cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 313 Documents
Perbandingan Kadar Prostaglandin-E2 (PGE2) Setelah Pemberian Metamizol Intravena dengan Parasetamol Intravena pada Pasien Cedera Otak Sedang sampai Berat dengan Demam: Ajutor Donny Tandiarrang, Syafri K. Arif Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 2 (2014): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1697 KB)

Abstract

Metamizol intravena dan parasetamol intravena dapat menurunkan suhu tubuh pasien cedera otak sedang sampai berat dengan menghambat produksi PGE2 sebagai mediator demam. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pemberian metamizol intravena dengan parasetamol intravena terhadap kadar PGE2 plasma dalam menurunkan suhu tubuh pasien cedera otak sedang sampai berat dengan demam. Sampel penelitian adalah 44 pasien cedera otak sedang sampai berat dengan demam, dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok M (n=22) diberikan metamizol IV 15 mg/kgBB, sedangkan kelompok P (n=22) diberikan parasetamol 15 mg/kgBB. Analisis statistik dilakukan dengan Uji Mann U-Whitney dan Uji Pearson, dengan p<0,05 bermakna secara signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan suhu dan kadar PGE2 plasma yang bermakna pada kedua kelompok (p<0,05). Hasil Uji korelasi Person memperlihatkan bahwa semakin tinggi suhu semakin tinggi pula kadar PGE2 plasma. Metamizol intravena sama efektifnya dengan parasetamol dalam menurunkan suhu tubuh dan kadar PGE2 plasma pada pasien cedera otak sedang sampai berat dengan demam.
Efektivitas Penambahan Sufentanil 10 mg pada Anestesi Epidural 15 mL Levobupivakain 0,5% untuk Tindakan Operasi Ekstremitas Bawah: Ngurah Putu Werda Laksana, Zulkifli, Kusuma Harimin, Theodorus Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 2 (2014): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1694.453 KB)

Abstract

Walaupun memiliki profil keamanan yang lebih baik daripada racemic, levobupivakain tetap memiliki mula kerja lambat dan lama kerja terbatas. Kombinasi opioid lipofilik sufentanil-levobupivakain akan memberikan efek sinergistik sehingga memperbaiki kekurangan tersebut, tetapi masih sedikit penelitian yang menilai kombinasi ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai efektivitas penambahan sufentanil 10 μg pada anestesi epidural levobupivakain 0,5% 15 mL dalam hal mula dan lama kerja blokade sensorik-motorik. Uji klinik randomized control trial (RCT) telah dilakukan terhadap 44 pasien (dibagi 2 kelompok; kelompok I (sufentanil 10 μg), kelompok II (2 mL NaCl 0,9%)) yang menjalani operasi ekstremitas bawah dengan anestesi epidural levobupivakain 0,5% di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang dari bulan Mei–Agustus 2013 yang memenuhi kriteria inklusi. Dilakukan penelitian terhadap mula, lama kerja blokade sensorik-motorik. Analisis data menggunakan SPSS® versi 20.0. Mula dan lama kerja blokade sensorik kelompok sufentanil secara statistik lebih bermakna daripada kelompok NaCl (p<0,001), sedangkan mula dan lama kerja blokade motorik tidak memiliki perbedaan bermakna secara statistik. Penambahan sufentanil 10 μg pada anestesi epidural levobupivakain 0,5% 15 mL mempercepat mula dan memperpanjang durasi kerja blokade sensorik.
Penyebaran Zat Pewarna Metilen Biru di Ruang Paravertebral: Penelitian Blok Paravertebral Lumbal 4 Teknik Injeksi Satu Titik pada Kadaver: Pryambodho, Eric Prawiro, Aida Rosita Tantri, R. Besthadi Sukmono Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 2 (2014): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1698.775 KB)

