cover
Contact Name
Muhamad Ulul Albab Musaffa
Contact Email
muhamad.musaffa@uin-suka.ac.id
Phone
+6282220623338
Journal Mail Official
azzarqa@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Rumah Jurnal Fakultas Syari'ah dan Hukum (Ruang 205 - Lantai 2), Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga; Jln. Marsda Adisucipto 1 Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Az Zarqa': Jurnal Hukum Bisnis Islam
ISSN : 20878117     EISSN : 28093569     DOI : https://doi.org/10.14421/azzarqa
Jurnal Az zarqa merupakan jurnal unggulan Program Studi Hukum Ekonomi Syariah. Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang dibentuk pada tanggal 1 Desember 2010. Jurnal Az zarqa menyediakan artikel ilmiah hasil penelitian empiris dan analisis-reflektif bagi para praktisi dan akademisi, yang diharapkan berkontribusi dalam mengembangkan teori dan mengenalkan konsep-konsep baru di bidang hukum islam khususnya hukum bisnis islam dalam perspektif yang luas. Jurnal Az zarqa terbit secara berkala dalam kurun 6 bulan sekali, Juni dan Desember.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 16 No. 1 (2024): Az-Zarqa'" : 7 Documents clear
Assessing the Environmental Impact of Layer Chicken Farming: Sustainable Islamic Business Ethics: Dampak Lingkungan Budidaya Ayam Petelur: Etika Bisnis Islam Berkelanjutan Aswar, Muhammad Asrul; Arif, Usman; Kurniawan, Chandra; Nur, Sausan; Aprilia, Aura Nur; Pramudita, Oktavia Dwi
Az-Zarqa': Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 16 No. 1 (2024): Az-Zarqa'
Publisher : Sharia and Law Faculty of Sunan Kalijaga Islamic State University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/azzarqa.v16i1.3341

Abstract

Abstract: This study explores the environmental impacts of layer chicken farming from an Islamic studies perspective, with particular attention to Islamic business ethics and Qur’anic interpretations related to environmental conservation. While layer farming contributes to economic and social development, it also poses notable environmental challenges. Adopting a Qur’anic interpretive framework based on Tafsir al-Mishbah by Quraish Shihab, this research focuses on the farming practices of a company named UD. Berkah Telur in Madiun. Employing a qualitative descriptive method, data were obtained through interviews and a review of relevant literature. The findings indicate that UD. Berkah endeavors to uphold the principles of Islamic business ethics, particularly regarding animal welfare and product quality. Nevertheless, challenges remain in fully integrating sustainable Islamic economic principles into all operational aspects. Despite these limitations, the enterprise demonstrates a clear commitment to social and environmental responsibility adhering Islamic teachings. As interpreted through Tafsir al-Mishbah, Islamic business ethics emphasize a vision of sustainability that extends beyond short-term profit orientation to include the preservation of the environment for future generations. Abstrak: Penelitian ini mengkaji dampak lingkungan dari budidaya ayam petelur dalam perspektif studi Islam, dengan menitikberatkan pada etika bisnis Islam dan interpretasi ayat-ayat Al-Qur'an terkait pelestarian lingkungan. Budidaya ayam petelur, meskipun memberikan manfaat ekonomi dan sosial, juga menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan. Studi ini menggunakan pendekatan tafsir Al-Qur'an dari Tafsir Al-Mishbah karya Quraish Shihab, dengan fokus pada praktik budidaya oleh UD. Berkah Telur di Madiun. Penelitian ini bersifat kualitatif-deskriptif, mengumpulkan data melalui wawancara dan kajian literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UD. Berkah Telur berusaha menerapkan prinsip etika bisnis Islam, terutama dalam hal kesejahteraan ternak dan kualitas produk yang sehat. Namun, masih ada tantangan dalam menerapkan prinsip ekonomi Islam yang berkelanjutan di seluruh aspek operasional. Meskipun demikian, usaha ini telah menunjukkan komitmen terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan sesuai ajaran Islam. Etika bisnis Islam, sebagaimana diinterpretasikan melalui Tafsir Al-Mishbah, menggarisbawahi pentingnya visi keberlanjutan yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek tetapi juga pada pelestarian lingkungan untuk masa depan.
Wadi'ah Savings in Islamic Financial Institutions: Compliance with Fatwa and Islamic Ethics: Tabungan Wadi'ah di Lembaga Keuangan Islam: Kesesuaian dengan Fatwa dan Etika Islam Widyarini, Widyarini
Az-Zarqa': Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 16 No. 1 (2024): Az-Zarqa'
Publisher : Sharia and Law Faculty of Sunan Kalijaga Islamic State University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/czxkcg04

