cover
Contact Name
Sri Warsini
Contact Email
sri.warsini@ugm.ac.id
Phone
+62274-545674
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Gedung Ismangoen Jl. Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal)
ISSN : 2614445x     EISSN : 26144948     DOI : https://doi.org/10.22146/jkkk.57386
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) accepts novel research articles, case study, literature review, and psychometric testing articles in all field of clinical and community of nursing. This journal is published through peer-review process by nursing and health expert in academic and health care institution in Indonesia. The scope includes: 1) Surgical medical nursing 2) Emergency nursing 3) Basic nursing 4) Education in nursing 5) Management in nursing 6) Maternity nursing 7) Pediatric nursing 8) Mental health nursing 9) Community nursing
Articles 170 Documents
Panduan Teknik Relaksasi Benson pada Pasien Hemodialisis: Literature Review Ratna Wirawati Rosyida; Sa’bani N. Ardliyah; Umi Pebriyana Parwanti; Sitti Ramdasari Aksan; Ruly Anita Sari; Jony Fransisco Dos Santos Silva; Surya Nova Rosadi; Siti Na’imah; Sri Wahyuni; Tati Hardiyani; Santalia Banne Tondok; Zulfa Mahdiyatur Rasyida; Yayu Nidaul Fithriyyah
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.36134

Abstract

Background: Hemodialysis is the most common method applied to patients with chronic kidney failure. But the method has a huge impact on the patient’s health. The Benson relaxation technique is a cheap and simple therapy to reduce the effects of hemodialysis procedures.  Objective: This research aims to provide guidance on the application of Benson relaxation techniques for chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis. Method: The preparation of the guide starts with defining key questions. A literature search was conducted through five databases: ScienceDirect, PubMed, Scopus, Clinical Key, and the Cochrane Library. Duplicate articles are screened. The snowball method is used by looking at the references in each literature. Inclusion criteria: articles according to key questions, in English, within the last 5 years, and original research. Exclusion criteria: without the principle of muscle relaxation, not speaking English, and not being a study on hemodialysis patients. The study quality used The Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Tools. Data extraction by one author, cross-verification by another. Data were classified to level of evidence I-V according to the Joanna Briggs Institute (JBI). Recommendations are prepared according to the level of evidence. Result: Found 15 articles that are relevant to the research question. Among them 12 articles are Randomized Controlled Trial (RCT) while 3 other articles are quasi-experimental. Based on the level of The Joanna Briggs Institute evidence, 12 articles are categorized as level 1C and 3 articles are level 2C. The results of the literature show that guidelines can be designed including patient selection criteria, optimal duration, implementation time, preparation steps, procedures, benefits, and side effects of the technique. Conclusion: The Benson relaxation technique has benefits for chronic kidney failure patients undergoing hemodialysis and this guide can be used as a reference by health practitioners.ABSTRAKLatar belakang: Hemodialisis merupakan metode paling umum diterapkan pada pasien gagal ginjal kronis. Namun metode tersebut berdampak besar pada kesehatan pasien. Teknik relaksasi Benson merupakan terapi yang murah dan sederhana untuk mengurangi dampak prosedur hemodialisis.  Tujuan: Penelitian ini bertujuan memberikan panduan penerapan teknik relaksasi Benson pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Metode: Penyusunan panduan dimulai dengan menetapkan pertanyaan kunci. Pencarian literatur dilakukan melalui lima database: ScienceDirect, PubMed, Scopus, Clinical Key, dan Cochrane Library. Artikel duplikat diskrining. Metode Snowball digunakan dengan melihat referensi dalam setiap literatur. Kriteria inklusi: artikel sesuai pertanyaan kunci, berbahasa Inggris, dalam 5 tahun terakhir, dan paper penelitian. Kriteria eksklusi: tanpa prinsip relaksasi otot, bukan berbahasa Inggris, dan bukan penelitian pada pasien hemodialisis. Penilaian kualitas studi menggunakan The Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Tools. Ekstraksi data oleh satu penulis, verifikasi silang oleh yang lain. Data diklasifikasikan ke tingkat evidence I-V sesuai The Joanna Briggs Institute (JBI). Rekomendasi disusun sesuai tingkat evidence.  Hasil: Ditemukan 15 artikel yang relevan dengan pertanyaan penelitian. Dua belas artikel merupakan Randomized Controlled Trial (RCT) sementara 3 artikel lainnya kuasi-eksperimental. Berdasarkan tingkatan evidence The Joanna Briggs Institute, 12 artikel diklasifikasikan level bukti 1C dan 3 artikel level 2C. Hasil literatur menunjukkan panduan dapat dirancang mencakup kriteria seleksi pasien, durasi yang optimal, waktu pelaksanaan, langkah persiapan, prosedur, manfaat, dan efek samping teknik tersebut. Kesimpulan: Teknik relaksasi Benson memiliki manfaat bagi pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis dan panduan ini dapat dijadikan referensi oleh praktisi kesehatan. 
Asupan Tinggi Garam Sebagai Perilaku Berisiko Terhadap Penyakit Kardiovaskular: Literature Review Sitti Ramdasari Aksan; Siti Naimah; Santalia Banne Tondok; Eza Kemal Firdaus; Haryani Haryani
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.36436