Abstract

Blok paravertebral lumbal secara teori dapat dijadikan alternatif dari blok psoas dan dapat dilakukan secara blind/landmark-based. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran zat pewarna pasca injeksi 1 titik di ruang paravertebral L4 terkait area pleksus lumbalis. Penelitian menggunakan kadaver segar yang tidak dikenal. Pada semua kadaver dilakukan penyuntikan 30 mL zat pewarna metilen biru 1% pada injeksi 1 titik di ruang paravertebral L4 menggunakan jarum blok standar, kemudian dilakukan diseksi untuk mengetahui penyebaran zat pewarna tersebut. Penelitian ini mengikutsertakan 16 kadaver yang memenuhi syarat. Didapatkan penyebaran terjauh ke arah sefalad mencapai level L1 (6,25%) dengan rata-rata mencapai level L3 (50%). Penyebaran terjauh ke arah kaudad mencapai level S2 (12,5%) dengan rata-rata mencapai level L5 (56,25%). Penyebaran kontralateral sebanyak 18,75%. Penyebaran segmental paling sedikit sebanyak 2 segmen (6,25%), paling banyak sebanyak 5 segmen (12,5%), dan sebaran segmental terbanyak (43,75%) ialah sebanyak 4 segmen. Injeksi 1 titik 30 mL metilen biru 1% pada blok paravertebral L4 dapat mencapai area pleksus lumbalis. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui volume optimal serta lokasi injeksi teraman dan efektif untuk menghasilkan penyebaran yang lebih baik pada pleksus lumbalis maupun pleksus lumbosakral.
Perbandingan Kadar Kortisol dan Efek Analgesia Pascabedah Anestesi Spinal Kombinasi Bupivakain Hiperbarik 0,5% 8 mg dan Klonidin 30 μg dengan Bupivakain Hiperbarik 0,5% 8 mg dan Morfin 0,1 mg pada Pasien yang Menjalani Prosedur Seksio Sesaria: Hery Irawan, Wahyudi, Hisbullah Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 2 (2014): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1767.584 KB)

Abstract

Penurunan hormon kortisol pada masa intraoperatif dapat terjadi dengan menggunakan mekanisme penghambatan pada sistem saraf pusat. Anestesi spinal merupakan pilihan dalam mekanisme tersebut. Penelitian bertujuan untuk membandingkan kadar kortisol dan efek analgesia pascabedah pada anestesi spinal kombinasi Bupivakain hiperbarik 0,5% 8 mg+Klonidin 30 μg dan Bupivakain hiperbarik 0,5% 8 mg + morfin 0,1 mg pada seksio sesarea. Penelitian menggunakan uji klinis acak tersamar tunggal pada 50 pasien dengan kriteria inklusi, dibagi menjadi kelompok anestesi spinal kombinasi Bupivakain hiperbarik 0,5% 8 mg + Klonidin 30 μg (BK) n=25 dan kelompok kombinasi Bupivakain hiperbarik 0,5% 8 mg + morfin 0,1 mg (BM) n=25. Analisis statistik dengan Uji Mann-whitney dan uji-tes, dengan p<0,05 bermakna secara signifikan. Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok BM sama efektif dengan kelompok BK dalam mencegah peningkatan kadar kortisol intraoperatif. Efek analgesia pascabedah anestesi spinal kombinasi kelompok BM lebih baik dibandingkan dengan kombinasi BK. Efek samping diantara kedua kelompok dinyatakan tidak bermakna. Kesimpulan penelitian adalah kelompok BM sama efektif dengan kelompok BK dalam mencegah peningkatan kadar kortisol saat pembedahann namun e fek analgesia pascabedah anestesi spinal kombinasi kelompok BM lebih baik dibandingkan dengan kombinasi BK.
Perbandingan Kejadian Post Dural Puncture Headache pada Pasien Seksio Sesarea dengan Anestesi Spinal Menggunakan Teknik Median dan Paramedian: Rizki, Suwarman, Tatang Bisri Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 2 (2014): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1678.418 KB)

Abstract

Post dural puncture headache (PDPH) merupakan komplikasi iatrogenik anestesi spinal. Kebocoran liquor cerebro spinal (LCS) berpengaruh terhadap timbulnya PDPH. Berbagai faktor yang memengaruhi insidensi kejadian PDPH, meliputi jenis kelamin, usia, kehamilan, riwayat PDPH sebelumnya, ukuran dan bentuk jarum, arah jarum, jumlah percobaan tusukan, teknik penusukan median atau paramedian, dan keahlian ahli anestesi. Tujuan penelitian adalah membandingkan kejadian PDPH wanita hamil yang dilakukan seksio sesarea dengan anestesi spinal menggunakan teknik median dan paramedian di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung, periode Maret–April 2014. Penelitian ini dilakukan secara uji klinis acak terkontrol tersamar tunggal terhadap 44 pasien wanita hamil aterm dengan status fisik American Society of Anesthesiologists (ASA) I dan II yang menjalani seksio sesarea dengan anestesi spinal. Subjek dibagi menjadi dua, kelompok paramedian (P) dan kelompok median (M). Kelompok P dilakukan penusukan menggunakan teknik paramedian dan kelompok M menggunakan teknik median dengan m jarum spinal ukuran 25-gauge tipe Quincke. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan metode chi-kuadrat Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna pada kedua kelompok (p=0,351), terdapat 2 kejadian (9%) PDPH pada kelompok median (n=22) dan tidak ditemukan kejadian pada kelompok paramedian (n=22). Simpulan penelitian ini adalah tidak ada pengaruh teknik penusukan menggunakan teknik paramedian atau median terhadap kejadian PDPH pada wanita hamil yang dilakukan seksio sesarea
Efektivitas Pemberian Kombinasi Parasetamol 2 mg/kgBB dan Propofol Mct/Lct terhadap Pengurangan Nyeri Penyuntikan: Indra Fuyanto, Zulkifli, Agustina Br. Haloho, Theodorus Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 2 (2014): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1772.181 KB)

