cover
Contact Name
Sri Warsini
Contact Email
sri.warsini@ugm.ac.id
Phone
+62274-545674
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Gedung Ismangoen Jl. Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal)
ISSN : 2614445x     EISSN : 26144948     DOI : https://doi.org/10.22146/jkkk.57386
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) accepts novel research articles, case study, literature review, and psychometric testing articles in all field of clinical and community of nursing. This journal is published through peer-review process by nursing and health expert in academic and health care institution in Indonesia. The scope includes: 1) Surgical medical nursing 2) Emergency nursing 3) Basic nursing 4) Education in nursing 5) Management in nursing 6) Maternity nursing 7) Pediatric nursing 8) Mental health nursing 9) Community nursing
Articles 170 Documents
Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Penerimaan Orang Tua terhadap Vaksinasi HPV di SMP Kota Yogyakarta Arina Zulfa; Wiwin Lismidiati; Anita Kustanti
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.71832

Abstract

Background: One of Cervical cancer etiology is Human Papillomavirus (HPV) infection which is transmitted through sexual activity. The main prevention of cervical cancer from WHO is through HPV vaccination in girls aged 9-14 years old who have not been sexually active. Factors related to parental acceptance of HPV vaccination are knowledge, attitude, and parental consent.Objective: To describe student parents’ knowledge, attitude, and acceptance of HPV vaccination in junior high schools of Yogyakarta City.Method: This descriptive study used a cross sectional design. The research was conducted at several  junior high schools in Yogyakarta city which involving 332 parents of grade VII and VIII students. Data collection was carried out online because it coincided with the Covid-19 pandemic. Knowledge, attitude, and acceptance questionnaires were prepared and tested for validity and reliability. Chi-square data analysis and fisher test were used to test bivariate aspect.Results: There were 59.3% of respondents who had a high level of knowledge, 57.2% of respondents who had positive attitude regarding this, and 92.5% allowed their children if they were given the HPV vaccination. The level of knowledge was related to the level of education (p=0.000) and information exposure about cervical cancer (p<0.05). Attitude was significantly related to parental income (p=0.014) and level of education (p=0.016). Parents' acceptance of the HPV vaccine was associated with parents' education level (p=0.013).Conclusion: Parents of junior high school students in Yogyakarta City have a high level of knowledge, a positive attitude, and good acceptance of HPV vaccination.ABSTRAKLatar belakang: Salah satu etiologi kanker serviks adalah Infeksi Human Papillomavirus (HPV) yang ditularkan melalui aktivitas seksual. Pencegahan utama kanker serviks dari WHO melalui vaksinasi HPV pada anak perempuan berusia 9-14 tahun yang belum aktif melakukan hubungan seksual. Faktor yang berhubungan dengan penerimaan orang tua terhadap vaksinasi HPV adalah pengetahuan, sikap, dan persetujuan orang tua.Tujuan: Mendapatkan gambaran tentang pengetahuan, sikap, dan penerimaan orang tua terhadap vaksinasi HPV di SMP Kota Yogyakarta.Metode: Penelitian deskriptif ini menggunakan rancangan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di beberapa SMP di Kota Yogyakarta yang melibatkan 332 orang tua siswi SMP kelas VII dan VIII. Pengambilan data dilakukan secara daring karena bersamaan dengan pandemi Covid-19. Kuesioner pengetahuan, sikap, dan penerimaan disusun serta sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Uji Chi Square dan Fisher Test digunakan dalam analisis bivariat pada penelitian ini.Hasil: Sebanyak 59,3% responden mempunyai tingkat pengetahuan tinggi dan 57,2% responden memiliki sikap positif terkait vaksinasi HPV, serta 92,5% bersedia jika anaknya diberikan vaksinasi HPV. Tingkat pengetahuan berhubungan dengan tingkat pendidikan (p=0,000) dan pengalaman mendengar/paparan terhadap informasi kanker serviks (p<0,05). Sikap memiliki hubungan signifikan dengan pendapatan orang tua (p=0,014) dan tingkat pendidikan (p=0,016). Penerimaan orang tua terhadap vaksin HPV berhubungan dengan tingkat pendidikan orang tua (p=0,013).Simpulan: Orang tua siswi SMP Kota Yogyakarta memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi, sikap yang positif, dan penerimaan yang baik  terhadap vaksinasi HPV.
Pengaruh Pelatihan Deteksi Perkembangan Dasar Balita terhadap Pengetahuan dan Keterampilan Kader di Wilayah Kerja Puskesmas Gedongtengen Yogyakarta Aprilia Tri Astuti; Akhmadi Akhmadi; Sri Hartini
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.74916

