cover
Contact Name
Zulkipli Lessy
Contact Email
jkiipasca@gmail.com
Phone
+6288227810471
Journal Mail Official
jkiipasca@gmail.com
Editorial Address
Published by Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta Website: http://ejournal.uin-suka.ac.id/pasca/jkii Gedung Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner
ISSN : 25794930     EISSN : 27758281     DOI : https://doi.org/10.14421/jkii.v6i2.1195
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner welcomes original research for manuscripts with various theoretical perspectives and methodological approaches. It invites researchers and scholars of all backgrounds related to Islamic studies to contribute their research covering all aspects of Islam and the Islamic world in the areas of philosophy, history, religion, political science, international relations, psychology, sociology, anthropology, economics, environmental and development issues etc. related to scientific research. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner offers an open platform for exchanging knowledge and ideas (with various perspectives) to facilitate methodological reform in Islamic studies and promote critical academic methodologies that respond to the current issues in Islam and the Islamic world.
Articles 98 Documents
Dialog Sebagai Solusi Konflik Suriah Dalam Bahasa Channel Al-Alam Iran (Analisis Kognisi Sosial Teun Van Dijk) Nure Khun Rikhte Husaini
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v2i1.1080

Abstract

Konflik Suriah memunculkan banyak solusi dari berbagai kalangan. Kalangan jihadis berpendapat bahwa kematian Bashar al-Asad dan praktikkan sistem khalifah adalah penyelesainya, sedangkan solusi sekuler adalah penurunan Bashar al-Asad dan penegakkan demokrasi. Iran sebagai negara regioanl dan teman dekat Suriah juga memberikan solusi untuk konflik Suriah. Via channel al-Alam, Iran menekankan dialog sebagai solusi namun, dialog seperti apakah yang ditekankan oleh media al-Alam. Masalah ini dapat dianalisis dengan teori Kognisi Sosial Terun van Dijk. Penelitian ini menemukan bahwa metode dialog konflik Suriah dari al-Alam adalah dialog tanpa kepentingan Amerika-Saudi, tanpa pelaku kekerasan dan dialog harus bersifat politis, nasionalis, terstruktur, serta sistematis. Solusi ini muncul dari persamaan sejarah antara Iran dan Suriah atau pengaruh konteks sosial dan spolitik Iran.[The Syrian conflict reveals many solutions. In most Islamic jihadist’s opinions, the best result for it is Asad’s death and alteration system from social into the caliphate. On the other side, the secularist thinks that sliding the president down and transforming to democracy is the principal key. Iran as a regional and friendship country contributes to finding their bloodshed resolution too. Using Channel al-Alam, Iran advises that dialogue is the crucial stage. But, the question is what characteristics of dialogue were advised by al-Alam. Therefore, this problem will be analyzed by Teun van Dijk’s C ritical Discourse Analysis theory and the research explains that dialogue conditions for Syrian bloodshed are the dialogue without America-Saudi’s a% air and any civil violence. It must be the political, national, structural, and systematic solution. This doesn’t come only from the same history between Iran and Syria but also the political and social context of them.]
Marketing Politik Kampanye Religius Pemilu di Indonesia Amar Muhyi Diinis Sipa
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v6i2.1196

