cover
Contact Name
Hilwati Hindersah
Contact Email
uptpublikasi@unisba.ac.id
Phone
+6285294008040
Journal Mail Official
jrpwk@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah lantai 4, Rektorat Unisba, Jln Tamansari No.20, 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota
ISSN : 28083113     EISSN : 2798656X     DOI : https://doi.org/10.29313/jrpwk.v1i2
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK) adalah jurnal peer review dan dilakukan dengan double blind review yang mempublikasikan hasil riset dan kajian teoritik terhadap isu empirik dalam sub kajian perencanaan wilayah dan kota. JRPWK ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN 2798-656X yang diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini ter-indeks Google Schoolar, Garuda, Crossref, dan DOAJ. Terbit setiap Juli dan Desember.
Articles 110 Documents
Pengaruh Jalan Tol Soroja Terhadap Perubahan Penggunaan Lahan dan Harga Tanah Ilham Kosasih, Irpan Muhamad; Tonny Judiantono; Ruchyat Deni Djakapermana
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i2.7176

Abstract

Abstract. The construction of the Soroja Toll Road, which spans 10.57 km from Soreang to Pasir Koja (Bandung City), has accelerated land use changes in the surrounding areas. These land use changes have significantly impacted the land prices in the vicinity. In the Soreang, Kutawaringin, and Ciwidey areas of Bandung Regency, land prices surged dramatically after the toll road's construction, from around IDR 5 million per tumbak (14 m²) to IDR 2 million per square meter. This price increase also affected the determination of the Land and Building Tax Object Value (NJOP) in the surrounding areas, which has been considered burdensome by some local residents. Many believe the tax hike is unreasonable, given that the land they own is mainly used for trade and agriculture, and the income generated from such uses does not align with the amount of tax they must pay. This study aims to identify trends in land use changes around the Soroja Toll Road, analyze the extent of the increase in land prices, and propose a new model or formula for determining NJOP that would be more equitable and less burdensome for the community. The approach used is descriptive quantitative, with overlay and descriptive statistical analysis. The results show that between 2013 and 2020, there was a significant increase in land use changes and land prices, as well as the development of a new NJOP determination formula that can be implemented to ease the tax burden on local residents. Abstrak. Pembangunan Tol Soroja yang menghubungkan Soreang hingga Pasir Koja (Kota Bandung) sepanjang 10,57 km telah mempercepat proses alih fungsi lahan di kawasan sekitarnya. Alih fungsi lahan ini berdampak signifikan terhadap perubahan harga lahan di sekitar kawasan tersebut. Di wilayah Soreang, Kutawaringin, dan Ciwidey Kabupaten Bandung, harga tanah melonjak drastis setelah pembangunan tol, yang semula hanya sekitar Rp 5 juta per tumbak (14 m²), kini dapat mencapai Rp 2 juta per meter persegi. Kenaikan harga ini juga berimbas pada penetapan Nilai Jual Objek Pajak. (NJOP) di sekitar kawasan tersebut, yang dianggap memberatkan sebagian masyarakat. Banyak masyarakat yang merasa bahwa kenaikan pajak ini tidak wajar, mengingat tanah yang mereka miliki umumnya digunakan untuk perdagangan dan pertanian, dan hasilnya tidak sesuai dengan jumlah pajak yang harus dibayar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan di sekitar Tol Soroja, menganalisis kenaikan harga lahan, serta mengusulkan model atau formula baru untuk penetapan NJOP yang lebih adil dan tidak memberatkan masyarakat. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif, dengan analisis overlay dan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara 2013-2020 terjadi peningkatan penggunaan lahan dan kenaikan harga yang signifikan, serta terbentuknya formula penetapan NJOP baru yang dapat diterapkan untuk mengurangi beban masyarakat.
Faktor Pendorong Pendirian Bangunan di Sempadan Rel Kereta Api Stasiun Tanjung Karang Tabrani, Syifa Novia; Sulistyorini, Rahayu; Herison, Ahmad
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i2.7256

