cover
Contact Name
Tini Sudartini
Contact Email
tinisudartini@unsil.ac.id
Phone
+6289683432611
Journal Mail Official
jmedpertanian@unsil.ac.id
Editorial Address
Jl. Siliwangi No 24, Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, 46115
Location
Kota tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Media Pertanian
Published by Universitas Siliwangi
ISSN : 20854226     EISSN : 27458946     DOI : https://doi.org/10.37058/mp.v6i1
Core Subject : Agriculture,
Media Pertanian (e-ISSN: 2745-8946 dan p-ISSN: 2085-4226 ) adalah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi Tasikmalaya terbit dua kali dalam setahun pada bulan Mei dan November. Ruang lingkup naskah sebagai media publikasi artikel-artikel hasil penelitian maupun hasil review beberapa jurnal dalam bidang ilmu pertanian meliputi: ilmu dan teknologi pertanian, agronomi, ilmu hama dan penyakit tumbuhan, ilmu gulma, ekofisiologi tanaman, biodiversitas, bioteknologi, kehutanan, perkebunan, mikrobiologi pertanian, pemuliaan tanaman, ilmu dan teknologi pangan.
Articles 78 Documents
Efektivitas Agronomis dan Kelayakan Ekonomi Pupuk Fosfor Alternatif pada Budidaya Jagung Manis di Lahan Tropis Furqoni, Hafith
Media Pertanian Vol 10, No 2 (2025): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v10i2.16804

Abstract

Jagung manis (Zea mays L. saccharata) merupakan komoditas hortikultura bernilai tinggi yang semakin populer di Indonesia. Fosfor (P) merupakan unsur hara esensial yang berperan penting dalam pertumbuhan dan hasil tanaman, namun efisiensi penggunaan pupuk fosfor konvensional seperti SP-36 masih menjadi tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas agronomis dan ekonomis pupuk fosfor alternatif dengan kandungan P2O5 lebih tinggi dibandingkan SP-36 pada budidaya jagung manis di lahan tropis terbuka. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok dengan tujuh perlakuan dosis pupuk fosfor dan empat ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan vegetatif, komponen hasil, produktivitas, efektivitas agronomis relatif (RAE), dan analisis kelayakan usaha tani. Hasil menunjukkan bahwa aplikasi pupuk fosfor alternatif dosis 0,75–1,25 meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman secara signifikan dibandingkan kontrol. Dosis 1,0 menghasilkan efektivitas agronomis tertinggi (RAE 128%) dan keuntungan ekonomi terbesar (R/C 1,71). Analisis tanah menunjukkan peningkatan pH dan kandungan fosfor tersedia setelah aplikasi pupuk. Penelitian ini merekomendasikan dosis 117 kg ha-1 pupuk fosfor alternatif sebagai strategi pemupukan yang efisien dan berkelanjutan untuk budidaya jagung manis.  Sweet corn (Zea mays L. saccharata) is a high-value horticultural crop increasingly cultivated in Indonesia due to its short growing period and rising market demand. Phosphorus (P) is an essential macronutrient that plays a critical role in early plant development, yet the commonly used SP-36 fertilizer has limitations in P2O5 content and sustainability. This study aimed to evaluate the agronomic and economic effectiveness of alternative phosphorus fertilizers with higher P2O5 concentrations compared to SP-36 in open-field sweet corn cultivation under tropical conditions. A randomized complete block design was employed with seven fertilizer treatments and four replications. Observed parameters included vegetative growth, yield components, productivity, relative agronomic effectiveness (RAE), and farm profitability. Results showed that applying 0,75–1,25 doses of the tested phosphorus fertilizer significantly improved plant growth and yield compared to the control. The 1,0 dose treatment yielded the highest RAE (128%) and economic return (R/C ratio of 1,71). Soil analysis revealed increased pH and available phosphorus after fertilizer application. The study recommends a dose of 117 kg/ha of the tested phosphorus fertilizer as an efficient and sustainable strategy for enhancing sweet corn productivity and profitability.
Optimalisasi Pertumbuhan Jagung Manis Melalui Pengelolaan Fosfor Elfandari, Henni; Purnama Sari, Hevia; Fitri, Annisa; Ardiansyah, Sigit
Media Pertanian Vol 10, No 2 (2025): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v10i2.16848