Abstract

Background: Globally in 2010, 1,7 million annual deaths due to cardiovascular have been associated with excess salt / sodium intake. High salt intake (more than 5 g per day) contributes to increased blood pressure and increases the risk of heart disease and stroke. Objective: The purpose of this review literature is to explore the association of risk behavior factors for sodium intake with the incidence of cardiovascular disease. Method: Electronic search was conducted using the keyword “(heart disease OR cardiovascular disease) (salt OR sodium) on 4 online databases: Science Direct, PubMed, SAGE Journal, and Clinical Key. The inclusion criteria in this study were articles published between 2009 and 2018, English publications, available and accessible to the full text, an original research with quantitative research design. Synthesis analysis of articles included using narrative analysis. Result: This literatur review showed that from the 5 articles included there was a positive relationship between sodium intake and risk of cardiovascular events such as hypertension and coronary heart disease. Conclusion: Sodium intake is considered relate to the risk of cardiovascular disease.ABSTRAKLatar belakang: penyakit kardiovaskular, yang memiliki keterkaitan dengan kelebihan konsumsi garam/natrium, bertanggung jawab atas 1,7 juta kematian global pada tahun 2010. Konsumsi garam berlebih (>5g/hari) diketahui meningkatkan tekanan darah dan risiko penyakit jantung serta stroke. Tujuan: Tujuan literature review ini mengeksplorasi hubungan faktor risiko perilaku asupan sodium dengan kejadian penyakit kardiovaskular. Metode: Penelusuran dilakukan dengan menggunakan kata kunci “(heart disease OR cardiovascular disease) AND (salt OR sodium). Pelusuran dilakukan pada 4 database online yaitu: ScienceDirect, PubMed, SAGE Journal, dan Clinical Key. Kriteria inklusi dalam studi ini adalah artikel yang dipublikasi dalam rentang 2009-2018, publikasi dalam Bahasa Inggris, tersedia dan dapat diakses keseluruhan artikel, merupakan original research dengan desain penelitian kuantitatif. Analisis sintesis artikel yang diinklusikan menggunakan naratif analisis. Hasil: Ditemukan dari 5 artikel yang di-review terdapat hubungan yang positif antara asupan natrium dengan risiko kejadian penyakit kardiovaskuler seperti hipertensi dan penyakit jantung koroner.  Kesimpulan: Intake sodium berhubungan dengan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular. 
Tingkat Pengetahuan Polisi Lalu Lintas tentang Penanganan Luka dan Perdarahan Pada Korban Kecelakaan Lalu Lintas di Kabupaten Sleman Yogyakarta Stevani Elionote; Sutono Sutono
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44234

