cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 313 Documents
Perbandingan Efektivitas antara Ivabradin 5 mg dengan Bisoprolol 5 mg dalam Menjaga Kestabilan Hemodinamik pada Tindakan Laringoskopi Intubasi Putra, Dany Surya; Syafri Kamsul Arif; Syamsu Hilal Salam; Ramli Ahmad; Andi Salahuddin; Muhammad Rum
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 2 (2023): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i2.294

Abstract

Background: Laryngoscopy intubation can cause complications in the form of increased blood pressure and heart rate. This can be detrimental to patients with cardiovascular complications, increased intracranial pressure, and vascular anomalies. Various procedures are performed to stabilize hemodynamic fluctuations during laryngoscopy intubation, one of which is the administration of beta-blocking agents (Bisoprolol). In some studies, the administration of Bisoprolol can cause side effects such as hypotension and bradycardia. One drug considered to maintain hemodynamic stability in laryngoscopy intubation with minimal effects is the administration of Ivabradine, which works by regulating diastolic depolarization. Objective: To compare the effectiveness of Ivabradine 5 mg and Bisoprolol 5 mg in maintaining hemodynamic stability in laryngoscopy intubation. Methods: This double-blind randomized clinical trial was conducted at RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar in July-August 2022 with ethical qualifications from the Ethics Committee for Biomedical Research in Humans from the Faculty of Medicine, Hasanuddin University. The sample was the entire population that met the inclusion and exclusion criteria. The data were processed using SPSS 25. The analysis used paired T-test, Mann-Whitney, and Wilcoxon with a 95% confidence level (p<0.005). Result: There was a significant decrease in the mean arterial pressure and decrease in heart rate after induction (T2-T0) in the Bisoprolol group (p<0.05). The mean arterial pressure at T1-T0, T3-T0, T3-T2 did not statistically significant. Conclusion: Ivabradine 5 mg was more effective than Bisoprolol 5 mg in maintaining the stability of mean arterial pressure and heart rate in laryngoscopy intubation.
Pengaruh Erector Spinae Plane Block (ESPB) dengan Stabilitas Hemodinamik dan Kadar Kortisol Serum pada Operasi Tulang Belakang Kristiono, Evan; Musba, A. M. Takdir; Salahuddin, Andi; Gaus, Syafruddin; Hisbullah; Rum, Muhammad
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 2 (2023): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i2.302

Abstract

Latar Belakang: Nyeri pada bedah vertebra sulit dikendalikan dengan anestesi umum sehingga regional anestesi berperan penting dalam mengurangi fluktuasi hemodinamik. Namun belum terdapat rekomendasi anestesi regional untuk pasien yang menjalani bedah vertebra. Teknik erektor spinae plane block (ESPB) memberikan agen anestetik lokal pada ramus posterior sebelum selama prosedur dimulai, telah terbukti memperbaiki kualitas nyeri dan hemodinamik pada pasien kasus kardiovaskular.Tujuan: Mengetahui efek ESPB terhadap hemodinamik dan kadar kortisol serum serta korelasinya pada pasien yang menjalani bedah vertebra.Subjek dan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian experimental prospective dengan consecutive random sampling. Sampel terdiri dari kelompok GA ESP (kelompok dengan intervensi ESPB) dan GA (kelompok kontrol) dengan jumlah sampel masing-masing 30 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Penilaian tekanan darah sistolik, diastolik, laju nadi, pada saat sebelum, saat insisi bedah, dan saat pemasangan implant, jumlah anestetik volatil, jumlah opioid dan pengambilan darah untuk pemeriksaan konsentrasi kortisol serum sebelum, 2 jam setelah insisi bedah, dan 4 jam setelah insisi bedah. Data dianalisis menggunakan SPSS 25 untuk windows.Hasil: Laju nadi meningkat bermakna pada kelompok GA saat insisi (p=0,041), serta saat implantasi (p=0,012) dibandingkan prabedah. Tekanan darah sistolik saat insisi meningkat bermakna pada kedua kelompok (GA, p=0,005 ; GA ESP, p=0,001) dibandingkan sebelum prosedur dimulai. Tekanan darah diastolik pada kelompok GA mengalami penurunan bermakna saat implantasi (p=0,003) dibandingkan sebelum prosedur bedah. Kelompok GA ESP menggunakan using opioid (p=0,0001) and isoflurane (p=0,001) lebih rendah dibandingkan kelompok GA.Penurunan serum kortisol kedua kelompok ditemukan berbeda bermakna namun perubahan tersebut tidak berbeda antara kedua kelompok.Simpulan: Kelompok GA mengalami perubahan hemodinamik lebih bermakna dibandingkan kelompok GA ESP. Kebutuhan isofluran dan fentanyl lebih rendah pada kelompok GA ESP. Serum kortisol mengalami penurunan pada kedua kelompok namun tidak terdapat perbedaan antara kedua kelompok.
Effectiveness of Dexamethasone as a Preventive for PONV (Post Operative Nausea and Vomiting) Rachma Pramita, Andhina; Pandu Harijono; Peter Gunawan Tandean
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 2 (2023): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i2.311