Abstract

Background: Early 5 years of a child’s life that referred as the golden period is a rapid growth and development. During this period, the role of a toddler cadre in detecting any problem related to growth and developmental is crucial. Therefore, an intervention is needed to enhance the knowledge and skills of cadres through basic toddler development detection training. Objective: To determine the influence of developmental detection training activities on the knowledge and skills of cadres in the working area of Gedongtengen Primary Health Care Center, Yogyakarta. Method: This study was a pre-experimental using one group pretest post-test design that conducted from February to May 2017. As many as 32 cadre members were involved in this study using simple random sampling. The treatment was a training using lecturing methods, demonstrations, and re-demonstrations with the aid of learning modules and PowerPoint slides. The instruments used were knowledge questionnaires based on the Stimulation, Detection, and Early Intervention for Growth and Development Guidelines (SDIDTK), and skill questionnaires using the Pre-Screening Development Questionnaire (KPSP) adopted from the same source. Data analysis was performed using paired t-tests and Wilcoxon tests. Result: Significant differences were found in the average pretest and post-test knowledge scores, with values of 11,69 ± 3,364 and 13,50 ± 4,166, respectively (p = 0,005). Similar significant differences were observed in the median pretest and post-test skill scores, which were 16,50 and 24, respectively (p = 0,000) Conclusion: Training for detection of toddler development proves to be an effective intervention for improving the knowledge and skills of cadre members.ABSTRAK Latar belakang: Lima tahun pertama kehidupan anak atau yang seringkali disebut sebagai periode emas adalah periode di mana seorang anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cukup pesat. Pada periode ini peran seorang kader balita dalam mendeteksi adanya gangguan tumbuh kembang sangatlah krusial. Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader melalui pelatihan deteksi perkembangan dasar balita. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh antara kegiatan pelatihan deteksi perkembangan dengan pengetahuan dan keterampilan kader di wilayah kerja Puskesmas Gedongtengen Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pre-eksperimen one group pretest post-test yang dilakukan pada bulan Februari-Mei 2017. Sebanyak 32 orang kader dilibatkan dalam penelitian dengan menggunakan simple random sampling. Perlakuan yang diberikan berupa pelatihan menggunakan metode tatap muka, demonstrasi dan redemonstrasi dengan fasilitas modul pembelajaran dan slide PowerPoint. Instrumen yang dipakai berupa kuesioner pengetahuan yang dibuat berdasarkan buku Pedoman Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK), dan kuesioner keterampilan menggunakan Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP) yang diadopsi dari buku yang sama. Analisis data dilakukan dengan paired t-test dan Wilcoxon test. Hasil: Terdapat perbedaan yang bermakna terhadap rata-rata skor pengetahuan pretest dan post-test dengan besaran 11,69 ± 3,364 dan 13,50 ± 4,166 secara berurutan (p = 0,005), begitu juga dengan nilai tengah skor keterampilan pretest dan post-test  sebesar 16,50 dan 24 (p = 0,000).  Kesimpulan: Pelatihan deteksi perkembangan dasar balita merupakan intervensi yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader 
Strategi Penanganan Pelecehan Seksual di Kalangan Remaja: Tinjauan Literatur Fino Ardiansyah; Matsna Wilda Muqorona; Fariskha Yulfa Nurahma; Muhammad Dodik Prasityo
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.78215

