cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
syahrir_gassa@yahoo.com
Phone
+6275172201
Journal Mail Official
sofyan@kemenperin.go.id
Editorial Address
http://litbang.kemenperin.go.id/jli/about/editorialTeam
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Litbang Industri
Core Subject : Science,
Jurnal Litbang Industri (JLI) is a scientific journal published regularly twice a year in June and December. JLI contains primary articles or reviews are sourced directly from results of industrial research such as processing of agricultural products, food processing, fishing industry, mining industry, industrial standardization, and pollution control. All submissions are reviewed by qualified reviewers in their field.
Articles 213 Documents
Pemanfaatan Gambir sebagai Bahan Dasar Pembuat Tinta Spidol Ramah Lingkungan Inda Three Anova; Hendri Muchtar
Jurnal Litbang Industri Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.266 KB) | DOI: 10.24960/jli.v7i2.3368.101-109

Abstract

Gambier can be used as a raw material for the manufacture of eco-friendly ink. This study was aimed to produce an alternative marker ink which is safer for the environment and human health. The current ink products generally contain volatile organic compound the chemical that can damage health. The study was done in several stages, raw material preparation, gambier extraction, color pigment making, ink formulation, and continued with stirring by used a high-speed homogenizer for the best formula. Variations of stirring speed were 1000, 1500, 2000 rpm and stirring time 10, 20, 30 minutes. The results showed that the best ink was obtained from the homogenization process with stirring time 30 minutes and speed 1000 rpm. The composition of gambier pigment 85%, glycerol 3%, polyethylene glycol 2%, propylene glycol 5%, and the addition of preservatives crystal violet 1%. The characteristics of markers ink were size particles 15.44 d.nm with a poly diversity index 0.186 and specific gravity 1.0254, black color ink, homogeneous, writings were not disjointed, and 6 minutes dry time.ABSTRAK Gambir dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan tinta spidol  yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan tinta spidol alternatif yang lebih aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Tinta yang diproduksi saat ini pada umumnya masih mengandung volatile organic compound yang merupakan bahan kimia yang dapat merusak kesehatan. Pembuatan tinta dilakukan dalam beberapa tahap yaitu persiapan bahan baku gambir, pengekstrakan gambir, pembuatan pigmen warna, pembuatan formula tinta, dan dilanjutkan dengan pengadukan menggunakan alat high speed homogenizer untuk formula terbaik. Variasi kecepatan pengadukan adalah 1000, 1500, 2000 rpm dan lama pengadukan 10, 20, 30 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinta spidol yang terbaik diperoleh dari proses homogenisasi dengan waktu pengadukan 30 menit pada kecepatan 1000 rpm. Komposisi pigmen gambir 85%, gliserin 3%, polietylen glikol 2%, dan propilen glikol 5% serta penambahan pengawet kristal violet 1%. Karakteristik tinta spidol berupa partikel dengan ukuran 15,44 d.nm dengan indek polidiversitas 0,186 dan berat jenis 1,0254, tinta berwarna  hitam, homogen, tulisan tidak terputus-putus dan waktu kering 6 menit.
Analisis hasil pewarnaan benang sutera menggunakan ekstrak gambir dengan mordan CaO F. Failisnur; S. Sofyan; S. Silfia; M. Marlusi
Jurnal Litbang Industri Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.278 KB) | DOI: 10.24960/jli.v10i1.6161.15-22

