cover
Contact Name
Mister Gidion Maru
Contact Email
mrgidionmaru@unima.ac.id
Phone
+6281340075651
Journal Mail Official
mrgidionmaru@unima.ac.id
Editorial Address
Jl Kampus Tonsaru, Tondano
Location
Kab. minahasa,
Sulawesi utara
INDONESIA
Kompetensi: Jurnal Bahasa Dan Seni
ISSN : 23373504     EISSN : 27979970     DOI : 10.36582
The Scientific Journal of Language and Art is a scientific journal with a scope of language, culture, art and literature including its learning methods and theories that are published online every month. KOMPETENSI carries efforts to disseminate scientific ideas and the best learning practices in order to improve, the quality of science, and the dissemination of knowledge and technology for students, lecturers and observers of science in the scope of the fields of language and art as well as literature and culture. KOMPETENSI articles in the form of research results, or the results of studies and reflections on practices and learning methods related to language, literature, art, culture and teaching that have never been published before.
Articles 322 Documents
ANALISIS PENGGUNAAN FUKUSHI “TAIHEN” PADA BUKU MINNA NO NIHONGO Amelia Sompotan
KOMPETENSI Vol. 2 No. 07 (2022): KOMPETENSI: JURNAL BAHASA DAN SENI
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36582/kompetensi.v2i07.4815

Abstract

Adverbia (fukushi) adalah kata keterangan, tidak mengalami perubahan bentuk. fukushi taihen masuk pada jenis Teido no Fukushi, yaitu adverbia yang berfungsi untuk menyatakan suatu tingkatan keadaan dan aktivitas. Selain taihen, fukushi lain yang masuk dalam jenis teido no fukushi di antaranya adalah totemo, hijooni, osoroshiku, hidoku, daibu, zuibun, amarini, kanari, kekkoo, nakanaka, sukoshi, chotto, zutto, motto, masumasu. Kata taihen yang muncul dalam buku pelajaran baik Minna no Nihongo 1 dan 2 maupun Kaiwa Hyougen no Sakuin yang dipakai pada mata kuliah Kaiwa Enshuu hampir seluruhnya adalah kata taihen sebagai kata sifat. Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan makna kata taihen dalam kalimat bahasa Jepang baik sebagai kata sifat maupun kata keterangan. Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Sebagai kata sifat, kata taihen yang ada dalam kalimat yang menjadi data dalam penelitian ini memiliki berbagai makna walaupun sepintas terlihat sama saja. Makna-makna tersebut adalah melelahkan, sulit, pengeluhan, menyusahkan, hal yang menguatirkan, dan hal yang tidak praktis (hingga akhirnya menyusahkan). Dari fakta inilah ditemukan bahwa kata taihen dalam buku pelajaran lebih bernuansa negatif, karena dari berbagai makna yang telah dianalisis tersebut tidak ada satupun yang bernuansa positif.(2) Sebagai kata keterangan (fukushi) yang menyatakan suatu tingkatan keadaan, pada umumnya kata taihen diterjemahkan menjadi “sangat” ke dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan hasil analisis yang telah dipaparkan dalam bab sebelumnya, makna kata taihen sebagai kata keterangan adalah pengungkapan sesuatu dengan bersungguh-sungguh dengan perasaan mendalam atau mencolok dan suatu hal yang tidak biasa atau di luar dugaan. Berbeda dengan taihen sebagai kata sifat yang semuanya bernuansa negatif, taihen sebagai kata keterangan memiliki dua nuansa sekaligus baik positif maupun negatif, tergantung pada kata apa yang diterangkannya.