Abstract

Background: There are many sexual violence cases take place from school to college. Women mostly become sexual harassment victims, while men largely become the perpetrators. The most common forms of sexual harassment include hurtful or threatening comments, direct aggressive act, and online sexual harassment. Sexual harassment causes health problems, damaging mental, physical, social condition, and somatic effect. Eventhough, various efforts have been done, sexual harassment case against women keeps increasing.Objective: To explore strategies for handling sexual harassment in adolescents.Method: The research used Sexual AND Harassment as the keywords. Literature was selected from ScienceDirect, PubMed, ClinicalKey, and ProQuest databases with screening results 21,311 (N) articles. Total 5 (n) articles were analyzed from the results of the research quality assessment process at the minimum quartile of Scimago Journal Rank (SJR) 1 (Q1) and they also analyzed using critical appraisal  from Joanna Briggs Institute.Result: There were five literatures that fulfilled the criteria and had the strategy in reducing and preventing the occurrence of sexual harassment as their content. Themes of these articles included i.e.: prevention of sexual harassment (n=1), education material in sexual harassment content (n=1), and sexual harassment intervention (n=3).Conclusion: These three strategies (sexual harassment prevention, education, and intervention) can be applied in schools or colleges and can be used as a curriculum to improve individual behavior and reduce harassment.ABSTRAKLatar belakang: Banyak kasus kekerasan seksual terjadi di sekolah hingga perguruan tinggi. Pada umumnya, korban pelecehan seksual adalah perempuan dan pelaku pelecehan seksual sebagian besar adalah laki-laki . Bentuk pelecehan yang paling besar, meliputi: komentar yang menyinggung atau mengancam; perlakuan secara langsung; serta pelecehan seksual di dunia maya (online). Pelecehan seksual mengakibatkan masalah kesehatan, dapat merusak kondisi mental, fisik, sosial, hingga menimbulkan efek somatik. Berbagai upaya penanganan kasus kekerasan seksual telah dilakukan. Namun, kasus kekerasan terhadap perempuan masih mengalami peningkatan.Tujuan: Mengkaji strategi penanganan pelecehan seksual pada remaja.Metode: Penelusuran menggunakan kata kunci  untuk mengidentifikasi penelitian yang relevan. Seleksi literatur dilakukan melalui database yang tersedia di ScienceDirect, PubMed, ClinicalKey, dan ProQuest, dengan hasil skrining sebanyak n = 21.311 artikel. Total (n=5) artikel dianalisis dari hasil proses penilaian kualitas penelitian pada kuartil minimal Scimago Journal Rank (SJR) 1 (Q1) dan studi yang dianalisis dilakukan Critical Appraisal menggunakan Joanna Briggs Institute.Hasil: Lima literatur yang telah diperoleh, memiliki tema “Strategi dalam Mengurangi dan Mencegah Terjadinya Pelecehan Seksual.” Tema-tema tersebut membahas di antaranya: pencegahan pelecehan seksual (n=1); pendidikan pelecehan seksual (n=1); dan intervensi pelecehan seksual (n=3).Simpulan: Ketiga strategi ini (pencegahan, pendidikan, dan intervensi pelecehan seksual) dapat diterapkan di sekolah atau perguruan tinggi dan dapat digunakan sebagai kurikulum untuk meningkatkan perilaku individu dan mengurangi kekerasan.
Penatalaksanaan Keperawatan Osteoporosis pada Pasien Hemodialisis: Studi Kasus Pratiwi Lestari Putri; Haryani Haryani; Tatik Dwi Wahyuni
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.78302