Abstract

Pewarnaan benang dengan pewarna alami untuk kain tenun sudah menjadi trend saat ini. Sutera merupakan serat alam yang sering digunakan untuk kain tenun dan menghasilkan intensitas warna yang baik ketika diwarnai dengan pewarna alami seperti ekstrak gambir. Pewarna alami yang diekstrak ulang dari gambir asalan telah diaplikasikan untuk mewarnai benang sutera. Penelitian bertujuan untuk menganalisis ukuran dan dispersi partikel dari ekstrak gambir serta melihat pengaruhnya terhadap hasil pewarnaan pada temperatur dan waktu pencelupan yang berbeda. Mordan CaO digunakan untuk membangkitkan dan mengunci warna dengan metoda pasca mordanting. Proses pewarnaan dilakukan pada temperatur 30, 50 dan 70 °C dengan waktu pencelupan 5, 15 dan 25 menit. Ekstrak gambir dianalisis dispersi ukuran partikelnya menggunakan particle size analyzer (PSA), sedangkan benang sutera yang telah diwarnai dievaluasi nilai kolorimetri dan ketahanan luntur warnanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pada temperatur 70 °C dengan waktu pencelupan 15 menit memberikan intensitas warna optimal dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian 40 °C rata-rata bernilai baik sampai sangat baik (4–5), terhadap panas penyeterikaan bernilai baik sampai sangat baik untuk semua perlakuan, sedangkan terhadap paparan sinar matahari bernilai cukup (3).
Sifat Tahan Luntur dan Intensitas Warna Kain Sutera Dengan Pewarna Alam Gambir (Uncaria gambir Roxb) Pada Kondisi Pencelupan dan Jenis Fiksator Yang Berbeda Failisnur Failisnur; Sofyan Sofyan
Jurnal Litbang Industri Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.495 KB) | DOI: 10.24960/jli.v4i1.634.1-8

Abstract

Gambier (Uncaria gambir Roxb) contains tannin compounds that can be used as a dye for textile products. Tannins are complex compounds in plant tissues when reacted with certain metal ions will form a specific colour. Result of strength and colour direction depend on dyeing condition and kind of fixator in fixation process. Purpose of the research to decide a right of dyeing condition and kind of fixator which were desired in order to produce colour variation, colour strength value, and a good colour fastness. The dyeing was conducted in hot condition (60-70ºC) in room temperature (27-30ºC) with fixator Al2(SO4)3, CaO,, and FeSO4. Result of the research was found a colour direction that was variative enough on silk fabrics started from yellow, golden yellow, brownish red, brown, moss green until blackish green. The optimum condition was obtained in hot dyeing (60-70ºC), kind of fixator CaO that produced intensity and higher darkness colour (K/S value) as high as 19.174 and colour fastness of washing 40oC, bright light and heat pressure was good and very good (4-5).ABSTRAK Gambir (Uncaria gambir Roxb) mengandung senyawa tanin yang dapat digunakan sebagai pewarna pada produk tekstil. Tanin merupakan senyawa komplek pada jaringan tumbuhan yang bila direaksikan dengan ion-ion logam tertentu akan membentuk warna yang spesifik. Intensitas dan arah warna kain yang dihasilkan sangat ditentukan oleh kondisi saat pencelupan dan jenis fiksator pada proses fiksasi. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan kondisi pencelupan yang tepat dan pemilihan jenis fiksator yang diinginkan dalam menghasilkan variasi warna, nilai intensitas dan ketahanan luntur warna yang baik. Pencelupan dilakukan dalam suasana panas (60-70ºC) dan pada suhu kamar (27-30ºC), dengan pembangkit warna (fiksator) Al2(SO4)3 (tawas), CaO(kapur tohor) dan FeSO4 (tunjung).  Hasil penelitian didapatkan arah warna yang cukup variatif pada kain sutera mulai dari kuning, kuning keemasan, merah kecoklatan, coklat, hijau lumut sampai hijau kehitaman.  Kondisi optimum diperoleh pada pencelupan panas (60-70ºC), jenis fiksator CaO yang menghasilkan intensitas dan ketuaan warna lebih tinggi (nilai K/S) sebesar 19,174 dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian 40ºC, sinar terang hari dan penekanan panas bernilai baik sampai sangat baik (4-5).
Penyisihan fosfat dari air limbah artifisial laundry memanfaatkan kulit jagung sebagai adsorben Shinta Indah; Denny Helard; Siti Lathifatuzzahrah
Jurnal Litbang Industri Vol 12, No 1 (2022)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1591.696 KB) | DOI: 10.24960/jli.v12i1.7504.33-40

