cover
Contact Name
Sri Warsini
Contact Email
sri.warsini@ugm.ac.id
Phone
+62274-545674
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Gedung Ismangoen Jl. Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal)
ISSN : 2614445x     EISSN : 26144948     DOI : https://doi.org/10.22146/jkkk.57386
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) accepts novel research articles, case study, literature review, and psychometric testing articles in all field of clinical and community of nursing. This journal is published through peer-review process by nursing and health expert in academic and health care institution in Indonesia. The scope includes: 1) Surgical medical nursing 2) Emergency nursing 3) Basic nursing 4) Education in nursing 5) Management in nursing 6) Maternity nursing 7) Pediatric nursing 8) Mental health nursing 9) Community nursing
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2025)" : 6 Documents clear
Hubungan Pengetahuan Pola Asuh Berbasis Budaya dengan Efikasi Diri Ibu dalam Pencegahan Stunting pada Anak Usia 6-59 Bulan Kusumaningtyas, Khariza; Lusmilasari, Lely; Hapsari, Elsi Dwi
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.104920

Abstract

Background: The first five years of life are critical for achieving optimal growth and development. The main risk factor for growth failure in children is stunting. One cause of stunting is parenting patterns, particularly that of mother, who is often the primary caregiver. Therefore, maternal self-efficacy is essential for positive parenting. Maternal self-efficacy in parenting begins with knowledge of stunting prevention.Objective: To determine the correlation between cultural-based parenting knowledge and maternal self-efficacy to prevent stunting among children aged 6-59 months.Method: This quantitative cross-sectional study involved 82 respondents, selected using consecutive sampling. Data were collected in November 2023 in Candibinangun Village, Sleman, Yogyakarta. Spearman’s rank correlation analysis was used for the analysis.Results: Fifty-seven percent of mothers had good knowledge and 50% had good self-efficacy, as indicated by scores equal to or greater than the median value for each variable. The p-value was 0,007 indicating a positive correlation between the two variables, with a correlation coefficient (r) of 0,298.Conclusion: There is a significant positive correlation between mothers’ knowledge of cultural-based parenting and self-efficacy in stunting prevention in children aged 6-5 months. Therefore, mothers are encouraged to continuously improve their knowledge and self-efficacy by seeking information related to stunting and practicing positive parenting to reduce the risk of stunting.INTISARILatar belakang: Lima tahun pertama kehidupan merupakan masa kritis bagi anak untuk dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal. Faktor risiko utama kegagalan tumbuh kembang anak disebabkan oleh stunting. Salah satu penyebab stunting adalah pola asuh yang diberikan, terutama oleh ibu yang kerap menjadi pengasuh utama. Oleh karena itu, efikasi diri ibu diperlukan untuk dapat memberikan pengasuhan yang positif. Efikasi diri ibu dalam memberikan pengasuhan dimulai dari proses kognitif terhadap pengetahuan dalam pencegahan stunting.Tujuan: Mengetahui hubungan antara pengetahuan pola asuh berbasis budaya dan efikasi diri ibu dalam pencegahan stunting pada anak usia 6-59 bulan.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif cross-sectional yang melibatkan 82 responden dengan pemilihan sampel menggunakan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data dilakukan pada November 2023 di Kalurahan Candibinangun, Sleman, Yogyakarta. Data dianalisis menggunakan analisis korelasi Spearman’s Rank.Hasil: Sebanyak 57,3% ibu memiliki pengetahuan yang baik, serta 50% ibu memiliki efikasi diri baik ditandai dengan skor ≥ nilai tengah pada tiap variabel. Sementara itu, hasil nilai p-value adalah 0,007 yang menunjukkan dua variabel terdapat hubungan dengan arah positif dengan nilai r adalah 0,298. Simpulan: Terdapat hubungan positif signifikan antara pengetahuan pola asuh berbasis budaya dan efikasi diri ibu dalam pencegahan stunting pada anak usia 6-59 bulan. Oleh karena itu, ibu diharapkan senantiasa meningkatkan pengetahuan dan efikasi diri sehingga dapat menurunkan risiko stunting dengan cara mencari tahu informasi terkait stunting serta mempraktikkan dalam pengasuhan positif. 
Manajemen Nutrisi Pascaoperasi melalui Jejunostomi pada Lansia dengan Perforasi Duodenum di Instalasi Rawat Intensif: Case Report Madany, Nur Putri; Setiyarini, Sri; Widhiastuti, Sri
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.104934

