cover
Contact Name
Zulkipli Lessy
Contact Email
jkiipasca@gmail.com
Phone
+6288227810471
Journal Mail Official
jkiipasca@gmail.com
Editorial Address
Published by Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta Website: http://ejournal.uin-suka.ac.id/pasca/jkii Gedung Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner
ISSN : 25794930     EISSN : 27758281     DOI : https://doi.org/10.14421/jkii.v6i2.1195
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner welcomes original research for manuscripts with various theoretical perspectives and methodological approaches. It invites researchers and scholars of all backgrounds related to Islamic studies to contribute their research covering all aspects of Islam and the Islamic world in the areas of philosophy, history, religion, political science, international relations, psychology, sociology, anthropology, economics, environmental and development issues etc. related to scientific research. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner offers an open platform for exchanging knowledge and ideas (with various perspectives) to facilitate methodological reform in Islamic studies and promote critical academic methodologies that respond to the current issues in Islam and the Islamic world.
Articles 98 Documents
Pemuda dalam al-Qur’an dan Hadis Muhammad Anshori
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v1i2.1060

Abstract

Tulisan ini membahas tentang istilah yang digunakan dalam al-Qur’an dan hadis terkait dengan pemuda. Masalah pemuda memang menarik untuk dikaji karena mereka memiliki peran penting dalam membangun masyarakat, negara, dan peradaban. Peran pemuda sangat diharapkan untuk generasi sekarang dan generasi mendatang, tidak ada yang mengingkari hal ini karena sudah jelas. Tulisan ini tidak membahas masalah pemuda secara umum, tetapi hanya terfokus pada kata yang terkait dengannya. Dalam al-Qur’an ada dua kata yang digunakan, yaitu fatā dan fityah, baik dalam bentuk mufrad ataupun tas|niyah. Kedua kata ini ditujukan kepada tokoh-tokoh baik, seperti Nabi Ibrahim, murid Nabi Musa, para penghuni goa (ashāb al-kahfi), dan Nabi Yusuf. Sedangkan kata pemuda yang digunakan dalam hadis adalah syāb dan syabāb.Konteks penggunaan kedua kata ini berbeda-beda, termasuk juga dalam kajian alam akhirat, seperti pemuda yang akan dinaungi pada hari akhirat kelak. Dari segi kritik sanad dan matan hadis, ditemukan ada satu hadis bermasalah yaitu hadis terkait dengan nikah pemuda. Masalah nikahmemang bukan terkait halal-haram tetapi karena hadis itu berasal dari Nabi maka perlu diteliti. Kritik sanad dan matan hadis memang hal yang urgen dalam kajian hadis, baik dari masa lalu ataupun masa sekarang.[This paper discusses the terms used in the Qur'an and hadiths related to youth. The problem of youth is indeed interesting to study because they have an important role in building society, state and civilization. The role of youth is expected for present and future generations, no one can deny this because it is clear. This paper does not discuss youth issues in general, but only focuses on the words related to them. In the Koran, two words are used, namely fatā and fityah, either in the form of mufrad or tas | niyah. These two words are addressed to good figures, such as the Prophet Ibrahim, the disciples of the Prophet Musa, the inhabitants of the cave (ashāb al-kahfi), and the Prophet Yusuf. Meanwhile, the word youth used in the hadith is syāb and shabāb. The context for the use of these two words is different, including in the study of the afterlife, such as youths who will be shaded in the afterlife. In terms of the criticism of sanad and hadith observations, it is found that there is one problematic hadith, namely the hadith related to youth marriage. The problem of marriage is not related to halal-haram but because the hadith comes from the Prophet, it needs to be examined. The criticism of sanad and matan hadith is indeed an urgent matter in the study of hadith, both from the past or the present.] 
Implementasi Kegiatan Ekstrakurikuler Rohis Dalam Pengembangan EQ Dan SQ Di SMA N 4 Kota Magelang Effendi Yusuf
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v6i1.1144