Abstract

Abstract: This study aims to evaluate the implementation of Wadi'ah savings accounts managed by various Islamic Financial Institutions (LKS), both large and small. This evaluation is deemed necessary due to the frequent deviations from the Fatwa issued by the National Sharia Council of the Indonesian Ulema Council (DSN-MUI) in practice. As a financial product grounded in Islamic law and moral principles, the proper and accurate application of Wadi'ah savings is crucial to ensuring compliance with Shariah principles. This research employs a qualitative method with an analytical-philosophical approach, gathering primary data from the official websites of several randomly selected LKS. Given that LKS is an industry regulated by the Financial Services Authority (Otoritas Jasa Keuangan or OJK), the data obtained is homogeneous so it does not require a large sample. The findings of the study reveal that, firstly, some LKS continue to promise profit-sharing to depositors, despite this being inconsistent with the Wadi'ah principle. Secondly, many LKS still perceive the deposited goods as the nominal value of money rather than a trust (amānah) that must be managed with justice. Thirdly, there is an indication of unfair (ẓālim) practices and categorized as non-ethical behavior in Islam due to the absence of profit-sharing for depositors. Although some LKS have proposed solutions, these often violate existing regulations. Furthermore, the practice of Wadi'ah savings in Islamic Commercial Banks (Bank Umum Syariah or BUS) does not significantly differ from conventional savings, except in terms of profit-sharing, where BUS still imposes account opening fees on customers.   Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi Tabungan Wadi’ah yang dijalankan oleh berbagai Lembaga Keuangan Syariah (LKS), baik besar maupun kecil. Evaluasi ini dianggap penting mengingat banyaknya penyimpangan terhadap Fatwa DSN MUI dalam praktiknya. Sebagai salah satu produk keuangan yang berlandaskan hukum dan moral Islam, pelaksanaan Tabungan Wadi’ah memerlukan penerapan yang benar dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analitik-filosofis, data primer dikumpulkan dari website resmi beberapa LKS yang dipilih secara acak. Dengan catatan LKS merupakan industri yang diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), data yang diperoleh bersifat homogen sehingga tidak memerlukan sampel yang besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, beberapa LKS masih menjanjikan bagi hasil kepada nasabah, meskipun hal ini tidak sejalan dengan prinsip Wadi’ah. Kedua, banyak LKS yang masih mempersepsikan barang yang dititipkan sebagai nilai nominal uang, bukan sebagai amanah yang harus dikelola dengan prinsip keadilan. Ketiga, terdapat praktik yang dianggap tidak adil (zalim) dan masuk dalam perilaku niretika dalam Islam, karena tidak adanya bagi hasil kepada nasabah. Meskipun beberapa LKS telah menawarkan solusi, hal tersebut seringkali melanggar aturan yang ada. Selain itu, praktik Tabungan Wadi’ah di Bank Umum Syariah (BUS) tidak berbeda signifikan dengan tabungan konvensional, kecuali dalam hal bagi hasil, yang mana BUS masih membebankan nasabah dengan biaya pembukaan rekening.
Legal Literature Review of Peer to Peer Lending in Indonesia: Building Sharia FinTech Ecosystem: Literatur Hukum Peer to Peer Lending di Indonesia: Membangun Ekosistem FinTech Syariah Arini, Annisa Dian
Az-Zarqa': Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 16 No. 1 (2024): Az-Zarqa'
Publisher : Sharia and Law Faculty of Sunan Kalijaga Islamic State University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/trzf5c05