Abstract

Background: Treatment of osteoporosis in hemodialysis patients is important since it slows down the worsening effect of osteoporosis and prevents bone fractures. Objective: To know the description of osteoporosis nursing management in hemodialysis patients Case description: A 62 years old male complained about his difficulty in walking, as well as back and ankle ache during strenuous activities after hemodialysis. Nursing actions were given with the aim of alleviating client complaints. Results: This study found that the patient experienced back, knee, and ankle ache during strenuous activities. Pain management -as the nursing action- was given by administering paracetamol and CaCo3 as well as joint training education to strengthen muscles. The patient's pain level was decreased after the intervention from the severe category to the moderate category (pain range 7-8 to 4-5). Conclusion: The treatment for osteoporosis in hemodialysis which includes phosphate buffer supplements, analgesic drugs, adherence to hemodialysis therapy, and muscle strengthening exercises, has pain reduction effect from severe to the moderate pain category.ABSTRAKLatar belakang: Penanganan osteoporosis pada pasien hemodialisis merupakan hal penting, agar dapat memperlambat perburukan osteoporosis dan mencegah terjadinya patah tulang. Tujuan: Mengetahui gambaran penatalaksanaan keperawatan osteoporosis pada pasien hemodialisis.Deskripsi kasus: Seorang lelaki, 62 tahun, mengeluh kesulitan berjalan, nyeri punggung, dan nyeri pada kaki saat beraktivitas berat selama 3 tahun terakhir setelah hemodialisis. Tindakan keperawatan diberikan dengan tujuan untuk meringankan keluhan klien.Hasil: Hasil pengkajian didapatkan keluhan nyeri pada punggung, pergelangan kaki dan lutut saat beraktivitas berat. Tindakan keperawatan yang diberikan berupa penanganan nyeri akut dengan pemberian obat parasetamol dan CaCo3 serta edukasi latihan persendian untuk memperkuat otot. Setelah pemberian intervensi, tingkat nyeri pasien berkurang, dari kategori berat (rentang nyeri 7-8) menjadi kategori sedang (rentang nyeri 4-5).Simpulan: Penanganan osteoporosis pada pasien hemodialisis mencakup suplemen penyangga fosfat, obat analgesik, kepatuhan terapi hemodialisis, dan penanganan non-farmakologis berupa latihan penguatan otot yang dapat memberi efek pengurangan nyeri, dari kategori nyeri berat menjadi nyeri sedang.
Uji Validitas dan Reliabilitas pada Instrumen Kidney Disease Quality of Life-36 (KDQOL-36) pada Pasien dengan Hemodialisis Muhammad Cahyono Tito Hudoyo; Melyza Perdana; Sri Setiyarini
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.81530

Abstract

Background: The health condition or quality of life of patient with hemodialysis should be monitored continuously by health worker. KDQOL-36 is a specific instrument for reviewing the quality of life of patient with renal failure. A valid and reliable KDQOL-36 instrument is needed to measure the quality of life of patient with chronic kidney disease.  Objective: To determine the validity and reliability of the Indonesian version of the KDQOL-36 intrument. Method: This was psychometric study to assess content validity and reliability. The research was conducted at Hemodialysis Unit of Academic Hospital of Gadjah Mada University, Yogyakarta. Respondents were patients who underwent hemodialysis. The research instrument was KDQOL-36 Indonesian version. Validity test was run by 3 doctors specializing in kidney disease and hypertension, 2 clinical renal nurses, and 1 academician. Testing reliability used internal consistency. Result: Based on the statistical test, the CVI value was 1,00 and the coefficient value of Cronbach's Alpha KDQOL-36 Indonesian version was 0,708. Conclusion: The Indonesian version of the KDQOL-36 is a valid and reliable instrument.ABSTRAKLatar belakang: Pasien yang menjalani hemodialisis harus dipantau kondisi atau kualitas hidupnya secara terus-menerus oleh petugas kesehatan. KDQOL-36 merupakan instrumen khusus yang penting untuk menilai kualitas hidup pasien gagal ginjal. Diperlukan instrumen KDQOL-36 yang valid dan reliabel untuk mengukur kualitas hidup pasien dengan penyakit ginjal kronis. Tujuan: Untuk mengetahui validitas dan reliabilitas KDQOL-36 versi Bahasa Indonesia. Metode: Penelitian ini adalah penelitian psikometri untuk menilai validitas isi dan reliabilitas. Penelitian dilakukan di Unit Hemodialisis Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Responden adalah pasien yang menjalani hemodialisis. Instrumen penelitian yang digunakan adalah KDQOL-36 versi Bahasa Indonesia. Validitas isi diuji oleh 3 dokter spesialis penyakit ginjal dan hipertensi, 2 perawat renal klinis, dan 1 akademisi. Pengujian reliabilitas menggunakan internal consistency.  Hasil: Berdasarkan uji statistik, didapatkan nilai CVI adalah 1,00 dan nilai koefisien Cronbach’s Alpha KDQOL-36 versi bahasa Indonesia adalah 0,708. Kesimpulan: KDQOL-36 versi bahasa Indonesia merupakan instrumen yang valid dan reliabel. 
Analisis Asuhan Keperawatan pada Pasien Terpasang Canul Trakeostomi dengan Masalah Keperawatan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif dengan Intervensi Fisioterapi Dada di Ruang Mawar RSD dr. Soebandi Jember: Studi Kasus Tanwirotul Afidah; Murtaqib Murtaqib; Suheriyono Suheriyono
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.82213