Abstract

Penelitian ini mengkaji kegiatan ekstrakurikuler di SMA N 4 Magelang dalam mengembangkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual SMA N 4 Magelang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan penelitian di lapangan (field research). Teknik pengumpulan data, berupa observasi, dokumentasi, dan wawancara. Kesimpulan penelitian ini, yakni ROHIS sebagai lembaga yang ada di sekolahan yang memiliki kegiatan-kegiatan keagamaan. Kegiatan tersebut berimplikasi pada pengembangan pengetahuan dan wawasan agama Islam peserta didik yang kurang tergarap pada kegiatan-kegiatan pembelajaran Pendidikan agama Islam di kelas. ROHIS juga membantu siswa dalam menggali potensi diri, kreativitas, pengalaman keagamaan dan menguatkan keimanan.[The paper examines extracurricular at SMA N 4 Magelang in developing emotional intelligence and spiritual intelligence. The study uses a qualitative approach in the field (field research). Data collection techniques, in the form of observation, documentation, and interviews. The conclusion talks ROHIS as an institution in schools that have religious activities. These activities have implications for the development of knowledge and insight into spiritual faith students who have not been explored in religious worship with learning activities in the classroom. ROHIS also helps students to explore their potential, creativity, religious experiences and strengthen their faith.]
@Wardahmaulida_: Platform Islami Media Sosial Dari Niqab Eksklusif pada Niqab Fashion Romario Romario
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v5i2.1121

Abstract

The outbreak of social media provides an alternative to celebrities who appear besides on television. The term social media celebrities also appear as 'selebgram' and 'selebtwitt'. Their appearance is based on a number of fans on social media who actively follow them both on the Instagram or the Twitter. This celebrity culture gives birth to interesting public figures who have never been found on television. One interesting program is @wardahmaulina_, a Muslim woman who uses a niqab of various colors in each of her postings. Her popularity began from her love affair with Natta Reza, who is now her husband, and was widely discussed in the social media. The story of their introduction only through Instagram and later married, much liked by citizens. Since then, both Natta Reza and Wardah have become popular. This paper focuses on discussing new phenomena about Wardah’s models of dressing (1.3 million of Instagram followers) that make the niqab a fashion trend. The niqab itself was initially stigmatized by the salafi movement as it tends to be rigid but is now undergoing a transformation after the appearance of figures like Wardah who presents the niqab with a more trendy and attractive style in the Muslimah market culture. This paper shows that the niqab is no longer synonymous with a rigid salafi movement but has transformed into a trendy Muslim outfit.[Merebaknya media sosial memberikan alternatif selebriti yang tampil selain di televisi. Istilah selebriti media sosial bermunculan dengan sebutan ‘selebgram’ dan ‘selebtwitt’. Kemunculan mereka berdasarkan banyaknnya penggemar di media sosial yang aktif mengikuti baik di instagram ataupun twitter. Kultur selebriti ini melahirkan tokoh publik menarik yang sebelumnya tidak pernah ditemui ditelevisi. Salah satu selebgram yang menarik adalah @wardahmaulina_, ia seorang Muslimah yang menggunakan niqab berbagai warna dalam setiap postingannya. Kepopulerannya dimulai ketika kisah asmaranya dengan Natta Reza yang kini menjadi suaminya, ramai diperbincangkan di ruang media sosial. Kisah perkenalan mereka yang hanya melalui instagram kemudian menikah, banyak disukai oleh warganet. Semenjak itulah nama Natta Reza dan Wardah populer. Paper ini fokus membahas fenomena baru tentang model berpakaian Wardah (1,3 Juta pengikut instagram) yang menjadikan niqab sebagai tren fashion. Niqab sendiri yang pada awalnya distigmakan denga gerakan salafi yang cenderung kaku, kini mengalami transformasi setelah tampilnya sosok seperti Wardah yang menampilkan niqab dengan lebih trendi dan menarik dengan budaya pasar muslimah. Paper ini menunjukkan bahwa niqab tidak lagi identik dengan gerakan salafi yang kaku, namun sudah bertransformasi menjadi pakaian muslimah yang trendi.]
Matrik Baru Ekologi Ziauddin Sardar Ridhatullah Assya'bani
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v1i1.1055

