cover
Contact Name
Zulkipli Lessy
Contact Email
jkiipasca@gmail.com
Phone
+6288227810471
Journal Mail Official
jkiipasca@gmail.com
Editorial Address
Published by Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta Website: http://ejournal.uin-suka.ac.id/pasca/jkii Gedung Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner
ISSN : 25794930     EISSN : 27758281     DOI : https://doi.org/10.14421/jkii.v6i2.1195
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner welcomes original research for manuscripts with various theoretical perspectives and methodological approaches. It invites researchers and scholars of all backgrounds related to Islamic studies to contribute their research covering all aspects of Islam and the Islamic world in the areas of philosophy, history, religion, political science, international relations, psychology, sociology, anthropology, economics, environmental and development issues etc. related to scientific research. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner offers an open platform for exchanging knowledge and ideas (with various perspectives) to facilitate methodological reform in Islamic studies and promote critical academic methodologies that respond to the current issues in Islam and the Islamic world.
Articles 95 Documents
Hijab sebagai Self Control terhadap Penetrasi Korean Wave Surawan Surawan; Endah Mustika Pertiwi
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v8i1.1343

Abstract

Korean wave merupakan produk budaya sebagai dampak dari globalisasi yang disukai oleh masyarakat dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Korean wave hadir dengan berbagai produk budaya yang menarik, salah satunya adalah daya berpakaian. Masalah kemudian muncul akibat tren pakaian korea yang dianggapcenderung lebih modern dan mengaburkan nuansa berpakaian sesuai dengan norma. Terlebih lagi penggunaan hijab di kalangan remaja muslimah. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji persepsi penggunaan hijab sebagai bentuk self control terhadap Korean wave. Penulisan paper ini berupa kajian pustaka (library research) yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data berupa dokumentasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah berupa catatan peristiwa yang sudah berlalu, gambar, tulisan, atau karya dari seseorang. Penggunaan hijab dinilai dapat menjadi self control bagi para penggemar sesuai dengan tiga aspek persepsi yaitu perilaku, kognitif, dan pengambilan keputusan. [The Korean wave is a cultural product because of globalization which is favored by the world community, and Indonesia is no exception. The Korean wave comes with a variety of interestingcultural products, one of which is the power of clothing. Problems then arise due to the trend of Korean clothing which is considered to be more modern and obscures the nuances of dressing according to the norm. Moreover, the use of hijab among Muslim youth. This article aims to examine the perception of wearing the hijab as a form of self-control towards the Korean wave. The writing of this paper is in the form of a descriptive library research. Data collection in the form of documentation referred to in this study is in the form of records of events that have passed, pictures, writings, or the workof someone. The use of the hijab is considered to be self-control for fans according to three aspects of perception, namely behavior, cognitive and decision-making.]
Agama Dan Identitas Diri Pada Waria di Surakarta Roudhotul Jannah
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v8i1.1335

Abstract

Artikel ini dibuat untuk melihat bagaimana fungsi agama bagi waria dan juga berbagai perjalanan yang dialami oleh waria di Surakarta. Mereka sering memperoleh stigma, cemoohan dan label negatif dari masyarakat sekitar. Hal tersebut menjadikan mereka dikucilkan dan susah untuk memperoleh pekerjaan. Alhasil, karena kebutuhan ekonomi yang semakin mencekik menjadikan mereka tidak jarang mengambil jalan menjadi pekerja seks komersial (PSK) dan mengamen untuk menyambung hidup. Padahal, dengan melakukan pekerjaan tersebut mereka sangat rentan terjangkit penyakit kelamin dan Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Meski begitu, mereka pada hakikatnya sadar pada bahwa mencari nafkah dengan menjadi PSK adalah tidak benar. Dalam kehidupan sehari-hari mereka sangat rajin beribadah, bahkan dalam berdoa mereka sangat khusyuk dan memohon ampun kepadaNya atas kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Sumber data yang digunakan adalah data primer yang berupa wawancara kepada para waria di Surakarta. Selama ini banyak orang yang hanya menghakimi tanpa mampu memahami dari sisi kemanusiaan bahkan banyak yang menjadikan narasi agama sebagai cara untuk mengakiminya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa waria sebagaimana manusia lainnya juga mempunyai semangat sprititualitas. Bahkan mereka bisa lebih khusyuk daripada manusia pada umumnya beribadah sebab momentum ibadah mereka gunakan sebagai tempat mengadu atas berbagai tekanan yang mereka dapatkan dari masyarakat. [This study aims to examine how religion functions for waria in Surakarta, as well as the various journeys experienced by them because they often receive stigma, ridicule and negative labels from the surrounding community. This makes them isolated and difficult to get a job. As a result, due to increasingly suffocating economic needs, they often take the path of becoming commercial sex workers who are vulnerable to contracting venereal diseases and human immunodeficiency virus (HIV)/acquired immune deficiency syndrome (AIDS). Even so, in their daily life they are very diligent in worship, even in prayer they are very solemn and ask Him for forgiveness for the mistakes they have made (the green ones are too detailed! Can you just summarize them?). The data source used is primary data in the form of interviews with four waria in Surakarta. So far, many people have only judged without being able to understand from a human standpoint, and many have even used religious narratives as a way to judge waria. This research shows that waria, like other humans, also have a spirit of spirituality. In fact, they can be more solemn than humans in general in worship because they use the momentum of their worship as a place to complain about the various pressures they get from society.]
Kontestasi Narasi Perempuan Dalam Website Islam: Analisis Perbandingan Mubadallah.id dan Muslimah.News Meri Andani; Romario Romario
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v8i1.1342

