cover
Contact Name
Aulina Adamy
Contact Email
aulinaadamy@gmail.com
Phone
+6281298061066
Journal Mail Official
jurnal.rumoh@unmuha.ac.id
Editorial Address
Prodi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Aceh, Jl. Muhammadiyah No. 91 Bathoh, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Rumoh: Journal of Architecture
ISSN : 20889399     EISSN : 27984648     DOI : https://doi.org/10.37598/rumoh
Core Subject : Engineering,
Jurnal ini memuat artikel-artikel ilmiah pada lingkup ilmu: arsitektur, lanskap, interior, perancangan kota dan permukiman serta arsitektur lingkungan. Rumoh menerima artikel ilmiah, studi kasus, studi literatur, laporan serta artikel untuk edisi khusus. Artikel ilmiah ini diterima dalam Bahasa Indonesia dan Inggris.
Articles 130 Documents
MUSEUM DIORAMA GAYO: Arsitektur Tangible Metaphors Fendika Anggara; Henny Marlina
Rumoh Vol. 10 No. 20 (2020): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.588 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i20.110

Abstract

Suku Gayo merupakan masyarakat asli dari Kabupaten Aceh Tengah yang beribukota Takengon dan merupakan bagian dari Provinsi Aceh. Keberadaan adat istiadat, budaya dan sejarah suku Gayo menjadi karakter yang di wariskan nenek moyang mereka kepada generasi berikutnya secara turun temurun. Namun sayangnya saat ini sebagian masyarakat suku Gayo sudah lupa akan adat istiadat, budaya dan sejarahnya. Untuk hal tersebut maka di perlukan suatu wadah berupa museum yang mampu mengekspresikan adat istiadat, budaya dan sejarah suku Gayo dalam bentuk diorama yang menyenangkan dan edukasi.Proses perancangan Museum Diorama Gayo Di Aceh Tengah ini diawali dengan pendekatan studi literatur dari objek sejenis, studi lapangan dan pendekatan tema bangunan, yaitu Arsitektur Tangible Methaphors. Maka dari itu dilanjutkan dengan analisa terhadap permasalahan yang timbul dalam rancangan dengan memperhatikan beberapa kemungkinan yang ada seperti lokasi tapak, hubungannya dengan lingkungan sekitar serta potensi-potensi yang dapat dikembangkan. sehingga dapat mempermudah dalam proses perancangan. Museum Diorama Gayo Di Aceh Tengah akan dibangunan di atas lahan seluas 25.500 m² dengan luas bangunan 4577.3 m². Museum Diorama Gayo Di Aceh Tengah ini bersifat massa tunggal dengan jumlah lantai sebanyak empat lantai, yang dilengkapi dengan lobby, loket karcis, ruang penitipan, ruang informasi, ruang pameran tetap, ruang pameran temporer, ruang seminar, ruang auditorium, perpustakaan, ruang edukasi, dan ruang konservasi. Selain itu juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung berupa toko souvenir, mushalla, kafetarian dan taman. Konsep yang diangkat pada museum diorama Gayo di Aceh Tengah ini adalah kombinasi dari bentuk gerakan tarian saman dan alat musik teganing.
KEPUASAN HUNIAN: SEBUAH TINJAUAN LITERATUR Aulina Adamy
Rumoh Vol. 10 No. 20 (2020): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.901 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i20.112