Abstract

Background: Duodenal perforation is a rare and life-threatening condition. Hence, postoperative nutritional management is challenging, especially in elderly with severe perforation. Enteral nutrition via jejunostomy is used in this case. Unfortunately, there are limited case studies related to nutritional management, specifically through jejunostomy, in elderly patients with duodenal perforation.Objective: To understand nutritional management via jejunostomy in elderly patients with duodenal perforation.Case report: A 72-year-old female patient with duodenal perforation underwent operations and jejunostomy placement. The initial phase relied on parenteral nutrition. Enteral nutrition via jejunostomy was given gradually and adjusted based on enteral tolerance.Outcome: Evaluation showed that there was enteral feeding intolerance characterized by increased intraduodenal drainage and diarrhea. Adjustments in nutritional administration were applied until enteral tolerance improved. However, the patient's metabolic condition was worsened, causing mortality.Conclusion: Nutritional management through jejunostomy in elderly patients with duodenal perforation faces challenges in achieving enteral tolerance despite adjustments in the nutritional administration. Enteral feeding intolerance is influenced by advanced age, severity of perforation, and comorbidities, which are also factors in patient mortality. Further research is needed to provide evidence-based guidelines for nutritional management via jejunostomy in patients with duodenal perforation.INTISARILatar belakang: Perforasi duodenum merupakan kondisi yang jarang terjadi, tetapi mengancam jiwa. Manajemen nutrisi pascaoperasi menjadi tantangan, terutama pada pasien lansia dengan perforasi yang parah. Nutrisi enteral melalui tindakan jejunostomi digunakan pada kasus seperti ini. Sayangnya, belum banyak studi kasus terkait manajemen nutrisi, khususnya melalui jejunostomi pada pasien lansia dengan perforasi duodenum.Tujuan: Laporan ini bertujuan untuk mengetahui manajemen nutrisi melalui jejunostomi pada pasien lansia dengan perforasi duodenum.Laporan kasus: Pasien perempuan berusia 72 tahun dengan perforasi duodenum menjalani dua kali operasi dan pemasangan jejunostomi. Fase awal mengandalkan nutrisi parenteral. Nutrisi enteral melalui jejunostomi diberikan bertahap dan dilakukan penyesuaian berdasarkan toleransi enteral.Hasil: Evaluasi menunjukkan adanya intoleransi enteral, ditandai dengan peningkatan drainase intraduodenal dan diare. Penyesuaian pemberian nutrisi dilakukan hingga toleransi enteral membaik. Namun, kondisi metabolik pasien memburuk hingga menyebabkan mortalitas.Kesimpulan: Manajemen nutrisi jejunostomi pada lansia dengan perforasi duodenum menghadapi tantangan dalam mencapai toleransi enteral, meskipun telah dilakukan penyesuaian pada metode dan kecepatan pemberian. Intoleransi enteral dapat dipengaruhi oleh faktor usia lanjut, tingkat keparahan perforasi, dan komorbiditas, yang juga menjadi faktor mortalitas pasien. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memberikan panduan berbasis bukti, mengenai manajemen nutrisi melalui jejunostomi pada pasien dengan perforasi duodenum. 
Pendekatan Komplementer dalam Mengelola Mual dan Muntah pada Pasien Kanker Pascakemoterapi: Scoping Review Nuzulullail, Agung Subakti; Fakhriyah, Anya Bunga; Wensi, Avantika Puspa Imelda; Lidiyana, Ika Arif; Chandra, Ilany Nandia; Rindawati, Magdalena; Rusdiansyah, Mohamad; Azizah, Prisa Tifa; Annelydia, Putri; Christaputri, Silvia Tri Wahyu; Hariyanto, Suci Wahyu; Pangastuti, Heny Susaeni
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.106649

