cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 324 Documents
Anestesi SAYGO untuk Intubasi Sadar Selama Tiroidektomi dan Sternotomi: Laporan Kasus Sidabutar, Beny Pratama; Ra Ratumasa, Marilaeta Cindryani; Tjokorda Gde Agung Senapathi; Labobar, Otniel Adrians
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 3 (2025): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i3.443

Abstract

Pendahuluan: Teknik anestesi Spray-As-You-Go (SAYGO) merupakan metode terstruktur yang efektif dalam menangani intubasi sadar pada pasien dengan jalan napas sulit. Deskripsi Kasus: Laporan ini menyajikan kasus seorang wanita berusia 59 tahun dengan tiroid multinodular retrosternal (MNT) besar yang menyebabkan kompresi dan deviasi trakea. Dalam kasus ini, dilakukan intubasi fiberoptik terjaga menggunakan teknik SAYGO, dengan pendekatan kombinasi anestesi topikal lidokain, sedasi deksmedetomidin, dan oksigenasi adekuat. Prosedur diawali dengan nebulisasi lidokain, diikuti dengan penyemprotan lidokain intratrakeal 2% selama proses intubasi fiberoptik, kemudian dilanjutkan dengan induksi anestesi umum menggunakan propofol dan atrakurium setelah intubasi berhasil. Simpulan: Teknik SAYGO terbukti mampu menjaga kenyamanan pasien, mempertahankan patensi jalan napas, dan meminimalkan fluktuasi hemodinamik, sehingga meningkatkan tingkat keberhasilan dan keselamatan intubasi. Pendekatan ini sangat bermanfaat terutama pada kasus dengan kompresi trakea akibat massa tiroid atau mediastinum, karena mampu menurunkan risiko komplikasi dan meningkatkan keberhasilan prosedur.
Opioid-Free Anesthesia as a Part of Multimodal Anesthesia Approach in Modified Radical Mastectomy: A Case Report Togi Stanislaus Patrick; Sinardja, Cynthia Dewi; Senapathi, Tjokorda Gde Agung; Ra Ratumasa, Marilaeta Cindryani
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 3 (2025): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i3.445

Abstract

Introduction: The shift towards opioid-free anesthesia (OFA) reflects a growing effort to enhance patient safety and reduce opioid-related adverse effects, particularly in oncology surgeries such as modified radical mastectomy (MRM). Case Description: We describe the anesthetic management of a 51-year-old female with infiltrating ductal carcinoma of the left breast who underwent MRM under an opioid-free anesthetic protocol. Induction was performed with propofol via target-controlled infusion (TCI), followed by intraoperative dexmedetomidine infusion for sedation and analgesia. An ultrasound-guided erector spinae plane (ESP) block at the T5 level was performed with 0.375% ropivacaine and dexamethasone to provide regional analgesia. Intraoperative hemodynamics remained stable, no rescue opioids were required, and blood loss was minimal. Postoperative pain control was achieved with a low-dose dexmedetomidine infusion, intravenous ketorolac, and oral paracetamol. The patient reported minimal pain (NRS 0–1/10), had no nausea, vomiting, or respiratory depression, and recovered uneventfully. Conclusion: OFA offers oncological advantages by preserving immune function and reducing tumor- promoting factors, making it a promising alternative in cancer surgery. This report supports the feasibility and benefits of OFA in major breast cancer procedures, underscoring its role in enhancing recovery and potentially improving long-term oncologic outcomes.
Dexamethasone as Prophylaxis of Postoperative Nausea and Vomiting in Cardiothoracic Surgery: Systematic Review and Meta-Analysis Wibowo, Marcell Dion; Ratumasa, Marilaeta Cindryani Ra; Ningrat, I Ketut Jaya; Adi, Made Septyana Parama; Krisnayana, Anak Agung Gede
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 3 (2025): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i3.450