PERSEPSI GENERASI MUDA DALAM PENEGUHAN KOLINTANG DAN PENDIRIAN JANUR KUNING (ARUKUS) PADA ACARA ADAT KEMATIAN DI DESA PANGIAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Virawati Kamasaan
KOMPETENSI Vol. 2 No. 9 (2022): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini ialah mendeskripsikan pelaksanaan acara peneguhan kolintang dan mendeskripsikan persepsi generasi muda dalam peneguhan kolintang dan pendirian janur kuning (Arukus). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung, teknik wawancara, dan angket. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, nenyajian data, verifikasi, dan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan peneguhan kolintang sekaligus pendirian janur kuning di desa Pangian ada tahapan-tahapan yang harus dilalui yaitu ; (a). Proses adat Mopotaau Kon Lipu Oyuon Minatoy (proses adat kebiasaan memberitahukan kepada pemerintah dan masyarakat bahwa telah terjadi peristiwa duka), (b). Proses adat Moyosingog (berbicara dengan keluarga), (c). Proses adat Monginggu’ (memandikan), (d). Proses adat Motaput (mengafankan), (e). Proses adat Sambayangan (menyolatkan), (f). Proses adat Poyodapotan In Ki Ina In Buta (meletakkan jenazah ke liang lahat), (g). Proses adat Bingkat Bolad sekaligus Molitoy Kolubung (angkat tikar dan gulung selendang putih). Dalam prosesi pemasangan janur kuning (Arukus) dilakukan oleh pemangku adat dan pemerintah setempat, dalam proses ini pemasangan janur kuning itu harus bersamaan dengan acara peneguhan kolintang. Berdasarkan hasil penelitian ternyata generasi muda yang ada di Desa Pangian Induk, Pangian Tengah, Pangian Barat ternyata memiliki persepsi “menerima atau melestarikan” disertai dengan praktek peneguhan kolintang dan pendirian janur kuning pada acara adat kematian . Mereka juga berpersepsi “menerima atau melestarikan” disertai dengan praktek peneguhan kolintang dan pendirian janur kuning pada acara adat kematian
NILAI MORAL KELUARGA DALAM FILM “MIRACLE IN CELL NO.07” KARYA LEE HWAN KYUNG DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA Atika Manderes
KOMPETENSI Vol. 2 No. 9 (2022): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah yang diangkat dari penelitian ini adalah nilai moral keluarga yang terdapat dalam film “Miracle In Cell No.7” implikasinya pada pembelajaran sastra. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan nilai-nilai moral keluarga dalam film “ Miracle In Cell No.7”. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskripsi kualitatif dengan teknik analisis isi. sumber data dalam penelitian adalah film “Miracle In Cell No.7” Karya Lee Hwan Kyung. Hasil penelitian terungkap bahwa secara nilai moral keluarga film “Miracle In Cell No.7” mengandung nilai-nilai moral keluarga, yakni (1) terdapat nilai nurani yang terdiri dari kejujuran, keberanian, cinta damai, disiplin diri, dan nilai memberi seperti setia, hormat, cinta dan kasih saying, peka, tidak egois, adil, dan murah hati ditemukan dalam adegan-adegan film, (2) Adapun implikasinya terhadap pembelajaran sastra: dilihat dari bentuk nilai moral keluarga yang diteliti, peneliti mendapatkan bahwa film adalah sarana yang efektif dalam membangun karakter siswa dan menjadi media pembelajaran baik bagi siswa maupun sebagai film motivasi bagi setiap orang yang mentonnya.
TRAGEDI CINTA TOKOH CERITA PADA NOVEL I’M NOT ANTAGONIST KARYA PALUPIII DAN IMPLIKASI DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA (TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA) Veronica Oktavia Menggana; Intama J Polii; Viktory N J Rotty
KOMPETENSI Vol. 2 No. 9 (2022): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu untuk : (1) mendeskripsikan tragedi cinta yang dialami oleh tokoh cerita dalam novel I’m Not Antagonist karya Palupiii; (2) mendeskripsikan implikasi tragedi cinta pada tokoh cerita novel I’m Not Antagonist karya Palupiii terhadap pembelajaran sastra di SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini ialah novel I’m Not Antagonist karya Palupiii. Hasil penelitian ini menunjukkan tragedi cinta pada novel I’m Not Antagonist karya Palupiii yaitu : Pertama, wujud tragedi cinta novel I’m Not Antagonist terdapat kecelakaan, penolakan cinta, kekerasan, kecewa, sakit hati, dan berpisah. Kedua, penyebab tragedi cinta novel I’m Not Antagonist terdapat cemburu, egois, emosi, mencintai berlebihan,perkataan benci. Pada pengajaran sastra terlebih khusus novel, sastra mampu menumbuhkan kemampuan membaca siswa. Implikasinya terhadap pembelajaran sastra di Sma mengenai novel berkaitan dengan kompetensi dasar yang ke 3.9 yaitu menganalisis isi dan kebahasaan novel. Kompetensi ini berkaitan dengan siswa karena sesuai dengan Novel I’m Not Antagonist tentang tragedi percintaan pada karakter remaja. Siswa diajarkan untuk mampu menganalisis isi dari novel sehingga dapat menambah wawasan mereka tentang novel. Dengan menganalisis isi novel dapat menerapkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti yaitu wujud dan penyebab tragedi cinta yang berkaitan dengan percintaan remaja sekarang ini.