Abstract

Abstract: This article investigates the extent to which peer-to-peer (P2P) lending regulations in Indonesia, both in the context of formal law and Islamic law, have been effective in supporting economic growth. Employing a normative juridical approach, the article highlights various regulations introduced by the government to enhance transparency and accountability in the implementation of fintech P2P lending in Indonesia. Although measures such as the imposition of daily interest rate limits have been implemented to protect consumers, concerns remain regarding the effectiveness of supervision, particularly in safeguarding vulnerable consumers. The study also underscores the importance of financial and digital literacy in helping both borrowers and lenders understand the risks and benefits of P2P lending. Key challenges in integrating Sharia law principles, including the prohibitions on ribā (usury) and gharar (uncertainty), have the potential to constrain financial innovation and reduce competitive lending options. The findings suggest the need for a more flexible regulatory approach and closer collaboration between regulators, the industry, and religious authorities to ensure compliance with Sharia law while supporting the growth of the sector. Continuous education for users is also essential to enhance protection and financial inclusion within the Sharia-compliant P2P lending ecosystem in Indonesia.   Abstrak: Artikel ini meneliti sejauh mana regulasi peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia, baik dalam konteks hukum formal maupun hukum Islam, telah berfungsi dengan baik dan mendukung bergeraknya roda perekonomian. Menggunakan pendekatan yuridis normatif, artikel ini menyoroti berbagai regulasi yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pada penyelenggaraan fintech P2P di Indonesia. Meskipun langkah-langkah seperti pembatasan suku bunga harian telah diberlakukan untuk melindungi konsumen, terdapat kekhawatiran terkait efektivitas pengawasan, terutama dalam melindungi konsumen yang rentan. Penelitian ini juga menekankan pentingnya literasi keuangan dan digital untuk membantu para peminjam dan pemberi pinjaman memahami risiko dan manfaat dari pinjaman P2P. Tantangan utama dalam mengintegrasikan prinsip-prinsip hukum Syariah, termasuk larangan ribā dan garar, berpotensi membatasi inovasi keuangan dan mengurangi opsi pinjaman yang kompetitif. Temuan dalam penelitian ini menyarankan perlunya pendekatan regulasi yang lebih fleksibel serta kolaborasi yang lebih erat antara regulator, industri, dan otoritas keagamaan untuk memastikan kepatuhan terhadap hukum Syariah sekaligus mendukung pertumbuhan sektor ini. Edukasi berkelanjutan bagi pengguna juga diperlukan guna meningkatkan perlindungan dan inklusi keuangan dalam ekosistem P2P lending syariah di Indonesia.
Multi-Layered Pawning in Indonesia’s Agrarian Sector: Islamic Legal Challenges and Sustainable Development Implications: Gadai Bertingkat dalam Masyarakat Agraris Indonesia : Dinamika Hukum Islam dan Implikasi bagi Pembangunan Berkelanjutan Jannah, Nurfaidatul; Rahyu, Putri; Mulyati, Suci; Aisya , Hana Putri
Az-Zarqa': Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 16 No. 1 (2024): Az-Zarqa'
Publisher : Sharia and Law Faculty of Sunan Kalijaga Islamic State University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/b90wy152

