cover
Contact Name
Sri Warsini
Contact Email
sri.warsini@ugm.ac.id
Phone
+62274-545674
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Gedung Ismangoen Jl. Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal)
ISSN : 2614445x     EISSN : 26144948     DOI : https://doi.org/10.22146/jkkk.57386
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) accepts novel research articles, case study, literature review, and psychometric testing articles in all field of clinical and community of nursing. This journal is published through peer-review process by nursing and health expert in academic and health care institution in Indonesia. The scope includes: 1) Surgical medical nursing 2) Emergency nursing 3) Basic nursing 4) Education in nursing 5) Management in nursing 6) Maternity nursing 7) Pediatric nursing 8) Mental health nursing 9) Community nursing
Articles 170 Documents
Intervensi Motivational Interviewing terhadap Kepatuhan Manajemen Hemodialisis pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik dengan Kehamilan: Studi Kasus Ulayya, Aisyah Iffah; Fithriyyah, Yayu Nidaul; Wahyuni, Tatik Dwi
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.108299

Abstract

Background: Pregnancy in women with Chronic Kidney Disease (CKD) undergoing hemodialysis is a rare and high-risk condition, particularly when there is nonadherence to hemodialysis regimens. Unlike other chronic diseases, evidence on the effectiveness of Motivational Interviewing (MI) in improving adherence among pregnant CKD patients remains very limited. Objective: To evaluate the impact of MI on adherence to hemodialysis management in a pregnant with patient CKD. Case report: There was a 23-year-old woman on hemodialysis for four years at 24 weeks' gestation. The patient was non-adherent to dialysis, medication, and antenatal care (ANC). MI was delivered in five sessions (lasting 30-45 minutes) for four weeks, using a logbook as reading materials. Results: MI improved patient awareness and communication with healthcare providers. However, it was not fully effective in ensuring adherence with hemodialysis management, medication consumption, ANC visits, and long-term contraceptive choices in this pregnant patient with CKD. Key barriers included financial issues, childcare responsibilities, and unplanned pregnancy. Conclusion: MI is recommended in nursing practice to build patient trust and understanding. Formal training and family involvement are needed to enhance MI effectiveness.INTISARILatar belakang: Kehamilan pada wanita dengan Penyakit Ginjal Kronik (PGK) yang menjalani hemodialisis merupakan kondisi langka dengan risiko tinggi, terutama bila terdapat ketidakpatuhan terhadap regimen hemodialisis. Berbeda dengan penyakit kronik lain, bukti mengenai efektivitas motivational interviewing (MI) untuk meningkatkan kepatuhan pada pasien PGK dengan kehamilan, masih sangat terbatas. Tujuan: Mengevaluasi dampak MI terhadap kepatuhan manajemen hemodialisis pada pasien PGK dengan kehamilan. Laporan kasus: Perempuan 23 tahun, menjalani hemodialisis selama 4 tahun, usia kehamilan 24 minggu. Pasien tidak patuh dalam hemodialisis, konsumsi obat, dan kunjungan antenatal care (ANC). Intervensi MI dilakukan sebanyak 5 sesi (30-45 menit) selama 4 minggu menggunakan logbook sebagai materi. Hasil: Intervensi MI meningkatkan kesadaran dan komunikasi pasien dengan tenaga kesehatan, namun belum sepenuhnya efektif dalam meningkatkan kepatuhan manajemen hemodialisis, konsumsi obat, kunjungan ANC, dan pemilihan kontrasepsi jangka panjang pada pasien PGK dengan kehamilan. Hambatan utama meliputi faktor ekonomi, tanggung jawab mengasuh anak, dan kehamilan yang tidak direncanakan. Simpulan: Intervensi MI direkomendasikan untuk praktik keperawatan karena dapat membangun kepercayaan dan pemahaman pasien. Pelatihan formal dan keterlibatan keluarga diperlukan untuk meningkatkan efektivitas MI.
Pengaruh Aromaterapi Jahe dan Akupresur pada Titik Perikardium 6 terhadap Skor Mual Muntah pada Ibu Hamil Trimester I dengan Emesis Gravidarum Faturanti, Risa Ayu; Kartilah, Tetet; Februanti, Sofia; Nurhayati, Tetik
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.108742