Abstract

Artikel ini mengkaji narasi perempuan yang diproduksi oleh website Islam. Website telah menjadi sumber informasi sekaligus pengetahuan dalam memahami Islam. Salah satu isu yang menjadi sorotan dalam website Islam adalah persoalan perempuan. Penelitian ini mengambil website Mubalah.id dan Muslimahnews.com sebagai perbandingan dalam melihat narasi perempuan di website. Penelitian ini memetakan isu perempuan yang terdapat dalam website Mubadalah.id dan Muslimahnews.com. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa narasi perempuan dalam Mubadalah.id berisikan informasi dan narasi yang berupaya membuat perempuan setara, serta aktif terlibat dalam mengambil keputusan dan berisikan pesan moderat, sebaliknya dalam Muslimahnews.com, narasi perempuan seringkali menjadi subodinat dan kepatuhan, disisi lain Muslimahnews.com selalu menyampaikan bahwa Syariat Islam adalah solusi atas permasalahan perempuan. Kedua Website ini menunjukan bagaimana narasi perempuan digambarkan dalam dua sudut pandang yang berbeda, hal ini tidak lepas dari aflisiai Mubadalah.id dan Muslimahnews.com. [This article examines women’s narratives produced by Islamic websites. The website has become a source of information as well as knowledge in understanding Islam. One of the issues in the spotlight on Islamic websites is the issue of women. This study takes the websites Mubalah.id and Muslimahnews.com as a comparison in viewing women’s narratives on the website. This study maps women’s issues contained in the websites Mubdalam. id and Muslimahnews.com. The results of this study indicate that the women’s narrative in Mubidah.id contains information and narratives that seek to make women equal, and is actively involved in making decisions and contains moderate messages, on the contrary in Muslimahnews.com, women’s narratives are oftensubordinated and obedient, on the other hand, Muslimahnews. com always conveys that Islamic Shari’a is the solution to women’s problems. These two websites show how women’s narratives are described in two different perspectives, this cannot be separated from the affiliates of Mubidah.id and Muslimahnews.com.]
The Minimum Age For Marriage In Law Number 16 Of 2019 Perpective Maqashid Sharia Abdul Majid Al Najjar Ahmad Bahrul Ulum; Muslihun
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v8i1.1346