Abstract

Abstract: This study investigates the practice of multi-layered pawning in Rato Village, Indonesia, which is often conducted without formal written agreements, thereby exposing the original landowner (rāhin) to significant risks. In such arrangements, pawned land is frequently transferred to a third party without the knowledge or consent of the initial land pawn initiator, leaving the rāhin in a vulnerable economic position. From an Islamic legal perspective, this practice raises critical concerns regarding the principles of justice, transparency, and the protection of property rights—core foundations of Shariah. Although initially regarded as a form of ʿurf (local custom) that was socially accepted, the practice has evolved into ʿurf fāsid (corrupt custom) as it increasingly causes harm to the rāhin and contravenes the Shariah principle of justice. This research employs a qualitative approach. Data were collected through in-depth interviews with local residents and village leaders, as well as a review of relevant literature on Islamic law and sustainable development. The findings indicate that multi-layered pawning not only undermines the economic stability of landowners but also poses broader threats to the economic, social, and environmental sustainability of agrarian communities. Through strict oversight, the implementation of written agreements, and enhanced education in Shariah-based financial literacy, pawning practices can be redirected to promote equitable and sustainable economic development within agrarian societies. This research contributes to the discourse on pawning law in Indonesia and offers policy insights for improving welfare and sustainability in rural Islamic communities. Abstrak: Penelitian ini mengkaji praktik gadai berlapis di Desa Rato, Indonesia, yang sering dilakukan tanpa perjanjian tertulis formal, sehingga mengekspos pemilik tanah asli (rāhin) pada risiko yang signifikan. Dalam skema ini, tanah yang digadaikan seringkali dialihkan kepada pihak ketiga tanpa sepengetahuan atau persetujuan inisiator gadai tanah awal, meninggalkan rāhin dalam posisi ekonomi yang rentan. Dari perspektif hukum Islam, praktik ini menimbulkan kekhawatiran serius terkait prinsip keadilan, transparansi, dan perlindungan hak milik—landasan utama Syariah. Meskipun awalnya dianggap sebagai bentuk ʿurf (kebiasaan lokal) yang diterima secara sosial, praktik ini telah berkembang menjadi ʿurf fāsid (kebiasaan korup) karena semakin merugikan rāhin dan bertentangan dengan prinsip keadilan Syariah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan penduduk lokal dan pemimpin desa, serta tinjauan literatur terkait hukum Islam dan pembangunan berkelanjutan. Temuan menunjukkan bahwa praktik gadai berlapis tidak hanya mengganggu stabilitas ekonomi pemilik tanah tetapi juga menimbulkan ancaman yang lebih luas terhadap keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan komunitas agraris. Melalui pengawasan yang ketat, implementasi perjanjian tertulis, dan peningkatan literasi keuangan berbasis Syariah, praktik gadai dapat diarahkan kembali untuk mempromosikan pembangunan ekonomi yang adil dan berkelanjutan di masyarakat agraris. Penelitian ini berkontribusi pada pembahasan mengenai hukum gadai di Indonesia dan memberikan wawasan kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan dan keberlanjutan di komunitas Islam pedesaan.
Mitigating Gharar in Sharia Capital Market Volatility: Governance, Regulation, and Technology: Mitigasi Gharar dalam Volatilitas Pasar Modal Syariah: Tata Kelola, Regulasi, dan Teknologi Muhammadi, Ali Akbar Ruhullah; Gustanto, Edo Segara; Arfaizar, Januariansyah; Muhammadi, Ali Asghar Fadlullah
Az-Zarqa': Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 16 No. 1 (2024): Az-Zarqa'
Publisher : Sharia and Law Faculty of Sunan Kalijaga Islamic State University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/yxqd6f17

