cover
Contact Name
Kartika Magdalena Suwanto
Contact Email
kartika.suwanto@uph.edu
Phone
+6285780522262
Journal Mail Official
de.lite.journal@uph.edu
Editorial Address
Universitas Pelita Harapan MH Thamrin Boulevard 1100, Klp. Dua, Kec. Klp. Dua, Kota Tangerang, Banten 15811
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
de-lite
de.lite Journal of Visual Communication Design Study and Practice is a peer reviewed billingual journal that focuses on the foundational discussion of visual communication design. The journal is published by the Department of Visual Communication Design of Universitas Pelita Harapan, and managed by Universitas Pelita Harapans Editorial dan Publication Design Laboratory.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2025): December 2025" : 6 Documents clear
Reimagining the Way of the Cross: A Contemporary Multilayered Visualization Based on The Passion Hananto, Brian Alvin; Hardjono, Sharon; Usman, Winoto
de-lite Vol. 5 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v5i2.9997

Abstract

The Way of the Cross is a central devotional practice in Catholicism, yet its traditional visual representations often fail to resonate with younger generations. This study explores how contemporary art, specifically a multilayered visual approach, can revitalize engagement with the Via Dolorosa. Based on a devotional book, “The Passion” by James Traynor, which presents each station from a character’s perspective, this design project transforms textual testimonies into layered visual interpretations. The study applies Bandura’s Social Cognitive Theory to analyze character motivations and structure visual storytelling. The design methodology follows an exploratory model consisting of pre-design research, conceptual development, and final production. The design offers a new way to experience the Way of the Cross, encouraging personal reflection through layered visuals and character-based storytelling.
Parallel Editing in Conveying Parental Acceptance in the Short Film Manusia Bebas (2025) Rahmiaty, Siti Adlina; Dustin, Nicholas
de-lite Vol. 5 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v5i2.10044

Abstract

Dalam dunia sinema modern, penyuntingan tetap memegang peran penting untuk mendukung struktur naratif dan menguatkan emosi yang dirasakan oleh penonton. Salah satu cara yang efektif untuk menyampaikan dua kejadian atau lebih yang saling berhubungan ialah parallel editing atau penyuntingan paralel. Strategi penyuntingan ini memungkinkan penyajian dua peristiwa yang berlangsung di tempat berbeda secara bersamaan, sehingga menciptakan kesinambungan emosional dan tematik yang kuat. Manusia bebas adalah film pendek yang mengisahkan tentang konflik keluarga antara anak yang mencintai musik dan ayah yang tidak mendukung pilihannya. Fokus penelitian ini terletak pada klimaks yang menggambarkan adegan penerimaan orang tua (parental acceptance) terhadap keputusan anaknya tetap berkarir di dunia musik. Penyuntingan paralel dimanfaatkan untuk membangun koneksi emosional antara ayah dan anak meski tidak berada dalam ruang yang sama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus film pendek Manusia Bebas. Prosesnya dimulai dari studi literatur, menyortir footage-footage film dan pengujian langsung melalui praktik penyuntingan paralel pada footage tersebut. Data dikumpulkan melalui kumpulan footage dari hasil produksi film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuntingan paralel yang dikombinasikan dengan transisi visual mampu membangun hubungan emosional antara dua karakter dari ruang yang berbeda, tanpa harus menggunakan dialog verbal. Temuan ini membuktikan bahwa penyuntingan paralel dapat berfungsi sebagai perangkat naratif, khususnya hubungan keluarga dalam sinema. Proses penyuntingan tidak hanya menghasilkan koneksi visual tetapi memberikan pengalaman emosional yang kompleks pada penonton. Dengan membandingkan film-film dengan penyuntingan parallel, penelitian ini juga mengevaluasi efektivitas visual dalam membangun makna dan ketegangan emosi secara bertahap. Kata Kunci: Film Pendek, Penyuntingan paralel, Parental Acceptance
Magic Realism pada Karya Ilustrasi Berjudul "Perjalanan" Mauleti, Eston Kamelang
de-lite Vol. 5 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v5i2.10362

Abstract

Sebagai cabang seni, ilustrasi berfungsi menerangkan, teks disertai ilustrasi memungkinkan pemahaman makna secara menyeluruh. Dalam perkembangannya dua basis besar ilustrasi, traditional illustration dan digital illustration berjasa merepresentasikan teks, konsep ataupun ide. Pada bulan April-Mei 2024 International Illustration Network mengadakan Pameran Ilustrasi Internasional "Everything for Children 2024", di Illustration Gallery, Building B 301, Universitas Pelita Harapan, menampilkan 60 karya ilustrasi dari 23 negara. Penulis ikut berpartisipasi dalam pameran ini, karya ilustrasi yang diikutsertakan berjudul “Perjalanan”. Perjalanan adalah sebuah karya ilustrasi yang menggabungkan gaya realis dan surreal yang dikenal dengan istilah Magic realism. Istilah Magic Realism merupakan metode penciptaan karya ilustasi yang pertama kali muncul awal pada 1925 di Jerman oleh Frans Roh fotografer, kritikus seni dan sejarawan asal Jerman, yaitu menggabungkan unsur realis dengan hal-hal yang fantastis, mengusik perasaan, mitologis, dan seperti mimpi. Dua tokoh ilustrasi yang menerapkan aliran ini dalam karya buku ilustrasi mereka adalah Shaun Tan (The Lost Thing, 2000) dan Chris Van Allsburg (The Polar Express, 1985) yang membangkitkan imajinasi dan kreatifitas anak melalui karya ilustrasi, hingga kini karya mereka masih relevan untuk dinikmati
Fenomena Perubahan Bentuk Karakter Desain Dewi Sri Asih Generasi I (2016), Generasi II (2018) dan Generasi III (2020) sebagai representasi superhero wanita di Indonesia Tenardi, Shannon
de-lite Vol. 5 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v5i2.10364

