cover
Contact Name
M Taufiq Rahman
Contact Email
jis@uinsgd.ac.id
Phone
+6289655289523
Journal Mail Official
jis@uinsgd.ac.id
Editorial Address
Prodi Magister Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Jalan Cimencrang, Panyileukan, Gedebage Kota Bandung Indonesia 40292
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Iman dan Spiritualitas
ISSN : -     EISSN : 27754596     DOI : http://dx.doi.org/10.15575/jis
Jurnal Iman dan Spiritualitas (JIS) is an open-access journal and peer-reviewed scientific works both theoretically and practically in the studies of religions and spirituality in various parts of the world.
Articles 421 Documents
Comparative Interpretation of Verses About the Meaning of Tartil in Tafsir Al-Qurtubi, Tafsir Ibn Katsîr, and Tafsir Sayyid Qutb Tatan Setiawan; Asep Fathurrohman
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 4 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i4.19032

Abstract

This article compares the meaning of Tartil lafazh and its derivation in the Qur'an from the perspective of al-Qurtubi, Ibn Kathir and Sayyid Qutb. The purpose of this study is to understand the comparison of the meaning of Tartil lafazh and its derivation in the interpretations of al-Qurtubi, Ibn Kathir, and Sayyid Qutb. The writing of this research article uses a literature-based analytical descriptive method. The results of this study conclude that, in the interpretation of al-Qurthubî to surah al-Muzzammil verse 4, Tartil is an unhurried reading, slowly and accompanied by contemplating the meaning contained in it. Al-Qurtubi forbids reading the Qur'an, which is sung. According to Ibn Kathir, Tartil is interpreted as an unhurried reading of the Qur'an to assist in understanding the contents of the Qur'an and decorate the task with hums and songs with beautiful voices. As for Sayyid Qutb's opinion, Tartil understands the meaning of what is read while keeping the reading short, not excessively singing it and humming it. Then the purpose of Tartil in Surah al-Furqân verse 32, according to al-Qurtubi is the regular and correct reading. Meanwhile, according to Ibn Kathir is to explain clearly, and according to Sayyid Qutb is a continuous and successive reading regularly. The background to the differences in the interpretation of the three commentators is the difference in the period of the birth of the interpretation, the different sources of interpretation, the different styles and schools of interpretation, and the differences in the specific methods of interpretation.
Religion and Culture in Social Transformation of Subang North Coast Community Agus Maksum; M. Yusuf Wibisono; Deni Miharja
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 4 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i4.20674

Abstract

The presence of the port certainly impacts the Patimban community, ranging from positive and negative impacts. Furthermore, besides physical effects, psychological consequences must be observed and investigated from religion, culture, environmental change, and social transformation. The purpose of this study was to analyze the views of the Patimban community on the north coast of Subang in interpreting the dimensions of belief, the sizes of experience, the dimensions of social consequences, and resistance and accommodation to social change in Islam and religious practices in a life that is in synergy with culture. The results of this study indicate that the views of the Patimban community on the northern coast of Subang in interpreting resistance and accommodation to social change, in terms of resistance to the peculiarities of social interaction in rural models in Patimban, are gradually fading and changing with the interaction patterns of urban models. However, it is still difficult to let go of identity as a rural community with its various characteristics in specific contexts.
Asbab Al-Ikhtilaf Fi Tafsiri Al-Salaf: Memahami Sebab-Sebab Perbedaan Penafsiran di Kalangan Ulama Salaf Annisa Nurfauziah
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 3 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i3.18773

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk memetakan sebab-sebab perbedaan yang terjadi pada tafsir salaf atau asbab ikhtilaf fi tafsiri i salaf. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah library research atau studi pustaka. Hasil studi menunjukan bahwa perbedaan tafsir di kalangan ulama salaf secara garis besar terbagi menjadi dua, yaitu pemahaman di kalangan ulama salaf itu sendiri serta adanya nash yang mengandung banyak makna. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sebab-sebab perbedaan yang terjadi pada tafsir salaf dikarenakan beberapa faktor, yaitu adanya lafaz yang musyatarak (mengandung banyak makna); perbedaan dalam menafsirkan kata ganti yang merujuk kepada beberapa makna; terdapat lafaz yang dihilangkan; terdapat satu lafaz yang mengandung banyak tafsir, sehingga mufassir ada yang membawa lafaz tersebut kepada makna dekat (ma’na qarib) dan makna jauh (ma’na bai’d); nasakh dan mansukh; ‘am dan khas; dan perbedaan penggunaan qiro’at karena mempunyai jalur periwayatan yang berbeda. Sulayman At-Thayyar berpendapat bahwa perbedaan di kalangan ulama ini merupakan tabi’at atau fitrah manusia. Perbedaan ini pun tidak menjadikan para ulama hina dan tidak ada seorang manusia pun yang dapat menghindar dari perbedaan.
Metode Khusus Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsirnya Abdi Risalah Husni Alfikar; Ahmad Kamil Taufiq
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 3 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i3.18691