Abstract

Background: Pregnant women often experience nausea, vomiting, and abdominal pain (emesis gravidarum) in the first trimester, which can affect their activity and health. Aromatherapy and acupressure are two safe methods that have few side effects. Research on the use of ginger aromatherapy and P6 acupressure to reduce nausea and vomiting in pregnant women at the Cibeureum Health Center has never been conducted. Objective: To examine the effectiveness of Ginger aromatherapy and P6 acupressure combination in reducing emesis gravidarum among pregnant women who experience emesis gravidarum in their first trimester. Methods: The type of research was a quasi experiment with a nonequivalent (pretest and posttest) with control group design. A total of 26 participants were selected using simple random sampling technique from a total of 32 first-trimester pregnant women for this research. The intervention group and the control group were both given Ginger aromatherapy. The intervention group then received additional acupressure at the P6 point. To measure symptoms, the PUQE-24 questionnaire was used. Before the statistical test was carried out, the data collected was tested for normality and homogeneity of data. Then, data were analyzed using independent t-tests, Wilcoxon, and Mann Whitney. Results: There was a statistically significant decrease in emesis gravidarum symptoms score from 9,54 to 5,08 occurred in the intervention group, while in the control group it also decreased from 10,62 to 9,00. In both groups, there was a significant decrease in nausea and vomiting scores (p=0,001 and p=0,003) The median values of the difference in nausea and vomiting scores in the intervention group were 4 (3-8) and in the control group 2 (1-4). From the result of the Mann Whitney test, the value of p = 0,000 was obtained. Conclusion: The combination therapy of Ginger aromatherapy and P6 point acupressure may reduce the symptoms of emesis gravidarum in pregnant women in the first trimester.INTISARILatar belakang: Wanita hamil sering mengalami mual, muntah, dan nyeri perut (emesis gravidarum) pada trimester pertama, yang dapat memengaruhi aktivitas dan kesehatan mereka. Aromaterapi dan akupresur adalah dua metode aman yang memiliki sedikit efek samping. Penelitian tentang penggunaan aromaterapi Jahe dan akupresur P6 untuk mengurangi mual dan muntah pada ibu hamil di Puskesmas Cibeureum belum pernah dilakukan. Tujuan: Mengkaji efektivitas kombinasi aromaterapi Jahe dan akupresur P6 dalam mengurangi mual muntah wanita hamil yang mengalami emesis gravidarum pada trimester pertama. Metode: Jenis penelitian adalah quasi experiment with a nonequivalent (pretest and posttest) dengan control group design. Sebanyak 26 partisipan dipilih menggunakan teknik simple random sampling dari total 32 wanita hamil trimester pertama untuk penelitian ini. Kelompok intervensi dan kelompok kontrol sama-sama diberikan aromaterapi Jahe, kelompok intervensi selanjutnya menerima tambahan akupresur pada titik P6. Untuk mengukur gejala, digunakan kuesioner PUQE-24. Sebelum dilakukan uji statistik, data yang terkumpul dilakukan uji normalitas dan homogenitas data. Data dianalisis menggunakan uji t independen, Wilcoxon, dan Mann Whitney. Hasil: Terdapat penurunan skor gejala emesis gravidarum yang signifikan secara statistik dari 9,54 menjadi 5,08 pada kelompok intervensi. Sementara itu, pada kelompok kontrol juga turun dari 10,62 menjadi 9,00. Pada kedua kelompok terjadi penurunan yang signifikan terhadap skor mual dan muntah (p=0,001 dan p=0,003). Nilai median selisih skor mual muntah pada kelompok intervensi sebesar 4 (3-8) dan pada kelompok kontrol 2 (1-4). Dari hasil uji Mann Whitney didapatkan nilai p = 0,000. Simpulan: Gabungan terapi aromaterapi Jahe dan akupresur titik P6 dapat menurunkan gejala emesis gravidarum pada ibu hamil di trimester I.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Anticipatory Grief pada Family Caregiver Pasien yang Didiagnosis Kanker: Narrative Literature Review Madani, I Gusti Ayu Winda; Suarya, Luh Made Karisma Sukmayanti
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.109095