KOMPARASI PREFIKS BAHASA SANGIR DAN BAHASA VISAYA DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAERAH DI PULAU KAWIO KECAMATAN KEPULAUAN MARORE Herlijin M Pangumpia
KOMPETENSI Vol. 2 No. 9 (2022): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk mendeskripsikan prefiks bahasa Sangir dan bahasa Visaya dari segi bentuk. 2) Untuk mendeskripsikan morfem terikat bahasa Sangir dan bahasa Visaya dari segi makna.3) Untuk mendeskripsikan morfem terikat bahasa Sangir dan bahasa Visaya dari segi fungsi. 4)Untuk mendeskripsikan implikasinya dalam pembelajaran bahasa daerahdi Pulau Kawio Kecamatan Kepulauan Marore. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode komparatif sinkronis. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode cakap semuka. Data bersumber dari data lisan sebagai data utama, sedangkan data tertulis diperoleh dari hasil penelitian terdahulu serta naskah-naskah relevan dengan topik penelitian. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan metode padan dengan teknik HBS (Hubung Banding Sama) dan HBB (Hubung Banding Beda). Sumber data penelitan ini adalah tuturan atau ujaran lisan bahasa Sangir dan bahasa Visaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dari segi bentuk, prefiks bahasa Sangir berbeda dengan prefiks bahasa Visaya. prefiks bahasa Sangir dimarkahi oleh /me-/, /ni-/, /na-/ atau /kina-/. Sedangkan prefiks bahasa Visaya dimarkahi oleh /ma-/, /gi-/, dan /na-/.(2) Proses pengimbuhan khususnya awalan (prefiks) yang membentuk verba aktif, dalam bahasa Sangir dan bahasa Visaya dapat terjadi nasalisasi seperti bahasa Sangir /suhude/ à /menuhude/ ‘mendorong’; /deso/ à /mendeso/ ‘menyimpan’; bahasa Visaya /tuklud/ à /manuklud/.Prefiks yang dimarkahi /ni-/ dalam bahasa Sangir yang diikuti kata dasar dengan fonem awal mengalami perubahan. Dalam bahasa Visaya, pertemuan prefiks /gi-/ yang diikuti kata dasar tidak mengalami perubahan. (4) Prefiks yang dimarkahi /na-/ atau /kina-/ dalam bahasa Sangir yang diikuti kata dasar yang diawali fonem /s/, /b/, /d/ terjadi perubahan pada fonem awal kata dasar tersebut, pada bahasa Visaya, tidak terjadi perubahan. (5) Dari segi makna, prefiks bahasa Sangir dan bahasa Visaya memiliki persamaan yaitu membentuk verba aktif, ‘melakukan pekerjaan’ verba pasif ‘dikenai pekerjaan’, tidak sengaja, sudah dilaksanakan.(6) (1) Prefiks bahasa Sangir dan bahasa Visaya,/me-/ berfungsi untuk membentuk kata kerja.2) Prefiks sebagai (awalan) /di-/ memiliki fungsi untuk membentuk kata kerja.3) Prefiks sebagai (awalan) /ter-/ fungsi dari awalan ini ialah membentuk kata sifat atau kata kerja pasif.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN PUISI LISAN SALAMAT DALAM UPACARA PERNIKAHAN DI MASYARAKAT BOLAANG MONGONDOW DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA Melati Tiwang
KOMPETENSI Vol. 2 No. 9 (2022): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam puisi lisan Salamat bahasa Mongondow dan Implikasinya Bagi Pembentukan Karakter Siswa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Untuk mengumpulkan data metode yang digunakan adalah : 1) metode observasi, 2) metode wawancara, dan 3) metode Rekam. Sumber data dalam penelitian ini adalah pemangku adat Mongondow di desa Pangian dan desa Bilalang yang memahami betul tentang puisi lisan Salamat. Untuk menganalisis data penelitian ini, teknik yang digunakan adalah teknik analisis isi (contents analysis).1) Nilai pendidikan yang terkandung dalam puisi lisan Salamat adat pernikahan Bolaang Mongondow adalah sebagai berikut : (a) Pihak laki-laki mengantar anak mereka untuk menjadi suami dari si gadis dengan berbagai macam kekurangan, (b) Meskipun badai menghampiri yang dikiaskan pada kilat dan guntur yang mensyaratkan kejadian alam, mempelai laki-laki harus siap untuk hidup bersama dengan istrinya meskipun ada berbagai macam masalah yang terjadi, (c) Pihak laki-laki berharap pada pihak perempuan jangan dibiarkan apabila dalam kehidupan rumah tangganya ada masalah