Abstract

Background: Maxillofacial fracture is a fracture that refers to the facial skeletal, dentoalveolar bone and related parts within the head and neck area due to external trauma. Severe fractures in the facial bones hinder client’s airway. Tracheostomy is one of the procedures for persistent airway obstruction.Objective: To analyze nursing care for clients with tracheostomy for indications of maxillofacial fracture with nursing problems in ineffective airway clearance using chest clapping physiotherapy interventions in the Mawar Room, RSD dr. Soebandi Jember.Case report: The client was admitted to the Hospital due to motorcycle accident. During the assessment the client complained of coughing, tightness, and sleeplessness. After a canul tracheostomy was attached to the client, there were several symptoms, ie.: the client coughed quite frequently, unable to cough effectively, there was a dry ronchi, had difficulty in speaking, and the client's breathing pattern changed. In conclusion, the main nursing problem was ineffective airway clearance.Outcome: The results of the analysis after chest physiotherapy 3 times for 3 days showed the expected result of chest physiotherapy action, which was the sputum was removed and cleared from the airway. Therefore, oxygen diffusion was optimal, the client's oxygen saturation increased within the normal range, coughing decreased, and insomnia complaints were reduced. Conclusion: Chest physiotherapy can help remove the client's sputum, thus reduces sputum and ronchi sound, tightness marked with respiration rate (RR) within the normal range, and coughing in clients with nursing problem ineffective airway clearance attached canul tracheostomy.ABSTRAKLatar belakang: Fraktur maksilofasial merupakan fraktur yang mengacu pada skeletal wajah, tulang dentoalveolar dan bagian-bagian yang terkait dalam daerah kepala dan leher karena trauma eksternal. Fraktur pada tulang wajah yang parah menyebabkan pasien tidak dapat mempertahankan jalan napasnya. Trakeostomi merupakan salah satu prosedur untuk obstruksi jalan napas persisten.Tujuan: Untuk menganalisis asuhan keperawatan pada pasien yang terpasang trakeostomi atas indikasi fraktur maksilofasial dengan masalah keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif menggunakan intervensi fisioterapi dada clapping di Ruang Mawar RSD dr. Soebandi Jember.Laporan kasus: Pasien masuk ke Rumah Sakit karena kecelakaan sepeda motor. Saat dilakukan pengkajian, pasien mengeluh batuk, sesak napas, dan tidak bisa tidur. Terdapat beberapa gejala pada pasien setelah terpasang canul trakeostomi, antara lain batuk cukup sering, tidak mampu melakukan batuk efektif, terdapat ronchi kering, sulit berbicara, dan pola napas pasien berubah, sehingga memiliki masalah keperawatan utama bersihan jalan napas tidak efektif. Hasil: Hasil analisis setelah dilakukan fisioterapi dada 3 kali selama 3 hari, menunjukkan pencapaian tindakan fisioterapi dada, yaitu dapat mengeluarkan dan membersihkan sputum dari saluran napas, sehingga difusi oksigen optimal, saturasi oksigen pasien meningkat dalam rentang normal, batuk berkurang, dan keluhan susah tidur berkurang. Simpulan: Fisioterapi dada dapat membantu mengeluarkan sputum pasien, sehingga sputum dan suara ronchi dapat berkurang, sesak napas berkurang ditandai dengan respiration rate (RR) dalam rentang normal, dan batuk dapat berkurang pada pasien dengan masalah keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif yang terpasang canul trakeostomi. 
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Agata Della; Paulus Subiyanto; Avin Maria
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.83090