Abstract

Penelitian kepuasan hunian masih sangat jarang di Indonesia. Secara universal, kepuasan hunian juga tidak menggunakan indikator yang seragam. Sehingga tujuan artikel ini untuk menelaah kriteria-kriteria yang dipakai dalam mengukur kepuasan hunian selama ini. Artikel ini termasuk artikel telaah (review paper) dengan metodologi menggunakan mesin pencarian Garuda untuk artikel Indonesia dan Google Scholar untuk artikel internasional. Hanya mendapatkan 8 artikel yang dipublikasikan di Indonesia dan sebanyak 1.670.000 artikel internasional. Dilakukan dua tahap screening: tahap pertama adalah artikel jurnal, dapat diakses gratis, dan fokus pada kepuasan rumah tinggal dan mendapatkan 32 jurnal. Screening kedua adalah artikel yang masuk dalam peringkat SJR. Sehingga hasil akhir mendapatkan 8 artikel (n=8) sebagai sampel. Kesimpulan yang didapatkan adalah walaupun menggunakan alat ukur yang berbeda-beda tetapi ternyata indikator sering kali sama hanya berbeda istilah; secara umum dapat dilihat kriteria dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu: hunian dan non-hunian akan tetapi ada juga beberapa referensi yang memasukkan kelengkapan fasilitas publik sebagai ke dalam kriteria non-hunian. Bagaimana pun, semua kuesioner yang dikutip dan ditelaah di artikel ini terbukti valid dan dapat diandalkan. Sehingga bisa menggunakan kriteria mana saja selama dua aspek hunian dan non-hunian masuk ke dalam alat ukur kepuasan hunian.
RENTAL OFFICE DI BANDA ACEH: Tema: Arsitektur Neo Vernakular Uci Faradilla; Qurratul Aini
Rumoh Vol. 10 No. 20 (2020): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.478 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i20.116

Abstract

Rental Office di Banda Aceh di khususkan untuk perusahaan dalam bidang jasa konstruksi dan jasa notaris. Di Banda Aceh, bidang jasa konstruksi dan jasa notaris banyak menjadikan pertokoan dan rumah tinggal sebagai tempat usaha, sehingga menyebabkan bangunan di Banda Aceh beralih fungsi. Perencanaan Rental Office di Banda Aceh berlokasi di jalan T. Hasan Dek, Simpang Surabaya, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh. Maksud dari perencanaan ini adalah agar tidak terjadinya perubahan fungsi bangunan secara berkelanjutan di masa yang akan datang, serta tersedianya kebutuhan ruang usaha yang mampu menampung kegiatan perkantoran sesuai dengan standarisasi. Pendekatan tema pada rancangan menggunakan Arsiektur Neo-Vernacular, dengan alasan ingin menampilkan identitas lokal daerah Aceh, yang dikombinasikan dan disesuaikan dengan perkembangan pembangunan pada masa sekarang. Klasifikasi desain yang diterapkan menggunakan, modul ruang sewa yaitu Small Space, Medium dep Space dan Large Space. Berdasarkan peruntukannya, klasifikasi kantor berfungsi majemuk dan berdasarkan tipikal pencapaian menerapkan klasifikasi tipe koridor terbuka. Analisis yang dipakai dalam bangunan ini yaitu analisis fungsional, analisis tapak dan analisis bangunan. Rental Office di Banda Aceh berorientasi ke arah timur dan barat, sebagai adopsi orientasi rumah tradisional Aceh. Menerapkan bentuk panggung sebagai pilotis dan menerapkan folosofi kebiasaan sosial masyarakat Aceh pada konsep ruang. Luas Lahan 3.0291 m2. Massa bangunan merupakan masa tunggal, dengan Koefesien Dasar Bangunan 7.134 m2, dan luas keseluruhan bangunan 34.614 m2. Rental Office di Banda Aceh menampung 54 perusahaan jasa konstruksi dan jasa notaris serta memiliki fasilitas penunjang yaitu ruang seminar, coffe shop, restoran, ruang laktasi, fitness center, bank unit dan mini market.
BANDA ACEH APARTMENT: Tema: Arsitektur Organik Shavia Nada Annissa; Muhammad Joni
Rumoh Vol. 10 No. 20 (2020): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.323 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i20.117