Abstract

Background: Chemotherapy is an effective cancer therapy, but has side effects such as nausea and vomiting. These effects need to be addressed through various method, one of which is complementary approaches. There only few articles related to complementary therapies for reducing nausea and vomiting.Objective: To determine the types of complementary therapies that effectively reduced nausea and vomiting in cancer patients after receiving chemotherapy.Method: Scoping review was conducted using four databases: Science Direct, PubMed, Scopus, and Wiley. Studies were selected based on the following criteria, P: Cancer patients undergoing chemotherapy; I: Complementary Alternative Medicine; C: Conventional approach or no complementary intervention; O: Reduction in the incidence of nausea and vomiting. The inclusion criteria for this study were articles published between 2020 and 2024, written in English, original articles, open access, and discussing complementary interventions for nausea and vomiting after chemotherapy. Exclusion criteria included review articles, protocol studies, and pilot studies. Article screening followed the PRISMA 2020 guidelines. All articles synthesized in this study underwent eligibility assessment by three researchers using the JBI Critical Appraisal Checklist 2020.Outcomes: Ten articles were identified in this study, which reported that there were complementary therapies for post-chemotherapy patients with cancer such as aromatherapy, massage, acupuncture and acupressure, yoga tawa, and herbs. All therapies effectively improved quality of life and nutritional status, reduced the frequency, symptoms, severity, and intensity of nausea and vomiting.Conclusion: Complementary interventions can significantly reduce the incidence of nausea and vomiting in cancer patients after receiving chemotherapy.INTISARILatar belakang: Kemoterapi merupakan terapi kanker yang efektif, tetapi memiliki efek samping seperti mual dan muntah. Efek tersebut perlu segera ditangani melalui berbagai pendekatan, salah satunya pendekatan komplementer. Review terkait ragam terapi komplementer yang efektif dalam menurunkan mual muntah belum banyak dilakukan.Tujuan: Mengetahui macam terapi komplementer yang efektif dalam menurunkan mual muntah pada pasien kanker pascakemoterapi.Metode: Penelitian scoping review dilakukan dari empat database, yaitu Science Direct, Pubmed, Scopus, dan Willey. Pemilihan studi berdasarkan, P: Pasien kanker yang menjalani kemoterapi, I: Complementary Alternative Medicine, C: Pendekatan konvensional atau tanpa intervensi komplementer, O: Penurunan kejadian mual muntah. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah artikel yang terbit pada tahun 2020-2024, berbahasa Inggris, artikel orisinal, open access, serta artikel yang membahas intervensi komplementer pada mual dan muntah pascakemoterapi. Kriteria eksklusi di antaranya artikel review, study protocol, dan pilot study. Artikel diskrining mengikuti pedoman PRISMA 2020. Seluruh artikel yang disintesis dalam studi ini melalui penilaian kelayakan oleh tiga peneliti menggunakan JBI Critical Appraisal Checklist tahun 2020.Hasil: Sepuluh artikel diidentifikasi pada penelitian ini, dengan temuan terapi komplementer pada pasien kanker pascakemoterapi, yaitu aromaterapi, pijat, akupunktur dan akupresur, yoga tawa, dan herbal. Seluruh terapi dapat efektif meningkatkan kualitas hidup dan status nutrisi, penurunan frekuensi, gejala, keparahan, intensitas mual dan muntah.Simpulan: Intervensi komplementer secara signifikan menurunkan mual dan muntah pasien kanker pascakemoterapi.
Hubungan Mekanisme Koping terhadap Tingkat Kecemasan Menghadapi Praktik Klinik pada Mahasiswa Keperawatan Anestesiologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Kuswadi, Kuswadi; Setyowati, Anita; Muhaji, Muhaji
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.106660