Abstract

Abstract. Spatial planning in urban transportation areas faces increasing pressure due to population growth and limited land, which encourages the emergence of buildings in areas that should be protected, such as railway borders. This condition has the potential to cause safety risks and irregularities in urban spatial planning. This study aims to analyze factors related to the reasons for people to build buildings in the railway border area, especially around Tanjung Karang Station, Bandar Lampung City. The method used is a field survey with a quantitative approach and Spearman Rank correlation analysis processed using the SPSS 24 program. Respondents consisted of 96 people spread across five villages in two districts. The results of the study indicate that factors suspected of being related to the reasons for people to build buildings consist of the role of the provincial government, the role of the city government, education level, knowledge level, length of residence, social networks, environmental quality, the presence of trade and service centers, economic factors, and land ownership status. Based on the results of the hypothesis test, the factors that are strongly related are the role of the provincial government, knowledge level, social networks, environmental quality, the presence of trade and service centers, and economic factors. Abstrak. Penataan ruang kawasan transportasi perkotaan menghadapi tekanan yang semakin besar akibat pertumbuhan penduduk dan keterbatasan lahan, yang mendorong munculnya bangunan pada kawasan yang seharusnya dilindungi seperti sempadan rel kereta api. Kondisi ini berpotensi menimbulkan risiko keselamatan serta ketidakteraturan tata ruang perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan alasan masyarakat mendirikan bangunan di kawasan sempadan rel kereta api, khususnya di sekitar Stasiun Tanjung Karang, Kota Bandar Lampung. Metode yang digunakan adalah survei lapangan dengan pendekatan kuantitatif dan analisis korelasi Rank Spearman yang diolah menggunakan program SPSS 24. Responden terdiri dari 96 orang yang tersebar di lima kelurahan di dua kecamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang diduga berhubungan dengan alasan masyarakat untuk mendirikan bangunan terdiri dari peran pemerintah provinsi, peran pemerintah kota, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, lama tinggal, jaringan sosial, kualitas lingkungan, keberadaan pusat perdagangan jasa, ekonomi, dan status kepemilikan lahan. Berdasarkan hasil uji hipotesis, faktor-faktor yang berhubungan kuat yaitu peran pemerintah provinsi, tingkat pengetahuan, jaringan sosial, kualitas lingkungan, keberadaan pusat perdagangan dan jasa dan faktor ekonomi.
Persepsi Masyarakat terhadap Perubahan Tata Guna Lahan di Koridor Jalan Ir. H. Djuanda, Kota Bandung Nazwa Aulya Sriyadi; Novita Najwa Alfariji; Muhammad Ihsan; Ahmad Hudy Arianata; Rama Arianto Widagdo
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i2.7559

Abstract

Abstract. Land use changes along the Ir. H. Djuanda corridor in Bandung City are a consequence of rapid urban growth and increasing economic activities. This study aims to analyze land use changes over the 2014–2024 period and to evaluate community perceptions of the impacts arising from these changes. The research methods include spatial analysis using overlay techniques in ArcGIS to compare land cover changes, as well as the distribution of questionnaires to 68 respondents to gather public perception data. The results show that land use transformation in the area is dominated by the expansion of residential and commercial zones, leading to increased traffic congestion, air and noise pollution, and the reduction of green open spaces. This study highlights the importance of sustainable and participatory spatial planning to maintain environmental quality and community comfort. Abstrak. Perubahan penggunaan lahan di koridor Jalan Ir. H. Djuanda, Kota Bandung, menjadi salah satu dampak dari pertumbuhan kota yang cepat dan meningkatnya aktivitas ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan penggunaan lahan selama periode 2014–2024 serta mengevaluasi persepsi masyarakat terhadap dampak yang ditimbulkannya. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis spasial berbasis overlay menggunakan ArcGIS untuk membandingkan perubahan tutupan lahan, serta penyebaran kuesioner kepada 68 responden untuk mengumpulkan persepsi masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan lahan di wilayah tersebut didominasi oleh perluasan permukiman dan perdagangan yang berdampak pada meningkatnya kemacetan, polusi udara dan suara, serta penurunan ruang terbuka hijau. Penelitian ini menekankan pentingnya perencanaan tata ruang yang berkelanjutan dan partisipatif untuk menjaga kualitas lingkungan serta kenyamanan masyarakat.  
Penentuan Prioritas Lokasi Penambahan Ruang Terbuka Hijau sebagai Upaya dalam Mengurangi Efek Urban Heat Island di Kabupaten Lumajang Shinta Permana Putri; Emirita Cris Santia
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i2.7681