Abstract

Background: Pharmacological intervention with oral antidiabetic drugs is the main choice in patients with type 2 diabetes mellitus whose blood glucose levels fail to be controlled by diet and exercise programs. Identifying non-adherent patients in outpatient treatment is important in order to be able to carry out therapy effectively, prevent further complications, so as to improve the quality of life of patients with type 2 diabetes mellitus.Objective: Knowing the relationship between age, gender, education, occupation, self-motivation, family support and health worker support with medication adherence in type 2 diabetes mellitus patients at Panti Rini Hospital.Method: This research is quantitative cross-sectional study using accidental sampling on January 13-27 2022. The total number of respondents in this study were 60 respondents who fit the inclusion and exclusion criteria. The questionnaires used included demographic data, self-motivation, family support, health worker support and Medication Adherence Report Scale (MARS) which are valid and reliable. Data analysis used was univariate test and bivariate test using chi square test.Results: The results of the related factors are age (p value 0,036), gender (p value 0,045), occupation (p value 0,014), self-motivation (p value 0,000), family support (p value 0,002), support from health workers (p value 0,028 ) while the unrelated factor is education (p value 0,673).Conclusion: There is a relationship between the factors of age, gender, occupation, self-motivation, family support, support from health workers and there is no relationship between educational factors and medication adherence in type 2 diabetes mellitus patients at Panti Rini Hospital.ABSTRAKLatar belakang: Intervensi farmakologis dengan obat antidiabetes secara oral menjadi pilihan utama pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang kadar glukosa darahnya gagal dikendalikan dengan program diit dan olahraga. Mengidentifikasi pasien yang tidak patuh dalam pengobatan rawat jalan penting agar dapat melaksanakan terapi dengan efektif, mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes melitus tipe 2.Tujuan: Mengetahui hubungan usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, motivasi diri, dukungan keluarga dan dukungan tenaga kesehatan dengan kepatuhan pengobatan pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Rumah Sakit Panti Rini.Metode: Penelitian ini merupakan kuantitatif cross sectional dengan menggunakan accidental sampling pada 13 – 27 Januari 2022. Total responden dalam penelitian ini adalah 60 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Kuesioner yang digunakan meliputi data demografi, motivasi diri, dukungan keluarga, dukungan tenaga kesehatan dan Medication Adherence Report Scale (MARS) yang sudah valid dan reliabel. Analisis data yang digunakan yaitu uji univariat dan uji bivariat menggunakan uji chi square.Hasil: Hasil faktor yang berhubungan yaitu usia (p value 0,036), jenis kelamin (p value 0,045), pekerjaan (p value 0,014), motivasi diri (p value 0,000), dukungan keluarga (p value 0,002), dukungan tenaga kesehatan (p value 0,028) sedangkan faktor yang tidak berhubungan yaitu pendidikan (p value 0,673).Simpulan: Terdapat hubungan antara faktor usia, jenis kelamin, pekerjaan, motivasi diri, dukungan keluarga, dukungan tenaga kesehatan dan tidak terdapat hubungan antara faktor pendidikan  dengan kepatuhan pengobatan pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Rumah Sakit Panti Rini.
Gambaran Dukungan Sosial Bagi Family Caregiver dalam Merawat Pasien Demensia Putri Utami Ayu Maninggar; Christantie Effendy; Heny Suseani Pangastuti
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.84313

