cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 313 Documents
Luas Kolaps Paru pada Anestesia Umum dengan Penilaian Electrical Impedance Tomography Durasi Kurang dari 2 Jam dan Lebih dari 2 Jam: Susilo Chandra, Nazalia Nashella, Eddy Harijanto, Rahendra Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 3 (2014): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1785.21 KB)

Abstract

Anestesia dan pembedahan dapat menyebabkan atelektasis intraoperasi, penurunan volume paru dan atelektasis akan menyebabkan komplikasi paru pascaoperasi. Electrical impedance tomography (EIT) merupakan alat pencitraan noninvasif untuk menilai distribusi ventilasi paru. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan luas kolaps paru yang terjadi pada anestesia umum dengan durasi kurang dari 2 jam dan lebih dari 2 jam dengan menggunakan EIT dan algoritma Costa dkk, dengan sebelumnya menghilangkan faktor komorbid dan faktor prediktor yang lain. Penelitian ini merupakan uji klinis prospektif yang dilakukan di RSCM Kirana selama bulan Maret sampai Mei 2013 pada 42 pasien dewasa usia 18–59 tahun, ASA 1–2 dan IMT <30 kg/m2 yang menjalani operasi mata elektif dengan anestesia umum. Pengamatan dilakukan selama operasi dengan menggunakan EIT. Pasien dibagi ke dalam dua kelompok berdasarkan durasi anestesia lebih dari 2 jam dan kurang dari 2 jam. Dilakukan pengukuran variasi tidal regional, volume tidal, peak inspiratori presure ,dan positive end-expiratory pressure. Hasil pengukuran dihitung sesuai algoritme Costa dkk untuk mencari luas kolaps yang terjadi. Pada kelompok anestesia umum dengan durasi lebih dari 2 jam didapatkan luas kolaps 16,83±8,47 % dan pada durasi kurang dari 2 jam didapatkan luas kolaps 16,16±11,93 % (p>0,05). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara luas kolaps yang terjadi pada anestesia umum dengan durasi lebih dari 2 jam dan kurang dari 2 jam.
Pengaruh Pemberian Lidokain 2% sebelum Ekstubasi terhadap Penurunan Kejadian Batuk saat Proses Ekstubasi: IGB Suryaningrat, Tatang Bisri, Ezra Oktaliansah Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 3 (2014): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1794.409 KB)

Abstract

Batuk saat ekstubasi pada pasien dengan anestesi umum dan endotrakeal merupakan masalah klinis yang dihadapi. Angka kejadian berkisar 38%−96%. Pemberian lidokain sebelum ekstubasi secara laringotracheal instilation of topical anesthesia endotracheal tube (ETT LITA) dapat mengurangi kejadian batuk saat ekstubasi. Tujuan penelitian adalah menilai efek pemberian lidokain 2% 1,25 mg/kgBB endotrakeal sebelum ekstubasi terhadap kejadian batuk saat ekstubasi. Penelitian kuantitatif intervensi dengan uji klinis acak terkontrol buta tunggal dengan subjek penelitian: 50 pasien laki-laki, usia 18−60 tahun, status fisik American Society of Anesthesiologists I dan II, operasi elektif dengan endotrakeal. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok I yang mendapat lidokain 2% 1,25 mg/kgBB endotrakeal 5 menit sebelum ekstubasi dan kelompok kontrol yang tanpa perlakuan. Data diuji dengan uji chi-kuadrat dan uji t. Penelitian dilakukan periode Februari−April 2014 di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Kejadian batuk rata-rata saat ekstubasi pada kelompok lidokain lebih rendah dibanding dengan kelompok kontrol dengan hasil yang bermakna (p<0,05). Derajat batuk 5 menit pascaekstubasi antara kedua kelompok menunjukkan berbeda bermakna (p=0,00046). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian lidokain 2% 1,25 mg/kgBB endotrakeal sebelum ekstubasi dapat menurunkan kejadian batuk saat ekstubasi.
Perbandingan Kemudahan Pemasangan Laryngeal Mask Airway antara Teknik Baku disertai Penekanan Lidah dengan Teknik Baku: Arif HM Marsaban, Nency Martaria, Riyadh Firdaus, Arief Cahyadi Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 3 (2014): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1813.521 KB)

