cover
Contact Name
Media Pustakawan
Contact Email
media.pustakawan@gmail.com
Phone
+6287876564261
Journal Mail Official
media.pustakawan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Salemba Raya No.28 A, Pusat Pembinaan Pustakawan
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Pustakawan
Published by Perpustakaan Nasional
ISSN : 08529248     EISSN : 26853396     DOI : https://doi.org/10.37014/medpus
Core Subject : Science,
Jurnal Media Pustakawan merupakan terbitan Perpustakaan Nasional, Pusat Pembinaa Pustakawan(Pusat Pembinaan Pustakawan) yang berfokus pada bidang ilmu perpustakaan dan informasi khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kepustakawanan . Artikel Jurnal yang diterbitkan merupakan hasil kajian atau penelitian yang dapat bersumber dari studi literatur, studi lapangan, eksperimen, dan implementasi dari konsep, teori & model di bidang kepustakawanan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 415 Documents
Transformasi Perpustakaan Khusus menjadi Data Labs dalam Mendukung Open Data dan Open Government di Indonesia Madiareni Sulaiman
Media Pustakawan Vol 28, No 1 (2021): April
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (875.531 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v28i1.1165

Abstract

Data Labs is one of the elements of the data center and has been owned by almost all organizations in the special library environment for government and private institutions, on behalf of the data and information center. The term, data labs, become the focus of the study in its function to maximize the use of data (reusable data) in institutional repositories and generally managed by special libraries. The discussion focuses on material that answers the function/role of a special library as data labs; current and future challenges; how information professionals respond to these challenges; as well as how to see the potential of the collections and content they have. Survey analysis and data collection through depth-interviews are a form of research approach in this study. Based on the results of the study, it was found that most of the respondents had played a part in supporting the openness of data in their institutions, and had some of the functions of data labs. There are several things that need to be considered further, namely the points for the roles they have (digital divide, data management, and knowledge workers), challenge points (policies and data openness ecosystem), response points (targeted-groups, business processes, action plans, and skill-upgrade), as well as points for the potential collections and content owned by the institutions (advocacy, needs analysis, open data principles, and inclusiveness). The research results are expected to be the basis for policy in determining the position of special libraries with data labs functions to support institutions’ performance. So it can be concluded that in supporting the transformation of this function, it is necessary to provide competent employees in accordance with the needs for the future development of data repository content, as well as in line with government programs and the global community related to data transparency and governance in Indonesia.
Tantangan Kepustakawanan Di Era Disrupsi Dedi Junaedi
Media Pustakawan Vol 26, No 3 (2019): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.065 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v26i3.554

Abstract

Hubungan pemustaka dengan perpustakaan dan pustakawan mengalami transformasi menjadi suatu ruang publik yang bersifat kompleks. Kompleksitas ruang publik ini tidak hanya untuk menampung interaksi antara pemustaka dan pustakawan dalam hubungannya dengan akses informasi dan pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pertemuan antar-generasi, antar-kepentingan, antar-komunitas, antar-profesi yang bersatu dan berinteraksi dengan pustakawan, teknologi, jejaring dan direkatkan oleh bahan perpustakaan dan dokumen koleksi perpustakaan. Pustakawan di era disrupsi harus mampu mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan dengan melakukan berbagai terobosan. Perpustakaan harus berkreasi dan merespon perubahan yang muncul setelah disrupsi, antara lain dengan beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Pustakawan harus mampu menunjukkan bahwa dirinya merupakan pilar pendidikan menuju masyarakat berperadaban tinggi melalui diseminasi informasi sehingga masyarakat mampu membedakan informasi mana yang hoax dan yang valid. Masalah penting kepustakawanan Indonesia adalah terjadinya ketidak-merataan jumlah dan kondisi perpustakaan. Saat ini Indonesia hanya mampu menyediakan 20% dari total kebutuhan masyarakat untuk mengakses perpustakaan. Saat ini 4 hal yang harus diperbaiki perpustakaan dalam menciptakan layanan prima di era disrupsi yaitu: Peningkatan akses informasi, perbaikan layanan perpustakaan, memetik manfaat pembelajaran dari pengalaman, perbaikan sumber daya manusia di perpustakaan.
Jurnal Oseanologi dan Limnologi di Indonesia (OLDI) 2008 – 2013: Analisis bibliometrika Rochani Nani Rahayu; Nurhayati Nurhayati
Media Pustakawan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.833 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v22i1.789

