cover
Contact Name
Syakieb Sungkar
Contact Email
jurnal.dekonstruksi@yahoo.com
Phone
+62811101722
Journal Mail Official
jurnal.dekonstruksi@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tebet Mas Indah III Blok E No. 40 Tebet Barat, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 13115
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Dekonstruksi
Published by Gerakan Indonesia Kita
ISSN : 27746828     EISSN : 2797233X     DOI : 10.54154/dekonstruksi
Jurnal Dekonstruksi is a scientific journal published by Gerakan Indonesia Kita (GITA). This journal publishes scientific articles and research reports on the study of philosophy, art, social science, and cultural studies forth times a year.
Articles 267 Documents
Membaca Teori Wahdat al-Wujud Ibnu Arabi sebagai Keberpihakan pada Ekologi Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo
Dekonstruksi Vol. 12 No. 3 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 03, 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i3.409

Abstract

Kerusakan ekologi merupakan masalah global yang hingga kini rutin diperbincangkan, tetapi juga serentak diupayakan untuk ditanggulangi. Masalah ini bisa dilihat juga sebagai imbas langgengnya paham antroposentrisme. Berangkat dari keprihatinan atas masifnya kerusakan alam, maka tulisan ini dimaksudkan untuk menggugat kembali dominasi manusia atas alam berdasarkan tawaran perspektif dari Ibnu Arabi tentang wahdat al wujud sebagai cara berpikir baru untuk manusia membangun relasi dengan alam. Relasi itu hendaknya menjadi relasi yang sama atau setara, yang di dalamnya mengupayakan adanya penghargaan pada alam (tanah, laut, hutan, gunung, dan lainnya) yang darinya manusia dan segenap makhluk lainnya memperoleh kehidupan. Dua perspektif ini akan ditampilkan secara utuh dengan maksud sebagai suatu bentuk kontribusi akademis dalam mengupayakan penghentian atau setidak-tidaknya meminimalisir eksploitasi atas alam yang begitu masif.
Keadilan Sosial bagi Kaum Rentan dan Terpinggirkan dalam Perspektif Etika Relasional Judith Butler Yosef Gunawan
Dekonstruksi Vol. 12 No. 3 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 03, 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i3.411

Abstract

Dalam kehidupan bersama selalu hadir kelompok rentan dan terpinggirkan akibat ketidakadilan sosial, yang kerap mengalami penindasan sehingga hak dan martabatnya terabaikan. Situasi ini menuntut pengakuan yang sungguh-sungguh atas kemanusiaan mereka sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan bersama. Judith Butler menawarkan etika relasional sebagai kerangka untuk memahami kerentanan dan marginalisasi manusia. Penelitian ini bertujuan menggali pemikirannya sebagai dasar analisis realitas kelompok tertindas. Dua pertanyaan utama diajukan: bagaimana realitas kehidupan kaum tertindas dan terpinggirkan di tengah kehidupan bersama? Bagaimana konsep etika relasional Judith Butler menawarkan dasar etis untuk membangun kehidupan berkeadilan bersama mereka? Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika relasional menekankan pengakuan dan kerentanan sebagai kondisi dasar manusia yang saling bergantung, sehingga pengakuan timbal balik menjadi fondasi keadilan sosial dan kemanusiaan.
Silogisme Setara-Paralel (⋕): Melampaui Fiksasi Ontologis dalam Struktur Artikulasi Manusia Christian Delesep Ruhupatty
Dekonstruksi Vol. 12 No. 3 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 03, 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i3.412