Abstract

Abstract. The Urban Heat Island (UHI) phenomenon refers to increased air temperatures in urban areas resulting from high building density and the reduction of green open spaces (GOS). Uncontrolled land-use conversion is a major contributor to this phenomenon, which has also been observed in Lumajang Regency in recent years. This study aims to estimate the required additional GOS and identify potential locations for its development as a UHI mitigation strategy. A quantitative approach was applied using secondary data obtained from relevant government institutions. Data were analyzed through spatial analysis techniques, including the calculation of GOS requirements based on Law Number 26 of 2007. The findings indicate that Lumajang Regency requires an additional 28.55 hectares of GOS. Site selection for GOS development was based on several parameters, including the Thermal Humidity Index (THI), Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), slope gradient, and proximity to residential areas. Overall, 134.93 hectares of land were identified as potentially suitable for GOS development. These results provide a policy reference for local government planning to mitigate UHI impacts.   Abstrak. Fenomena Urban Heat Island (UHI) merupakan peningkatan suhu udara di kawasan perkotaan akibat kepadatan bangunan dan berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH). Alih fungsi lahan menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya fenomena ini, yang juga terjadi di Kabupaten Lumajang dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kebutuhan penambahan RTH serta mengidentifikasi lokasi potensial pengembangannya sebagai upaya mitigasi UHI. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder yang diperoleh dari instansi pemerintah terkait. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis spasial, termasuk perhitungan kebutuhan RTH berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Lumajang masih memerlukan tambahan RTH seluas 28,55 hektare. Penentuan lokasi RTH mempertimbangkan beberapa faktor, yaitu Thermal Humidity Index (THI), Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), kemiringan lereng, dan jarak dari permukiman. Secara keseluruhan, tersedia lahan potensial seluas 134,93 hektare untuk pengembangan RTH. Temuan ini menjadi dasar rekomendasi kebijakan bagi Pemerintah Kabupaten Lumajang dalam perencanaan pengembangan RTH guna mengurangi dampak UHI.
Integrasi Citra VIIRS dan Statistik Sosial dalam Pemetaan Kemiskinan di Kabupaten Bondowoso Listyawati, Ratih Novi; Prasetiyo, Prasetiyo; Aliansyah, Fery Ardi; Salsabila, Dian Aulia
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i2.7755

Abstract

Abstract. Poverty remains a development issue in Bondowoso Regency, East Java Province, with a poverty rate of 12.60%. The limitations of conventional statistical data on a micro spatial scale have encouraged the use of alternative approaches based on remote sensing. This study aims to analyze the distribution of poverty through the integration of VIIRS nighttime light imagery and Integrated Social Welfare Data (DTKS). The methods used include the classification of nighttime light radiance intensity into eight classes and Pearson's correlation analysis to test the relationship between nighttime light intensity and the number and density of poor people at the subdistrict level. The results of the analysis show that the correlation between nighttime light intensity and the number of poor people is positive but not significant (r = 0.368; sig. = 0.084), while the correlation with the density of poor people shows a very strong and significant relationship (r = 0.871; sig. = 0.000). These findings indicate that nighttime light better represents the concentration of activity and population density than the absolute level of poverty. Therefore, nighttime light imagery cannot be used as a single indicator of welfare and needs to be integrated with micro-social indicators to improve the accuracy of poverty mapping. Abstrak. Kemiskinan masih menjadi permasalahan pembangunan di Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur, dengan persentase penduduk miskin sebesar 12,60%. Keterbatasan data statistik konvensional pada skala spasial mikro mendorong penggunaan pendekatan alternatif berbasis penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persebaran kemiskinan melalui integrasi citra cahaya malam VIIRS dan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Metode yang digunakan meliputi klasifikasi intensitas radiansi cahaya malam ke dalam delapan kelas serta analisis korelasi pearson untuk menguji hubungan antara intensitas cahaya malam dengan jumlah dan kepadatan penduduk miskin pada tingkat kecamatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa korelasi antara intensitas cahaya malam dan jumlah penduduk miskin bersifat positif namun tidak signifikan (r = 0,368; sig. = 0,084), sedangkan korelasi dengan kepadatan penduduk miskin menunjukkan hubungan yang sangat kuat dan signifikan (r = 0,871; sig. = 0,000). Temuan ini menunjukkan bahwa cahaya malam lebih merepresentasikan konsentrasi aktivitas dan kepadatan penduduk dibandingkan tingkat kemiskinan secara absolut, sehingga citra cahaya malam tidak dapat digunakan sebagai indikator tunggal kesejahteraan dan perlu diintegrasikan dengan indikator sosial mikro untuk meningkatkan akurasi pemetaan kemiskinan.
Kualitas Ruang Ramah Anak di Kawasan Permukiman Padat Kelurahan Giwangan, Kota Yogyakarta Ibnul Muntaza; BQ. Anisa Putrin Meilia; Hilarius Nayandhra Gading Pratama
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i2.7781