Abstract

Background: A family caregiver requires high social support to reduce stress levels and improve welfare in treating people with dementia. Research about social support for family caregiver in treating dementia has rarely been conducted. Objective: To describe social support for family caregiver in treating dementia patients. Method: This research was descriptive quantitative research and cross-sectional study design. Data was collected in May 2018. The samples in this study were 53 family caregivers of dementia patients who came to the Memory Clinic of Dr. Sardjito Hospital in Yogyakarta. Sampling technique was using purposive sampling. Social Support Questionnaire (SSQ) was equipped as research instrument, while data analysis was using univariate analysis. Results: Respondents who received social support came from primary, secondary, and tertiary sources were 44 respondents (83%). The average value of emotional-support satisfaction level reached 4,85 (± 0,59), while instrumental support was 4.79 (± 0,64), esteem support was 4,79 (± 0,77), and informational support was 4,87 (± 0,57).  Conclusion: All forms of social support which were received by the family caregiver are close to category 5 (satisfied). Mostly, social support sources came from children, siblings, relatives, and health workers.ABSTRAKLatar belakang: Seorang family caregiver membutuhkan dukungan sosial yang tinggi dalam melakukan perawatan pada pasien demensia, untuk mengurangi tingkat stres dan meningkatkan kesejahteraan. Penelitian terkait gambaran dukungan sosial family caregiver dalam melakukan perawatan pada pasien demensia masih jarang dilakukan.  Tujuan: Untuk menggambarkan dukungan sosial yang diterima family caregiver dalam merawat pasien demensia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif, dengan rancangan penelitian cross sectional. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei 2018. Sampel dalam penelitian ini adalah 53 orang family caregiver pasien demensia yang datang ke Klinik Memori RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan Social Support Questionnaire (SSQ). Sedangkan analisis data menggunakan analisis univariat. Hasil: Responden yang menerima dukungan sosial berasal dari sumber primer, sekunder, dan tersier, sebanyak 44 responden (83%). Rata-rata tingkat kepuasan dari dukungan emosional yang diterima responden sebesar 4,85 (± 0,59), dukungan instrumental sebesar 4,79 (± 0,64), dukungan penghargaan sebesar 4,79 (±0,77), dan dukungan informasional sebesar 4,87 (± 0,57).  Kesimpulan: Semua bentuk dukungan sosial yang diterima family caregiver bernilai mendekati kategori 5 (puas). Mayoritas sumber dukungan sosial berasal dari anak, kakak/adik, kerabat, dan petugas kesehatan.  
Gambaran Keterampilan Mahasiswa Keperawatan dalam Melaksanakan Prosedur Pembalutan Luka pada Pelatihan Basic Trauma and Cardiac Life Support Hanifa Nurul Zahra; Sutono Sutono; Anita Kustanti
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.84316

