cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 313 Documents
Rotasi Kepala dan Posisi Tubuh Mengubah Tekanan Balon Pipa Endotrakeal Soenarto, Ratna Farida; Harijanto, Eddy; Pramodana, Bintang; Prima, Kustenti
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.904 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.236

Abstract

Latar Belakang : Intubasi endotrakeal merupakan salah satu upaya dalam menjaga patensi jalan napas disertai dengan pengendalian oksigenasi dan ventilasi. Intubasi endotrakeal menggunakan sebuah pipa endotrakeal yang dilengkapi dengan balon yang berfungsi sebagai alat fiksasi dan mencegah terjadinya aspirasi jalan napas. Balon pipa endotrakeal dikembangkan umumnya berkisar 20-30 cmH2O sesuai rekomendasi. Tekanan ini dapat dipengaruhi beberapa faktor seperti diameter balon, daya regang, edema pada mukosa trakea, serta perubahan posisi kepala pasien. Perubahan tekanan endotrakeal ini dapat menyebabkan komplikasi mulai dari ringan hingga berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perbedaan perubahan tekanan bola pipa endotrakeal pada beberapa posisi sehingga dapat meminimalisasi komplikasi. Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis dilakukan di RSCM dari bulan Agustus sampai dengan Oktober 2018 pada total 36 subjek yang menjalani anestesia umum dan diintubasi. Tekanan balon pipa endotrakeal ditentukan sebesar 25 cmH2O, pada posisi supinasi dan kepala lurus. Dilakukan perubahan posisi dari supinasi ke lateral dekubitus serta rotasi kepala 15°, 45° dan 60° dari garis tengah. Kemudian dilakukan pengukuran kembali tekanan balon pipa endotrakeal setelah perubahan posisi kepala dan tubuh pasien. Analisis dilakukan dengan melakukan uji komparatif Friedman dan hasil dianggap bermakna jika nilai p 0,05. Hasil : Terdapat perbedaan bermakna tekanan bola pipa endotrakeal antara posisi supinasi dengan rotasi kepala 15°, 45°, 60° dan lateral dekubitus kanan secara statistik. (p<0,001) Namun secara klinis, didapatkan bahwa hanya posisi lateral dekubitus kanan yang memiliki perbedaan yang bermakna dengan nilai perbedaan tekanan 7 (2 - 25) mmH2O. Simpulan: Perubahan posisi supinasi dengan rotasi kepala 15°, 45°, 60° dan posisi lateral dekubitus kanan menyebabkan perubahan tekanan bola pipa endotrakeal. Posisi lateral dekubitus kanan memiliki perbedaan tekanan bola pipa endotrakeal yang bermakna secara klinis.
Efektivitas Klonidin Dosis 2 Mcg/Kg di Awal Induksi Dalam Menurunkan Angka Kejadian Emergence Delirium Pada Pasien Anak yang Menjalani Operasi Mata Rahendra; Kadek Yogi Mahendra; Christopher Kapuangan; Raihanita Zahra; Andi Ade Wijaya Ramlan
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 3 (2021): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.678 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i3.237