Abstract

Air limbah laundry mengandung fosfat yang berpotensi mengakibatkan pencemaran air, jika tidak dikelola dengan baik. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan kulit jagung sebagai adsorben untuk menyisihkan fosfat dari air limbah laundry. Penelitian dilakukan secara batch menggunakan larutan artifisial fosfat yang dibuat dari KH2PO4 anhidrat untuk mendapatkan kondisi optimum meliputi waktu kontak, pH dan konsentrasi adsorbat serta dosis dan diameter adsorben. Konsentrasi fosfat dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 880 nm. Kondisi optimum yang diperoleh dari proses adsorpsi adalah waktu kontak 60 menit, pH adsorbat 4, konsentrasi adsorbat 35 mg/L, dosis adsorben 20 g/L dan diameter adsorben 0,075-0,127 mm. Efisiensi penyisihan dan kapasitas adsorpsi pada kondisi optimum adalah 71,28% dan 1,247 mg/g. Persamaan isoterm yang sesuai berdasarkan data penelitian adalah isoterm Freundlich (R2=0,9944) dengan nilai Kf 0,072 L/g dan nilai 1/n 2,366. Hal ini menunjukkan adsorpsi fosfat terjadi pada lapisan multilayer permukaan adsorben kulit jagung dan ikatan yang terbentuk adalah ikatan fisika. Hasil secara keseluruhan menunjukkan bahwa kulit jagung dapat dijadikan adsorben dalam penyisihan fosfat dari air limbah laundry.
Pengaruh pemakaian jahe emprit dan jahe merah terhadap karakteristik fisik, total fenol, dan kandungan gingerol, shogaol ting-ting jahe (Zingiber officinale) F Firdausni; K Kamsina
Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.798 KB) | DOI: 10.24960/jli.v8i2.4330.67-76

Abstract

Pemanfaatan jahe menjadi suatu produk alternatif yang mempunyai nilai tambah salah satunya adalah makanan ringan ting-ting jahe. Produk ini merupakan pangan fungsional yang berkhasiat obat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis jahe dan penambahan jahe terhadap karakteristik fisik, total fenol, kandungan utama jahe gingerol dan shogaol ting-ting  jahe. Penelitian dilakukan dengan menggunakan jahe emprit dan jahe merah dengan persentase penambahan terhadap bahan  10%, 20% dan 30%.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemakaian jenis jahe memberikan pengaruh terhadap total fenol, gingerol dan shogaol ting-ting  jahe. Perlakuan optimal didapatkan pada ting-ting  jahe emprit dengan   penambahan 30% dengan total fenol 1,66%, gingerol (6,8 dan 10 gingerol) berturut turut 0,172 mg/g; 0,163 mg/g; 0,275 mg/g, dan 6 shogaol 0,150 mg/g. Penilaian organoleptik tingkat kesukaan panelis terbaik diperoleh pada perlakuan ting-ting   jahe merah 20%  dengan rasa, aroma dan tekstur 3,90; 3,75; 3,45 yaitu disukai.AbstractAn alternative product from ginger that has an added value is by making it as a snack food called ginger ting-ting. This product is a functional food which has a medicinal properties. The study was aimed to determine the effect of ginger type and the addition of ginger to the physical characteristics, total phenol, the main content of ginger gingerol and shogaol of ginger ting-ting. The study was carried out using yellow ginger and red ginger with the percentage of addition to the ingredients of 10%, 20%, and 30%. The results showed that the use of the ginger type affected the total phenol, gingerol, and shogaol of ginger ting-ting. The optimal treatment was obtained in yellow ginger ting-ting at the addition 30% with total phenol 1.66%, gingerol (6, 8, and 10 gingerol) 0.172 mg/g; 0.163 mg/g; 0.275 mg/g respectively, and 6 shogaol 0.150 mg/g. Organoleptic assessment of the best panelist preference level was obtained at the treatment 20% red ginger ting-ting with the taste, flavor, and texture were preferred with value 3.90; 3.75; 3.45 recpectively.
Formula Makanan Tradisional Bubur Kampiun Instan Yulia Helmi Diza
Jurnal Litbang Industri Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1032.381 KB) | DOI: 10.24960/jli.v2i1.595.9-18