Abstract

Introduction: Postoperative nausea and vomiting (PONV) remain common and distressing complications following surgery, particularly after high-risk procedures such as cardiothoracic surgeries. Dexamethasone, a corticosteroid with anti-inflammatory and antiemetic effects, has been widely investigated for its role in PONV prevention. This study aimed to evaluate the efficacy of dexamethasone in reducing the incidence of PONV among patients undergoing cardiothoracic surgery through a systematic review and meta-analysis. Methods: The systematic review followed the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) 2020 guidelines. Randomized Controlled Trials (RCTs) comparing dexamethasone with placebo or no intervention in cardiothoracic surgery were included. The primary outcome was the incidence of PONV within 24 hours postoperatively; secondary outcomes included the need for rescue antiemetics and the occurrence of adverse effects such as hyperglycemia or infection. Statistical analysis was conducted using Review Manager 5.4, with heterogeneity assessed by the I² and Q/df tests. Results: Four RCTs published between 2018 and 2023 were included, showing low risk of bias and symmetrical funnel plots. The pooled analysis demonstrated a statistically significant reduction in PONV with dexamethasone (OR = 0.57, 95% CI = 0.41–0.80, p = 0.001, I² = 9%, Q/df = 0.98). Conclusion: Dexamethasone significantly reduces the incidence of PONV in patients undergoing cardiothoracic surgery with consistent findings across studies. Further large-scale RCTs are needed to confirm long-term safety and optimize clinical protocols.
Manajemen Perioperatif pada Pasien Hamil Rizkia, Karnissa; Hikmatiar
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 1 (2026): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i1.453

Abstract

Pendahuluan: Kehamilan membawa perubahan fisiologis signifikan pada sistem kardiovaskular, respirasi, hematologi, gastrointestinal, renal, dan endokrin yang memengaruhi manajemen anestesi serta keamanan ibu dan janin. Metode: Tinjauan literatur ini bertujuan merangkum praktik terbaik manajemen perioperatif pada pasien hamil yang menjalani pembedahan. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed Central dan Google Scholar untuk publikasi tahun 2020–2025. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa evaluasi praoperatif perlu menekankan risiko aspirasi, tromboemboli, dan kesulitan jalan napas, serta pemilihan waktu pembedahan yang optimal. Manajemen intraoperatif difokuskan pada posisi lateral untuk mencegah kompresi aortokaval, pemantauan hemodinamik ketat, serta titrasi obat anestesi yang lebih rendah sesuai perubahan kebutuhan selama kehamilan. Neuraksial anestesi direkomendasikan sebagai pilihan utama pada seksio sesarea karena keamanan dan efektivitasnya, sementara anestesi umum memiliki risiko lebih tinggi terhadap morbiditas maternal dan neonatal. Manajemen pascaoperasi meliputi pemberian analgesik, mobilisasi dini, serta monitoring kondisi ibu dan janin. Kesimpulan: Menegaskan bahwa manajemen perioperatif pada pasien hamil harus melibatkan multidisiplin dan bersifat individual untuk meminimalkan komplikasi dan meningkatkan luaran ibu dan janin.
Delayed Cerebral Ischemia Setelah Clipping Aneurisma: Sebuah Studi Kasus Zakaria; Harijono, Bambang; Santosa, Dhania; Yusuf, Kakung; Armyda, Remo
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 1 (2026): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i1.466

