cover
Contact Name
Tini Sudartini
Contact Email
tinisudartini@unsil.ac.id
Phone
+6289683432611
Journal Mail Official
jmedpertanian@unsil.ac.id
Editorial Address
Jl. Siliwangi No 24, Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, 46115
Location
Kota tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Media Pertanian
Published by Universitas Siliwangi
ISSN : 20854226     EISSN : 27458946     DOI : https://doi.org/10.37058/mp.v6i1
Core Subject : Agriculture,
Media Pertanian (e-ISSN: 2745-8946 dan p-ISSN: 2085-4226 ) adalah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi Tasikmalaya terbit dua kali dalam setahun pada bulan Mei dan November. Ruang lingkup naskah sebagai media publikasi artikel-artikel hasil penelitian maupun hasil review beberapa jurnal dalam bidang ilmu pertanian meliputi: ilmu dan teknologi pertanian, agronomi, ilmu hama dan penyakit tumbuhan, ilmu gulma, ekofisiologi tanaman, biodiversitas, bioteknologi, kehutanan, perkebunan, mikrobiologi pertanian, pemuliaan tanaman, ilmu dan teknologi pangan.
Articles 88 Documents
Komparasi Pengendalian Fisik dan Kimiawi terhadap Tanah pada Agroekosistem Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Sukma Eka Juliani; R. Arif Malik Ramadhan; Adinda Putri Amanda
Media Pertanian Vol 11, No 1 (2026): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v11i1.17012

Abstract

Penggunaan pestisida sintetis secara berlebihan menyebabkan penurunan kualitas tanah dan kerusakan agroekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas pengendalian hama secara fisik berbasis kearifan lokal menggunakan alat musik tradisional karinding dengan pengendalian kimiawi terhadap sifat kimia dan biologi tanah pada agroekosistem tanaman padi (Oryza sativa L.). Penelitian dilakukan di lahan persawahan Fakultas Pertanian Universitas Perjuangan Tasikmalaya dari Agustus hingga Desember 2024. Rancangan percobaan menggunakan metode eksperimental dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan, yaitu: P1 (kontrol tanpa perlakuan), P2 (karinding manual selama 1 jam), P3 (rekaman suara karinding selama 1 jam), dan P4 (pestisida sintetik klorpirifos). Setiap unit percobaan terdiri atas 10 rumpun tanaman padi dengan jarak antar rumpun 10 meter. Parameter yang diamati meliputi kandungan C-organik, N total, K-tersedia, pH tanah, serta populasi jamur dan bakteri tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan karinding manual (P2) memberikan pengaruh terbaik terhadap kandungan C-organik, N-total, dan K-tersedia dalam tanah. Sementara itu, perlakuan kontrol (P1) menunjukkan peningkatan populasi mikroorganisme (jamur dan bakteri) yang paling tinggi. Penggunaan pestisida sintetik (P4) cenderung menurunkan populasi mikroorganisme tanah secara signifikan. Penelitian ini membuktikan bahwa pengendalian hama secara fisik menggunakan karinding berpotensi menjadi alternatif ramah lingkungan yang tidak hanya efektif dalam mengendalikan hama, tetapi juga mendukung kesuburan dan keseimbangan biologis tanah. Excessive use of synthetic pesticides has been known to degrade soil quality and disrupt the balance of agroecosystems. This study aimed to compare the effectiveness of physical pest control based on local wisdom using the traditional musical instrument karinding with chemical control on soil chemical and biological properties in a rice (Oryza sativa L.) agroecosystem. The research was conducted at the experimental rice field of the Faculty of Agriculture, Universitas Perjuangan Tasikmalaya, from August to December 2024. A randomized experimental design with four treatments and four replications was applied: P1 (control), P2 (manual karinding for 1 hour), P3 (recorded karinding sound for 1 hour), and P4 (synthetic pesticide chlorpyrifos). Each experimental unit consisted of 10 rice clumps, with 10 meters of spacing between plots. Observed parameters included soil organic carbon (C-organic), total nitrogen (N-total), available potassium (K-available), pH, and populations of soil fungi and bacteria. Results showed that the manual karinding treatment (P2) had the greatest effect on soil organic C, total N, and available K content. Meanwhile, the control treatment (P1) exhibited the highest increase in soil microbial populations (fungi and bacteria). In contrast, synthetic pesticide application (P4) significantly reduced soil microbial populations. This study demonstrates that physical pest control using karinding is a promising, environmentally friendly alternative that not only controls pests effectively but also supports soil fertility and microbial balance.
Pengaruh Kombinasi Pupuk Limbah Sayur dan NPK terhadap Pertumbuhan dan Hasil Cabai Rawit Sharla Audi Febrian; Rudi Priyadi; Yogi Nirwanto
Media Pertanian Vol 11, No 1 (2026): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v11i1.18046