Abstract

Abstract. A Rapid urbanization in Indonesian cities has reduced the availability of safe and inclusive public spaces for children, particularly in dense residential areas. Although the Child-Friendly City policy has been implemented, its application at the neighborhood scale remains uneven. This study aims to evaluate the quality of a child-friendly neighborhood in Giwangan Urban Village, Yogyakarta City, as a representation of dense urban settlements. The research adopts a Child-Friendly Urban Planning approach combined with the concept of the right to the city. A qualitative descriptive method was employed through field observations and short interviews, using an evaluation instrument consisting of 30 indicators grouped into five categories: play spaces, safety, children’s activities, parental and community roles, and digital access and policy support. The findings indicate that 22 out of 30 indicators were fulfilled, resulting in an achievement rate of 73.33%, which is classified as high quality. While basic physical facilities are generally available, significant limitations persist in children’s mobility, inclusivity, participation, and the effectiveness of local programs and policies. This study contributes a neighborhood-scale evaluation framework for child-friendly environments and highlights the importance of incorporating children’s lived experiences in assessing urban space quality. Abstrak. Pesatnya urbanisasi di kota-kota Indonesia berimplikasi pada berkurangnya ruang publik yang aman dan inklusif bagi anak, terutama di kawasan permukiman padat. Meskipun kebijakan Kota Layak Anak telah diterapkan, implementasinya pada skala lingkungan permukiman masih menunjukkan kesenjangan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kualitas kawasan ramah anak di Kelurahan Giwangan, Kota Yogyakarta, sebagai representasi kawasan permukiman padat perkotaan. Penelitian menggunakan pendekatan Child-Friendly Urban Planning yang dipadukan dengan konsep right to the city. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan dan wawancara singkat, dengan instrumen evaluasi berupa 30 indikator yang dikelompokkan ke dalam lima kategori, yaitu ruang bermain, keamanan, aktivitas anak, peran orang tua dan komunitas, serta akses digital dan kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 22 dari 30 indikator terpenuhi, dengan tingkat pemenuhan sebesar 73,33% yang dikategorikan sebagai kualitas tinggi. Temuan mengungkap bahwa ketersediaan fasilitas fisik dasar relatif memadai, namun masih terdapat kelemahan pada aspek mobilitas anak, inklusivitas, partisipasi, serta dukungan program dan kebijakan di tingkat lokal. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa kerangka evaluasi kawasan ramah anak pada skala lingkungan permukiman serta menunjukkan pentingnya pendekatan berbasis pengalaman anak dalam menilai kualitas ruang kota.
Perencanaan Sebaran Lokasi Ruang Terbuka Hijau Publik Kelurahan Sukarame Panalementa, Axcel; Baiq Rindang Aprildahani
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i2.7860

Abstract

Abstract. The availability of public green open space (RTHP) plays a vital role in maintaining environmental quality and promoting social well-being in urban areas. However, in Sukarame Subdistrict, Bandar Lampung City, the current provision of RTHP accounts for only 0.19% of the total area, which falls significantly below the national standard of 20%. This article aims to analyze the need for RTHP based on land area and population, and to identify potential locations for future development. The study applies a quantitative-spatial approach utilizing secondary data analysis, satellite image interpretation, and GIS-based spatial mapping through Google Earth and ArcGIS. Key aspects analyzed include existing land use, land ownership status from the BhumiATR platform, and physical land conditions. The results indicate that the ideal requirement of RTHP ranges from 44.9 to 53.2 hectares, while the identified potential land area only reaches 1.07 hectares across nine sites. The dominance of privately owned land presents challenges in the allocation of new RTHP areas. Therefore, the study recommends an integrated land acquisition strategy prioritizing government-owned land and promoting collaborative, adaptive planning to support sustainable urban environments. Abstrak. Ketersediaan ruang terbuka hijau publik (RTHP) memiliki peran yang penting dalam menjaga kualitas lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat perkotaan. Namun, di Kelurahan Sukarame, Kota Bandar Lampung, luasan RTHP yang tersedia hanya mencapai 0,19% dari total wilayah, jauh di bawah standar nasional sebesar 20%. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan RTHP berdasarkan luas wilayah dan jumlah penduduk, serta mengidentifikasi lokasi potensial penyediaan RTHP yang layak dikembangkan. Pendekatan analisis yang digunakan mencakup pengolahan data sekunder, interpretasi citra satelit, serta pemetaan spasial berbasis perangkat lunak Google Earth dan ArcGIS. Aspek-aspek yang dianalisis meliputi penggunaan lahan eksisting, status kepemilikan lahan dari platform Bhumi ATR, serta kondisi fisik lahan. Hasil studi menunjukkan bahwa kebutuhan ideal RTHP di Kelurahan Sukarame mencapai 44,9–53,2 hektar, sementara lahan potensial yang berhasil diidentifikasi hanya seluas 1,07 hektar yang tersebar di sembilan lokasi. Dominasi kepemilikan hak milik pribadi menjadi tantangan dalam perencanaan pengadaan lahan RTHP. Oleh karena itu, disarankan adanya integrasi kebijakan pengadaan lahan RTHP dengan prioritas pada lahan milik pemerintah dan pendekatan perencanaan yang kolaboratif dan adaptif dalam rangka mendukung keberlanjutan lingkungan dan sosial perkotaan.
Pemodelan Celluler Automata untuk Prediksi Wilayah Hinterlnad Kota Semarang Imam Rofi'i; Rio Triutomo; Agnesia Putri
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i2.7882

