cover
Contact Name
M Taufiq Rahman
Contact Email
jis@uinsgd.ac.id
Phone
+6289655289523
Journal Mail Official
jis@uinsgd.ac.id
Editorial Address
Prodi Magister Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Jalan Cimencrang, Panyileukan, Gedebage Kota Bandung Indonesia 40292
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Iman dan Spiritualitas
ISSN : -     EISSN : 27754596     DOI : http://dx.doi.org/10.15575/jis
Jurnal Iman dan Spiritualitas (JIS) is an open-access journal and peer-reviewed scientific works both theoretically and practically in the studies of religions and spirituality in various parts of the world.
Articles 421 Documents
Hamka dan Jihad dalam Pendekatan Hermeneutika Sonny Permana; Badruzzaman M. Yunus
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 3 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i3.18566

Abstract

Penafsiran jihad mengalami deradikalisasi makna. Hamka melakukan upaya penafsiran jihad jauh melampaui zamanya. Sehingga penafsiran jihad yang selama ini telah terkontaminasi dengan framing radikal. Kini mendapatkan porsi yang lebih menyeluruh dan lebih mengena di hati masyarakat Indonesia. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk menelisik upaya penafsiran Hamka mengenai jihad secara historis menggunakan kaca mata hermeneutika, sehingga dihasilkan reasoning (alasan ilmiah) cara berfikir Hamka dalam menafsirkan jihad. Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutika dalam merangkai kerangka pembahasan. Metode penelitian pada pembahasan ini menggunakan metode tematik konseptual untuk untuk melakukan pelacakan seluruh konsep jihad dalam al-Qur’an yang tidak secara jelas disebutkan atau dijelaskan, akan tetapi secara substansi maknanya terdapat dalam al-Qur’an. Sedangkan metode khusus pada penelitian ini menggunakan metode hermeneutika William Dilthey yang berfungsi juga sebagai pisau analisis penulis dalam mengestrak penafsiran Hamka mengenai jihad.Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa Penafsiran jihad Hamka merupakan bentuk upaya Hamka untuk menangkal ideologi imperialisme, komunisme, kristenisasi dan liberalisme dari tanah Indonesia dengan membentuk strategi penafsiran jihad  pada tiga aspek, yakni aspek ekonomi, pendidikan dan sosial politik.
Peran Agama dalam Mengendalikan Dorongan Seksual Kaum Gay di Kota Bandung Andini Andini
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 4 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i4.20687

Abstract

Agama Islam sebagai pedoman kehidupan umat muslim selayaknya dapat diamalkan dan dijadikan acuhan serta pertimbangan dalam memutuskan segala sesuatu. Akan tetapi dalam kasus ini, kaum gay yang beragama Islam melakukan hubungan seksual sesama jenis karena merasa tidak mampu menahan dorongan seksual. Walaupun kaum gay muslim mengetahui bahwa menyukai sesama jenis adalah larangan agama, akan tetapi hal tersebut tidak mampu membuatnya untuk menahan timbulnya dorongan seksual tersebut. Di sisi lain, kaum gay ingin mempertahankan prinsip keyakinannya, sebaliknya kaum gay kesulitan untuk mengendalikan dorongan seksual dalam dirinya. penelitian ini kemudian membahas tentang bagaimana makna agama bagi gay muslim, seksualitas kaum gay muslim dan peran agama dalam mengendalikan dorongan seksual gay muslim. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitik dalam bentuk studi kasus terhadap 7 orang gay muslim di Kelurahan Pasirbiru Kecamatan Cibiru Kota Bandung. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara tidak terstruktur dan didukung dengan observasi dan dokumentasi. Sedangkan untuk analisisnya menggunakan teori Miles dan Huberman dalam Creswell. Hasil penelitian ini menunjukkan bahw peran agama dalam mengendalikan dorongan seksual kaum gay menunjukkan bahwa dua diantara 7 orang yang menyatakan agama mampu mengendalikan dorongan seksual yang dimiliki, hal tersebut karena adanya penghatan mendalam dan takut akan azab Allah, dan 5 orang menyatakan keraguan karena melihat agama hanya sebatas pelaksanaan kewajiban.
Perspektif Kesetaraan Gender pada Tenaga Kerja Wanita di Kabupaten Bandung Barat Yayang Hendri Subagja
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 4 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i4.19034