Abstract

Tanaman Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) masuk sebagai komoditas tanaman hortikultura yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Peningkatan pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit dengan melalui pemupukan tepat dan berimbang, baik dengan menggunakan pupuk anorganik maupun organik. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh kombinasi konsentrasi POC yang berasal dari limbah sayur dan NPK yang paling efektif dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit. Adapun metode yang digunakan dengan eksperimen melalui Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri atas 7 perlakuan dan diulang sebanyak 4 kali. Perlakuan yang diuji meliputi pemberian NPK tunggal, POC tunggal, serta kombinasi keduanya. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah buah per tanaman, bobot buah per tanaman, dan bobot buah per petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi konsentrasi POC limbah sayur dan NPK berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit. Pemberian NPK 200 kg/ha (4 g/tanaman) memberikan pertumbuhan vegetatif terbaik, sedangkan kombinasi POC limbah sayur 25 ml/L (56 ml/tanaman) dan NPK 125 kg/ha (2,5 g/tanaman) menghasilkan produksi buah tertinggi. Penggunaan kombinasi diatas dapat meningkatkan hasil tanaman cabai rawit. Chili peppers (Capsicum frutescens L.) are a horticultural commodity that is highly sought after by the community and has high economic value. The growth and yield of chili peppers can be increased through proper and balanced fertilization, using both inorganic and organic fertilizers. This study aims to determine the most effective combination of vegetable waste POC and NPK concentrations in increasing the growth and yield of chili peppers. The method used was an experiment using a Randomized Block Design (RBD) consisting of 7 treatments and 4 replications. The treatments tested included single NPK, single POC, and a combination of both. Parameters observed included plant height, number of leaves, stem diameter, number of fruits per plant, fruit weight per plant, and fruit weight per plot. The results showed that the combination of vegetable waste POC and NPK concentrations affected the growth and yield of chili peppers. Application of 200 kg/ha (4 g/plant) of NPK resulted in the best vegetative growth, while the combination of 25 ml/L (56 ml/plant) of vegetable waste fertilizer and 125 kg/ha (2.5 g/plant) of NPK resulted in the highest fruit production. Using this combination can increase cayenne pepper yields.
Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh, Asam Humat, dan Penggunaan Jumlah Ruas terhadap Pertumbuhan Stek Vanili (Vanilla planifolia ”Andrews”) Tutik Widyaningsih; Dyan Yoseph Mardhani; Arini Al Ifah
Media Pertanian Vol 11, No 1 (2026): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v11i1.14657

