cover
Contact Name
Zulkipli Lessy
Contact Email
jkiipasca@gmail.com
Phone
+6288227810471
Journal Mail Official
jkiipasca@gmail.com
Editorial Address
Published by Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta Website: http://ejournal.uin-suka.ac.id/pasca/jkii Gedung Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner
ISSN : 25794930     EISSN : 27758281     DOI : https://doi.org/10.14421/jkii.v6i2.1195
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner welcomes original research for manuscripts with various theoretical perspectives and methodological approaches. It invites researchers and scholars of all backgrounds related to Islamic studies to contribute their research covering all aspects of Islam and the Islamic world in the areas of philosophy, history, religion, political science, international relations, psychology, sociology, anthropology, economics, environmental and development issues etc. related to scientific research. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner offers an open platform for exchanging knowledge and ideas (with various perspectives) to facilitate methodological reform in Islamic studies and promote critical academic methodologies that respond to the current issues in Islam and the Islamic world.
Articles 95 Documents
Socio-Religiuos Model of Disability: Sebuah Rancangan Awal Zanuar Mubin; Masykur Rozi
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v4i2.1106

Abstract

Studi disabilitas masih menjadi tema kecil dalam ilmu pengetahuan Islam. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan Islam tidak memiliki misi untuk mengatasi permasalahan diskriminasi yang dialami penyandang disabilitas. Hal ini mengakibatkan penyandang disabilitas dikucilkan bahkan dalam komunitas Muslim. Kami mengidentifikasi bahwa kurangnya akses yang dilakukan oleh masyarakat Muslim disebabkan oleh kurangnya ilmu- ilmu keislaman dalam mendorong mereka untuk berperilaku secara inklusif. Artikel ini mencoba menawarkan model sosio-religius dalam mengentaskan diskriminasi disabilitas dengan dua level metodologis. Level pertama adalah mengkritisi epistemologi hukum Islam untuk mendobrak bias normalitas yang berakibat pada tidak diangkatnya masalah disabilitas sebagai tema dalam hukum Islam. Pada level kedua dilanjutkan dengan menginternalisasi filosofi model disabilitas sosial pada ahliyyah dan maqasid, sehingga epistemologi hukum Islam memiliki gagasan inklusi. Hasil penelitian ini adalah bahwa hak akses dijamin oleh ahliyah al-wujub, dan strategi pemenuhan hak akses diatur dalam teori maqasid. Metode ini menghasilkan konsep hukum Islam praktis yang dapat dijadikan dasar untuk membentuk masyarakat Islam yang inklusif.[Disability studies are still a minor theme in the Islamic science. This indicates that Islamic science does not have a mission to alleviate discrimination problems experienced by persons with disabilities. This results in disability being excluded even in Muslims’ community. We identified that lack of access performed by Muslims society is caused by lack of Islamic sciences in encouraging them to conduct inclusively. This article seeks to offer a socio-religious model in alleviating disability discrimination with two methodological levels. The first level is crticizing epistemology of Islamic law to break down the bias of normality which results in the lack of appointment of disability problems as themes in Islamic law. At the second level is continued by internalizing social-disability model philosophy in ahliyyah and maqa>s}id, so that the epistemology of Islamic law has the idea of inclusion. The results of this study are that the right of access is guaranted by ahliyah al-wuju>b, and strategy of fulfilling access right is regulated in light of maqa>s}id theory. This method fruits the concept of practical Islamic law which can be used as a basis for forming an inclusive Islamic society.]
Tarekat “Virtual”: Sebuah Gagasan Alternatif Bertarekat Dari Muhammad Nursamad Kamba Helmi Mustofa
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v4i2.1068