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa tantangan untuk mencapai kesetaraan gender adalah adanya perbedaan pandangan antara laki-laki dan perempuan dalam hal hak, kewajiban, peran dan status sosial. Salah satunya, isu kesetaraan gender dalam  ketenagakerjaan  masih menjadi perbincangan. Hal ini sering dibicarakan karena mengacu pada hak dan kewajiban  warga negara Indonesia yang dijamin oleh  UUD 1945. Kesetaraan gender dalam pekerjaan adalah tanggung jawab pemerintah untuk melindungi hak-hak rakyat, tetapi juga memiliki latar belakang budaya. Masih ada beberapa hambatan kelembagaan dan sosial budaya untuk meningkatkan kesetaraan gender dalam pekerjaan, seperti kesadaran pekerja akan hak dan rendahnya daya tawar pekerja perempuan. Untuk itu, diyakini bahwa pemerintah  perlu berperan dalam kesetaraan gender dengan memperkuat penegakan hukum terkait kesetaraan gender di bidang ketenagakerjaan dan memperkuat sistem pengawasan ketenagakerjaan. Selain itu, meningkatkan kesadaran  kesetaraan gender di kalangan pekerja perempuan dan memberikan perlindungan sosial kepada pekerja perempuan di sektor informal.
Peranan Perempuan dalam Melestarikan Kesenian Tari Topeng Cirebon Gaya Slangit Faqih Alfarisi
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 3 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i3.18854

Abstract

Peranan perempuan dalam pelestarian tari topeng Cirebon gaya Slangit sangat penting, di tengah arus kebudayaan pada era globalisasi ancaman kepunahan menjadi nyata bagi keberlangsungan eksistensi tari topeng cirebon gaya slangit. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan peranan perempuan dalam melestarikan kesenian tari topeng cirebon gaya slangit pada saat pandangan streotip, marginalisasi dan diskriminasi terhadap perempuan terkonstruk di masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif melalui observasi secara langsung dan interview atau wawancara secara mendalam kepada pihat terkait seperti, ketua organisasi keperempuanan yang ada di desa Slangit, kepala desa, pemilik sanggar dan masyarakat sekitar. Peranan perempuan dalam upaya pelestarian tari topeng Cirebon gaya slangit harus diapresiasi oleh masyarakat dengan melalui kesadaran kolektif bahwa perempuan merupakan bagian dari struktur masyarakat yang sama pentingnya dengan laki-laki, sehingga konstruk sosial yang menjadikan perempuan sebagai makhluk kelas dua setelah laki-laki hilang dalam mindset masyarakat secara luas.
Sebuah Perspektif Nawal El Saadawi: Khitan Perempuan Antara Syariat dan Adat Taufan Januardi
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 3 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i3.18649

Abstract

Persoalan khitan terhadap perempuan hingga saat ini masih menjadi isu yang menarik untuk dibahas, tidak hanya menjadi perhatian di kalangan ulama islam, tapi juga menjadi perhatian bagi para ahli medis, aktivis sosial, hingga tokoh feminis. Tulisan ini membahas  mengenai praktik khitan perempuan dari sudut pandang Nawal El Saadawi, ia merupakan seorang feminis Mesir, yang aktif memperjuangkan hak-hak dan kebebasan perempuan, serta bagaimana praktik khitan itu terjadi dan dilatarbelakangi syariat atau berupa adat yang turun temurun dilaksanakan. Selain menggunakan studi pustaka sebagai metodologi kajian, sebagai pendukung tulisan ini juga disertai hasil interview dengan seorang responden Mesir yang mengalami khitan sewaktu kecil. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa Lembaga Fatwa Mesir menyatakan bahwa tidak ada dalil yang kuat mengenai khitan terhadap perempuan, ditinjau dari segi medis kerugian bagi perempuan lebih besar. Nawal El Saadawi berpandangan bahwa khitan terhadap perempuan merupakan sebuah tradisi yang turun menurun dan bukan berasal dari ajaran agama Islam, serta dari segi kebermanfaatan menurutnya khitan terhadap perempuan tidak memiliki manfaat apa pun bagi kesehatan, bahkan merugikan kaum perempuan seperti halnya, mengurangi gairah seksual, trauma psikologis, hingga dapat menyebabkan kematian. Diharapkan dengan adanya kajian ini bisa memberi khazanah dalam keilmuan baik mengenai feminitas, adat ataupun syariat.
Metode Tafsir Al-Qur’an: Deskripsi atas Metode Tafsir Ijmali Akhdiat Akhdiat; Abdul Kholiq
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 4 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i4.21315

