cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 324 Documents
The Accuracy of Yoon’s Formula for Predicting Central Venous Catheter Depth in Indonesian Pediatric CHD Patients: A Cross Sectional Study Meidisa Akhmad, Adinda; Soenarto, Ratna Farida; Heriwardito, Aldy; Nathania, Eloisa
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 1 (2025): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i1.419

Abstract

Introduction: A central venous catheter is a routinely inserted tool by anesthesiologists in open-heart surgery. However, incorrect central venous catheter placement depth may lead to complications or suboptimal usage. Yoon’s research in 2006 was done in paediatrics with congenital heart disease in Asia and developed a prediction formula for the depth of central venous catheter. This study aims to prove if Yoon’s formula can be applied to pediatric patients with congenital heart disease in Indonesia. Methods: This analytic observational study, with a cross-sectional design, involved 38 patients undergoing open-heart surgery in RSCM. Yoon’s formula determines the depth of central venous catheter placement. Transesophageal echocardiography assessed the position of the tip of the central venous catheter from the cavoatrial junction to confirm the depth’s accuracy. Results: Yoon’s formula can predict the optimal depth of the central vein catheter 63.16% of the time. There was no complication before central venous catheter placement. This study is limited to right internal jugular vein placements, reducing its generalizability to other insertion sites. Further research with a larger sample and varied approaches is needed to enhance accuracy and develop a more suitable formula. Conclusion: Yoon’s formula is inappropriate for predicting the depth of central vein catheters in pediatric patients with congenital heart disease in Indonesia, but it can still be applied clinically.
Strategi Evakuasi pada Kebakaran di Unit Perawatan Intensif di Indonesia Purnomo, Ika Cahyo; Prasamya, Erlangga; Adiyanto, Bowo
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 1 (2025): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i1.425

Abstract

Latar Belakang: Intensive Care Unit (ICU) merupakan unit di mana pasien dengan penyakit kritis dirawat di rumah sakit. Kebakaran di ICU berpotensi menimbulkan ancaman signifikan terhadap keselamatan pasien dan petugas karena kondisi kritis pasien dan kompleksitas peralatan medis yang digunakan. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengkaji strategi evakuasi ICU yang efektif selama keadaan darurat kebakaran. Metode: Pencarian terhadap artikel ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2000 dan 2024, yang membahas protokol, tantangan, dan keluaran evakuasi ICU pada bencana kebakaran melalui Google Scholar dan Pubmed. Hasil pencarian dibandingkan dengan peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia dan dianalisis secara kualitatif untuk mendapatkan strategi yang mampu laksana di Indonesia. Hasil: Berbagai komponen diperlukan untuk strategi evakuasi kebakaran ICU yang efektif. Pendekatan strategi evakuasi kebakaran di ICU dimulai dari perencanaan respons bencana, pembuatan protokol, koordinasi dan komunikasi, pelatihan dan simulasi, serta perbaikan berkelanjutan terhadap protokol. Berdasarkan literatur yang ada dan peraturan perundangan yang berlaku, kami menyusun suatu strategi pendekatan komprehensif untuk evakuasi ICU pada bencana kebakaran di Indonesia. Simpulan: Keberhasilan evakuasi pasien di ICU memerlukan strategi multi-aspek yang disusun berdasarkan kesiapan fasilitas, kompetensi staf, penerapan protokol yang efektif, serta evaluasi berkelanjutan melalui simulasi dan analisis pasca evakuasi.
Telaah Sistematis Terhadap Analisis Penggunaan Algoritma Machine Learning untuk Acute Kidney Injury pada Pasien dengan Infark Miokard Cindryani Ra Ratumasa, Marilaeta; Suryana, I Ketut; Senapathi, Tjokorda Gde Agung; Hadiwijono, Vanessa Juventia
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 1 (2025): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i1.432

