cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
syahrir_gassa@yahoo.com
Phone
+6275172201
Journal Mail Official
sofyan@kemenperin.go.id
Editorial Address
http://litbang.kemenperin.go.id/jli/about/editorialTeam
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Litbang Industri
Core Subject : Science,
Jurnal Litbang Industri (JLI) is a scientific journal published regularly twice a year in June and December. JLI contains primary articles or reviews are sourced directly from results of industrial research such as processing of agricultural products, food processing, fishing industry, mining industry, industrial standardization, and pollution control. All submissions are reviewed by qualified reviewers in their field.
Articles 213 Documents
Pengaruh Substitusi Tepung Pisang Terhadap Mutu Kue Kering Sifia Silfia
Jurnal Litbang Industri Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (941.082 KB) | DOI: 10.24960/jli.v2i1.599.43-49

Abstract

Banana (Musa paradisiaca) is a highly nutritious fruit that is a source of vitamins, minerals and carbohydrates. Bananas are used as table fruit, smoked bananas, mashed bananas and banana flour. The purpose of this research was to extend the shelf life of banana which was processed into cookies. The research was conducted by treatment of comparison between banana flour and wheat flour, which is 100:0%, 80:20%, 60:40%, 40:60%, and 0:100%. The product was then analyzed the moisture content, ash, protein, and organoleptic test for taste, aroma, texture, and storage resistance. The results showed that comparison treatment of banana flour and wheat flour 80:20%, providing optimal results with 3.55% moisture content, 1.19% ash content, 14.25% protein, texture, flavor and aroma, and preferably keep hold more than 16 weeks.ABSTRAKPisang (Musa paradisiaca) adalah buah yang sangat bergizi yang merupakan sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang, pure pisang dan tepung pisang. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperpanjang masa simpan pisang yang diolah menjadi kue kering. Penelitian dilakukan dengan perlakuan perbandingan tepung pisang dengan tepung terigu, yaitu 100:0%, 80:20%, 60:40%, 40:60% dan 0:100%. Produk kemudian dianalisis kadar air, abu, protein, dan uji organoleptik terhadap rasa, aroma, tekstur, dan ketahanan simpan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tepung pisang dengan tepung terigu 80:20% memberikan hasil optimal dengan kadar air 3,55%, kadar abu 1,19%, protein 14,25%, tekstur, rasa dan aroma disukai serta ketahanan simpan lebih dari 16 minggu.
Mitigasi dampak pencemaran timbel di sekitar peleburan aki bekas Ridwan Fauzi; Muhamad Yusup Hidayat; Bambang Hindratmo; Siti Masitoh; Rahmad Onig Witama; Alfonsus H Harianja
Jurnal Litbang Industri Vol 11, No 1 (2021)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.528 KB) | DOI: 10.24960/jli.v11i1.6364.39-47

Abstract

Pencemaran logam berat timbel (Pb) di sekitar peleburan aki bekas sudah sangat memperihatinkan dan sangat berisiko bagi kesehatan lingkungan. Penggunaan tanaman yang mempunyai kemampuan dalam menyerap timbel perlu diaplikasikan dengan memperhatikan kondisi lanskap di sekitar peleburan. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas tindakan mitigasi dampak pencemaran timbel di udara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi penanaman dalam desain lanskap membuktikan tanaman dapat menjadi agen pengendali pencemaran logam berat timbel yang efektif dengan diketahuinya trend peningkatan nilai jerapan timbel dalam daun beberapa jenis tanaman yang diaplikasikan. Jenis tanaman flamboyan (Delonix regia) adalah jenis tanaman yang paling tinggi konsentrasi timbel dalam daunnya yang mencapai 3.946,05 mg/kg, apabila dibandingkan dengan jenis tanaman yang lain seperti Pinus (Pinus merkusii) yang mencapai 2.062,14 mg/kg dan Mahoni (Swietenia macrophylla) yang mencapai 910,68 mg/kg.
Penentuan Teknologi Proses Pembuatan Gambir Murni dan Katekin Terstandar dari Gambir Asalan Gustri Yeni; Khaswar Syamsu; Etik Mardliyati; Hendri Muchtar
Jurnal Litbang Industri Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.758 KB) | DOI: 10.24960/jli.v7i1.2846.1-10