Abstract

Penafsiran Al-Qur’an telah dimulai sejak masa Nabi Muhammad SAW sampai dengan sekarang ini. Suatu produk penafsiran yang muncul dari masa Nabi SAW sampai sekarang tentulah berbeda, baik dari metode maupun kesimpulan yang dihasilkan. Hal itu terjadi karena kebutuhan suatu penafsiran setiap masa selalu berbeda-beda. Di samping itu munculnya anggapan bahwa produk tafsiran lama tidak lagi mampu menjawab tantangan zaman akan setiap permasalahan manusia. Maka karena itu, dari empat metode yang sudah disimpulkan oleh Al-Farmawi, yaitu ijmāli, taḥlīli, muqāran, dan metode mauḍū’i, penulis mencoba untuk membahas metode ijmāli. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk membahas kemunculan tafsir ijmāli, dasar dan urgensi tafsir ijmāli, langkah-langkah tafsir ijmāli dan kelebihan serta kekurangan tafsir ijmāli. Adapun metode yang digunakan adalah metode kualitatif berbasis library research dengan pendekatan analisis-deskriptif. Berdasarkan metode tersebut, artikel ini menemukan hasil bahwa metode ijmāli muncul pertama kali pada masa Nabi SAW. Tafsir ijmāli adalah metode penafsiran Al-Qur’an dengan penjelasan singkat, global dan tidak panjang lebar. Dan metode ini sangat cocok untuk digunakan bagi pemula dan orang awam dalam memahami Al-Qur’an. Adapun langkah-langkahnya adalah menguraikan ayat secara sistematika Al-Qur’an, menjelaskan secara umum serta makna mufradatnya, berdasarkan kaidah-kaidah bahasa Arab, dan bahasa yang digunakan mengupayakan pemilihan diksi yang mirip dengan lafadz yang digunakan oleh Al-Qur’an. Di samping itu metode ijmāli memiliki kelebihan jelas dan mudah dipahami, terbebas dari penafsiran israiliyat dan dekat dengan bahasa Al-Qur’an. Sedangkan kekurangannya adalah petunjuk Al-Qur’an yang tidak utuh/parsial dan penafsiran dangkal atau tidak menyeluruh.
Ideologi Kalam dalam Tafsir Al-Qur’an: Studi Komparasi Tafsir Sunni dan Syi’ah tentang Kepemimpinan Azis Abdul Sidik
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 4 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i4.18956

Abstract

Penelitian ini bertujuan membahas tentang konsep kepemimpinan antara kelompok sunni dan syiah dengan analisis komparasi tafsir Al-Qur’an yang dijadikan hujjah oleh ulama sunni-syiah. Metode dalam penelitian ini bersifat kualitatif dengan kajian Pustaka dan pendekatan sejarah kajian naskah tafsir. pembahasan penelitian ini meliputi kepemimpinan dalam prespektif kelompok sunni-syiah dan Analisa perbandingan antara ulama sunni dan syiah. Selanjuntya hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pemahaman konsep kepemimpinan antara sunni-syiah berbeda dimulai dari siapa yang lebih pantas mengantikan kepemimpinan Rasulullah SAW. seteelah wafat, syiah mengkaliam bahwa Ali Bin Abi Thalib merupakan pemimpin yang sah yang ditunjuk langsung oleh nabi untuk menggantikan kepemimpinan setelah nabi wafat dengan hujjah Q.S al-Maidah 67 yang berkaitan dengan sabda nabi di Ghadir Khum, sedangkan ulama sunni menganggap bahwa Abu Bakar ash- Shiddiq adalah pemimpin yang sah yang dipilih dan hasil musyawarah di Majlis al-Syura di bani Saqifah, pembukaan ini berlanjut sampai pada konsep imamah yang dianut oleh syiah, syiah memahami imamah merupakan pemimpin yang dipilih langsung oleh Allah SWT. pemimpin yang maksum yang wajib ditaati dan diimani oleh umat, sedangkan sunni menganggap bahwa hanya manusia biasa hasil pilihan umat dan tidak maksum. Hujjah dalil Al-Qur’an yang dipakai oleh sunni-syiah berbeda juga batasannya, hal ini terjadi karena untuk memperkuat pemahaman dari kelompoknya masing-masing.
Analisis Fatwa MUI Tentang Pelarangan Dan Penyesatan Kepada Kelompok Ahmadiyah di Indonesia Denden Matin Dayyin; Ahmad Zuhdi Ismail
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 4 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i3.19213