Abstract

Abstract. Semarang City, as a regional growth center in Central Java, has experienced intensive spatial expansion into its hinterland areas, particularly Semarang Regency, Demak, and Kendal, resulting in land-use changes, infrastructure pressure, environmental degradation, and regional service disparities. Spatial control that remains reactive and relies on static evaluations of the Regional Spatial Plan (RTRW) is considered insufficient to anticipate dynamic urban growth. Limited land availability and population growth have driven land-use conversion toward hinterland areas, particularly Ungaran, which has undergone significant changes as Semarang City shifts toward a trade and service-oriented center. This study is based on urban expansion theory, which views urban development as a process of spatial diffusion of built-up areas from the urban core to surrounding hinterland regions. A quantitative approach using a Cellular Automata–Artificial Neural Network (CA-ANN) model with multitemporal Landsat imagery was applied. Land-use modeling and prediction were conducted up to 2029 using GIS software. The results indicate a significant increase in built-up areas, particularly along major road corridors and toll road access, accompanied by a decline in agricultural land. This study contributes to the development of land-use change prediction models to support sustainable metropolitan spatial planning policies. Abstrak. Kota Semarang sebagai pusat pertumbuhan regional Jawa Tengah mengalami ekspansi spasial intensif ke wilayah hinterland khususnya Kabupaten Semarang, Demak, dan Kendal, yang memicu perubahan penggunaan lahan, tekanan infrastruktur, degradasi lingkungan, dan ketimpangan pelayanan wilayah. Pengendalian pemanfaatan ruang yang masih bersifat reaktif dan berbasis evaluasi statis RTRW dinilai belum mampu mengantisipasi dinamika pertumbuhan kota. Keterbatasan lahan dan pertumbuhan penduduk mendorong alih fungsi lahan ke kawasan hinterland, khususnya Ungaran, yang mengalami perubahan signifikan seiring pergeseran fungsi Kota Semarang menuju pusat perdagangan dan jasa. Penelitian ini didasarkan pada teori urban expansion yang memandang perkembangan wilayah perkotaan sebagai proses perluasan spasial kawasan terbangun dari kota inti ke wilayah hinterland melalui mekanisme difusi dan efek ketetanggaan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif berbasis Cellular Automata Artificial Neural Network (CA-ANN) dengan data citra Landsat multitemporal. Pemodelan dilakukan hingga tahun 2029 menggunakan perangkat lunak SIG. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan kawasan terbangun, terutama di sepanjang koridor jalan utama dan akses tol, disertai penurunan lahan pertanian. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan model prediksi perubahan penggunaan lahan sebagai dasar pendukung kebijakan penataan ruang metropolitan berkelanjutan.
Model Penilaian Elemen Potensial Urban Branding Tanjung Selor Provinsi Kalimantan Utara Anjani Putri, Kaulika; Hilwati Hindersah; Ruchyat Deni Djakapermana
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i2.8244