Abstract

Laryngeal mask airway (LMA) merupakan suatu alat bantu jalan napas. Teknik baku pemasangan LMA disertai penekanan lidah memberikan angka keberhasilan pemasangan 100%. Penelitian ini bertujuan membandingan kemudahan dan komplikasi pemasangan LMA menggunakan teknik baku dengan penekanan lidah dibandingkan dengan teknik baku. Penelitian ini merupakan studi uji klinis acak tersamar tunggal yang dilakukan antara Mei – Juni 2013 di RSCM, pada 80 pasien dewasa yang menjalani operasi elektif dengan anestesia umum menggunakan LMA. Pada 40 pasien mengalami pemasangan LMA dengan teknik baku disertai penekanan lidah dan 40 pasien dengan teknik baku. Upaya pemasangan dan kemudahan dicatat dan dinilai. Pemasangan mudah bila ≤2 kali. Komplikasi pemasangan berupa noda darah, nyeri menelan dan nyeri tenggorokan dicatat dan dinilai. Analisis statistik dilakukan dengan uji chi-kuadrat dan eksak fisher. Batas kemaknaan untuk semua uji adalah p <0,05. Perbandingan proporsi keberhasilan upaya pemasangan pertama dan kedua antara kelompok teknik baku disertai penekanan lidah dan teknik baku adalah 87,5% banding 65% dan 100% banding 97,5%, secara berurutan. Pemasangan LMA dengan teknik baku disertai penekanan lidah tidak lebih mudah dibanding dengan teknik baku. Kekerapan komplikasi yang berbeda bermakna berupa noda darah 0% pada teknik baku disertai penekanan lidah dan 6,2% pada teknik baku.
Glasgow Coma Scale dalam Memprediksi Outcome pada Pasien dengan Penurunan Kesadaran di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo: Aida Rosita Tantri, Ismail Hari Wahyu, Riyadh Firdaus Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 3 (2014): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1872.975 KB)

Abstract

Penurunan kesadaran harus ditangani dengan tepat untuk mengurangi kerusakan lebih lanjut. Glasgow coma scale (GCS) digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pada pasien dan memprediksi outcome pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan Glasgow coma scale memprediksi outcome pada pasien dengan penurunan kesadaran di Instalasi Gawat Darurat RSUPN Cipto Mangunkusumo. Penelitian ini merupakan studi observasional, kohort prospektif pada 116 pasien usia ≥8 tahun dengan GCS dibawah 15 saat tiba di IGD RSCM Jakarta. Skor GCS dinilai sebanyak 1 kali ketika pasien pertama diterima. Peneliti mengevaluasi outcome dua minggu setelah perawatan dengan menggunakan kriteria GCS. Bad outcome (meninggal dan disabilitas berat) dijumpai pada 66 pasien (56,9%) dan good outcome (disabilitas sedang dan sembuh) pada 50 pasien (43,1%). Skor GCS kelompok bad outcome berbeda bermakna dengan kelompok good outcome berdasarkan analisis statistik (p<0,001). Skor GCS-E, GCS-M dan GCS-V masing-masing pasien kelompok bad outcome berbeda bermakna dengan kelompok good outcome berdasarkan analisis statistik (p<0,001). Dari hasil analisis regresi logistik, komponen GCS yang memiliki nilai prediksi terhadap outcome adalah komponen verbal dan membuka mata. Skor glasgow coma scale mampu memprediksi outcome dengan tepat pada pasien dengan penurunan kesadaran di Instalasi Gawat Darurat RSUPN Cipto Mangunkusumo.
Pengaruh Magnesium Sulfat Intravena terhadap Kebutuhan Fentanil dan Propofol Intraoperatif pada Pasien yang Dilakukan Histerektomi dengan Anestesi Umum: Srilina Thayeb, Tatang Bisri, Ezra Oktaliansah Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 3 (2014): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1806.65 KB)