Abstract

Background: Anxiety is an uncomfortable feeling experienced by a person, in the form of fear, tension, and emotion. In the context of facing clinical practice, psychological pressure can arise and increase anxiety level, resulting in mental problem. Due to its negative impact, it is crucial to overcome anxiety. Therefore, coping mechanism is applied to make a self-adjustment toward problem. Moreover, each person has different coping mechanism.Objective: To determine the correlation between coping mechanisms and anxiety levels of facing clinical practice among students of Diploma IV Anesthesiology Nursing at ‘Aisyiyah University of Yogyakarta.Method: This was an observational study with a Cross-Sectional design. The respondents of this study were 61 students from Anesthesiology Nursing Diploma IV program at ‘Aisyiyah University of Yogyakarta class of 2022, and whom were facing clinical practice in hospital. The research instruments were the Brief Cope Scoring questionnaire for measuring coping mechanisms and the Hamilton Rating Scale for Anxiety (HARS) for measuring anxiety levels. Data analysis used was the Spearman Rank Correlation Test.Results: Most of respondents were experiencing moderate anxiety. The results of the statistical test obtained a p-value of 0,000 (<0,05) with a correlation coefficient of 0,582.Conclusion: There is a medium-strength positive correlation between coping mechanisms and anxiety levels in facing clinical practice among Anesthesiology Nursing Diploma IV students at ‘Aisyiyah University of Yogyakarta.INTISARILatar belakang:  Kecemasan merupakan perasaan tidak nyaman yang dialami seseorang, berupa rasa takut, tegang, dan emosional. Dalam menghadapi praktik klinik, mahasiswa akan mengalami berbagai tekanan psikologis dan meningkatkan kecemasan hingga mengakibatkan masalah mental. Dengan banyaknya dampak buruk yang ditimbulkan oleh kecemasan, membuat hal ini penting untuk diatasi. Penyesuaian diri untuk mengatasi masalah ini dilakukan dengan cara mekanisme koping. Dalam hal ini setiap individu memiliki mekanisme koping yang berbeda.Tujuan: Mengetahui hubungan antara mekanisme koping terhadap tingkat kecemasan mahasiswa dalam menghadapi praktik klinik pada mahasiswa Diploma IV Keperawatan Anestesiologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analisis korelasional dengan desain cross sectional. Responden penelitian ini adalah mahasiswa program Diploma IV Keperawatan Anestesiologi Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta angkatan 2022 dengan jumlah 61 responden yang sedang menghadapi praktik klinik. Instrumen yang digunakan berupa Kuesioner Brief Cope Scoring untuk mekanisme koping dan Hamilton Rating Scale for Anxiety (HARS) untuk mengukur tingkat kecemasan. Analisis data menggunakan uji Korelasi Spearman's Rank.Hasil:  Uji statistik menunjukkan bahwa 61 responden mengalami kecemasan tingkat sedang dengan nilai p-value sebesar 0,000 (<0,05) dan koefisien korelasi sebesar 0,582.Simpulan: Terdapat hubungan dengan kekuatan sedang dan arah korelasi positif antara mekanisme koping terhadap skor kecemasan menghadapi praktik klinik pada mahasiswa Diploma IV Keperawatan Anestesiologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. 
Merawat di Bawah Tekanan: Faktor Risiko Kejadian Burnout pada Perawat Maternitas dan Bidan: Scoping Review Puspitasari, Halfie Zaqiyah Gusti; Selwis Raistanti, Sihqina Ramadhani; Tsauroh, Salsabila Fiqrotu; Agustin, Agustin; Hutami, Nurfitria Anisa; Riyati, Riyati; Mokodompit, Hariansyah; Viegas, Bonifacio de Jesus; Hapsari, Elsi Dwi
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.107591

Abstract

Background: Several factors such as high job demands, unsupportive health care environment, and low salary contribute to burnout among maternity nurses and midwives. Untreated burnout can have a negative impact on the quality of care, the mental health of midwifery nurses and midwives, and therefore patient well-being.Objective: To identify risk factors for burnout among maternity nurses and midwives.Method: This study was a scoping review in accordance with Updated Methodological Guidance for The Conduct of Scoping Reviews 2020. Articles were obtained from three electronic data sources, namely PubMed, ScienceDirect, and Wiley. Inclusion criteria included English-language article, published between 2020 and 2024, and original research articles on burnout among maternity nurses and midwives. Articles that did not meet the criterion, such as focusing on maternity nurses and midwives in education context, were excluded. Article selection followed the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses for Scoping Review (PRISMA-ScR) Guidelines 2020 and quality assessment used the Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Checklist 2020 and Mixed Methods Appraisal Tool (MMAT) 2018.Results: A total of 32.803 articles were found in the search. After screening, eight articles that met the criteria were selected and analyzed further. Based on the analysis results, it was found that the identified risk factors causing burnout in maternity nurses and midwives included socioeconomic status, work experience and duration, unpleasant experiences, job demands, and commitment.Conclusion: Socioeconomic status, work experience and duration, unpleasant experiences, job demands, and commitment contribute to burnout among maternity nurses and midwives. Therefore, further research is needed to develop burnout prevention strategies to improve the well-being of maternity nurses and midwives.INTISARILatar belakang: Tuntutan pekerjaan yang tinggi, lingkungan fasilitas kesehatan yang kurang mendukung, hingga gaji yang rendah, menjadi beberapa faktor pemicu burnout pada perawat maternitas. Burnout yang tidak ditangani dapat berdampak negatif pada kualitas pelayanan, kesehatan mental perawat maternitas dan bidan, serta kesejahteraan pasien.Tujuan: Mengidentifikasi faktor risiko burnout pada perawat maternitas dan bidan.Metode: Penelitian ini merupakan tinjauan cakupan sesuai dengan pedoman Updated Methodological Guidance for The Conduct of Scoping Reviews tahun 2020. Artikel diperoleh dari tiga sumber data elektronik, yaitu PubMed, ScienceDirect, dan Wiley. Kriteria inklusi mencakup artikel berbahasa Inggris yang diterbitkan antara 2020–2024 dan merupakan artikel penelitian orisinal tentang burnout pada perawat maternitas. Artikel yang tidak memenuhi kriteria, yakni berfokus pada perawat atau bidan dalam konteks pendidikan, telah dikeluarkan. Seleksi artikel mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses for Scoping Review (PRISMA-ScR) tahun 2020 serta penilaian kualitas menggunakan Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Checklist tahun 2020 dan Mixed Methods Appraisal Tool (MMAT) tahun 2018.Hasil: Sebanyak 32.803 artikel ditemukan dalam penelusuran. Setelah dilakukan skrining, didapatkan 8 artikel yang memenuhi kriteria untuk dianalisis lebih lanjut. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan bahwa faktor risiko yang teridentifikasi menyebabkan burnout pada perawat maternitas dan bidan di antaranya adalah status sosial demografi, pengalaman dan waktu kerja, pengalaman tidak menyenangkan, tuntutan pekerjaan, dan komitmen.Simpulan: Status sosial demografi, pengalaman dan waktu kerja, pengalaman tidak menyenangkan, tuntutan pekerjaan, dan komitmen, dapat berkontribusi menyebabkan burnout. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan strategi pencegahan burnout dalam rangka meningkatkan kesejahteraan kerja pada perawat maternitas dan bidan. 
Cairan Hidrogen Peroksida (H2O2) sebagai Pencuci Luka pada Tindakan Debridemen Ulkus Diabetik: Studi Kasus Jati, Puspa Silvia; Triyanto, Arifin; Ruswati, Anita
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.107667