Abstract

Background: Family caregiver of patients with cancer often experience anticipatory grief (AG) when providing care. Although previous studies have explored AG in cancer contexts, most findings remain fragmented and focus only on isolated variable. Comprehensive reviews specifically examining the multifactorial determinants of AG among family caregivers of patient with cancer are limited. Objective: To synthesize recent empirical findings on the factors that influenced AG among family caregiver of cancer patients. Method: This study employed a literature review method following the PRISMA 2020 framework. Articles were searched from databases including Google Scholar, PubMed, and Sage Journals. The search terms were ("anticipatory grief" OR "pre-loss grief") AND ("caregiver" OR "family caregiver") AND ("cancer" OR "oncology"). From in total 21.066 articles, a screening was applied based on publication year (2021–2025), article type (empirical, quantitative research articles published in peer-reviewed journals included, while non-empirical papers excluded), full-text access, and topic relevance. Critical appraisal was conducted using JBI critical appraisal tool. Outcome: The review identified six factors which were then grouped into three categories. First category was risk factors, which consisted of caregiver burden, illness uncertainty, and post-traumatic stress symptoms. The second category was mediating factors, which included cognition and coping, and attachment. The third category was protective factors, which contained family functioning and resilience. Conclusion: This review identify that AG among family caregivers of patients with cancer influenced by three factors, i.e. risk factors, mediating factors, and protective factors.INTISARILatar belakang: Pengasuh keluarga dari pasien kanker sering mengalami anticipatory grief (AG) dalam melakukan perawatan. Meskipun beberapa penelitian sebelumnya telah membahas AG dalam konteks kanker, sebagian besar temuan masih terfragmentasi dan berfokus pada variabel tunggal. Tinjauan komprehensif yang secara khusus menelaah determinan multifaktorial AG pada pengasuh keluarga pasien kanker masih terbatas. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk melakukan sintesis temuan empiris terkini mengenai faktor-faktor yang memengaruhi AG pada pengasuh keluarga pasien kanker. Metode: Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur naratif berdasarkan pedoman PRISMA 2020. Pencarian artikel dilakukan melalui basis data Google Scholar, PubMed, dan Sage Journals. Kata kunci pencarian yang digunakan adalah ("anticipatory grief" OR "pre-loss grief") AND ("caregiver" OR "family caregiver") AND ("cancer" OR "oncology"). Dari total 21.066 artikel, dilakukan penyaringan berdasarkan tahun publikasi (2021–2025), tipe artikel (penelitian empiris kuantitatif yang diterbitkan di jurnal peer-reviewed, sedangkan artikel non-empiris dikecualikan), akses penuh, serta relevansi topik. Telaah kritis dilakukan menggunakan JBI critical appraisal tool. Hasil: Kajian ini mengidentifikasi enam faktor yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu faktor risiko: beban pengasuh, ketidakpastian penyakit, dan gejala stres pascatrauma; faktor perantara: penilaian kognitif dan koping, kelekatan; faktor protektif: keberfungsian keluarga dan resiliensi. Simpulan: Kajian ini mengidentifikasi bahwa AG pada pengasuh keluarga pasien kanker dipengaruhi oleh faktor risiko, faktor perantara, dan faktor protektif.
Expressive Writing Therapy (EWT) dan Pendampingan Perawat untuk Mengurangi Kesepian pada Pasien Hemodialisis Usia Dewasa Muda: Studi Kasus Wahyudi, Vijna Putri Sukma; Ispriyatiningsih, Ispriyatiningsih; Perdana, Melyza; Effendy, Christantie
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.113032