Abstract

Pemberian adjuvan analgetik dan sedatif intraoperatif bisa mengurangi pemakaian fentanil dan propofol sehingga akan mengurangi efek samping. Magnesium sulfat (MgSO4) mempunyai efek analgetik dan sedatif dengan bekerja sebagai antagonis reseptor N-Methyl D-Aspartat (NMDA) dan menghambat saluran kalsium (Ca-channel blocker). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian MgSO4 untuk mengurangi penggunaan fentanil dan propofol intraoperatif. Penelitian dilakukan di Central Operating Theatre (COT) Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung sejak bulan Agustus−Oktober 2013 dengan uji klinis acak tersamar ganda pada 58 pasien yang menjalani histerektomi dengan anestesi umum. Pasien dibagi dalam 2 kelompok, masing-masing 29 orang. Kelompok MgSO4 mendapatkan MgSO4 30 mg/kgBB sebelum induksi anestesi dilanjutkan 10 mg/kgBB/jam sampai akhir operasi. Kelompok kontrol mendapatkan NaCl 0,9% dengan jumlah yang sama. Anestesi yang adekuat dinilai dengan patient response to surgical stimulus (PRST) dan bispectral index (BIS). Data hasil penelitian diuji dengan uji-t dan Uji Mann-Whitney. Hasil penelitian didapatkan bahwa dengan pemberian MgSO4 untuk mempertahankan nilai BIS 40−60 dan PRST 2−4 menggunakan fentanil dan propofol yang lebih sedikit dibanding dengan kelompok kontrol, dengan pebedaan sangat bermakna (p<0,01). Simpulan penelitian ini adalah pemakaian MgSO4 bisa mengurangi kebutuhan fentanil dan propofol intraoperatif
Perbandingan Efektivitas Pemberian Tropisetron 5 mg dan Ondansetron 8 mg untuk Mengurangi Efek Mual dan Muntah Pascaoperasi Ginekologis per Laparatomi: Tori Sepriwan, Zulkifli, Kusuma Harimin Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 3 (2014): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1846.569 KB)

Abstract

Salah satu efek samping pascaoperasi dengan anestesi umum adalah mual muntah. Obat 5-HT3 reseptor antagonis telah terbukti efektif mencegah terjadinya mual dan muntah pascaoperasi. Ondansetron merupakan 5-HT3 reseptor antagonis yang sering dipakai, namun memiliki efek samping nyeri kepala. Tropisetron merupakani obat alternatif untuk mencegah mual muntah pascaoperasi. Tujuan penelitian adalah membandingkan efektifitas pemberian tropisetron 5 mg dengan ondansetron 8 mg untuk mengurangi efek mual dan muntah pascaoperasi ginekologis per laparatomi. Uji klinik acak tersamar ganda dilakukan pada 66 pasien di bagi menjadi dua kelompok perlakuan, kelompok tropisetron dan kelompok ondansetron. Data hasil penelitian diuji secara statistik dengan uji t dan uji chi-kuadrat. dari data penelitian diperoleh hasil bahwa skor mual pada kelompok tropisetron berbeda bermakna dibanding kelompok ondansetron sebesar dengan p<0,05. Keluhan mual pada kelompok ondansetron yaitu sebanyak 21 subjek (63,6%) sedangkan pada kelompok tropisentron sebanyak 10 subjek (30,3%) berbeda bermakna dengan p<0,05. Tidak ada perbedaan bermakna pada kedua kelompok pada keluhan muntah dengan 2 subjek (6,1%) yang mengalami muntah. Simpulan penelitian ini adalah pemberian tropisetron 5 mg lebih efektif dibandingkan dengan ondansetron 8 mg untuk mengurangi efek mual dan muntah pascaoperasi ginekologis perlaparatomi.
Penatalaksanaan Anestesi pada Operasi Seksio Caesarea Pasien G4p3a0 dengan Trombositopenia, Presentasi Bokong Murni dan Bayi Besar: Dita Aryanti Prabandari, M. Erias Erlangga Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 3 (2014): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1810.657 KB)

Abstract

Trombositopenia adalah penurunan jumlah trombosit dibawah normal. Umumnya terjadi pada 7 ̶ 8% kehamilan. Trombositopenia dapat terjadi pada beberapa kondisi, beberapa diantaranya adalah kehamilan. Trombositopenia merupakan kelainan hemotologis umum kedua setelah anemia pada kehamilan. Perdarahan pada kasus obstetri berperan besar terhadap kematian ibu, yaitu sekitar 127.000 kematian setiap tahun di dunia. Perdarahan post partum merupakan mayoritas penyebabnya dan penyebab umum dari perdarahan post partum adalah gangguan koagulasi dan koagulopati. Seorang wanita, G4P3A0 parturien aterm kala I fase aktif, trombositopenia, presentasi bokong murni, TBBJ >3.500 gr direncanakan seksio caesarea (SC). Hasil laboratorium didapatkan Trombosit 7.000 mm3. Pemeriksaan didapatkan ekimosis di keempat extremitas. Penatalaksanaan anestesi pada pasien ini dilakukan dalam anestesi umum. Kondisi pasien pasca operasi, tidak didapatkan defisit neurologis maupun perdarahan aktif. Setelah diobservasi di ruang pemulihan, pasien dipindahkan ke ruang perawatan.
Koksidinia Kronis dengan Keterlibatan Sendi Facet: Hori Hariyanto, Corry Quando Yahya, Andi Husni Tantra Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 3 (2014): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1813.624 KB)