Abstract

Abstract: In Islamic economics, gharar refers to uncertainty or ambiguity in transactions, which is prohibited because it can harm investors and undermine market stability. This study analyzes the characteristics of gharar and the impact of market volatility on Sharia-compliant issuers in Islamic capital markets. Employing a mixed juridical-empirical-normative approach, this study assesses relevant regulatory frameworks designed to mitigate gharar, including the Indonesian Ulama Council (MUI) Fatwa No. 80/2011 and the Financial Services Authority (OJK) Regulation No. 15/POJK.04/2015. The empirical component involves the collection and analysis of market data, while the normative dimension explores Sharia principles to formulate risk mitigation strategies. The research reveals that speculative activities, which are common in capital markets, exacerbate gharar by triggering irrational price movements and increased volatility. Such conditions obscure the intrinsic value of stocks and increase uncertainty in investment decision-making among Sharia-compliant investors. The findings underscore the need for stricter regulatory measures to curb speculative behavior, such as restricting margin trading and prohibiting short selling, alongside strengthening corporate governance and transparency among Sharia-compliant issuers. The study’s scope is limited by its focus on Indonesia’s Islamic capital market; therefore, future research should incorporate comparative analyses of international Sharia markets and investigate the potential role of financial technology (fintech) in enhancing transparency, accountability, and efficiency within Islamic capital markets. Abstrak: Gharar dalam ekonomi Islam merujuk pada ketidakpastian atau ambiguitas dalam transaksi yang dilarang karena berpotensi merugikan investor dan mengganggu stabilitas pasar. Penelitian ini menganalisis karakteristik gharar serta dampak volatilitas pasar terhadap emiten yang berprinsip syariah di pasar modal Islam. Dengan menggunakan pendekatan campuran yuridis-empiris-normatif, penelitian ini menilai kerangka regulasi yang relevan dalam upaya memitigasi gharar, termasuk Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 80/2011 dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. 15/POJK.04/2015. Komponen empiris penelitian ini mencakup pengumpulan dan analisis data pasar, sedangkan dimensi normatifnya menelaah prinsip-prinsip syariah untuk merumuskan strategi mitigasi risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas spekulatif yang lazim terjadi di pasar modal memperparah gharar dengan memicu pergerakan harga yang tidak rasional serta meningkatkan volatilitas. Kondisi tersebut mengaburkan nilai intrinsik saham dan menambah ketidakpastian dalam pengambilan keputusan investasi bagi investor yang mematuhi prinsip syariah. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan regulasi guna menekan perilaku spekulatif, antara lain dengan membatasi perdagangan margin dan melarang short selling, disertai peningkatan tata kelola perusahaan dan transparansi di antara emiten syariah. Ruang lingkup penelitian ini terbatas pada pasar modal syariah di Indonesia, sehingga penelitian selanjutnya disarankan untuk memasukkan analisis komparatif terhadap pasar syariah internasional serta mengkaji potensi peran teknologi finansial (fintech) dalam meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi di pasar modal Islam.
The Impact of Contract Blending on Sharia Compliance and Social Trust in Islamic Banking: Dampak Pencampuran Akad terhadap Kepatuhan Syariah dan Kepercayaan Sosial Perbankan Syariah Kaidani, M. Kausari; Hendriana, Yana
Az-Zarqa': Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 16 No. 1 (2024): Az-Zarqa'
Publisher : Sharia and Law Faculty of Sunan Kalijaga Islamic State University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/6nxzw596

Abstract

Abstract: This study analyzes the implementation of Murābahah financing at BPRS Bhakti Sumekar, focusing on compliance with Sharī‘a principles, the role of social trust, and practical solutions to address observed challenges. The background of this research lies in the importance of maintaining the integrity of Sharī‘a principles in Islamic banking operations to build customer trust. The study aims to identify procedural violations, emerging risks, and strategic measures to enhance Sharī‘a compliance. A qualitative approach involving in-depth interviews and observations was employed. Data were analyzed using Social Trust Theory as the conceptual framework. The findings reveal that blending Wakālah and Murābahah contracts, although intended to expedite administrative processes, violates Fatwā DSN-MUI No.04/DSN-MUI/IV/2000 and undermines the bank’s credibility. Furthermore, weak post-financing monitoring triggers side-streaming risks, where customers use funds for purposes beyond the initial agreement. Transparency and education are proven to be key factors in building social trust, influencing customer loyalty and adherence to Sharī‘a principles. The study recommends the adoption of Mu‘allaq contracts for enhanced supervision, the use of digital-based technology for monitoring, and comprehensive customer education programs. Although limited to a single Islamic financial institution, these findings provide significant contributions to the development of social trust-based Sharī‘a financing practices in the Islamic banking sector.   Abstrak: Penelitian ini menganalisis implementasi pembiayaan Murābahah di BPRS Bhakti Sumekar dengan fokus pada kepatuhan terhadap prinsip syariah, peran kepercayaan sosial, dan solusi praktis untuk mengatasi tantangan yang ditemukan. Latar belakang penelitian ini adalah pentingnya menjaga integritas prinsip syariah dalam operasional perbankan syariah untuk membangun kepercayaan nasabah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pelanggaran prosedural, risiko yang muncul, dan langkah strategis untuk meningkatkan kepatuhan syariah. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam dan observasi. Data dianalisis menggunakan Teori Social Trust sebagai kerangka konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencampuran akad Wakālah dan Murābahah, meskipun bertujuan mempercepat proses administrasi, melanggar Fatwa DSN-MUI No.04/DSN-MUI/IV/2000 dan menurunkan kredibilitas bank. Selain itu, monitoring pasca-pembiayaan yang lemah memicu risiko side-streaming, yang mana nasabah menggunakan dana untuk tujuan di luar kesepakatan awal. Transparansi dan edukasi terbukti menjadi faktor kunci dalam membangun kepercayaan sosial yang memengaruhi loyalitas nasabah dan kepatuhan terhadap prinsip syariah. Penelitian ini merekomendasikan penerapan akad Mu‘allaq untuk meningkatkan pengawasan, penggunaan teknologi berbasis digital untuk monitoring, dan program edukasi nasabah secara komprehensif. Meskipun penelitian ini terbatas pada satu lembaga keuangan syariah, temuan ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan praktik pembiayaan syariah berbasis kepercayaan sosial di sektor perbankan Islam.
The Impact of Islamic Service Quality, Complaint Handling, and Margins on Customer Satisfaction in Islamic Financial Institutions: Pengaruh Kualitas Layanan Syariah, Penanganan Keluhan, dan Margin terhadap Kepuasan Nasabah di Lembaga Keuangan Syariah Nasrulloh, Nasrulloh; Saputri, Nensy Dwi
Az-Zarqa': Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 16 No. 1 (2024): Az-Zarqa'
Publisher : Sharia and Law Faculty of Sunan Kalijaga Islamic State University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/zdfxh932