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengubah cara kita memahami bagaimana manusia menangkap realitas dan menyatakannya lewat bahasa. Selama ini, tradisi filsafat Barat cenderung mengurung kenyataan ke dalam definisi logis yang kaku dan statis, seolah-olah kata “adalah” (=) bisa merangkum seluruh esensi dari suatu objek secara mutlak. Berbeda dengan pandangan lama tersebut, penelitian ini melihat bahwa pikiran dan tubuh manusia bekerja bersama sebagai sistem aktif yang “mencerna” kenyataan, bukan objek perseptual pasif atau cermin yang memantulkannya. Melalui pendekatan baru yang disebut Logika Setara-Paralel (⋕) dengan rumus 1 + 1 ⋕ 3, diperlihatkan bahwa ketika realitas murni (n1) bertemu dengan tubuh-pikiran manusia (n2), perjumpaan ini melahirkan sebuah makna baru yang disebut personae (n3). Sifatnya yang “paralel” memastikan bahwa meskipun manusia terus membuat gambaran atau kata baru untuk menjelaskan sesuatu (seperti kata “P-O-H-O-N”), esensi asli dari realitas itu sendiri tidak akan pernah habis atau hilang diperas oleh bahasa. Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa manusia adalah pencipta makna yang dinamis melalui aktivitas a-propriasi; kita tidak pernah berhenti melahirkan sudut pandang dan “Kebenaran-Baru” yang terus berkembang dalam memahami dunia di sekitar kita.
Epistemic Responsibility in the Age of Generative Artificial Intelligence: Trust, Authority, and the Ethics of Knowing Abdi Susanto
Dekonstruksi Vol. 12 No. 3 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 03, 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i3.413

Abstract

The rapid integration of generative artificial intelligence into knowledge-sensitive domains has prompted extensive ethical debate, largely focused on issues of accuracy, bias, and governance. This article argues that such approaches overlook a more fundamental normative challenge: the transformation of epistemic responsibility and authority in contemporary practices of knowing. Drawing on epistemic ethics and virtue epistemology, the article contends that generative AI systems lack epistemic agency and therefore cannot bear responsibility for knowledge claims. Through normative conceptual analysis, the article identifies a structural "responsibility gap" that emerges when epistemic reliance is conflated with trust. Furthermore, this article provides a theoretical in-depth analysis of human-AI assemblages and proposes a practical implementation framework for higher education and journalism. The framework emphasizes accountable agency, institutional responsibility, and the cultivation of epistemic virtues as necessary conditions for integrating generative AI without undermining democratic epistemic practices.
Toxic Self-Improvement dan Reduksi Manusia menjadi Animal Laborans Rafael Aglis Ariya Tamtama; Pius Pandor
Dekonstruksi Vol. 12 No. 3 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 03, 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i3.415

Abstract

Perkembangan masyarakat modern dan kapitalisme digital telah mengubah makna self-improvement. Jika sebelumnya pengembangan diri bertujuan untuk membantu manusia berkembang secara pribadi dan memperkaya kehidupan batin, kini pengembangan diri sering berubah menjadi tuntutan untuk terus produktif dan meningkatkan nilai ekonomi diri. Fenomena ini dikenal sebagai toxic self-improvement, yaitu kondisi ketika seseorang merasa harus terus bekerja, berkembang, dan mencapai standar tertentu tanpa henti hingga menimbulkan tekanan mental. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena tersebut menggunakan perspektif pemikiran Hannah Arendt, khususnya konsep Vita Activa. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan pendekatan kualitatif yang bersifat filosofis-analitis. Data diperoleh dari buku The Human Condition karya Hannah Arendt serta berbagai jurnal dan literatur pendukung yang membahas toxic self-improvement, hustle culture, burnout, dan kapitalisme digital. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif-analitis dan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya toxic self-improvement membuat manusia semakin terjebak dalam tuntutan kerja dan produktivitas tanpa akhir. Kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi sulit dipisahkan, sehingga memicu kelelahan mental atau burnout dan membuat manusia kehilangan ruang untuk beristirahat serta berefleksi. Dalam perspektif Arendt, kondisi ini menunjukkan dominasi animal laborans, yaitu manusia yang hidupnya sepenuhnya dikuasai oleh aktivitas kerja dan kebutuhan ekonomi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa budaya produktivitas modern menyebabkan manusia kehilangan kebebasan, ruang refleksi, dan hubungan sosial yang bermakna. Manusia akhirnya lebih sibuk mengejar produktivitas dan pengakuan sosial daripada membangun kehidupan yang otentik dan manusiawi.
Kuda Hanyalah 'Bukan Non-Kuda': Jawaban Teori Eksklusi Epistemologi-Linguistik Dharmakīrti atas Problem Universal Rayno Praditya Erickson
Dekonstruksi Vol. 12 No. 3 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 03, 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i3.416