Abstract

Emas hijau adalah sebutan lain dari tanaman vanili karena harganya yang tergolong mahal. Saat ini Indonesia memasuki peringkat ketiga setelah Madagaskar dan Uganda sebagai penghasil vanili. Vanili Indonesia mengalami perkembangan ekspor cukup baik dengan trend yang fluktuatif. Oleh karena itu, vanili perlu pengembangan secara intensif baik dari budidaya, pengolahan maupun pasca panen. Tujuan dalam penelitian ini yaitu mengetahui aplikasi zat pengatur tumbuh, asam humat dan penggunaan jumlah ruas terhadap pertumbuhan stek vanili. Penelitian ini terdiri dari 2 faktor: perlakuan ruas (1, 3, dan 5 ruas), dan zat pengatur tumbuh serta asam humat (kontrol, rootone-f 1 g/L, vitasoil 5 ml/L dan vitasoil 10 ml/L) dengan 3 ulangan yang disusun menggunakan RAL faktorial. Komponen variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun dan daya tumbuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didapatkan interaksi dalam penggunaan jumlah ruas, zat pengatur tumbuh dan asam humat pada variabel presentase daya tumbuh dan tinggi tunas. Terdapat pengaruh nyata pada semua variabel pengamatan yaitu pada penggunaan jumlah ruas dan terbaik pada 5 ruas, sedangkan pengaruh nyata ada pada penggunaan zat pengatur tumbuh terhadap presentase daya tumbuh dan tinggi tunas. Penggunaan terbaik pada pemberian vitasoil 10 ml/L. Green gold is another name for vanilla plants due to their relatively high price. Currently, Indonesia ranks third after Madagascar and Uganda as a vanilla producer. Indonesian vanilla has experienced quite good export growth with a fluctuating trend. Therefore, vanilla requires intensive development both in cultivation, processing and post-harvest. The purpose of this study was to determine the application of growth regulators, humic acid and the use of the number of internodes on the growth of vanilla cuttings. This study consisted of 2 factors: internode treatment (1, 3, and 5 internodes), and growth regulators and humic acid (control, rootone-f 1 g/L, vitasoil 5 ml/L and vitasoil 10 ml/L) with 3 replications arranged using factorial RAL. The components of the observation variables include plant height, number of leaves and growth rate. The results showed that there was an interaction between the use of the number of internodes, growth regulators and humic acid on the variables of growth rate percentage and shoot height. There was a significant effect on all observation variables, namely on the number of internodes used, with the best being 5 internodes. Meanwhile, the significant effect was on the use of growth regulators on the percentage of growth power and shoot height. The best use was given at 10 ml/L of Vitasoil. 
Kultur In Vitro Anggrek Dendrobium bigibbum dengan Penambahan Kombinasi Ekstrak Umbi Bawang Merah dan Naphthalene Acetic Acid pada Media Vacin and Went Adam Saepudin; Suhardjadinata Suhardjadinata; Tini Sudartini; Sabyla Aura Yupandy
Media Pertanian Vol 11, No 1 (2026): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v11i1.18100

Abstract

Keberhasilan pertumbuhan tanaman anggrek secara in vitro ditentukan oleh kombinasi komponen media kultur yang sesuai dan penambahan zat pengatur tumbuh, serta pemberian bahan organik yang memberi pengaruh yang baik dalam proses kultur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak umbi bawang merah yang ditambahkan pada media kultur terhadap pertumbuhan biji anggrek Dendrobium bigibbum secara in vitro. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan 6 perlakuan dan 5 kali ulangan. Sebagai perlakuan yaitu menambahkan ekstrak bawang merah pada media kultur in vitro biji anggrek sebagai berikut : B0 = Ekstrak umbi bawang merah 0 g/L; B1 = Ekstrak umbi bawang merah 50 g/L + NAA 1,25 ppm; B2 = Ekstrak umbi bawang merah 100 g/L+ NAA 1 ppm; B3 = Ekstrak umbi bawang merah 150 g/L + NAA 0,75 ppm; B4 = Ekstrak umbi bawang merah 200 g/L + NAA 0,5 ppm; dan B5 = Ekstrak umbi bawang merah 250 g/L + NAA 0,25 ppm. Terdapat 30 unit percobaan dan setiap unit terdiri dari dua botol kultur. Kultur diinkubasi pada ruang terang dengan pencahayaan lampu TL 40 watt selama 24 jam, suhu 22°C - 25°C dan kelembaban relatif 60 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak umbi bawang merah dan hormon NAA ke media kultur VW secara signifikan memengaruhi pertumbuhan biji anggrek Dendrobium bigibbum. Media yang ditambahkan kombinasi ekstrak umbi bawang merah dengan konsentrasi 50 g/L dan hormon NAA 1,25 ppm terbukti paling efektif, menghasilkan persentase perkecambahan 77,53% pada 4 minggu setelah tanam, 10,8 fase perkembangan embrio pada 8 minggu setelah tanam, dan pertumbuhan protokorm sebesar 17,87% pada 12 minggu setelah tanam. The success of in vitro orchid seed germination is influenced by the use of the appropriate culture medium, including the addition of growth regulators and organic extracts. This research aims to determine the effective combination of concentrations of red onion bulb extract and NAA hormone on the germination of Dendrobium bigibbum. orchid seeds. The study employed a Completely Randomized Design (CRD) with 6 treatments, each repeated 5 times. Dendrobium bigibbum. orchid seeds were planted on VW (Vacin and Went) medium with the addition of a combination of red onion bulb extract and NAA hormone as follows: without treatment (A), red onion bulb extract 50 g/L + NAA 1.25 ppm (B), red onion bulb extract 100 g/L + NAA 1 ppm (C), red onion bulb extract 150 g/L + NAA 0.75 ppm (D), red onion bulb extract 200 g/L + NAA 0.5 ppm (E), red onion bulb extract 250 g/L + NAA 0.25 ppm (F). The culture was incubated in a well-lit room with 40-watt TL lamps for 24 hours, at a temperature of 22°C-25°C, and a relative humidity of 60%. The results indicated that the addition of red onion bulb extract and NAA hormone to the VW culture medium significantly affected the growth of Dendrobium bigibbum orchid seeds. The medium supplemented with a combination of red onion bulb extract at a concentration of 50 g/L and NAA hormone at 1.25 ppm proved to be the most effective, yielding a germination percentage of 77.53% at 4 weeks after planting, 10.8 embryo development phases at 8 weeks after planting, and a 17.87% growth of plantlet (Protocorm) at 12 weeks after planting.
Karakter Fisiologis Tanaman Jagung Manis dalam Sistem Tumpang Sari pada Beberapa Dosis Pemupukan Ada Rudiansyah Ritonga; Sakhidin Sakhidin; Muhammad Rif'an
Media Pertanian Vol 11, No 1 (2026): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v11i1.17855