Abstract

Latar belakang. Emergence delirium (ED) adalah suatu kondisi yang umum terjadi, pada pasien anak-anak yang menjalani pembedahan, dimana anak menjadi sangat agitasi, memberontak, dan sulit untuk diredakan serta berpotensi membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain dengan insidensi di RSCM sebesar 39,7%. Etiologi, faktor resiko, dan patofisiologi diperkirakan multifaktorial. Berbagai upaya dan strategi telah diusahakan untuk mencegah kejadian tidak menyenangkan ini. Metode. Penelitian uji klinik acak tersamar ganda pada anak usia 1-8 tahun yang menjalani operasi mata dengan anestesia umum di OK Kirana FKUI-RSCM pada bulan Januari-Maret 2020. Sebanyak 108 subjek didapatkan dengan metode konsekutif yang dirandomisasi menjadi dua kelompok. Kelompok klonidin (n = 54) mendapat klonidin 2 mcg/kgbb bolus IV lambat saat induksi anestesia, sedangkan kontrol (n = 54) mendapat NaCl 0,9%. Kejadian ED, waktu pulih, waktu pindah, derajat nyeri, dan efek samping hipotensi dan bradikardia selama dan pascaoperasi dicatat. ED dinilai dengan Pediatric Anesthesia Emergence Delirium (PAED). Hasil. Kejadian ED pada kelompok klonidin sebesar 29,6% sedangkan kontrol 31,5% (IK 95% 0,481-2,475; p=0,835). Waktu pulih kelompok klonidin memiliki nilai rerata 6 menit dibandingkan kelompok kontrol selama 5 menit (p=0,998). Nyeri sedang dirasakan pada 3,7% kelompok klonidin berbanding 0% paqda kelompok kontrol. Hipotensi dialami pada 1 pasien di kelompok klonidin dan 1 pasien di kelompok kontrol, sedangkan bradikardia ditemukan pada 2 pasien di kelompok klonidin dan 3 pasien di kelompok kontrol Simpulan. Pemberian klonidin 2 mcg/kgbb bolus IV lambat di awal induksi tidak lebih efektif dibanding plasebo dalam mencegah kejadian ED pada pasien anak yang menjalani operasi mata
Blok Subarahnoid Dosis Rendah dan Epidural pada Pasien Hamil dengan Gagal Jantung dan Komorbid Lain yang Menjalani Seksio Sesarea: Sebuah Laporan Kasus Soenarto, Ratna Farida; Alexandra, Arky Kurniati; Ramlan, Andi Ade Wijaya; Alatas, Anas
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.716 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.238

Abstract

Latar Belakang: Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab signifikan pada mortalitas ibu di negara-negara berkembang. Komorbid yang mempengaruhi ini mencakupi obesitas, hipertensi dan kehamilan tua yang memperberat kinerja jantung sehingga dapat mengakibatkan gagal jantung. Ini menjadi tantangan untuk tatalaksana anestesi dengan tujuan utama mencegah luaran buruk kepada ibu dan neonatusnya. Ilustrasi Kasus: Pada kasus ini kami melaporkan wanita, 28 tahun, G4P3A1 hamil 28 minggu, ASA 3 dengan gagal jantung kongestif, superimposed pereklampsia, serta obesitas morbid. Pasien direncanakan untuk seksio sesarea dengan kombinasi anestesi menggunakan penggunaan blok subarahnoid dosis rendah dan epidural (Combined Spinal Epidural Anesthesia/CSE), serta pertimbangan tatalaksana anestesi pada ibu hamil dengan gagal jantung atau komorbid lainnya. Simpulan: Anestesi dengan blok subarakhnoid dosis rendah memiliki efek yang minimal terhadap hemodinamik, dan dapat digunakan pada selektif pasien yang mengalami gagal jantung dan komorbid lainnya.
Pengaruh Kapasitas Vital Paksa, Hipertensi Pulmonal, Jumlah Perdarahan, Jumlah Cairan Intraoperasi, Transfusi Darah dan Lokasi Segmen Vertebra yang Terlibat Terhadap Lama Ventilasi Mekanik Pascaoperasi Koreksi Skoliosis Pendekatan Posterior Sedono, Rudyanto; Nugroho, Alfan Mahdi; Putranto, Qudsiddik Unggul
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.784 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.240