Abstract

Uncaria gambir Roxb. is an industrial crop commodity that has a high economic value and good prospect for farmers and exporter. Gambier of traditional processed products (raw gambier) generally have various catechin content, so it is required further handling to increase the purity of catechins from raw gambier. The research was aimed to get a process technology on the making of pure gambier and standardized catechins. Sources of raw materials was obtained from extraction process through steaming leaves and twigs of gambier (KA) using equipment from aluminum (RA) and from iron (RF). Purification of raw gambier through repeated extraction with water could decrease tannin content from 24% to 2.4% and increase catechin levels between 40% to 74%. Gambier with a low tannin content (catechin KA) through re-extraction using water had the highest increase of catechin content with a color of yellowish white product. The iron-containing equipment affected the color of the pure gambier produced, which was reddish-brown. The effect of solvent on further extraction using ethyl acetate solvent resulted in higher catechin content (up to 99%) compare to ethanol (95%). The catechin purity of KA samples was tested by looking at its stability at varying levels of acidity, showing catechins of gambier was stabile at pH 6.ABSTRAK Uncaria gambir Roxb. merupakan komoditas tanaman industri yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta mempunyai prospek cukup baik bagi petani dan pemasok negara-negara asing. Gambir hasil olahan tradisional (gambir asalan), umumnya memiliki kandungan katekin yang beragam, sehingga diperlukan penanganan lebih lanjut untuk meningkatkan kemurnian katekin dari gambir asalan. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan teknologi proses pembuatan gambir murni dan katekin terstandar. Sumber bahan baku diperoleh dari proses ekstraksi melalui pengukusan daun dan ranting tanaman gambir (KA) menggunakan peralatan dari aluminium (RA) dan dari besi (RF). Pemurnian gambir asalan melalui ekstraksi berulang dengan air dapat menurunkan kadar tanin, yaitu dari 24% sampai 2,4% dan meningkatkan kadar katekin, yaitu antara 40% sampai 74%. Gambir dengan kandungan tanin rendah (katekin KA) melalui ekstraksi ulang menggunakan air memiliki peningkatan kadar katekin tertinggi dengan warna produk putih kekuningan. Peralatan mengandung besi berpengaruh terhadap warna dari gambir murni yang dihasilkan, yaitu berwarna coklat kemerahan. Pengaruh pelarut terhadap ekstraksi lanjut menggunakan pelarut etil asetat menghasilkan kadar katekin lebih tinggi (sampai 98%) dibandingkan etanol (95%). Kemurnian katekin sampel KA diuji dengan melihat stabilitasnya pada berbagai tingkat keasaman, menunjukkan katekin dari gambir stabil pada pH 6.
Pengaruh Suhu Penggorengan dan Ketebalan Irisan Buah Terhadap Karakteristik Keripik Nanas Menggunakan Penggorengan Vakum Asmawit Asmawit; Hidayati Hidayati
Jurnal Litbang Industri Vol 4, No 2 (2014)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.515 KB) | DOI: 10.24960/jli.v4i2.639.115-121

Abstract

Pineapple is one of the fruits that are produced in West Kalimantan. The production which is relatively high and it had a relatively short shelf life that is necessary to diversify the products from pineapple fruit that can add the sale value and extend the shelf life. One potential alternative is to develop the processing become chips. Pineapple chips processing was done by using a vacuum frying.  In the making process of pineapple chips was done by varying of frying temperature at 80, 85 and 90 degC and slice thickness 3, 4 and 5 mm. The research goal was to determine the effect of frying temperature and slice thickness of fruit on the characteristics of pineapple chips. The analysis showed that the frying temperature between 85-90oC and slices thick 3 mm were a good combination in the making of pineapple chips and met the SNI 01-4304-1996.ABSTRAK Nanas merupakan salah satu buah yang banyak dihasilkan di Kalimantan Barat. Produksi nanas yang relatif tinggi dan umur simpan yang relatif pendek mendasari perlu dilakukan diversifikasi produk dari buah nanas sehingga dapat menambah nilai jual dan memperpanjang umur simpan buah. Salah satu alternatif yang potensial untuk dikembangkan adalah dengan mengolahnya menjadi keripik. Pengolahan keripik nanas dilakukan dengan menggunakan alat penggorengan hampa (vacuum frying). Pada proses pembuatan keripik nanas ini dilakukan penelitian berupa variasi suhu penggorengan yaitu 80, 85 dan 90oC dan tebal irisan yaitu 3, 4 dan 5 mm. Tujuan penelitian ini adalah  untuk mengetahui pengaruh suhu penggorengan dan tebal irisan buah terhadap karakteristik keripik nanas. Hasil analisa  menunjukkan bahwa suhu penggorengan antara 85-90oC dan tebal irisan 3 mm, merupakan kombinasi yang baik dalam pembuatan keripik nanas dan sudah memenuhi SNI 01-4304-1996.
Kombinasi proses perebusan dan pengeringan bahan baku pada ekstraksi minyak alpukat menggunakan screw press Alfina Suci Cahyani; Nadia Putri Mauliza; Cut Meurah Rosnelly; Muhammad Dani Supardan
Jurnal Litbang Industri Vol 12, No 1 (2022)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1878.656 KB) | DOI: 10.24960/jli.v12i1.7272.1-6

