cover
Contact Name
M Taufiq Rahman
Contact Email
jis@uinsgd.ac.id
Phone
+6289655289523
Journal Mail Official
jis@uinsgd.ac.id
Editorial Address
Prodi Magister Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Jalan Cimencrang, Panyileukan, Gedebage Kota Bandung Indonesia 40292
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Iman dan Spiritualitas
ISSN : -     EISSN : 27754596     DOI : http://dx.doi.org/10.15575/jis
Jurnal Iman dan Spiritualitas (JIS) is an open-access journal and peer-reviewed scientific works both theoretically and practically in the studies of religions and spirituality in various parts of the world.
Articles 421 Documents
Tafsir Bil Ma’tsur dalam Studi Naskah Al-Qur’an Asep Amar Permana
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 3 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i3.18791

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan tafsir bil ma’tsur dan apa saja yang harus di perhatikan hingga disebut dengan tafsir bil ma’tsur, serta pandangan para ulama terhadap tafsir bil ma’tsur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan kajian pustaka. Hasil dari penelitian ini, ditemukan pokok bahasan bahwasannya tafsir bil ma’tsur adalah Penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, penafsiran al-Qur’an dengan sunnah, penafsiran al-Qur’an dengan qaul sahabat. Apabila penafsirnya adalah kalangan sahabat, maka itu termasuk tafsir sahabat. Dan apabila penafsirnya adalah tabi’i, maka itu bagian dari tafsir tabi’in. Yang harus diperhitungkan sebagai tafsir bil ma’tsur itu ada tiga jenis: Pertama: Apa yang diriwayatkan Rasulullah Saw dari penafsirannya terhadap Al-Qur'an. Kedua: Apa yang diriwayatkan dari para sahabat, yang memiliki hukum marfu'; seperti ababun nuzul dan mugibat. Ketiga: apa yang telah disepakati para sahabat atau para tabi’in. Pandangan ulama klasik dan kontemporerpun berbeda pendapat mengenai tafsir bil matsur.
Kategorisasi Tafsir dan Problematikanya dalam Kajian Kontemporer Ihsan Imadudin; Aini Qurotul Ain
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 3 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i3.18692

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk memetakan kategorisasi tafsir serta problematikanya dengan meninjau dari tiga aspek yaitu sumber, metode, dan corak penafsirannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan library research atau studi pustaka. Hasil studi menunjukan bahwa dari segi sumber tafsir terbagi menjadi dua kategori yaitu sumber primer atau tafsir bil ma’tsur dan sumber sekunder atau tafsir bil ra’yi. Ditinjau dari segi metode, tafsir terbagi menjadi empat kategori yaitu tahlili, ijmail, moqaran dan maudhu’i. Ditinjau dari segi corak,  kategori tafsir memilik variasi corak yang sangat banyak di antaranya corak lughawi, hukmi,  falsafi, sastra, ilmi, adab ijtima’i, dan akan terus muncul corak baru sesuai dengan perkembangan zaman. Kategorisasi tafsir ini hasil selain mempermudah dalam pemetaan keilmuan Al-Qur’an, dalam prosesmya ternyata menemui beberapa problematika terutama dalam aspek aksiologi dan praksis.
Kesetaraan Gender dalam Al-Qur’an Ditinjau dari Pemahaman Amina Wadud dan Ashgar Ali Engineer Ai Syaripah; Ibnu Muhammad Yamudin Salaeh
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 4 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i4.18974

