan tata tertib pondok pesantren menjadikan para santri menjadi terbiasa dengan peraturan yang ada di pondok (2) Aktualisasi penguatan pendidikan karakter dilakukan dengan pendekatan berbasis individu, keluarga, pondok, dan masyarakat dalam satu kesatuanyang utuh dan saling terkait (3) Upaya strategis pondok pesantren dalam meningkatkan program penguatan pendidikan karakter melalui program konseling yaitu menjadikan pendidikan karakter bagian dari kurikulum, pemenuhan sarana dan prasarana yang memadai, menyatukan visi sumber daya manusia.[This study aims to analyze the strengthening of character education through the Mahir Arriyadl Islamic Boarding School Counseling Program in Keling Kepung Kediri. This study uses a qualitative approach. Researchers get data using interviews, observation, and documentation. The research stages include data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The findings of this study are: (1) The application of strengthening character education through a counseling program at the Pondok Pesantren Mahir Arriyadl Keling Kepung Kediri is motivated by the sense of responsibility of the cottage in implementing directly to the students about the materials that have been taught, especially behavior through the counseling program. , as well as the application of boarding school rules and regulations to make students familiar with the existing regulations in the boarding school (2) Actualization of strengthening character education is carried out with an individual, family, cottage, and community-based approach in a unified and interrelated unit (3) Strategic efforts Islamic boarding schools in improving character education strengthening programs through counseling programs, namely making character education part of the curriculum, fulfilling adequate facilities and infrastructure, unifying the vision of human resources.]
Agama dan Negara Menakar Pandangan HTI tentang Khilafah dan Demokrasi Sadari Sadari
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v1i1.1059

Abstract

Persoalan yang kerap kali menjadi pembicaraan di kalangan para pemikir muslim adalah terkait hubungan antara agama dan negara. Persoalan ini sering menimbulkan kontroversi sehingga masalah ini terkesan belum tuntas terjawab.Untuk itulah, artikel ini mengetengahkan hubungan Agama dan Negara dalam pandangan Hizbut Tahir Indonesia (HTI), terkait khilafah dan demokrasi.Perdebatan khilafah dan demokrasi terjadi antaraAzyumardi Azra dengan M. Ismail Yusanto. Azyumardi Azra menulis di Kompas dengan judul “Relevansi Khilafah di Indonesia”, menyarankan supaya HTI untuk lebih realistis dengan cara berdemokrasi  yakni membentuk parpol modern dan bertarung di panggung perpolitikan Indonesia. Menurut Azyumardi Azra kelayakan (viability) gagasan khilafah dalam konteks Indonesia modern memang pantas dipertanyakan. Gagasan itu lebih merupakan romantisme masa lalu yang tidak relevan dengan realitas zaman sekarang. Sudah barang tentu HTI sulit menerima sanggahan ini sebagaimana terlihat dalam tanggapan juru bicara HTI, M. Ismail Yusanto yang balik mempertanyakan kelayakan argumentasi Azyumardi terutama pemahamannya atas QS: 2/30. Sebagai sejarawan, Azyumardi mendasarkan argumentasinya pada bukti-bukti historis pelaksanaan konsep khilafah sepanjang sejarah, sementara Yusanto berpijak pada landasan normatif. Perbedaan pijakan inilah sesungguhnya yang menjadikan pemahaman mereka atas konsep khilafah tidak bisa bertemu. Penalaran normatif yang kontroversial oleh Yusanto dan keengganan Azymardiuntuk sedikit keluar dari “rumah sejarah” nya telah membuat isu khilafah semakin sulit diposisikan dalam prioritas daftar “pekerjaan rumah” umat Islam Indonesia. Bagi Yusanto dan simpatisan HTI, isu ini dianggap demikian krusial.Sementara bagi Azymardi ini tak lebih dari sekedar romantisme yang tak perlu diperpanjang. Pernyataan Yusanto bahwa menegakkan khilafah adalah perintah Allah dan Nabi masih mambingungkan. Apakah yang dimaksud khilafah itu adalah system pemerintahan yang mengacu pada Negara Madinah abad ke-7 M ataukah kepemimpinan secara umum, belum ditegaskan. Akibatnya, Azyumardi denganfeeling historisnya memahami bahwa khilafah yang dimaksud adalah sistem pemerintahan Negara Madinah, sementara Yusanto bersikap mendua.Pernyataannya mengarah pada sistem pemerintahan tetapi bukti normatif yang dipakainya menunjukkan khilafah dalam pemaknaan kepemimpinan secara umum.[Religion and state become an interesting topic among Muslim intellectuals. This topic often causes controversy so that this problem has not been completely solved. For that reason, this article explores the relationship between religion and state in the view of Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) about caliphate and democracy. The debate on caliphate and democracy occurs between Azyumardi Azra and M. Ismail Yusanto. Azyumardi Azra wrote on Kompas “the relevance of caliphate in Indonesia”. In his article, he suggested HTI be more realistic in the way of democracy to form a modern political party to be involved in the world of Indonesian politics. According to Azyumardi Azra, the viability of the idea of the caliphate in modern Indonesia context is really should be questioned. This idea is more likely to be romanticism of the past which is not relevant to the present days. Surely, HTI would not just accept this refutation as the spokesman of HTI, M. Ismail Yusanto, responded and questioned the argumentation of Azyumardi especially his understanding about QS: 2/30. As a historian, Azyumardi bases his argument on historical proof throughout the implementation of the caliphate in history. Meanwhile, Yusanto only bases on the normative foundation. This difference in footing makes their understanding of the concept of the caliphate cannot be met. The normative and controversial understanding by Yusanto and the reluctance of Azyumardi to just think a bit outside his “historical house” have made the caliphate issue difficult to be placed on the priority list of Indonesian Muslim “homework”. To Yusanto and HTI followers, this issue is so crucial. While to Azyumardi this is no more than just romanticism that need not be extended. Yusanto’s statement, that upholding Khilafah is the command of Allah and the Prophet, is still confusing. Whether caliphate is the system of government that refers to the Medina State.]
Profesionalitas Dan Penilaian Kinerja Guru PAI: Studi Pada Guru SMP Di Kabupaten Magelang Deny Rachman Arif
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v6i1.1146