Abstract

Studi ini berusaha melacak pemikiran Ziauddin Sardar, seorang arsitek Muslim abad 21, dalam merancang rumusan matrik ekologi Islam, sesuatu yang jarang ditempuh oleh para pemerhati Ziauddin Sardar pada umumnya. Selama ini, Sardar cenderung diposisikan sebagai futurolog yang mengkaji jika bukan masa depan peradaban, relasi global umat Muslim dan Kristen di dunia. Studi ini justru memperlihatkan adanya percikan gagasan Sardar terkait dengan lingkungan secara khusus, dan alam secara umum. Sardar sebenarnya bisa dikategorikan sebagai pemerhati ekologi di antara deretan ekolog-ekolog Muslim terkemuka, seperti Seyyed Hossein Nasr, S. ParvezManzoor, Fazlun Khalid dan masih banyak lagi. Pada posisi ini Ziauddin Sardar menawarkan matrik baru ekologi Islam dengan berpijak pada syariat, eko-spiritual dan hierarki kesadaran untuk menuju kesadaran ekologi global.[This study tries to track the thought of Ziauddin Sardar, an architect of the 21st century, in designing ecological matrix formulation of Islam, something rarely accomplished by Ziauddin Sardar observers in General. During this time, Sardar tends to be positioned as futurology of the future of civilization, and global relations of Muslims and Christians in the world. This study thus showed a spark of an idea related to environment Sardar specifically, and nature in general. That is, Sardar may actually be categorized as observer ecology in between the rows of ecologist Muslims such as Seyyed Hossein Nasr, s. Parvez Manzoor Fazlun Khalid, and much more. Ziauddin Sardar is in a position to offer a new Islamic ecology with a matrix based on Shari’a, eco-spiritual, and the hierarchy of consciousness toward global ecological awareness.]
HAM, Cadar Dan Narasi Pluralisme Di Indonesia Riska Dwi Agustin
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v3i1.1211

Abstract

Istilah kemajemukan, keragaman atau multikultur yang disematkan kepada bangsa Indonesia seperti dua sisi mata uang yang saling bernegasi satu dengan yang lain. Keadaan ini menjadikan Indonesia tidak hanya kaya dengan potensi sumber daya tetapi juga konflik melalui isu-isu sensitif seperti suku, ras, agama dan isu-isu tentang kelompok minoritas seksual. Hal ini dapat menjadi dinamika kekuatan yang positif dan bersifat konstruktif jika dikelola dengan memperhatikan hak-hak setiap warga negara  sebagai satu individu yang utuh, tanpa diskriminasi. Perempuan sebagai kelompok minoritas seksual berhak menyuarakan dan menentukan bagaimana tubuh dan urusan seksualitasnya sendiri.Perspekif HAM mampu menjadi pijakan nilai yang dijadikan parameter dalam merumuskan keadilan untuk semua lapisan masyarakat. Melalui HAM bangsa ini akan menemukan titik temu dengan standart yang sama-sama disepakati. Sehingga, keberadaan HAM sangat dibutuhkan bangsa Indonesia sebagai jembatan yang menghubungkan fakta-fakta keberagaman yang ada.[The term pluralism, diversity or multiculturalism that were pinned to the Indonesian peope like two sides of the coin that negotiate with each other. This situation made Indonesia not only rich with potential resourches but also conflicts through sensitive issues such as ethnicity, race, religion and issues about sexual minority group. This can be a positive and constructive dynamics off power if it is managed with due regard to the right of every citizen as a whole, without discrimination. Women as a group of sexual minority have the right to voice and determine how their bodies and the affairs off its own sexuality. The human right perspective can be used as parameters in formulating justice for all levels of society. Through this notion’s human right will find common ground with the same agreed standard. Thus, the existance of human rights is needed by the Indonesiapeople as a bridge connecting the ffacts of diversity.]
Jurnalisme Damai (Peace Journalism) dalam Kerukunan Antarumat Beragama (Analisis Framing Kompas.com terhadap Isu Rohingnya) Ayu Usada Rengkaningtias
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v2i2.1084