Abstract

This research broadly wants to answer three problem formulations. First, the minimum age requirement for marriage. Second, the minimum age requirement for marriage in law number 19 of 2019. Third, the perspective of Maqasid al-Shari'ah Abdul Majid al-Najjar is the minimum age limit for marriage. By using the theory of Maqasid al-Shari'ah Abdul Majid al-Najjarr so that the right solution will be found regarding the problem within the minimum age limit of marriage. The results of this study indicate that the minimum age limit for marriage, which is 19 years for both men and women, is an appropriate and effective step in achieving universal benefit in the form of becoming an ideal individual. The ideal individual will produce an ideal family, where the ideal family can form an ideal society in the future. [Penelitian ini berangkat dari perubahan ketentuan batas minimal usia perkawinan dan realitas yang terjadi dalam masyarakat. Pada dasarnya, usia perkawinan bukan merupakah syarat dan rukun dalam perkawinan. Hanya saja, usia perkawinan membuktikan bahwa terdapat kemaslahatan yang akan tercapai dimasa depan apabila dilaksanakan dengan tepat. Adapun tujuan perkawinan sendiri, dimana seharusnya membawa kemaslahatan rupanya tidak dapat tercapai apabila ketentuan pembatasan tersebut tidak dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu, perlu diadakan penelitian supaya didapatkan solusi mengenai permasalahanpermasalahan tersebut. Penelitian ini secara garis besar hendak menjawab tiga rumusan masalah. Pertama, ketentuan usia minimal perkawinan. Kedua, ketentuan usia minimal perkawinan dalam undang-undang no.19 tahun 2019. Ketiga, perspektif Maqasid al-Shari’ah Abdul Majid al-Najjar dalam batas minimal usia perkawinan. Dengan menggunakan metodologi kualitatif dan dengan pendekatan Library Research, maka akan didapatkan datadata verbal mengenai ketentuan batas minimal usia perkawinan. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan teori Maqasid al-Shari’ah Abdul Majid al-Najjar sehingga akan ditemukan solusi yang tepat mengenai permasalahan dalam batas minimal usia perkawinan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembatasan usia minimal perkawinan yaitu 19 tahun bagi laki-laki dan perempuan, merupakan langkah yang tepat dan jitu dalam upaya mencapai kemaslahatan universal berupa menjadikan individu yang ideal. Individu yang ideal, akan menghasilkan keluarga yang ideal, dimana keluarga ideal, dapat membentu masyarakat yang ideal pada masa mendatang.]
Penerapan Hybrid Contract dalam Aplikasi BSI Mobile Banking (Analisis Hukum Ekonomi Syariah) Hasniati Hasni; Linda Amala Udzma
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v8i1.1347

Abstract

Bank Syariah Indonesia (BSI) adalah lembaga keuangan syariah yang menawarkan kemudahan dalam bertransaksi. Berbagai inovasi produk yang ditawarkan untuk bersaing di dunia perbankan. Produk tersebut berupa media aplikasi yang terhubung dengan jaringan internet dalam menggunakannya. Salah satu produknya yaitu aplikasi BSI Mobile dengan berbagai layanan yang disediakan dari pihak Bank Syariah Indonesia dalam bertransaksi. Aplikasi BSI Mobile menyediakan berbagai fitur dengan menggunakan hybrid contrak dalam penerapannya. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hukum penggunaan hybrid contract yang digunakan oleh aplikasi BSI Mobile dalam Islam. Penelitian yang digunakan ialah jenis penelitian literatre review dengan menggunakan pendekatan normative yang dijelaskan secara deskriftif. Teknik pengumpulan data menggunakan data skunder yang diperoeh dari undang-undang, buku, jurnal, artikel ilmiah dan literatur review. Fatwa DSN-MUI telah mengatur hybrid contract yang boleh di lakukan diantaranya yaitu musyarakah mutanaqisah, al-ijarah al-muntahiyah bi al-tamlik, dan mudharabah musytarakah, musyarakah muntahiyah bi al-tamlik. akad-akad tersebut digunakan dalam transaksi aplikasi BSI Mobile. Sehingga penerapan hybrid contract dalam aplikasi BSI mobile sah untuk dilakukan dengan memenuhi rukun dan syarat akad, serta memperhatikan batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam. [Bank Syariah Indonesia (BSI) is a sharia financial institution that offers convenience in transactions. Various product innovations are offered to compete in the banking world. The product is in the form of a media application that is connected to the internet network to use it. One of its products is the BSI Mobile application with various services provided by Bank Syariah Indonesia in transactions. The BSI Mobile application provides various features by implementing a hybrid contract. Therefore this research was conducted to find out the law on the use of hybrid contracts used by the BSI Mobile application in Islam. The research used is a type of literature review research using a normative approach which is explained descriptively. Data collection techniques use secondary data obtained from laws, books, journals, scientific articles, and literature reviews. The DSNMUI fatwa has regulated hybrid contracts that may be carried out, including musyarakah mutanaqisah, al-ijarah al-muntakiyah bi al-tamlik, and mudharabah musytarakah, musyarakah lumpuriyah bi al-tamlik. these contracts are used in BSI Mobile application transactions. So that the application of hybrid contracts in the BSI mobile application is valid to be carried out by fulfilling the pillars and conditions of the contract, and taking into account the limitations set by Islamic law.]
Menakar Kembali Otoritas Ulama: Antara Kesalehan dan Komodifikasi Agama Mohammad Fattahun Ni'am
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 8 No. 2 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v8i2.1349