Abstract

Pendahuluan: Aneurisma intrakranial yang mengalami ruptur dan menyebabkan perdarahan subaraknoid (PSA) merupakan keadaan gawat darurat neurologis dengan tingkat mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Komplikasi tersering dan paling serius pada fase subakut adalah delayed cerebral ischemia (DCI), yang terjadi pada sekitar 20–30% pasien dan dapat menyebabkan defisit neurologis menetap. Laporan ini bertujuan menjelaskan secara komprehensif aspek fisiopatologi, klasifikasi klinis, serta strategi manajemen anestesi perioperatif pada pasien dengan aneurisma intrakranial, terutama dalam konteks pencegahan dan tata laksana DCI pasca tindakan clipping. Deskripsi Kasus: Perempuan 68 tahun dengan riwayat penurunan kesadaran sejak enam hari sebelumnya, didahului nyeri kepala hebat dan muntah tiga kali. CT scan menunjukkan adanya perdarahan subaraknoid, pasien dirujuk untuk penanganan bedah saraf. External Ventricular Drain (EVD) Kocher (S) dipasang pada 15 Juli 2025. Hasil evaluasi pascaoperasi menunjukkan terdapat ICH burst lobe di cortical subcortical regio temporalis kanan yang sebagian, edema otak, dan terpasangnya clipping ICA kanan serta VP shunt di ventrikel lateralis kiri. Pasien dirawat di neurologi intensive care unit, pada hari ke lima terjadi penurunan kesadaran GCS 14 (E3V5M6) menjadi GCS 7 (E2V2M3) dan di lakukan evaluasi CT Scan dan lab. Keluarga menolak dilakukan intubasi dan tindakan invasif. Pasien dirawat selama 9 hari di Neuro ICU dan dinyatakan meninggal pada 6 Agustus 2025. Simpulan: Pencegahan dan deteksi dini DCI memerlukan kolaborasi multidisiplin, termasuk peran aktif dokter anestesi pada seluruh tahapan manajemen aneurisma intrakranial. Pendekatan perioperatif yang komprehensif dan berbasis bukti berpotensi menurunkan komplikasi serta meningkatkan luaran fungsional dan kualitas hidup pasien.
Pengelolaan Anestesi pada Pasien Aneurisma Serebri Pecah dengan Kehamilan Trimester 2 Yusuf, Kakung Muhammad; Santosa, Dhania; Zakaria; Armyda, Remo
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 1 (2026): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i1.469

Abstract

Pendahuluan: Perdarahan subaraknoid aneurismal (aSAH) pada kehamilan merupakan kondisi langka namun berisiko tinggi bagi ibu dan janin. Penatalaksanaannya memerlukan keseimbangan antara urgensi neurologis, keselamatan maternal–fetal, serta pertimbangan anestesi dan paparan radiasi. Laporan kasus ini bertujuan menggambarkan tatalaksana anestesi dan endovaskular pada aSAH trimester kedua kehamilan. Deskripsi Kasus: Perempuan 42 tahun, G3P2, usia kehamilan 17–18 minggu, datang dengan nyeri kepala hebat. CT non-kontras menunjukkan aSAH difus dengan IVH (Modified Fisher 4; H&H 2; WFNS 1). Dilakukan endovascular coiling di bawah anestesi umum dengan target stabilitas hemodinamik dan normokapnia; regimen meliputi fentanyl–propofol–rocuronium dan rumatan sevofluran ±0,8 MAC, disertai abdominal shielding. DSA mengonfirmasi aneurisma sakular pada ostium A1 dan koiling mencapai oklusi memadai. Pasca tindakan stabil, pasien dipulangkan pada hari pertama dengan nimodipin oral 60 mg tiap 4 jam (program 21 hari). Kehamilan berlanjut sampai aterm, seksio sesarea elektif pada 37–38 minggu dengan status neurologis ibu baik. Kesimpulan: Strategi anestesi menekankan perlindungan perfusi serebral dan uteroplasental, manajemen jalan napas spesifik kehamilan, serta mitigasi radiasi selama terapi endovaskular. Pada pasien hamil dengan aSAH, endovascular coiling dengan proteksi radiasi, kontrol hemodinamik ketat, dan tata laksana multidisiplin memberikan luaran maternal fetal yang baik, pemulangan dini dapat dipertimbangkan berdasarkan penilaian risiko individual.
Manajemen Anestesi pada Pasien Glioblastoma Multiforme Recurrent yang Menjalani Sitoreduksi Tumor dengan Menggunakan Teknik Bebas Opioid: Laporan Kasus Adhiwirawan, Christina Angelia Maharani Dewi; Suarjaya, I Putu Pramana; Sutawan, Ida Bagus Krisna Jaya; Hartawan, I Gusti Agung G Utara; Ryalino, Christopher
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 1 (2026): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i1.476