Abstract

[Politik dan agama seperti tidak terpisah belakangan ini, kesalehan dan kereligiusan politisi ataupun partai politik seperti menjadi keharusan, Agama kuatsebagai doktrin dan legitimasi, dan politik membutuhkan agama sebagai alat legitimasi untuk mencapai eksistensi, kekuasaan, dan menjaring suara serta simpati masa. Akhirnya spiritualitas dan simbol keagamaan menjadi produk politik dan domain khas atau khusus yang menjadi identitas politisi dan partai politik lalu kemudian dikenalkan kepada khalayak yang disebut sebagai political marketing. Artikel ini bertujuan untuk memahami lebih jauh wacana politik dengan kemasan simbolik keagamaan pada poster caleg PKS yang dijadikan sebagai alat kampanya untuk mempengaruhi pilihan publik. pendekatan didalam artikel ini menggunakan analisis semiotika untuk membedah simbol-simbol yang berada dalam poster-poster kampanye politik caleg di media sosial. Sehingga Semiotika mencoba untuk membongkar tanda yang memiliki makna di dalam kehidupan sosial maupun kehidupan politik. Adapun, metode yang digunakan dalam artikel ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif analitis, dengan metode pengumpulan data menganalisis poster-poster kampanye di media sosial Instagram pada akun @pkstangerang. Kesimpulan penelitian, yakni: politik keagamaan eksis karena peranan agama yang mampu menyentuh sisi emosional dari manusia, dalam akun @pkstangerang kebanyakan postingannya tidak terlepas dari unsur spiritualitas agama dan doktrin agama, saat melakukan kampanye dalam pemilihan legislatif juga tidak terlepas dari simbol dan narasi agama atau simbol kesalehan. Contohnya caleg yang mengenakan kopiah, baju koko, dan memegang kitab Marketing Politik Kampanye Religius Pemilu di Indonesia Vol. 6 Nomor 2, Juli-Desember 2021 151 fiqih. Untuk itu istilah politik keagamaan dalam dunia politik atau pemilu legislatif sebagai istilah kampanye religius yang menggambarkan religiusitas dalam politik sebagai cara political marketing.Politics and religion have become inseparable in recent times, piety and religiosity of politicians or political parties have become imperative, religion isstrong as doctrine and legitimacy, and politics requires religion as a legitimacy tool to achieve existence, power, and gain votes and sympathy from the masses. Finally, spirituality and religious symbols become political products and distinctive or special domainsthat become the identities of politicians and political parties and are then introduced to the public which is known as political marketing. This article aims to further understand political discourse with religious symbolic packaging on PKS candidate posters which are used as a campaign tool to influence public choice. The approach in this article uses semiotic analysis to dissect the symbols in the political campaign posters of candidates on social media. So Semiotics tries to dismantle signsthat have meaning in social life and political life. Meanwhile, the method used in this article is a qualitative descriptive-analytical method, with the data collection method analyzing campaign posters on Instagram social media on the @pkstangerang account. The conclusion of the study, namely: religious politics exists because of the role of religion that can touch the emotional side of humans, in the @pkstangerang account most of the posts can not be separated from elements of religious spirituality and religious doctrine, while campaigning in legislative elections are also inseparable from religious symbols and narratives or symbol of piety. For example, candidates who wear a skullcap, Koko shirt, and hold a book of fiqh. For this reason, the term religious politics in politics orlegislative elections is a religious campaign term that describes religiosity in politics as a way of political marketing.]
Ekspresi Keberagamaan Selebriti Hijrah: Sebuah bentuk ‘Accomodating Protest’ dan Ekonomi-Politik dari ‘Public Piety’ Afrida Arinal Muna
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 1 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v5i1.1134