Abstract

Background: The high prevalence of traffic accidents in Indonesia, especially in Sleman Regency, Yogyakarta, requires the traffic police to have knowledge and expertise in dealing with bleeding and wounds to victims of traffic accidents. The traffic police ought to possess knowledge about the handling of wounds and bleeding, which includes definition, proper handling methods, and possible complications that can occur if the handling of bleeding and wounds is not carried out properly.  Objective:  The objective of this research is to identify traffic police’s knowledge about handling bleeding and wounds suffered by victims involved in traffic accidents in Sleman Regency. Methods: This was non-experimental descriptive analytic study with cross sectional approach, which  conducted in December 2015. It used convenience sampling technique with a total sample of 97 traffic policeman in Resort Police of Sleman and 14 Sector Police in Sleman. The data were collected using questionnaire and were analyze using univariate analysis.  Result: This study revealed that 16 respondents (16,5%) had good knowledge, 65 respondents (67,0%), sufficient knowledge, while 16 respondents (16,5%) had insufficient knowledge about the way to handling traffic accidents bleeding and wounds.  Conclusion: The traffic police in Sleman Regency had a moderate level of knowledge in dealing with wounds and bleeding on victims of traffic accidents.ABSTRAKLatar belakang: Tingginya prevalensi kecelakaan di Indonesia, utamanya di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, mengharuskan polisi untuk memiliki pengetahuan dan keahlian dalam menangani perdarahan dan luka pada korban kecelakaan lalu lintas. Pengetahuan yang perlu dikuasai meliputi pemahaman mengenai pengertian perdarahan dan luka, metode penanganan yang tepat, serta kemungkinan komplikasi apabila penanganan perdarahan dan luka tidak dilakukan dengan tepat. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan polisi lalu lintas dalam menangani  luka dan perdarahan pada korban kecelakaan lalu lintas.  Metode: Penelitian ini merupakan deskriptif analitik non-eksperimental  dengan desain cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2015. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik convenience sampling dan diperoleh sampel sebanyak 97 responden dari 14 Polsek di wilayah Kabupaten Sleman. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner pengetahuan yang dikembangkan oleh peneliti. Hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis univariat.  Hasil: Sebanyak 16 orang responden (16,5%) memiliki pengetahuan yang baik tentang penanganan perdarahan dan luka pada korban kecelakaan lalu lintas. Selain itu, sebanyak 65 orang responden (67,0%), memiliki pengetahuan yang cukup, sedangkan 16 orang responden (16,5%), memiliki pengetahuan yang kurang dalam hal ini. Kesimpulan:  Polisi lalu lintas di Kabupaten Sleman memiliki tingkat pengetahuan yang cukup dalam menangani perdarahan dan luka pada korban kecelakaan lalu lintas. 
Interrater Reliability dari Checklist OSCE Keterampilan Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital di Program Studi Ilmu Keperawatan UGM Fitri Rochmana; Totok Harjanto; Sri Mulyani
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44250

Abstract

Background: Vital signs examination (VSE) is one of the key competencies that every nurse should possess. In reality, many VSE results are inaccurate, leading to less precise treatment decisions for patients. One academic effort to enhance student skills is through Objective Structured Clinical Examinations (OSCE), which are evaluated using a checklist instrument. The reliability of an instrument indicates internal validity and the certainty that the obtained measurement results are representative and stable. To this date, no reliability test has been conducted on the OSCE checklist instrument for VSE used in the Nursing Science Study Program at Universitas Gadjah Mada (PSIK FK-KMK UGM). Object: To measure the reliability of the VSE assessment checklist in PSIK FK-KMK UGM using the interrater reliability method. Method: This study is quantitative descriptive research with a cross-sectional design. The sample consists of 92 items of OSCE scores from first-year students in PSIK FK-KMK UGM, assessed by 2 raters, namely the examiner lecturer and a master’s student in Nursing Science at UGM. The assessment was performed once using the VSE skills checklist. The assessment results were then analyzed using the Kappa coefficient and Percent Agreement (PA) to evaluate interrater reliability. Acceptable values in this study are higher than 0,41 for the Kappa coefficient and higher than 80% for PA. Result:  Overall, the interrater reliability test for the VSE skills checklist showed a Kappa value of 0,427 and a PA of 82,60%. Conclusion: Overall, the PA and Kappa values for the VSE checklist are acceptable, with the Kappa value falling into the moderate category. Improvement is needed for some items to enhance the reliability of the checklist.ABSTRAKLatar belakang: Pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV) merupakan salah satu kompetensi utama yang harus dimiliki oleh setiap perawat. Kenyataannya banyak hasil pemeriksaan TTV yang tidak akurat sehingga hasil keputusan pengobatan pada pasien menjadi kurang tepat. Salah satu upaya akademisi untuk meningkatkan ketrampilan mahasiswa adalah dengan melalui Objective Structured Clinical Examinations (OSCE) yang dievaluasi menggunakan instrument checklist. Reliabilitas dari suatu instrumen menunjukkan validitas internal dan kepastian hasil pengukuran yang diperoleh bersifat representatif dan stabil. Sampai saat ini belum dilakukan uji reabilitas terhadap instrumen checklist OSCE pemeriksaan TTV yang dipakai di Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM (PSIK FK-KMK UGM).  Tujuan: Untuk mengukur nilai reliabilitas dari checklist penilaian pemeriksaan TTV di PSIK FK-KMK UGM dengan menggunakan metode interrater rebility.  Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross-sectional. Sampel terdiri dari 92 item nilai OSCE mahasiswa tahun pertama di PSIK FK-KMK UGM yang diambil oleh 2 penilai, yaitu dosen penguji dan mahasiswa S2 Ilmu Keperawatan UGM. Penilaian dilakukan sebanyak satu kali dengan menggunakan checklist keterampilan TTV. Hasil penilaian selanjutnya dianalisis menggunakan koefisien Kappa dan Percent Agreement (PA) untuk menilai interrater reability. Nilai yang dapat diterima dalam penelitian ini adalah lebih tinggi dari 0,41 untuk koefisien Kappa dan lebih tinggi dari 80% untuk PA. Hasil: Secara keaseluruhan, uji interrater rebility checklist keterampilan pemeriksaan TTV menunjukkan nilai Kappa sebesar 0,427 dan PA 62,60%.  Kesimpulan: Secara keseluruhan PA dan nilai Kappa ceklist pemeriksaan tanda –tanda vital dapat diterima, dengan nilai Kappa berada dalam kategori moderat. Perlu dilakukan perbaikan pada beberapa item untuk meningkatkan reliabilitas checklist tersebut. 
Gambaran Tingkat Pengetahuan Orang Tua tentang Pendidikan Seks pada Anak Usia 3-5 Tahun di Kota Yogyakarta Linda Rizki Rahmasari; Anik Rustiyaningsih; Itsna Luthfi Kholisa
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44265

Abstract

Background: Sex education is one of the interventions that can be done to prevent sexual abuse in children. One of the responsibilities of parents is to deliver sex education to their children, where knowledge is an important factor that influence parental behavior in providing those education. Therefore, identifying parent’s knowledge about sex education in children is necessary.  Objective: To identify the parents’ knowledge about definition and purposes, ways and methods, and also contents of sex education for aged 3-5 years children in Yogyakarta. Method: This was a descriptive quantitative study with cross-sectional approach that held from March until May 2017 in 7 sub-districts which consist of 14 villages in Yogyakarta. This study used a multistage sampling method involved 167 respondents. Questionnaire which contains of 27 questions was used to measure parents’ knowledge about sex education. Data analysis was carried out using univariate analysis and presented in frequency distribution forms.  Result: The parents have a high level of knowledge about sex education in children (52,1%; median ≥ 24) with high scores on each of the subtopics, both definitions and purposes, ways and methods, and also contents of sex education for aged 3-5 years Conclusion: Most of parents’ have a high level of knowledge about sex health education for children aged 3-5 years in Yogyakarta. ABSTRAKLatar Belakang: Pendidikan seks adalah satu dari sekian banyak intervensi yang dapat diterapkan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya tindakan pelecehan seksual pada anak. Memberikan pendidikan seks kepada anak merupakan salah satu tugas orang tua, dimana pengetahuan merupakan satu dari sekian banyak faktor yang memiliki peran penting dalam mempengaruhi perilaku orang tua dalam memberikan pendidikan seks. Oleh sebab itu kita perlu mengidentifikasi pengetahuan orang tua mengenai pendidikan seks pada anak sangatlah diperlukan. Tujuan: Mengetahui gambaran pengetahuan orang tua tentang pengertian dan tujuan, cara dan metode, serta isi pendidikan seks untuk anak usia 3-5 tahun di Yogyakarta. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional yang dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2017. Penelitian dilakukan di 7 kecamatan yang terdiri dari 14 desa di Yogyakarta. Responden dalam penelitian ini berjumlah 167 orang dimana pengambilan sampel dilakukan dengan multistage sampling. Kuesioner untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan orang tua mengenai pendidikan seks terdiri dari 27 item pertanyaan. Selanjutnya hasil analisis univariat disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi. Hasil: Sebagian besar orang tua memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi tentang pendidikan seks pada anak (52,1%, median ≥ 24) dengan nilai yang tinggi di setiap sub topik yakni pengertian dan tujuan, isi, cara, serta metode pemberian pendidikan seks.  Kesimpulan: Mayoritas orang tua memiliki pengetahuan yang tinggi mengenai pendidikan seks pada anak usia 3-5 tahun.  
Gambaran Tingkat Aktivitas Fisik Kelompok Risiko Tinggi Sindroma Metabolik di Wilayah Kerja Puskesmas Turi Kabupaten Sleman Zenita Avisena; Melyza Perdana
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44266

Abstract

Background: The higher prevalence of metabolic syndrome in adults is linked to the risk factors associated with changes in lifestyle within a society. Each year, the level of physical inactivity within the community is increasing. Decreased levels of physical activity are strongly linked to the development of abdominal obesity, which is the main factor contributing to the incident of metabolic syndrome. The Turi region, which is classified as rural, has witnessed a steady rise in the cases of hypertension and type 2 diabetes. So it can be assumed that the risk of metabolic syndrome is likely to be high in this area. Objective: The objective of this research is to find out the level of physical activity among people at a high risk for metabolic syndrome in the working area of Puskesmas Turi in Sleman Regency. Method: This research was a descriptive quantitative research with the cross-sectional design. The subjects included in the study were those who were at a high risk of metabolic syndrome, in the working area of Puskesmas Turi in Sleman Regency. The respondents who participated were 87 in total that were chosen using consecutive sampling. The data retrieval process was using an IPAQ questionnaire to assess the level of physical activity. The data were analized using univariate analysis. Result: The level of physical activity of the risk group for metabolic syndrome in the working area of the Puskesmas Turi, Sleman Regency, was classified into the category of moderate physical activity level (f=38, 43,7%), low physical activity level 28 people (32,2%), and 21 people (24,1%) in the high activity level category. Conclusion: The majority of people at a high-risk of metabolic syndrome in Puskesmas Turi of Sleman Regency is in moderate physical activity.ABSTRAKLatar belakang: Prevalensi sindrom metabolik yang tinggi pada orang dewasa berkaitan dengan faktor risiko yang terkait dengan perubahan gaya hidup dalam masyarakat. Setiap tahun, tingkat inaktivitas fisik di masyarakat semakin meningkat. Penurunan tingkat aktivitas fisik sangat terkait dengan terjadinya obesitas perut, yang merupakan faktor utama penyebab terjadinya sindrom metabolik. Kecamatan Turi, yang diklasifikasikan sebagai pedesaan, mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dalam kasus hipertensi dan diabetes tipe 2, sehingga dapat diasumsikan bahwa risiko sindrom metabolik cenderung tinggi di daerah ini. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat aktivitas fisik pada kelompok berisiko tinggi sindrom metabolik di wilayah kerja Puskesmas Turi Kabupaten Sleman.  Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain cross sectional. Subjek dalam penelitian ini adalah mereka yang berisiko tinggi mengalami sindrom metabolik, di wilayah kerja Puskesmas Turi Kabupaten Sleman. Responden yang berpartisipasi berjumlah 87 orang  dipilih secara consecutive sampling. Proses pengambilan data menggunakan kuesioner IPAQ untuk menilai tingkat aktivitas fisik. Data dianalisis dengan menggunakan analisis univariat. Hasil: Tingkat aktivitas fisik yang dilakukan oleh kelompok risiko sindrom metabolik di wilayah kerja Puskesmas Turi Kabupaten Sleman tergolong dalam kategori tingkat aktivitas fisik sedang (n = 38, 43,7%), tingkat aktivitas fisik rendah 28 orang (32,2%), dan 21 orang (24,1%) pada kategori tingkat aktivitas tinggi.  Kesimpulan: Mayoritas penduduk yang berisiko tinggi mengalami sindroma metabolik di Puskesmas Turi Kabupaten Sleman berada pada tingkat aktivitas fisik sedang.
Dukungan Sosial Keluarga dan Kualitas Hidup pada Pasien Pasca Stroke di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Nanda Kusumaningrum; Melyza Perdana
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44336

Abstract

Background: Stroke stood at the third major cause of death globally, trailing only heart disease and cancer. Within Asia, Indonesia bears the highest burden of stroke patients (12,1%), with the Special Region of Yogyakarta being the second-highest province affected (10,3%). This condition brings forth disabilities and cognitive decline, leading to decrease of the patients’ quality of life. Consequently, stroke survivors often become dependent on family support. Despite these implications, family social support and its impact on the quality of life in post-stroke patients in the Special Region of Yogyakarta have not been extensively studied, necessitating this research to be conducted. Objective: To investigate the relationship between family social support and quality of life in post-stroke patients at RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Methods: The study was analytic correlation conducted using a cross-sectional method at RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta from April to May 2016. The research included 70 respondents and utilized the Family Social Supports Questionnaire and the Stroke Specific Quality of Life (SSQOL). Bivariate data analysis was employed using chi-square. Results: Analysis of the data revealed that 90% of respondents reported good family support, while 8,6% perceived it as bad, and 1,4% deemed it very good. Meanwhile for the quality of life 82,9% rated it as good, with the remaining 17,1% expressing bad. The chi-square analysis yielded a p-value of 0,381 (p > 0,05). Conclusion: There is no significant association between family social support and post-stroke patients’ quality of life at RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.ABSTRAKLatar belakang: Stroke menempati peringkat ketiga penyebab kematian tertinggi dunia setelah penyakit jantung dan kanker. Di kawasan Asia, Indonesia merupakan peringkat tertinggi pasien stroke (12,1%), dengan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai provinsi tertinggi kedua (10,3%). Kondisi ini menyebabkan kecacatan dan penurunan kognitif, yang mengakibatkan penurunan kualitas hidup pasien. Akibatnya, para pasien stroke seringkali menjadi bergantung pada dukungan keluarga. Meskipun demikian, dampak dukungan sosial keluarga pada kualitas hidup pasien pasca stroke di Daerah Istimewa Yogyakarta belum banyak diteliti, sehingga studi ini penting untuk dilakukan. Tujuan: Untuk mengeksplorasi hubungan antara tingkat dukungan sosial keluarga dengan kualitas hidup pada pasien pasca stroke yang dirawat di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Metode: Penelitian ini adalah penelitian analisis korelasi yang dilakukan menggunakan metode cross sectional pada April hingga Mei 2016. Penelitian ini melibatkan 70 responden dan menggunakan dua instrumen, yaitu kuesioner dukungan sosial keluarga dan Stroke Specific Quality of Life (SSQOL). Analisis data menggunakan uji Chi-square. Hasil: Hasil uji statistik mendapatkan hasil bahwa 90% responden melaporkan mendapatkan dukungan sosial keluarga yang baik, sementara 8,6% menganggapnya buruk, dan 1,4% menyatakan sangat baik. Untuk variabel kualitas hidup, sebanyak 82,9% responden menilainya sebagai baik, dengan sisanya sebesar 17,1% menyatakan penilaian buruk. Hasil analisis Chi-square menghasilkan nilai p sebesar 0,381 (p > 0,05). Kesimpulan: Tidak ada korelasi yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dan kualitas hidup pasien pasca stroke di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. 
Pengaruh Media Edukasi via Whatsapp Group terhadap Pengetahuan Ibu tentang Tanda dan Gejala Preeklampsia Rizki Handayani Fasimi; Elsi Dwi Hapsari; Widyawati Widyawati
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.49270

Abstract

Background: The biggest problem of morbidity and mortality in fetal  is caused by preeclampsia. The cause of preeclampsia in pregnant women is still unknown. Proper educational media in health education are needed to provide information about the problem, for instance, using a smartphone that is common. Using WhatsApp for educational media-related signs and symptoms of preeclampsia has not been discovered before. Objective: to determine the effect of WhatsApp educational media on mother’s knowledge about signs and symptoms of preeclampsia.  Method: This study is  pre experimental research with one group pretest-posttest design. The sample in this study were pregnant women with the age of pregnancy in the second trimester (13 weeks to before term 37 weeks) in Bataraguru Public Health Center. The total sample in this study was 33 pregnant women obtained with purposive sampling techniques and with determined inclusion and exclusion criteria. The intervention was an education through WhatsApp that was conducted for 14 days. Data analysis used Wilcoxon statistical tests. Outcome: The median value of respondents before given educational intervention 11 (7-15) as well as median after given education intervention 19 (15-20).  The p value  from Wilcoxon test was = 0,001 so there is an influence of educational media through WhatsApp groups (p < 0,005). Conclusion: There was a significant increase in knowledge related to preeclampsia signs and phrases through whatsapp group media education.      .      Keywords: education, mothers knowledge, preeclampsia, WhatsAppABSTRAKLatar belakang: Penyebab tertinggi kejadian morbidibitas dan mortalitas pada maternal fetal disebabkan oleh preeklampsia. Sampai saat ini penyebab terjadinya preeklampsia pada ibu hamil masih belum diketahui. Media edukasi yang tepat dalam pemberian pendidikan kesehatan diperlukan untuk memberikan informasi mengenai permasalahan tersebut, salah satunya dengan menggunakan smartphone yang sudah tidak asing lagi. WhatsApp merupakan media sosial yang dapat dimanfaatkan untuk media edukasi terkait tanda dan gejala preeklampsia. Namun penelitian tentang keefektifannya masih belum pernah ditemukan sebelumnya. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh media edukasi WhatsApp terhadap pengetahuan ibu terkait tanda serta gejala preeklampsia.  Metode: Penelitian ini merupakan pre-experimental dengan one group pretest-posttest design. Sampel penelitian ini merupakan ibu hamil dengan usia kehamilan trimester kedua yaitu pada rentang waktu 13 minggu sampai sebelum aterm 37 minggu di Puskesmas Bataraguru. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 33 ibu hamil yang didapatkan dengan teknik purposive sampling dan dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Intervensi yang diberikan adalah edukasi melalui WhatsApp yang dilakukan selama 14 hari. Uji analisis data menggunakan uji statistik Wilcoxon. Hasil: Nilai median responden sebelum diberikan intervensi edukasi 11 (7-15) serta nilai median setelah diberikan intervensi edukasi 19 (15-20).  Nilai p dari uji Wilcoxon didapatkan sebesar 0,001 sehingga terdapat pengaruh media edukasi melalui WhatsApp group (p < 0,05). Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan terkait tanda dan gelaja preeklamsia yang signifikan melalui edukasi media WhatsApp group.      
Kepuasan Belajar Mahasiswa Keperawatan Terhadap Implementasi Flipped Classroom Larissa Oktavia Syafri; Totok Harjanto; Ariani Arista Putri Pertiwi
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.87440

Abstract

Background: Nursing students are experiencing difficulties in understanding the material during clinical skills learning due to differences in content delivery among instructors. One possible solution is to implement the flipped classroom method, which can provide a more interactive learning approach. It is hoped that the implementation of this method will increase the level of student satisfaction in learning nursing skills. Objective: To assess the satisfaction of nursing students regarding the implementation of flipped classroom in clinical skills learning in nursing. Method: This study was quantitative descriptive research using a cross-sectional research design. 102 respondents of nursing students at Gadjah Mada University (UGM) of the first semester at the 2019/2020 academic year were selected using total sampling. The instrument used was the Collaborative Learning, Social Presence, and Satisfaction (CLSS) questionnaire. The data were analyzed using univariate analysis to describe the characteristics of the respondents and the variables under investigation. Outcome: The satisfaction level of respondents regarding the implementation of the flipped classroom method was categorized as high, moderate, and low, with percentages of 42,2%, 56,9%, and 0,9%, respectively. Conclusion: The level of satisfaction among nursing students at UGM regarding the implementation of the flipped classroom method was at the moderate range.ABSTRAKLatar belakang: Mahasiswa keperawatan mengalami kesulitan dalam memahami materi saat pembelajaran keterampilan klinis karena perbedaan penyampaian materi antar instruktur. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan metode flipped classroom, yang dapat memberikan pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif. Diharapkan tingkat kepuasan pembelajaran mahasiswa keperawatan dapat meningkat dengan adanya metode ini. Tujuan:  Untuk mengetahui gambaran kepuasan belajar mahasiswa keperawatan terhadap implementasi flipped classroom dalam pembelajaran keterampilan klinik keparawatan. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Teknik pengambilan responden menggunakan total sampling dengan sampel sebanyak 102 mahasiswa keperawatan di Universitas Gadjah Mada (UGM) semester satu tahun ajaran 2019/2020. Instrumen yang digunakan adalah the collaborative learning, social presence, and satisfaction (CLSS) questionnaire. Analisis data yang dilakukan menggunakan analisis univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan variabel yang diteliti. Hasil: Tingkat kepuasan responden  terhadap implementasi flipped classroom berada pada kategori tinggi, sedang, dan rendah dengan persentase sebesar 42,2%, 56,9%, dan 0,9%. Kesimpulan: Tingkat kepuasan mahasiswa keperawatan di UGM terhadap implementasi flipped classroom berada dalam rentang sedang. 
Self-Efficacy Family Caregiver dalam Merawat Pasien Demensia: Studi Deskriptif di RSUP Dr. Sardjito, Indonesia Anggraini Lizdiana Wulandari; Heny Suseani Pangastuti; Christantie Effendy
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.89029