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui makna simbol kesetaraan gender dalam Q.S An Nisa ayat 34 dan komparasi penafsirannya oleh tokoh feminis Amina Wadud dan Ashgar Ali Engineer dengan kajian Semiotika Roland Barthes. Kemudian untuk metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif analisis. Adapun jenis penelitiannya adalah penelitian kualitatif dengan kajian semiotika Roland Barthes beserta studi komparasi antara tokoh feminis Amina Wadud dan Ashgar Ali Engineer. Hasil dari penelitian ini, ditemukan pokok bahasan bahwasannya simbol kesetaraan gender.dalam Q.S An Nisa ayat 34 adalah kata qawwaam yang dimaknai secara kontekstual oleh keduanya. Amina wadud pada kata qawwaam dalam memaknainya harus dengan konsep fungsional yang ditinjau dengan luas dalam lingkup masyarakat secara menyeluruh. Sedangkan Ashgar Ali Engineer penafsirannya makna kata qawwaam itu bukan dimaknai secara normatif melainkan pernyataan bahwa laki-laki adalah pemimpin dan dimaknai secara kontekstual bahwasannya laki-laki dan perempuan itu setara terhadap tanggung jawabnya dengan kewajiban dan haknya masing-masing dalam suatu keluarga dengan keunggulan keduanya dalam fungsi-fsungsi sosial bukan karena gender.
Penghayatan Nilai-Nilai Moral pada Upacara Seba dalam Meningkatkan Spiritualitas Masyarakat Adat Kabuyutan Ciburuy Kabupaten Garut Atu Setiati; Awis Resita
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 4 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i4.20061

Abstract

Realitas pelaksanaan upacara seba sebagai bentuk tradisi budaya yang dijalankan oleh masyarakat adat kabuyutan ciburuy memiliki pengaruh yang besar didalam kehidupan sebagai penyeimbang spiritual sehingga upacara seba masih dijalankan pada setiap generasi. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui nilai-nilai moral yang terkandung didalam upacara seba pada masyarakat adat kabuyutan ciburuy dalam meningkatkan spiritual. Metode penelitian yang digunakan kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teori yang digunakan yaitu teori nilai moral. Data diperoleh melalui teknik pengumpulan datanya kepada para tokoh setempat, warga sekitar, pengunjung yang datang melalui proses wawancara dan observasi.  Hasil penelitian didapatkan bahwa prosesi upacara Seba yang dilaksanakan di Situs Kabuyutan Ciburuy ada tiga tahapan yaitu persiapan upacara, puncak upacara, dan penutupan upacara. Nilai-nilai moral yang terdapat dalam upacara seba meningkatkan spiritual masyarakat adat karena makna didalamnya yang dipegang teguh dalam kehidupan bermasyarakat.
Merekontekstualisasi Tafsir Hukmi di Era Kontemporer Sandi Nugraha; Muhammad Hafizh Basyiruddin
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 3 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i3.18901

Abstract

Tulisan ini menelaah lebih lanjut mengenai tafsir hukmi dengan menjelaskan sejarah kemunculan corak hukum dalam dunia tafsir al-Quran, batasan istilah pembahasannya, perdebatan para ulama serta contoh kitab-kitab tafsir bercorak hukum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis berbasis penelitian kepustakaan dengan pendekatan sejarah dan tafsir. Temuan dari penelitian ini bahwa Tafsir Hukmi merupakan salah satu nuansa penafsiran yang menggunakan teori-teori dan pendekatan hukum. Sejarah kemunculan corak hukum ini sudah muncul pada masa Nabi SAW yang berkelanjutan hingga munculnya imam-imam madzhab sampai adanya  fanatisme madzhab. Adapun batasan istilah tafsir hukmi  mencakup pembahasan yang berkenaan dengan hukum-hukum syariat dalam al-Qur’an. Dalam praktik penafsiran bercorak hukmi ini tidak terlepas dalam perbedaan pandangan dalam istibath hukum, kitab-kitab tafsir bercorak hukum dapat ditemukan dalam Tafsir-tafsir yang bermadzhab seperti madzhab syi’ah imamiyah, syiah zaidiyah, tafsir bermadzhab maliki, hanafi, hanbali, syafi’i dan zahiri.
Eksistensi dan Polemik Tafsir Bi al-Dirayah Asep Sofyan Nurdin; Azis Abdul Sidik
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 3 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i3.18610