Abstract

Screw press merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk memisahkan minyak dari daging buah dengan cara mendorong dan menekan bahan baku sehingga terjadi pengekstrakan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kinerja kombinasi proses perebusan dan pengeringan bahan baku daging buah alpukat pada ekstraksi minyak alpukat menggunakan screw press. Proses perebusan bahan bertujuan untuk menghilangkan getah pada buah alpukat dengan cara mengikat fosfor yang terkandung dalam getah menggunakan air atau larutan CaCO3. Pengeringan adalah proses mengeluarkan sebagian air dari suatu bahan dengan cara menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi panas. Variabel penelitian yang digunakan yaitu metode proses perebusan bahan baku (menggunakan air, CaCO3, dan kontrol) dan metode pengeringan bahan baku  (menggunakan microwave, oven, dan sinar matahari). Kombinasi proses perebusan menggunakan air dan pengeringan bahan menggunakan microwave menghasilkan yield minyak alpukat tertinggi yaitu 48,98% b/b. Sementara itu yield terendah dihasilkan pada perlakuan kontrol (tanpa perebusan) dengan pengeringan menggunakan sinar matahari yaitu 37,92% b/b. Karakteristik minyal alpukat yang dihasilkan hampir sama dengan minyak alpukat komersial dan telah memenuhi memenuhi syarat mutu minyak goreng sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 3741:2013.
Penentuan waktu ekstraksi pigmen angkak dari substrat ampas sagu menggunakan ultrasonic bath Dian Pramana Putra; Alfi Asben; N Novelina
Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.829 KB) | DOI: 10.24960/jli.v8i2.4094.83-88

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lamanya waktu ekstraksi pigmen angkak dari ampas sagu menggunakan ultrasonic bath. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu A (ekstraksi 10 menit), B (ekstraksi 20 menit), C (ekstraksi 30 menit), D (ekstraksi 40 menit). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bubuk pigmen hasil proses ekstraksi angkak ampas sagu selama 40 menit (perlakuan D) merupakan perlakuan terbaik, dimana intensitas pigmen tertinggi untuk λ 400 nm (kuning),  λ 470 nm (orange) dan λ 500 nm (merah ) yaitu 7,63 ; 6,91 dan 5,95. Karakteristik bubuk pigmen angkak (perlakuan D) memiliki nilai aktivias antioksidan 44,52% pada konsentrasi 1000 ppm, kandungan lovastatin 68,60 ppm, kadar air 4,83%, nilai pH 4,03 dan derajat kecerahan 26,76 oHue (merah keunguan).  AbstractThis study was aimed to determine the duration of angkak pigment extraction from sago waste  using ultrasonic bath. The study used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 repetitions, A (extraction 10 minutes), B (extraction 20 minutes), C (extraction 30 minutes), D (extraction 40 minutes). The results showed that the powder pigment results of the extraction process angkak sago waste  for 40 minutes (treatment D) was the best treatment, where the highest intensity of the pigment for λ 400 nm (yellow), λ 470 nm (orange) and λ 500 nm (red) were 7.63; 6.91; and 5.95 respectively. Characteristic of angkak pigment powder (treatment D) had value of antioxidant activity 44.52% at concentration 1000 ppm, lovastatin content 68.60 ppm, water content 4.83%, pH value 4.03, and degree of brightness 26.76 oHue (red purple). 
Potensi Pigmen Cassiavera pada Minuman Jahe Instan Sebagai Minuman Fungsional Firdausni Firdausni; Failisnur Failisnur; Yulia Helmi Diza
Jurnal Litbang Industri Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.758 KB) | DOI: 10.24960/jli.v1i1.590.15-21