Abstract

Semakin gencarnya wacana kampanye hijrah di era digital, termasuk di media sosial, sebagaimana dapat kita temukan di ‘detiknews’ bahwa tagar #hijrah di kotak pencarian instagram terdapat lebih dari 1,7 juta postingan, akun hijrah di facebook juga sudah diikuti lebih dari 300 ribu akun. Fenomena ini tidak bisa dinafikan juga dari kalangan artis, karena fenomena ini masif ditemui di kalangan kelas menengah ke atas yang berkesempatan mengonsumi isu-isu yang menjadi tren atau viral di media sosial. Tren aktivitas hijrah ini pun mempengaruhi sederet selebriti yang memutuskan untuk hijrah dengan proses yang berbeda-beda. Saya berasumsi bahwa selebriti yang melakukan hijrah sebenarnya tidak hanya ingin menunjukkan ekspresi keberagamaan barunya dengan menunjukkan kesalehannya terhadap publik, tetapi juga sebagai sebuah bentuk ‘accomodating protest‘ bahwa sebelum mereka memutuskan untuk hijrah ada sejenis bully-an yaitu munculnya stigma-stigma ketakutan menurunnya citra mereka di hadapan publik ketika seorang artis melakukan hijrah dengan style hijab barunya, tetapi justru ada semacam perlawanan yang ingin ditunjukkan oleh para selebriti kepada masyarakat bahwa mereka tetap bisa eksis walaupun memakai jilbab dan juga ada strategi politik ekonomi yang dimainkan oleh artis-artis hijrah tersebut dengan membuat inovasi-inovasi industri halal, tren hijab yang semakin down-to-earth, dan yang lainnya. Industri halal tersebut menjadi sasaran mereka karena tren tersebut menjadi tren konsumerisme yang masif oleh kelas menengah muslim milenial yang diyakini sebagai penggerak ekonomi abad-21.[The more vigorous discourse of hijrah campaigns in the digital era, including on social media, as we can find on ‘detiknews’ that the hashtag hijrah in the Instagram search box there are more than 1,7 million posts, the hijrah account on Facebook has also been followed by more than 300 thousand accounts. This phenomenon cannot be denied also by the artists, because this phenomenon is massive in the middle to upper class who have the opportunity to consume issues that are trending or viral on social media. The trend in hijrah activities also influenced a series of celebrities who decided to hijrah with different processes. I assume that celebrities who do hijrah actually not only want to show their new religious expression by showing their piety to the public but also as a form of ‘accomodating protest’ that before they decide to hijrah, there is a kind of bullying that is the emergence of stigmas of fear of a decline in their image in publicly when an artist hijrah with his new hijab style, but instead there is a kind of resistance that celebrities want to show to the public that they can still exist even though wearing the hijab and there is also an economic-political strategy played by this hijrah artist by making innovations halal industry is their target because the trends have become a massive consumerism trend by the millennial Muslim middle class which is believed to be an economic booster of the 21st century.] 
Memperkenalkan Studi Masa Depan (Future Studies) bagi PTKIN di Indonesia Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v3i2.1202

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memperkenal studi masa depan pendidikan tingggi Islam di Indonesia. Studi ini telah dipelajari oleh peneliti pusat penelitian dan universitas di banyak negara.  Dalam penelitian ini penulis menjelaskan orientasi futurology atau studi masa depan. Tulisan ini menggambarkan landasan studi masa depan dan pentingnya subjek. Juga menjelaskan metode dalam futurologi yang telah dibahas oleh para sarjana. Pendidikan tinggi Islam di Indonesia perlu memperkenalkan kepada mahasiswa karena mereka yang akan memainkan peran penting di masa depan. Studi masa depan adalah subjek yang dapat dikaitkan dengan induk pengetahuan dalam studi Islam dan ilmu sosial. Penulis mengusulkan studi studi masa depan ini sebagai suatu keharusan bagi pendidikan tinggi Islam untuk menawarkan studi masa depan dalam kurikulum. Akhirnya, penulis berpendapat bahwa jika pendidikan tinggi Islam bermaksud untuk menjadi universitas kelas dunia, mereka juga harus memiliki pengetauan mendalam tentang sistem politik global di masa depan[The is article aimis to examine future studies for Islamic higher education in Indonesia. This subject has been studies by research centers and universities in many countries. It describes the foundation of future studies by blibiographical survey and the significance of the subject. It also explains the methods in futurology that has been discussed by scholars. It is necessary for Islamic universities in Indonesia to introduce to subject for student as they will play important role in future. Future studies is subject can be linked to body of knowledge in Islamic studies and social sciences. The present author proposes that it is a must for Islamic universities to offer studies in the curriculum. Finally, the author argue that if Islamic universities intends to be a world class university, they should also has a deepen knowledge on global political system in the future.]
Studi Hadits: Analisis terhadap Pemikiran Schacht dan A’zami Cahya Edi Setyawan
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v1i2.1062