Abstract

Zea mays L. var. saccharata merupakan salah satu komoditas hortikultura bernilai penting karena mengandung berbagai vitamin dan mineral dalam jumlah tinggi. Penurunan produktivitas tanaman ini sering dikaitkan dengan praktik pemupukan yang belum dilakukan secara tepat. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi respons pertumbuhan dan hasil jagung manis terhadap pemberian pupuk fosfor (P) pada beberapa tingkat dosis, sekaligus menentukan dosis yang paling optimal bagi tanaman. Penelitian berlangsung dari Maret hingga Juni 2024 di Lahan Percobaan Jurusan Budidaya Tanaman Pangan, Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan satu faktor, yaitu dosis fosfor, yang terdiri atas lima perlakuan: P0 (tanpa pupuk, 0 kg/ha), P1 (50 kg/ha), P2 (100 kg/ha), P3 (150 kg/ha), dan P4 (200 kg/ha). Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter tongkol, panjang tongkol, serta bobot hasil per petak. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pemberian pupuk SP-36 memberikan pengaruh nyata terhadap seluruh komponen pertumbuhan dan hasil dibandingkan dengan tanaman yang tidak dipupuk. Dosis 100 kg/ha teridentifikasi sebagai tingkat aplikasi yang paling efektif dalam meningkatkan performa pertumbuhan jagung manis.  Zea mays L. var. saccharata) is an important horticultural commodity due to its high content of various vitamins and minerals. Declines in its productivity are often associated with fertilization practices that are not applied appropriately. This study was conducted to assess the growth response and yield of sweet corn to the application of phosphorus (P) fertilizer at several dosage levels and to identify the most optimal dose for the crop. The research was carried out from March to June 2024 at the Experimental Field of the Department of Food Crop Cultivation, Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung. The experiment was arranged using a Randomized Complete Block Design (RCBD) with a single factor, namely phosphorus dosage, consisting of five treatments: P0 (no fertilizer, 0 kg/ha), P1 (50 kg/ha), P2 (100 kg/ha), P3 (150 kg/ha), and P4 (200 kg/ha). Observed parameters included plant height, number of leaves, cob diameter, cob length, and yield per plot. The results demonstrated that the application of SP-36 fertilizer had a significant effect on all growth components and yield variables compared with plants that did not receive phosphorus. The dosage of 100 kg/ha was identified as the most effective application rate for enhancing the growth performance of sweet corn.
Analisis Vegetasi Gulma Pasca-Panen Tanaman Padi di Kabupaten Gayo Lues Pani, Mario; Ramut, Anuar; Sari, Rahayu Eka; Batubara, Junianto S.; Efendi, Usman
Media Pertanian Vol 10, No 2 (2025): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v10i2.16852

