cover
Contact Name
Hilwati Hindersah
Contact Email
uptpublikasi@unisba.ac.id
Phone
+6285294008040
Journal Mail Official
jrpwk@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah lantai 4, Rektorat Unisba, Jln Tamansari No.20, 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota
ISSN : 28083113     EISSN : 2798656X     DOI : https://doi.org/10.29313/jrpwk.v1i2
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK) adalah jurnal peer review dan dilakukan dengan double blind review yang mempublikasikan hasil riset dan kajian teoritik terhadap isu empirik dalam sub kajian perencanaan wilayah dan kota. JRPWK ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN 2798-656X yang diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini ter-indeks Google Schoolar, Garuda, Crossref, dan DOAJ. Terbit setiap Juli dan Desember.
Articles 122 Documents
Pemetaan Kerawanan Tanah Longsor Berbasis Tujuh Karakteristik Geospasial di Kabupaten Nganjuk Titisari Haruming Tyas; Ahmad Fatkul Fikri; Gita Yulianti Suwandi
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 6, No. 1, Juli 2026, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v6i1.7901

Abstract

Abstract. Hydrometeorological disasters have been the most dominant type of disaster in Indonesia in recent years. In 2025, there were 2,017 recorded disaster events, with 99.25% categorized as hydrometeorological disasters, including a landslide in Nganjuk Regency that caused fatalities, economic losses, and psychological impacts. Nganjuk Regency is highly vulnerable to landslides due to its location, with part of its area situated in the Mount Wilis region, which possesses specific geospatial characteristics. This study aims to analyze the geospatial characteristics of landslide disaster risk areas in Nganjuk Regency. The research method employs a qualitative approach with an analytical-descriptive design combined with spatial analysis techniques based on a Geographic Information System (GIS). Secondary data in the form of shapefile data were analyzed using ArcGIS software. The results showed that there are five levels of landslide disaster vulnerability in Nganjuk Regency: 1) non-vulnerable class covering an area of 12,303.90 ha; 2) slightly vulnerable class covering an area of 82,153.74 ha; 3) moderately vulnerable class covering an area of 26,822.28 ha; 4) vulnerable class covering an area of 7,246.37 ha; and 5) highly vulnerable class covering an area of 28.46 ha located in the Mount Wilis area. Abstrak. Bencana hidrometeorologi merupakan jenis bencana yang paling dominan terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2025, tercatat 2017 kejadian bencana dengan 99,25 kejadian merupakan bencana hidrometeorologi, termasuk tanah longsor di Kabupaten Nganjuk yang mengakibatkan korban jiwa, kerugian ekonomi, dan dampak psikologis. Kabupaten Nganjuk memiliki kerentanan tinggi terhadap tanah longsor karena sebagian wilayahnya berada di kawasan Gunung Wilis yang memiliki karakteristik geospasial tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik geospasial wilayah risiko bencana tanah longsor di Kabupaten Nganjuk. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-analitis yang dikombinasi dengan teknik analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geospasial (SIG). Data penelitian menggunakan data sekunder berupa data shapefile yang dianalisis menggunakan software ArcGIS. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima kelas kerawanan bencana tanah longsor di Kabupaten Nganjuk: 1) kelas tidak rawan seluas 12.303,90 ha; 2) kelas sedikit rawan seluas 82.153,74 ha; 3) kelas rawan sedang seluas 26.822,28 ha; 4) kelas rawan seluas 7.246,37 ha; dan 5) kelas sangat rawan seluas 28,46 ha berada di daerah Gunung Wilis.
Peran Gender dalam Pemanfaatan Energi Listrik di Perumahan Menengah Kebawah Rahma Dewi; Rose Fatmadewi; Ayu Safira
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 6, No. 1, Juli 2026, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v6i1.8255