Abstract

Di satu sisi, ulama harus bisa menjaga kesalehan agama dan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan dalam Islam, namun di sisi lain mereka juga harus menghadapi tekanan untuk mengikuti tren dan mengkomodifikasi agama demi mendapatkan keuntungan. Otoritas ulama merupakan salah satu aspek penting dalam Islam, yang bertugas sebagai pemimpin spiritual dan pemberi fatwa (keputusan) bagi umat Islam. Kini dengan bantuan media sosial ulama dapat mentransfer fatwa sekaligus melakukan praktik komodifikasi agama secara lebih mudah. Hal tersebut seperti apa yang dilakukan oleh Khalid Basalamah antara otoritasnya sebagai ulama dengan manhaj salafinya dan ambigurita bisnis yang ia miliki. Artikel ini mencoba untuk menakar kembali otoritas ulama dan membedah praktik kesalehan dan komodifikasi agama yang dilakukan oleh Khalid Basalamah. Dengan menggunakan studi analisis isi dan teori sosial otoritas Max Waber penelitian ini menemukan bahwa Khalid Basalamah mencerminkan bagaimana ketiga jenis otoritas Weber (rasionallegal, kharismatik, dan tradisional) berinteraksi dan bercampur dalam konteks otoritas ulama yang menghadapi tekanan antara menjaga kesalehan agama dan mengikuti tren bisnis. Khalid Basalamah terdorong untuk menjual produk-produk dengan branding agama demi meningkatkan popularitas dan pendapatan. Namun, terlalu banyak terpaku pada aspek komodifikasi dapat menjadi boomerang bagi otoritas ulama, karena dapat menurunkan martabat dan kesalehan ulama di mata umat. [On the one hand, clerics must maintain religious piety and the principles set out in Islam, but on the other hand they must also face pressure to follow trends and commodify religion for profit. The authority of the ulama is one of the most important aspects of Islam, serving as spiritual leaders and fatwa (decree) givers for Muslims. Now, with the help of social media, ulama can transfer fatwas as well as commodify religion more easily. This is what Khalid Basalamah has done between his authority as a cleric with his salafi manhaj and his business octopus. This article tries to reassess the authority of the ulama and dissect the practice of piety and commodification of religion carried out by Khalid Basalamah. Using a content analysis study and Max Waber’s social theory of authority, this research finds that Khalid Basalamah reflects how Weber’s three types of authority (rational-legal, charismatic, and traditional) interact and mix in the context of clerical authority that faces pressure between maintaining religious piety and following business trends. Khalid Basalamah is compelled to sell products with religious branding to increase popularity and revenue. However, too much focus on the commodification aspect can be a boomerang for the authority of the ulama, as it can lower the dignity and piety of the ulama in the eyes of the people.]  
Tujuan Pendidikan Islam di Indonesia Perspektif al-Qur'an Abu Fatih, Tanuri
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 8 No. 2 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v8i2.1351