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan biografi Muhammad Quraish Shihab dan tafsirnya Al-Misbah, menguraikan metode umum dan metode khusus tafsir, serta  mengetahui metode khusus yang digunakan Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode kepustakaan (library research) yang bersumber dari bahan-bahan tertulis. Adapun hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa Muhammad Quraish Shihab adalah seorang ulama Tafsir dan mantan Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alaudin Ujung Pandang, Provinsi Sulawesi Selatan (1972-1977). Metode penafsiran al-Qur’an secara garis besar diantaranya ada metode umum dan metode khusus. Metode umum diantaranya meliputi empat bagian yaitu metode ijmali, tahlili, muqarran, dan maudhu’i. Sedangkan metode khusus adalah kekhasan yang dimiliki mufassir dalam penafsirannya diantaranya ada corak bahasa, sastra, filsafat dan teologi, ahkam, dan adab al-Ijtima’. Secara umumnya pada tafsir al-Misbah menggunakan metode tahlili dan maudhu’i. Sedangkan metode khusus yang digunakan Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah yaitu metode adab al-ijtima’i.
Tanda Waqaf dalam Q.S Al-Munafiqun pada Mushaf Al-Qur’an Rasm Utsmani Ditinjau dari Semiotika Charles Sanders Peirce Asep Amar Permana
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 4 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i4.18973

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui jenis-jenis tanda waqaf yang ada dalam surat al-Munafiqun beserta interpretan dari masing-masing tanda waqafnya pada mushaf al-Qur’an rasm Utsmani dengan kajian Semiotika Charles Sanders Peirce. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Adapun jenis penelitiannya adalah penelitian kualitatif. Hasil dari penelitian ini, ditemukan pokok bahasan bahwasannya. Teori semiotika yang digagas oleh Charles Sanders Peirce ini terdapat konsep trikotomi yang terdiri dari Representamen, Objek, dan Interpretan. bahwa tanda waqaf dalam surat al-Munafiqun ada enam jenis waqaf, diantaranya ada waqaf lazim, waqaf waful aula, waqaf jaiz, waqaf waslul aula, waqaf adamul waqfi, dan tanda ruku’. semua tanda waqaf  menjadi (R (1)) yang objeknya (O (1)) adalah nama dari jenis waqafnya dan interpretannya (I (1)) bahwa semua tanda waqaf itu dilihat secara umum merupakan huruf hijaiyah. Akan tetapi ketika tanda waqaf itu  menjadi (R (2)) maka interpretannya bila dilihat dari segi ilmu tajwid maka itu sebagai tanda waqaf yang berarti ketika membaca ayat al-qur’an ditemukan jenis-jenis waqaf memberi makna dan petunjuk dalam pembacaan ayatnya apakah berhenti atau diwashalkan sesuai dengan jenis waqafnya (I (2).
Mitos Air Pancuran Tujuh dalam Pandangan Masyarakat di Lingkungan Makam Raden Wangsa Muhammad Desa Cinunuk Kabupaten Garut Ayu Rahadianti
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 4 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i3.20060

Abstract

Mitos air pancuran tujuh diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi oleh masyarakat Desa Cinunuk dan sekitarnya. Air pancuran tujuh ini dimaknai oleh masyarakat serta pengunjung bahwa air pancuran tujuh ini memiliki nilai kesakralan dan khasiatnya tersendiri. Masyarakat yang datang untuk mengunjungi air pancuran tujuh sangat beragam baik itu dilihat dari berbagai aspek. Masyarakat itu memiliki cara pandang yang berbeda-beda maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tersebut. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengemukakan makna yang terdapat pada khasiat mitos air pancuran tujuh, serta untuk mengetahui pandangan masyarakat terhadap mitos air pancuran tujuh ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian yang didapatkan bahwa khasiat mitos air pancuran tujuh mempunyai makna tersendiri bagi para pengunjungnya seperti sebagai ucapan rasa syukur kepada yang maha kuasa, dalam agama islam ada tujuh tingkatan langit, merupakan peringatan hari kelahiran nabi Muhammad, merupakan air yang suci, serta untuk menjaga lingkungan. Pandangan masyarakat terhadap mitos air pancuran tujuh berbeda-beda diantaranya dapat menyembuhkan penyakit, memperlancar rezeki, penyucian benda pusaka, memperlancar usaha, kekuasaan Allah, sebagai suatu ikhtiar untuk mendapatkan jodoh, membersihkan kotoran di dalam diri, mengambil keberkahan, dan dijauhkan dari makhluk halus.
Menjelaskan Kembali Riwayat Taujih Aqwal Al-Salaf Ai Syaripah
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 3 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i3.18770