tetapi dicari solusinya, (d) Pihak mempelai perempuan menerima dengan senang hati pengantin mempelai laki-laki, (e) Pihak perempuan mengharapkan mempelai laki-laki mengasihi/mencintai anak gadis mereka dalam berumah tangga, (f) Pihak perempuan mengharapkan mempelai laki-laki harus melayani pada pihak keluarga perempuan dan laki-laki tidak memilih kasih, (g) Pihak mempelai perempuan berharap mempelai laki-laki harus menyatu dengan keluarga mempelai perempuan, (h) Dalam hidup berumah tangga, jika terjadi masalah antara suami dan istri, sebaiknya diselesaikan bersama secara baik-baik, (i) Seorang laki-laki meninggalkan orang tuanya dan bersatu dengan istrinya, sehingga mereka berdua bukan lagi dikatakan dua tetapi satu. Seperti yang tertulis dalam Matius 19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia, (j) Dalam perjalanan berumah tangga laki-laki/suami harus bekerja keras menghidupkan keluarganya sedangkan perempuan/istri sebagai penolong untuk suaminya baik dalam keadaan susah maupun senang. Seperti dalam Kejadian 2:18 TUHAN Allah berfirman: ”Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”, (k) Suami dan istri harus menjaga rahasia rumah tangganya, (l) Keluarga pihak perempuan mengharapkan kedua pengantin dibimbing agar bisa menjadi keluarga yang bertanggung jawab. Sebaliknya jika terjadi kesalahan atau konflik dalam rumah tangga sebaiknya diselaikan bersama secara baik-baik. 2) Implikasi nilai pendidikan puisi lisan Salamat dalam upacara perkawinan pada masyarakat Bolaang Mongondow terhadap pembentukan karakter siswa ialah : a. Peran siswa sebagai anak dalam keluarga adalah menjaga keutuhan keluarga, jangan melakukan hal-hal yang berakibat munculnya konflik dalam keluarga. b. Siswa menghargai dan melestarikan adat istiadat yang berlaku didaerahnya. c. Siswa memiliki pengetahuan tentang pentingnya masyarakat dalam menjalani kehidupan yang berat dengan perbedaan. d. Konflik dalam bentuk apapun akan dapat terselesaikan jika bimbingan orang tua diikutsertakan.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER TOYOTOMI HIDEYOSHI DALAM NOVEL “TAIKO” Bryan Rawung; Jos Narande; Rianna Sumampouw
KOMPETENSI Vol. 2 No. 10 (2022): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Novel merupakan salah satu karya sastra yang berbentuk prosa yang mempunyai unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang keduanya saling berhubungan karena berpengaruh dalam kehadiran sebuah karya sastra. Novel Taiko Eiji Yoshikawa karya Eiji Yoshikawa merupakan novel yang menceritakan tentang Toyotomi Hideyoshi, satu dari tiga tokoh pemersatu Jepang dan seorang daimyo terkuat di zaman Azuchi Momoyama. Dua lainnya adalah Oda Nobunaga dan Tokugawa Ieyasu. Rumusan masalah pada penelitian ini yakni bagaimana karakter tokoh utama pada novel Taiko karya Eiji Yoshikawa Pada novel Taiko, bagaiamanakah Nilai Pendidikan karakter tokoh Toyotomi Hideyoshi. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Sumber data pada penelitian ini yaitu novel “Taiko” karya Eiji Yoshikawa, alih bahasa Hendarto Setiadi dan diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, 2003. Hasil dari penelitian ini yaitu Toyotomi Hideyoshi merupakan pemimpin jepang di zaman Azuchi Momoyama (1573-1603) yang berhasil didirikan pemerintahan pusat setelah berhasil mempersatukan provinsi-provinsi di Jepang.Toyotomi Hideyoshi yang memiliki nama panggilan kanak-kanak yaitu Hiyoshi. Ia terkenal dengan panggilan Monyet. Nilai-nilai pendidikan karakter Toyotomi Hideyoshi Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, rasa ingin tahu, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, peduli lingkungan, peduli sosial, bertanggung jawab. Toyotomi memiliki karakter yang religius, kejujuran, toleransi, tidak pernah menyerah, bekeja keras, membahagiakan ibu dan kakak perempuannya, kreatif, rasa ingin tahunya besar, tidak lupa dengan orang-orang yang selalu baik dengannya, mudah bergaul, bersahabat dengan siapa saja, cinta damai.