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana antara harapan dan kenyataan pendidikan Islam di Indonesia. Mengurai antara output pendidikan dan realita yang terjadi pada dunia pendidikan Islam pada saat ini. Begitu banyak permasalahan yang terjadi, dari kurangnya perhatian terhadap nilai-nilai moral dan etika pada siswa, faktor sosial dan ekonomi, pengaruh lingkungan dan teman sebaya, hingga ketidaktepatan sistem pendidikan. Seyogyanya pendidikan Islam tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan teoritis, tetapi juga pada pengembangan akhlak dan penerapan praktis nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Adapun teknis pengumpulan data yang dilakukan yaitu mencatat data-data yang diambil dari berbagai sumber dari bahan-bahan tertulis kemudian mengidentifikasi buktibukti kontekstual yaitu dengan mencari hubungan antara data dengan realitas yang penulis teliti. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis data baik jurnal, buku atau artikel yang berkaitan dengan tema yang dimaksud. Hasil penelitian menyebutkan bahwa Al-Qur’an sebagai pedoman umat Islam menjadi inspirasi dan sumber ilmu bagi segala aspek kehidupan, termasuk dalam persoalan pendidikan dewasa ini. Meskipun masih ada tantangan yang perlu diatasi, ada beberapa arah yang dapat dilihat untuk masa depan pendidikan Islam di Indonesia. Peningkatan kurikulum pendidikan Islam perlu terus dilakukan untuk memastikan bahwa siswa menerima pendidikan yang relevan dan berkualitas. Kurikulum harus mencakup aspekaspek klasik seperti Al-Quran, hadis, dan fiqih, namun juga memperhatikan integrasi dengan m ata pelajaran lain seperti ilmu pengetahuan dan teknologi. [This study aims to determine how far between the expectations and reality of Islamic education in Indonesia. Describe the output of education and the reality that is happening in the world of Islamic education at this time. There are so many problems that occur, starting from the lack of attention to moral and ethical values in students, social and economic factors, environmental and peer influences, to the inaccuracy of the education system. Islamic education should not only focus on the transfer of theoretical knowledge, but also on the development of morals and the application of practical Islamic values in everyday life. The technical data collection was carried out, namely recording data taken from various sources from written materials and then identifying contextual evidence, namely by looking for the relationship between the data and the reality that the author examined. This research uses qualitative data-based methods, both journals, books or articles related to the theme in question. The results of the study state that the Al-Qur’an as a guideline for Muslims is an inspiration and source of knowledge for all aspects of life, including in today’s educational issues. Although there are still challenges that need to be overcome, there are several directions that can be seen for the future of Islamic education in Indonesia. Improvement of the Islamic education curriculum needs to be continued to ensure that students receive relevant and quality education. The curriculum must cover classical aspects such as the Koran, hadith, and fiqh, but also pay attention to integration with other subjects such as science and technology.]
Agama dan Spiritualitas Teosofi di Indonesia: Antara Formalisme dan Subtansialisme Abdulloh Hadziq; Ita Rodiah
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 8 No. 2 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v8i2.1354

Abstract

Seiring perkembangan studi agama, muncul konsep religiusitas dan spiritualitas yang diperdebatkan oleh para ahli. Agama dan spiritual mulai mengalami pemisahan ketika terjadi sekulerisme Barat pada pertengahan abad 19 masehi. Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (Library Research). Religiusitas lebih dianggap sebagai suatu yang formal dan instusional, sedangkan spiritualitas dikaitkan dengan sesuatu pengalaman personal dan bersifat fungsional, serta mencerminkan upaya perolehan tujuan dan makna hidup. Spiritualitas dan religiusitas berbeda dari segi konsep, namun aspek tertentu keduanya bersinggungan. Teosofi yang berarti kebijaksanaan Tuhan adalah suatu perkumpulan yang dipelopori oleh madam Helena Petrovna Blavatsky. Substansi dari ajaran agama ialah spiritualitas sehingga agama tidak bisa lepas dari spiritualitas. Agama dan religiusitas merupakan bentuk formal atau institusi untuk menuju spiritualitas. Regiusitas terpaku oleh tatanan yang dibentuk oleh struktur teologi tertentu sedangkan spiritualitas memiliki kehendak bebas. [ As the study of religion developed, the concepts of religiosity and spirituality were debated by scholars. Religion and spirituality began to experience separation when Western secularism occurred in the mid-19th century. In this research, the author uses the type of library research. Religiosity is more considered as something formal and institutional, while spirituality is associated with something personal and functional experience, and reflects efforts to obtain the purpose and meaning of life. Spirituality and religiosity are different in terms of concepts, but certain aspects of both intersect. Theosophy, which means the wisdom of God, is an association pioneered by Madam Helena Petrovna Blavatsky. The substance of religious teachings is spirituality so religion cannot be separated from spirituality. Religion and religiosity are formal forms or institutions of spirituality. Religiosity is fixed by the order formed by certain theological structures while spirituality has free will pioneered by Madam Helena Petrovna Blavatsky. The substance of religious teachings is spirituality so religion cannot be separated from spirituality. Religion and religiosity are formal forms or institutions of spirituality. Religiosity is fixed by the order formed by certain theological structures while spirituality has free will.]
Nilai-Nilai Maqāṣid Dibalik Pertemuan Dengan Allah (Liqāallah) dalam QS. al-Kahfi [18]: 110 Perspektif Tafsir Maqāṣidi Awwaliyyah, Saadah; Ismail
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 8 No. 2 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v8i2.1356