Abstract

Penelitian ini mencoba mendeskripsikan pandangan Muhammad Nursamad Kamba tentang apa yang dia sebut sebagai tarekat “virtual”. Suatu cara bertasawuf dan bertarekat yang berbeda dalam sejumlah metode dengan tarekat formal. Metode tersebut terangkum dalam kata “virtual”. Kata “virtual” di sini tidak terutama merujuk pada makna dunia internet atau dunia maya, sebagaimana kata tersebut digunakan selama ini, melainkan pada “keberguruan dari seorang murid kepada guru secara jarak jauh atau remote.” Pada sisi praktis, tarekat “virtual” menawarkan kemudahan dalam dalam bertasawuf kepada siapa saja, terutama bagi orang-orang yang hidup dalam kultur profesional, perkotaan, dan urban, yang boleh jadi mencari alternatif dalam bertarekat. Namun, sebagai seseorang yang memiliki gagasan tarekat “virtual”, menariknya Muhammad Nursamad Kamba tidak menempuh metode sebagaimana yang sudah ada dengan misalnya membentuk padepokan, kelas, atau program yang ditujukan kepada kelas menengah kota. Karena itu, selain coba memaparkan secara ringkas gagasan tarekat “virtual” ini, tulisan ini akan melihat bagaimana Muhammad Nursamad Kamba mengartikulasikan tasawuf di tengah masyarakat modern. Dua di antara yang dilakukannya adalah mendirikan Prodi Tasawuf Psikoterapi pada Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan aktif dalam forum dan komunitas Maiyah yang diasuh oleh budayawan Emha Ainun Nadjib.[This research seeks to describe and interpret a new “genre” of school of Sufism called Tarekat “Virtual” introduced by Muhammad Nursamad Kamba. Interestingly, the term “virtual” in this case has nothing to do with what it is commonly known as “the internet”, but it is a new paradigm that shifts a formalistic way of Sufism into a more personal relationship between the Mursyid and their students through a distance of teaching approach.  On the ground, this new method offers tremendous alternatives and more convenience features of Sufism towards urban millennials or among professional communities who are now on the rise. This research is intended to understand both the usage of tarekat “Virtual” in current urban Indonesian society, more specifically in academic communities (such as with the establishment of Department of Tasawuf Psychotherapy in UIN Sunan Gunung Jati Bandung initiated by Kamba), and the wider roles of Kamba’s idea of modern Sufism in fast growing forum of Maiyah movement initiated by Emha Ainun Nadjib.] 
Peran dan Tantangan Pengembangan Pendidikan Islam Berwawasan M ultikultural di Pesantren Sunan Pandanaran Niswatin Faoziah
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v1i2.1061

Abstract

Penelitian ini memfokuskan diri pada kajian pesantren sebagai Lembaga pendidikan Islam yang tertua di Indonesia dan berpengaruh khususnya dikalangan masyarakat bawah (grassroots) dalam merespon perubahan sosial dan multikulturalisme sebagai konsekuensi dari tantangan kehidupan global. Karena itu perlu dilakukan sebuah kajian untuk meneliti peran pendidikan Islam di pesantren dalam mengembangkan nilai- nilai multikultural. Penelitian ini merumuskan dua tujuan penelitian yang terdiri dari: (1) mengidentifikasi implementasi pengembangan pendidikan Islam berwawasan multikultural di pesantren Sunan Pandanaran; (2) menganalisis peran dan tantangan yang dihadapi pesantren dalam mengembangkan model pendidikan Islam berwawasan multikultural. Metode yang digunakan untuk menjawab tujuan yang ingin dicapai adalah metode deskriptif kualitatif dan menggunakan metode wawancara mendalam (in-depth interview), observasi dan studi dokumen dalam pengumpulan datanya. Penelitian lapangan ini diselenggarakan di pesantren Sunan Pandanaran Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa; (1) nilai-nilai multicultural tampak tercermin dan telah menjadi prinsip di pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta. (2) terdapat empat faktor penting yang berperan dalam pengembangan pendidikan Islam berwawasan multicultural yakni; a. tradisi pengajian kitab kuning, b. paham keagamaan pesantren yang inklusif dan toleran, c. kurikulum pesantren d. peran guru dalam pengembangan nilai- nilai multikultural. (3) Kompetensi beberapa guru yang minim akan wawasan multikultur menjadi hambatan utama dalam pengembangan pendidikan Islam berwawasan multikultural di pesantren. Selain itu, dalam konteks pengembangan pendidikan Islam multikultural, minimnya ruang untuk melakukan refleksi dan kurangnya kesempatan dialog dalam pengajaran kitab kuning menjadi persoalan tersendiri.[This research focuses on the study of pesantren as the oldest Islamic educational in Indonesia, and the influential institution especially among the grassroots in response to social change and multiculturalism as a consequence of the global challenges of life. It is necessary for the study to examine the role of Islamic education at Pesantren in promoting multicultural values. The study formulated two research objectives which consisted of: (1) identify the implementation of the Islamic education promoting multicultural values in pesantren Sunan Pandanaran; (2) analyze the role and challenges met by pesantren in developing a model of multicultural education. This research was a qualitative descriptive analysis using in-depth interviews (in-depth interview), observation, and document research in its data collection. The fieldwork was conducted in pesantren Sunan Pandanaran, Sleman, Yogyakarta. Based on the research results revealed that; (1) the multicultural values were reflected and have become a good principle at pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta (2) there were four essential factors that contributed to the development of Islamic education promoting multicultural values including; a. recitation of the classical Islamic books, b. inclusive religious view, the curriculum of pesantren, d. the teacher’s role in the development of multicultural education. (3) The third teacher’s competence and some teachers with little understanding of multiculturalism seemed to be major challenges. Moreover, in the context of the development of Islamic education promoting multicultural values, the lack of space for reflection and dialogue especially in teaching classical Islamic book became other problems.]
Fashion Designer Sebagai Alternatif Keterlibatan Perempuan Maroko Di Ruang Publik Rahmi Nur Fitri
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v6i1.1116