Abstract

Propofol adalah obat anestesi yang paling banyak digunakan dan sering menimbulkan nyeri saat penyuntikan. Nyeri ini menempati posisi ketiga kondisi yang tidak diinginkan. Ada 2 macam propofol yaitu propofol LCT dan propofol MCT/LCT. Parasetamol adalah obat analgetik yang aman untuk semua usia dan dapat mengurangi nyeri penyuntikan propofol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penambahan parasetamol 2 mg/kgBB terhadap pengurangan nyeri penyuntikan propofol. Uji klinik acak berbanding buta ganda dilakukan di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang pada bulan Februari–April 2014. Sampel 99 orang dan dibagi dalam tiga kelompok. Penelitian pada skor nyeri, rasa nyeri, dan kualitas nyeri menggunakan skor VAS. Analisis menggunakan uji-t, One Way Anova dan post hoc dengan program SPSS versi 20. Uji-t menunjukkan sampel penelitian bersifat homogen. Uji One Way Anova menunjukkan perbedaan skor nyeri, rasa nyeri dan kualitas nyeri antar ketiga kelompok perlakuan. Uji post hoc didapatkan kelompok P memiliki skor nyeri yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok L dan M secara bermakna. Kelompok P tidak memiliki perbedaan rasa nyeri dan kualitas nyeri yang bermakna dibandingkan dengan kelompok M. Penambahan parasetamol 2 mg/kgBB terbukti efektif mengurangi nyeri penyuntikan propofol.
Anestesi Epidural Thorakal pada Operasi Shapp Plate pada Pasien dengan Fraktur Kosta Tertutup Multipel: Dedy Fardian, Ristiawan Muji Laksono, Isngadi Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 2 (2014): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2388.986 KB)

Abstract

Teknik anestesi epidural thorakal banyak digunakan dengan atau tanpa anestesi umum pada operasi daerah thoraks, abdomen dan retroperitoneal. Penggunaan kombinasi dengan anestesi umum akan mengurangi kedalaman anestesi dan hemodinamik lebih stabil, serta pulih lebih cepat. Laporan kasus ini, wanita usia 65 tahun, dengan diagnosis fraktur tertutup costae 3–7 sebelah kanan yang menjalani operasi SHAPP klipping kosta dengan anestesi umum dikombinasi epidural thorakal. Status fisik pasien ASA 3 dengan geriatri, hipertensi terkontrol, iskemia anteroekstensif. Anestesi epidural dengan pendekatan median setinggi vertebra T7-8, teknik loss of resistance pada kedalaman 3,5 cm dan kateter sedalam 5 cm. Setelah test dose negatif, dilakukan intubasi endotrakeal. Bupivakain 0,25% 8 mL+fentanil 50 μg didiberikan ke dalam kateter epidural. Operasi berlangsung stabil dengan tingkat sedasi ringan anestesi inhalasi. Penatalaksanaan nyeri pascaoperasi dengan bupivakain 0,125%+morfin 1 mg total volume 8 mL, VAS score 0–1. Pada hari ke-4, kateter epidural dicabut diganti obat NSAID oral. Pasien dipulangkan pada hari ke-5. Anestesi epidural thorakal merupakan teknik anestesi yang mempunyai beberapa kelebihan efek analgesianya, efek perubahan hemodinamik minimal serta menurunkan risiko komplikasi pascaoperasi sehingga berperan utama dalam anestesi bedah thoraks pada geriatri termasuk penatalaksanaan nyeri pascaoperasinya.
Manajemen Anestesia pada Operasi Reseksi Malformasi Arteri Vena Otak: Desy Januarrifianto, Aino Nindya Auerkari, Riyadh Firdaus Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 2 (2014): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1819.968 KB)