Abstract

Background: Loneliness is a common psychosocial issue among young adult hemodialysis patients, hence it may affect emotional well-being and treatment adherence. Evidence on simple nurse-facilitated interventions, such as Expressive Writing Therapy (EWT) combined with supportive accompaniment, remains limited in this population. Objective: To describe the changes in loneliness level following the implementation of Expressive Writing Therapy (EWT) combined with nurse-led accompaniment. Case report: A 21-year-old female who had undergone hemodialysis for six years participated in a six-day expressive writing program and seven accompaniment sessions. The initial UCLA-Loneliness Scale Version 3 score was 42, indicating the middle threshold of mild loneliness. Outcome: After the intervention, the score decreased to 33 (non-lonely category). The UCLA instrument was analyzed across three dimensions: intimate loneliness, relational loneliness, and collective loneliness. The greatest improvement was observed in the intimate dimension, followed by partial improvement in the relational dimension, while the collective dimension remained stable. Subjectively, patient reported emotional relief, greater social connectedness, and renewed motivation. Conclusion: The combination of EWT and nurse accompaniment may help reduce loneliness and improve emotional experiences related to loneliness in young adult hemodialysis patients. This approach may be considered a holistic nursing strategy for chronic conditions.INTISARILatar belakang: Kesepian merupakan masalah psikososial yang sering dialami pasien hemodialisis dewasa muda dan dapat memengaruhi kesejahteraan emosional serta kepatuhan terhadap terapi. Namun, bukti penelitian mengenai pemberian intervensi sederhana yang dapat difasilitasi perawat, seperti Expressive Writing Therapy (EWT) yang dikombinasikan dengan pendampingan, pada kelompok ini masih terbatas. Tujuan: Studi kasus ini bertujuan mendeskripsikan perubahan tingkat kesepian dan pengalaman subjektif pasien setelah penerapan Expressive Writing Therapy (EWT) dan pendampingan perawat. Laporan kasus: Seorang pasien perempuan berusia 21 tahun yang telah menjalani hemodialisis selama enam tahun mendapatkan intervensi berupa program penulisan jurnal ekspresif selama enam hari dan tujuh sesi pendampingan. Skor awal UCLA-Loneliness Scale Version 3 pada pasien tercatat 42 yang menandakan di posisi pertengahan kategori kesepian tingkat ringan. Hasil: Setelah intervensi, skor turun menjadi 33 yang termasuk kategori tidak kesepian. Kesepian yang diukur instrumen UCLA memiliki tiga dimensi, yaitu kesepian intim, kesepian relasional, dan kesepian kolektif. Perbaikan terbesar terlihat pada dimensi kesepian intim, diikuti oleh peningkatan parsial pada dimensi kesepian relasional, sementara dimensi kesepian kolektif menunjukkan skor stabil. Secara subjektif, pasien melaporkan pelepasan emosional, peningkatan keterhubungan sosial, dan munculnya motivasi baru. Simpulan: Dalam kasus ini, kombinasi EWT dan pendampingan perawat berpotensi membantu menurunkan kesepian dan memperbaiki pengalaman emosional terkait kesepian pada pasien hemodialisis dewasa muda. Pendekatan ini dapat dipertimbangkan sebagai strategi keperawatan holistik pada kondisi penyakit kronis.
Characteristics and Readmission Rates of Tracheostomy Patients Receiving Tailored Discharged Planning: A Retrospective Study Hanum, Ardani Latifah; Margianti, Tri; Alfajri, Novi Zain; Lestari, Ade Febrina
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.100697

Abstract

Background: Tracheostomy patients often face difficulties after hospital discharge and are at increased risk of readmission. Although discharge planning has proven benefits, studies focusing on tracheostomy patients, particularly those involving case managers, remain limited.Objective: To investigate the characteristics of tracheostomy patients, their readmission rates after individualized discharge planning led by case managers, and 30-day readmission outcomes.Method: A descriptive retrospective study was conducted using electronic health records from 2021 to 2023. Samples were selected through consecutive sampling, including patients who underwent tracheostomy, had been discharged, and received case management services. Data on sociodemographic characteristics, clinical conditions, and 30-day readmission rates were collected and analyzed descriptively using frequency distributions, percentages, medians, and ranges with SPSS 26.Results: Among 50 patients, most were aged 41–65 years (54%) and male (72%). The main indication for tracheostomy was prolonged mechanical ventilation (72%), with a median length of stay of 40,5 days. About 54% were discharged with a tracheostomy tube and other invasive devices, including nasogastric tubes (62%) and urinary catheters (28%). A total of 94% of patients had no readmission within 30 days post-discharge.Conclusion: Tracheostomy patients have complex conditions requiring continued home care; however, readmission rates are low. Case management and individualized discharge planning may help prevent readmissions in high-risk patients.INTISARILatar belakang: Pasien trakeostomi sering menghadapi kesulitan setelah pulang dari rumah sakit dan memiliki risiko tinggi untuk mengalami readmisi. Meskipun manfaat perencanaan pulang telah terbukti, studi yang berfokus pada pasien trakeostomi, khususnya yang melibatkan manajer kasus, masih terbatas.Tujuan: Menyelidiki karakteristik pasien trakeostomi, tingkat readmisi setelah mendapatkan perencanaan pulang individual yang dipimpin oleh manajer kasus, serta luaran readmisi dalam 30 hari.Metode: Penelitian deskriptif retrospektif dilakukan menggunakan data rekam medis elektronik dari tahun 2021 hingga 2023. Sampel dipilih melalui consecutive sampling, meliputi pasien yang menjalani trakeostomi, telah dipulangkan, dan menerima layanan manajemen kasus. Data mengenai karakteristik sosiodemografi, kondisi klinis, serta tingkat readmisi 30 hari dikumpulkan dan dianalisis secara deskriptif dalam bentuk distribusi frekuensi, persentase, median, dan rentang menggunakan SPSS 26.Hasil: Dari 50 pasien, sebagian besar berusia 41–65 tahun (54%) dan berjenis kelamin laki-laki (72%). Indikasi utama trakeostomi adalah ventilasi mekanik berkepanjangan (72%), dengan median lama rawat 40,5 hari. Sekitar 54% pasien dipulangkan dengan kanul trakeostomi serta alat invasif lain, seperti selang nasogastrik (62%) dan kateter urine (28%). Sebanyak 94% pasien tidak mengalami readmisi dalam 30 hari setelah pulang.Simpulan: Pasien trakeostomi memiliki kondisi yang kompleks dan memerlukan perawatan lanjutan di rumah, namun, tingkat readmisi relatif rendah. Manajemen kasus dan perencanaan pulang individual dapat membantu mencegah readmisi pada pasien berisiko tinggi.
Pengaruh Pemberian Buah Pepaya Terhadap Kualitas Tidur Anak Prasekolah di Posyandu Bunga Sakura Bekasi Timur Adli, Rakha Raihan; Bhaktiar, Tri Agung; Trianingsih, Devi; Dinaryanti, Ratna Sari; Rahayu, Diah
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.110999