Abstract

Padi merupakan tanaman pangan utama dengan tingkat konsumsi tinggi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. Salah satu kendala utama dalam optimalisasi hasil panen padi adalah keberadaan gulma yang berkompetisi dengan tanaman dalam memperoleh sumber daya penting seperti air, cahaya, dan unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi, dominansi, dan tingkat kesamaan komunitas gulma di lahan sawah pascapanen pada enam desa yang tersebar di tiga kecamatan: Blangjerango, Kutapanjang, dan Blangkejeren. Metode kuadrat digunakan untuk pengambilan sampel, dan parameter yang diamati meliputi kerapatan relatif, frekuensi relatif, dan dominansi relatif yang diintegrasikan ke dalam nilai Summed Dominance Ratio (SDR). Hasil identifikasi menunjukkan bahwa Desa Gegarang memiliki 29 spesies gulma yang didominasi oleh Bacoppa crenata (SDR 30,77%), 12 spesies di Peparik Gaib (Fimbristylis littoralis, SDR 21,01%), 15 spesies di Ulon Tanoh (Cyperus brevifolius, SDR 40,45%), 12 spesies di Beranang (Cyperus halpan, SDR 27,67%), 17 spesies di Penggalangan (Fimbristylis quinquangularis, SDR 36,59%), dan 19 spesies di Sepang (Pluchea indica, SDR 26,51%). Analisis koefisien komunitas menunjukkan tingkat kemiripan spesies yang tinggi antar desa dalam satu kecamatan (89%) dan variasi spesies yang lebih besar antar kecamatan (72,7%-95,8%). Temuan ini mengindikasikan bahwa struktur komunitas gulma sangat dipengaruhi oleh kondisi agroekosistem lokal dan praktik budidaya yang diterapkan. Penelitian ini memberikan data dasar penting untuk merancang strategi pengendalian gulma yang tepat, berkelanjutan, dan ramah lingkungan pada lahan persawahan Kabupaten Gayo Lues.  Rice is a major food crop with high consumption levels in various regions of Indonesia, including Gayo Lues Regency, Aceh Province. One of the main challenges in optimizing rice harvest yields is the presence of weeds that compete with the plants for essential resources such as water, light, and nutrients. This study aims to analyze the composition, dominance, and similarity of weed communities in post-harvest rice fields across six villages spread over three sub-districts: Blangjerango, Kutapanjang, and Blangkejeren. The quadrat method was used for sampling, and the observed parameters included relative density, relative frequency, and relative dominance, which were integrated into the Summed Dominance Ratio (SDR). Identification results indicate that Gegarang Village has 29 weed species dominated by Bacopa crenata (SDR 30.77%), 12 species in Peparik Gaib (Fimbristylis littoralis, SDR 21.01%), 15 species in Ulon Tanoh (Cyperus brevifolius, SDR 40.45%), 12 species in Beranang (Cyperus halpan, SDR 27.67%), 17 species in Penggalangan (Fimbristylis quinquangularis, SDR 36.59%), and 19 species in Sepang (Pluchea indica, SDR 26.51%). Community coefficient analysis shows a high similarity in species among villages within a sub-district (89%) and greater species variation between sub-districts (72.7%-95.8%). These findings indicate that the structure of weed communities is heavily influenced by local agroecosystem conditions and farming practices applied. This study provides essential baseline data for designing appropriate, sustainable, and environmentally friendly weed control strategies in rice fields in Gayo Lues Regency. 
Keanekaragaman Artropoda pada Berbagai Kombinasi Pola Tanam Jagung Ketan dan Edamame Aisyah, Mahindra Dewi Nur; Kurniawan, Bayu; Erdiansyah, Iqbal; Alif, Trisnani; Soelaksini, Liliek Dwi; Irawan, Triono Bambang; Widodo, Tirto Wahyu; Rohimatun, Rohimatun
Media Pertanian Vol 10, No 2 (2025): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v10i2.16570

Abstract

Sistem tanam monokultur yang umum diterapkan petani cenderung menurunkan kestabilan agroekosistem karena meningkatnya risiko serangan hama dan penyakit. Salah satu alternatifnya ialah sistem polikultur yang dapat memperkaya habitat bagi berbagai jenis artropoda, termasuk musuh alami hama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman artropoda pada berbagai kombinasi tanam jagung ketan dan kedelai edamame dengan tambahan tanaman border serai dan kemangi. Penelitian dilaksanakan pada empat tipe lahan pertaniandi Kebonsari, Jember, Jawa Timur: 1) monokultur jagung ketan, 2) polikultur jagung ketan-edamame, (3) polikultur jagung ketan-edamame dengan border serai, dan 4) polikultur jagung ketan-edamame dengan border kemangi. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan pitfall trap, yellow trap, dan sweep net, sedangkan data dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman (H'), kemerataan (E), dan dominasi (C). Hasil menunjukkan bahwa perlakuan polikultur bersamaan dengan border tanaman aromatik terbukti meningkatkan keseimbangan komunitas arthropoda yang menguntungkan. Polikultur kemangi efektif meningkatkan parasitoid, sedangkan polikultur serai lebih optimal dalam meningkatkan predator dan penyerbuk.  The monoculture system commonly practiced by Indonesian farmers tends to reduce agroecosystem stability due to the higher risk of pest and disease. On the other hand, polyculture can provide a more diverse habitat that supports beneficial arthropods, including natural enemies. This study aimed to analyze the diversity of arthropods in various planting combinations of waxy maize and edamame with additional border plants of lemongrass and basil. The research was conducted from June to September 2024 in Kebonsari, Jember, East Java, using four treatments: (1) maize monoculture, (2) maize–edamame polyculture, (3) maize–edamame polyculture with lemongrass borders, and (4) maize–edamame polyculture with basil borders. Arthropod sampling was carried out using pitfall traps, yellow traps, and sweep nets, and data were analyzed using the diversity index (H'), evenness index (E), and dominance index (C). The results showed that the polyculture combined with aromatic plants as a border effectively enhanced the balance of beneficial arthropod communities. Polyculture with basil effective in increasing parasitoid abundance, while polyculture with lemongrass is more optimal in increasing predators and pollinators. 
Pengaruh Waktu Penyangraian Terhadap Aktivitas Antioksidan Biji Kakao Fermentasi Pallawa, Nadirah B. Andi; Salam, Miming Berlian Hi B; Mantoki, Servans
Media Pertanian Vol 10, No 2 (2025): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v10i2.15176