Abstract

Malformasi arteri-vena otak, atau cerebral arteriovenous malformation (AVM) merupakan kondisi yang jarang, namun morbiditas neurologis dan mortalitasnya bermakna. Salah satu pilihan terapi untuk AVM adalah operasi reseksi dengan bedah mikro. Perhatian khusus untuk ahli anestesia pada operasi ini adalah upaya mencegah iskemia sekunder jaringan otak dengan mempertahankan hemodinamik stabil agar tekanan perfusi otak sedekat mungkin dengan nilai normal, mengupayakan agar tidak terjadi pembengkakan otak dan mengantisipasi perdarahan. Di laporan ini, kami menjabarkan manajemen anestesia pada laki-laki 22 tahun dengan AVM simtomatik yang menjalani operasi reseksi AVM pada tanggal 10 April 2012 di Instalasi Bedah Pusat RS dr. Cipto Mangunkusumo, dan mengalami perdarahan akibat ruptur arteri intraoperasi.
Sakit Kepala yang dihubungkan dengan Cedera Otak Traumatik: Dewi Yulianti Bisri, Tatang Bisri Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 2 (2014): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1695.485 KB)

Abstract

Sakit kepala adalah salah satu keluhan yang sering setelah cedera otak traumatik (COT) dan disebut sebagai “post-traumatic headache” sakit kepala pascatrauma. Berkisar 30–90% pasien mengalami sakit kepala setelah cedera. Sakit kepala setelah COT dapat berlangsung lama, datang dan hilang dalam waktu satu tahun, menyulitkan melakukan aktivitas sehari-hari, sulit berfikir dan mengingat sesuatu. Setelah cedera kepala berat, pasien mungkin mengalami sakit kepala akibat dari operasi pada tulang kepalanya atau masih adanya kumpulan kecil darah atau cairan di ruang intrakranial. Sakit kepala bisa setelah cedera kepala ringan, sedang dan berat. Sakit kepala ini dapat disebabkan berbagai kondisi antara lain perubahan dalam otak akibat cedera, cedera leher dan tulang kepala yang belum pulih seluruhnya, tegangan dan stres, atau efek samping pengobatan. Ada beberapa tipe sakit kepala antara lain sakit kepala tipe migraine, tension, cervicogenic, dan rebound. Terapi dapat dilakukan dengan merubah pola hidup misalnya harus cukup tidur, olah raga, hindari kopi, hindari makanan tertentu yang memicu sakit kepala seperti anggur (red wine), monosodium glutamat, keju dan terapi obat-obatan misalnya asetaminophen, gabapentin, antidepresant. Akan tetapi, lebih utama adalah pencegahan dengan cara menghindari cedera otak primer, dan apabila terjadi cedera otak primer sebaiknya menghindari dan mengobati cedera otak sekunder dengan pengelolaan perioperatif yang tepat.
Manajemen Emboli Paru di Intensive Care Unit (ICU): Ike Sri Redjeki, Wijanarko Satrio Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 2 (2014): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.948 KB)

Abstract

Emboli paru merupakan komplikasi utama tromboemboli vena (VTE). Emboli paru termasuk dalam kegawatan kardiovaskular. Tersumbatnya pembuluh darah arterial paru dapat mengancam kehidupan disertai kegagalan ventrikel kanan yang dapat reversibel. Diagnosis (PE) yaitu adanya gejala umum dan tanda-tanda klinis seperti hipoksia, takipnea, dan takikardia. Di ICU, sebagian besar pasien memerlukan sedasi dan ventilasi mekanis sehingga manifestasi klinis tidak khas dan biasanya atipikal. Baku emas diagnosis PE adalah ditemukannya sumbatan pada angiografi paru. Diagnosis dan tatalaksana suportif menjadi sangat penting mengingat mortalitasnya yang tinggi. Oksigenasi, intubasi, dan ventilasi mekanik diperlukan untuk kegagalan pernafasan. Terapi vasopressor harus dipertimbangkan jika tekanan darah masih rendah. Terapi antikoagulan memainkan peran penting dalam pengelolaan pasien PE. Heparin dan low molecular weight heparin dapat diberi di awal. Pada kasus yang berat mungkin memerlukan trombolisis dengan obat-obatan seperti tissue plasminogen activator (tPA) atau mungkin memerlukan intervensi bedah melalui thrombectomy paru.

Page 2 of 32 | Total Record : 313