Abstract

Background: Debridement is a part of diabetic ulcers management through removing dead tissue to prevent infection. Wound irrigation is common in debridement. Hydrogen peroxide (H2O2) is used as wound irrigation as it is effective in cleaning and minimising contamination.Objective: To identify the use of H2O2 as wound irrigation solution in surgical debridement.Case report: A 34-year-old woman with uncontrolled DM had an ulcer on her sinistra ankle that had not healed within 2 weeks. The wound was 10 cm in diameter with erythema, crusts, and signs of infection. Debridement was performed with wound irrigation using H2O2 mixed with Povidone iodine.Results: H2O2 effectively used as wound irrigation solution due to its benefits in cleansing the wound from dead tissue and preventing infection. In this case, 100 ml H2O2 was mixed with 400 ml Povidone iodine, then it was poured to the wound. Moreover, NaCl was used to rinse the mixture of H2O2 and Povidone iodine. After debridement procedure, the wound improved and there was not any adverse reaction occurred.Conclusion: The use of H2O2 solution as wound irrigation in debridement procedure can improve wound hygiene, prevent infection, and support healing.INTISARILatar belakang: Debridemen merupakan bagian dari manajemen prosedur penanganan ulkus diabetik dengan menghilangkan jaringan mati untuk mencegah infeksi. Prosedur debridemen umumnya diikuti dengan tindakan irigasi atau pencucian luka. Hidrogen peroksida (H2O2) digunakan sebagai irigasi luka karena efektif dalam membersihkan dan meminimalkan kontaminasi.Tujuan: Mengetahui penggunaan H2O2 sebagai pencuci luka pada debridemen bedah.Laporan kasus: Perempuan 34 tahun dengan diabetes melitus tidak terkontrol memiliki ulkus di ankle sinistra yang tidak sembuh dalam 2 minggu. Luka berdiameter 10 cm dengan eritema, krusta, dan tanda infeksi. Dilakukan debridemen dengan irigasi luka menggunakan H2O2 dicampur Povidone Iodine.Hasil: H2O2 dapat digunakan sebagai irigasi luka secara efektif dikarenakan manfaatnya dalam membersihkan luka dari jaringan mati dan mencegah infeksi. Pada kasus ini, H2O2 100 ml dicampur 400 ml Povidone Iodine kemudian diguyurkan pada luka. Selain itu, prosedur ini juga menggunakan NaCl untuk membilas irigasi luka dari campuran H2O2 dan Povidone Iodine. Kondisi luka pasien membaik pascaprosedur dan tidak ada efek samping yang muncul pada pasien.Simpulan: H2O2 sebagai cairan irigasi pada debridemen dapat meningkatkan kebersihan luka, mencegah infeksi, dan mendukung penyembuhan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6