Abstract

Postoperative nausea and vomiting (PONV) is the second most common side effect on general anesthesia. This can be classified as a complex problem that caused by patient factors, anesthesia technique and surgery factors. PONV is a physiological event that associated with various neurophysological in both central and peripheral nervous system. Dexamethasone reported can decreased PONV and with the combination of antiemetic. The instrument used in this study are data taken from journal / articles indexed at least 10 internationally, such as Scimago, Scopus, Thompson Reuters. The journals that were used related to the effectivness of dexamethasone in preventing PONV published from 2017 to 2022. This research is a descriptive study using the literature review method. Dexamethasone has shown to be effective in preventing PONV at the dose of 4 mg IV, 5 mg IV and 8 mg IV.Dexamethasone combined with other drugs especially antagonist 5 HT3 is known more effective rather than single dose of dexamethasone. The common side effect that usually occurs are dizzy, headache, and low urine output. Although dexamethasone were proven to decrease the incident of PONV, but there are other drugs option that can be more effective than dexamethasone such as group of drugs from antagonist 5 HT3.
Pengukuran Kadar Oksigenasi Otak: Teknik mana yang terbaik? Nindya Auerkari, Aino
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 2 (2023): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i2.331

Abstract

Oksigen merupakan prasyarat respirasi sel manusia, dan kemampuan sel menggunakan oksigen adalah penanda utama vitalitas sel. Dengan prinsip ini, berbagai teknik telah dikembangkan untuk memantau kadar oksigen dalam sel atau jaringan. Bila dapat dikuantifikasi, perubahan kadar oksigen dapat dideteksi dan ditindaklanjuti dengan cepat untuk mencegah kerusakan jaringan. Bagi pasien sakit kritis dengan penurunan kesadaran, pencegahan kerusakan jaringan otak sekunder sangat penting karena berhubungan dengan prognosis fungsional. Selain itu, di kamar operasi, pemantauan oksigenasi otak dapat mengarahkan anestesiologis dalam menentukan teknik pembiusan.
Plasmapheresis in Myasthenia Gravis Crisis Rifani Masharto, Alegra; Lubis, Bastian; Lubis, Andriamuri Primaputra; Nadeak, Rommy
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 3 (2023): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i3.290

Abstract

Introduction: Myasthenic crisis is the most lethal complication of myasthenia gravis. Referral to an intensive care unit is crucial in managing the myasthenic crisis. Hereby, we report a case of a myasthenic crisis in a 30-year-old female who underwent plasmapheresis. The patient underwent a 12-hour procedure for plasmapheresis and was discharged to a normal ward the next day. Although plasmapheresis is costly, its efficacy should be considered as the main treatment for myasthenic crisis. Case Illustration: Female, 30 years old, weighed 60 kgs, with myasthenia crisis. The patient came to an emergency department and was then intubated before being admitted to the intensive care unit. The physical diagnostic was normal and laboratory findings were leukocytosis. The patient was treated with normal saline, antibiotics, high-dose corticosteroids, and pyridostigmine. The patient was done plasmapheresis with synchronized intermittent mandatory ventilator mode. The patient was examined every 30 minutes. The physical examinations were relatively normal. The plasmapheresis procedure was ended in 12 hours. From the literature, plasmapheresis was found to have significant results for myasthenia gravis compared to conventional therapy because of its blood separation technique to remove autoantibodies. The next day patient was extubated with normal physical examinations and normal laboratory findings. The patient then moved from the intensive care unit to the normal ward and outpatient on the third day of hospital stay. The patient was given oral medicine that included antibiotics, corticosteroids, and pyridostigmine. Conclusion: From this case, we can see that plasmapheresis therapy has a really good outcome compared to other conventional therapy. However this therapy is expensive, so most healthcare providers don’t cover the payment. Hopefully, most hospitals and healthcare providers can cover up for this treatment to save many myasthenia gravis crisis. Keyword: Intensive Care Unit; myasthenic crisis; myasthenia gravis; plasmapheresis; treatment efficacy
Perbedaan Konsentrasi Levobupivakain Isobarik pada Blok Transverse Abdominis Plane terhadap Intensitas Nyeri dan Kadar Beta Endorfin pada Pasien Pasca Seksio Sesarea Prawira, Lienardy; Andi Muhammad Takdir Musba; Alamsyah Ambo Ala Husain; Syafruddin Gaus; Nur Surya Wirawan; Andi Adil
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 3 (2023): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i3.299