Abstract

Koksidinia atau nyeri tulang ekor merupakan sebuah kondisi yang sering dicetuskan oleh subluksasi atau fraktur tulang coccyx. Akibatnya, inflamasi kronis akan menimbulkan nyeri yang sangat hebat pada daerah tersebut. Pada laporan kasus ini, kami menemukan gangguan sendi facet dalam menimbulkan koksidinia kronis. Meskipun literatur menyarankan coccygectomy pada penanganan kasus koksidinia kronik, ada baiknya jika Facet Block dipikirkan sebagai alternatif pengobatan nyeri sebelum beralih pada pembedahan. Laporan kasus ini membahas koksidinia kronis pada pasien wanita berusia 25 tahun dengan riwayat trauma. Terapi Ganglion Impar Block dengan 96% alkohol gagal dalam menghilangkan rasa nyeri. Blok dilakukan lagi dengan menggunakan 96% alkohol, bupivakain 0.25% and Triamcinolone, namun nyeri masih tetap dirasakan. Pasien tetap merasakan sulit untuk berjalan akibat nyeri, maka Facet blok pada L2–L4 kanan dilukakan dengan Radio Frequency (RF). Terapi tersebut menyebabkan nyeri tulang ekor menghilang secara permanen. Kasus ini menunjukkan bahwa nyeri muskuloskeletal kronik tidak berdiri sendiri, nyeri akan menyebabkan gangguan mobilisasi yang mengakibatkan perubahan pada otot, ligamen dan sendi sekitarnya.
Sedasi dan Analgesia di Ruang Rawat Intensif: Reza Widianto Sudjud, Indriasari, Berlian Yulriyanita Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 3 (2014): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1898.694 KB)

Abstract

Pasien sakit kritis, khususnya yang mendapatkan ventilasi mekanik, seringkali mengalami nyeri dan kecemasan. Prinsip utama dari perawatan di ruang rawat intensif (ICU) adalah memberikan rasa nyaman sehingga pasien dapat mentoleransi lingkungan ICU yang tidak bersahabat. Pengelolaan sedasi dan analgesia yang adekuat dapat mempersingkat penggunaan ventilasi mekanik dan lama perawatan di ICU. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengatasi penyakit dasar dan faktor pencetus, menggunakan metode nonfarmakologi untuk meningkatkan rasa nyaman, pemberian terapi sedasi dan analgesia dengan memilih obat yang tepat, serta pemantauan secara rutin untuk menghindari terapi yang berlebihan dan berkepanjangan.
Penatalaksanaan Aspirasi Benda Asing pada Pasien Pediatrik: Caroline Wullur, Marsudi Rasman Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 3 (2014): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2004.931 KB)

Abstract

Aspirasi benda asing adalah kejadian yang sering terjadi terutama pada populasi anak-anak. Kejadian ini dapat membahayakan nyawa sehingga diperlukan tindakan ekstraksi benda asing tersebut dengan segera. Diagnosis pasti dapat terhambat terutama bila dari anamnesa tidak spesifik, ketika orang tua tidak mampu menyadari pentingnya gejala, atau bahkan ketika temuan klinis dan radiologis tidak spesifik atau terlewatkan oleh dokter. Aspirasi bahan organik dapat menyebabkan peradangan mukosa saluran napas berat. Jika bahan organik tidak segera diekstraksi, peradangan kronis akan menyebabkan terbentuknya jaringan granulasi di sekitar benda asing, yang pada akhirnya dapat menyebabkan infeksi paru-paru, baik pneumonia maupun abses. Pada kejadian aspirasi benda asing, tidak jarang pasien datang dengan komplikasi sekunder, seperti demam terus-menerus, “asma”, atau pneumonia berulang untuk waktu yang lama. Pada tulisan ini akan diulas mengenai kejadian aspirasi-benda asing, berbagai samaran klinisnya, tata laksana ekstraksi dan anestesi yang tersedia, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah aspirasi.

Page 3 of 32 | Total Record : 313