Abstract

The traditional food formula study of kampiun instant porridge had been carried out in three stages. Firstly, the optimization of the process to make filler of kampiun instant porridge, which consisted of instant mung beans, instant rice porridge, black glutinous rice porridge and banana instant. Secondly, preparation of sauce formula, and thirdly the mixing of fillers and formula sauce became a kampiun instant porridge. From the 8 (eight) formula, the F7 treatment that used E7 formula sauce (coconut milk powder instant : palmsuiker : sugar : milk were 1 : 0,5 : 0,5 : 0,25) tends to be preferred by the panelists. Nutrients and calories of kampiun instant porridge had good content of fat, protein and carbohydrates. Fat content of 5.70%-8.94%, protein content of 4.36%-20.46%, and carbohydrate content of 26.73%-32.61%. While the caloric value of 180.27 kcal-254, 62 kcal.  Therefore, the kampiun instant porridge can be used as an alternative for breakfast, emergency food for disaster-prone areas and specific food souvenirs of West Sumatra.ABSTRAKPenelitian formula makanan tradisional bubur kampiun instan telah dilakukan melalui tiga tahapan. Pertama, tahap optimasi proses pembuatan bahan pengisi bubur kampiun instan, yang terdiri dari kacang hijau instan, bubur beras instan, bubur ketan hitam instan dan pisang instan. Kedua, pembuatan formula kuah bubur kampiun instan, dan ketiga, pencampuran bahan pengisi dan formula kuah menjadi bubur kampiun instan. Dari 8 (delapan) formulasi, perlakuan F7 yang menggunakan formula kuah E7 (santan powder instan : palmsuiker : gula pasir : susu adalah 1 : 0,5 : 0,5 : 0,25) merupakan perlakuan yang cenderung lebih disukai oleh panelis. Dilihat dari kandungan gizi dan kalori, bubur kampiun instan mengandung lemak, protein dan karbohidrat yang baik. Kandungan lemak sebesar 5,70-8,94%, protein sebesar 4,36-20,46% dan karbohidrat sebesar 26,73-32,61%. Sedangkan nilai kalori sebesar 180,27- 254,62 kkal. Karena itu bubur kampiun instan ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif untuk sarapan pagi, makanan darurat untuk daerah rawan bencana dan sebagai makanan oleh-oleh khas Sumatera Barat.
Hydraulic Behavior in The Downflow Hanging Sponge Bioreactor Izarul Machdar
Jurnal Litbang Industri Vol 6, No 2 (2016)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.345 KB) | DOI: 10.24960/jli.v6i2.1679.83-88

Abstract

Performance efficiency in a Downflow Hanging Sponge (DHS) bioreactor is associated with the amount of time that a wastewater remains in the bioreactor. The bioreactor is considered as a plug flow reactor and its hydraulic residence time (HRT) depends on the void volume of packing material and the flow rate. In this study, hydraulic behavior of DHS bioreactor was investigated by using tracer method. Two types of sponge module covers, cylindrical plastic frame (module-1) and plastic hair roller (module-2), were investigated and compared. A concentrated NaCl solution used as an inert tracer and input as a pulse at the inlet of DHS bioreactor. Analysis of the residence time distribution (RTD) curves provided interpretation of the index distribution or holdup water (active volume), the degree of short-circuiting, number of tanks in series (the plug flow characteristic), and the dispersion number. It was found that the actual HRT was primarily shorter than theoretical HRT of each test. Holdup water of the DHS bioreactor ranged from 60% to 97% and 36% to 60% of module-1 and module-2, respectively. Eventhough module-1 has higher effective volume than module-2, result showed that the dispersion numbers of the two modules were not significant difference. Furthermore, N-values were found larger at a higher flow rate. It was concluded that a DHS bioreactor design should incorporated a combination of water distributor system, higher loading rate at startup process to generate a hydraulic behavior closer to an ideal plug flow.ABSTRAKEfisiensi unjuk kerja bioreactor Downflow Hanging Sponge (DHS) berkaitan dengan lamanya waktu tinggal limbah berada di dalam bioreaktor tersebut. Bioreaktor DHS dianggap sebagai seuatu reaktor aliran sumbat (plug flow) dimana waktu tinggal hidraulik (HRT) tergantung pada volume pori material isian dan laju alir. Dua jenis modul digunakan dalam penelitian ini, yang diberi nama dengan module-1 dan module-2 untuk melihat pengaruh jenis modul terhadap karakteristik hidraulik. Dalam eksperimen ini, nilai HRT diteliti menggunakan metode pencacahan (tracer). Hasil dari kurva residence time distribution (RTD) dianalisis nilai volume aktif, tingkat short-circuiting, karakteristik plug flow (jumlah seri tangki berpengaduk, N-value), dan bilangan dispersi. Dari hasil penelitian diperoleh HRT atual lebih singkat dari HRT teoritis. Volume aktif bioreaktor bernilai antara 60% sampai 90% dan 36% sampai 60% untuk masing-masing modul-1 dan modul-2. Walaupun volume efektif module-1 lebih besar dari modul-2, bilangan dispersi untuk kedua modul tidak berbeda secara signifikan. Nilai N-value diperoleh lebih besar pada laju alir lebih besar. Dari penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa desain bioreaktor DHS sangat berhubungan dengan sistem distribusi limbah cair dan laju alir yang tinggi untuk mendapatkan kondisi bioreaktor mendekati sistem plug flow ideal.
Front Matter Jurnal Litbang Industri Vol. 8 No. 1 Juni Tahun 2018 Sofyan Sofyan
Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.662 KB) | DOI: 10.24960/jli.v8i1.3997.%p