Abstract

Latar Belakang: Blok Tranversus Abdominis Plane (TAP) menjadi salah satu pilihan ketika ada kontraindikasi penggunaan morfin intratekal sebagai tatalaksana nyeri pasca seksio sesarea (SC). Konsentrasi anestesi lokal yang optimal untuk blok TAP hingga saat ini belum memiliki pedoman baku. Penelitian ini membandingkan pengaruh perbedaan konsentrasi levobupivakain isobarik 0,125% dan 0,25% pada blok TAP terhadap intensitas nyeri dan kadar beta endorfin dalam serum darah pasca SC. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain eksperimental menggunakan rancangan acak tersamar ganda. Populasi penelitian adalah pasien gravida yang menjalani SC elektif dengan anestesi spinal, kemudian dibagi secara acak melalui komputer menjadi kelompok kontrol (levobupivakain isobarik 0,25%) dan kelompok perlakuan (levobupivakain isobarik 0,125%). Analgetik pasca bedah kedua kelompok diberikan dexketoprofen intravena dan paracetamol oral. Intensitas nyeri pasca bedah dinilai dengan numerical rating scale (NRS) pada jam ke-2, 4, 6, 8, 12 dan 24. Kadar beta endorfin dalam serum darah diperiksa sebelum dilakukan blok, jam ke 8 dan 24 pascablok TAP. Waktu pertama rescue analgetik dan total konsumsi opioid 24 jam pasca bedah dicatat. Hasil: Tidak didapatkan perbedaan signifikan pada perbandingan nilai NRS pada jam ke-2, 4, 6, 8, 12 dan 24 antar kelompok (p>0,05). Perubahan kadar beta endorfin dalam serum darah tidak didapatkan perbedaan signifikan pada tiap waktu pengukuran per kelompok dan antar kelompok (p>0,05). Tidak didapatkan adanya rescue analgetik 24 jam pasca bedah. Simpulan: Blok TAP menggunakan anestetik lokal levobupivakain isobarik 0,125% dan 0,25% pada pasien pascapembedahan SC memiliki intensitas nyeri dan perubahan kadar beta endorfin yang sama.
Hubungan Neutrophil-Lymphocyte Ratio dengan Kejadian Acute Kidney Injury Pada Pasien Sepsis yang Dirawat di Intensive Care Unit (ICU) Jaelani, Abd Qadir; Arif, Syafri Kamsul; Muchtar, Faisal; Nurdin, Haizah; Salam, Syamsul Hilal; Tanra, Andi Husni
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 3 (2023): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i3.304