Abstract

Penelitian ditujukan untuk mengetahui: 1) Jumlah artikel jurnal OLDI 2008 – 2013; 2) Jumlah referensi yang digunakan dalam artikel; 3) Komposisi artikel berbahasa Inggris dan Indonesia; 4) Jenis kelamin penulis artikel; 5)Tingkat kolaborasi penulis; 6) Instansi tempat bekerja penulis. Penelitian dilakukan secara deskriptif dengan sumber data jurnal Oseanologi dan Limnologi di Indonesia (OLDI) periode 2008 – 2013. Pengumpulan data dilakukan dengan mencatat variabel yang diteliti secara manual ke dalam lembar kerja, kemudian data diolah secara distribusi frekuensi dan disajikan dalam bentuk tabel dan gambar. Hasil penelitian: 1) Terdapat 180 judul artikel dan rata-rata per tahun 30 judul. Jumlah per tahun 2008 – 2013 berturut-turut 28; 27; 28; 33; 35 dan 29 judul; 2) Sejumlah 4.670 referensi digunakan pada 180 artikel, dengan rata-rata per tahun adalah 25,94 referensi. Tahun 2008-, 2013 jumlah referensi berturut–turut adalah 23,50; 25,66; 23,14; 26,39; 28,20; 28,03  ;3) Sebanyak 162 artikel (90%) berbahasa Indonesia dan 18 judul (10%) berbahasa Inggirs; 4) Total penulis 321 orang terdiri atas  laki-laki 212 orang (66,04%) dan perempuan 109 orang (33,95%); 5) Tingkat kolaborasi penulis 2008 – 2013 adalah 0,61, 0,44, 0,50, 0,27, 0,34, 0,52, secara rata-rata adalah 0,45;6) Dijumpai tiga besar  instansi tempat penulis bekerja yaitu Pusat Penelitian Oseanologi muncul 208 kali (64,20%), Pusat Penelitian Limnologi 57 kali (17,59%) dan Institut Pertanian Bogor sebanyak 16 kali (4,94%), dan 6 instansi (1,85%) dari Jepang. Kesimpulan: 1) Empat periode menunjukkan jumlah artikel berada di bawah rata-rata dan dua periode di atas rata-rata; 2) Tiga periode menunjukkan jumlah referensi yang digunakan di atas rata-rata dan tiga periode di bawah rata-rata.; 3)Artikel berbahasa Indonesia lebih banyak dibandingkan artikel berbahasa Inggris; 4) Penulis laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan penulis perempuan; 5) Penulis individu lebih banyak dibandingkan dengan penulis berkolaborasi; 6) Instansi tempat bekerja penulis terbanyak adalah tempat jurnal OLDI diterbitkan.
Peran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Dalam Pengembangan Perpustakaan Perguruan Tingg Edy Pranoto
Media Pustakawan Vol 16, No 3&4 (2009): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.378 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v16i3&4.919

Abstract

Perpustakaan Perguruan Tinggi berfungsi sebagai penunjang pelaksanaan Tri dharma Perguruan Tinggi di mana perpustakaan tersebut bernaung. Pembinaan Ditjen Dikti terhadap Perpustakaan Perguruan Tinggi di berbagai bidang seyogyanya diselenggarakan lagi, sebab  bila pembinaan dan pengembangan perpustakaan tersebut hanya mengandalkan perguruan tinggi yang bersangkutan, perkembangannya tidak secepat bila ada uluran tangan dari Ditjen Dikti. Frame of Reference antara pustakawan dan pengguna perpustakaan di perguruan tinggi seharusnya seimbang. Di perguruan tinggi punya program pendidikan jenjang Diploma, S1, S2, dan S3, karena itu bantuan bagi pustakawan untuk melanjutkan studi pada jenjang Pendidikan Diploma 3, S-1, dan S-2 Ilmu Perpustakaan seyogyanya diselenggarakan lagi mengingat sekarang sudah semakin banyak pustakawan di perguruan tinggi yang berpotensi untuk melanjutkan studi agar kualitas SDM-nya meningkat, yakni semakin professional. Demikian pula bantuan pembelian buku-buku, langganan majalah ilmiah/junal seyogyanya terus diselenggarakan agar sumber informasinya semakin lengkap. Menyangkut pembinaan pendidikan jenjang Diploma, S-1, dan S-2 Ditjen Dikti dapat bekerja sama dengan perguruan tinggi penyelenggara pendidikan Juruan Ilmu Perpustakaan, seperti UNDIP, UGM, UI, UNPAD, UNAIR, dan lain-lain. Menyangkut Diklat, Ditjen Dikti dapat bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional RI yang telah mempunyai program-program Diklat dari jenjang terendah (tersingkat) sampai jenjang tertinggi (terlama).
Analisis Kesiapan dan Tantangan Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia Menghadapi Era 4.0 Rhoni Rodin
Media Pustakawan Vol 26, No 2 (2019): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.855 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v26i2.179