Abstract

Acute kidney injury (AKI) merupakan kondisi yang umum terjadi dan memiliki kontribusi terhadap morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada pasien yang mengalami infark miokard. Identifikasi dini dan intervensi yang tepat pada pasien berisiko AKI sangat penting, terutama dalam konteks prosedur kardiovaskular seperti angiografi koroner dan bedah jantung. Machine learning (ML) tentunya berpotensi besar dalam mendukung deteksi dini AKI pada pasien dengan cedera miokard. Oleh karena itu, telaah sistematis ini bertujuan untuk menganalisis studi-studi terkini mengenai penggunaan machine learning untuk deteksi dini AKI pada pasien yang mengalami infark miokard dalam konteks angiografi koroner hingga bedah jantung. Dengan memahami peran teknologi ini, diharapkan dapat ditemukan cara-cara baru untuk meningkatkan deteksi dan pengelolaan AKI, serta mengurangi komplikasi yang terkait dengan cedera ginjal pada pasien kardiovaskular. Tinjauan sistematis ini dibuat berdasarkan dari panduan Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA). Basis data didapatkan dari Pubmed, Cochrane Central (Wiley), Embase (Elsevier), serta ClinicalTrials.gov menggunakan operator Boolean AND dan OR dimana dibatasi pencarian dari tahun 2014-2024. Penilaian kualitas studi menggunakan skor QUADAS. Teknologi machine learning dan AI menawarkan alat yang menjanjikan untuk meningkatkan akurasi prediksi, memungkinkan pengawasan yang lebih baik, dan intervensi yang lebih tepat waktu. Namun, beragam jenis algoritma dengan pendekatan yang berbeda dilibatkan dalam studi ini.Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengintegrasikan teknologi ini ke dalam praktik klinis sehari-hari dan meningkatkan penanganan pasien dengan risiko tinggi AKI.
Anestesia Bedah Oftalmologi: Peran Anestesia Regional Nindya Auerkari, Aino
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 1 (2025): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i1.438

Abstract

Kemajuan teknologi bedah oftalmologi memungkinkan banyak prosedur dilakukan secara one-day care. Seiring dengan meningkatnya populasi lanjut usia dan bayi prematur, permintaan akan teknik anestesia yang lebih aman dan minim efek sistemik terus bertambah. Hal ini menuntut spesialis anestesiologi untuk terus menyempurnakan teknik anestesia, dengan mempertimbangkan kebutuhan pasien, kondisi pembedahan, dan preferensi operator. Pilihan anestesia untuk bedah mata mencakup anestesia topikal, regional, sedasi, umum, atau kombinasi. Anestesia lokoregional banyak digunakan karena prosedur oftalmologi umumnya singkat dan bersifat ambulatori, memungkinkan pemulihan cepat. Teknik ini juga bermanfaat bagi pasien berisiko tinggi dan tidak memerlukan puasa. Beberapa teknik lokoregional yang digunakan antara lain blok retrobulbar, peribulbar, dan subtenon. Blok retrobulbar mulai ditinggalkan karena risiko komplikasi yang lebih tinggi, sementara blok peribulbar dan subtenon lebih disukai karena efektivitas dan keamanannya. Blok subtenon menggunakan kanula tumpul, mengurangi risiko perforasi bola mata dan toksisitas obat. Teknik ini lebih aman bagi pasien dengan terapi antikoagulan, meskipun dapat menyebabkan perdarahan subkonjungtiva atau kemosis. Studi terbaru menunjukkan superioritas blok subtenon dibandingkan peribulbar dalam pembedahan vitreoretina, meskipun adopsi teknik ini masih menghadapi tantangan. Kurangnya familiaritas, hambatan operasional, dan biaya alat menjadi kendala utama. Di Indonesia, perkembangan anestesia oftalmik semakin pesat, didukung oleh PERDATIN dan peningkatan pelatihan serta penelitian. Pemahaman mendalam mengenai berbagai teknik anestesia sangat penting agar anestesiolog dapat memilih metode yang optimal bagi setiap pasien, meningkatkan efisiensi layanan, dan menjamin keselamatan pasien bedah mata.
Hubungan Mean Platelet Volume dengan Skor Sequential Organ Failure Assessment pada Pasien Sepsis Nasution, Putra Fajar; Primaputra Lubis, Andriamuri; Hanafie, Achsanuddin
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.344