Abstract

Perkembangan metodologi kritik otentititas Hadist pada abad ini sangat bervariasi. Keotentikan Hadist yang telah ditetapkan semenjak masa Khalifah masih saja diperdebatkan hingga saat ini. Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan nalar berfikir para akademisi Hadist. Apalagi era ini, semakin berkembangnya kajian tentang study Islam Interdisipliner. Kolaborasi metodologi Barat digunakan untuk mengkritisi keotentikanHadist. Walaupun kontroversi, namun hal ini memberikan new contribution dalam keilmuan Hadist . Kritikan dan perdebatan tentang Keotentikan Hadist mengisi ruang kajian keilmuan yang agak vakum. Perdebatan Kaum Kiri dan Barat menjadi stimulus dalam pertumbuhan sebuah metodologi keilmuan Hadist. Mereka saling beradu argument untuk memperoleh kebenaran yang mereka yakini. Para ilmuan Barat dengan segala basic keilmuannya ingin membuka celah negative tentang keotentikan Hadist. Hal ini menimbulkan kontraksi keyakinan para ilmuan islam untuk menetapkan keotentikan hadist dan menunjukkan bahwa apa yang telah pemikir barat lakukan adalah salah. Diluar kebenaran dan ketidak benaran dalam dunia akademisi dan keilmuan itu adalah bentuk subyektifitas. Hal ini kiranya perlu diketahui, agar menjadi perhatian pakar Hadist untuk menjadikan sebuah stimulus guna memperoleh esensi kesalehan Hadist dan tidak terjebak didalam kebenaran masing-masing. Karena kebenaran haqiqi adalah milik Allah.[The development methodology otenticitas Hadith criticism in this century vary greatly. The authenticity of the Hadith at the time of Caliph and friends still debated. This is influenced by the development of logical thinking Hadith scholars. Especially now increasingly for developed Interdisciplinary studies of Islamic study. Collaboration west's scientific methodology used to scrutinize the authenticity of the Hadith. Despite the controversy, but it contributes to science in the world of academia. Criticism and debate about the authenticity of Hadith Sciences filling the space scientific assessment rather vacuum. Leftists and Western debate gave the stimulus to the growth of a scientific methodology Hadith. They clashing arguments to obtain the truth they believe. Western scientists with all the basic knowledge on to open the slit negative about the authenticity of the Hadith. This raises the confidence contraction of Islamic scientists to establish the authentic hadith and show that what western thinkers did was wrong. Beyond truth and untruth in the world of academia and science, it is a form of subjectivity. So keep in mind all of this, in order to become knowledge for experts Hadith to be a stimulus to get the essence of piety authenticity of the hadiths and not be caught up in the truth according to each. Because haqiqi is God’s truth.]
Kedudukan Seorang Istri Sebagai Pencari Nafkah Utama Dalam Keluarga: Studi Di Desa Aek Lancat, Lubuk Barumun, Padang Lawas, Sumatera Utara Ulfa Ramadhani Nasution; Syarif Husein Pohan
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v6i1.1128