Abstract

Pendahuluan: Glioblastoma Multiforme (GBM) adalah jenis glioma yang sangat agresif dan memiliki prognosis yang buruk. Dalam beberapa tahun terakhir, didapati dampak anestesi dan analgesik terhadap progresivitas kanker. Paparan jangka pendek terhadap agen anestesi, yaitu anestesi inhalasi, dapat mempercepat pertumbuhan tumor. Selain itu, pasien yang terpapar dengan opioid pada kuantitas besar dalam beberapa hari setelah operasi akan mengalami progresivitas kanker lebih cepat daripada mereka yang mengonsumsi obat analgesik dalam jumlah terbatas dan dalam jangka waktu lebih pendek. Deskripsi Kasus: Pasien berusia 17 tahun dengan keluhan benjolan pada kepala sisi kanan yang progresif membesar dan tidak nyeri sejak satu bulan sebelum masuk rumah sakit. Kelemahan separuh tubuh kiri dan ptosis pada mata kanan sejak bulan Mei 2024. Pada bulan Juni 2024 telah dilakukan operasi reseksi tumor dan kraniektomi dekompresi dengan pembiusan umum diikuti dengan operasi sitoreduksi tumor pada bulan September 2024. Hasil CT kepala tanpa kontras didapatkan massa padat heterogen intra-aksial supratentorial pada thalamus kanan yang meluas ke lobus temporal kanan menyebabkan pergeseran struktur midline ke kiri sejauh 0,9 cm yang mengesankan massa residual dengan diagnosis banding massa residif. Tindakan anestesi dilakukan dengan pembiusan umum dengan teknik anestesi bebas opioid (opioid free) dan dikombinasikan dengan regional anestesi menggunakan scalp block. Kesimpulan: Teknik anestesi bebas opioid dapat digunakan sebagai modalitas dalam operasi GBM.
Hemodynamic Stability with Intrathecal Prilocaine 2% in Caesarean Section Patient with Ebstein’s Anomaly: A Case Report Rasyid, Rifqi Taufiq; Sudiantara, Putu Herdit; EM, Tjahya Ariyasa; Senapathi, Tjokorda Gde Agung
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 1 (2026): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i1.479

Abstract

Introduction: Ebstein’s anomaly is a rare congenital malformation of the tricuspid valve that predisposes pregnant patients to significant hemodynamic instability due to increased circulating volume, cardiac output, and catecholamine levels during pregnancy. Anesthetic management in this population requires careful maintenance of preload, afterload, and sinus rhythm to avoid worsening right-to-left shunting and arrhythmias. Case Description: A 31-year-old gravida 2 para 1 woman (G2P1001) at 37 weeks of gestation with Ebstein’s anomaly type C and severe tricuspid regurgitation who underwent cesarean section due to fetal distress. Spinal anesthesia was performed using hyperbaric prilocaine 2% (80 mg), followed by bilateral ultrasound-guided transversus abdominis plane block for postoperative analgesia. Throughout the 45-minute procedure, the patient maintained stable hemodynamics without episodes of hypotension or arrhythmias. Postoperative recovery in the Obstetric High Dependency Unit remained uneventful, with consistent vital signs and adequate pain control. A healthy neonate was delivered. Conclusion: This case demonstrates that intrathecal prilocaine 2% can provide effective surgical anesthesia while preserving hemodynamic stability in selected parturients with Ebstein’s anomaly. The pharmacological characteristics of prilocaine, rapid onset, intermediate duration, and a favorable sympathetic profile, make it a potential alternative to longer-acting agents in patients at risk of hemodynamic compromise. Further studies are needed to validate its safety and efficacy in parturients with congenital cardiac disease.
Pengaruh Keseimbangan Cairan terhadap Outcome Pasien Gagal Ginjal Akut di ICU: Sebuah Tinjauan Sistematis Ginting, Ina Dhea Margaretta; Br Haloho, Agustina
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 1 (2026): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i1.481