Abstract

Cassiavera (Cinnamomum burmannii) contains reddish brown to dark brown pigment that can be used as additives in instant ginger drink. The pigment was generated by maceration method in water at initial temperature 25-27ºC and 85-100ºC with maceration time of 24, 48 and 72 hours. Cassiavera filtrate with optimal color intensity was then added to the ginger powder in the ratio w/v (10:1), (10:2) and (10:3). The potency of cassiavera pigment in the instant ginger was seen from the color intensity by using a spectrophotometer, test of total phenols and panelist preference level of aroma, color, and flavor generated. Results of the research showed that the treatment time of maceration significantly affected the color intensity of the product. The best treatment of cassiavera pigment generating was found on maceration with water at temperature 85-100ºC for 48 hours and comparison of ginger powder and cassiavera filtrate 10:3 (w/v) with the highest color intensity 0, 3813 and the color preferred by the panelists. Total phenol was 26.51 ppm, with average values of organoleptic test of taste, color, and aroma were 3.20, 3.40, and 3.40 respectively. The Color intensity was measured by using a spectrophotometer at a wavelength of 556 nm indicated the intensity of color between 0.0345 - 0.3813, and total phenols between 20.47 and 26.51 ppm.ABSTRAKCassiavera (Cinnamomum burmannii) mengandung pigmen berwarna coklat kemerahan sampai coklat tua yang digunakan sebagai bahan tambahan pada minuman jahe instan. Pengambilan pigmen dengan maserasi air pada suhu awal 25-27ºC dan 85-100ºC dengan lama maserasi 24, 48 dan 72 jam. Filtrat cassiavera dengan intensitas warna optimal yang didapatkan selanjutnya ditambahkan pada jahe bubuk dengan perbandingan antara jahe bubuk dan filtrat cassiavera b/v (10:1), (10:2) dan (10:3). Potensi pigmen cassiavera pada jahe instan dilihat dari intensitas warna dengan menggunakan spektrofotometer, uji total fenol dan tingkat kesukaan fanelis terhadap aroma, warna, dan rasa yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lamanya maserasi berpengaruh nyata terhadap intensitas warna produk. Pada pengambilan pigmen cassiavera didapatkan perlakuan terbaik pada  maserasi dengan air pada suhu 85-100ºC selama 48 jam dan perbandingan jahe bubuk dengan filtrat cassiavera dalam pembuatan jahe cassiavera instan adalah 10:3 (b/v) dengan intensitas warna tertinggi 0,3813, memiliki total fenol 26,51 ppm, aroma, warna, dan rasa yang disukai oleh panelis  dengan nilai rata rata  3,40; 3,47, dan  3,20. Pengujian intensitas warna menggunakan spektrofotometer yang diukur pada panjang gelombang 556 nm menunjukkan intensitas warna antara 0.0345-0.3813, dan total fenol antara 20,47-26,51 ppm.
Pengaruh Fermentasi Bakteri Asam Laktat Terhadap Sifat Fisikokimia Tepung Gadung Modifikasi (Dioscorea hispida) R. Haryo Bimo Setiarto; Nunuk Widhyastuti
Jurnal Litbang Industri Vol 6, No 1 (2016)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.701 KB) | DOI: 10.24960/jli.v6i1.1134.61-72

Abstract

Yam (Dioscorea hispida) is one of the tubers belonging to the family dioscoreaceae. Yam tubers not only have high content of carbohydrate, but also contain some toxic compounds such as: cyanogenic glycosides, alkaloids dioscorin, dehydrodioscorin, saponin and sapogenin. Fermentation of yam tubers can affected for physicochemical and amylography characteristics of modified yam flour and reduced toxic compounds. This study was aimed to determine effect of lactic acid bacteria (LAB) fermentation on the physicochemical properties and characteristics of yam flour amilography modification. From the 15 isolates of Lactobacillus plantarum had been selected two isolate (L. plantarum B291 and B307) with the highest amylase enzyme activity to be used as starter fermentation to produce modified yam flour. Fermentation of LAB could reduce levels of HCN on modified yam flour, although decreased levels of HCN was not significant with requirements of SNI. Fermentation of LAB increased levels of protein, fat and lactic acid, but decreased pH value and carbohydrate content in modified yam flour. Based on results of amylography analysis, control of yam flour with shredded without fermentation had the best gelatinization profile because it most resistant about heating.ABSTRAKGadung (Dioscorea hispida) merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang tergolong dalam family Dioscoreaceae.  Ubi gadung memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, akan tetapi juga mengandung beberapa senyawa racun berupa glikosida sianogenik, alkaloid dioscorin, dehydrodioscorin, saponin dan sapogenin yang berbahaya bagi kesehatan. Fermentasi umbi gadung dapat mempengaruhi sifat fisikokimia dan amilografi tepung gadung modifikasi serta menurunkan senyawa toksiknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bakteri asam laktat (BAL) penghasil amilase terhadap sifat fisikokimia dan amilografi tepung gadung modifikasi. Sebanyak 15 isolat Lactobacillus plantarum telah diseleksi, sehingga diperoleh 2 isolat BAL yaitu L. plantarum B291 dan B307 dengan aktivitas enzim amilase paling tinggi untuk digunakan sebagai starter dalam fermentasi pembuatan tepung gadung modifikasi. Penambahan BAL pada proses fermentasi dapat menurunkan kadar HCN tepung gadung modifikasi, walaupun penurunan kadar HCN yang dihasilkan tidak signifikan dan belum memenuhi persyaratan SNI. Perlakuan fermentasi BAL menyebabkan peningkatan kadar protein, lemak dan asam laktat pada tepung gadung modifikasi, namun berdampak pada penurunan nilai pH dan kadar karbohidratnya. Dari hasil analisis amilografi diketahui bahwa tepung gadung kontrol yang diparut tanpa fermentasi memiliki profil gelatinisasi yang paling baik karena paling tahan panas.
Aplikasi teknik biosorpsi menggunakan biosorben kulit batang sagu, arang aktif kulit buah kakao dan cangkang langkitang untuk mengolah air limbah CPO Rahmiana Zein; Imran Nazar; Zilfa Zilfa
Jurnal Litbang Industri Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3460.412 KB) | DOI: 10.24960/jli.v10i1.5946.47-59