Abstract

Dalam perkembangannya, terdapat konsep jurnalisme gaya baru yang bersifat lebih mengutamakan upaya penyelesaian konflik. Konsep jurnalisme ini disebut dengan jurnalisme damai (peace journalism) yang diperkenalkan oleh Johan Galtung, seorang profesor Studi Perdamaian yang juga Direktur Transcend Peace and Development Network pada 1970-an. Jurnalisme ini adalah praktik jurnalistik yang bersandar pada pertanyaan kritis yang melihat pada entitas kemanusiaan suatu isu. Jurnalisme genre ini lebih fokus mencari perdamaian, resolusi, rekonstruksi dan rekonsiliasi dalam memandang konflik. Konflik Rohingya bisa saja meluas. Hal itu dapat didorong dengan isu-isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Bisa saja konflik di Myanmar tersebut dapat “menular” jika dibawa ke ranah SARA-dalam hal ini agama Islam dan Budha-, termasuk di Indonesia. Media massa memiliki peran signi# kan mempengaruhi masyarakat luas dalam memandang suatu konflik. Maka, dalam menyikapi isu konflik, diperlukan pembingkaian khusus oleh media massa. Genre jurnalisme damai diharapkan dapat membawa pesan damai. Bukan justru “mengompori” masyarakat dengan dalih persatuan/persaudaraan agama atau kelompok tertentu. Jika isu yang kemudian di-blow up oleh media sebagai pemicu konflik Rohingya adalah agama, maka konflik baru bisa jadi akan bertambah buruk atau bahkan meluas. Concern tulisan ini adalah untuk mengkaji bagaimana framing Kompas.com dalammemberitakan isu Rohingya menggunakan model analisis Murray Edelman. Dalam model analisis ini digunakan tiga instrumen penelitian yakni kategorisasi, rubrikasi, dan ideologi. Hasilnya, Kompas.com memiliki framing bahwa Rohingya dilihat sebagai tragedi/krisis kemanusiaan. Kompas.com sama sekali tidak melihat isu Rohingya sebagai konflik agama antara Islam dan Budha atau tidak ada kaitannya dengan isu agama. Kompas.com, berdasarkan analisis model diatas membingkai konflik Rohingya sebagai sebuah krisis kemanusiaan. Rohingya bukan hanya konflik antar agama. Namun, juga konflik yang harus diselesaikan bersama sebagai seorang manusia. Disinilah media massa dengan genre jurnalisme damai berperan penting dalam menjaga kerukunan antarumat beragama.[In its development, there is a new style of journalism concept that is more prioritized to resolve the conflict. The concept of journalism is called peace journalism, introduced by Johan Galtung, a professor of Peace Studies who was also the Director of the Transcend Peace and Development Network in the 1970s. This journalism is a journalistic practice relying on critical questions that look at the humanity entity of an issue. Journalism of this genre is more focused on seeking peace, resolution, reconstruction, and reconciliation in view of the conflict e Rohingya conflict can be widespread. It can be encouraged by the issues of tribe, religion, race, and interaction (SARA). It could be that the conflict in Myanmar can be “contagious” if brought to the realm of SARA - in this case, Islam and Buddhism - including in Indonesia. The mass media have a sign with a cant role in influencing society the general public in view of a conflict. Thus, in addressing the issue of conflict, special framing by the mass media is required. The genre of peaceful journalism is expected to bring a message of peace. Not just “provoke” the community under the pretext of unity/ brotherhood religion or a particular group. If the issue is then blow-up by the media as a trigger for Rohingya conflicts religion, then the new conflict may get worse or even wider. The concern of this paper is to examine how framing Kompas.com in reports Rohingya issue using analysis model Murray Edelman. In this analysis, the model used three research instruments, namely categorization, rubrication, and categorization and ideology. As a result, Kompas.com is framing the Rohingya seen as a tragedy or humanitarian crisis. Kompas.com does not see the Rohingya issue as a religious conflict between Islam and Buddhism or has nothing to do with religious issues. Kompas.com, based on the above model analysis framed the Rohingya conflict]  
Theoritical Sensitivity: Mengungkap Konsep dalam Penelitian Ilmiah Kajian Sastra Ita Rodiah
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v5i1.1138