Abstract

Abstrack. Gender is a social construct that distinguishes the roles of men and women, which also affects the pattern of household electrical energy utilization. This study aims to analyze the role of gender in the use of household electrical energy in Griya Jatinangor II Housing, a lower-middle area in Sumedang Regency. The method used is a mixed method with the Harvard model Gender Analysis Framework (GAF) approach. Data was collected through observations, documentation studies, and questionnaires of 65 respondents by 2024, which were then analyzed based on their gender, activity, access, and control profiles. The results showed that women (housewives) were dominant in the management of electrical energy by 75.9%, and the management of domestic tasks with girls by 54.6%. In contrast, men are more dominant in technical aspects such as network maintenance and electrical equipment. These findings confirm that women make a major contribution to energy savings through the regulation of electronic devices and the education of family members. Therefore, increased gender-based energy efficiency education is needed to support sustainable energy utilization.   Abstrak. Gender merupakan konstruksi sosial yang membedakan peran laki-laki dan perempuan, yang turut memengaruhi pola pemanfaatan energi listrik rumah tangga. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran gender dalam pemanfaatan energi listrik rumah tangga di Perumahan Griya Jatinangor II, sebuah kawasan menengah ke bawah di Kabupaten Sumedang. Metode yang digunakan adalah metode campuran (mixed methods) dengan pendekatan Gender Analysis Framework (GAF) model Harvard. Data dikumpulkan melalui observasi, studi dokumentasi, dan kuesioner terhadap 65 responden pada tahun 2024, yang kemudian dianalisis berdasarkan profil aktivitas, akses, dan kontrol gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan (ibu rumah tangga) dominan dalam pengelolaan energi listrik sebesar 75,9% dan pengelolaan tugas domestik bersama anak perempuan sebesar 54,6%. Sebaliknya, laki-laki lebih dominan pada aspek teknis seperti pemeliharaan jaringan dan peralatan listrik. Temuan ini menegaskan bahwa perempuan memiliki kontribusi besar dalam penghematan energi melalui pengaturan alat elektronik dan edukasi anggota keluarga. Oleh karena itu, peningkatan edukasi efisiensi energi berbasis gender diperlukan guna mendukung pemanfaatan energi yang berkelanjutan.
Peran Kawasan Transmigrasi dalam Pemerataan Pelayanan Dasar di Kabupaten Ketapang Agus Supriyanto; Muhammad Fuad Hasan
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 6, No. 1, Juli 2026, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v6i1.9473

Abstract

Abstract. The purpose of this study is to examine how transmigration areas contribute to the equitable distribution of basic services among subdistricts in Ketapang Regency. This analysis of basic services covers the education and health sectors. The study employs a quantitative approach using descriptive-comparative methods. The secondary data used are sourced from the Ketapang Regency Central Statistics Agency. To conduct this analysis, the ratio of basic ser-vices to population was calculated and entered into the Basic Service Index (BSI) and calculated using the min-max normalization method. According to the results of the study, transmigration-based subdistricts tend to have higher BSI values than non-transmigration subdistricts. The BSI values obtained show that Pemahan subdistrict has the highest value, followed by Hulu Sungai and Singkup. On the other hand, subdistricts with large populations and more urban areas have relatively lower BSI values. The results show that transmigration areas can help promote equitable public services between subdistricts by functioning as effective basic service hubs. According to this study, transmi-gration areas must be strengthened to function as local service centers in the district development planning process. Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana kawasan transmigrasi berperan dalam pemerataan pelayanan dasar antar kecamatan di Kabupaten Ketapang. Analisis studi pelayanan dasar ini meliputi sektor Pendidikan dan kesehatan. Penelitian ini memanfaatkan pendekatan kuantitatif yang menggunakan metode deskriptif-komparatif. Data sekunder yang digunakan berasal dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Ketapang. Untuk melakukan analisis ini, rasio pelayanan dasar terhadap populasi dihitung dan dimasukkan ke dalam Indeks Pelayanan Dasar (IPD) dan dihitung dengan menggunakan metode normalisasi min–max. Menurut hasil penelitian, Kecamatan berbasis transmigrasi cenderung memiliki nilai IPD yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecamatan non-transmigrasi. Nilai IPD yang didapat menunjukkan kecamatan Pemahan memiliki nilai tertinggi, diikuti oleh Hulu Sungai dan Singkup. Di sisi lain, kecamatan dengan jumlah penduduk yang besar dan lebih perkotaan memiliki nilai IPD yang relatif lebih rendah. Hasilnya menunjukkan bahwa kawasan transmigrasi dapat membantu mendorong pemerataan pelayanan publik antar kecamatan dengan berfungsi sebagai simpul pelayanan dasar yang efektif. Menurut penelitian ini, kawasan transmigrasi harus diperkuat untuk berfungsi sebagai pusat pelayanan lokal dalam proses perencanaan pembangunan wilayah kabupaten.
Transformasi Digital Lintas Sektor untuk Daya Saing Ekonomi Pesisir Kabupaten Banyuwangi Khoirina Fajriani; Lintang Rahmayana
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 6, No. 1, Juli 2026, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v6i1.9521