Abstract

Penelitian ini bertujuan membahas tentang hal ihwal Tafsir bi al-Dirayah dan perdebatannya di kalangan para ulama baik Salaf maupun Khalaf. Metode dalam penelitian ini bersifat kualitatif dengan melalui studi pustaka dan pendekatan sejarah maupun kajian naskah tafsir. Hasil dari pembahasan penelitian ini meliputi sejarah kemunculan Tafsir bil Dirayah, batasan-batasan Tafsir bi al-Dirayah dan kedudukan Tafsir bi al-Dirayah. Selanjutnya penelitian ini menyimpulkan bahwa Tafsir bi al-Dirayah merupakan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dengan menggunakan akal atau dikenal dengan penafsiran dengan hasil ijtihad. Tafsir ini muncul dan berkembang pada abad ke-3 hijriah, kemunculannya beriringan dengan perkembangan keilmuan dan sekte-sekte kalam. Semenjak kemunculannya, tafsir ini berkembang dengan sangat pesat walaupun banyak perdebatan ulama yang membolehkan dan juga yang melarangnya. Ulama yang membolehkan berargumen bahwa Allah SWT. di dalam Al-Qur’an memerintahkan hambanya untuk melakukan perenungan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an; sedangkan yang melarangnya berpendapat bahwa penafsiran dengan ra’yu tidak bersandarkan kepada Al-Qur’an dan hadits, tetapi hanya berdasarkan pada akal saja. Perdebatan ini tidak lepas juga dari syarat-syarat mufassir untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Ulama yang membolehkan penafsiran dengan ra’yu membatasi penafsiran dan persyaratan agar penafsiran tersebut tidak mazhlum atau sesat menyesatkan. Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat besar kepada umat khususnya pegiat kajian Al-Qur’an dan metodologi penafsiran. Penelitian ini hanya menjelaskan topik tentang tafsir bi al-ra’yi yang kemudian dapat melahirkan pemahaman yang lebih up to date tentangnya.  
Tradisi Lokal dalam Membangun Rumah dan Religiositas Masyarakat Perdesaan di Cirebon Ade Romansyah
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 4 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i4.20458

Abstract

Tulisan ini membahas tradisi masyarakat lokal dalam membangun bangunan rumah dan religiusitas masyarakat perdesaan di tengah tradisi tersebut. Lokus penelitian ini terletak di Desa Lebakmekar, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Kehadiran tradisi lokal dalam membangun rumah di wilayah itu, telah melibatkan para pekerja bangunan sehingga penelitian dalam artikel ini juga akan diarahkan pada bagaimana respons dan religiositas para pekerja bangunan tersebut di tengah kehadiran tradisi. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan kajian pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa telah terjadi keserasian antara tradisi leluhur warga Lebakmekar dengan ajaran-ajaran Islam yang mereka anut. Tidak ada tradisi yang mengarah pada perilaku syirik. Semua tradisi dalam membangun rumah memiliki makna yang mendalam, dan sesuai dengan nilai-nilai keislaman, seperti sedekah, rasa syukur, dan gotong royong. Hal serupa juga dikerjakan para pekerja bangunan, mereka meyakini sepenuhnya ajaran Islam dan menjalankan setiap ajarannya, sembari tetap meyakini dan menjalankan tradisi adat warga lokal. Tidak ada resistensi antar agama dan tradisi lokal, yang ada keduanya saling berjalan beriringan berkat kebijaksanaan warga Lebakmekar. Penelitian ini menjadi bukti kuat bagaimana budaya lokal dan agama bisa saling berhubungan dengan baik di Indonesia, melalui adaptasi nilai-nilai lokal dalam kehidupan beragama.
Analisis Semantik terhadap Konsep Al-Falah di dalam Al-Qur'an Muhammad Rifaldi
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 4 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i4.19214