Abstract

Abstract. Urban Branding is one of the strategic efforts to enhance a city's competitiveness. It has become a primary focus and an increasingly urgent necessity. The need for a regional brand helps establish a strong positioning for the area, especially when the branding is designed to be sustainable. The research titled “Assessment Model of Potential Urban Branding Elements in Tanjung Selor, North Kalimantan Province” aims to explore the branding potential of Tanjung Selor using both qualitative and quantitative approaches, including scoring, weighting, and crosstab analysis. The objectives of this study are to identify potential Urban Branding elements that can be marketed as the brand of Tanjung Selor, and to determine a sustainable Urban Branding concept suitable for the region. Based on the analysis, the branding concept “Tepian Kayan Tanjung Selor” emerged as a sustainable brand that reflects North Kalimantan’s competitiveness in comparison to other cities in Indonesia. This research is expected to serve as a replicable model for other cities by refining the analytical framework. It also offers valuable input for local government policy and development, while providing economic and social benefits for the people of Tanjung Selor. Abstrak. Urban Branding merupakan salah satu upaya untuk membentuk daya saing Kota, dan saat ini menjadi fokus utama dan kebutuhan yang cukup mendesak. Kebutuhan akan brand suatu daerah, akan menjadikan daerah mempunyai positioning yang kuat terlebih branding tersebut harus yang sustainable. Penelitian yang berjudul “Model Penilaian Elemen Potensial Urban Branding Tanjung Selor Provinsi Kalimantan Utara” merupakan sebuah penelitian untuk mengetahui potensial branding di Tanjung selor dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif diantaranya skoring, pembobotan dan crosstabs. Penelitian dimaksudkan untuk Mengidentifikasi elemen-elemen Urban Branding yang potensial yang dapat dipasarkan menjadi Brand Tanjung Selor serta Menentukan Urban Branding yang sustainable untuk dijadikan branding di Tanjung Selor. Dari hasil analisis didapatkan Branding Tepian Kayan Tanjung Selor merupakan branding yang sustainable yang dapat menunjukkan bahwa Kalimantan Utara memiliki daya saing dengan kota-kota lain di Indonesia. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk replikasi bagi kota-kota lain dengan menggunakan penajaman-penajaman model analisis, serta dijadikan masukan untuk kebijakan dan pengembangan di pemerintah daerah, dan untuk masyarakat Tanjung Selor sendiri mendapatkan manfaat dari segi ekonomi dan sosial.
Proyeksi Perubahan Garis Pantai di Pesisir Eretan-Ilir Menggunakan Metode Digital Shoreline Analysis System (DSAS) Nirmala, Caesar Dewangga Duta; Yulia Asyiawati
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i2.8480

Abstract

Abstract. The coastal area of Eretan-Ilir, Indramayu Regency, chronically faces the dual threats of abrasion and tidal flooding (rob), endangering the community's socio-economic assets. This study aims to project future shoreline changes by analyzing the spatial relationship between abrasion rates and tidal flood inundation potential as its primary driving factor. Using spatial modeling, this research applies the Digital Shoreline Analysis System (DSAS) method to project abrasion rates and a Modified Bathtub Model to map inundation potential. The results of both models are then integrated through an overlay analysis. The analysis reveals a strong spatial correlation, where zones with the highest inundation potential (>2 meters) consistently overlap with the most severe abrasion zones, particularly in the Eastern Coastal segment. The impact of this dual threat is most critical for fishpond ( tambak) and settlement land uses. It is concluded that tidal flood inundation potential is a significant driving factor for abrasion rates, and this integrated modeling approach is effective in identifying critical coastal zones that require prioritized mitigation efforts. Abstrak. Kawasan Pesisir Eretan-Ilir di Kabupaten Indramayu secara kronis menghadapi ancaman ganda, yaitu abrasi dan banjir rob, yang mengancam aset sosial-ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memproyeksikan perubahan garis pantai dengan menganalisis hubungan spasial antara laju abrasi dan potensi genangan banjir rob sebagai faktor pendorong utamanya. Menggunakan pemodelan spasial, penelitian ini menerapkan metode Digital Shoreline Analysis System (DSAS) untuk memproyeksikan laju abrasi dan Modified Bathtub Model untuk memetakan potensi genangan. Kedua hasil pemodelan tersebut kemudian diintegrasikan melalui analisis tumpang susun (overlay). Hasil analisis menunjukkan adanya korelasi spasial yang kuat, di mana zona dengan potensi genangan tertinggi (>2 meter) secara konsisten tumpang tindih dengan zona abrasi terparah, terutama di segmen Pesisir Timur. Dampak dari ancaman ganda ini paling berisiko terhadap tutupan lahan tambak dan permukiman. Disimpulkan bahwa potensi genangan banjir rob merupakan faktor pendorong yang signifikan terhadap laju abrasi, dan pendekatan pemodelan terintegrasi ini efektif dalam mengidentifikasi zona-zona pesisir kritis yang memerlukan prioritas mitigasi.

Page 11 of 11 | Total Record : 110