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa adanya pengaruh profesionalitas guru Pendidikan Agama Islam (PAI) bersertifikasi dan motivasi mengajar terhadap hasil Penilaian Kinerja Guru (PKG). Populasi dari penelitian ini adalah guru Pendidikan Agama Islam bersertifikasi tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Magelang, yang berjumlah 52 orang. Teknik pengambilan data menggunakan kuesioner. Metode analisis yang digunakan regresi linier ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: pertama, Guru PAI sertifikasi yang masuk dalam kategori hasil PKG sangat baik berjumlah 52 guru (100%). Kedua, terdapat pengaruh positif dan signifikan profesionalitas GPAI sertifikasi dan motivasi mengajar terhadap hasil PKG, sumbangan relative (SR) masing-masing variabel bebas yaitu, profesionalitas GPAI sertifikasi menyumbang 61,3% dan motivasi mengajar menyumbang sebesar 38,7%. Sumbangan efektif (SE) masing-masing variabel bebas yaitu, profesionalitas GPAI sertifikasi menyumbang 38,6% dan motivasi mengajar menyumbang sebesar 24,4%. Besarnya sumbangan efektif (SE) dari kedua variabel bebas terhadap variabel terikat adalah sebesar 63% sedangkan 37% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti pada penelitian ini.[This study aims to analyze the effect of the professionalism of certified Islamic Religious Education (PAI) teachers and teaching motivation on the results of the Teacher Performance Assessment (PKG). The population of this study were teachers of Islamic Religious Education certified at the Junior High School (SMP) level in Magelang Regency, totaling 52 people. Data collection techniques using a questionnaire. The analytical method used is multiple linear regression. The results of this study indicate that: first, the certified PAI teachers who fall into the category of very good PKG results are 52 teachers (100%). Second, there is a positive and significant effect of GPAI certification professionalism and teaching motivation on PKG results, the relative contribution (SR) of each independent variable, namely, GPAI certification professionalism contributed 61.3% and teaching motivation contributed 38.7%. The effective contribution (SE) of each independent variable, namely, GPAI certification professionalism contributed 38.6% and teaching motivation contributed 24.4%. The effective contribution (SE) of the two independent variables to the dependent variable is 63%, while 37% is influenced by other variables not examined in this study.]

Page 2 of 10 | Total Record : 95