Abstract

Front Matter Jurnal Litbang Industri Vol. 8 No. 1 Juni Tahun 2018
Penentuan Jumlah Bakteri Asam Laktat (BAL) dan Cemaran Mikroba Patogen Pada Yoghurt Bengkuang Selama Penyimpanan Yulia Helmi Diza; Tri Wahyuningsih; Wilsa Hermianti
Jurnal Litbang Industri Vol 6, No 1 (2016)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.441 KB) | DOI: 10.24960/jli.v6i1.891.1-11

Abstract

One of the research result in order to diversify the processed jicama is jicama yoghurt with quality characteristics has largely met the quality requirements of SNI 2981: 2009 about yoghurt, but it is not known how long the jicama yoghurt can be stored with the availability of lactic acid bacteria alive eligible probiotic drink, namely a minimum of 106 colonies/g and there are no pathogenic microbial contamination Coliform and Salmonella that are safe for consumption. This research was conducted with the treatment of storage time of 0, 1, 2, 3 and 4 weeks at cold temperature (4°C). The yoghurt produced was tested a total value of lactic acid bacteria and pathogenic microbial contamination (Coliform and Salmonella). During storage was also tested total acid content, inulin and calcium, as well as organoleptic testing. Analysis of the various treatments showed the number of lactic acid bacteria that grow until week 3 (three) as much as 2.81 x 106 colonies/gram, or 6.4 log cycles, the yoghurt quality was still good and safe from contamination of pathogenic microbes that coliform <2 colonies/g and salmonella negative/100 ml. Decrease the number of lactic acid bacteria grow during storage of 2.38 x 108 colonies/gram at storage 0 weeks to 6.0 x 105 colonies/gram at 4 weeks of storage, or a decrease of 2.6 log cycle. During storage, the total acid tends to increase but still meet the quality requirements yoghurt, while the content of inulin and calcium tend to remain and organoleptic preferred by the panelists until the fourth week of storage.ABSTRAKSalah satu hasil penelitian dalam rangka diversifikasi olahan bengkuang adalah yoghurt bengkuang dengan karakteristik mutu telah memenuhi sebagian besar syarat mutu SNI 2981:2009 tentang yoghurt, namun belum diketahui berapa lama yoghurt bengkuang dapat disimpan dengan ketersediaan bakteri asam laktat hidup yang memenuhi syarat minuman fungsional, yakni  minimal 106 koloni/g dan tidak terdapat cemaran mikroba patogen Coliform dan Salmonella sehingga aman untuk dikonsumsi. Penelitian ini dilakukan dengan perlakuan lama penyimpanan 0, 1, 2 , 3 dan 4 minggu pada suhu dingin (4oC). Yoghurt yang dihasilkan diuji nilai total bakteri asam laktat dan cemaran mikroba patogen (Coliform dan Salmonella). Pengujian total asam, kandungan inulin dan kalsium, serta pengujian organoleptik juga dilakukan selama penyimpanan. Hasil analisis pada berbagai perlakuan menunjukkan jumlah bakteri asam laktat yang tumbuh sampai minggu ke-3 (tiga) masih memenuhi syarat yoghurt yang baik, yaitu sebanyak 2,81 x 106 koloni/g atau 6,4 siklus log dan aman dari cemaran mikroba patogen yaitu coliform <2 koloni/g dan salmonella negatif/100 ml. Jumlah bakteri asam laktat yang tumbuh mengalami penurunan selama penyimpanan dari 2,38 x 108 koloni/g pada penyimpanan 0 minggu menjadi 6,0 x 105 koloni/g pada penyimpanan 4 minggu, atau turun sebesar 2,6 siklus log. Total asam selama penyimpanan cenderung mengalami peningkatan tapi masih memenuhi syarat mutu yoghurt, sementara kandungan inulin dan kalsium cenderung tetap dan secara organoleptik disukai oleh panelis sampai penyimpanan minggu keempat.
Karakterisasi busa kaku (rigid foam) yang dihasilkan dari bubuk gambir (Uncaria gambir Roxb.) dengan bubuk albumin E Efrina; Anwar Kasim; Tuty Anggraini; N Novelina; Alfi Asben
Jurnal Litbang Industri Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.754 KB) | DOI: 10.24960/jli.v9i2.5382.127-133