ANALISIS YOKAI DALAM ANIME GEGEGE NO KITARO Juergen Geovane Rambing; Rianna Sumampouw; Yenni Wahani
KOMPETENSI Vol. 2 No. 9 (2022): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan Yokai menurut pandangan orang Jepang dalam Anime Gegege no Kitaro. Anime Gegege no Kitaro merupakan Anime pertama yang menggambarkan ciri fisik Yokai itu. Menurut Kawase Shobo Shinsa dalam bukunya "Zusetsu Yokai-ga No Keifu" (2009) menerangkan bahwa karya yang mengisahkan Yokai Anime pertama oleh Mizuki Shigeru ini melahirkan sebuah genre baru yaitu genre Yokai dalam industri Anime. Gegege no Kitaro dengan pemeran utamanya Yokai itu sendiri, memperkenalkan mengenai asal usul dan petualangan di dunia Yokai disetiap episodenya. Anime Gegege no Kitaro sebagai salah satu cermin untuk mempelajari seperti apa ciri fisik Yokai itu. Mizuki Shigeru dan buku berjilidnya yang kembali memperkenalkan Yokai dari masa lalu ke Jepang modern, dimana Yokai terus menjadi aspek penting dari budaya populer Jepang. Pengaruh Yokai dapat dirasakan, dinikmati maupun dipelajari melalui buku, film, animasi, desain produk, video game Jepang dan lainnya. Pada zaman modern ini, budaya Jepang yang populer secara mendunia membawa Yokai semakin dikenal di seluruh dunia sebagai salah satu budaya populer Jepang.
MAKNA SOSIAL BUDAYA TUTURAN DALAM ADAT PERKAWINAN MONGONDOW Santia Koagow; Donald Rattu; Theresye Wantania
KOMPETENSI Vol. 2 No. 8 (2022): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini ialah untuk (1) mendeskripsikan bentuk tuturan sebagai pencerminan nilai sosial budaya perkawinan masyarakat Mongondow. (2) mendeskripsikan implikasinya bagi pembelajaran karakter di sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian adalah pemangku adat yang berperan dalam prosesi perkawinan masyarakat Mongondow. Untuk mengumpulkan data, teknik yang digunakan ialah observasi, rekam dan dokumen. Teknik yang digunakan untuk menganalisis data yakni teknik kualitatif, meliputi reduksi data, penyajian data, verifikasi, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan: 1) Nilai sosial budaya yang terkandung dalam tuturan upacara adat perkawinan Bolaang Mongondow dapat diklasifikasi atas (1) Tindak bahasa, yang meliputi, (a) tindak perfomatif implisit mengucapkan (kata mengucapkan tidak disebutkan) dengan mengatasnamakan Tuhan, (b)Tindak performatif implisit mengucapkan (kata mengucapkan tidak disebutkan) salam dan (c) Memerintahkan dengan modus memintakan dengan kata ‘ kalau boleh’. (2) Penggunaan diksi eufimistis adat dalam konteks ini mencakup ‘uang dan benda lainnya’. (3) Bentuk penyambung bahasa digunakan secara metaforis untuk makna penyampai bahasa atau maksud. (4) Penggunaan bentuk kaki tangan yang berkonotasi pengganti orang tua pengantin. 2) Melalui adat perkawinan Bolaang Mongondow, nilai-nilai tradisional dapat dipahami, cara bertutur yang santun, cara memilih kata yang halus, menggunakan gaya bahasa, dan sebagainya yang tercermin melalui adat perkawinan tersebut merupakan salah satu nilai yang dapat diberikan atau diajarkan pada peserta didik dalam rangka pembentuk karakter siswa.