Abstract

Abstract. Digitalization is increasingly viewed as an important strategy for strengthening the economic competitiveness of coastal regions, although its implementation remains uneven and highly contextual. This study aims to analyze the digitalization process across economic sectors and its implications for local competitiveness in Banyuwangi Regency. The research employed a qualitative approach through in-depth interviews with actors in the fisheries, agriculture, trade, tourism, MSME sectors, and local government. Data were analyzed using thematic coding to identify the driving factors, implementation patterns, benefits, challenges, and impacts of digitalization. The findings show that digitalization has developed across multiple sectors and has contributed to broader market access, increased productivity, improved governance, and stronger regional reputation. However, digitalization still faces challenges related to infrastructure limitations, digital literacy gaps, and resistance to change. The success of digitalization is supported by the synergy between government initiatives and community-based innovations implemented in an inclusive and adaptive manner. Abstrak. Digitalisasi semakin dipandang sebagai strategi penting dalam memperkuat daya saing ekonomi wilayah pesisir, namun implementasinya bersifat tidak merata dan kontekstual. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses digitalisasi sektor ekonomi dan implikasinya terhadap daya saing lokal di Kabupaten Banyuwangi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dengan pelaku perikanan, pertanian, perdagangan, pariwisata, UMKM, dan pemerintah daerah. Analisis dilakukan dengan pengkodingan tematik untuk mengidentifikasi faktor pendorong, pola implementasi, manfaat, tantangan, dan dampak digitalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi berkembang secara multisektoral dan memberikan manfaat berupa perluasan akses pasar, peningkatan produktivitas, perbaikan tata kelola, serta penguatan reputasi wilayah. Namun, digitalisasi masih menghadapi hambatan infrastruktur, kesenjangan literasi digital, dan resistensi perubahan. Keberhasilan digitalisasi ditopang oleh sinergi inisiatif pemerintah dan inovasi komunitas secara inklusif dan adaptif.
Analisis Tingkat Pelayanan Jalan terhadap Penggunaan Lahan Koridor Kawasan Perkotaan Majene Nur Zahrah Afifah; Reza Reski; Selvida Rara; Sima
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 6, No. 1, Juli 2026, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v6i1.8484

Abstract

Abstract. The growth of urban activity in Majene Regency has a significant impact on the increase in the number of vehicles passing through main roads that function as city arteries and national roads. The imbalance between road capacity and land use intensity has the potential to reduce road service performance. This study focuses on a comprehensive analysis of Road Service Levels and tests their specific correlation with land use dominance along urban corridors. The methodology used is descriptive quantitative, involving the acquisition of primary data through traffic volume surveys, geometric characteristics, and land use patterns. The 2023 Indonesian Road Capacity Guidelines (PKJI) were used as a reference framework for calculating the V/C Ratio and LOS classification. The results of the analysis indicate that the dominance of trade and service functions on Sudirman, Hasanuddin, and Gatot Subroto Roads resulted in a LOS C value, which indicates that traffic flow is becoming saturated due to economic activities, higher education, and the influence of side obstacles. Conversely, Ahmad Yani Road, which is dominated by residential areas, has a LOS B, indicating that traffic flow is unhindered and efficient. These findings confirm that an increase in commercial activity intensity reduces road performance. Therefore, the integration of spatial planning and traffic management is necessary to maintain the efficiency of the Majene Regency urban road network in the future. Abstrak. Pertumbuhan aktivitas perkotaan di Kabupaten Majene berdampak langsung pada peningkatan jumlah kendaraan yang melalui jalan utama yang berfungsi sebagai jalan arteri kota dan jalan nasional. Ketidakseimbangan antara kapasitas jalan dan intensitas penggunaan lahan berpotensi menurunkan kinerja pelayanan jalan. Penelitian ini berfokus pada analisis komprehensif terhadap Tingkat Pelayanan Jalan serta menguji korelasi spesifiknya dengan dominasi fungsi lahan di sepanjang koridor perkotaan. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif, melibatkan akuisisi data primer melalui survei volume lalu lintas, karakteristik geometrik, dan pola penggunaan lahan. Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2023 digunakan sebagai kerangka acuan untuk menghitung V/C Ratio dan klasifikasi LOS. Hasil analisis mengindikasikan bahwa dominasi fungsi perdagangan dan jasa pada Jalan Sudirman, Hasanuddin, dan Gatot Subroto menghasilkan nilai LOS C yang menandakan arus lalu lintas mulai jenuh akibat aktivitas ekonomi, pendidikan tinggi, dan pengaruh hambatan samping. Sebaliknya, jalan Ahmad Yani yang di dominasi permukiman memiliki LOS B, menandakan arus lalu lintas tidak terhambat dan efisien. Temuan ini mengonfirmasi bahwa peningkatan intensitas aktivitas komersial menurunkan kinerja jalan. Oleh karena itu, integrasi perencanaan tata ruang dan manajemen lalu lintas diperlukan untuk menjaga efisiensi jaringan jalan perkotaan Kabupaten Majene kedepannya.
Analisis Decision Tree dan Random Forest untuk Perubahan Penggunaan Lahan Terbangun Dhia Zalfa Zahira; Dinna Maulia; Elysabeth Nindy Nasing
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 6, No. 1, Juli 2026, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v6i1.8493

Abstract

Abstract. The expansion of built-up areas is a critical issue in the spatial and environmental dynamics of Bekasi City and Regency, a rapidly growing industrial and residential area. This study examines the monitoring and analysis of land cover change, specifically how the choice of classification algorithms Decision Tree and Random Forest interacts with sampling strategy in handling imbalanced class conditions, and identifies the most influential spatial factors. This study uses Sentinel-2 Land Cover data from 2017 and 2020, along with spatial predictor variables, namely proximity to roads, tollways, water bodies, economic centres, stations, industrial areas, and population density. Models were developed using three sampling strategies (proportional, stratified, and balanced) with hyperparameter tuning. Results indicate that RF outperformed DT, achieving an Overall Accuracy of 0.81 and a Kappa coefficient of 0.62 under the balanced sampling scenario with an 80:20 training-to-testing split. Feature importance analysis shows that proximity to toll gates and roads was the dominant factor, followed by economic centres and stations. In this study, RF was more effective than DT in handling imbalanced data and produced more stable results. These findings can support spatial planning and land-use control based on spatial data and machine learning. Abstrak. Perluasan kawasan terbangun menjadi isu utama dalam dinamika tata ruang dan lingkungan di Kota dan Kabupaten Bekasi yang berkembang pesat sebagai kawasan industri dan permukiman. Penelitian ini mengkaji mengenai pemantauan dan analisis perubahan lahan, khususnya terkait bagaimana pemilihan algoritma klasifikasi Decision Tree dan Random Forest berinteraksi dengan strategi sampling dalam menangani kondisi data yang tidak seimbang (imbalanced class), serta mengidentifikasi faktor spasial yang paling berpengaruh. Kajian ini menggunakan data Land Cover (Sentinel-2 ) tahun 2017 dan 2020 serta variabel prediktor spasial, yaitu kedekatan dengan jalan, tol, badan air, pusat ekonomi, stasiun, kawasan industri, dan kepadatan penduduk. Model dikembangkan menggunakan tiga strategi sampling (proportional, stratified, dan balanced) disertai tuning hyperparameter. Hasil menunjukkan RF lebih unggul dengan overall accuracy 0,81 dan Kappa 0,62 pada skenario balanced sampling dengan pembagian training dan testing 80:20. Analisis feature importance menunjukkan bahwa kedekatan dengan gerbang tol dan jalan adalah faktor dominan, diikuti pusat ekonomi dan stasiun. Pada kajian ini, RF lebih efektif dibandingkan dengan DT dalam menangani data tidak seimbang serta memberikan hasil yang lebih stabil. Temuan ini dapat mendukung perencanaan tata ruang dan pengendalian alih fungsi lahan berbasis data spasial dan machine learning.
Identifikasi Atraksi Wisata Edutourism di Kampung Adat Kuta Andien Moya Saharani; Riswandha Risang Aji
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 6, No. 1, Juli 2026, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v6i1.8546

Abstract

Abstract. Tourism is currently developing not only as a means of recreation, but also as a medium for learning through the concept of edutourism. Kuta Traditional Village in Ciamis Regency is an area that still upholds traditions, spiritual values, and environmental sustainability, making it a potential destination for educational tourism. However, this potential has not been fully realized due to the lack of a comprehensive identification of educational tourism attractions. This study aims to identify and describe tourism attractions that can support the development of edutourism. The research method used is a qualitative approach with a case study, through field observations and semi-structured interviews with traditional leaders and local communities. The research findings identified various educational attractions such as the sacred forest trail, the Nyuguh traditional ceremony, traditional palm sugar processing, Kamuti bag making, Klanceng honey bee farming, compost production, and traditional Gondang Buhun and Ronggeng Tayub performances. These attractions contain educational values related to environmental conservation, culture, spirituality, and local economy. These findings indicate that the Kuta Traditional Village has significant potential as an edutourism destination rooted in local wisdom and can serve as a foundation for the development of sustainable and participatory educational tourism. Abstrak. Pariwisata saat ini berkembang tidak hanya sebagai sarana rekreasi, tetapi juga sebagai media pembelajaran melalui konsep edutourism. Kampung Adat Kuta di Kabupaten Ciamis merupakan kawasan yang masih memegang teguh tradisi, nilai spiritual, dan kelestarian lingkungan sehingga berpotensi menjadi destinasi wisata edukatif. Namun, potensi ini belum tergarap optimal karena belum adanya identifikasi menyeluruh terhadap atraksi wisata bernilai edukasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan atraksi wisata yang dapat mendukung pengembangan edutourism. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus, melalui observasi lapangan dan wawancara semi-terstruktur dengan tokoh adat dan masyarakat setempat. Hasil penelitian menemukan berbagai atraksi edukatif seperti napak tilas hutan keramat, prosesi adat Nyuguh, pengolahan gula aren tradisional, pembuatan tas kamuti, budidaya lebah madu klanceng, produksi pupuk kompos, serta pertunjukan seni tradisional Gondang Buhun dan Ronggeng Tayub. Atraksi-atraksi tersebut memuat nilai pembelajaran tentang pelestarian alam, budaya, spiritualitas, dan ekonomi lokal. Temuan ini menunjukkan bahwa Kampung Adat Kuta memiliki potensi besar sebagai destinasi edutourism berbasis kearifan lokal dan dapat menjadi dasar bagi pengembangan wisata edukatif yang berkelanjutan serta partisipatif.
Pemodelan Model Optimalisasi Interaksi Tata Guna Lahan Berbasis Kinerja Jalan pada Wilayah Perkotaan Misbahuddin Misbah; Muhammad Natsir Abduh; Murshal Manaf; Agus Salim
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 6, No. 1, Juli 2026, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v6i1.8673

Abstract

Abstract. This study employs spatial modeling to examine the Floor Area Ratio (FAR)—a vertical spatial variable representing space utilization intensity—as it is governed by the capacity and performance of the road network, which acts as a linear spatial component. In Parepare City, the road network serves as a spatial constraint that determines maximum FAR thresholds for specific zones, thereby preventing the overloading of public space. The study utilizes a quantitative methodology involving peak-period traffic surveys and spatial analysis (FAR) across four major corridor zones. Most road segments currently operate at Level of Service (LoS) A or B, indicating substantial reserve capacity. However, roadside friction significantly reduces effective capacity; Zone I (West Bacukiki District) was identified as a critical point, reaching LoS C (Stable Flow-Approaching Instability) and exhibiting the highest Volume-to-Capacity (V/C) ratio. Regression analysis reveals a strong positive correlation between increased development intensity (FAR) and the degradation of road performance (V/C ratio). The model predicts that to maintain LoS C, the recommended average FAR value should not exceed 1.3. These findings underscore the necessity for strict FAR controls and adaptive integration between land-use policies and performance-based transportation planning. Abstrak. Penelitian ini adalah pemodelan spasial, yang bertujuan untuk mengetahui Koefisien Lantai Bangunan (KLB) sebagai variabel spasial vertikal (intensitas pemanfaatan ruang) yang dikendalikan oleh kapasitas dan kinerja jaringan jalan sebagai komponen spasial linier. Jaringan jalan di Kota Parepare berfungsi sebagai pembatas spasial (spatial constraint) dalam menentukan ambang batas maksimal KLB pada tiap zonasi tertentu, guna mencegah terjadinya beban berlebih (overload) pada ruang public di Kota Parepare. Dengan metodologi kuantitatif, survei lalu lintas pada periode puncak dan analisis spasial (KLB) di empat zona koridor utama. Mayoritas ruas jalan masih beroperasi pada Tingkat Pelayanan (LoS) A hingga B, mengindikasikan kapasitas cadangan yang substansial. Namun, hambatan samping secara signifikan mereduksi kapasitas efektif, dengan Zona I (Kecamatan Bacukiki Barat) teridentifikasi sebagai titik kritis yang mencapai LoS C (Arus Stabil – Mulai Tertekan) dan V/C Ratio tertinggi. Model analisis regresi berkorelasi positif yang kuat antara peningkatan intensitas pembangunan (KLB) dan degradasi kinerja jalan (V/C Ratio). Model ini memprediksi bahwa untuk mempertahankan LoS C, Pada nilai rata-rata KLB yang direkomendasikan tidak melampaui 1,3. Temuan ini menyoroti perlunya pengendalian KLB yang ketat dan integrasi adaptif antara kebijakan tata guna lahan dan transportasi berbasis kinerja. 
Perencanaan Infrastruktur Pendukung Geowisata Pesisir di Gumuk Pasir Parangtritis, Kabupaten Bantul Mohamad Rachmadian Narotama; Nur Budi Susanto
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 6, No. 1, Juli 2026, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v6i1.9010

Abstract

Abstract. The designation of a geosite serves both conservation and public education purposes by protecting areas with significant geological value. This study focuses on the Parangtritis Sand Dune Geosite (Gumuk Pasir Parangtritis/ GPP) in Bantul Regency, part of the Jogja Geopark, and explores geotourism as a strategy to strengthen geopark functions in conservation, education, and community welfare. The research applies accessibility analysis, spatial analysis, and infrastructure assessment to evaluate geosite feasibility and identify appropriate geotourism infrastructure development. Results show that several tourism activities and facilities within the core zone remain incompatible with the sand dune restoration program. Existing infrastructure has also not been adequately designed to support conservation-oriented geotourism, despite the site’s geosite status since 2015. A major issue is the presence of tourism activities, particularly jeep routes, that interfere with dune formation processes and affect environmental sustainability. The study recommends redirecting tourism toward more environmentally responsible and educational activities while maintaining local economic benefits through sustainable infrastructure development and alternative tourism attractions. Abstrak. Penetapan status geosite merupakan upaya untuk melindungi sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai keunikan geologis suatu kawasan. Studi ini mengkaji Geosite Gumuk Pasir Parangtritis (GPP) di pesisir Kabupaten Bantul yang menjadi bagian dari Geopark Jogja. Pengembangan geowisata dipandang sebagai arah yang tepat untuk mendukung tiga pilar geopark, yaitu konservasi, edukasi, dan peningkatan manfaat bagi masyarakat sekitar. Penelitian ini menggunakan metode analisis aksesibilitas, keruangan, serta asesmen kelengkapan infrastruktur untuk menilai kelayakan geosite dan merumuskan pengembangan fasilitas pendukung geowisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hingga saat ini masih terdapat berbagai aktivitas dan amenitas wisata di zona inti geosite yang tidak sesuai dengan rencana restorasi gumuk pasir. Selain itu, infrastruktur dan fasilitas pendukung yang tersedia belum sepenuhnya diarahkan untuk mendukung kegiatan konservasi dan geowisata, meskipun kawasan ini telah ditetapkan sebagai geosite sejak tahun 2015. Tantangan utama terletak pada perlindungan gumuk pasir melalui pemindahan aktivitas wisata, khususnya rute jeep yang berpotensi mengganggu proses pembentukan gumuk pasir dan aksesibilitas kawasan. Oleh karena itu, kegiatan wisata perlu diarahkan menjadi lebih ramah lingkungan, edukatif, dan tetap memperhatikan keberlanjutan ekonomi masyarakat lokal melalui pengembangan infrastruktur dan alternatif aktivitas wisata yang lebih berkelanjutan.
The Social Impact of Citraraya Housing Development on the Community of Pematang Gajah Village Nazwa Aulya Sriyadi; Asep Hariyanto
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 6, No. 1, Juli 2026, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v6i1.10146

Abstract

Abstract. Large-scale housing development in peri-urban areas often triggers complex socio-economic transformations in surrounding rural communities. This study aims to comprehensively analyze the social impacts of the Citraraya housing development on the local community of Pematang Gajah Village, Muaro Jambi Regency. Utilizing a concurrent mixed-method approach, primary data were collected through structured questionnaires (124 respondents purposively sampled based on an impact gradient), in-depth interviews with key community figures, and systematic field observations. Quantitative findings reveal a high aggregate social impact (Social Impact Index = 0.78). Security (mean 4.29) and solidarity (mean 4.14) were perceived most strongly, indicating enhanced collective well-being and social cohesion. However, lifestyle changes were more moderate (mean 3.20), and social interactions between original residents and newcomers, while harmonious, were not yet fully intensive (mean 3.65). Qualitative analysis triangulates these results, highlighting the role of collaborative activities (e.g., community sports, religious events) facilitated by the development in strengthening bridging social capital, despite emerging social segmentation. The study concludes that while the housing project has bolstered perceived security and solidarity through new platforms for interaction, it has not radically altered core lifestyles or achieved deep social integration. Challenges of segmentation persist. Therefore, the research recommends that developers and local policymakers implement more proactive and inclusive community-building programs, foster regular collaborative activities, and adopt a socially sensitive planning approach to ensure sustainable and integrative social outcomes in peri-urban transformations. These findings contribute to the literature on the social dynamics of planned urbanization in the Indonesian context.

Page 12 of 13 | Total Record : 122