Abstract

Abstract: The increasing competition within the financial industry has compelled Islamic Financial Institutions to prioritize customer satisfaction as a primary objective. This study aims to analyze the influence of Islamic service quality, complaint handling, and margins on customer satisfaction using a mixed-method approach with a sequential explanatory design. In the quantitative phase, a survey was conducted with 85 customers selected randomly using a simple random sampling technique, where data were collected through a 5-point Likert scale questionnaire and analyzed using multiple linear regression in SPSS version 25. The qualitative phase involved semi-structured interviews with 10 customers selected through purposive sampling, analyzed thematically based on social capital theory. The results indicate that Islamic service quality, complaint handling, and margins positively and significantly influence customer satisfaction, contributing to 72.2% of the variability in customer satisfaction. The qualitative analysis confirms that trust, Islamic norms, and social networks play a pivotal role in enhancing customer satisfaction, particularly through transparent, responsive, and fair Islamic service delivery. This study recommends improving empathetic service delivery, prompt complaint resolution, and competitive yet Sharia-compliant margin adjustments to enhance the competitiveness of Islamic financial institutions. The theoretical implication highlights the importance of social capital as a key element in fostering sustainable relationships between Islamic financial institutions and their customers. Abstrak: Peningkatan persaingan dalam industri keuangan mendorong Lembaga Keuangan Syariah untuk memprioritaskan kepuasan nasabah sebagai tujuan utama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas pelayanan Islami, penanganan komplain, dan margin terhadap kepuasan nasabah menggunakan metode mixed method dengan desain eksplanatori sekuensial. Pada tahap kuantitatif, survei dilakukan terhadap 85 nasabah yang dipilih secara acak menggunakan teknik random sampling, yang mana data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert 5 dan dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan SPSS versi 25. Tahap kualitatif melibatkan wawancara semi-terstruktur dengan 10 nasabah yang dipilih secara purposive sampling, dengan analisis tematik berdasarkan teori modal sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan Islami, penanganan komplain, dan margin memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan nasabah, dengan kontribusi sebesar 72,2% terhadap variabilitas kepuasan nasabah. Analisis kualitatif menegaskan bahwa kepercayaan, norma Islami, dan jaringan sosial memainkan peran penting dalam meningkatkan kepuasan nasabah, terutama melalui pelayanan Islami yang transparan, responsif, dan adil. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan layanan berbasis empati, penyelesaian komplain secara cepat, dan penyesuaian margin yang kompetitif namun sesuai syariah untuk meningkatkan daya saing lembaga keuangan syariah. Implikasi teoretis menyoroti pentingnya modal sosial sebagai elemen kunci dalam membangun hubungan berkelanjutan antara lembaga keuangan syariah dan nasabah.

Page 1 of 1 | Total Record : 7