Abstract

Fenomena kemunduran umat Islam saat dibandingkan dengan orang Barat pada era ini menjadi sebab dilakukannya penelitian ini. Al-Qur’an mengidentikkan orang Islam dengan kesuksesan di dunia dan akhirat, sedangkan orang non-muslim diidentikkan dengan kerugian. Sehingga terlihat telah terjadi paradoks antara Al-Qur’an dan realita, maka menjadi penting mengkaji konsep kesuksesan dalam Al-Qur’an yang tertuang dalam kata Al-Falah dan derivasinya. Al-Falah akan dianalisis dengan semantik ensiklopedik yang merupakan gabungan antara Tafsir Maudhu’i dan semantik Al-Qur’an versi Toshihiko Izutsu. Secara metodologis, penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif karena data yang dikumpulkan dan dikaji adalah data-data yang sifatnya pustaka. Data-data tersebut, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif analisis yang aplikasinya diterapkan dengan menggunakan teknik analisis konten. Temuan dalam penelitian ini antara lain, makna dasar Al-Falah adalah kesuksesan duniawi dan ukhrawi yang diperoleh melalui proses yang relatif konsisten dan karakteristiknya relatif bertahan lama. Sedangkan makna relasional Al-Falah pra-Islam adalah kesuksesan menyenangkan hati di dunia yang diperoleh dengan usaha sungguh-sungguh dan makna relasional term Al-Falah setelah Al-Qur’an turun adalah kesuksesan mendekatkan diri pada Allah di dunia dan akhirat dengan usaha yang sesuai dan layak. Konsep Al-Falah dapat diaplikasikan sebagai salah satu dasar bagi seorang muslim untuk menyikapi fenomena kemunduran umat Islam dari orang Barat saat ini. Dengan memahami konsep Al-Falah akan membawa seseorang mengenal identitas hamba dan Tuhan serta bagaimana seharusnya bentuk hubungan antara keduanya di dunia. Penelitian ini menemukan, konsep Al-Falah di dalam Al-Qur’an berdiri atas tiga dasar yaitu, proses yang sesuai, tujuan yang tepat, dan pemahaman yang mendalam. Konsep Al-Falah ini berbeda dengan konsep kesuksesan pada umumnya karena dalam konsep ini, kesuksesan di dunia adalah sebuah proses dan bukannya hasil dari sebuah proses. Sedangkan, kesuksesan di akhirat adalah hasil atau kelanjutan dari kesuksesan di dunia.
Meninjau Kembali Tafsir Al-Quran Generasi Tabiin Abdul Ghoni; Asep Ahmad Fathurrohman; Ade Jamarudin
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 3 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i3.18853

Abstract

Tujuan dalam penulisan tulisan ini adalah untuk menambah wawasan pengetahuan Agama khusunya di bidang ilmu Al-Qur’an. Di dalam ilmu Al-Qur’an sendiri banyak ilmu yang harus dipelajari salah satunya Ulumul Qur’an sebagai ilmu dalam paradigma filsafat ilmu yang akan membedakan antara ilmu dan pengetahuan. Tabi’in merupakan generasi setelah Sahabat, karena para tabi‘in telah menerima interpretasi dari para Sahabat secara langsung, maka dapat disimpulkan bahwa para Tabiín memiliki peranan yang sangat penting dan signifikan dalam bidang tafsir. Tafsir secara istilah bermakna penjelasan tentang kalam Allah yang merupakan mu'jizat dan diturunkan kepada Nabi Muhammad shalallahu'alaihi wa sallam.
Pro dan Kontra dalam Tafsir Sufi Ahmad Midrar Sa’dina; Agung Ahmad Zaelani
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 3, No 1 (2023): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v3i1.21523

Abstract

Penelitian ini dilandasi oleh perbedaan pendapat para ahli dalam hal mardud atau maqbulnya tafsir sufi dalam Islam. Dengan kajian dekriptif-analitis, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dalam prosesnya yaitu melalui studi kepustakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek historis tafsir dengan warna sufistik, batasan, dan relasinya pada ranah kontradiktif para ahli tafsir. Hasil dan pembahasan dalam penelitian ini meletakkan satu benang merah dalam khazanah tafsir sufi dengan nuansa isyarinya. Varian dan konsekuensi di dalam tafsir sufi tak lepas dari orientasi sufisme dalam perkembangannya. Terdapat sikap yang tertutup berlebih mengenai tafsir sufi ini, sehingga sejatinya mengerdilkan kemungkinan-kemungkinan dalam kuasa ilahi sebagai pemberi wahyu dan karunia. Padahal untuk filterisasi bisa disusun indikator yang tanpa intimidatif. Perkembangan tafsir sufi di era keemasannya sekitar abad 2-6 H disinyalir tak lepas dari sosio-politik kekuasaan saat itu. Diharapkan penelitian ini dapat menjawab persoalan-persoalan seputar ruang lingkup tafsir sufi. Selain itu, penelitian ini diharapkan mampu untuk menengahi pandangan antara dua sisi para ahli sehingga lebih moderat dengan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.

Filter by Year

2021 2026