Abstract

Biji kakao (Theobroma cacao) merupakan sumber antioksidan alami yang potensial, terutama senyawa polifenol, yang keberadaannya dapat terpengaruh oleh proses pengolahan, termasuk penyangraian. Proses penyangraian berperan penting dalam menentukan kualitas akhir kakao, tidak hanya dari sisi sensori tetapi juga bioaktivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh waktu penyangraian (10, 14, 18, dan 22 menit) terhadap aktivitas antioksidan biji kakao fermentasi. Analisis dilakukan menggunakan metode DPPH dan dinyatakan dalam nilai IC50 (mg/mL) dengan Rancangan Acak Lengkap satu faktor. Hasil menunjukkan perbedaan signifikan antar perlakuan (p 0,05), di mana aktivitas antioksidan tertinggi (IC50 terendah sebesar 6,29 - 4,45 mg/mL) diperoleh pada penyangraian selama 22 menit. Peningkatan aktivitas ini diduga terkait dengan pembentukan senyawa hasil reaksi Maillard. Dalam kondisi penelitian pada suhu 135 'C, waktu penyangraian 22 menit memberikan aktivitas antioksidan tertinggi sehingga dapat dipertimbangkan sebagai waktu yang paling menguntungkan. Namun, studi optimasi lebih lanjut dengan variasi suhu dan kondisi proses lain masih diperlukan untuk menetapkan waktu penyangraian yang benar-benar optimal.  Cocoa beans (Theobroma cacao) are a rich source of natural antioxidants, particularly polyphenolic compounds, the stability of which may be affected by post-harvest processing, including roasting. Roasting plays a crucial role in shaping the sensory quality of cocoa and influencing its bioactivity. This study aimed to evaluate the effects of different roasting durations (10, 14, 18, and 22 min) on the antioxidant activity of fermented cocoa beans. Antioxidant activity was measured using the DPPH method and expressed as IC50 (mg/mL) under a completely randomized design. Significant differences were observed among the treatments (p 0.05), with the highest antioxidant activity (lowest IC50 of 6.29 ± 4.45 mg/mL) achieved after 22 min of roasting. This enhancement is likely associated with the formation of Maillard reaction products during roasting. Under the roasting conditions applied in this study (135 °C), a duration of 22 min provided the highest antioxidant activity and can be considered the most favourable time. Nevertheless, further optimisation studies involving different temperatures and processing conditions are required to establish the truly optimal roasting time. 
Kombinasi Pupuk NPK dan Organik serta Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Lucky, Maylani; Tobing, Laurensius; Novitasari, Filda; Erwin, Erwin
Media Pertanian Vol 10, No 2 (2025): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v10i2.16976