Abstract

Latar Belakang: Sepsis adalah suatu disfungsi organ yang mengancam jiwa yang disebabkan oleh kelainan regulasi respon host terhadap infeksi. Skor Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) digunakan untuk menilai tingkat keparahan penyakit berdasarkan derajat disfungsi organ secara serial. Mean platelet volume (MPV) adalah salah satu parameter trombosit di mana trombosit turut berperan dalam proses inflamasi penyakit infeksi akut dan kronis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan Nilai MPV dengan skor SOFA pada pasien sepsis.Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional dengan metode pengumpulan data secara kohort – prospective. Pengambilan sampel dilakukan secara konsekutif terhadap pasien penderita sepsis di ICU yang memenuhi kriteria penelitian. Analisis korelasi nilai MPV dengan skor SOFA pada pasien sepsis menggunakan uji korelasi Pearson. Semua uji statistik dengan nilai p < 0,05 dianggap bermakna.Hasil: Hasil penelitian didapatkan rerata nilai MPV H1 sebesar 9,20± 1,72 dengan skor SOFA H1 sebesar 7,81 ± 2,66. Hasil analisis statistik menunjukkan nilai r > 0,522 dengan nilai p<0,002. Rerata nilai MPV H3 sebesar 9,47±1,39 dengan skor SOFA H3 sebesar 7,96 ± 2,49. Hasil analisis statistik menunjukkan nilai r > 0,441 dengan nilai p <0,010. Temuan ini mengartikan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara MPV dengan skor SOFA dengan kekuatan korelasi yang kuat.Simpulan: Terdapat peningkatan nilai MPV pada pasien sepsis seiring dengan peningkatan skor SOFA, serta ditemukan hubungan nilai MPV dengan skor SOFA pada pasien sepsis baik di hari pertama maupun hari ketiga.
Perbandingan Efektivitas Pemberian Antibiotik Empiris Ceftriaxone dan Levofloxacin pada Pasien Sepsis dengan Community Acquired Pneumonia (CAP) di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2020-2022 Siregar, Ahmad Habibi; Lubis, Bastian; Solihat, Yutu
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.380

Abstract

Latar Belakang: Sekitar 40-50% pasien yang dirawat di ICU dengan sepsis menunjukkan sumber infeksi pernapasan. Community acquired pneumonia (CAP) merupakan penyebab paling umum dari sepsis pada banyak kasus yang dilaporkan. Pemberian terapi antibiotik empiris yang tepat pada sepsis adalah salah satu faktor yang paling penting untuk outcome yang lebih baik dari pasien sepsis dengan CAP. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan efektivitas levofloxacin dan ceftriaxone pada terapi antibiotik empiris karena kedua obat ini merupakan obat yang paling sering digunakan sebagai terapi empiris sesuai pola kuman dan kepekaannya terhadap antibiotik di RSUP H. Adam Malik Medan.Metode: Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan sumber data sekunder yang diperoleh dari rekam medis di RSUP H. Adam Malik Medan periode tahun 2020-2022. Populasi penelitian adalah semua pasien sepsis dengan CAP yang menjalani perawatan di RSUP H. Adam Malik. Pemilihan sampel berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi.Hasil: Tidak dijumpai adanya perbedaan nilai mortalitas subjek penelitian yang menggunakan levofloxacin dan ceftriaxone dengan p value 0,107. Tidak ada perbedaan yang signifikan pada lama rawatan antara kelompok pemberian antibiotik levofloxacin dan ceftriaxone dengan p value 0,90.Simpulan: Tidak terdapat perbedaan signifikan antara efektivitas penggunaan levofloxacin dan ceftriaxone terhadap pasien sepsis dengan CAP di RSUP H. Adam Malik.
Pengaruh Amlodipin sebagai Adjuvan Analgetik terhadap Kadar IL-6, Konsumsi Opioid, dan Skor Nyeri Pascabedah pada Operasi Timpanomastoidektomi Hasmirah; Wirawan, Nur Surya; Datu, Madonna D.; Bahar, Burhanuddin; Tanra, Andi Husni; Nurdin, Haizah; Irwan, Andi Alamsyah
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.383

