cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 313 Documents
Potensi Mesenchymal Stromal Cells (MSCs) sebagai Terapi Novel pada Penyakit Kritis Agustina Boru Haloho; Legiran
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 3 (2022): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i3.265

Abstract

Latar belakang: Perawatan pada penyakit kritis membutuhkan sumber daya manusia dan finansial yang besar. Selain itu, tingginya morbiditas dan mortalitas pada penyakit ini menjadi salah satu perhatian khusus dalam masalah kesehatan global. Meskipun perkembangan pada penelitian strategi tatalaksana pada penyakit ini terus berkembang, hingga saat ini, selain antibiotik dan perawatan suportif, tidak ada pengobatan khusus untuk sepsis. Pemanfaatan stem cells sebagai agen terapi yang potensial untuk beragam penyakit, terutama mesenchymal stromal cells (MSCs) yang diujikan pada hewan model sepsis telah banyak dilakukan. Objektif: Artikel ini bertujuan untuk menelaah potensi mesenchymal stromal cells (MSCs) sebagai terapi pada acute respiratory distress syndrome (ARDS), COVID-19 dengan gejala kritis, dan sepsis. Metode: Penelitian ini merupakan studi literatur dengan metode naratif yang menggambarkan hasil penelitian terkait potensi MSCs sebagai terapi novel pada penyakit kritis. Hasil: Penelitian menunjukkan pemberian MSC dengan pada penderita ARDS aman dan dapat mengurangi keparahan cedera paru akut. Sedangkan pada COVID-19 dengan gejala berat, pemberian MSCs aman untuk diberikan dan dihubungkan dengan penurunan efek serius, mortalitas, dan waktu pemulihan yang signifikan. Pada pasien sepsis tidak memiliki efek samping terkait pengobatan namun juga tidak memiliki manfaat. Sedangkan pada penelitian yang menggunakan model inflamasi sistemik manusia diketahui memiliki tanda-tanda aktivitas biologis yang jelas, memberikan berbagai efek proinflamasi, antiinflamasi dan prokoagulan selama endotoksemia manusia. Kesimpulan: Penggunaan MSCs pada pasien ARDS, COVID-19 dengan gejala berat, dan sepsis diketahui aman. Namun demikian, dibutuhkan penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih banyak untuk melihat manfaat dari penggunaan MSCs.
Perbandingan antara Bupivakain Loading dose 50% Isobarik 0,5% Epidural Anestesi Unilateral Posisi Lateral Dekubitus Fleksi dengan Ekstensi pada Operasi Ekstremitas Bawah Weni Wahyuni; Syafruddin Gaus; Muhammad Ramli Ahmad; Hisbullah; Nur Surya Wirawan; Madonna Datu
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 3 (2022): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i3.267

Abstract

Latar Belakang: Pada beberapa tahun terakhir bupivakain menjadi semakin populer untuk dipakai pada anestesi epidural. Obat anestetik lokal seperti bupivakain dapat dikombinasikan dengan opiat sebagai adjuvan. Tujuan: Mengetahui perbedaan kerja bupivakain dengan adjuvan pada posisi lateral dekubitus yang berbeda. Metode: Penelitian ini adalah penelitian true experimental dengan pendekatan uji klinis tersamar tunggal. Penelitian ini dilaksanakan di beberapa rumah sakit di Makassar, Indonesia. Pasien yang menjalani operasi ekstremitas bawah diikutkan dalam penelitian dan dibagi ke dalam dua kelompok: kelompok ekstensi dan fleksi. Semua pasien diberikan loading dose 50 % bupivakain isobarik 0,5% dengan adjuvan fentanyl 50 mcg. Hasil: Rerata mula kerja blok sensorik pada posisi ekstensi adalah 19,8±1,03 menit, sedangkan pada posisi fleksi reratanya adalah 20,2±1,13 menit dengan nilai p= 0,436. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa gambaran mula kerja blok sensorik pada kedua kelompok secara statistik tidak bermakna. Perbandingan lama kerja blok sensorik pada posisi fleksi dengan posisi ekstensi didapatkan nilai p = 0,165, yang menyatakan perbedaan yang tidak bermakna. Pada kedua kelompok ditemukan tidak ada perbedaan yang signifikan baik dalam rerata tekanan sistolik (p=0,218), rerata tekanan diastolik (p=0,075), rerata laju jantung (p=0,386), maupun tekanan arteri rerata (p=0,529) Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan pada mula kerja dan lama kerja blok sensorik unilateral serta hemodinamik antara posisi lateral fleksi dengan posisi ekstensi.
Pengaruh Pemberian Lidokain Bolus Intravena dan Kontinu terhadap Intensitas Nyeri, Total Kebutuhan Fentanyl, Kadar Plasma Interleukin-6 Pascabedah Laparatomi Histerektomi dengan Anestesi Spinal Srimulyanto Sardi; Ratnawati; Andi Muhammad Musba; Andi Tanra; Nur Surya Wirawan; Madonna Datu
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 3 (2022): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Lidokain intravena saat ini digunakan untuk menangani nyeri akut pascabedah. Lidokain merupakan modalitas yang efektif untuk nyeri visceral dan dapat memperbaiki nyeri serta mengurangi ketidaknyamanan pasca operasi, sehingga mempercepat mobilisasi dan lama rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian lidokain bolus dan kontinu terhadap intensitas nyeri, total kebutuhan fentanyl dan kadar IL-6 pada operasi histerektomi dengan anestesi spinal. Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda dan dilakukan di beberapa rumah sakit di Makassar, Indonesia. Empat puluh enam pasien yang menjalani laparatomi histerektomi dengan anestesi spinal dibagi menjadi dua kelompok: Kelompok A (n=23) menerima lidokain 2% bolus 1,5 mg/kgBB diikuti dengan kontinu 1 mg/kgBB/jam melalui syringe pump selama 24 jam pascabedah dan Kelompok kontrol (n=23) menerima NaCl 0,9% intravena dengan metode yang sama seperti lidokain. Intensitas nyeri melalui numeric rating scale (NRS), total kebutuhan fentanil, dan kadar plasma IL-6 dicatat dalam beberapa waktu pengukuran. Hasil: NRS diam kelompok lidokain lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol pada semua waktu pengukuran (p<0,001) dan NRS gerak kelompok lidokain lebih rendah terutama pada jam ke 6 (p=0,001) dan 12 (p<0,001) pascabedah dibandingkan kelompok kontrol. Total kebutuhan fentanyl 24 jam lebih rendah pada kelompok lidokain (103.04±33.63 vs 421.74±74.32; p <0,001). Tidak ada perbedaan signifikan yang dicatat dalam hal kadar IL-6 dan efek samping antar kelompok (p>0,05). Kesimpulan: Pemberian lidokain bolus intravena dan kontinu efektif menurunkan intensitas nyeri dan total kebutuhan fentanil pascaoperasi, namun tidak signifikan menurunkan kadar plasma IL-6.
Gambaran dan Perkembangan Anestesi Regional di RSUP Sanglah pada Tahun 2017 - 2022 Tjokorda Gde Agung Senapathi; I Made Gede Widnyana; Marilaeta Cindryani Ra Ratumasa; Michael Humianto
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 3 (2022): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i3.269

Abstract

Anestesi regional merupakan salah satu bagian baru dari cabang ilmu anestesiologi yang masih terus dikembangkan hingga saat ini. Anestesi regional memiliki banyak kelebihan dibandingkan anestesi umum. Kajian ini merupakan sebuah analisis deskriptif yang menganalisis data register operasi pasien di seluruh Kamar Operasi RSUP sanglah periode Januari 2017-Mei 2022, dengan total data sebanyak 7266 data. Tindakan anestesi regional di RSUP Sanglah hampir setiap tahunnya terjadi peningkatan, dengan peningkatan tertinggi pada tahun 2019 (n=554), meningkat 1006% dibandingkan tahun 2018 (n=50). Tindakan anestesi regional di RSUP Sanglah dilakukan pada seluruh kelompok usia, mulai dari usia 0 hari hingga usia >65 tahun. Tindakan anestesi regional saat ini telah terbukti terus meningkat di RSUP Sanglah, baik sebagai anestesi regional murni maupun sebagai suplementasi anestesi umum. Hal ini sesuai dengan keunggulan dan tujuan Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK UNUD/RSUP Sanglah, yaitu memiliki keunggulan dalam bidang anestesi regional dan manajemen nyeri.
Tingkat Sedasi pada Pemberian Deksmedetomidin atau Midazolam pada Pasien yang Menjalani Pembedahan Elektif dengan Anestesia Umum di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Agnes Minarni; Riyadh Firdaus; Pryambodho
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 3 (2022): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i3.271

Abstract

Latar belakang. Deksmedetomidin bolus memiliki efek samping transient hypertension, bradikardi dan hipotensi. Penggunaan deksmedetomidin intravena dosis rendah diharapkan tidak menimbulkan efek samping dibandingkan midazolam sebagai kontrol. Penelitian ini bertujuan membandingkan tingkat sedasi pada pemberian deksmedetomidin dosis 0,3 μg/kgbb/jam intravena selama 15 menit dosis tunggal dengan midazolam 0,05 mg/kgbb intravena sebagai agen premedikasi pada pasien yang menjalani pembedahan elektif dengan anestesia umum Metode. Penelitian memiliki desain uji klinik dengan randomisasi tersamar ganda dan dilakukan pada 80 pasien pembedahan elektif di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu deksmedetomidin 0,3 μg/kgbb/jam intravena dan kelompok midazolam 0,05 mg/kgbb dosis tunggal. Kedua kelompok kemudian menjalani prosedur induksi, laringoskopi-intubasi yang sama. Tingkat sedasi pada menit ke-20 setelah obat mulai diberikan akan dibandingkan. Tingkat sedasi disebut baik bila berada pada Ramsay Sedation Scale 2. Hasil. Sebanyak 40 pasien (100%) yang mendapatkan deksmedetomidin berada pada Ramsay Sedation Scale 2, sedangkan 25 (62,5%) pasien dari 40 yang mendapatkan midazolam berada pada Ramsay Sedation Scale 2 dan 15 pasien (37,5%) berada pada Ramsay Sedation Scale 3 (p<0,005). Kesimpulan. Deksmedetomidin intravena dosis tunggal memiliki tingkat sedasi yang lebih baik daripada midazolam intravena.
Perbandingan Prediktor Mortalitas Pasien COVID - 19 Adhrie Sugiarto
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 3 (2022): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i3.291

Abstract

Pandemi COVID-19 mengakibatkan dampak yang sangat besar pada dunia kesehatan akibat jumlah penderita yang sangat banyak dan beragamnya derajat keparahan penyakit yang diderita. Klasifikasi keparahan penyakit COVID-19 terbagi menjadi asimtomatik, ringan, sedang, berat (Pneumonia berat (Frekuensi nafas >30x/menit, distress nafas, desaturasi dengan SpO2 <93%) dan kritis (terdapat tanda ARDS, sepsis, dan syok sepsis).1 Tingginya pasien yang terdiagnosis COVID-19 dapat menyebabkan lonjakan permintaan perawatan di rumah sakit dan Intensive Care Unit, terutama disebabkan oleh gejala pneumonia dan gagal nafas.2 Mortilitas pasien COVID-19 cukup tinggi, terutama pada pasien dengan sakit kritis yang mengalami disfungsi organ, syok, gagal ginjal akut, kelainan jantung, bahkan kematian. Sebuah penilaian atau prediktor pada pasien kritis, seperti dibutuhkan untuk menilai prognosis pasien dan pemilihan, evaluasi pengobatan serta keputusan alokasi sumber daya rumah sakit
Drop Foot After Spinal Anesthesia Dhanu Enggar; Surachtono
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 1 (2023): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i1.253

Abstract

Neurological complications after spinal anesthesia are very rare and often transient. The prevalence has been reported as 0–36 per 10 000 cases after epidural anesthesia and 35 per 10 000 cases after spinal anesthesia. A healthy 25 years old man was arranged for elective ESWL therapy due to a stone in the right upper ureter. The patient was categorized ASA I, spinal anesthesia was performed using a 27 gauge pencil-point spinal needle into L3-L4 space in a sitting position. During the procedure of inserting spinal needle the patient had no complaints. After the withdrawal of the cerebrospinal fluid, 4 ml of hyperbaric bupivacaine 0.5% was injected and the patient was moved to a supine position. The operative procedure went well without any complications. Six hours after surgery patient was unable to move his left foot meanwhile the right foot was normal. The neurologist was consulted and the patient was treated using methylprednisolone iv, mecobalamin, and pregabalin. MRI of the lumbosacral showed normal results, EMG studies showed a functional partial lesion on the left radix of L4-5, L5-S1. After 7 days of treatment, the patient felt improvement in his symptoms, and the patient was discharged. Patient came for a follow-up to neurologist & physiotherapist until 24 days after surgery, and the symptoms were gradually get resolved. Management of neurological complications after spinal anesthesia depends on its etiology, so it’s important to do an early diagnosis to make a further treatment.
Mengenal Lebih Dekat Penelitian Kohort: Manfaat Penelitian Kohort pada Bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif Agustina Boru Haloho; Legiran
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 1 (2023): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i1.266

Abstract

Studi kohort adalah jenis studi observasional di mana kohort, atau sekelompok individu yang berbagi beberapa karakteristik, diikuti dari waktu ke waktu, dan hasil diukur pada satu atau lebih titik waktu. Studi kohort dapat diklasifikasikan sebagai studi prospektif atau retrospektif, dan memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Jika paparan jarang terjadi, maka desain kohort adalah metode yang efisien untuk mempelajari hubungan antara paparan dan hasil. Sebuah studi kohort retrospektif dapat diselesaikan dengan cepat dan relatif murah dibandingkan dengan studi kohort prospektif. Tindak lanjut dari peserta studi sangat penting dalam studi kohort, dan kerugian merupakan sumber bias penting dalam jenis studi ini. Studi-studi ini digunakan untuk memperkirakan insiden kumulatif dan tingkat insiden. Salah satu kekuatan utama dari studi kohort adalah sifat longitudinal dari data. Beberapa variabel dalam data akan bervariasi waktu dan beberapa mungkin independen waktu. Artikel ini memberikan gambaran tentang definisi, desain, analisis, interpretasi, kelebihan dan kekurangan studi kohort. Peniliti dapat tetap menghargai kekuatan, kelemahan dan potensi jebakan studi kohort ketika menafsirkan dan menerapkan hasil untuk praktek klinis. Apabila studi kohort dirancang dan ditafsirkan dengan benar, hubungan antara paparan dan hasil (termasuk indikasi kausalitas) dapat terlihat jelas.
Efek Terapi IL-6 Inhibitor Tocilizumab pada Pasien Kritis Covid-19: Tinjauan terhadap Perubahan Skor SOFA, CRP, Prokalsitonin, dan Ferritin Andi Wija Indrawan Pangerang; Syafri K Arif; Faisal Muchtar; Hisbullah; Haizah Nurdin; Ari Santri Palinrungi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 1 (2023): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i1.270