Abstract

Latar Belakang: Gagal Ginjal Akut (Acute Kidney Injury/AKI) adalah salah satu komplikasi yang umum dijumpai pada pasien dengan penyakit kritis di unit perawatan intensif (ICU). AKI merupakan komplikasi utama dari sepsis dan syok sepsis. Neutrophil-to-Lymphocyte Ratio (NLR) adalah penanda pengganti untuk respon inflamasi sistemik yang tersedia secara luas dan murah. Studi mengenai nilai diagnostik NLR dalam mendeteksi kejadian AKI masih terbatas dan hanya sedikit diketahui nilai klinis NLR terhadap pasien AKI sepsis. Tujuan: Mengetahui hubungan antara NLR dengan kejadian AKI pada pasien sepsis yang menjalani perawatan di ICU. Subjek dan Metode: Metode kohort retrospektif diaplikasikan dalam penelitian ini terhadap 80 pasien sepsis yang dirawat di ICU RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo (RSWS) Makassar sejak Januari 2019 – Desember 2021 yang dibagi dalam 40 sampel kelompok AKI dan 40 sampel non AKI. Sampel dikumpulkan dari data rekam medik pasien selama bulan Juli – September 2022. SPSS 25.0 dipakai untuk mengenalisis data dengan pengujian statistik Mann-Whitney, Chi-Square dengan level signifikansi α=0,05 dan analisis Kurva ROC. Hasil: Ditemukan perbedaan yang signifikan dari nilai NLR dan kadar kreatinin hari pertama dan ketiga pada kelompok AKI dan non-AKI (p<0.001). Terdapat penurunan nilai NLR yang signifikan jika dibandingkan antara hari pertama dan ketiga pada Kelompok AKI dengan nilai p= 0.001. Pada hari pertama dan ketiga terdapat korelasi antara nilai NLR dan kejadian AKI dengan hubungan linier sedang (r=0.577 dan r=0.534, berurutan). Uji ROC Curve dan Youden Index menunjukkan nilai cut off NLR untuk dapat memprediksi AKI yakni 15.15 dengan sensitivitas 70% dan spesifisitas 90%. Simpulan: Nilai NLR yang diukur pada 24 jam saat masuk ICU dapat menjadi prediktor terjadinya AKI sepsis, sehingga dapat dimasukkan dalam pemeriksaan rutin untuk deteksi dini terjadinya AKI sepsis pada penderita sepsis yang menjalani perawatan di ICU.
Gambaran Trakeostomi terhadap Length of Stay Pasien yang Dirawat di ICU RSUP Haji Adam Malik Medan Tahun 2021 Berutu, Veny Putri; Lubis, Bastian
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 3 (2023): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i3.305

Abstract

Pendahuluan: Intensive Care Unit (ICU) adalah suatu bagian dari rumah sakit yang ditujukan untuk observasi, perawatan, dan terapi pasien yang menderita penyakit berpotensi mengancam nyawa. Kriteria pasien yang berada di ICU adalah pasien sakit kritis dengan ketidakstabilan atau kegagalan sistem organ dan memiliki length of stay (LOS) yang relatif lama serta memerlukan bantuan alat seperti ventilator. Untuk meningkatkan kualitas perawatan medis, tujuan utama dalam perawatan intensif adalah untuk mengurangi LOS. Trakeostomi adalah salah satu prosedur di unit perawatan intensif yang paling umum dilakukan. Keuntungan yang didapat yaitu dapat menurunkan LOS ICU, meningkatkan kenyamanan pasien dan manajemen jalan napas yang lebih baik. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional. Metode pengumpulan data dengan menggunakan data rekam medik. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Hasil: Hasil penelitian terhadap pasien ICU yang terpasang ventilator di RSUP HAM Medan didapatkan sebanyak 46 orang (70,2%) yang tidak ditrakeostomi dan 19 orang (29,2%) yang ditrakeostomi. Rata-rata LOS pasien yang ditrakeostomi yaitu 19 hari dan rata-rata LOS pasien yang tidak ditrakeostomi yaitu 11 hari. Simpulan: Rata-rata LOS pasien ICU yang terpasang ventilator di RSUP HAM Medan lebih besar pada pasien yang ditrakeostomi. Kata kunci: ICU; intubasi; LOS; trakeostomi; ventilator
Perbandingan Dexmedetomidine 1 mcg/kgBB Intravena Dan Fentanyl 2 mcg/kgBB Intravena Terhadap Mula Kerja, Efek Hemodinamik Dan Waktu Pulih Sadar Selama Anestesi Endoskopi Retrograde Cholangiopancreatography Mufti, Asnurhazmi Hilaluddin; Wahyudi; Musba, A.M. Takdir; Salam, Syamsul Hilal; Muchtar, Faisal; Datu, Madonna D.
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 3 (2023): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i3.306