Abstract

Kota Banda Aceh, sebagai Ibu Kota Provinsi Aceh menjadi pusat dari segala kegiatan, baik di bidang ekonomi, politik, pendidikan dan lain sebagainya. Sehingga angka kepadatan penduduk di Kota Banda Aceh semakin lama semakin tinggi tingkat kepadatan lahan dan harga tanah yang juga semakin tinggi. Untuk mengatasi hal tersebut perlu direncanakan konsep pemukiman secara vertikal yang digunakan sebagai sarana tempat tinggal bagi pebisnis yang menetap di Kota Banda Aceh berupa Apartemen. Lokasi untuk pembangunan Banda Aceh Apartment ini di Jln. Teuku Nyak Arief, Syiah Kuala, Banda Aceh. Banda Aceh Apartment bertema Arsitektur organik yang merancang suatu bentuk dan struktur berdasarkan kebutuhan penghuni dan menerapkan elemen alam pada rancangan. Melalui konsep of the people dan of the material, sehingga desain-desain yang diciptakan menyatu dengan alam dan lingkungan sekitarnya. Bahan bangunan yang digunakan berupa batu alam, kayu, dan penerapan vegetasi pada beberapa bagian dinding. Banda Aceh Apartment menerapkan sistem Apartemen sewa dan Apartemen beli, berkategori jenis High-Rise Apartment, dengan sirkulasi vertical Elevator Apartment. Banda Aceh Apartment ini direncanakan dengan luas lahan 25.000 m². Massa bangunan tunggal dengan tipe 2 tower sebagai hunian dengan menyediakan fasilitas hunian tipe studio dengan penambahan 2 bedroom dan 3 bedroom. Terdapat beberapa fasilitas pendukung antara lain Sauna, cafe, playground, jogging track, cafetaria, salon, restaurant, fitness, dan swimming pool.
KOETARADJA CINEMA CENTRE DI BANDA ACEH: Tema: Arsitektur Ekspresionisme Zulfikar Zulfikar; Effendi Nurzal
Rumoh Vol. 10 No. 20 (2020): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (995.676 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i20.118

Abstract

Perencanaan Koetaradja Cinema Centre di Banda Aceh dilatar belakangi untuk memenuhi kubutuhan masyarakat akan Bioskop, menjawab permintaan pasar khususnya dibidang perfilman dan hal ini juga didukung dengan adanya wacana Pemerintah Kota Banda Aceh terkait dengan pembangunan Bioskop di Kota Banda Aceh. Maksud dari perencanaan ini adalah merencanakan Gedung Bioskop untuk memehuhi keinginan masyarakat Kota Banda Aceh akan sebuah gedung pertunjukan film. Dengan rumusan masalah merencanakan Koetaradja Cinema Centre di Banda Aceh yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, Koetaradja Cinema Centre di Banda Aceh berlokasi di Jl. Prof. Ali Hasyimi, Pango, Ulee Kareeng, Kota Banda Aceh. Berdasarkan klasifikasi Bioskop, rancangan termasuk kedalam Bioskop Cineplex, karena bioskop ini mempunyai layar lebih dari satu, sehingga film yang ditayangkan lebih bervariatif, serta memiliki ruang pertunjukan dengan kapasitas 800 kursi, Tema rancangan adalah Arsitektur Ekspresionisme, tema ini dipilih dikarenakan memiliki korelasi yang jelas dengan menerapkan karakter kristalin yaitu geometri sederhana dari permainan kaca dan material secondary skin sebagai fasade bangunan. Luas lahan 30.039m², luar lantai dasar 4.181m², luar lantai keseluruhan 12.543 m², massa tungga, dengan kapasitas 800 pengunjung perhari. Fasilitas kegiatan utama ada enam ruang studio yaitu 2D Regular, 3D, 4DX, Ultra XD, dan Gold Class, Kegiatan Penunjang seperti Lounge, Café/Restaurant, Coffe Shop, Smoking Lounge, Gallery Merchandise, Retail Shop, Ruang Serbaguna, dan Mushalla, Ruang Pengelola, dan Servis.
MESINIAGA TOWER Suci Farahdilla
Rumoh Vol. 10 No. 20 (2020): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3211.777 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i20.119

Abstract

Mesiniaga Tower is one of first generation buildings design for low energy consumption purpose. The building itself was completed in 1992 and was designed by Ken Yeang, an architect whose concern is to create a better performance of a building without having to increase its cost of operation. It is located in Malaysia, South East Asia, where the tropical climate has heat and humidity almost the same throughout the year. The concept of the building is bioclimatic design with the original concept of fully natural ventilation, but later the conventional cooling system was added. The architect’s idea is a tube shaped building with multiple terraces and openable windows to provide more wind and humidity in order to have a comfortable thermal condition. However these ideas lead to the problem of increasing yearly energy consumption. This paper then suggest the possible design strategies to improve the thermal comfort of Mesiniaga Tower as well as lower its annual cost such as radiative cooling, night cooling, ground cooling and passive downdraught evaporated cooling. The radiative cooling then gives the building of 8% cooling potential.
THE ENVIRONMENTAL DRIVERS BEHIND THE DEVELOPMENT OF THE VICTORIAN TEXTILE FACTORY Suci Farahdilla
Rumoh Vol. 11 No. 1 (2021): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.275 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v11i1.130