Abstract

Latar Belakang : Pasien yang menjalani operasi koreksi skoliosis pascaoperasi di RSCM mendapatkan lama ventilasi mekanik pascaoperasi yang beragam. Pemakaian ventilasi mekanik pascaoperasi koreksi skoliosis memengaruhi biaya perawatan dan waktu kontak pasien dengan keluarga. Identifikasi faktor-faktor yang dapat memengaruhi lama ventilasi mekanik diharapkan dapat memprediksi lama ventilasi mekanik pascaoperasi sehingga lebih efektif dalam penggunaan ventilasi mekanik. Penelitian ini dilakukan dengan harapan mengetahui faktor risiko lama ventilasi mekanik pascaoperasi koreksi skoliosis pendekatan posterior di RSCM. Tujuan : Mengetahui faktor-faktor risiko yang dapat memengaruhi lama penggunaan ventilasi mekanik pascaoperasi koreksi skoliosis pendekatan posterior. Metode : Penelitian ini adalah penelitian kohort retrospektif menggunakan data dari rekam medis. Lima puluh dua pasien yang menjalani operasi koreksi skoliosis pendekatan posterior antara januari 2011 hingga Juni 2016 dianalisis secara retrospektif. Dicatat lama pemakaian ventilasi mekanik pascaoperasi koreksi skoliosis pendekatan posterior. Faktor preoperasi dan intraoperasi yang dianalisis merupakan data yang biasa dicatat dalam rekam medis antara lain nilai kapasitas vital paksa preoperasi, hipertensi pulmonal, jumlah perdarahan, jumlah cairan intraoperasi, transfusi darah dan lokasi segmen vertebra. Data akan diolah menggunakan perangkat lunak SPSS dengan uji korelasi dan analisis multivariat regresi linier. Hasil : Mayoritas sampel adalah wanita (86,5%). Analisis korelasi didapatkan jumlah perdarahan (r=0,431; p<0,05) memiliki hubungan sedang dengan lama ventilasi mekanik, jumlah cairan intraoperasi (r=0,347; p<0,05) memiliki hubungan lemah dengan lama ventilasi mekanik. Dari analisis multivariat regresi linier didapatkan tidak ada variabel yang menjadi faktor risiko (p>0,05; R square=0,073). Kesimpulan : Dari variabel yang diteliti tidak ada yang merupakan faktor risiko lama ventilasi mekanik pascaoperasi koreksi skoliosis pendekatan posterior di RSCM.
Intubasi dengan Menggunakan Laringoskop McCoy dan Macintosh Andriamuri Primaputra Lubis
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 3 (2021): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.897 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i3.242

Abstract

Tindakan intubasi endotrakeal memiliki tingkat kesuksesan yang sangat tinggi pada pasien-pasien yang akan dilakukan tindakan anestesi secara elektif. Sedangkan, pada kasus-kasus emergensi ataupun kasus-kasus sulit intubasi, tindakan intubasi endotrakeal menjadi tantangan dan membuka perspektif berbeda. Laringoskop merupakan suatu instrumen yang digunakan untuk memeriksa regio laring dan memfasilitasi tindakan intubasi endotrakeal. Berbagai macam penelitian dilakukan di berbagai negara untuk menilai penggunaan blade laringoskop termasuk diantaranya untuk menilai tanggapan kardiovaskular dan kemudahan tindakan intubasi intubasi. Di Indonesia sendiri, penelitian yang serupa pernah dilakukan dengan penduduk dengan ras Melayu.
Perbedaan Tatalaksana Mual Muntah Pasca Operasi pada Konsensus Terbaru: Tinjauan Literatur Firdaus, Riyadh; Setiani, Dea Britta Hilda
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.734 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.243

Abstract

Mual dan muntah merupakan dua efek samping pasca operasi yang paling sering ditemui. Mual muntah pasca operasi atau Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) juga erat kaitannya dengan lama rawat pasien di ruang pemulihan, perawatan yang sebelumnya tidak direncanakan, serta meningkatnya biaya perawatan. Tatalaksana PONV yang optimal merupakan serangkaian proses yang kompleks. International Anesthesia Research Society (IARS) mengeluarkan pedoman keempat untuk tatalaksana PONV pada Agustus 2020 lalu. Sebelumnya IARS telah mempublikasikan tiga pedoman terdahulu yaitu pada tahun 2003, 2009, dan 2014. Pedoman konsensus terbaru PONV memberikan lebih banyak evidence-based untuk tatalaksana PONV yang komprehensif baik pada orang dewasa maupun anak. Profilaksis multimodal PONV meliputi kombinasi antiemetik dari golongan yang berbeda, menggunakan dosis efektif minimum, minim penggunaan opioid, dan anestesi inhalasi. Prinsip – prinsip tatalaksana PONV pada pedoman saat ini juga diaplikasikan untuk tatalaksana PONV pada Enhanced Recovery Pathways.
Risiko Perdarahan Spontan pada Pasien COVID-19 dengan Terapi Antikoagulan - Serial Kasus Putra, Marco Manza Adi; Yodi; Dalimunthe, Aldi Hafiz
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 2 (2022): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.853 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i2.246