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan taujih aqwal al-salaf, bagaimana penafsiran ulama salaf, siapa saja yang termasuk tokoh ulama salaf. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi pustaka yakni mengumpulkan data dengan cara membaca, mencatat, dan mengolah bahan bacaan. Hasil dari penelitian ini, ditemukan pokok bahasan bahwasannya taujih aqwal al-salaf itu adalah penafsiran atau penjelasan pemahaman ulama salaf terhadap ayat. Dalam menafsirkan ayat-ayat yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah, ulama salaf menggunakan metode tafwid dan taslim dan menolak menggunakan tamstil yakni penyerupaan terhadap makluknya. Tapi, Ulama salaf juga menggunakan metode takwil tafsili dengan menetukan maknanya dengan cara mengalihkan makna zahir suatu lafadz pada makna majazi guna mensucikan makna sifat Allah dari sifat yang dimiliki makhluk-Nya. Tokoh salaf diantaranya adalah tiga generasi pada masa islam pertama yaitu para sahabat, para tabi’in, atba’ at-tabi’in, dan yang mengikuti manhaj salaf diantaranya Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taymiyah, dan Muhammad bin Abdul Wahab.
Socializing Religious Moderation and Peace in the Indonesian Landscape Paelani Setia; Mohammad Taufiq Rahman
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 3 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i3.17916

Abstract

This paper discusses the idea of religious moderation addressed for peace in Indonesia. This paper is a library research through reference sources on the concepts of religious moderation and peace circulating in Indonesia's new tradition of literacy. This paper concludes that the Indonesian people who have religious diversity need visions and solutions that can build harmony and peace in religious life, especially by using religious moderation to accept different views, and without falling into intolerance, radicalism, and extremism. The goal of religious moderation is to find a middle ground between the two extremes of religion, and to do so peacefully. On the one hand, there are religious fundamentalists who insist that only one religious scripture reading is correct and view all those who disagree as heretics or even infidels. This ultra-conservative group is still reasonably influential, especially in urban areas.
Tafsir Al-Qur’an dengan Bahasa Arab Agus Salim Hasanudin
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 4 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i4.19033

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui tafsir Al-Qur’an dengan bahasa Arab yang mencakup aspek definisi tafsir, kaidah tafsir, kedudukan ilmu tafsir dan bahasa Arab dalam tafsir Al-Qur’an dengan bahasa Arab. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi pustaka yakni metode pengumpulan data dan sumber informasi dengan memanfaatkan sumber bahan yang sudah ada di perpustakaan, termasuk buku dan Karya Ilmiah, baik offline maupun online. Hasil dari penelitian ini, ditemukan pokok bahasan bahwasannya tafsir sebagai ilmu yang menjelaskan makna hukum-hukum dan hikmah yang terkandung dalam Kitab Allah yang diturunkan kepada Muhammad. Ada persyaratan yang membantu penafsir dalam menurunkan makna atau pesan-pesan Al-Qur’an dan dalam menjelaskan apa yang mustahil dari substansi ayat yaitu kaidah tafsir. Kemudian guna memahami makna Al-Qur’an dan tafsir, maka muncullah ilmu tafsir yang mana mufassir diperlukan untuk menguasai ilmu tafsir dan bahasa Arab. Karena keduanya terdapat keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan sebagai alat dalam menafsirkan Al-Qur’an dan memahami maknanya. Terdapat beberapa metode dalam menafsirkan Al-Qur’an. Salah satunya ada tafsir Al-Qur’an dengan bahasa Arab. Contohnya diantara penafsrian al-Qur’an dengan Bahasa arab adalah menafsirkan  الساهرة(Al-Sahira) dengan makna bumi, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ikrimah, Al-Hassan, Qatadah, Mujahid, Saeed, Al-Dahhak, dan Ibnu Zaid.
Cara Menganalisis Ragam Sumber Tafsir Al-Qur’an Annisa Nur Fauziah; Deswanti Nabilah Putri
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 4 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i4.18741

Abstract

Penelitian ini bertujuan membahas ragam sumber tafsir al-Qur’an baik yang primer maupun sekunder. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah bersifat kualitatif dengan metode kepustakaan (library research) yaitu mencari sumber dari bahan-bahan tertulis dengan pendekatan sejarah. Hasil dari pembahasan penelitian ini meliputi definisi sumber tafsir, perbedaan pendapat mengenai sumber dan corak tafsir, sumber tafsir yang bersifat primer, dan sumber tafsir yang bersifat sekunder. Sumber tafsir adalah rujukan yang digunakan oleh para mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa para ulama tafsir membagi rujukan tersebut kepada dua jenis, yaitu sumber tafsir primer atau disebut juga dengan mashadir asliyah dan sumber sekunder atau mashadir tsanawiyah. Sumber primer (mashadir asliyah) adalah sumber yang berasal dari wahyu, hadits, serta qaul sahabat dan tabi’in. Sedangkan sumber sekunder (mashadir tsanawiyah) adalah sumber-sumber pendukung yang membantu.memperkaya isi penafsiran, baik berupa karya-karya milik mufassir lain yang relevan. atau kitab lainnya. Selanjutnya, terdapat perbedaan pendapat mengenai perbedaan antara sumber tafsir dan corak tafsir. Beberapa ulama menjadikan disiplin ilmu lain seperti fikih, ilmu balaghah, dan lain-lain sebagai sumber penafsiran. Sedangkan ulama lain, seperti M. Quraish Shihab memasukkan disiplin ilmu ini sebagai sandaran yang mempengaruhi para mufassir sebagai corak tafsir.

Filter by Year

2021 2026