cover
Contact Name
Syakieb Sungkar
Contact Email
jurnal.dekonstruksi@yahoo.com
Phone
+62811101722
Journal Mail Official
jurnal.dekonstruksi@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tebet Mas Indah III Blok E No. 40 Tebet Barat, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 13115
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Dekonstruksi
Published by Gerakan Indonesia Kita
ISSN : 27746828     EISSN : 2797233X     DOI : 10.54154/dekonstruksi
Jurnal Dekonstruksi is a scientific journal published by Gerakan Indonesia Kita (GITA). This journal publishes scientific articles and research reports on the study of philosophy, art, social science, and cultural studies forth times a year.
Articles 248 Documents
Gereja dan Kebudayaan Kristianto, Paulus Eko
Dekonstruksi Vol. 12 No. 01 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 01, Tahun 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i01.367

Abstract

The contextual church is the church that pays attention to the context. One of the contexts facing the church is culture. The church needs to build relationships with the church. This article discusses how church and cultural relations. This relationship includes seeing various theological developments in it. In addition, the author also shows some concrete examples of churches that pay attention to and consider culture as its context.
Allah Bukanlah Proyeksi: : Kritik Franz Magnis Terhadap Ateisme Feuerbach Arga, Feliks Erasmus
Dekonstruksi Vol. 12 No. 01 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 01, Tahun 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i01.368

Abstract

Feuerbach adalah tokoh yang disebut sebagai pelopor filsuf ateis. Teori proyeksi yang ia ungkapkan menjadi dasar bagi teori-teori ateisme selanjutnya. Akan tetapi, menurut Magnis, teori proyeksi Feuerbach memiliki sebuah kesalahan berpikir. Selain kritik yang diberikan, Magnis juga menunjukkan bahwa petunjuk-petunjuk akan keberadaan Allah dapat dinalar oleh manusia. Atas dasar tersebut, tulisan ini hendak menjelaskan mengenai teori proyeksi Feuerbach dan kritik Magnis terhadapnya. Artikel ini disusun dengan menggunakan metode analisis pustaka, terutama buku Feuerbach yang berjudul The Essence of Christianity dan buku Magnis yang berjudul Menalar Tuhan. Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa dengan adanya Tuhan, keberadaan alam semesta menjadi semakin logis.
Waktu Statis: Tawaran Alternatif dalam Memandang Waktu Lukas Julian
Dekonstruksi Vol. 12 No. 01 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 01, Tahun 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i01.369

Abstract

There are two main theories in contemporary discourse on the concept of time: Dynamic Time Theory and Static Time Theory. In general, humans tend to understand time dynamically due to its intuitive nature. In this paper, I will argue that Static Time Theory is worthy of consideration as a framework for human understanding of the concept of time. Although Dynamic Time Theory has an intuitive affinity with human subjective experiences of time, I will show that its logical construction is weaker than Static Time Theory. Nevertheless, I suggest a hybrid use of the two theories: Dynamic Time Theory in practical contexts, and Static Time Theory in theoretical discussions. Keywords: time, Dynamic Time Theory, Static Time Theory, hybrid.
Manusia Yang Menggugat Dirinya Sendiri: : Sebuah Analisis oleh Steven Pinker dalam The Blank Slate: The Modern Denial of Human Nature Indriyatno, Adrianus Raditya
Dekonstruksi Vol. 12 No. 01 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 01, Tahun 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i01.371

Abstract

Sebagai makhluk yang memiliki kesadaran (consciousness), manusia memiliki kemampuan unik untuk berefleksi. Yang ia refleksikan pertama-tama adalah dirinya sendiri dengan bertanya, Siapakah aku? Makalah ini hendak memberi perspektif tentang apa artinya menjadi manusia, secara khusus apa yang merupakan kodrat manusia (human nature). Metode penelitian yang digunakan adalah analisis literatur menggunakan buku berjudul, The Blank Slate: The Modern Denial of Human Nature (2002), karya Steven Pinker. Temuan akhir dari makalah ini adalah manusia bukanlah makhluk kosong yang lahir begitu saja, tanpa apa-apa. Setiap manusia sudah memiliki bawaanalamiahnya/ kodrat masing-masing yang kemudian ikut dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Bawaan alamiah setiap individu tidak mengartikan bahwa diskriminasi itu dapat dibenarkan begitu saja. Sebaliknya, manusia justru dipanggil untuk menjadi bermoral karena moralitas adalah nilai yang layak dihidupi. Perbedaan alamiah tidak mengartikan bahwa tanggung jawab moral manusia tidak ada.
Hakikat Bahasa di dalam Metode Apropriasi menurut Ricoeur dan Pengembangannya di dalam Prinsip Personalisasi Ruhupatty, Chris
Dekonstruksi Vol. 12 No. 01 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 01, Tahun 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i01.375