Abstract

Pandemi COVID-19 merupakan masalah kesehatan global dan menjadi tantangan tertinggi diseluruh dunia saat ini. Manifestasi klinisnya dapat bersifat ringan, sedang dan berat. Pada kasus sedang-berat, infeksi COVID-19 menyebabkan peningkatan d-Dimer dan degradasi produk fibrinogen. Hal ini disebabkan oleh keadaan hiperkoagulasi yang berhubungan dengan inflamasi dan trombosis. Keadaan hiperkoagulasi dapat menyebabkan kejadian tromboemboli pada vena dan arteri yang berhubungan dengan prognosis buruk pada pasien. World Health Organization (WHO) merekomendasikan penggunan antikoagulan profilaksis untuk mencegah terjadinya tromboemboli pada pasien COVID-19. Penggunaan antikoagulan profilaksis diharapkan dapat mengontrol bekuan darah (blood cloting) dan mengurangi pembentukan mikrotrombus. Namun, penggunaan antikoagulan juga dapat meningkatkan resiko terjadinya perdarahan. Pada serial kasus ini akan dibahas kejadian perdarahan spontan pada pasien COVID 19 yang diberikan antikoagulan sebagai profilaksis.
COVID-19-free Pathway Provides Safety for Elective Surgery Patients from Hospital-acquired SARS-CoV-2 Infection Susianto, Oky; Adhi, Mahendratama; Fajar Rochman, Bagus; Hardian, Rapto; Meliandi, Yopi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 2 (2022): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.833 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i2.248

Abstract

Background. Elective surgery during the COVID-19 pandemic must continue to prevent a backlog of surgical cases. Several institutions are implementing a COVID-19-free surgical pathway to minimize the risk of SARS-CoV-2 transmission. This study aimed to assess the safety of patients undergoing surgery against hospital-acquired SARS-CoV-2 infections by implementing a COVID-19-free pathway. Methods. This study is cross-sectional of 572 patients who underwent elective surgery with a COVID-19-free pathway. All patients underwent two days of quarantine in the hospital for RT-PCR testing. A negative COVID-19 test result is valid within 48 hours before surgery, and all surgeries were performed in a non-COVID-19 operating room. Age, gender, ASA classification, type of anesthesia, surgery criteria, length of stay, and ICU admission were the baseline characteristics of the patients in this study. The outcome in this study was hospital-acquired SARS-CoV-2 infections after the patient underwent surgery based on COVID-19 symptoms during hospitalization and 14 days after discharge. Results. This study involved 303 males (53%) and 269 females (47%) with a mean age of 40.16 years ± 11.35 years (12 days–84 years). According to the ASA classification, 44 patients (7.7%) ASA I, 450 (78.7%) ASA II, 77 (13.4%) ASA III and 1 (0.2%) ASA 4. Major or complex surgery criteria accounted for 48% (277) of all surgeries. One hundred and fifty-seven patients (27,4%) underwent postoperative hospitalization for 0-3 days, 190 (33.3%) 4-7 days, and 225 (39.3%) had a length of stay ≥ 8 days. None of the patients showed postoperative COVID-19 symptoms. Three patients died postoperatively, but their deaths were not COVID-19 related. Fourteen days after discharge, eight patients (3%) had fever and cough but did not perform the RT-PCR test. These eight patients experienced clinical improvement and recovery. Conclusion. Implementing a COVID-19-free pathway provides safety for patients from hospital-acquired SARS-CoV-2 infections.
A Case Report Total Intravenous Anesthesia Combined with Peribulbar Block in Vitrectomy Operation with Heart Disorder Lubis, Andriamuri Primaputra; Lubis, Adhika Syaputra
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 2 (2022): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.568 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i2.251