Abstract

Background: Dementia symptoms gradually hinder patients’ ability to perform daily activities, necessitating support from various parties particularly family caregivers. Self-efficacy is believed to have a positive influence on family caregivers, contributing to improved mental health, adaptive coping, and reduced psychological distress when dealing with the challenges associated with dementia patient care. Despite these potential benefits, research on family caregiver self-efficacy in caring for dementia patients in Indonesia remains limited, making this study necessary. Objective: To explore the self-efficacy of family caregivers in treating dementia patients. Methods: The study is quantitative descriptive approach employed a cross-sectional design involving 53 family caregivers of dementia patients from the Memory Clinic of RSUP Dr. Sardjito, Indonesia, selected through purposive sampling. The research instrument used was the Caregiver Self-efficacy Scale (CaSES). Univariate analysis was employed using mean and standard deviation scores for numeric ratio data. Results: The study identified four domains assessing family caregivers’ self-efficacy, with an average value of 3,09 ± 0,84. The domains included self-maintenance 3,18 ± 0,81, emotional connectivity 3,05 ± 0,87, instrumental caregiving 3,15 ± 0,82, and resilience 2,99 ±0,85. Conclusion: The results indicated that family caregivers exhibit relatively high levels of self-efficacy in treating dementia patients. Notably, family caregivers demonstrated the highest self-efficacy in the self-maintenance domain and the lowest in the resilience domain.ABSTRAKLatar belakang: Gejala demensia secara bertahap menghambat kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari sehingga memerlukan dukungan dari berbagai pihak terutama pengasuh keluarga. Self-efficacy diyakini memiliki pengaruh positif bagi family caregiver dalam hal peningkatan kesehatan mental, penyesuaian diri yang adaptif, dan pengurangan tekanan psikologis saat menghadapi tantangan yang terkait dengan perawatan pasien demensia. Meskipun memiliki potensi manfaat tersebut, penelitian mengenai self-efficacy family caregiver dalam merawat pasien demensia di Indonesia masih terbatas, sehingga penelitian ini menjadi penting. Tujuan: Untuk mengeksplorasi self-efficacy family caregiver dalam merawat pasien demensia. Metode: Penelitian ini deskriptif kuantitatif menggunakan desain cross sectional dengan melibatkan 53 pengasuh keluarga pasien demensia dari Klinik Memori RSUP Dr. Sardjito, Indonesia, yang dipilih melalui purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Caregiver Self-efficacy Scale (CaSES). Analisis univariat digunakan dengan menggunakan nilai mean dan standar deviasi untuk data rasio numerik. Hasil: Penelitian ini mengidentifikasi empat domain self-efficacy dengan nilai rata-rata sebesar 3,09 ± 0,84. Domain-domain tersebut meliputi self-maintenance 3,18 ± 0,81, emotional connectivity 3,05 (SD ± 0,87, instrumental caregiving 3,15 ± 0,82, dan resilience 2,99 ± 0,85. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa para family caregiver memiliki tingkat self-efficacy yang relatif tinggi dalam merawat pasien demensia. Secara khusus, para pengasuh keluarga menunjukkan self-efficacy tertinggi dalam domain self-maintenance dengan terendah domain resilience.