Abstract

Latar Belakang: Opioid merupakan agen antinosiseptif yang paling efektif untuk mengatasi nyeri pascabedah, tetatpi penggunaannya dapat menimbulkan efek samping. Adjuvan diberikan untuk meningkatkan efek analgetik dan meminimalkan konsumsi opioid sehingga mengurangi efek samping opioid. Penghambat kanal kalsium (CCB) seperti amlodipin dapat digunakan sebagai adjuvan karena dapat mengurangi sinyal nyeri dengan cara yang berbeda dari opioid. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh amlodipin terhadap kadar IL-6, konsumsi opioid, dan skor nyeri setelah operasi timpanomastoidektomi. Metode: Penelitian ini adalah uji klinis acak tersamar tunggal yang dilakukan di RSUP Wahidin Sudirohusodo, RS Universitas Hasanuddin, dan rumah sakit jejaringnya. Sampel terdiri dari pasien yang menjalani operasi timpanomastoidektomi, yang dibagi secara acak menjadi dua kelompok: kelompok I (amlodipin) dan kelompok II (plasebo). Data yang dicatat meliputi konsumsi opioid, efek samping pascaoperasi, kadar IL-6, tekanan darah, denyut nadi, dan nyeri. Hasil: TTerdapat perbedaan signifikan pada skor VAS 6 jam setelah operasi, dengan skor lebih rendah di kelompok I. Tidak ada pasien yang membutuhkan opioid tambahan. Rerata tekanan arteri juga berbeda bermakna, lebih rendah pada kelompok I selama periode pengamatan. Kadar IL-6 lebih tinggi di kelompok II pada 6 dan 24 jam pascaoperasi. Terdapat perbedaan signifikan antara kelompok pada perubahan kadar IL-6 dari T6 ke T24 dan dari T0 ke T24. Ditemukan korelasi lemah antara kadar IL-6 dan skor VAS pada 6 dan 24 jam, dengan nilai r masing-masing 0,373 dan 0,401. Simpulan: Amlodipin dapat digunakan sebagai adjuvan analgetik karena dapat menurunkan skor nyeri pascabedah dan konsumsi opioid.
Perbandingan Pemberian Injeksi Vitamin D dan Tiamin terhadap Kadar Prokalsitonin pada Pasien Sepsis di ICU RSUP H. Adam Malik Lubis, Bastian; Aulia Kamal Ansari; Muhammad Ihsan; Yuki Yunanda
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.399

Abstract

Pendahuluan: Sepsis merupakan sindrom respons inflamasi sistemik yang disebabkan oleh infeksi. Kadar prokalsitonin sering digunakan sebagai biomarker untuk menilai keparahan dan respons terapi. Vitamin D dan tiamin diketahui memiliki efek imunomodulator yang dapat berperan dalam menurunkan inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian vitamin D dan tiamin terhadap penurunan kadar prokalsitonin pada pasien sepsis yang dirawat di ICU RSUP H. Adam Malik Medan. Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis dengan desain kuasi-eksperimental. Sebanyak 30 pasien sepsis yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dibagi menjadi dua kelompok secara acak, tiap kelompok terdiri dari 15 orang. Satu kelompok mendapatkan vitamin D dan kelompok lainnya mendapat tiamin. Kadar prokalsitonin diukur pada hari pertama (H-1) dan hari ketiga (H-3). Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil: Rerata kadar prokalsitonin pada kelompok vitamin D menurun secara signifikan dari 17,1 ± 17,6 ng/mL pada H-1 menjadi 12,4 ± 10,6 ng/mL pada H-3 (p=0,025). Pada kelompok tiamin, kadar prokalsitonin juga menurun dari 26,3 ± 33,7 ng/mL menjadi 20,6 ± 31,1 ng/mL, namun tidak signifikan secara statistik (p=0,112). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok pada H-1 maupun H-3 (masing-masing p=0,576 dan p=0,575). Simpulan: Pemberian vitamin D menunjukkan efektivitas yang lebih baik dalam menurunkan kadar prokalsitonin dibandingkan tiamin pada pasien sepsis di ICU, meskipun tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok. Vitamin D berpotensi menjadi terapi adjuvan dalam penatalaksanaan sepsis.
Perbandingan Efektivitas Kombinasi Ketamin dan Bupivakain terhadap Bupivakain Tunggal pada Anestesi Spinal Kanugrahan, Dicko; Tasrif Hamdi; Rommy Fransiskus Nadeak
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.405