Abstract

Abstrak Era 4.0 merupakan era revolusi industri teknologi yang secara fundamental akan mengubah paradigma berpikir dan cara kerja. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis kesiapan dan tantangan perpustakaan perguruan tinggi Islam dalam menghadapi era 4.0. Jenis penelitian ini adalah studi literatur dengan analisis data menggunakan metode analisis deskriptif. Hasilnya menunjukkan bahwa kesiapan dan tantangan perpustakaan perguruan tinggi Islam di Indonesia tidak hanya mengedepankan peran tradisional dengan menyediakan sarana fisik semata, tetapi lebih ke perpustakaan yang juga memahami value perpustakaannya. Perpustakaan perguruan tinggi Islam di Indonesia selain menghadapi perkembangan teknologi yang amat pesat, juga perlu siap menghadapi perubahan dalam perilaku pengguna yang ikut berubah sesuai perkembangan zaman. Tantangan yang lainnya adalah aspek dari misi perguruan tinggi, yaitu mengembangkan dan memajukan penelitian. Gerakan open access juga merupakan salah satu tantangan yang harus segera dijawab oleh pihak perpustakaan perguruan tinggi Islam. Kemudian tantangan untuk mengakomodasi perubahan pesat dalam pengajaran yang juga amat dipengaruhi oleh perkembangan penggunaan teknologi informasi seperti sekarang ini. Abstract The era of 4.0 was the era of the technological industry revolution that would change the paradigm of thinking and how to work. This paper tries to analyze the readiness and challenges of Islamic college libraries in the challenges of the era of 4.0. This type of research is a literature study with data analysis using descriptive analysis methods. Islamic college libraries in Indonesia do not only prioritize traditional roles by providing physical facilities, but more on libraries that also increase the value of their libraries. Islamic college libraries in Indonesia in addition to developing technology that is very fast, also needs repairs available to users that also change according to the times. Another challenge is the aspect of the college's mission, which is to develop and advance research. The open access movement is also one of the challenges that must be answered immediately by the Islamic college libraries. Next is the challenge for development, change that is fast, popular, and useful.
kompetensi dan sertifikasi pustakawan: ditinjau dari kesiapan dunia pendidikan ilmu perpustakaan Ninis Agustini Damayani
Media Pustakawan Vol 18, No 3 (2011): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.173 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v18i3.826

Abstract

Globalisasi di awal millennium ini ditandai dengan keterhubungan antar manusia di negara yang berbeda dalam sebuah jaringan (online) atau konvenrgensi antara komputer pribadi, di mana setiap individu dapat menjadi komunikator sekaligus komunikate tanpa menghiraukan jarak antara mereka sehingga memungkinkan mengerjakan sebuah materi digital secara bersamaan. Hal ini mengakibatkan muncul banyak informasi yang tentu saja sangat beragam. Banyaknya informasi tersebut menghasilkan sebuah ledakan informasi sehingga dibutuhkan seseorang yang dapat mengelola informasi, menentukan informasi yang dibutuhkan, menyeleksi, mengorganisasikan informasi, menyebarkan dan melestarikannya. Profesi yang menjalankan hal tersebut adalah pustakawan, sehingga peran Penyelenggara Pendidikan Ilmu Perpustakaan dan Informasi menjadi penting karena merupakan “penghasil” pustakawan.  Kompetensi pustakawan meliputi kompetensi mengumpulkan informasi (collection information), processing information, disseminating of information, preserving of information. Penyelenggara Pendidikan Ilmu Informasi dan Perpustakaan memiliki peran besar untuk menghasilkan pustakawan­pustakawan yang memi liki kompetensi yang sanggup menjawab tantangan dan persaingan global. Namun tak kalah penting tangan­tangan dingin dan pengalaman para pustakawan senior di tempat mereka bekerja akan melengkapi pengetahuan, keterampilan, serta sikap perilaku mereka agar  sesuai standar yang ditetapkan. Penyelenggara Pendi dikan Ilmu Informasi dan Perpustakaan di Indonesia berjumlah lebih kurang 23 dan terdiri dari jenjang D3, S1, dan S2.  Meski masing­masing Program Studi Ilmu Pepustakaan ini tidak berada pada Fakultas yang sama, seperti JIIP UNPAD dibawah FIKOM, sedang JIIP UI dibawah FIB dll, namun perbedaan tersebut justru merupakan nilai tambah bagi masing­masing PRODI yang akan memberi warna  khas pada lulusannya.
Kesiapan Kepustakaan LIPI Kawasan Bandung Dalam Menghadapi Indusitri 4.0 Kamaludin Kamaludin
Media Pustakawan Vol 27, No 1 (2020): April
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.895 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v27i1.753