Abstract

Mayoritas manusia yang hidup saat ini menganggap pertemuan dengan Allah hanyalah fiktif belaka, belum tentu dirasakan oleh setiap manusia, juga hanya dapat di nikmati setelah adanya hari kebangkitan. Sehingga sangat mudah mengabaikan keberadaan Allah dengan menafikan nilai-nilai kebaikan menuju Allah. Tujuan tulisan ini untuk menggali makna Liqāallah denga mengangkat nilai-nilai maqāṣid al-Qur’an dan maqāṣid alsharia’ah dalam QS. Al-Kahfi[18]:110. Artikel ini termasuk jenis penelitian kepustakaan dengan metode analisis deskriptif yang diteliti  menggunakan pendekatan tafsir maqashidi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lafadz Liqāallah tidak hanya bermakna pertemuan dengan Allah setelah hari akhir, tetapi juga bermakna ganjaran kebaikan dari Allah yang dapat diterima semasa hidup di dunia. Penulis juga menemukan nilai-nilai maqāṣid al-Qur’an dan maqāṣid al-sharia’ah dalam QS. AlKahfi[18]:110 yang dapat diterapkan dalam kehidupan seharihari. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembalikan keyakinan manusia akan keberadaaan Allah dengan menanamkankembali nilai-nilai kebaikan menuju Allah.  [The majority of people living today think that meeting God is just  a fiction, not necessarily felt by every human being, and can only  be enjoyed after the resurrection day. So it is very easy to ignore  the existence of Allah by denying the values of goodness towards  Allah. The aim of this article to explore the meaning of Liqāallah  by highlighting the values of maqāṣid al-Qur’an and maqāṣid alsharia’ah in the QS. Al-Kahfi[18]:110. This article is a type of library research with a descriptive analysis method that is researched using the maqāṣidi interpretation approach. The result of this research show that Liqāallah does not only mean meeting with Allah after thelast day, but it also of goodness from Allah can be received during life in the world. The author also finds the values of maqāṣid al-Qur’an and maqāṣid al-sharia’ah in the QS. Al-Kahfi[18]:110 which can be applied in everyday life. The result of this research are expetected to restore human belief in the exsistence of God by re-instilling good values toward Allah].
Puasa Dalam Al-Quran (Kajian Teks dan Konteks Serta Implikasi Etikanya) Harpetinah; Hakim, Lukman Nul; Nur Kholifah, Umi
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 8 No. 2 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v8i2.1357

Abstract

 Puasa merupakan salah satu rukun islam yang sangat penting, puasa juga salah satu ibadah yang tidak bisa berpura-pura, dibandingkan dengan ibadah yang lain, ibadah puasa memiliki keistimewaan, karena dalam pelaksanaan ibadah puasa bersifat pribadi karena hanya orang yang berpuasa dan Allah Swt yang mengetahui pelaksanaannya. Namun, dalam penelitian ini masih banyak yang perlu dipahami lebih lanjut terutama mengenai apa itu implikasi etika puasa dalam al-Qur’an. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif analitis dengan menggunakan metode library research yang mana sumber data yang digunakan yaitu data-data kepustakaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi etika puasa dalam alQur’an dengan kajian teks dan konteks. Hasil dari penelitian ini bahwa implikasi etika puasa dalam al-Qur’an merupakan suatu hasil yang didapatkan setelah melakukan ibadah puasa sesuai dengan aturan dan anjuran yang ada dalam al-Qur’an diantaranya adalah ikhlas, tekad, ridho, pasrah, dan memiliki prinsip ihsan, sabar, sungguh-sungguh, dan memiliki prinsip tawakkal. [ Fasting is one of the most important pillars of Islam, fasting is also a form of worship that cannot be pretended, compared to other worship, fasting has special features, because the implementation of fasting is personal because only the person who is fasting and Allah SWT knows its implementation. However, in this research there is still a lot that needs to be understood further, especially regarding the ethical implications of fasting in the Koran. This research is a descriptive analytical qualitative research using the library research method where the data source used is library data. This research aims to analyze the ethical implications of fasting in the Koran by studying the text and context. The results of this research are that the ethical implications of fasting in the Qur’an are the results obtained after fasting in accordance with the rules and recommendations in the Qur’an, including sincerity, determination, blessing, surrender, and having the principle of ihsan. , patient, sincere, and has the principle of tawakkal.]

Page 8 of 10 | Total Record : 95