KAJIAN SEMIOTIK ORNAMEN-ORNAMEN PADA WARUGA-WARUGA DI KAKASKASEN KOTA TOMOHON Arie Tulus
KOMPETENSI Vol. 2 No. 06 (2022): KOMPETENSI: JURNAL BAHASA DAN SENI
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36582/kompetensi.v2i06.5388

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran deskriptif tentang arti dan makna yang terkandung dalam tanda-tanda, simbol atau lambang yang diwujudkan kedalam ornamen-ornamen yang ada pada Waruga-Waruga di Kakaskasen Kota Tomohon. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Untuk mendapatkan data penelitian berupa ornament-ornamen digunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan, dikelompokkan, dan analisis tidak dalam bentuk angka tapi penyajiannya dengan menggambarkan dalam bentuk kata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Adanya tanda, simbol, atau lambang yang diwujudkan melalui ornamen-ornamen pada waruga-waruga di Kakaskasen Kota Tomohon ini, ternyata sarat arti dan makna. Dapat memberikan berbagai informasi penting tentang nilai-nilai filosofis yang tinggi sebagai wajah berbudaya bagi orang Toumbulu Kakaskasen tempo dulu. Simbol-simbol Karema, Lumimuut dan Toar , sebagai tiga sosok utama yang dipercaya sangat berpengaruh terhadap sejarah peradaban Tou Minahasa Umumnya, ikut pula di abadikan oleh tokoh-tokoh penting sub etnis Toumbulu, lebih khususnya di Wilayah Kakaskasen seperti yang dilakukan oleh: Opo’ Worang, Lasut, Kalalo, Mandagi, Rumondor, dll., dimana masing-masing mereka memiliki keahliaan luar biasa, taat, pantang menyerah, bijaksana dan disegani

Filter by Year

2021 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 5 (2025): KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 5 No. 4 (2025): KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 5 No. 3 (2025): KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 5 No. 2 (2025): KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 4 No. 6 (2024): KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 4 No. 5 (2024): KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 4 No. 4 (2024): KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 4 No. 3 (2024): KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 4 No. 2 (2024): KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 4 No. 1 (2024): KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 3 No. 12 (2023): KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 3 No. 11 (2023): KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 3 No. 10 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 3 No. 03 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. 3 No. 02 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. 3 No. 9 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 3 No. 8 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 3 No. 7 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 3 No. 6 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 3 No. 5 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. 3 No. 4 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. 3 No. 1 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 2 No. 12 (2022): KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. 2 No. 11 (2022): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 2 No. 10 (2022): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 2 No. 07 (2022): KOMPETENSI: JURNAL BAHASA DAN SENI Vol. 2 No. 06 (2022): KOMPETENSI: JURNAL BAHASA DAN SENI Vol. 2 No. 05 (2022): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 2 No. 04 (2022): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 2 No. 03 (2022): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 2 No. 02 (2022): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 2 No. 01 (2022): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 2 No. 9 (2022): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 2 No. 8 (2022): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 1 No. 12 (2021): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 1 No. 11 (2021): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 1 No. 10 (2021): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 1 No. 09 (2021): KOMPETENSI : Jurnal Imiah Bahasa dan Seni Vol. 1 No. 07 (2021): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 1 No. 06 (2021): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 1 No. 05 (2021): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 1 No. 04 (2021): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 1 No. 03 (2021): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 1 No. 02 (2021): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 1 No. 01 (2021): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. 1 No. 8 (2021): KOMPETENSI : Jurnal Imiah Bahasa dan Seni More Issue