Abstract

Maroko pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan negara-negara Arab lainnya, yang mana perempuan memiliki akses yang terbatas di ruang publik. Sikap konservatif dan tradisi patriarki mengantarkan perempuan ke tingkat yang sulit untuk terlibat aktif di sektor publik. National Strategy for Equity and Equality di Maroko menginisiasikan untuk mengurangi tingkat diskrimasi terhadap perempuan, tetapi fakta lapangan menunjukkan sebaliknya. Kebiasaan dan tatanan sosial di masyarakat menjadi faktor yang menghambat proses perubahan. Tulisan ini mengkaji berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah Maroko untuk meningkatkan keterlibatan perempuan. Selain usaha yang dilakukan pemerintah, karya ilmiah ini juga memaparkan peran aktif yang dilakoni oleh perempuan Maroko secara langsung pada saat negara tampak tidak maksimal dalam mereduksi ketidakadilan bagi mereka. Nama-nama tokoh penggerak perempuan dari negeri Maghribi ini kemudian mulai bermunculan, seperti Fatima Mernissi, seorang sosiolog yang menaruh banyak perhatian terhadap persoalan perempuan. Namun, fokus tulisan adalah perempuan Maroko yang menunjukkan ketertarikannya di bidang fashion desainer yang kemudian memiliki label dan jangkauan pasar yang luas. Pengakuan sosial mulai didapatkan oleh Sofia El Arabi dan Ilham Benami melalui bidang ini. Rosaline Delmer menyebutkan bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk memajukan kepentingannya didasarkan kepada pemahaman yang mereka yakini. Perempuan Maroko menemukan tempat untuk mereka di ruang publik melalui profesi sebagai desainer. Berkarir di bidang ini menjadi sebuah apresiasi bagi mereka tanpa harus terlibat konfrontasi dengan laki-laki di ranah publik.[Morroco has not especially differences among Arab countries, in which woman have limited access in public sphere. Conservative tradition and patriarchy lead woman to difficult level to be actively involved in public field. National Strategy for Equity and Equality in Morroco initiate to decrease inequity of woman, despite the reality has denoted of divergence. Custom and social order are preventation of change in society. This paper examines various efforts which was made by Morroco’s government to expand woman’s involvement. In addition, the article will explain how far woman contributed in directly activity when the government is not earnestly to reduce injustice for woman. Then, names of female activists from Morroco began to appear, such as Fatima Mernissi, a sociologist who lay down her interest in women’s issues. Nevertheless, this article only focus on Morocco’s women who show interest in fashion desaigner, through this field they have their own label and extend market places. Social recognition has been earned by Sofia El Arabi and Ilham Benami from this field. Rosaline Dalmer addresses, based on comprehension every women has ability to extend her needs and desires. Morrocan’s women have actively found their role as designer in public sphere. A career in this field is an appreciation for them whose they can be spared with men from confrontation in public field.]
Eksistensi Malala Yousafzai Dalam Mengubah Perspektif Dunia Barat Terhadap Perempuan Muslim Zainun Wafiqatun Niam
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v4i1.1113