Abstract

Background: The growth and development of preschool children is significantly influenced by adequate sleep quality. Sleep deprivation in children can negatively impact mental and emotional health, as well as physical and cognitive function. Sleep disorders in preschool children are still common, but treatment focuses on pharmacological approaches or behavioral interventions, while the use of natural nutritional interventions has not been widely explored. One intervention method that has the potential to improve sleep quality is the consumption of nutrient-rich natural fruits. Papaya is known to contain active substances that play a role in neurotransmitter regulation and body relaxation. This interest stems from the limited studies on the effect of papaya on sleep quality in preschool children, particularly in the context of pediatric nursing and community care. Objective: This study aimed to determine the effect of papaya on sleep quality in preschool children. Method: This study used a one-group pretest-posttest design. Twenty-two children aged 3 to 5 years with sleep disorders were selected using a purposive sampling technique. The intervention consisted of 200 grams of papaya daily for five consecutive days. Sleep quality was measured using the Children Sleep Habits Questionnaire (CSHQ). Bivariate analysis used the paired t test to examine differences in preschool children's sleep quality scores. Results: The study showed a significant improvement in sleep quality after the intervention, with pre- and post-intervention scores (83,50±8,07 and 40,18±4,03 respectively). The bivariate test yielded a p-value of <0,05. Conclusion: Papaya fruit has been shown to be effective in improving preschool children's sleep quality scores. This intervention can be used as a safe and effective natural alternative to address children's sleep disorders.INTISARILatar belakang: Permasalahan gangguan tidur pada anak prasekolah masih sering ditemukan, namun penanganan yang dilakukan masih berfokus pada pendekatan farmakologis atau intervensi perilaku, sementara pemanfaatan intervensi nutrisi alami belum banyak dieksplorasi. Salah satu metode intervensi yang berpotensi meningkatkan kualitas tidur adalah konsumsi buah-buahan alami yang kaya nutrisi seperti Pepaya yang diketahui mengandung zat aktif dalam regulasi neurotransmitter dan relaksasi tubuh. Studi tentang manfaat Pepaya dalam meningkatkan kualitas tidur masih terbatas khususnya pada konteks keperawatan anak dan komunitas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian buah Pepaya terhadap kualitas tidur anak usia prasekolah. Metode: Penelitian ini menggunakan one group pretest-posttest design. Sebanyak 22 anak berusia 3 hingga 5 tahun yang mengalami gangguan tidur dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi berupa pemberian buah Pepaya sejumlah 200 gram setiap hari selama lima hari berturut-turut. Kualitas tidur diukur menggunakan instrumen Children Sleep Habits Questionnaire (CSHQ). Analisis bivariat menggunakan uji paired t test untuk melihat perbedaan skor kualitas tidur anak prasekolah. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kualitas tidur yang signifikan setelah intervensi dengan nilai pretest 83,50 ± 8,070 dan posttest 40,18 ± 4,03. Hasil uji bivariat didapatkan nilai p sebesar 0,000 (p-value < 0,05). Simpulan: Buah Pepaya terbukti efektif meningkatkan skor kualitas tidur anak usia prasekolah. Intervensi ini dapat digunakan sebagai alternatif alami yang aman dan efektif untuk mengatasi gangguan tidur anak.
Studi Waktu Tunggu Pasien di Instalasi Rawat Jalan di RS Akademik UGM Ulfah, Undatun; Hariyanto, Suci Wahyu; Avidati, Herfis; Nurlaily, Arinda Nia; Tejaningrum, Krista Dyah
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.115169