Abstract

Textile industry in the nineteenth century of the British empire was one of the milestone industries which center around cotton mills. The development of this industry attracted many people who wished to increase their life’ standard to migrate to area near the factories located in order to work there. As much as giving revenue for the country, these factories also gave impact to the environment as well as people living and working in it. There were three things behind the environmental impact during the Victorian era of textile industry, fire hazard, mills’ poor conditions and factory bill. Flammable materials, like raw cotton which mainly used in this industry, and high temperature room caused the factories engulfed in fire. The lacked protection from fire of the factories’ construction then led to a new building method being introduced and applied called the “Fireproof Construction”. Poor health condition of the workers who worked in high humidity and temperature of cotton mills brought a creation of factory bill (Factory Act) being passed.  However, the act that was supposed to act as a regulation for factories owners to offer their worker a much more suitable place to work was hardly fully implied during this time. The writer used literature review method in collecting data. This article therefore intended to deliver the reader about the environment situation in the cotton factories while also giving the idea on how hardly an ideal comfort was achieved.
REVITALISASI TAMAN KOTA SIGLI SEBAGAI RUANG PUBLIK YANG BERNUANSA ISLAMI Desi Safriana
Rumoh Vol. 11 No. 1 (2021): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2739.667 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v11i1.134

Abstract

Keberadaan taman kota merupakan hal yang sangat penting dalam perancangan kota. Selain berfungsi sebagai fasilitas publik, taman kota juga sangat penting keberadaannya jika ditinjau dari berbagai aspek. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Provinsi Aceh, setiap Kabupaten/Kota harus memiliki kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebanyak 30%. Penelitian ini mengambil tempat di Kota Sigli yang merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, Indonesia. Pemerintah Kota Sigli saat sekarang ini sedang melakukan pembangunan di berbagai sisi, salah satunya adalah pembangunan taman kota sebagai fasilitas ruang terbuka hijau dan ruang publik. Taman Kota yang berada di jalan Merdeka, tepatnya di tepian sungai Sigli ini sangat berpotensi untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat terhadap kebutuhan akan ruang terbuka atau sarana publik. Namun berdasarkan pengamatan penulis di lokasi, taman kota ini terlihat sepi dari pengunjung, kurang terawat dan disalahgunakan sebagai tempat pembuangan sampah. Hal ini tentunya sangat merugikan bagi masyarakat dan lingkungan, mengingat taman kota ini merupakan fasilitas publik yang harus dioptimalkan dengan baik. Untuk meningkatkan kunjungan dan pemanfaatan Taman Kota Sigli ini maka di perlukan tindakan untuk perubahan atau melakukan revitalisasi. Untuk mengetahui tindakan apa yang mesti dilakukan, maka diperlukan identifikasi persepsi masyarakat kota Sigli mengenai taman tersebut. Untuk itu maka dilakukan penelitian ini guna terciptanya taman pusat kota yang representative bernuansa Islami sebagai bagian ruang publik pusat Kota Sigli. Berdasarkan temuan penelitian, telah direncanakan penataan ulang Taman Kota Sigli yang representative dan bernuansa Islami. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi Pemerintah dan masyarakat Kota Sigli.
REDESAIN ASRAMA HAJI ACEH, TEMA: GREEN ARCHITECTURE Ahmadi Ahmadi; Faiza Aidina
Rumoh Vol. 11 No. 1 (2021): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3147.974 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v11i1.136

Abstract

Redesain Asrama Haji Aceh dilatar belakangi oleh beberapa masalah yang terjadi baik dari segi penataan ruang luar maupun sarana dan prasarana yang sudah tidak nyaman karena bangunan antar massa terlalu jauh, penataan parkir yang tidak teratur dan sirkulasi jalur masuk dan keluar yang tidak terarah sehingga membuat kemacetan pada saat musim haji. Perencanaan Redesain Asrama Haji Aceh berlokasi di jalan T. Nyak Arif, Lingke, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Maksud dari perencanaan ini adalah dapat memberikan kenyamanan bagi jamaah dan menyediakan fasilitas yang memadai untuk jamaah yang sesuai dengan kebutuhan dan fungsinya. Klasifikasi Redesain Asrama Haji Aceh merupakan Type Asrama Haji Embarkasi, yaitu Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah. Perencanaan ini menerapkan tema Green Architecture dengan memanfaatkan kondisi dan sumber energy alami, menaggapi keadaan tapak pada bangunan dan memperhatikan pengguna bangunan. Analisis  yang  dipakai  dalam  bangunan  ini  yaitu  analisis fungsional, analisis tapak dan analisis bangunan. Redesain Asrama Haji Aceh menerapkan pemanfaatan air hujan dan penerapan vertical garden. Luas Lahan 25.300 m2. Bangunan bermassa banyak dan bertingkat rendah, Koefesien Dasar Bangunan (KDB) 151.800 m2 dan luas keseluruhan bangunan 50.600 m2. Redesain Asrama Haji Aceh memiliki 84 kamar dengan kapisitas satu kamar 4 orang. Fasilitas  penunjang Redesain Asrama Haji Aceh yaitu kantin, masjid dan pos satpam.
ISLAMIC CENTRE DI ACEH SELATAN (INTANGIBLE METAPHOR) Mitra Ariansyah; Muhammad Joni
Rumoh Vol. 11 No. 1 (2021): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.023 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v11i1.138

Abstract

Aceh Selatan termasuk sebagai daerah yang memiliki nilai Keislaman yang tinggi, hampir disetiap kampung memiliki masjid dan hampir di setiap desa/kelurahan ada Majelis Taklim dan Pondok Pesantren, Untuk saat ini jumlah pesantren di Kabupaten Aceh Selatan terdapat Enam puluh lima Pondok Pesantren dan masjid berjumlah Dua ratus tujuh puluh masjid. Maka dari itu perlu hadirnya sebuah pusat kegiatan umat Islam di Aceh Selatan. Islamic Center di Aceh Selatan terletak di Kota Fajar Kecamatan Kluet Utara, maksud dari  bangunan ini yaitu memberikan pelayanan kepada masyarakat, pemberdayaan dan peningkatan lembaga keagamaan, meningkatkan pengetahuan dan keimanan, bertujuan yaitu, mewujudkan wadah pusat pengembangan kegiatan Islam di Aceh Selatan yang dapat menunjang kegiatan dalam bidang dakwah, sosial pendidikan, dan kebudayaan. Islamic Center tingkat kabupaten yaitu Islamic Center yang berada di wilayah lokal Kabupaten dan mempunyai masjid bertaraf kabupaten, yaitu masjid agung, yang dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas seperti Peribadatan/ibadah, fasilitas mu’amalah dan fasilitas tarbiyah. lebih banyak berorientasi pada operasional pembangunan dakwah secara langsung. Penerapan tema Intangible Metaphora pada bangunan Islamic Center ini tranformasi dari bentuk tangan ketika berdo’a hingga membentuk block-block bangunan yang berjumlah 10 sesuai dengan jumlah jemari tangan. Tema Intangible Metaphor ini diharapkan bahwa sesuai fungsinya bangunan ini sendiri dapat menjadi media penyedia dan informasi tentang Islamic Center Aceh Selatan. Luas lahan 40.000m², luas lantai dasar 9.505m², luas lantai keseluruhan 38.020 m², massa tunggal, dengan kapasitas di dalam bangunan menampung 3000 jamaah, serta di luar bangunan menampung 1000 jamaah. Fasilitas kegiatan utama adalah ruang Ruang Shalat, Kantor Pengelola, Kantor Baziz, Ruang Kelas, Perpustakaan, Mess dan Radio dakwah. Sedangkan penunjang ada Auditorium, Restoran dan pos penjagaan.

Page 4 of 13 | Total Record : 130