Abstract

Penelitian ini membahas fenomena perubahan desain karakter Sri Asih, superhero wanita pertama di Indonesia, yang telah mengalami tiga generasi representasi: Nani Wijaya (2016), Rengganis (2018), dan Alana (2020). Perubahan desain ini dianalisis menggunakan prinsip totalitas dan waktu yang dikembangkan oleh Ahadiat Joedawinata, mencakup tiga aspek utama, yaitu fungsi, estetika , dan nilai simbolik. Metodologi yang digunakan melibatkan studi literatur, wawancara dengan kreator, serta analisis visual dengan indikator perubahan berupa apa yang tetap, apa yang hilang, apa yang berubah, dan apa yang baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun ketiga generasi Sri Asih sama-sama merepresentasikan sosok pahlawan perempuan, gaya visual dan elemen desainnya terus beradaptasi mengikuti kebutuhan audiens, tren estetika, serta konteks budaya pada masanya. Generasi pertama menekankan gaya realistik ala komik barat, generasi kedua menampilkan pendekatan amerimanga yang sporty, sementara generasi ketiga mengadopsi gaya semi-realis manga Jepang dengan muatan mistis. Kesimpulan dari studi ini menunjukkan bahwa desain karakter Sri Asih merupakan refleksi dari dinamika kebutuhan, simbol budaya, dan tren estetika lintas generasi, sekaligus membuka peluang diskusi tentang representasi perempuan dalam industri kreatif Indonesia.
Analisis Desain Karakter dan Latar Tradisional Epic Hero Archetype dalam Film Modern "John Wick" Heryanto, Naldo Yanuar; Ramdhan, Asep
de-lite Vol. 5 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v5i2.10437

Abstract

Arketip Epic Hero muncul dalam salah satu literatur yang diperkenalkan oleh Dean Miller, yaitu pengembangan dari desain arketip dalam cerita fiksi yang diawali oleh Joseph Campbell dan Carl Gustav Jung. Arketip ini memiliki ciri khas yang menjadikan desain karakternya memiliki kategori khusus tidak sama dengan visualisasi arketip hero lainnya karena sudah menjadi acuan dalam cerita untuk media hiburan terutama yang ada dalam film aksi modern. Desain Epic Hero yang tadinya dirancang untuk kisah-kisah tradisional kini dapat diterapkan dalam kisah modern yang mengikuti jaman kekinian, salah satunya adalah waralaba film aksi John Wick yang sudah mencapai seri ke-empat film layar lebarnya. Dalam studi kasus ini, Desain karakter arketip ini akan diteliti dengan analisis terapannya tidak hanya pada rancangan karakternya tetapi juga desain latar yang menjadikan dunianya sejalan dengan konsep arketip epic hero tradisional, termasuk juga sejalan dengan rancangan alur sebagai pembuktiannya bagaimana kedalaman sebuah desain dapat dilakukan dengan bermakna secara konseptual tidak hanya mengandalkan gimik atau tayangan laga dan aksi saja, sehingga akhirnya penelitian ini dapat menjadi sebuah inspirasi kreatifitas dan memiliki keilmuwan yang erat relasinya antara seni tradisional dan modern.
Repetisi Simbol Lingkaran Pada Pembuka Ke 25 Anime One Piece Inko Sakti Dewanto
de-lite Vol. 5 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v5i2.10439

Abstract

One Piece merupakan mahakarya komikus Jepang, Eichiiro Oda, yang telah meraih kesuksesan global sejak awal perilisannya pada tahun 1997. Kejeniusan Oda dalam meramu jalan cerita merupakan kunci sukses dari serial One Piece sehingga masih berlangsung hingga kini. Serial anime One Piece telah bekerjasama dengan banyak musisi yang menyumbangkan lagu untuk pembukaan dan penutupnya. Pada episode 1074, pembuka anime One Piece menggunakan lagu "Saiko Totatsuten" (yang berarti “Titik Tertinggi”) karya band Jepang "Sekai No Owari". Pembuka ke-25 ini terasa spesial karena menjadi pengantar menuju akhir petualangan kru bajak laut Topi Jerami di Negeri Wano (negeri para samurai). Peneliti mengangkat topik ini karena dalam pembuka anime tersebut menyisipkan banyak simbol lingkaran yang muncul dari awal hingga akhir. Lingkaran atau dalam budaya Jepang disebut “Enso”, dijelaskan sebagai simbol integritas, ketidakterbatasan, dan keabadian yang merepresentasikan dewa matahari. Berdasarkan teori Image of Time, lingkaran mencerminkan perjalanan waktu dan peristiwa-peristiwa kronologis. Landasan teori inilah yang membagi pembahasan artikel ini ke dalam tiga bagian utama yaitu sejarah dan penjajahan negeri Wano, perjuangan pembebasan negeri Wano, hingga perayaan kemenangan perjuangan di negeri Wano. Hasil kajiannya bahwa pembuka ke 25 anime One Piece memuat banyak nilai mitos primitif, seputar hidup-mati, manusia-dewa/dewi, serta baik-jahat/buruk. Maka demikian, sebegitu menariknya simbol-simbol lingkaran dalam pembuka anime ke-25 One Piece untuk dikaji, karena kandungan makna-makna simbolik yang tersembunyi di baliknya.

Page 1 of 1 | Total Record : 6