Abstract

Penelitian ini membuktikan bahwa dalam sebuah penelitian ilmiah dibutuhkan sensitivitas teoritis (theoretical sensitivity). Dengan menggunakan argumentasi akademik yang telah dikemukakan oleh komunitas akademik lainnya, melalui grounded theory penelitian ini mengungkapkan bahwa teoritisasi data dilakukan secara induktif yaitu didasarkan pada temuan dan analisis pelbagai data observasi empirik di lapangan (grounded in data). Penelitian ini  tidak sependapat dengan komunitas akademik Chicago School of Sociology yang menggunakan deductive qualitative analysis dalam proses theory-building. Penelitian ini mendukung perspektif theoretical sensitivity Barney G. Glaser (Theoretical Sensitivity: Advances in the Methodology of Grounded Theory: 1978) dan Barney G. Glaser & Anselm L. Strauss (The Discovery of Grounded Theory: 1967 & Awareness of Dying: 1965) yang menyatakan bahwa dalam sebuah penelitian, theoretical sensitivity memegang peranan kunci tehadap pelbagai data di lapangan/fenomena masalah yang diteliti dalam kerangka teoritis untuk dilakukan build theory. Berdasarkan asumsi teoritik Glaser dan Strauss tersebut, theoretical sensitivity sangat mungkin untuk digunakan dalam penelitian ilmiah seperti kajian sastra. Penelitian ini mengeksplorasi implementasi theoritical sensitivity dalam kajian novel Saman karya Ayu Utami dan Perempuan Berkalung Sorban karya Abidah el Khaliqy dengan hasil penelitian berupa lahirnya konsep genre sastra wangi dan sastra feminis Islam.[The paper talks a scientific study that requires theoretical sensitivity. With academic arguments that puts forward by the academic community, grounded theory in the research reveals inductive data theoritization based on findings and analysis of various empirical observational data in the field research. The article does not agree with the Chicago School of Sociology Scholar, which uses deductive qualitative analysis in the theory-building process. The study supports the theoretical sensitivity perspective of Barney G. Glaser and Anselm L. Strauss. Both of these scholar stated that a study on theoretical sensitivity has a key role in various data in the field or problem phenomena being studied in the theoretical framework for a build theory. Based on the theoretical assumptions of Barney G. Glaser and Anselm L. Strauss, theoretical sensitivity is very likely to be used in scientific research such as literature studies. This paper explores the implementation of theoretical sensitivity in the study of the novel “Saman” by Ayu Utami and “Perempuan Berkalung Sorban” by Abidah el Khaliqy. This study gives the new Persepective of fragrant literary genres and Islamic feminist literature.]  
Damai Berbasis Adat Di Hila Salam-Sarane Dan Kaitetu Benico Ritiauw
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v3i2.1206