Abstract

Latar Belakang: Anestesi spinal memblok saraf di ruang subarakhnoid menggunakan obat anestetik lokal. Durasi anestesi lokal diperpanjang dengan menambahkan adjuvan seperti ketamin. Ketamin dapat mempercepat mula kerja dan mengurangi dosis obat anestesi lokal yang diperlukan. Metode: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan efektivitas kombinasi ketamin 10 mg dan bupivakain 0,5% 15mg dengan bupivakain 0,5% 15mg pada anestesi spinal, dengan menggunakan desain Randomized Clinical Trial dengan double blind. Sampel dibagi menjadi: kelompok A (adjuvan ketamin) mendapatkan Bupivakain hiperbarik 0,5% 15mg dengan adjuvan Ketamin 10mg dan kelompok B (Bupivakain) mendapatkan Bupivakain 0,5% 15mg. Data dianalisis dengan uji T tidak berpasangan atau uji Mann-Whitney. Hasil: Terdapat 54 sampel dengan distribusi 27 sampel pada setiap kelompok. Terdapat perbedaan yang signifikan pada onset sensorik dan motorik (p<0,001) serta durasi sensorik, motorik, dan analgesia (p<0,001) antara kelompok A dan B. Tidak dijumpai perbedaan pada TDS (p=0,483), TDD (p=0,710), HR (p=0,505), RR (p=0,328), dan SpO2 (p=0,290) pada pemeriksaan awal (T0). Pada pemeriksaan menit ke-5 (T1), didapati perbedaan signifikan TDS dan HR (p<0,001), namun tidak pada TDD (p=0,169), RR (p=0,842), dan SpO2 (p=0,142). Pada pemeriksaan menit ke-10 (T2), didapati perbedaan signifikan TDS, TDD, dan HR (p<0,001), namun tidak pada RR (p=0,898), dan SpO2 (p=0,423). Diketahui efek samping dijumpai lebih banyak pada kelompok B (n=28), dengan kejadian efek samping terbanyak adalah hipotensi, sedangkan pada kelompok A (n=8) kejadian efek samping terbanyak adalah sedasi. Simpulan: Kombinasi ketamin 10 mg dengan bupivakain 15 mg lebih baik daripada bupivakain 15 mg tunggal untuk anestesi spinal bedah ekstremitas bawah dalam hal onset, durasi, dan hemodinamik.
Perbandingan Efektivitas Phenylephrine sebagai Pencegahan Spinal Anesthesia-Induced Hypotension pada Pasien Seksio Sesarea Thibri, Muhibbut; Wijaya, Dadik Wahyu; Bisono, Luwih
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.407

Abstract

Latar Belakang: Spinal anesthesia-induced hypotension (SAIH) adalah respons fisiologis selama seksio sesarea dengan anestesi spinal berkontribusi terhadap mual, muntah, pusing, dan bahkan kolaps kardiovaskular pada ibu. Phenylephrine adalah agonis-reseptor-α-adrenergik telah dikaitkan pencegahan hipotensi maternal dan variabilitas tekanan darah. Dengan dosis yang tepat dapat mengurangi resiko hipotensi dan mempertahankan aliran uteroplasenta sehingga mengurangi resiko efek samping hipotensi pada ibu dan neonatal.Metode: Penelitian ini menggunakan desain randomized clinical trial dengan double blind. Sampel dibagi berdasarkan dosis phenylephrine: kelompok 1 (50μg), kelompok 2 (75μg), dan kelompok 3 (100μg). Data akan dianalisis uji Annova atau uji Kruskal Wallis. Kemudian dilakukan uji post hoc untuk melihat perbedaan antar kelompok.Hasil: Terdapat 47 sampel dengan distribusi 16 sampel kelompok 1, 16 sampel kelompok 2, dan 15 sampel kelompok 3. Pada analisis variabel usia, tinggi badan, berat badan, dan IMT diketahui tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antar kelompok perlakuan (p=0,950, p=0,468, p=0,763, dan p=0,647). Didapati bahwa data tekanan darah sistolik dan diastolik memiliki perbedaan yang signifikan pada pengukuran T1 (p=0,020 dan p=0,004) dan T2 (p=0,018 dan p=0,046). Didapati bahwa data MAP memiliki perbedaan yang signifikan pada pengukuran T1 (p=0,004), T2 (p=0,046), dan T6 (0,035). Didapati bahwa data nadi pada pengukuran T5 (p=0,017) memiliki perbedaan yang signifikan.Simpulan: Dalam penelitian ini ditemukan dosis phenylephrine yang paling efektif dalam mencegah kejadian SAIH secara klinis adalah dosis 75 μg, 50 μg, dan 100 μg.