Abstract

Tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) termasuk produk hortikultura dengan prospek ekonomi yang sangat baik, namun produksinya di Kalimantan Barat masih rendah akibat keterbatasan kesuburan tanah podsolik merah kuning (PMK). Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh pemupukan organik dan NPK serta menentukan dosis terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Institut Teknologi Keling Kumang pada Mei–Agustus 2025 menggunakan rancangan Split Plot dengan perlakuan utama pupuk organik (P1: kotoran ayam, P2: sludge) dan anak petak pupuk NPK dengan dosis N0: 0 g, N1: 5 g, N2: 10 g, N3: 15 g, dan N4: 20 g per tanaman, masing-masing dilakukan dalam tiga ulangan. Variabel pengamatan terdiri dari tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, bobot umbi, dan jumlah umbi. Analisis data dilakukan dengan ANOVA yang kemudian dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK dan organik berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif bawang merah. Pupuk NPK dosis 15 g/tanaman memberikan hasil terbaik pada tinggi tanaman (39,46 cm), jumlah anakan (6,65 rumpun), dan berat umbi (42,41 g), serta lebih efisien dibanding dosis 20 g. Pupuk organik kotoran ayam meningkatkan tinggi tanaman (41,09 cm), jumlah daun (25,71 helai), dan jumlah anakan (6,35 rumpun) dibanding sludge. Namun, pemberian pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah umbi. Kombinasi pupuk NPK 15 g/tanaman dan pupuk kandang ayam direkomendasikan untuk meningkatkan pertumbuhan serta produktivitas bawang merah secara optimal di tanah PMK.   Shallot (Allium ascalonicum L.) is a high-economic-value horticultural commodity; however, its production in West Kalimantan remains low due to the limited fertility of red-yellow podzolic (PMK) soils. This investigation aimed to explore the effect of organic and NPK fertilizers and identify the optimal dosage for shallot growth and yield. The research was conducted at the Experimental Garden of Institut Teknologi Keling Kumang from May to August 2025 using a Split Plot Design. The main plots consisted of organic fertilizers (P1: chicken manure, P2: sludge), and the subplots were NPK fertilizer doses (N0: 0 g, N1: 5 g, N2: 10 g, N3: 15 g, N4: 20 g per plant), with three replications. Observed variables included plant height, number of leaves, number of tillers, bulb weight, and number of bulbs. Data were analyzed using ANOVA and continued with LSD at 5%. The results showed that NPK and organic fertilizers significantly affected the vegetative growth of shallots. An NPK dose of 15 g/plant resulted in the best performance for plant height (39.46 cm), number of tillers (6.65 clumps), and bulb weight (42.41 g), and was more efficient than the 20 g dose. Chicken manure improved plant height (41.09 cm), number of leaves (25.71), and number of tillers (6.35 clumps) compared to sludge. However, fertilizer application did not significantly affect the number of bulbs. The combination of 15 g NPK/plant and chicken manure is recommended to enhance shallot growth and yield on PMK soils. 
Pengaruh Konsentrasi dan Frekuensi POC Biofouling Tiram Mutiara terhadap Kerapatan Stomata Hotong (Setaria italica (L.) Nendissa, Jeanne Ivonne; Riry, Johan; Patty, Jogeneis; Amba, Martha; Wahditiya, Andi Adriani; Lating, Raudatul Janna
Media Pertanian Vol 10, No 2 (2025): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v10i2.16433