Abstract

Background: The Outpatient Department (IRJ) is the initial point of contact for patients receiving hospital services. One important factor influencing patient satisfaction is waiting time. Long wait times can negatively impact perceptions of service quality and the continued use of healthcare facilities. In the IRJ, patient waiting time is often a major complaint regarding service delivery, and no study related to waiting time has been conducted at the Academic Hospital Universitas Gadjah Mada. Objective: This study aims to analyze waiting times for services at various stages in the Outpatient Department of Academic Hospital Universitas Gadjah Mada.Methods: This study used a descriptive quantitative design with a sample size of 394 respondents using simple random sampling. Data were analyzed descriptively, and a Spearman's rho test was used to determine the length of service waits at each stage and the total wait time.Results: The study showed that the patient registration wait time was 1 minute, the doctor wait time was 61 minutes, and the pharmacy wait time was 39 minutes, for a total patient wait time of 113 minutes. Statistical analysis using Spearman's rho showed that age was not significantly related to total waiting time (p=0,909), and gender was also not significantly related to total waiting time after statistical analysis using the Mann-Whitney (p=0,209). Meanwhile, waiting times for registration, doctor's examinations, and pharmacy are significantly related to the total length of patient waiting time (p<0,001).Conclusion: Total patient waiting time at the IRJ RSA UGM remains above the national standard, with the doctor's examination being the largest contributor. Efforts to improve efficiency, focused on managing doctor schedules and strengthening the electronic queuing system, are needed to improve the quality of patient care.INTISARILatar belakang: Instalasi Rawat Jalan (IRJ) merupakan titik kontak awal pasien dalam memperoleh pelayanan di rumah sakit. Salah satu faktor penting yang memengaruhi kepuasan pasien adalah waktu tunggu. Waktu tunggu yang lama dapat berdampak negatif terhadap persepsi mutu layanan serta keberlanjutan penggunaan fasilitas kesehatan. Di IRJ waktu tunggu pasien sering kali menjadi keluhan utama dalam pelayanan dan studi terkait waktu tunggu pelayanan belum pernah dilakukan di RS Akademik UGM. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lama waktu tunggu pelayanan di berbagai tahap di Instalasi Rawat Jalan RS Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM). Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 394 responden yang dilakukan secara simple random sampling. Data dianalisis secara deskriptif dan dilakukan uji hubungan dengan Spearmans rho untuk melihat lama waktu tunggu pelayanan di tiap tahapan dengan total lama waktu tunggu. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu tunggu pendaftaran pasien adalah 1 menit, lama waktu tunggu dokter 61 menit, dan waktu tunggu farmasi 39 menit, dengan total lama waktu tunggu pasien sebesar 113 menit. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa faktor usia tidak berhubungan signifikan terhadap total waktu tunggu (p=0,909), begitu juga dengan perbedaan jenis kelamin juga tidak berhubungan signifikan terhadap total waktu tunggu (p=0,209), sedangkan waktu tunggu pendaftaran, pemeriksaan dokter dan farmasi berhubungan dengan lamanya total waktu tunggu pasien (p< 0,001). Simpulan: Total waktu tunggu pasien di IRJ RSA UGM masih berada di atas standar nasional, dengan tahap pemeriksaan dokter sebagai kontributor terbesar. Dibutuhkan upaya peningkatan efisiensi yang difokuskan pada manajemen jadwal dokter dan penguatan sistem antrean elektronik untuk meningkatkan mutu layanan pasien. 
Cryotherapy terhadap Penurunan Nyeri Pasien Open Fraktur Femur Post Open Reduction External Fixation (OREF): Studi Kasus Effendi, Raihan Adijun; Murtaqib, Murtaqib; Susanti, Ika Adelia; Sujarwanto, Sujarwanto
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.115776