Abstract

Latar Belakang: Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography (ERCP) adalah prosedur diagnostik dan terapeutik untuk evaluasi penyakit bilier dan pankreas. Dexmedetomidine mengurangi kebutuhan propofol selama anestesi. Kombinasi propofol dan fentanil memberikan efek analgesik sentral terutama dengan mengaktifkan reseptor µ-opioid, yang terutama didistribusikan di area yang berhubungan dengan nyeri, pernapasan, mual, dan muntah. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pemberian dexmedetomidine intravena dan fentanyl intravena terhadap mula kerja, efek hemodinamik dan waktu pulih sadar selama anestesi ERCP. Metode: Penelitian uji acak tersamar ganda terhadap 42 pasien yang menjalani prosedur ERCP dengan anestesi umum di Instalasi Gastroenterohepatologi RSUP Wahidin Soedirohusodo bulan Agustus-September 2022. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok A (Dexmedetomidine) dan kelompok B (Fentanyl). Hasil: Pada kedua kelompok masing-masing 21 orang tiap kelompok, mula kerja dan pulih sadar didapatkan perbedaan yang bermakna pada mula kerja dengan nilai p <0,001, sedangkan pada pulih sadar dengan nilai p 0,022, sehingga dapat dikatakan ada perbedaan pada mula kerja dan pulih sadar antara kedua kelompok. Terdapat perbedaan bermakna pada kejadian penurunan tekanan arteri rerata (TAR) dengan p= 0,030, kejadian bradikardi dengan nilai p =0,014, dan pada kejadian bradipneu pada kedua kelompok dengan nilai p = 0,004, sehingga dapat dikatakan ada perbedaan efek hemodinamik antara kedua kelompok. Efek samping didapatkan perbedaan yang bermakna pada kejadian mual dengan nilai p = 0,014. Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada kejadian muntah dengan nilai p = 1,000, dan nyeri kepala dengan nilai p = 0,311. Simpulan: Kelompok dexmedetomidine-propofol lebih cepat mula kerja dibandingkan dengan kelompok fentanyl-propofol, sedangkan pada waktu pulih sadar kelompok dexmedetomidine-propofol lebih lambat. Kelompok dexmedetomidine-propofol lebih kurang mengalami penurunan TAR, lebih banyak kejadian bradikardi, dan lebih kurang kejadian bradipneu dibandingkan dengan kelompok fentanyl-propofol. Kelompok dexmedetomidine-propofol lebih kurang mengalami kejadian mual dibanding kelompok fentanyl-propofol, namun tidak terjadi perbedaan antar kelompok dalam kejadian muntah dan nyeri kepala.
Blok Pleksus Brakhialis Supraklavikula Pada Kasus Neglected Fracture Distal Radius dan Ulna Dekstra Shandy, Pinky Pradika; Suarsedana, Agus
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 3 (2023): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i3.307

Abstract

Pendahuluan: Salah satu teknik anestesi regional yang dapat digunakan pada operasi di daerah ekstremitas atas adalah blok saraf perifer supraklavikula, teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh Kulenkampff pada tahun 1911. Pemilihan teknik ini didasarkan pada kebutuhan anestesi dan analgesi ekstremitas atas. Ilustrasi Kasus: Seorang perempuan usia 16 tahun, hasil anamnesis didapatkan bahwa pasien terjatuh dari sepeda motor ke sisi kanan dengan menggunakan tangan kanan sebagai tumpuan dan hanya menjalani pengobatan alternatif. Dua bulan kemudian pasien mengeluh pergelangan tangan kanannya semakin bengkak dan nyeri. Pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 110/70 mmHg, laju nadi 88 x/menit, kecepatan respirasi 20 x/menit dan suhu tubuh 36 oC. Status lokalis di Wrist Joint Dextra tidak ada luka terbuka, bengkak (+), krepitasi (+), deformitas (+), pulsasi arteri distal (+), Range of Motion (ROM) terbatas. Pasien didiagnosa neglected fracture pada distal radius dan ulna dekstra. Pasien dipremedikasi dengan difenhidramin, deksametason, ondansetron, midazolam, dan fentanil. Dilakukan blok pleksus brakhialis supraklavikular pendekatan vertikal dengan stimuplex A 50 mm 22 gauge insulated needle short level. Obat anestesi yang dipakai adalah lidokain dan levobupivakain. Pada pasien didapatkan total blok selama 40 menit. Simpulan: Blok pleksus brakialis supraklavikula dapat menjadi salah satu pertimbangan teknik anestesi regional untuk ekstremitas atas yang mempunyai tingkat keberhasilan tinggi dan distribusi blok yang optimal. Kata Kunci : blok; brakialis; fraktur; regional; supraklavikula