Abstract

Rumah tangga tidak bisa dilepaskan dari kesadaran suami-istri dalam memahami peran dalam keluarga. Suami dan istri berperan aktif guna melaksanakan kewajiban masing-masing. Suami aktif dalam ranah produksi (publik, pencari nafkah utama) dan istri lebih aktif dalam reproduksi (domestik, pengurus keluarga). Faktanya dalam masyarakat tidak jarang ditemukan seorang istri yang aktif dalam ranah publik dan juga menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga. Kedudukan suami sebagai sumber nafkah utama digantikan oleh istri, sehingga peran istri tidak hanya berkutat perihal reproduksi dan domestik, namun juga sebagai pencari nafkah. Fenomena istri berperan ganda tersebut diantaranya dapat ditemui di Desa Aek Lancat Kecamatan Lubuk Barumun, Kabupaten Padang Lawas Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab alasan mengapa istri menjadi pencari nafkah utama dalam masyarakat di Desa Aek Lancat dan apakah implikasi seorang istri sebagai pencari nafkah pada keluarga di desa tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologis berdasarkan pada wacana keagamaan, khususnya perihal hukum keluarga yang dilihat sebagai inti permasalahan dalam masyarakat, dengan menggunakan teori konstruksi sosial oleh Peter L. Berger guna memahami pola hidup masyarakat di Desa Aek Lancat terkait kedudukan istri sebagai pencari nafkah utama dalam rumah tangga, dan melihat perkembangan interaksi antara suami-istri, istri lebih mendominasi sebagai pencari nafkah utama di dalam keluarga. Kemudian penelitian ini juga melibatkan teori gender dengan menitik beratkan pada konsep nature dan nurture. Penelitian bersifat deskriptif-analisis ini menggunakan metode kualitatif, sumber data ditemukan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan menentukan informan melalui teknik snowball sampling, kemudian data dianalisis menggunakan teknik: collecting, display, verification dan concluding. [The household cannot be separated from the awareness of husband and wife in understanding their role in the family. Husband and wife play an active role in carrying out their respective obligations. The husband is active in the production sector (public, main breadwinner) and the wife is more active in the reproductive sector (domestic, family caretakers). However, the fact is that it is not uncommon to find a wife who is active in the public sphere and is also the main breadwinner in the family. The position of the husband as the main source of income is replaced by the wife, so the role of the wife is not only struggling with reproduction and domestic matters. The wife's multiple role phenomenon can be found in Aek Lancat Village, Lubuk Barumun District, Padang Lawas Regency, North Sumatra Province. This study aims to answer the reasons why the wife becomes the main breadwinner in the community in Aek Lancat Village and what are the implications of a wife as breadwinner to the family. This study uses a sociological approach based on religious discourse, especially regarding family law which is seen as the core problem in society, using Social Construction theory by Peter L. Barger to understand the lifestyle of the community in Aek Lancat Village related to the position of the wife as the main breadwinner, and observe the development of interactions between husband and wife where the wife is more dominant as the main breadwinner in the family. Then this research also involves Gender theory by focusing on the concepts of Nature and Nurture. This descriptive-analytic study uses qualitative methods, where data sources are found through observation, documentation and interviews, by determining informants through snowball sampling techniques, then the data are analyzed using: collecting, display, verification and concluding techniques.]
Perempuan Dalam Media Online: Antara Identitas Dan Politik Islam Claudia Tevy Wulandari
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 4 No. 1 (2019)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v4i1.1110

Abstract

This paper examines the online activies of the exclusive Muslim women’s community in Surakarta. The presence of the internet is a space for exclusive Muslim women’s who tend to limit themselves to the outside world. Through the internet they can also contribute to the contestation with other Islamic groups. As for the main uestion in this paper is how do exsclusive Muslim women show their identity through online media? To discuss it the author focused on observing through a Facebook account, ater previously the author knew several members of the exsclusive Muslim women’s group. The results showed that the exclusive Muslim women’s group in Surakarta tended to adopt the salafi-jihadi understanding. The author argues that all form of activities carried out in online media are part of their way to show Islamic identity and are part of Islamic political expression. This study is intended to contribute to the discussion regarding the discussion of the Islamism in Indonesia.[Tulisan ini mengkaji mengenai aktivitas online komunitas perempuan Muslim eksklusif di Surakarta. Kehadiran internet menjadi ruang gerak bagi para perempuan Muslim eksklusif yang cenderung membatasi diri dengan dunia luar. Melalui internet juga mereka dapat turut andil berkontestasi dengan kelompok Islam yang lainnya. Adapun pertanyaan utama dalam tulisan ini adalah bagaimana perempuan Muslim eksklusif tersebut menunjukkan identitasnya melalui media online? Untuk membahasnya penulis fokus melakukan observasi lewat akun facebook, setelah sebelumnya penulis mengetahui beberapa anggota dari kelompok perempuan Muslim eksklusif tersebut. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kelompok perempuan Muslim eksklusif di Surakarta tersebut cenderung mengadopsi paham salafi-jihadi. Penulis berargumen bahwa segala bentuk aktivitas yang dilakukan dalam media online tersebut merupakan bagian dari cara mereka untuk menunjukkan identitas keislaman dan merupakan bagian dari eskpresi politik Islam. Kajian ini dimaksudkan untuk turut berkontribusi dalam diskusi mengenai pembahasan gerakan Islamisme di Indonesia.]
Proses Pembentukan Identitas Sosial Waria di Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta Diyala Gelarina
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v1i1.1057

Abstract

Waria atau transgender memiliki ekspresi gender dengan orientasi seksual (homeseksual) yang dianggap tidak ‘normal’ di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Waria di dalam Islam juga menuai banyak perdebatan kendati sebagian besar tidak menyetujui keberadaan waria. Karena kehadiran waria menuai banyak perdebatan dan pertentangan baik itu secara sosial, budaya, maupun agama, eksistensi dan identitas waria tidak memiliki ruang di ranah sosial maupun agama. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengungkapkan proses pembentukan identitas sosial waria di pesantren waria dan (2) melihat motif serta bias dari proses pembentukan waria di pesantren waria al-Fatah Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif untuk menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata dan perilaku yang dapat diamati. Jenis penelitian ini adalah penelitian field research yaitu penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data-data lapangan untuk menjelaskan permasalahan yang diteliti dengan teknik pengumpulan data, observasi, interview dan dokumentasi. Sementara itu teknik analisa datanya menggunakan teknik: deskriptif-kualitatif dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan proses pembentukan identitas sosial waria di pesantren waria al-Fatah Yogyakarta. Identitas sosial yang diteliti oleh penulis terdiri dari proses, motif, dan bias dalam dari proses pembentukan identitas sosial. Proses pembentukan waria terdiri dari: kategorisasi, identifikasi, dan pembanding. Sedangkan motif yang ditemukan yaitu motif self-enhancement(peningkatandiri) atau motif individu dalam membangun citra positif dengan bergabung dalam dalam kelompok dan uncertainly reduction (penguranganketidaktentuan) atau motif untuk mengubah citra negatif suatu kelompok. Penulis menemukan dua bias yang ada di pesantren waria al-Fatah Yogyakarta, pertama bias dalam kelompok yang memicu konsep diri yang positif dan bias yang memicu favoritisme yakni rasa suka yang berlebihan pada kelompok sendiri.[Waria or transgender have gender expression on sexual orientation that is not considered ‘normal’ among most Indonesian people. Transgender in Islam also provoke many debates, despite mostly do not agree with the existence of transgender. Due to the presence of transgender provoke much debate and disagreement, whether it be social, cultural or religious reasons, as consequently the existence and identity of the transgenders do not have space in the both of social and religious domain. The aims of this study are revealing the formation process of transgender social identity and knowing motives and biases on the formation process of transgender social identity in Pesantren Waria al-Fatah Yogyakarta. This is qualitative research to produce descriptive data such as words, verbal, and behaviors that can be observed from participants. The type of this research is field research that has the purpose of gathering data from fields in order to explain problems of study. Methods of data collection such as observation, interviews, and documentation applied for gathering data from the field. Techniques for data analysis applied descriptive-qualitative analysis and drawing conclusions. The results of this research showed the formation process of transgender social identity in Pesantren Waria al-Fatah Jogjakarta. A social identity researched by the author consists of processes, motives, and biases in the formation process of social identity. The formation process of transgender consists of categorization, identification, and comparison. While the motives found are self-enhancement motives (self-improvement) or individual motives to building a positive image by joining the group, and uncertainly reduction (uncertainty) or group motives to changing the negative image of a group. The author found two biases that exist in Pesantren Waria al-Fatah Yogyakarta; first, a bias in the group triggered positive self-concept; and second, a bias which triggered favoritism that is an over liking to own group.]
Menelusuri Kondisi Kejiwaan-Relijius Kaum Homoseksual Terdidik Di Kampus Berbasis Islam (Studi Atas Mahasiswa Homoseksual Di Yogyakarta) Azam Syukur Rahmatullah
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v3i1.1213

Abstract

Di era kekinian kaum homoseksual semakin berkembang-pesat, terlebih lagi dengan adanya  media sosial yang  modern, semakin mempermudah akses kaum homoseksual untuk berinteraksi dengan sesama kaumnya. Bahkan mereka membuat group-group homoseksual yang kemudian disebarluaskan di dunia maya, dengan tujuan agar terus  bertambah  anggotanya. Berdasarkan hasil penelitian dari peneliti sebelumnya, menyatakan bahwa  banyak  para anggota kaum homoseksual yang berasal dari kalangan mahasiswa yang berada pada kampus-kampus yang notabene berbasis Islam dan berbudaya Islami. Meskipun keberadaan mereka masih bersifat “tersembunyi alias terselubung.” Ruang gerak mereka terbatasi oleh aturan-aturan agama yang dibudayakan di dalam kampus-kampus belabel Islam tersebut. Oleh karena itulah, peneliti berkeinginan untuk  mengetahui lebih dalam tentang bagaimana sebenarnya kondisi kejiwaan relijius para kaum mahasiswa homoseksual yang berada pada kampus Islam. Peneliti mengambil lokasi penelitian di Yogyakarta sebab  terdapat beberapa kampus berlabel Islam. Dalam hal ini ini peneliti samarkan nama kampus Islam tersebut. Peneliti telah mewawancarai 4  kaum homoseksual yang berasal dari dua kampus berbasis Islam di Yogyakarta. 2 berasal dari kampus Islam A yang keduanya menjalankan ibadah  dan 2 berasal dari kampus Islam B yang kedua responden juga menjalankan ibadah. Hasil dari penelitian tersebut  menyatakan bahwa  dari keempat kaum homoseksual tersebut mengalami keberbimbangan jiwa relijiusitasnya, di mana satu sisi mereka tetap   menjalankan aturan-aturan kampus yang berbasis Islami seperti halnya shalat, puasa, membaca al-Qur’ān, halaqah, kajian-kajian keislaman di kampus, namun di sisi lain jiwa homoseksual yang dimiliki tidak mudah dihilangkan dengan mudah. Pada akhirnya mereka mengalami “disonansi kognitif” yang menunjukkan  perasaan ketidaknyamanan mereka akibat sikap, pemikiran, dan perilaku yang saling bertentangan antara batin dan perbuatan.  Hasil penelitian lainnya ditunjukkan dengan  adanya perasaan  was-was,cemas dan takut jika Allah murka, hal ini dikarenakan meskipun mereka beribadah tetapi tetap berhubungan badan dengan sesama jenis. Namun kempat responden tersebut menyatakan tidak bisa berbuat apa-apa, dan tetap menjalani hidup yang memang harus dijalani.[In the current era, homosexuals are growing rapidly, especially with the existence of modern social media, which makes it easier for homosexuals to have access to interact with their fellow citizens. They even created homosexual groups which were then disseminated in cyberspace, with the aim of increasing members. Based on the results of research from previous researchers, it was stated that many of the homosexual members came from among students who were on campuses which in fact were based on Islam and had an Islamic culture. Even though their existence is still "hidden or covert." Their space for movement is limited by the religious rules that are cultivated in the Islamic label campuses. Therefore, the researcher wants to know more about the true spiritual condition of the homosexual students who are on the Islamic campus. The researcher took the research location in Yogyakarta because there are several campuses labeled Islam. In this case the researcher disguises the name of the Islamic campus. Researchers have interviewed 4 homosexuals from two Islamic-based campuses in Yogyakarta. 2 came from the Islam A campus, both of which were practicing worship and 2 were from the Islamic campus B where both respondents also practiced worship. The results of the study stated that of the four homosexuals experienced doubts about their religious spirit, where on the one hand they continued to observe Islamic-based campus rules such as prayer, fasting, reading al-Qur'ān, halaqah, Islamic studies in campus, but on the other hand the homosexual spirit that is owned is not easily eliminated. In the end they experience "cognitive dissonance" which indicates their feeling of discomfort due to conflicting attitudes, thoughts and behaviors between mind and action. The results of other research are indicated by feelings of anxiety, anxiety and fear if Allah is angry, this is because even though they worship, they still have sexual relations with the same sex. However, the four respondents stated that they could not do anything, and continued to live a life that must be lived.]
Social Climber Dan Budaya Pamer: Paradoks Gaya Hidup Masyarakat Kontemporer Mahyuddin Mahyuddin
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v2i2.1086

Abstract

Penelitian ini bertujuan menggambarkan corak gaya hidup kontemporer dan dinamikanya sebagai konsekunsi logis dari pemujaan dan kegilaan atas konsumsi tanda dan makna-makna simbolik. Penelitian ini merupakan penelitian atas perilaku sosial yang direpresentasikan dalam teks media sosial (virtual dan gambar) sebagai elemen kejadian sosial sekaligus reproduksi pemaknaan yang memiliki efek kausal seperti perubahan pengetahuan, kepercayaan, sikap dan nilai yang direproduksi secara berulang dalam ranah masyarakat maya. Penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Sejalan dengan fenomena masyarakat hari ini yang gemar memamerkan diri dalam ruang-ruang media sosial sebagai tindakan sosial interaktif, maka perilaku tersebut dianalisis dengan transformasi kajian teori Jean Baudrillard perihal budaya konsumsi. Analisis Baudrillard menyelidiki fenomena sosial untuk konteks sosial masyarakat posmodern. Fenomena yang dikaji antara lain; 1) simbol sosial budaya pamer di ranah sosial dan medan masyarakat maya; 2) gaya hidup masyarakat konsumer dan social climber. 3) berbagai implikasi sosial yang mencerminkan fenomena konsumersime.Hasil penelitian mengungkapkan bahwa: 1) Telah terjadi polarisasi baru corak perilaku sosial yang ditampakkan oleh masyarakat hari ini. Gejala-gejala tersebut merepresentasikan sebuah realitas sosial tersendiri di mana pemujaan atas konsumsi, kegilaan terhadap gaya hidup, serta benturan identitas sosial (status, citra, diri) adalah suatu hal yang tidak terelakkan. 2) Di era ini, pertukaran simbolis adalah bagian penting yang tidak terhindarkan di mana pada era posmodern ini, citra dan penanda selalu direproduksi sebagai strategi aktualisasi atas status diri oleh setiap individu dalam mengarungi berbagai dunia realitas, termasuk dunia gaya hidup.[This study aims to illustrate the behavior of contemporary lifestyle and its dynamics as a logical consequence of adoration and obsession against the consumption of signs and meanings symbolic. This study is about social behavior represented in social media (virtual and images) as elements of social events as well as meaning reproduction that have causal e" acts such as repeated changes in knowledge, beliefs, attitudes, and values that reproduced in the realm of cyber society. This research used a qualitative paradigm with a phenomenology approach. Consistent with the phenomenon of society nowadays in which likes to show o" their spaces of social media as an interactive social action analyzed by transforming of Jean Baudrillard’s theory of consumption culture. Baudrillard’sanalysis investigated social phenomena for the social context of postmodern society. Phenomena analyzed namely 1) symbols of social-show culture in the social area and cyber $ eld; 2) society lifestyle as consumer and social climber. 3) various social implications that contain with consumerism phenomenon.! e results showed that: 1) There has been a new social polarization style expressed by society today. these symptoms represented its own social reality in which the adoration of consumption, the obsession of lifestyle, and the clash of social identity (status, image, ego) are inevitable. 2) In this era, symbolic exchanges are an inevitable part of this postmodern universe, images, and indications that are always reproduced as the actualization strategy of their status by individuals in the world of reality, including the lifestyle world.]

Page 6 of 10 | Total Record : 98