Abstract

Objective: Patients with grade III open fractures treated with OREF may experience postoperative pain, which can hinder mobilization and prolong their hospital stay. Non-pharmacological interventions such as cryotherapy are needed to help control pain safely. Clinical nursing practice does not have enough case studies on the effectiveness of cryotherapy in reducing postoperative pain. Objective: To describe the application of cryotherapyfor pain reduction in a patient with a grade III open femoral fracture following OREF in a case study. Case Report: This case study involved one male patient with postoperative pain following femoral fracture surgery who received cryotherapy in accordance with the Standard Operating Procedure (SOP) for cold therapy at Seruni Ward, dr. Soebandi Regional Hospital, Jember. For three days, the therapy was given once daily for 15 minutes. The researcher assessed the intensity of pain using the Numeric Rating Scale (NRS) before and after each intervention session. Result: Pain scores decreased gradually from 6 to 4 on the first day, 5 to 3 on the second day, and 4 to 2 on the third day. In addition, facial grimacing and protective behavior showed gradual improvement over the three-day intervention period. Conclusion: Cryotherapy was effective in reducing postoperative pain and can be utilized as a safe and practical non-pharmacological nursing intervention.INTISARILatar belakang: Nyeri pasca operasi pada pasien fraktur femur OREF, terutama fraktur terbuka grade III, dapat menghambat mobilisasi dan memperpanjang rawat inap. Intervensi nonfarmakologis seperti cryotherapy diperlukan untuk membantu mengontrol nyeri secara aman. Studi kasus mengenai efektivitas pemberian cryotherapy terhadap penurunan nyeri pasca operasi masih terbatas dalam praktik keperawatan klinis Tujuan: Mendeskripsikan penerapan cryotherapy terhadap penurunan nyeri pada pasien fraktur femur sinistra terbuka grade III pasca OREF dalam studi kasus. Laporan kasus: Studi kasus ini melibatkan satu pasien laki-laki dengan nyeri pasca operasi fraktur femur yang diberikan terapi cryotherapy sesuai dengan Standar Prosedur Operasional (SPO) tindakan terapi dingin di Ruang Seruni RSD dr. Soebandi Jember, yaitu selama 15 menit, satu kali sehari, selama tiga hari berturut-turut. Penilaian tingkat nyeri dilakukan oleh peneliti menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) melalui pengukuran sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) pemberian intervensi pada setiap sesi terapi. Hasil: Skala nyeri menurun bertahap dari 6 menjadi 4 pada hari pertama, 5 menjadi 3 pada hari kedua, dan 4 menjadi 2 pada hari ketiga. Selain itu, ekspresi meringis dan sikap protektif menunjukkan perbaikan bertahap selama tiga hari intervensi. Simpulan: Cryotherapy efektif menurunkan nyeri pasca operasi dan dapat digunakan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis yang aman dan praktis.
Pengaruh Terapi Relaksasi Benson Terhadap Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah Pasien Diabetes Melitus Tipe 2: Studi Kasus Masruri, Mohammad Adib; Murtaqib, Murtaqib; Nistiandani, Ana; Sujarwanto, Sujarwanto
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.115849

Abstract

Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a chronic metabolic disorder that results from a decrease in insulin sensitivity, which results in persistent high blood sugar levels. Benson relaxation therapy is a complementary treatment that can be used in addition to medication. The use of this in nursing care is not well documented in case study. Ojective: This research aims to examine how Benson relaxation therapy affects the reduction of blood sugar levels in individuals diagnosed with type 2 diabetes. Case report: A 51-year-old female with a type 2 diabetes diagnosis was hospitalized at the RSD Dr. Soebandi, primarily reporting feelings of weakness and nausea. The lab report showed that a blood glucose measurement of 389 mg/dl, an HbA1c level of 11, 6%, and glucosuria (+3) at 300 mg/dl were all within the range. Benson relaxation therapy was administered daily for 10 to 15 minutes to manage her hyperglycemia over the course of three days. The effectiveness of this method was assessed by analyzing the patient's blood glucose levels before and after treatment sessions throughout the treatment period. Results: During the time of the intervention, the glucose levels in the blood dropped from 389 mg/dl to 380 mg/dl on day one, from 215 mg/dl to 205 mg/dl on day two, and from 185 mg/dl to 180 mg/dl on day three. Conclusion: Benson relaxation therapy is a nursing technique that is proven to be safe and effective in managing blood sugar levels.INTISARILatar belakang: Diabetes melitus tipe 2 (T2DM) merupakan sebuah kondisi metabolik yang bersifat kronis, di mana kadar gula darah tetap meningkat disebabkan oleh berkurangnya respons tubuh terhadap insulin. Selain cara pengobatan, terapi relaksasi Benson bisa dijadikan sebagai metode tambahan. Namun, masih sangat jarang temuan kasus yang menjelaskan penggunaan terapi ini dalam konteks studi kasus keperawatan. Tujuan: Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk meneliti dampak terapi relaksasi Benson terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes tipe 2. Laporan kasus: Seorang wanita berusia 51 tahun yang didiagnosis menderita diabetes mellitus tipe 2 dirawat di RSD Dr. Soebandi dengan keluhan utama kelemahan dan mual. Hasil tes laboratorium menunjukkan kadar glukosa darah acak sebesar 389 mg/dl, kadar HbA1c sebesar 11,6%, dan glukosuria (+3) pada tingkat 300 mg/dl. Selama tiga hari, dia mendapatkan penanganan hiperglikemia dengan terapi relaksasi Benson, yang dilakukan sekali sehari selama 10–15 menit. Keefektifan intervensi dinilai dengan melakukan perbandingan terhadap perubahan kadar glukosa darah pasien sebelum dan sesudah terapi selama periode perawatan. Hasil: Selama periode intervensi, kadar glukosa darah turun dari 389 mg/dl menjadi 380 mg/dl pada hari pertama, dari 215 mg/dl menjadi 205 mg/dl pada hari kedua, dan dari 185 mg/dl menjadi 180 mg/dl pada hari ketiga. Simpulan: Terapi relaksasi Benson merupakan intervensi keperawatan yang efektif dan berbasis bukti, yang dengan aman membantu pengendalian kadar glukosa darah.  
Eksplorasi Pengalaman Pasien Spinal Cord Injury dalam Melakukan Adaptasi Rumah Pascaperawatan di RSUP Dr. Sardjito: Studi Kualitatif Najhan, Muhammad Azka; Triyanto, Arifin; Mulyani, Sri
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.116722