Abstract

Introduction: Vitrectomy is eye surgery to evaluate the retina by removing the vitreous gel which is principally carried out in three stages, namely retinal detachment repair, membrane peeling, and crystalline lens. In this operation, the anesthetic technique that needs to be emphasized is not increasing intraocular pressure and avoiding the oculocardiac reflex. This operation can be performed with a peribulbar or retrobulbar block, however, total intravenous anesthesia may also be considered in patients with other comorbidities.Case Presentation: Male, 55 years old, 96 kgs, with the chief complaint of blurred vision in the last 3 weeks ago. There were no other complaints but the patient has a history of hypertension, diabetes mellitus type II, congestive heart failure with a history of mitral valve replacement (MVR), and permanent pacemaker (PPM) usage from 2015. The patient had a history of warfarin and novamox usage 7 days ago. From the exam, the patient was diagnosed with ablatio retina + post-MVR and scheduled to have a vitrectomy. The patient was positioned supine with 300 heads up. The patient was given 3 liters of oxygen via nasal cannula, premedicated with fentanyl 50 mcg, then induced with propofol 100 mg bolus intravenously until sleep nonapnea before continuing with continuous propofol via syringe pump. The patient was maintained by propofol 0.5 mg/kg BW/hour. Next, the patient was given a peribulbar block with 2mL Lidocaine 2% and 2mL Bupivacaine 0.5%. During operation, there was no significant hemodynamic fluctuation until finished. Conclusion: The patient thus will undergo vitrectomy can be performed with peripheral nerve blocks such as retrobulbar anesthesia or peribulbar anesthesia. However, after knowing about the patient’s medical history, in this case, with a history of cardiac events and also undergone open-heart surgery, total intravenous anesthesia combined with a peribulbar block was considered the most suitable technique.
Skor Kelelahan pada Peserta Didik Anestesiologi dan Terapi Intensif dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Heriwardito, Aldy; Sugiarto, Adhrie; Setiadi, Bakti; Dwiputra, Anggara Gilang; Hafidz, Noor; Ramlan, Andi Ade Wijaya
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.993 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.252

Abstract

Latar Belakang: Prevalensi kelelahan secara global bervariasi antara 2,36-75,7%. Kelelahan merupakan konsekuensi yang dapat dialami oleh peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitasi Indonesia (FKUI) selama menjalami proses pendidikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kelelahan pada PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI/RSCM setelah bertugas selama 24 jam di RSCM dengan menggunakan penilaian FAS, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode: Metode penelitian adalah studi potong lintang dan acak. Analisis dilakukan terhadap 36 subjek peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI tahap paripurna, mandiri dan magang selama periode penelitian. Subjek diberikan kuesioner berisi pertanyaan mengenai faktor yang dapat memengaruhi tingkat kelelahan. Kelelahan secara subjektif diukur dengan Fatigue Assessment Scale (FAS) setelah peserta PPDS bekerja di Rumah Sakit dr.Cipto Mangunkussumo (RSCM) selama ≥ 24 jam. Hasil: Sebanyak 55,6% peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif mengalami kelelahan seetelah bekerja di RSCM selama > 24 jam, dengan rerata skor kelelahan berdasarkan FAS adalah 23,6±4,2 yang berada diatas titik potong skor kelelahan dari FAS yaitu > 22. Kelelahan fisik memiliki rerata nilai yang lebih besar (15,19±2,7) dibandingkan dengan kelelahan mental (10,61±2,2) dengan perbedaaan yang bermakna (p<0.01). Kelelahan pada peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI tidak dipengaruhi oleh karakteristik, gaya hidup dan karakteristik pekerjaan. Kesimpulan: PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif mengalami kelelahan fisik pasca bekerja selama >24 jam di RSCM. Kelelahan tersebut tidak dipengaruhi oleh faktor gaya hidup dan pola kerja.