Abstract

Strategi agroekologi berupa tumpang sari (intercropping) telah lama diterapkan dan terbukti mampu meningkatkan produktivitas lahan dan keberlanjutan sistem pertanian. Produktivitas dan keberlanjutan harus diimbangi dengan pemupukan tepat dosis, oleh karena itu perlu dilakukan telaah terhadap dosis pemupukan pada sistem monokultur dan tumpang sari. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Faktor pertama sistem tanam terdiri atas monokultur jagung manis; monokultur kacang hijau; dan tumpang sari. Faktor kedua dosis pemupukan, terdiri atas 0%; 50%; 100%; dan 150%. Data pengamatan dianalisis ragam apabila terdapat beda nyata, dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) taraf 5%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sistem tanam tidak memberikan pengaruh terhadap karakter fisiologis tanaman jagung manis. Dosis pemupukan 100% menunjukkan laju pertumbuhan tanaman, laju pertumbuhan absolut, dan indeks luas daun tanaman jagung manis dengan hasil terbaik, sedangkan pada nisbah kesetaraan lahan dengan pemupukan 0% menunjukkan hasil terbaik. Agroecological strategies such as intercropping have long been implemented and proven to increase land productivity and the sustainability of agricultural systems. Productivity and sustainability must be balanced with precise fertilizer dosages; therefore, it is necessary to examine fertilization rates in both monoculture and intercropping systems. This study utilized a Randomized Complete Block Design (RCBD). The first factor, cropping systems, consisted of sweet corn monoculture, mung bean monoculture, and intercropping. The second factor, fertilizer dosage, consisted of 0%, 50%, 100%, and 150%. Observational data were subjected to analysis of variance (ANOVA), and if significant differences were found, followed by the Least Significant Difference (LSD) test at a 5% level. Based on the research results, it can be concluded that the cropping system had no significant effect on the physiological characteristics of sweet corn plants. The 100% fertilization dose showed the best results for the crop growth rate, absolute growth rate, and leaf area index of sweet corn, whereas the land equivalent ratio showed the best results at the 0% fertilization level.
Farmers Behavior Towards Horticultural Plant Disease Infections in Bangka Regency Lesta Lesta; Riski Meliya Ningsih; Priestiani Priestiani; Rindi Renanda
Media Pertanian Vol 11, No 1 (2026): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v11i1.18028

Abstract

This study explores the knowledge, attitudes, and practices of farmers in Bangka Regency, Indonesia, regarding the management of diseases affecting horticultural crops. Field surveys and structured interviews were conducted across nine villages to assess the incidence of plant diseases and the control methods employed by local farmers. The results showed an average disease incidence of 23.33%, with the highest observed in cucumber crops at 66%. Most farmers (75%) practiced monoculture farming, which contributed to the persistence and spread of soil-borne diseases such as Fusarium wilt and root rot. Synthetic pesticides were the predominant control method, with 68% of farmers applying them regularly, and many exceeding recommended dosages. Although most respondents could visually identify disease symptoms, their understanding of disease development stages, causal agents, and sustainable control options was limited. Notably, none of the farmers were familiar with biological control agents and only a minority believed that organic materials could reduce disease incidence. The findings underscore a heavy dependence on chemical control and highlight a significant gap in awareness of integrated and environmentally friendly disease management practices. Factors such as improper pesticide use, poor seed quality, and suboptimal soil conditions further exacerbated disease risks. To enhance productivity and sustainability, it is critical to strengthen farmers' capacity through education and training in integrated disease management, emphasizing crop rotation, balanced fertilization, and the adoption of biological control strategies. These interventions are essential for reducing losses and promoting sustainable horticultural production in Bangka Regency.
Pemberian Pupuk Organik Kulit Kopi dan NPK Mutiara terhadap Pertumbuhan dan Produksi Ubi Jalar Cilembu (Ipomoea batatas L.) Arvita Netti Sihaloho; Irawaty Rosalyne; Siska Arie Santy Siahaan; Lilis Lestari
Media Pertanian Vol 11, No 1 (2026): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v11i1.17933

Abstract

Ubi jalar atau disebut juga dengan nama ilmiah Ipomoea batatas L. adalah tanaman yang tumbuh di daerah tropis Amerika, termasuk kelompok tanaman yang menghasilkan umbi. Kulit kopi dapat membantu ubi jalar dalam menyerap unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pupuk organik berupa kulit kopi serta pupuk NPK Mutiara, serta bagaimana keduanya berinteraksi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman ubi jalar (Ipomoea batatas L.). Penelitian dilakukan dari Januari hingga Mei 2025 di Sait Buttu, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, dengan ketinggian sekitar 1000 mdpl. Penelitian menggunakan desain Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk organik kulit kopi dengan tiga tingkatan yaitu K1=1,08kg plot-1, K2=1,8kg plot-1, dan K3=2,52kg plot-1. Faktor kedua adalah dosis pupuk NPK Mutiara dengan tiga tingkatan perlakuan yaitu N1=54g plot-1, N2 =90g plot-1, dan N3=126g plot-1. Parameter yang diamati meliputi jumlah cabang produksi, jumlah umbi tanaman-1, jumlah umbi plot-1, diameter umbi, berat umbi tanaman-1, dan berat umbi plot-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pupuk tersebut memiliki pengaruh nyata terhadap jumlah cabang utama pada usia 4 dan 6 MST, jumlah umbi tanaman-1, jumlah umbi plot-1, diameter umbi, berat umbi tanaman-1, dan berat umbi plot-1. Dosis pupuk kulit kopi terbaik adalah 2,52 kg plot-1, sedangkan dosis pupuk NPK Mutiara terbaik adalah 126 g plot-1. Interaksi antara kedua pupuk tersebut juga memiliki pengaruh berbeda terhadap jumlah cabang utama pada usia 6 MST, jumlah umbi plot-1, dan berat umbi plot-1. Sweet potato, also known by its scientific name Ipomea batatas L., is a plant that grows in the tropical regions of America and belongs to the group of plants that produce tubers. This research aims to determine the role of organic fertilizer in the form of coffee husks and NPK Mutiara fertilizer, as well as how both interact with the growth and production of sweet potato plants (Ipomoea batatas L.). The research was conducted from January to May 2025 in Sait Buttu, Pematang Sidamanik District, Simalungun Regency, at an altitude of approximately 1000 meters above sea level. The research used a Randomized Block Design (RBD) consisting of two factors. The first factor is the dose of organic coffee husk fertilizer with three levels: K1=1.08kgplot-1, K2=1.8kgplot-1, and K3=2.52kgplot-1. The second factor is the dose of NPK Mutiara fertilizer with three treatment levels: N1=54gplot-1, N2=90gplot-1, and N3=126gplot-1. The parameters observed include the number of productive branches, the number of tubers plant-1, the number of tubers plot-1, tuber diameter, tuber weight plant-1, and tuber weight plot-1. The research results show that both fertilizers have a significant effect on the number of main branches at 4 and 6 MST, the number of tubers per plant, the number of tubers plot-1, tuber diameter, tuber weight plant-1, and tuber weight plot-1. The best dose of coffee husk fertilizer is 2.52kg plot-1, while the best dose of NPK Mutiara fertilizer is 126g plot-1. The interaction between the two fertilizers also had a significant effect on the number of main branches at 6 MST, the number of tubers plot-1, and the weight of tubers plot-1.
Karakteristik Fisikokimia dan Bioaktif Minuman Fungsional Berbasis Gula Kelapa dengan Penambahan Ekstrak Serbuk Rimpang Selama Penyimpanan Achmad Wildan; Hidayah Dwiyanti
Media Pertanian Vol 11, No 1 (2026): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v11i1.18099

Abstract

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat, permintaan akan minuman fungsional yang tidak hanya menyegarkan tetapi juga memberikan manfaat kesehatan terus bertumbuh pesat. Gula kelapa sebagai pemanis alami berindeks glikemik rendah berpotensi dikombinasikan dengan ekstrak rimpang tropis seperti jahe, kencur, dan kunyit yang kaya senyawa fenolik dan antioksidan, namun pengaruh jenis rimpang terhadap stabilitas produk selama penyimpanan masih perlu dikaji. Minuman fungsional diformulasikan menggunakan gula kelapa sebagai pemanis dasar dengan penambahan ekstrak serbuk jahe, kencur, dan kunyit, kemudian dianalisis kadar air, total fenol, gula reduksi, dan asam lemak bebas pada tiga titik waktu penyimpanan (0, 1, dan 2 bulan). Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut pada taraf kepercayaan 95%. Jenis rimpang dan lama penyimpanan berpengaruh nyata terhadap karakteristik fisikokimia dan bioaktif minuman fungsional berbasis gula kelapa, dengan pola pengaruh yang bervariasi antar parameter dan jenis rimpang. Selama dua bulan penyimpanan, kadar air seluruh formula meningkat (2,30-3,69%), dengan kunyit menunjukkan absorpsi tertinggi akibat kandungan pati dan seratnya. Kadar total fenol menurun signifikan pada semua rimpang, dari kisaran 10,63-11,47 mg TAE/g menjadi 6,68-7,09 mg TAE/g, akibat oksidasi dan reaksi  browning non enzimatik. Kadar gula reduksi menurun paling cepat pada jahe (80,00%---62,59%) melalui reaksi Maillard, sementara kencur menunjukkan penurunan paling stabil. Kadar asam lemak bebas meningkat pada seluruh perlakuan, dengan jahe dan kencur lebih tinggi dibanding kunyit. Jenis rimpang dan lama penyimpanan secara nyata memengaruhi stabilitas fisikokimia dan bioaktif minuman fungsional berbasis gula kelapa, sehingga pengemasan kedap udara pada kelembapan rendah sangat dianjurkan untuk mempertahankan mutu produk. The growning demand for functional beverages has driven interest in natural, low glycemic sweeteners combined with bioactive ingredients. This study developed a functional beverage using coconut sugar as the base sweetener with the addition of ginger, galanga, and turmeric rhizome extracts, and evaluated their physicochemical and bioactive stability over two months of storage. Parameters analyzed included moisture content, total phenolic content, reducing sugar, and free fatty acids at 0, 1, and 2 months of storage. Data were analyzed using ANOVA with further testing at a 95% confidence level. The physicochemical and bioactive properties of functional beverages formulated with coconut sugar are significantly influenced by both rhizome variety and storage period, exhibiting distinct patterns of effect depending on the specific parameter and rhizome type evaluated. Results showed that moisture content increased across all formulas (2.30-3.69%), with turmeric exhibiting the highest absorption. Total phenolic content declined significantly in all treatments, from 10.63-11.47 mg TAE/g to 6.68-7.09 mg TAE/g, due to oxidation and non-enzymatic browning. Reducing sugar decreased most rapidly in ginger (80.00%--- 62.59%) via Maillard reaction, while galanga showed the most stable decline. Free fatty acids increased in all treatments, with ginger and galanga showing higher increments than turmeric. These findings indicate that rhizome type and storage duration significantly affect the physicochemical and bioactive stability of coconut sugar-based functional beverages, and airtight packaging under low humidity is recommended to preserve product quality.