Abstract

Background: Spinal cord injury (SCI) is a condition that causes physical, psychological, and social impairments and is a leading cause of disability. After hospital discharge, patients face challenges in adapting to the home environment, which may affect their independence and quality of life. Studies exploring the subjective experiences of patients with spinal cord injury in adapting to home environments after discharge in Indonesia remain limited. Objective: This study aimed to explore the experiences of patients with spinal cord injury in adapting to home environments after discharge from RSUP Dr. Sardjito. Methods: A qualitative study with a descriptive exploratory approach was conducted involving eight patients with spinal cord injury who had been treated at RSUP Dr. Sardjito between January 2024 and October 2025. Participants were selected using purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria. Data were collected through semi-structured interviews. Data analysis followed the stages proposed by Erlingsson and Brysiewicz. Results: The analysis identified four main themes: (1) limitations in physical adaptation; (2) psychological conditions, including emotional responses, expectations, and coping strategies; (3) the adaptation environment, reflecting spatial adjustments, the use of assistive devices, rehabilitation processes, as well as family and social support; and (4) determinants of adaptation, including home-related barriers and economic conditions influencing the ability to adapt. Conclusion: Patients with spinal cord injury experience a complex process of home adaptation involving physical, psychological, social, and environmental aspects.INTISARILatar belakang: Spinal cord injury (SCI) merupakan cedera yang menimbulkan gangguan fisik, psikologis, dan sosial serta menjadi penyebab utama kecacatan. Setelah keluar dari rumah sakit, pasien menghadapi tantangan dalam beradaptasi di rumah yang dapat memengaruhi kemandirian dan kualitas hidup. Penelitian yang mengeksplorasi pengalaman subjektif pasien spinal cord injury dalam melakukan adaptasi rumah pascaperawatan di Indonesia masih terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman pasien spinal cord injury dalam melakukan adaptasi rumah pascaperawatan di RSUP Dr. Sardjito Metode: Penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif eksploratif melibatkan delapan pasien spinal cord injury yang pernah dirawat di RSUP Dr. Sardjito pada Januari 2024-Oktober 2025. Partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur. Analisis data mengikuti tahapan Erlingsson dan Brysiewicz. Hasil: Analisis data menghasilkan empat tema utama, yaitu: (1) keterbatasan adaptasi fisik; (2) situasi psikologis yang meliputi respons emosional, harapan, dan strategi koping; (3) suasana adaptasi yang mencerminkan penyesuaian ruang, penggunaan alat bantu, proses rehabilitasi, serta dukungan keluarga dan sosial; dan (4) penentu adaptasi yang mencakup hambatan di rumah serta kondisi ekonomi yang memengaruhi kemampuan adaptasi. Simpulan: Pasien spinal cord injury mengalami proses adaptasi rumah yang kompleks yang melibatkan aspek fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan.