cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 313 Documents
Perubahan Posisi dan Tekanan Balon Pipa Endotrakeal Arief Cahyadi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.878 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.255

Abstract

Intubasi endotrakeal merupakan prosedur yang dilakukan untuk menjaga jalan nafas dan memberikan ventilasi. Pipa endotrakeal juga berfungsi melindungi paru-paru dan mencegah aspirasi aspirasi cairan lambung dan sekret orofaring agar tidak masuk ke paru-paru. Terdapat sebuah balon pada pipa endotrakeal yang dikembangkan pada bagian distal pipa untuk menutupi permukaan dalam trakea. Intubasi endotrakeal di samping memiliki manfaat juga memiliki potensi komplikasi. Prosedur pemasangan intubasi dapat menyebabkan trauma pada trakea dan laring, kemudian balon pipa endotrakeal juga dapat menekan dinding trakea, menyebabkan cedera mukosa. Tekanan balon pipa endotrakeal yang direkomendasikan berada pada rentang 20–30 cmH2O. Tekanan udara yang tidak adekuat akan mengakibatkan kebocoran udara saat ventilasi tekanan positif dan memungkinkan mikroaspirasi ke dalam trakea. Sebaliknya, tekanan yang berlebihan pada balon pipa endotrakeal akan menyebabkan penekanan, menurunkan perfusi mukosa trakea serta dapat berlanjut pada kerusakan ireversibel, misalnya ruptur trakea atau nekrosis mukosa trakea. Tekanan balon pipa endotrakeal dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu volume udara dalam balon, bahan dasar balon pipa endotrakeal, proporsi ukuran balon pipa endotrakeal terhadap diameter trakea, komplians trakea dan bentuk balon pipa endotrakeal serta tekanan intratorakal. Saat ini belum ada penjelasan ilmiah yang pasti mengenai mekanisme terjadinya peningkatan tekanan balon pipa endotrakeal meskipun beberapa penelitian telah dilakukan pada populasi di luar negeri. Dapat diduga perubahan posisi ini menyebabkan pipa tidak tepat berada di tengah lumen trakea dan sebagian permukaan balon pipa mengalami penekanan. Kemungkinan ini sesuai dengan fakta seringnya terjadi cedera jalan napas pada pasien kritis yang lama terintubasi. Perubahan posisi kepala dapat berpengaruh selain terhadap tekanan balon juga posisi pipa endotrakeal relatif terhadap karina, dan perlu mendapatkan perhatian karena dapat memberikan morbiditas terhadap pasien seperti ventilasi satu paru atau keluarnya pipa dari trakea. Pemeriksaan berkala terhadap pipa endotrakeal menjadi suatu hal yang wajib dilakukan dokter anestesi selama pasien masih terintubasi agar dapat menhindarkan pasien dari komplikasi yang tidak diharapkan.
Efek Akupresur (Sea-Band®) terhadap Penurunan Insiden Mual Muntah Pascaoperatif pada Pasien yang Dilakukan Anestesia Umum Inhalasi: Randomized Controlled Trial Amir Sjarifuddin Madjid; Riyadh Firdaus; Muhammad Arief Fadli
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.315 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.258

Abstract

Latar belakang: PONV dapat terjadi pada 20-30% pasien, bahkan pada pasien-pasien yang berisiko tinggi bisa mencapai sekitar 70%. PONV menyebabkan peningkatan morbiditas, menurunnya kepuasan pasien dan meningkatnya biaya yang dikeluarkan pasien. Salah satu cara nonfarmakologi yang dapat dilakukan untuk menurunkan mual muntah pascaoperasi adalah dengan pemakaian akupresur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pemakaian akupresur Sea-Band® untuk menurunkan angka kejadian mual muntah pascaoperasi pada pasien yang menjalani anestesia umum inhalasi. Metode: Dilakukan pembiusan umum pada 88 pasien ASA 1-2 yang menjalani pembedahan risiko tinggi PONV. Tujuh pasien dikeluarkan, akupresur 41 sampel dan kontrol 40 sampel. Pada kelompok perlakukan diberikan lakukan pemasangan akupresur Sea-Band® 30-60 menit sebelum dilakukan pembiusan. Seluruh sampel diberikan antiemetik. Dilakukan pencatatan angka kejadian mual muntah selama 0-2 jam pascaoperasi di ruang pulih dan 2-24 jam di ruang rawat inap. Tidak didapatkan terjadinya efek samping pada kedua kelompok. Hasil: Didapatkan hasil yang tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok dalam insidens mual dan muntah di ruang pemulihan (0-2 jam). Insidens mual dalam 0-2 jam antara akupresur vs plasebo adalah 9,75 % vs 25 % (p > 0,05) dan insidens muntah dalam 0-2 jam antara akupresur vs plasebo adalah 4,87 % vs 17,5 % (p> 0,05). Insidens mual dalam 2-24 jam antara akupresur vs plasebo adalah 2,43 % vs 20 % (p < 0,05). Insidens muntah dalam 2-24 jam antara akupresur vs plasebo adalah 0 % vs 7,5 % (p > 0,05). Tidak didapatkan terjadinya efek samping pada kedua kelompok. Tercatat bahwa 90,2% mengatakan puas dengan manfaat penggunaan akupresur dan pemberian ondansetron, bahkan pada kelompok yang sama sebanyak 4,9% menyatakan sangat puas. Kesimpulan: Penggunaan akupresur Sea-Band® dengan Ondansetron terbukti dapat menurunkan angka kejadian mual pada rentang waktu 2-24 jam setelah operasi dengan anestesia umum inhalasi.
Pengaruh Pemberian Tiamin Intravena terhadap Kadar Tumor Necrosis Factor Alpha (TNF- α) pada Pasien COVID-19 di Ruang Isolasi Lubis, Andriamuri Primaputra; Annisa Syifanurhati; Muhammad Ihsan
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 2 (2022): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.064 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i2.259

Abstract

Introduction : Many cytokines and inflammatory mediators play a role in the progression of COVID-19 disease, including the interleukins, interferons, and tumor necrosis factor-α (TNF-α.) groups. An intervention is needed to reduce the levels of this cytokine. Thiamine has the potential to reduce levels of proinflammatory cytokines, especially TNF-α. Objective: To determine the effect of intravenous thiamine administration on TNF-α levels in COVID-19 patients in the isolation room of RSUP H Adam Malik. Methods: This study used an analytical design of one group pre test - post test in the isolation room of Haji Adam Malik General Hospital Medan with a sample size of 16 people. Samples were given thiamine IV 200 mg/12 hours and then the levels of TNF-α were measured by ELISA method. Results: Characteristics of the sample obtained were equal in number of males and females (1:1), the mean age was 43 ±14.78 years, the mean BMI was 23.31 ± 6.55, the mean systolic was 122.50 ± 5.77 mmHg and diastolic 88.88 ± 6.55 mmHg. The majority of the sample (50%) had no comorbidities. Before administration of thiamine, the median TNF-α was 186.5 pg/mL with a minimum and maximum value (171-420 pg/mL) and after administration of thiamine, the median TNF-α was 180.50 pg/mL with a minimum and maximum value (122-200 pg/mL) obtained a p value of 0.001 < 0.05 (there is a significant effect). Conclusion: In this study, the mean TNF-α level was lower when given intravenous thiamine. This decrease in TNF-α levels was also found to be significant after intravenous thiamine administration.
Perbandingan Efektivitas antara Capillary Refill Time (CRT) dengan Kadar Laktat sebagai Alat Monitoring Keberhasilan Resusitasi pada Syok Hemoragik Subekti, Muhammad Miftachul Huda; Muchtar, Faisal; Kamsul Arif, Syafri; Hisbullah; Salam, Syamsul; Rum, Muhammad
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 2 (2022): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.843 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i2.260

Abstract

Latar Belakang: Serum laktat telah digunakan sebagai parameter diagnostik dan penanda prognostik syok hemoragik. Capillary Refill Time (CRT) juga merupakan salah satu indikator untuk perfusi perifer yang baik dan memiliki beberapa keuntungan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas CRT dan kadar laktat sebagai alat monitoring keberhasilan resusitasi pada syok hemoragik. Bahan dan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Semua pasien yang mengalami syok hemoragik paskaoperasi dan dirawat di Intensive Care Unit (ICU) diikutsertakan dalam penelitian ini. CRT dan kadar laktat sebelum resusitasi dicatat (T0). Selama resusitasi, CRT dan kadar laktat dicatat pada interval waktu 2 jam (T1), 4 jam (T2), 6 jam (T3), dan 24 jam (T4) setelah resusitasi. Pasien dibagi menjadi kelompok yang resusitasi berhasil dan resusitasi belum berhasil untuk analisis lebih lanjut. Hasil: Kami menyajikan perubahan CRT dan kadar laktat dari awal hingga 24 jam resusitasi. Penurunan kadar laktat dan CRT yang ditunjukkan melalui grafik terjadi secara konsisten dan tidak berbeda antarkelompok. Ada korelasi positif yang kuat antara CRT dan kadar laktat 6 jam sejak resusitasi dimulai (R = 0,772, p = 0,001). Ditemukan juga korelasi positif yang kuat antara kadar laktat dan CRT pada awal resusitasi (R = 0,777, p = 0,001). Kesimpulan: CRT dan kadar laktat memiliki efektivitas yang sama sebagai alat monitoring keberhasilan resusitasi pada syok hemoragik.
Perbandingan Efektivitas antara Dexmedetomidine dengan Fentanil Intravena dalam Menekan Respons Kardiovaskular pada Tindakan Laringoskopi dan Intubasi Dengan Panduan Bispectral Index Ariffianto, Tekad; Hisbullah; Arif, Syafri; Salam, Syamsul; Musba, Andi Muhammad Takdir; Adil, Andi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 2 (2022): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.132 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i2.261

Abstract

Latar Belakang: Berbagai cara telah digunakan untuk mengurangi gejolak hemodinamik saat laringoskopi dan intubasi. salah satunya dengan menggunakan fentanil. Pengadaan fentanil memiliki masalah karena digolongkan sebagai obat narkotika sehingga ketersediaannya terbatas. Alternatif lainnya yaitu dexmedetomidine. Penelitian ini menggunakan bispectral index untuk mengontrol kedalaman hipnotif sedatif. Monitoring BIS bertujuan untuk memastikan peningkatan hemodinamik yang terjadi bukan karena proses pulih sadar akibat dangkalnya hipnotif sedatif, sehingga peningkatan hemodinamik yang terjadi merupakan akibat dari respon nyeri. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektifitas pemberian dexmedetomidine 0,5 mcg/kgBB dengan fentanil 2 mcg/kgBB dalam menekan respon kardiovaskular pada tindakan laringoskopi dan intubasi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode randomized clinical trial secara tersamar tunggal yang dilakukan di instalasi kamar operasi pusat RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar pada periode Februari - Maret 2022. Pasien dibagi kedalam dua kelompok: kelompok D (mendapatkan dexmedetomidine) dan kelompok F (mendapatkan fentanil). Karakteristik pasien dan indikator hemodinamik pasien sebelum dan beberapa menit setelah intubasi dicatat dan dianalisis untuk melihat perbandingan antar kelompok Hasil: Total terdapat 40 pasien yang dialokasikan ke tiap kelompok secara acak. Terdapat perbedaan perubahan tekanan darah sistolik (TDS), tekanan darah diastolik (TDD), tekanan arteri rerata (TAR), dan laju jantung (LJ) yang bermakna (p < 0,05) antar kelompok pada selisih waktu tertentu. Dexmedetomidine 0,5 mcg/kgBB pada penelitian ini efektif untuk menjaga hemodinamik selama tindakan laringoskopi dan intubasi dengan peningkatan TDS 16%, TDD 14%, TAR 15 % dan LJ 17 %. Kesimpulan: Dexmedetomidin lebih efektif menekan respon kardiovaskuler pada laringoskopi dan intubasi dibandingkan dengan fentanil. Dengan demikian, dexmedetomidin dapat digunakan menggantikan fentanil untuk laringoskopi dan intubasi
Perbandingan Efek Pemberian Gabapentin Preemtif Dengan Gabapentin Preventif Terhadap Kadar Nerve Growth Factor Dan Nyeri Pascaoperasi Dekompresi dan Stabilisasi Posterior Vertebra Lengkong, Edo Edoardo; Musba, Takdir; Ambo Ala, Alamsyah; Ahmad, Muhammad Ramli; Ratnawati; Wijaya, Charles
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 2 (2022): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.529 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i2.264

Abstract

Latar Belakang: Pembedahan tulang belakang dilakukan dengan indikasi kompresi saraf simptomatik. Kegagalan menangani nyeri pascaoperasi dapat mengakibatkan sensasi dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan. Kadar Nerve Growth Factor (NGF) meningkat pada berbagai kondisi nyeri. Untuk meningkatkan kualitas manajemen nyeri pascaoperasi, beberapa konsep telah dikembangkan, seperti preemtif analgesia dan preventif analgesia. Gabapentin adalah obat terbukti efektif dalam mengurangi nyeri pasca operasi Tujuan: Mengetahui perbandingan efektivitas dan efek samping antara pemberian gabapentin preemtif (kelompok G1 : gabapentin 900 mg/oral preoperasi) dan preventif (kelompok G2 : gabapentin 900 mg/oral preoperasi + 100 mg/8jam/oral selama 24 jam pascaoperasi) yang menjalani pembedahan dekompresi dan stabilisasi posterior vertebra dengan anestesi umum. Metode: Penelitian uji acak tersamar ganda dilaksanakan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar dan rumah sakit jejaring pendidikan pada September 2021. Sampel adalah seluruh populasi yang memenuhi kriteria inklusi. Data diolah menggunakan SPSS 25. Analisis menggunakan ONE way ANOVA atau Kruskal-Wallis test dan Mann-Whitney U test. Hasil: Terdapat perbedaan bermakna kadar NGF 2 jam postoperasi pada semua kelompok, dimana median NGF kelompok kontrol > G2 > G1. Terdapat perbedaan yang bermakna kadar NGF 24 jam paskaoperasi kelompok G2 dan kontrol serta G1 dan G2, dimana median NGF kelompok kontrol > G1 > G2. Berdasarkan skor NRS diam dan gerak, perbedaan yang bermakna kelompok G1 dan kontrol hanya pada 1 jam paskaoperasi. Perbedaan yang bermakna kelompok G2 dan kontrol didapatkan pada semua waktu paskaoperasi. Perbedaan yang bermakna kelompok G2 dan G1 didapatkan pada jam ke 2, 4, 6, dan 24 paskaoperasi.
Nyeri Pasca Operasi Dekompresi dan Stabilisasi Vertebra: Sampai Dimana Kita Saat Ini? Tantri, Aida Rosita
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 2 (2022): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.801 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i2.272

Abstract

Pembedahan dekompresi dan stabilisasi tulang belakang ini berkaitan dengan nyeri perioperatif yang cukup signifikan. Nyeri pascabedah dekompresi dan stabilisasi tulang belakang lumbal dapat disebabkan oleh kerusakan jaringan yang terjadi selama pembedahan dan melibatkan aktivasi berbagai mekanisme nyeri. Nyeri dapat berasal dari struktur vertebra, diskus intervertebralis, ligamen, dura, sarung saraf, kapsula sendi faset dan otot. Struktur ini diinervasi oleh ramus posterior nervus spinalis yang memiliki hubungan erat dengan saraf simpatis dan parasimpatis. Selain akibat kerusakan jaringan selama pembedahan, nyeri pascabedah juga dapat disebabkan oleh iritasi mekanis, kompresi atau inflamasi pascabedah. Kegagalan dalam penanganan nyeri intraoperatif akan menyebabkan stimulasi simpatis, ditandai dengan timbulnya gangguan hemodinamik intraoperatif seperti takikardia, peningkatan tekanan darah, peningkatan isi sekuncup, dan peningkatan konsumsi oksigen jantung. Nyeri yang dialami pada pasien risiko tinggi dapat berakibat terjadinya iskemia atau bahkan infark miokard. Selain itu, nyeri akut pascabedah yang tidak tertangani dengan baik dapat menjadi nyeri kronik pascabedah. Oleh karena itu, manajemen nyeri intraoperatif yang baik dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas pasien, memperbaiki kualitas hidup pasien, mempercepat pemulihan, mobilisasi dan mencegah timbulnya nyeri kronis. Analgesia multimodal saat ini merupakan pilihan manajemen nyeri perioperatif terbaik dalam pembedahan dekompresi dan stabilisasi tulang belakang. Analgesia multimodal mencakup pemberian obat-obatan intravena maupun analgesia regional selama periode perioperatif. Analgesia berbasis anestesia regional yang dapat digunakan adalah blok interfasia, yaitu infiltrasi dan pemberian anestetika lokal di antara fasia otot. Teknik ini mulai banyak digunakan baik sebagai suplementasi analgesia maupun anestesi tunggal pada berbagai pembedahan.
Perbandingan Acute Physiology dan Chronic Health Evaluation II (APACHE II) dan Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) Sebagai Prediktor Mortalitas Pasien COVID - 19 Bima Permana; Amadea Hasian
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 3 (2022): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i3.241

Abstract

COVID-19 pandemic has caused massive impact on healthcare facility around the world. Variable clinical spectrum and prognosis made it difficult to predict patients’ mortality. This writing is aimed to compare two most used tool for critically ill patients, Acute Physiology and Chronic Health Evaluation II (APACHE II) and Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) as mortality predictor for COVID-19 patients. APACHE-II performed better in predicting mortality and prognosis in COVID-19 compared to SOFA due to broad comorbidities evaluation. Age and comorbidities are two important roles in severity and death in COVID-19. Thus, APACHE-II might be useful for further clinical decisions and therapies.
Faktor - Faktor Prediktor Kegagalan Terapi High Flow Nasal Cannula pada Pasien Sakit Kritis dengan Covid-19 di Unit Perawatan Intensif Ridwan; Syamsul Hilal Salam; Haizah Nurdin; Andi Husni Tanra; Faisal Muchtar; Ari Santri; Andi Alfian Zainuddin
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 3 (2022): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i3.254

Abstract

Latar Belakang: Sistem penilaian yang dipakai dan lazim digunakan di Intensive Care Unit (ICU) untuk memprediksi outcome terapi High Flow Nasal Cannula (HFNC) adalah melalui ROX Index. ROX index adalah skor yang telah tervalidasi berdasarkan terapi yang diberikan pada pasien Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dan pneumonia. Kehandalan ROX Index dalam memprediksi kegagalan terapi HFNC sudah diakui secara luas, namun masih diperlukan prediktor lain yang lebih akurat dan cepat. Tujuan: Mengetahui skor Sequential Organ Failure Assessment (SOFA), kadar ferritin, Rasio Neutrofil Limfosit (RNL), kadar D-Dimer serta C-Reactive Protein (CRP) sebagai prediktor kegagalan terapi HFNC pasien sakit kritis dengan COVID-19 di ICU. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif case control dengan mengambil data rekam medis pasien sakit kritis dengan COVID-19 yang menggunakan terapi HFNC di ICU Infection Center RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Sampel adalah seluruh populasi terjangkau yang memenuhi kriteria inklusi. Data yang memenihi kriteria ditabulasi menggunakan Microsoft Excel, analisis menggunakan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) for Windows 25.0. Analisis dilakukan secara bertahap, meliputi analisis deskriptif, analisis bivariat (data diolah menggunakan T Test atau Mann Whitney U Test). Dilakukan juga analisis regresi logistik untuk mengetahui kemampuan masing-masing variabel sebagai suatu prediktor Hasil: Terdapat perbedaan yang bermakna skor SOFA (p value = 0.027), parameter Ratio Neutrofil Limfosit (p value = 0.014), dan kadar C-Reactive Protein (p value =0.046) terhadap kelompok Sukses Terapi HFNC dan Gagal Terapi HFNC (p=0.027). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna kadar feritin (p value = 0.747) dan kadar D-Dimer (p value = 0.251) terhadap kedua kelompok. Uji regresi logistik menunjukkan bahwa yang dapat digunakan sebagai prediktor adalah nilai Skor SOFA (p=0.017) dan RNL (p= 0.046), sedangkan variabel lain memiliki nilai p > 0.05 Simpulan: Skor SOFA dan Rasio Neutrofil Limfosit (RNL) dapat digunakan sebagai prediktor kegagalan terapi HFNC pada pasien sakit kritis dengan COVID-19 di ICU.
Penatalaksanaan Pasien dengan Transfusion-Related Acute Lung Injury (TRALI) di Ruang Unit Perawatan Intensif Syafruddin Gaus; Eva Satya Nugraha
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 3 (2022): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i3.262

Abstract

Pemberian transfusi darah merupakan prosedur yang bisanya tidak disertai dengan komplikasi, namun kondisi ini tidak dapat disepelekan. Cedera Paru AKut Akibat Transfusi (CPAAT) merupakan salah satu komplikasi fatal akibat transfuse darah yang disertai dengan gangguan pernafasan dan edema paru non kardiogenik. Kejadian CPAAT diperkirakan 1:1.300-1.500 dari seluruh proses transfuse darah dikarenakan sulitnya untuk menegakkan diagnosis.Laporan kasus ini membahas mengenai penatalaksanaan pasien dengan Cedera Akut Akibat Transfusi (CPAAT) di Ruang Unit Perawatan Intensif RS Wahidin Sudirohusodo selama 3 hari rawatan. Selama perawatan terjadi kondisi gagal nafas pada pasien dan membutuhkan bantuan nafas berupa ventilator mekanik