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan biosorben kulit batang sagu, arang aktif kulit buah kakao dan cangkang langkitang dalam mengolah air limbah CPO. Penelitian dilakukan pada massa dan laju alir terbaik untuk pengolahan air limbah CPO dengan sistem aliran kontinu dan sistem aliran siklus serta menentukan kapasitas biosorpsi biosorben. Pengujian air limbah dan air olahan adalah pH, TSS, BOD dan COD. Analisis biosorben dilakukan untuk melihat gugus fungsi dengan FTIR, morfologi permukaan dengan SEM dan komposisi kimia biosorben dengan XRF. Massa dan laju alir terbaik masing-masing biosorben yang didapatkan dari percobaan yaitu 100 gram dan 100 mL/menit. Penelitian dengan sistem kontinu didapatkan hasil air olahan dengan nilai pH 6 s.d 7 dan persentase penurunan nilai TSS 99,53%; BOD 57,23% dan COD 90,85%. Penelitian dengan sistem kontinu dan siklus sebanyak 3 siklus didapatkan hasil air olahan dengan pH 6 s.d 7 dan persentase penurunan nilai TSS 99,66%; BOD 81,69% dan COD 95,90%. Hasil penelitian uji kinerja sistem, biosorben mampu mengolah air limbah sebanyak 12,5 L. Analisis biosorben menggunakan SEM, FTIR dan XRF didapatkan hasil yang berbeda antara biosorben sebelum dan sesudah kontak dengan air limbah yang menunjukan biosorben dan air limbah terjadi interaksi (biosorpsi).
Pemanfaatan limbah lumpur aktif (LLA) sebagai adsorben untuk meminimalisir zat pencemar dalam air dan air limbah : Sebuah Ulasan Salmariza Sy
Jurnal Litbang Industri Vol 10, No 2 (2020)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.412 KB) | DOI: 10.24960/jli.v%vi%i.6640.%p

Abstract

Artikel review ini merangkum tentang pemanfaatan limbah lumpur aktif (LLA) sebagai  bahan prekursor untuk menghasilkan adsorben dan aplikasinya terhadap material pencemar lingkungan seperti pewarna dan logam berat.  Kinerja adsorben berbasis lumpur (ABL) telah direview, dimana hasilnya bervariasi tergantung pada jenis prekursor lumpur, jenis pencemar, waktu dan suhu karbonisasi  dan jenis kondisi aktivasi yang digunakan. Hasil review menunjukkan bahwa aktivasi kimia secara langsung mempengaruhi sifat adsorben, kapasitas adsorpsi dan mekanisme penyisihan zat pencemar oleh ABL. Dilaporkan bahwa aktivasi kimiawi menggunakan berbagai jenis aktivator menghasilkan adsorben yang jauh lebih unggul dengan luas spesifik area yang tinggi dibandingkan dengan metode aktivasi secara fisika. Disamping itu pada proses aktifvasi fisika sendiri, dilaporkan bahwa sejalan dengan semakin tinggi suhu pirolisis dan suhu aktivasi, maka semakin dapat meningkatkan luas spesifik area sehingga dapat meningkatkan kapasitas penjerapan zat warna dan logam dalam larutan