Abstract

Salah satu kandungan yang terdapat pada Gambir adalah tanin, tanin memiliki gugus hidroksil dan dapat membentuk senyawa kompleks yang kuat dengan protein. Sifat fenolik dari tanin dapat digunakan sebagai bahan polimer seperti pada pembuatan busa. Busa dapat digunakan sebagai adsorpsi ion logam dan bahan isolasi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui interaksi antara perbedaan konsentrasi bubuk gambir dengan dua macam bubuk albumin yang digunakan pada pembuatan busa. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor A adalah jumlah penggunaan bubuk gambir pada pembuatan busa yaitu  16 g (A1), 18 g (A2), 20 g (A3), 22 g (A4), 24 g (A5) untuk setiap perlakuan. Faktor B adalah cara persiapan (preparasi) bubuk albumin yaitu dengan cara pengeringan lapis tipis (B1) dan dengan cara pengembangan busa (B2). Hasil penelitian menunjukkan nilai terbaik untuk kerapatan busa diperoleh pada perlakuan A4B1 yaitu 0.09 g/cm3, kekuatan tekan pada perlakuan A4B2 yaitu 4.68 kg/cm2, derajat pengembangan pada perlakuan A4B1 yaitu 53.61%, derajat keasaman pada perlakuan A4B1 yaitu pH 7.04, porositas pada perlakuan A3B2 yaitu 62.03% dan untuk pengamatan dengan menggunakan alat SEM, keseluruhan struktur mikroskopik busa yang dihasilkan adalah mulai dari berpori, agak rapat-sampai sangat rapat, memiliki diameter yang kecil-sangat besar sehingga busa dapat dikategorikan sebagai busa dengan sel tertutup atau busa kaku.ABSTRACTOne of the ingredients contained in Gambier is tannins, tannins have a hydroxyl group and can form strong complex compounds with proteins. The phenolic properties of tannins can be used as polymer materials as in foam making. Foam can be used as an adsorption of metal ions and insulating materials. This study aims to  determined the interaction between different concentration of gambier powder and two kinds of albumin powder to be used in making of foam. This study used Factorial Completely Randomized Design (CRD) with 2 factors and 3 replications. Factor A was the amount of gambier powder which was used in the manufacture of foam, there were 16 g (A1), 18 g (A2), 20 g (A3), 22 g (A4), 24 g (A5) for each of treatment. Factor B was the preparation method of albumin, with pan drying (B1) and by foaming drying (B2). The results showed the best value for bulk density is A4B1 (0.09 g/cm3), compressive strength in treatment A4B2 (4.68 kg/cm3), swelling degree in treatment A4B1 (53,61%), acidity (pH) in treatment A4B1 (7.04), porocity in treatment A3B2 (62.03%) and for SEM observations the entire microscopic structure of the foam produced is starting from porous, rather dense to very tight, having a small diameter until large, so that foam can be categorized as foam with rigid foam (closed cells).