Abstract

Artikel ini memfokuskan uraiannya pada penjelasan tentang hakikat bahasa dari sudut pandang pendekatan personalisasi. Kajian dimulai dengan menunjukkan hakikat bahasa menurut pemikiran Ricoeur yang kemudian dikembangkan berdasarkan keterhubungan bahasa dengan pengalaman personal. Di dalam konteks ini, Ricoeur memandang bahasa sebagai medium yang membawa kepada penyingkapan esensi realitas secara objektif. Sehingga dinyatakan bahwa esensi realitas dapat mewujud melalui perspektif dan tindakan manusia—dan perwujudannya secara objektif dapat ditemukan pada struktur logis tata bahasa tulisan. Sedangkan penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa adalah perwujudan dari pengalaman personal manusia yang terhubung langsung dengan esensi realitas. Kerangka keterhubungan ini dijelaskan dengan menunjukkan kemampuan manusia untuk melakukan personalisasi atau manipulasi terhadap penyingkapan esensi realitas pada kesadaran. Oleh sebab itu, penelitian ini mengungkapkan bahwa esensi realitas tidak hadir secara utuh ke dalam ruang dan waktu, karena telah selalu mengalami personalisasi atau rekayasa. Singkatnya, bahasa tidak dipandang sebagai medium yang membawa kepada penyingkapan esensi realitas, tapi membawa kepada permainan personalisasi terhadap penyingkapan esensi realitas yang muncul di kesadaran.
Seni, Budaya, Sains, dan Teknologi di Arus Perubahan Zaman: : Menyongsong Masa Depan sungkar, anna
Dekonstruksi Vol. 12 No. 01 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 01, Tahun 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i01.384

Abstract

Seni, budaya, sains, dan teknologi merupakan empat dimensi kehidupan manusia yang tidak pernah terpisah, melainkan saling berkelindan dan membentuk arus sejarah. Setiap zaman ditandai oleh relasi khusus antara bidang-bidang ini: era Renaissance menyatukan seni dengan sains dalam tubuh Leonardo da Vinci, Revolusi Industri memicu transformasi budaya dan estetika urban, sementara abad ke-20 ditandai oleh persilangan modernisme dengan kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi. Memasuki abad ke-21, laju perubahan semakin cepat dengan munculnya kecerdasan buatan, realitas virtual, bioteknologi, dan revolusi digital yang menembus batas tradisi dan ruang fisik. Paper ini membahas masa depan seni, budaya, sains, dan teknologi dengan menekankan pada sepuluh aspek: kecerdasan buatan, realitas virtual, bio-art, krisis ekologi, globalisasi digital, politik teknologi, transhumanisme, ekonomi kreatif digital, estetika hiperrealitas, serta refleksi filosofis tentang kemanusiaan. Dengan menggunakan pendekatan multidisipliner dan contoh-contoh konkret dari praktik seni kontemporer, tulisan ini berupaya membumikan diskursus teoretis agar relevan dengan pengalaman sehari-hari masyarakat. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa masa depan seni dan budaya bukan hanya ditentukan oleh penetrasi teknologi, tetapi juga oleh sejauh mana manusia mampu menjaga otonomi, etika, dan makna di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Kartini Baru:: Emansipasi Tubuh dan Estetika Feminitas dalam Budaya Urban Kontemporer Indonesia Sungkar, Syakieb
Dekonstruksi Vol. 12 No. 01 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 01, Tahun 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i01.388

Abstract

Esai ini membahas karya “Kartini Baru”, sebuah lukisan kontemporer yang dibuat penulis untuk mencoba membaca ulang relevansi figur Kartini dalam konteks budaya urban Indonesia abad ke-21. Lewat penggambaran seorang perempuan modern yang sedang berlatih di ruang fitness, karya ini mengungkap bagaimana emansipasi yang dahulu diperjuangkan Kartini telah bertransformasi ke dalam bentuk baru—yakni kebebasan tubuh, performativitas fisik, dan estetika kecantikan yang diproduksi oleh kapitalisme visual. Analisis disusun melalui pendekatan feminisme, postfeminisme, fenomenologi citra, dan semiotika, serta dilengkapi kajian visual terhadap elemen-elemen utama dalam lukisan
Philosophy of Communication in Reading Contemporary Digital Media:: Power, Post-Truth, and Ethical Challenges Susanto, Abdi
Dekonstruksi Vol. 12 No. 01 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 01, Tahun 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i01.389

Abstract

The rapid expansion of digital media has profoundly transformed the ways human beings communicate, construct social relations, and understand reality. Media can no longer be understood merely as technical instruments for transmitting information; rather, they function as symbolic and political spaces in which meaning, power, and ideology are continuously produced and contested. This article examines contemporary digital media from the perspective of the philosophy of communication, focusing on the interrelation between media, power, and the phenomenon of post-truth in the modern public sphere. Employing a conceptual research method grounded in philosophical and critical analysis, this study engages key thinkers in communication philosophy and critical theory, including Marshall McLuhan, Jürgen Habermas, Jean Baudrillard, Michel Foucault, and Antonio Gramsci. The analysis demonstrates that digital media are fundamentally ambivalent: while they expand participation and democratize communicative practices, they simultaneously intensify algorithmic control, information fragmentation, and social polarization. The article argues that the philosophy of communication provides an indispensable normative and critical framework for developing media ethics and reimagining a more humanistic, dialogical, and just digital public sphere in the age of artificial intelligence and big data.