Abstract

Latar Belakang: Badai sitokin menyebabkan perburukan pasien COVID-19. Terapi efektif dibutuhkan untuk mengatasi hiperinflamasi. Tocilizumab adalah terapi imunomodulator yang menunjukkan efektivitas terhadap badai sitokin yang berat pada penelitian sebelumnya. Tujuan: Membandingkan skor SOFA, CRP, Prokalsitonin, dan Ferritin sebelum dan setelah pemberian Tocilizumab pada pasien kritis COVID-19. Metode: Penelitian ini adalah penelitian Observasional analitik dengan desain cross sectional yang dilaksanakan di RSUP Wahidin Sudirohusodo periode pasien Maret 2020 - November 2021. Pemilihan sampel dengan total sampling yang memenuhi kriteria inklusi. Semua sampel akan diambil data rekam medis berupa skor SOFA, CRP, Prokalsitonin, dan Ferritin sebelum dan setelah pemberian Tocilizumab sampai hari ke-7 pemberian. Hasil: Terdapat perbedaan bermakna skor SOFA sebelum dan setelah pemberian Tocilizumab sampai hari ke-7 (p<0.001) pada 23 sampel yang diuji dengan Friedman. Terdapat perbedaan bermakna kadar CRP sebelum dan setelah pemberian Tocilizumab mulai hari ke-2 (p<0.001) pada 42 sampel yang diuji Wilcoxon. Ditemukan perbedaan bermakna kadar CRP sebelum dan setelah pemberian hari ke 2,4, hingga hari ke-7 (p<0.001) pada 28 sampel yang diuji dengan Friedman. Ada perbedaan bermakna kadar prokalsitonin sebelum dan setelah pemberian Tocilizumab mulai hari ke-2 (p<0.001) pada 42 sampel yang diuji Wilcoxon. Selanjutnya ditemukan perbedaan bermakna kadar prokalsitonin sebelum dan setelah pemberian pada hari ke 2,4, hingga hari ke-7 (p<0,001) pada 20 sampel yang diuji dengan Friedman. Ditemukan perbedaan bermakna kadar ferritin sebelum sebelum dan setelah pemberian Tocilizumab mulai hari ke-2 (p<0,001) pada 42 sampel yang diuji Wilcoxon. Terdapat perbedaan bermakna kadar ferritin sebelum dan setelah pemberian pada hari ke 2,4, hingga hari ke-7 (p<0,001) pada 20 sampel yang diuji dengan Friedman. Simpulan: Tocilizumab menghasilkan penurunan skor SOFA, kadar CRP, Prokalsitonin, dan Ferritin pada pasien kritis COVID-19.
Efek Pemberian Tiamin Oral sebagai Adjuvan Opioid terhadap Kadar Enzim Cathecol-O-Methyltransferase (COMT) pada Penderita Kanker Serviks Ferdinan Bastian Sirait; Nur Surya Wirawan; Muh. Ramli Ahmad; Syafruddin Gaus; Alamsyah Ambo Ala Husain; Madonna Damayanthie Datu
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 1 (2023): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i1.273

Abstract

Latar Belakang: Jumlah nyeri kanker yang masih tinggi menunjukkan bahwa penanganan nyeri kanker masih belum maksimal. Alternatif tambahan pengobatan yang banyak diteliti pada pasien kanker saat ini adalah vitamin B. Enzim Cathecol-O-Methyltransferase (COMT) merupakan salah satu faktor penting munculnya gejala nyeri yang mungkin dapat dicegah dengan memberikan tiamin. Tujuan: Mengetahui efek pemberian tiamin oral sebagai adjuvan opioid terhadap kadar COMT pada penderita kanker serviks. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian quasi-experimental dengan desain pretest-posttest control group. Pasien penelitian ini berjumlah 32 pasien kanker serviks yang mengalami nyeri kanker yang dibagi dalam 2 kelompok (kelompok perlakuan dan kontrol). Kelompok perlakuan yang mendapatkan morfin ditambah dengan tiamin 500 mg/8 jam/oral, dan kelompok kontrol yang mendapatkan morfin saja. Pengukuran dan evaluasi skor numeric rating scale (NRS) dilakukan setelah 72 jam pemberian tiamin dan dilakukan pengambilan darah kembali 4 jam setelah pemberian tiamin yang terakhir untuk pemeriksaan kadar COMT, kemudian dilakukan pengumpulan dan analisis data. Hasil: Dari 32 pasien kanker serviks yang diteliti didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan perubahan tingkat NRS dan kadar COMT pada kelompok perlakuan yang diberikan tiamin. Simpulan: Pemberian tiamin dapat menurunkan kadar enzim COMT dan secara klinis menurunkan NRS pada pasien dengan kanker serviks.