Abstract

Ketersediaan nutrisi berperan penting dalam mengatur fungsi fisiologis tanaman, termasuk pembentukan dan kerapatan stomata yang memengaruhi efisiensi fotosintesis serta penggunaan air. Salah satu sumber nutrisi organik potensial adalah Pupuk Organik Cair (POC) berbasis biofouling Tiram Mutiara, yang mengandung unsur hara esensial seperti nitrogen, fosfor, dan kalium. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi dan frekuensi aplikasi POC biofouling Tiram Mutiara terhadap kerapatan stomata tanaman hotong (Setaria italica (L.)). Penelitian dilaksanakan di Desa Mamala, Kabupaten Maluku Tengah, dari Oktober 2023 hingga Januari 2024, menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dua faktor, yaitu konsentrasi POC (0, 10, 20, dan 30 mL/L) serta frekuensi aplikasi (satu kali pada 25 Hari Setelah Tanam [HST] dan dua kali pada 25 dan 50 HST). Hasil analisis varians menunjukkan bahwa kedua faktor berpengaruh signifikan terhadap kerapatan stomata, tinggi tanaman, dan jumlah daun. Perlakuan P3W2 (30 mL/L, dua kali aplikasi) memberikan nilai tertinggi dengan kerapatan stomata 366,67 stomata/cm². Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi dan frekuensi aplikasi POC biofouling meningkatkan aktivitas fisiologis tanaman melalui pembentukan stomata yang lebih padat dan efisien. Dengan demikian, POC biofouling Tiram Mutiara berpotensi digunakan sebagai pupuk organik ramah lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan efisiensi fotosintesis tanaman hotong.  Nutrient availability plays a crucial role in regulating plant physiological functions, including stomatal formation and density, which directly affect photosynthetic efficiency and water use. One promising organic nutrient source is Pearl Oyster biofouling-based liquid organic fertilizer (POC), which contains essential elements such as nitrogen, phosphorus, and potassium. This study aimed to examine the effects of different concentrations and application frequencies of Pearl Oyster biofouling POC on the stomatal density of foxtail millet (Setaria italica (L.)). The research was conducted in Mamala Village, Central Maluku Regency, from October 2023 to January 2024, using a randomized complete block design (RCBD) with two factors: POC concentration (0, 10, 20, and 30 mL/L) and application frequency (once at 25 Days After Planting [DAP] and twice at 25 and 50 DAP). Analysis of variance revealed significant effects of both factors on stomatal density, plant height, and leaf number. The highest stomatal density (366.67 stomata/cm²) was observed in treatment P3W2 (30 mL/L applied twice). These findings indicate that higher concentrations and more frequent applications of biofouling-based POC enhance plant physiological activity by promoting denser and more efficient stomatal development. Therefore, Pearl Oyster biofouling POC can serve as an environmentally friendly organic fertilizer that supports improved growth and photosynthetic efficiency in Setaria italica (L.).
Uji Efektivitas Ekstrak Daun Jarak Cina (Jatropha multifida L.) Sebagai Antifungi Fusarium sp. Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman Cabai Besar Hodiyah, Ida; Undang, Undang; Apriliani, Sulistia
Media Pertanian Vol 10, No 2 (2025): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v10i2.14630

Abstract

Fusarium sp. merupakan salah satu patogen yang menyebabkan rendahnya produktivitas tanaman cabai besar. Upaya utama yang umum dilakukan petani dalam pengendaliannya yaitu dengan penggunaan pestisida kimia yang berdampak buruk bagi tanaman dan lingkungan. Penggunaan ekstrak daun jarak cina dapat menjadi alternatif dalam menghambat pertumbuhan Fusarium sp. karena mengandung senyawa antifungi seperti flavonoid, saponin, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun jarak cina terhadap pertumbuhan Fusarium sp. secara in vitro dan in vivo. Percobaan dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Agustus tahun 2024. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap untuk in vitro pada konsentrasi 35%, 40%, 45%, 50%, 55% dan 60%, serta Rancangan Acak Kelompok untuk in vivo dengan menggunakan konsentrasi yang efektif dari hasil pengujian in vitro. Hasil pengujian in vitro menunjukkan bahwa ekstrak daun jarak cina dengan konsentrasi 55% dan 60% memiliki diameter hambat 0 mm dan daya hambat 100% selama 7 hari setelah inokulasi (HSI). Adapun hasil pengujian in vivo menunjukkan bahwa konsentrasi 55% dan 60% berpengaruh terhadap jumlah daun, kejadian penyakit, serta keparahan penyakit layu fusarium pada tanaman cabai besar selama 21 hari setelah tanam (HST). Fusarium sp. is one of the pathogens that cause low productivity of chili plants. The main method commonly used by farmers in controlling the wilt disease is using chemical pesticides that have a negative impact on plants and the environment. The use of chinese castor leaf extract can be an alternative in inhibiting the growth of Fusarium sp. because it contains antifungal compounds such as flavonoids, saponins, and tannins. This research aimed to determine the effect of chinese castor leaf extract on the growth of Fusarium sp. in vitro and in vivo. This experiment was conducted from March to August 2024. The experiment was conducted using a Completely Randomized Design for in vitro in concentration of 35%, 40%, 45%, 50%, 55% and 60%, and a Randomized Group Design for in vivo using effective concentrations from in vitro results. The results of in vitro testing showed that Chinese castor leaf extract with a concentration of 55% and 60% had an inhibition diameter of 0 mm and 100% inhibition for 7 days after inoculation. The results of in vivo testing showed that concentrations of 55% and 60% had an effect on the number of leaves, disease incidence, and severity of fusarium wilt disease in large chili plants 21 days after planting.