Abstract

Negeri Hila Salam-Sarane dan Kaitetu (Islam-Kristen) merupakan salah satu dari  banyak daerah di Ambon Maluku yang memiliki keunikan dalam mengkonstruksi tipologi sosialnya.  Keunikan tersebut tercermin melalui pola tundakan integrative yang menegasikan tendensi keagamaan dalam setiap proses sosial. Betapa tidak, kesatuan ideologi dalam kerangka Hidup Orang Basudara (Hidup Bersaudara) menjadi aktor utama dalam tercapai sifat integratif yang tentunya menjadikan nilai-nilai adat sebagai basisnya. Lembaran sejarah yang tidak bisa diluoakan ketika masyarakat Hila Sarane (Kristen) terafiliasi ke dalam system adat Hila Salam (Islam) sehingga memicu adanya tangungjawab sosial-kultural sekaligus menjadi modal dalam pembentukan collective consciousness berbasis niali adat guna mendefinisikan dan mengkonstruksi damai yang ideal. Fakta kehidupan yang digambarkan itu pernah mengalami guncangan yang luar biasa ketika pecahnya konflik berdarah antara dua kelompok besar yaitu Islam dan Kristen di kota Ambon dan sekitarnya pada tahun 1999. Kota Ambon menjadi begitu mencekam ketika sesame masyarakat Ambon diperhadapkan untuk saling membunuh dan menghancurkan satu sama lain. Namun, fakta ini dengan mudahnya dipatahkan oleh masyarakat negeri Hila Salam-Sarane dan Kaitetu yang sama sekali tidak saling membunuh tetapi justru saling menyelamatkan. Wawasan damai yang menyejarah dalam pertalian hubungan adat, ditirunkan dan dimanfaatkan guna membangun sebuah tidakan yang integratif. Pola hidup yang damai tetap dijalankan oleh masyarakat Hila Slam-Sarane dan Kaitetu sekalipun tubuh kehidupan sosialnya harus terdampak oleh konflik sehingga mengakibatkan adanya segregasi territorial hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat konstruksi damai berbasis nilai adat di masyrakat Hila Salam-Sarane dan Kaitetu. Hasil peneilitian menemukan bahwa penafsiran akan makna dari sistem adat telah membangun sebuah kerangka kehidupan lintas agama yang kokoh dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan yang terkadang kontra eksistensi. [Negeri Hila Salam-Sarane and Kaitetu (Islam-Christian) is one of the many areas in Ambon Maluku which is unique in constructing its social typology. This uniqueness is reflected in the integrative postponement pattern that negates religious tendencies in every social process. Why not, ideological unity within the framework of the Orang Basudara (Hidup Bersaudara) becomes the main actor in achieving an integrative nature which of course makes customary values as the basis. A sheet of history that cannot be forgotten when the Hila Sarane (Christian) community is affiliated with the Hila Salam (Islamic) customary system, which triggers a socio-cultural responsibility as well as a capital in the formation of collective consciousness based on customary values in order to define and construct ideal peace. The facts of life described have experienced tremendous shock when the outbreak of bloody conflict between two major groups, namely Muslims and Christians in Ambon City and its surroundings in 1999. Ambon City became very tense when fellow Ambonese people were confronted to kill and destroy one another. . However, this fact was easily broken by the people of Hila Salam-Sarane and Kaitetu countries, who did not kill each other at all but instead saved each other. Historical peace insights in customary relations are imitated and used to build an integrated action. The people of Hila Slam-Sarane and Kaitetu continue to live a peaceful lifestyle, even though their social life bodies have to be affected by the conflict, resulting in territorial segregation until today. This study aims to look at the peaceful construction based on customary values in the Hila Salam-Sarane and Kaitetu communities. The results of the study found that the interpretation of the meaning of the customary system has built a solid interfaith life framework in facing the various dynamics of life that are sometimes counter-existent.]
Konsep Bimbingan Dan Konseling Realitas Islami Untuk Menurunkan Perilaku Minum Minuman Keras Pada Remaja Edi Santosa
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v2i1.1079

Abstract

Dari data-data yang ada menunjukkan bahwa perilaku minum minuman keras pada remaja cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Padahal akibat buruk dari perilaku minum minuman keras sangat banyak, tidak hanya bagi pelaku yang bersangkutan tetapi juga pada orang lain di sekitarnya. Miras menjadi penyebab utama terjadinya kecelakaan, dan menjadi pemicu perilaku negative lainnya seperti seks bebas, pemerkosaan, narkoba, perkelahian/ tawuran, pencurian, pembunuhan, dan tindak kriminal yang lain. Oleh karena itu perilaku minum minuman keras pada remaja harus ada upaya untuk diturunkan. Salah satu upayanya adalah dengan Bimbingan Konseling Realitas Islami. Yaitu proses pemberian bantuan secara tatap muka antara konselor dengan konseli, secara terarah dan sistematis berdasar konsep dan Teknik yang ada dalam pendekatan Realitas kemudian diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam dari Al Qur’an dan as Sunnah, agar individu dapat memiliki kesadaran untuk dapat mengoptimalkan potensi dirinya untuk memperoleh keberhasilan dan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akherat. Bimbingan dan Konseling Realitas Islami memiliki konsep tingkah laku sekarang yang realistis dan dapat dipertanggungjawabkan di dunia ini dan di akherat kelak. Yaitu tingkah laku yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulullah, selalu melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah, dan hal itu dilakukan dengan kesadaran penuh serta dengan niat semata-mata untuk mencari ridho Allah. Tingkah laku yang demikian pasti akan membawa pelakunya kepada keselamatan, keberhasilan, kebahagiaan di dunia ini; dan di akherat nanti akan mendapat balasan berupa surga. Di samping itu perilaku tersebut juga akan memberi manfaat kepada orang lain. Praktek pendekatan BK Realitas Islami menggunakan strategi bimbingan kelompok dan atau konseling individual. Adapun tahapan dalam praktik BK Realitas Islami dimulai dengan upaya konselor terlibat dalam permainan peran dengan konseli yang dilakukan dengan humor. Hal ini dilakukan agar terjalin hubungan yang hangat, akrab, kepercayaan antara konselor dengan konseli. Setelah itu konselor bertindak sebagai model dan guru yang Islami, mengkonfrontasi perilaku konseli yang tidak realistis dan tidak bertanggung jawab dengan perilaku yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulullah, selanjutnya membantu konseli dalam merumuskan rencana-rencana spesifik dalam rangka meraih keberhasilan dan kebahagiaan. Setelah itu rencana-rencana konseli dituangkan dalam tulisan dalam bentuk kontrak sebagai komitmen yang kuat bagi konseli untuk segera diwujudkan atau dilaksanakan. Melalui BK Realitas Islami dapat menyadarkan konseli akan tingkah lakunya yang tidak realistis dan tidak bertanggung jawab. Dengan pertimbangan nilai-nilai yang ada dalam Islam, konseli sadar bahwa perilaku minum minuman keras adalah berhukum haram, merupakan perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan, menimbulkan permusuhan dan kebencian, serta merupakan perbuatan yang terlaknat. Oleh karena itu konseli memiliki komitmen yang kuat untuk berhenti minum minuman keras.[Out of data available showed that adolescent alcoholic drink behavior tended to increase year to year. Whereas, bad results from an alcoholic drink were many, not only for the drinker himself but also for people around them. An alcoholic drink became the main cause of incidence and a trigger of other negative behavior such as free sex, rape, narcotics, " gets, robbing, murder, and other criminal acts. therefore, there should be an effort to decrease adolescent alcoholic drink behavior. One of its efforts was by an Islamic Reality Counseling Guidance includes a process of providing face-to-face assistance between a counselor and counselee directed and systematically based on the concept and available in a realistic approach then integrated with Islamic values from Al Quran and As-Sunnah in order that the individuals could have a full awareness to be able to optimize a self-potential to get a life success and happiness both in the world and herea& er. Islamic guidance and counseling had a conduct concept realistically today and responsible in this world and herea& er i.e. conduct suitable with Allah and Rasulullah guidance, always perform Allah instructions and keep away from Allah prohibitions and this was performed by a full awareness and also intended to find Allah willing. Such conduct would certainly bring its actor to salvation, success, happiness in this world and herea& er could get heaven. Besides, the conduct would also deliver benefits to others. Islamic reality guidance and counseling used a group counseling strategy and/or individual counseling. The steps in Islamic reality guidance and counseling practice started by efforts of counselors to get involved in a role-play with counselee that was performed humorously. This was performed in order that there was a warm, intimate relationship, belief among counselor and counselee. A& er that, counselor served as an Islamic model and teacher, confront an unrealistic counselee behavior and not responsible with behavior suitable with Allah and Rasulullah guidance, furthermore help counselee in formulating specific plans in accordance with achieving success and happiness. A& er that counselee plans were applied in writing in form of a contract as a commitment for the counselee to be immediately materialized or implemented. through Islamic reality guidance and counseling, it could aware of the counselee of his unrealistic and unresponsible conduct. With consideration of values available in Islam, the counselee was aware of alcoholic drink behavior was illegal, cruel acts include satanic deeds, yield hostility, and hatred and also cursed deeds. therefore, the counselee had a strong commitment to terminate drinking alcohol.]
Kegiatan Kepramukaan dan Penanaman Ajaran Islam: Studi di Karacana Raden Mas Said-nyi Ageng Yuliana Asmi
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v6i2.1199

Abstract

Penelitian ingin menganalisa penanaman nilai-nilai yang ada pada ajaran Islam pada kegiatan kepramukaan. Dalam dharma pramuka terdapat nilai-nilai keIslaman terutama pada sembilan poinnya. Penulis menggunakan metode kualitatif dalam penelitian ini. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini, yakni pendekatan sosiologi. Objek penelitian yang menjadi focus dalam penelitian ini, ialah pembina pramuka, pemangku adat dan anggota pramuka Racana Raden Mas Said-Nyi Ageng Serang IAIN Surakarta. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa proses internalisasi nilai-nilai pendidikan agama Islam pada anggota pramuka Racana Raden Mas Said-Nyi Ageng Serang IAIN Surakarta, melalui tiga fase (fase pengenalan, penerimaan dan fase pengintegrasian). Dari tiap-tiap fase tersebut terdapat sembilan nilai pendidikan agama Islam, yang terdapat dalam dasa dharma pramuka. Kontribusi dari internalisasi nilai tersebut memunculkan values consciousness, well being, agency, Connectedness dan transformation. Dari kelima poin tersebut dideskripsikan tentang proses internalisasi nilai pendidikan agama Islam pada diri anggota. Hasil dari proses internalisasi tersebut menghasilkan perubahan yang cukup signifikan, dalam artian ke arah yang lebih baik (memiliki rasa empati, tanggung jawab, berani mengemukakan pendapat karena setiap anggota memiliki hak untuk menentukan plihan, dapat membangun hubungan yang positif antara satu dengan yang lainnya), sehingga tercipta sebuah kerukunan, serta bertransformasi dari yang semula tidak peduli dengan lingkungan sekitar menjadi lebih peduli dan bersifat humanis terhadap sesama rekan organisasi.[The research wants to analyze the inculcation of values that exist in Islamic teachings in scouting activities. In the dharma of scouting there are Islamic values, especially on the nine points. The author uses qualitative methods in this study. The approach used in this research is a sociological approach. The object of research that is the focus of this research, is the scout coach, traditional stakeholders and members of the Racana Racana Mas Said-Nyi Ageng Serang IAIN Surakarta scouts. Data collection techniques in the form of observation, interviews and documentation. The results of this study indicate that the process of internalizing the values of Islamic religious education in Racana Raden Mas Said-Nyi Ageng Serang scout members at IAIN Surakarta, went through three phases (introduction, acceptance and integration phases). From each of these phases there are nine values of Islamic religious education, which are contained in the Dasa Dharma of Scouts. The contribution of the internalization of these values gives rise to values consciousness, well being, agency, Connectedness and transformation. From the five points, a description of the process of internalizing the value of Islamic religious education is described in members. The results of the internalization process resulted in significant changes, in the sense of a better direction (having a sense of empathy, responsibility, daring to express opinions because each member has the right to make choices, can build positive relationships with one another), so as to create a harmony, and transform from being initially indifferent to the surrounding environment to being more caring and humanist towards fellow organizational partners.]

Page 4 of 10 | Total Record : 98