Abstract

Hadirnya gerakan keagamaan kelompok Ahmadiyah di Indonesia menjadi sebuah kajian yang menarik untuk dikaji karena terjadinya pro dan kontra dikalangan umat muslim Indonesia. Pelbagai ketidakterpenuhan hak asasi manusia jemaat ahmadiyah menjadi polemik dan memberi ruang yang menakutkan. Diskriminasi danpersekusi dilakukan beberapa kelompok organisasi masyarakat islam lainnya. Ditambah fatwa MUI yang mendorong ternilainya jemaat Ahmadiyah menjadi sesat dan dilarang kehadirannya di Indonesia. Pelarangan dan penyesatan jemaat Ahmadiyah di Indonesia membuat stigma buruk dimasyarakat. Ahmadiyah memahami bahwa ajaran modernisasi yang dibawa ke Indonesia menjadi bantuan untuk umat muslim. Hingga saat ini jemaat Ahmadiyah dengan masyarakay muslim lainnya masih memiliki hubungan yang kurang baik. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui fatwa MUI yang melakukan pelarangan dan penyesatan kepada kelompok Ahmadiyah di Indonesia.
Seawaves in the Qur’anic Perspective Busaeri Busaeri; Nurwadjah Ahmad; Harmain Ajiwibowo
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 3 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i3.18604

Abstract

The development of science contains an invitation to humankind to think, read the universe, and contemplate all the secrets contained in His creation. Scientific cues in the Qur'an show evidence of Allah's oneness and infinite power. There is not a single creation of Allah that is not useful or useless, including the phenomenon of wave terms in the Qur'an. This term in the Qur'an is intended as a negative connotation, a wave that causes extraordinary and frightening destructive power. The research is on the waves from the Qur’anic perspective with thematic approaches. The results of this study show that: first, the sea waves in the Qur'an are called the word al-mauj (الْمَوْجُ) and their derivation is repeated 7 times in Surah Yunus [10]:22, Hud [11]:43, Al-Kahf[18]:99, Hud[11]:42, Lukman [31]:32 and Al-Nur[24]:40 which means اج البحر (moving sea water) which means water the sea up and down, then used in the word اج القوم (group movement) which means they are in dispute over their affairs and problems, then the word اج الحق (movement from the right). The Qur'an refers to two meanings: the movement of seawater in the letters Lukman [31]:32 and Al-Nur[24]:40, the second refers to the movement carried out by a group in the letter. Al-Kahf[18]:99, which refers to Gog and Magog. Second, sea waves in the Qur'an can be proven in scientific studies, including that waves are vibrations that propagate in seawater with several layers that cause waves, the influence of the wind as the driving force of the waves, the presence of internal (deep sea) waves.
Penerapan Hak Cuti Haid pada Tenaga Kerja Perempuan di SMP Nusaibah Leadership Islamic Boarding School Habib Akbar Al Apdolah; Yeni Huriani
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 3 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i3.18572

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan permasalahan yang ada dalam penerapan hak cuti haid pada tenaga kerja perempuan. Pendekatan penelitian ini menggunakan analisis deskriptif yang mengacu pada data kualitatif berbentuk kata-kata lisan atau tulisan yang dicermati oleh peneliti dan item-item yang dilihat secara rinci untuk menangkap makna yang bisa disimpulkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SMP Nusaibah Leadership Islamic Boarding School, penerapan pemberian cuti haid bagi pekerja perempuan diatur dalam Pasal 81 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Penerapannya, berupa pemberian izin untuk tidak bekerja karena sakit. Tetapi untuk mendapatkan izin tidak bekerja sangat sulit karena beberapa faktor yang menghambat penerapan hak cuti haid, antara lain minimnya pemahaman pekerja perempuan tentang hak cuti haid, timbulnya kecemburuan sosial antar pekerja khususnya pekerja laki-laki, kurangnya tenaga kerja juga menjadi faktor penghambat mendapat hak cuti haid.

Filter by Year

2021 2026