Abstract

Problem universal—bagaimana mungkin satu istilah seperti "kuda" dapat merujuk pada banyak partikular yang berbeda—telah menjadi perdebatan sentral dalam filsafat Barat maupun India. Sementara Plato mengajukan keberadaan Forma-Forma transenden sebagai dasar bagi konsep-konsep universal, filsuf Buddhis abad ke-7, Dharmakīrti, menawarkan solusi yang sangat berbeda melalui teori apoha (eksklusi)-nya. Diskursus yang terjadi tentang problem universal dalam literatur filsafat Indonesia masih didominasi oleh kerangka kerja Barat, dengan eksplorasi yang terbatas pada epistemologi Buddhis India sebagai alternatif yang layak. Tulisan ini secara komparatif menganalisis teori Forma Plato dan teori apoha Dharmakīrti untuk menunjukkan keunggulan filosofis pendekatan nominalis Buddhis atas realisme Platonik. Dengan menggunakan tinjauan pustaka kualitatif, studi ini secara kritis mengkaji teks-teks primer (Parmenides, Pramāṇavārttika) dan literatur sekunder dari para komentator India klasik (Jinendrabuddhi, Ratnakīrti) serta para sarjana kontemporer (Dunne, Siderits, Tillemans). Analisis ini mengungkapkan bahwa teori apoha Dharmakīrti secara elegan menghindari regresi tak berujung dari Argumen Orang Ketiga yang menjangkiti Forma-Forma Plato, sembari menjaga konsistensi doktrinal dengan prinsip-prinsip Buddhis tentang śūnyatā (kekosongan) dan anātman (tanpa-diri). Mekanisme apoha bekerja melalui operasi eksklusi: "kuda" tidak lain adalah pengecualian dari segala sesuatu yang bukan kuda, yang berfungsi tanpa mereifikasi esensi universal positif apa pun. Studi ini berkontribusi pada pengayaan diskursus filsafat Indonesia dengan memperkenalkan kerangka epistemologis India yang ketat sebagai alternatif terhadap paradigma metafisika Barat, sekaligus menunjukkan relevansi praktis epistemologi Buddhis bagi filsafat bahasa dan sains kognitif kontemporer.
Transformasi Kegiatan Seni dari Offline ke Digital: Kasus Lisa the Queen Cat Anna Sungkar
Dekonstruksi Vol. 12 No. 3 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 03, 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i3.426

Abstract

Perkembangan teknologi internet dan era digital telah mendorong para seniman kontemporer untuk mentransformasikan praktik penciptaan seni dari medium fisik (offline) ke medium digital. Artikel ini mengkaji fenomena transformasi tersebut dengan memfokuskan studi kasus pada karya-karya pelukis Syakieb Sungkar, khususnya fiksional “Lisa the Queen Cat.” Melalui metode deskriptif-analitis, artikel ini mengekspresikan enam jalur roadmap transformasi digital bagi karakter Lisa, yang meliputi pembangunan semesta lukisan digital (digital painting universe), pengembangan karakter mitologis, motion art/video art, pameran virtual (virtual exhibition), pemanfaatan NFT/collectible digital, hingga perluasan visual berbasis AI (AI-assisted expansion). Hasil kajian menunjukkan bahwa arah estetik terbaik bagi transformasi karakter Lisa bukanlah gaya 3D hiperrealistis atau komersial, melainkan painterly digital surrealism yang tetap mempertahankan “roh” lukisan konvensional, ketidakteraturan puitis, serta atmosfer psikedeliknya. Transformasi ini membuktikan bahwa teknologi digital dan kecerdasan buatan tidak menggantikan eksistensi pelukis, melainkan sebagai ruang imajinasi tambahan untuk memperluas mitologi visual lintas medium.