Abstract

Background: Emergency situation can be occurred at any place or time which requires immediate and appropriate treatment. Nursing students as the member of community are expected to provide emergency care aid including wound dressing. Objective: To identify nursing student's skill in performing wound dressing care procedure on Basic Trauma and Cardiac Life Support (BTCLS) training. Method: A descriptive-quantitative research with cross sectional design was piloted in 2 training venue in Yogyakarta. The research ran for 2 months from November to December 2017. The population in the research were whole participants of Basic Trauma and Cardiac Life Support organized by PUSBANKES Team 118 PERSI DIY. Total of 141 respondents participated in the research. Data analysed by univariat technique and displayed in the form of frequency distribution. Result: There were 141 respondents who dominated by female, attending BTCLS training. Most of the respondents’ skills (93 students) during in-class-skill-training were in the moderate category (skill range 51-74%). During post-training-skills evaluation, there were 131 students (≥75%) who were classified into high category (skill range >75%). Conclusion: Nursing students’ skill in providing emergency wound dressing care on BTCLS training is categorized as high skill (≥75%).ABSTRAKLatar belakang: Keadaan gawat darurat bisa terjadi di mana pun dan kapan pun. Kondisi tersebut memerlukan tindakan yang cepat dan tepat. Mahasiswa keperawatan merupakan bagian dari masyarakat yang memerlukan keahlian dalam melakukan tindakan pertolongan pada kondisi gawat darurat, khususnya pembalutan luka.  Tujuan: Mengetahui gambaran keterampilan mahasiswa keperawatan dalam melaksanakan prosedur pembalutan luka pada pelatihan BTCLS. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif non-eksperimental dengan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian dilakukan di 2 tempat pelatihan, di Daerah Istimewa Yogyakarta pada bulan November dan Desember 2017. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta pelatihan Basic Trauma and Cardiac Life Support (BTCLS) yang diadakan oleh tim (PUSBANKES) 118 PERSI DIY dengan sampel berjumlah 141 peserta. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Checklist prosedur pembalutan luka yang dimiliki oleh PUSBANKES 118 PERSI DIY. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil: Pada saat latihan keterampilan, sebagian besar responden termasuk dalam kategori keterampilan sedang (skor 51-74%), yaitu sebanyak 93 responden (66,0%). Sementara pada saat evaluasi keterampilan, mayoritas termasuk dalam kategori keterampilan tinggi (skor ≥75%), yaitu sebanyak 131 responden (92,9%).  Kesimpulan: Gambaran keterampilan mahasiswa keperawatan dalam melaksanakan prosedur pembalutan luka pada pelatihan BTCLS berada pada kategori keterampilan tinggi.
Manajemen Gastroenteritis pada Anak: Literature Review Ami Novianti Subagya; Ririn Mutia Zukra; Laila Nidaul Hasanah
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 4, No 3 (2020)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.84349

Abstract

Background: Gastroenteritis is a common infectious disease in children, especially children under 5 years of age. Gastroenteritis that is not handled properly can cause hypovolemic shock thereby increasing mortality in children.Objective: This literature review aims to determine the management of gastroenteritis in children and the role of nurses in managing children with gastroenteritis.Method: This review considers references through PubMed, Science Direct, and Cochrane searches using the search terms “children with acute gastroenteritis”, “management" OR "treatment”, and “nursing therapy”Result: Management of children with gastroenteritis refers to three aspects, namely the medical aspect (oral rehydration therapy, parenteral rehydration, nasogastric feeding, diet), pharmacological aspects (use of antibiotics, antiemetics, probiotics, zinc, and vaccines), and nursing aspects (identification of the degree of dehydration, assessment of stool characteristics, monitoring and evaluation of rehydration administration).Conclusion: The main management of children with gastroenteritis is rehydration therapy. Nurses need to assess the degree of dehydration, monitor, and evaluate the administration of rehydration therapy.ABSTRAKLatar belakang: Gastroenteritis merupakan salah satu penyakit infeksi yang umum terjadi pada anak khususnya anak di bawah usia 5 tahun. Gastroenteritis yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan syok hipovolemia sehingga meningkatkan mortalitas pada anak. Tujuan: Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengetahui manajemen gastroenteritis pada anak dan peran perawat dalam melakukan tata laksana anak dengan gastroenteritis. Metode: Ulasan ini mempertimbangkan referensi melalui pencarian PubMed, Science Direct, dan Cochrane dengan menggunakan istilah pencarian “children with acute gastroentritis”, “management" OR "treatment”, dan “nursing therapy”. Hasil: Manajemen pada anak dengan gastroenteritis mengacu pada tiga aspek, yaitu aspek medis (terapi rehidrasi oral, rehidrasi parenteral, nasogastric feeding, diet), aspek farmakologi (penggunaan antibiotik, antiemetik, probiotik, zink, dan vaksin), dan aspek keperawatan (identifikasi derajat dehidrasi, pengkajian karakteristik feses, pemantauan, dan evaluasi pemberian rehidrasi).Kesimpulan: Penatalaksanaan utama anak penderita gastroenteritis adalah terapi rehidrasi. Perawat perlu menilai derajat dehidrasi, memantau, dan mengevaluasi pemberian terapi rehidrasi.

Page 10 of 17 | Total Record : 170