Abstract

The tragedy of the shooting of Malala Yousafzai by the Taliban army in 2012 opened the eyes of the world that the suppression of women's rights under the pretext of religion or culture must be resisted. As a Muslim women activist, Malala has contributed in the Islamic world, particularly in voicing women's rights to education and roles in the public sphere. The emergence of Malala played a role in shifting the negative stereotypes of the western world towards Islam in treating women. For a long time the western world assumed that Islam was discriminatory towards women, this is due to Western media coverage of Islam which often discusses distortions and misinterpretations of gender texts against the Qur'an and Hadith. This paper is intended to see the role of Malala Yousafzai in changing the negative view of the western world towards Islam in treating women. The method used is the phenomonological analysis of the Malala case and analysis of the literature on gender. The results of the study showed that the negative view of the western world regarding Islamic treatment of women is based on blind cynicism and religious fanaticism and the lack of dialogue on religious texts about gender. The emergence of Malala Yousafzai provided space for the world to dialogue religious texts that were considered gender biased. Basically, Islam has placed men and women in proportional equality. Historically, the rise of Islam has succeeded in elevating women to a high position.[Tragedi penembakan Malala Yousafzai oleh tentara Taliban pada tahun 2012 telah membuka mata dunia bahwa penindasan terhadap hak-hak perempuan dengan dalih agama ataupun budaya harus dilawan. Sebagai aktivis perempuan muslim, Malala telah memberikan kontribusi di dunia Islam, khususnya dalam menyuarakan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan peran di ruang publik. Kemunculan Malala berperan dalam menggeser stereotipe negatif dunia barat terhadap Islam dalam memperlakukan wanita. Sejak lama dunia barat menganggap bahwa Islam bersikap diskriminatif terhadap perempuan, hal ini dikarenakan pemberitaan media Barat tentang Islam yang sering mengalami distorsi dan kesalahan tafsir atas teks gender terhadap Al Qur'an maupun Hadis. Tulisan ini ditujukan untuk melihat peran Malala Yousafzai dalam mengubah pandangan negatif dunia barat terhadap Islam dalam memperlakukan wanita. Metode yang digunakan adalah analisis fenomonologi kasus Malala dan analisis literatur tentang gender. Hasil kajian sementara menunjukkan bahwa pandangan negatif dunia barat terkait perlakuan Islam terhadap wanita didasari sinisme dan fanatisme beragama yang buta dan minimnya dialog terhadap teks keagamaan tentang gender. Kemunculan Malala Yousafzai memberikan ruang bagi dunia untuk mendialogkan teks keagamaan yang dianggap bias gender tersebut. Pada dasarnya Islam telah menempatkan laki-laki dan perempuan dalam kesetaraan yang proporsional. Secara historis, kemunculan Islam telah berhasil mengangkat derajat wanita ke dalam kedudukan yang tinggi.]
Tradisi islam dan Pendidikan Humanisme: upaya Transinternalisasi nilai Karakter dan multikultural dalam Resolusi Konflik sosial masyarakat di indonesia Irwan Ledang
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v1i1.1056

Abstract

Keragaman budaya, etnis, suku dan agama adalah kekayaan Indonesia. Keragaman ini merupakan potensi besar dalam pembangunan bangsa sekaligus menjadi potensi kerawanan konflik sosial. Setidaknya ada dua hal yang dapat dipakai dalam menengahi dan mencegah terjadinya konflik sosial di Indonesia. Pertama, Islam sendiri memiliki gagasan dan ajaran tentang humanisme, toleransi , dan menghargai perbedaan. Islam merupakan agama yang diturunkan sebagai rahmatan lil alamin bagi semua makhluk yang ada di alam semesta ini. Kedua adalah peran pendidikan yang humanis. Pendidikan humanis menekankan pemanusiaan manusia. Pendidikan humanis memberi keseimbangan  dalam kecerdasan intelektual, emosional, social, dan spiritual. Untuk mewujudkan konsep pendidikan yang humanis, diperlukan sikap transinternalisasi nilai multikultural dan nilai karakter dalam membentuk masyarakat dan generasi muda yang berahlak mulia dan menerima keragaman dari semua unsur. Keduanya diyakini dapat menumbuhkan sikap kebersamaan, tolerasi, humanis dan demokrasi sehingga mampu menutupi potensi konflik di Indonesia.[The diversities in cultures, ethnicities, races, and religions are important Indonesian treasures. These constitute our national potentialities as well as a potential threat to social conflicts. There are at least two important things that can prevent social conflict in Indonesia. First is Islam, a religion that brings peace and mercy for all humankind. Second is the role of humanistic education that stressing on the humanization of students. This kind of education offers a balance in terms of intellectuality, emotion, social, and spirituality for students. We need a kind of internalization process of multicultural and character values to the students in order to build a humanistic education. Both kinds of educations will help the students to be respectful to the diversities from the very beginning as well as to develop togetherness, tolerance, democratic, and humanistic behaviors. This will reduce any potentialities of the conflicts very much.] 
Fashion Dalam Konstruksi Otoritas Ulama: Pandangan Kiai Shalih Darat Aflahal Misbah
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v3i1.1212

Abstract

Tulisan ini difokuskan untuk memahami pandangan Kiai Shalih terkait relasi fashion dengan otoritas ulama. Pandangannya cukup penting untuk memahami narasi historis tentang pergeseran dan perubahan  otoritas keagamaan di Indonesia Akhir Abad 19. Melalui pendekatan sosio-historis, tulisan ini menunjukkan bahwa otoritas keagamaan selalu terwujud melalui cara yang bervariasi, bukan hanya merujuk pada kompetensi ilmu keagamaan seorang ulama atau institusi yang berada di bawah kepemimpinannya, melainkan juga mencakup elemen lain yang penting untuk diperhatikan. Dalam hal ini, Kiai Shalih berusaha menempatkan fashion sebagai salah satu elemen penting dalam membangun otoritas keagamaan. Fashion tidak terbatas sebagai pakaian untuk menutupi tubuh dan hiasan, atau bahkan suatu bentuk manifestasi identitas diri dalam ruang sosial. Fashion juga bermakna sebagai role model dan ekspresi kritik dari Kiai Shalih terhadap eksistensi ulama di bawah kolonial, di samping juga sebagai media untuk mendefinisikan dan membedakan ulama di lingkaran santri dengan ulama di lingkaran kolonial. Dialognya dengan realitas sosial berdampak pada cara pandangnya bahwa efektif dan tidaknya fatwa seorang ulama salah satunya dipengaruhi kuat oleh bagaimana cara dia menampilkan diri -fashion- dalam ruang publik waktu itu.[This study focusses on understanding Kiai Shalih`s thinking of fashion in relation to religious authority of a scholar of Islam (ulama). What was his thought is very important in order to see how historical narratives of religious authority in the late nineteenth centuries were on shifts and changes. Through socio-history approach, this study shows that authority of ulama may become manifest in an infinite variety of ways, not only referring to the Islamic knowledge or institutions of which ulama led, but also other important elements. Here Kiai Shalih sought to place fashion as one of significant things to form religious authority. For him, fashion has not merely the cloth matters to close body, to perform a style or even to signify self-identity in society. It has also the meaning a way to be the role model in leading and criticism of Kiai Shalih for the existences of ulama under colonial control, as well as to define and differ from ulama in santri circle and in Dutch colonial. As the result of his dialogue with social reality, Kiai Shalih argued that in delivered fatwa by ulama to ordinary people the effectiveness or not was heavily determined by one of how ulama shows fashionably himself in his age of society.]
Pluralisme Agama dalam Pendidikan (Potret Toleransi Beda Agama di SD Negeri 46 Hulontalangi Kota Gorontalo) Djunawir Syafar
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v2i2.1085

Abstract

Isu pluralisme agama menjadi salah satu tantangan dalam kehidupan masyarakat Indonesiakhususnya dalam konteks peningkatan bonus demografi. Lembaga pendidikan diharapkan menjadi sarana strategis untuk menginternalisasi nilai-nilai pluralisme agama dalam membangun toleransi. Penelitian ini, mendiskusikan bagaimana wujud pluralisme agama dalam pendidikandilihat dari sudut pandang toleransi beda agama yang ada di SD Negeri 46 Hulontalangi Kota Gorontalo.Sekolah ini menjadi menarik, karena menampilkan sisi yang berbeda dalam praktek pendidikannya. Di tengah-tengah masyarakat muslim sebagai mayoritas penduduknya, sekolah ini menunjukkan sisi toleransi yang kuat terhadap pemeluk agama berbeda yang mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. Islam, Kristen dan Budha adalah representase dari pluralisme agama yang ada di SD Negeri 46 Hulontalangi Kota Gorontalo. Beberapa indicator dari wujud toleransi di sekolah ini; Pertama,pihak sekolahtelah memfasilitasi adanya masing-masing guru agama sebagai tenaga pengajar. Kedua,sekolah memberikan ruang dalam pelaksanaan ibadah keseharian bagi setiap pemeluk agama. Ketiga,sekolah jugamemfasilitasi dalam penyelenggaraan hari-hari besar keagamaan. Keempat,belum pernah terjadi konflik yang membawa isu SARA. Faktor yang mendukungterwujudnya toleransi beda agama tersebut, antara lain: kebijakan sekolah yangberbasis pluralisme agama, komunikasi aktif pihak sekolah dengan orang tuamurid, kerja sama pihak sekolah dengan berbagai organisasi sosial keagamaan danbudaya masyarakat setempat yang menjadi titik temu antara perbedaan yang ada. Penelitian ini dapat berfungsi sebagai pembanding terhadap fenomena dan isu-isu intoleransi dalam dunia pendidikan dan ruang sosial saat ini.[In the face of demographic bonuses, the issue of religious pluralism becomes one of the challenges in the life of Indonesian society. Educational institutions are expected to be a strategic means to internalize the values of religious pluralism in building tolerance. the research, discuss how the form of religious pluralism in education is seen from the standpoint of practices tolerance of religions in SD Negeri 46 Hulontalangi Gorontalo. This school became interesting because it presents a different side in his educational practice. Amidst the Muslim community as the majority of its population, this school shows a side of tolerance to the followers of different religions who are educated at the school. Islam, Christianity, and Buddhism are the representatives of religious pluralism in SD Negeri 46 Hulontalangi Gorontalo. Some indicators of this form of tolerance in schools; First, the school has facilitated religious teachers for every religious believer. Secondly, schools provide space for daily worship services for every adherent of religion. Third, schools also facilitate in organizing religious holidays. Fourth, there has never been a conflict that brought about the issue of SARA. Factors that support the realization of religious tolerance is different, namely: school policies based on religious pluralism, the school’s active communication with parents, school cooperation with various religious and cultural societies of the local community that became the meeting point between the difference. This research can serve as a benchmark against the phenomenon and issues of intolerance in the world of education and social space today.]
Metode Dakwah: Syiar Islam Ala Masyarakat Nusantara Abad 9-15 M Dewi Fatimah Leppa
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v5i2.1145

Abstract

Bukti arkeologi meninggalkan jejak, termasuk jejak untuk menelusuri awal mula agama Islam masuk ke Indonesia, antara abad ke-7 hingga ke-8 Masehi. Arkeolog Uka Tjandrasasmita menegaskan pentingnya bukti-bukti arkeologi dalam karyanya ‘Arkeologi Islam Nusantara’. Dalam karya tersebut, Uka mengungkapkan data-data arkeologi baik berupa makam-makam batu nisan, pecahan keramik dan ragam hiasan maupun arsitektur bangunan keraton yang merupakan material penting sebagai sumber sejarah. Semua itu bisa dimanfaatkan untuk mengetahui dan merekonstruksi bagaimana kedatangan Islam ke Tanah Air. Misalnya, makam di Nusantara memiliki persamaan tulisan dengan makam Islam yang ada di Gujarat, India. Persamaan tersebut dapat ditemukan pada makam Malik Ibrahim dibuat tahun 1419 H di Gresik, Jawa Timur dan makam Samudra Pasai pada tahun 882 H. Makam-makam yang ada di Gujarat dan Tanah Air juga memiliki bahan baku yang sama yaitu batu pualam. Dengan adanya persamaan tersebut bisa disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang aktif, terutama hubungan dagang antara Gujarat, Samudra Pasai, dan Jawa Timur. Melalui perdagangan tercipta interaksi antara penduduk Tanah Air dan para pedagang Muslim dari Gujarat. Melalui interaksi ini juga para pedagang Muslim dari Gujarat tak hanya melakukan aktivitas dagang tetapi juga menyebarkan ajaran agama Islam di Tanah Air. Sejak zaman sebelum Islam Pelabuhan Banten merupakan Pelabuhan terpenting di tanah Sunda. Hal itu disebabkan oleh letak geografisnya yang berada di tengah-tengah teluk Banten dengan jaringan Sungai Cibanten dan beberapa anak sungainya. Faktor alamiah ini merupakan hal yang sangat menguntungkan bagi pihak yang mengelola pelabuhan para pedagang. Keadaan ini yang mengakibatkan Pelabuhan Banten menempatkan diri dalam dunia perdagangan internasional di Asia.[Archaeological evidence always leaves a trail, and these include traces to track earlier times when Islam arrived in Indonesia between the 7th and the 8th centuries (CE). Archaeologist Uka Tjandrasasmita stressed the importance of the archaeological pieces of evidence in his work ‘Archaeology of Islam Nusantara’, which reveals some archaeological data in tombs decorated with ceramic fragments and palace architecture, which were considered essential materials as historical sources. All of these can be used to find out and reconstruct how Islam came to Indonesia. For example. The tombs have the same writings as the Islamic tombs in Gujarat, India. The similarities are found in Malik Ibrahim’s tombs, created in 1419 H in Gresik, East Java, and the tomb of Samudra Pasai of Aceh in 882 H. The tombs in Gujarat and Indonesia have the same raw material made from marble. Given these facts, there is a historical relationship between Gujarat, India, and Indonesia, and this could happen due to trade relations between Gujarat and Samudra Pasai and East Jawa. Through trades, interactions between the Muslim traders of Gujarat and Muslim Indonesians took place, and through these interactions, Muslim Gujarati not only carried out trading activities but also spread the teachings of Islam in Indonesia. Some historical facts show that for a long, Banten Port had become the most important port in the land of Sunda. This is due to its geographical location is in the middle of Banten Bay connected with Cibanten River networking and some of its tributaries. This natural factor is very profitable for the Sultan in managing the trades. As a result, the Banten port played a significant role in international trade in Asia.]
Studi Disabilitas dan Masyarakat Inklusif: Dari Teori Ke Praktik (Studi Kasus Progresivitas Kebijakan dan Implementasinya di Indonesia) Anwari Nuril Huda
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v3i2.1207

Abstract

Indonesia telah meratifikasi hasil konvensi “United Nations Convention on the Rights of the Person with Disabilites” (UNCRPD) ke dalam Undang-Undang No. 19 Tahun 2011 mengenai hak-hak penyandang disabilitas. Namun, hingga kini sebagian besar aktivis disabilitas, akademisi serta penyandang disabilitas masih menyayangkan implementasi undang-undang tersebut: infrastruktur ruang publik, layanan institusi pemerintah dan sikap masyarakat karena masih sangat segregatif dan kurang aksesibel. Peneliti ingin mengukur sejauh mana kebijakan disabilitas diimplementasikan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deduktif-interpretatif. Adapun data dan informasi diperoleh melalui hasil studi literasi, observasi, wawancara dengan beberapa aktivis difabilitas, dosen, serta difabel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara teoritis, Indonesia mampu mentransformasikan isu disabilitas dan masyarakat inklusif ke dalam kebijakan dengan sangat baik. Akan tetapi pada konstelasi praksis, Indonesia berada dalam stagnasi, pasalnya tidak ada progresivitas yang signifikan sejak dilakukan ratifikasi hingga paper ini ditulis.[Indonesia has ratified the United Nations Convention on the Rights of the Person with Disabilities (UNCRPD) into law number 19 of 2011. However, until now, yet most of the disability activists, academics and persons with disabilities regret the implementation of the law: infrastructures of public spaces, services of government institutions and interaction of communities are still very segregative and not accessible. Thus, this research aims to measure how far the implementation of disability policies are implemented in Indonesia. This study uses a deductive-interpretative qualitative approach. The data and information are obtained through literacy studies, observations and interviews. The results of this study shows that theoretically Indonesia able to transform disability and inclusive issues into policy very well. But in other hand, Indonesia is in stagnation practically.]

Page 5 of 10 | Total Record : 95