Abstract

Kehadiran Industri 4.0 berpengaruh terhadap segala aspek pelayanan, termasuk  pelayanan perpustakaan, Industri 4.0 adalah fenomena dimana teknologi cyber dan teknologi otomatisasi dikolaborasikan, penerapan Industri 4.0 ini berpusat pada konsep otomatisasi yang dilakukan oleh teknologi tanpa memerlukan tenaga kerja manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persiapan Kepustakaan LIPI Kawasan Bandung dalam menerapkan Industri 4.0. Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif. Dari hasil penelitian diketahi bahwa pengadaan bahan pustaka telah memanfaatakan TIK, yaitu dengan menyebarkan formulir pengadaan melalui Google Sheets untuk mendapatkan daftar koleksi yang dibutuhkan, mencari bahan pustaka dari katalog penerbit pada Website  dan melakukan pembelian secara online. Pengadaan film sains diperoleh dari produksi UPT BIT-LIPI,  raw film  diakuisisi melalui NAS,  dikelola dan disimpan di aplikasi DAM. Google Sheets juga digunakan untuk pengolahan bahan pustaka, entri katalog menggunakan format RDA di database Inlislite. Perlakuan pasca katalogisasi menggunakan teknologi otomasi perpustakaan, pegawai tinggal mencetak dan menempelkan label kode panggil dan barkod pada koleksi. Pelayanan pengunjung didukung OPAC. Pelayanan koleksi multimedia pada Mini Theatre menggunakan Blu-ray Disc Player dengan interface HDMI. Bimbingan teknis RIN menggunakan Dataverse. Kegiatan penelusuran menggunakan Google Sheets, sumber informasi penelusuran yaitu database jurnal online. Disarankan untuk disediakan TV LED, TV berbayar dan internet,  all in one PC pada layanan co-working space.
The POWER of Librarian Management Wuri Setya Intarti
Media Pustakawan Vol 22, No 3 (2015): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.29 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v22i3.212

Abstract

AbstrakSegala sesuatu bila dilakukan dengan cara yang baik dan dilaksanakan sesuai aturan, hasilnya akan baik. Cara yang baik diperlukan manajemen yang baik. Manajemen merupakan kekuatan (POWER) untuk mencapai keberhasilan. Power tidak hanya mempunyai makna kekuatan. Power disini juga mempunyai maksud positif lain yaitu POWER (Plan, Obsesion, Willingness to do more, Egality dan Responsibility). Pustakawan yang setiap kegiatannya dilakukan dengan Management By Anticipation (MBA) sama halnya mempersiapkan keberhasilan dengan melakukan antisipasi hal-hal yang akan menghambat keberhasilan. Oleh karena itu agar menjadi pustakawan yang sukses setiap kegiatannya harus dilakukan dengan Management By Anticipation (MBA).
Kepustakawanan : Kemarin Dan Esok Adalah Hari Ini Purwono Purwono
Media Pustakawan Vol 19, No 2 (2012): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1571.642 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v19i2.863