Abstract

Pendahuluan: Keseimbangan cairan merupakan komponen penting dalam penatalaksanaan pasien kritis di unit perawatan intensif (ICU). Gagal ginjal akut sering terjadi pada pasien ICU dan berhubungan dengan prognosis buruk, peningkatan mortalitas, serta rendahnya pemulihan fungsi ginjal. Salah satu faktor yang memengaruhi luaran adalah manajemen keseimbangan cairan, terutama akumulasi cairan positif setelah fase resusitasi awal. Metode: Tinjauan sistematik ini bertujuan menilai pengaruh keseimbangan cairan terhadap luaran pasien gagal ginjal akut di ICU berdasarkan pedoman PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed dan ScienceDirect menggunakan kata kunci relevan. Dari 803 artikel yang teridentifikasi, tujuh studi dalam lima tahun terakhir yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dianalisis. Hasil: Dari tujuh studi yang dianalisis, seluruhnya menunjukkan bahwa keseimbangan cairan kumulatif positif setelah diagnosis gagal ginjal akut menjadi faktor prediktor utama terhadap luaran buruk. Penumpukan cairan disebabkan oleh pemberian cairan maintenance dan nutrisi berlebih, rendahnya produksi urin, serta kurangnya penggunaan diuretik. Pasien dengan keseimbangan cairan tinggi persisten memiliki risiko kematian 28 hari dua kali lebih besar dan pemulihan ginjal yang lebih lambat dibanding kelompok dengan keseimbangan cairan rendah. Sebaliknya, penurunan cepat keseimbangan cairan berkorelasi dengan penurunan mortalitas dan perbaikan fungsi ginjal yang lebih cepat. Simpulan: Akumulasi cairan positif pada pasien gagal ginjal akut di ICU terbukti meningkatkan mortalitas dan memperlambat pemulihan ginjal. Strategi deresusitasi dan pemantauan ketat keseimbangan cairan perlu menjadi prioritas utama untuk memperbaiki prognosis pasien gagal ginjal akut.
Faktor yang Berhubungan dengan Lama Rawat Pascaoperasi Bedah Saraf di UPI RSUP H. Adam Malik Tahun 2024 Ulhaq, Muhammad Fatih; Irina, Rr. Sinta; Saragih, Muhammad Arfiza Putra
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 1 (2026): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i1.483

Abstract

Pendahuluan: Lama rawat di Unit Perawatan Intensif (UPI) merupakan indikator penting mutu pelayanan dan efisiensi penggunaan sumber daya, terutama pada pasien pascaoperasi bedah saraf yang sering memerlukan pemantauan intensif. Namun, data lokal mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan lama rawat UPI di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor klinis yang berhubungan dengan lama rawat UPI pada pasien pascaoperasi bedah saraf di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2024. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif-analitik dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder rekam medis. Sampel diambil secara total sampling terhadap pasien pascaoperasi bedah saraf yang dirawat di UPI periode Januari–Desember 2024. Variabel yang dianalisis meliputi skor Glasgow Coma Scale (GCS), status fisik preoperatif (PS-ASA), durasi penggunaan ventilator mekanik, komplikasi pascaoperasi, prioritas operasi, dan jenis tindakan pembedahan. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan uji korelasi sesuai distribusi data. Hasil: Sebanyak 43 pasien memenuhi kriteria inklusi. Mayoritas pasien memiliki PS-ASA IV, memerlukan ventilasi mekanik ≥96 jam, dan menjalani pembedahan non-elektif. Analisis menunjukkan bahwa jenis tindakan pembedahan berhubungan signifikan dengan lama rawat UPI (p = 0,018). Skor PS-ASA menunjukkan kecenderungan hubungan pada analisis tren dan korelasi, namun tidak signifikan pada uji kategorik. Skor GCS, durasi ventilator, komplikasi pascaoperasi, dan prioritas operasi tidak menunjukkan hubungan bermakna secara statistik. Kesimpulan: Jenis tindakan pembedahan merupakan faktor yang berhubungan dengan lama rawat UPI pada pasien pascaoperasi bedah saraf di rumah sakit rujukan tersier. Penelitian lebih lanjut dengan desain prospektif dan analisis multivariat diperlukan untuk mengidentifikasi prediktor independen secara lebih komprehensif.