Abstract

Dengan terbitnya Surat Keputusan (SK) Menpan Nomor 18 Tahun 1988 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Pustakawan (yang hingga saat ini telah beberapakali disempurnakan), menandakan bahwa pemerintah telah mengakui jika pekerjaan seorang pustakawan sebagai Jabatan Fungsional. Universitas Gadjah Mada (UGM) adalah perguruan tinggi di Indonesia yang pertama kali menerapkan peraturan jabatan fungsional pustakawan. Saya adalah  ”Pustakawan Glundung Pringis” karena ketika saya diangkat pertama kali sebagai Pejabat Fungsional Pustakawan melalui inpassing bukan pengangkatan pertama berdasar kualifikasi yang disyaratkan, karena sebagaimana diketahui bersama, syarat untuk pengangkatan Jabatan Fungsional Pustakawan harus memiliki pendidikan minimal D2/D3 di bidang Perpustakaan. Saya diangkat sebagai pejabatan fungsional pustakawan berdasar SK.  Mendikbud  No. 95/C/1990, dengan posisi:  Jabatan Fungsional  Pustakawan: Pustakawan Pratama. TMT: 31 Januari 1988. Sejak itulah saya meniti karir di bidang kepustakawanan melalui dua  zaman yaitu Era Kepustakawanan Konvensional yang serba manual atau hastawi dan Era Kepustakawanan dengan penerapan Teknologi Informasi yang padat teknologi. Di dalam meniti karir di UGM saya berpegang pada ”Ngelmu Beja”. Ngelmu beja itu adalah ngelmu atau ilmu untuk  ”hanggayuh kamulyan” bukan sekedar ” kemul-liyan”.
Pola Kepemimpinan dan Kekuasaan Kepala Perpustakaan Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY Intan Winda Oktavia
Media Pustakawan Vol 27, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.187 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v27i2.682

Abstract

Perpustakaan adalah sebuah organisasi yang memiliki satu tujuan. Sebuah organisasi membutuhkan seseorang pemimpin organisai yang mampu menaungi banyak bagian secara fungsional dan struktural untuk menjaga agar tiap bagian berjalan sesuai tugas dan fungsi masing-masing dan tetap pada satu tujuan yang ditetapkan. Kepemimpinan erat kaitannya dengan kekuasaan. Kekuasaan merupakan kapasitas untuk mempengaruhi sikap dan perilaku orang sesuai yang kita inginkan. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui bagimana pola kepemimpinan kepala perpustakaan di Balai Layanan Perpustakaan Daerah DPAD DIY. Metode penelitian dalam artikel ini yaitu deskriptif kualitatif. Pemimpin balai layanan perpustakaan DPAD DIY dalam memimpin perpustakaan menggunakan dua pola, yaitu pola kepemimpinan situasional dan pola kepemimpinan transformasional. Jenis kekuasaan  yang dimiliki oleh pimpinan balai layanan perpustakaan DPAD DIY adalah jenis kekuasaan legitimate power atau kekuasaan yang sah. Jenis kekuasaan yang dimiliki pemimpin tersebut bersumber dari surat keputusan yang sah dan legal dimata hukum.

Page 10 of 42 | Total Record : 415


Filter by Year

2007 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 32 No. 2 (2025): Agustus Vol. 32 No. 1 (2025): April Vol. 31 No. 3 (2024): Desember Vol. 31 No. 2 (2024): Agustus Vol. 31 No. 1 (2024): April Vol. 30 No. 3 (2023): Desember Vol. 30 No. 2 (2023): Agustus Vol. 30 No. 1 (2023): April Vol. 29 No. 3 (2022): Desember Vol. 29 No. 2 (2022): Agustus Vol 29, No 2 (2022): Agustus Vol 29, No 1 (2022): April Vol. 29 No. 1 (2022): April Vol 28, No 3 (2021): Desember Vol 28, No 2 (2021): Agustus Vol 28, No 1 (2021): April Vol 27, No 3 (2020): Desember Vol 27, No 2 (2020): Agustus Vol 27, No 1 (2020): April Vol 26, No 4 (2019): Desember Vol 26, No 3 (2019): September Vol 26, No 2 (2019): Juni Vol 26, No 1 (2019): Maret Vol 25, No 5 (2018): Desember -- edisi khusus Vol 25, No 4 (2018): Desember Vol 25, No 3 (2018): September Vol 25, No 2 (2018): Juni Vol 25, No 1 (2018): Maret Vol 24, No 4 (2017): Desember Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Juni Vol 24, No 1 (2017): Maret Vol 23, No 2 (2016): Juni Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 4 (2015): Desember Vol 22, No 3 (2015): September Vol 22, No 2 (2015): Juni Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER Vol 21, No 2 (2014): JUNI Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): September Vol 20, No 2 (2013): Juni Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 4 (2012): Desember Vol 19, No 3 (2012): September Vol 19, No 2 (2012): Maret Vol 18, No 4 (2011): Desember Vol 18, No 3 (2011): September Vol 18, No 2 (2011): Juni Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni Vol 16, No 3&4 (2009): September Vol 16, No 1&2 (2009): Maret Vol 15, No 1&2 (2008): Juni Vol 15, No 3 (2008): September Vol 14, No 3&4 (2007): Desember Vol 14, No 2 (2007): Juni Vol 14, No 1 (2007): Maret More Issue