cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 313 Documents
Environmental Factors as Contributors to Sleep Disturbance in Critically Ill Patients in Intensive Care Units (ICU): A Descriptive Study Rustam, Junaidy Suparman; Chaidir, Reny
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 3 (2024): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i3.342

Abstract

Background: Sleep disturbance is a common problem among critically ill patients in the ICU and can significantly affect their overall experience of care. This study aims to study the experience of sleep disturbance in critically ill patients in the ICU. Methods: This study was conducted in a public hospital in West Sumatra, Indonesia from June to August 2022, using a descriptive approach and focusing on a population of critically ill patients admitted to the ICU. The sample size of 80 participants was determined using power analysis from previous studies, and sampling was done using purposive technique based on inclusion criteria. Results: The results of this study showed that 37.5% of participants reported experiencing sleep disturbances while being treated in the ICU. This demonstrates the prevalence of problems experienced by critically ill patients and highlights the need for targeted interventions to address them. It is imperative for healthcare providers to recognize the impact of sleep disturbances on patient health and recovery and implement strategies to reduce their impact. Conclusion: This study showed a significant prevalence of sleep disturbance among critically ill patients in the ICU. This underscores the importance of proactive measures to address this issue and emphasizes the role of healthcare facilities in providing support and education to individuals affected by sleep disturbance. Further research and appropriate interventions need to be conducted to improve the sleep quality of critically ill patients in the ICU contributing to better overall outcomes and quality of care in the ICU.
Efektivitas Morfin 2 mg dan Kombinasi Morfin 2 mg dengan Ropivakain 5 mg terhadap Numeric Rating Scale (NRS) pada Pasien Pascaoperasi di Bawah Umbilikus: Uji Klinis Tersamar Ganda Febrina Isnaini; Hanafie, Achsanudin; Wijaya, Dadik Wahyu
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 3 (2024): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i3.354

Abstract

Latar Belakang: Manajemen nyeri pascaoperasi merupakan salah satu komponen terpenting dari perawatan pasien pasca operasi. Salah satu strategi untuk memberikan analgesia pasca operasi yang efektif dan untuk mengurangi efek samping yang tidak diinginkan adalah penggunaan kombinasi anestesi lokal dengan morfin epidural. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas analgesia antara pemberian 2 mg morfin dan kombinasi morfin 2 mg dengan ropivakain 5 mg melalui kateter epidural dalam mengurangi nyeri pascaoperasi pada pasien yang menjalani operasi abdomen dan ekstremitas bawah. Metode: Penelitian ini merupakan randomized clinical trial dengan metode double blind. Dua puluh empat sampel penelitian yang menjalani operasi abdomen dan ekstremitas bawah dengan teknik anestesi epidural dibagi secara acak menjadi dua kelompok. Analgesia epidural diberikan dengan 2 mg morfin dengan NaCl 0,9 % pada kelompok R1, dan kombinasi analgesia epidural 2 mg morfin + 5 mg ropivakain diberikan pada kelompok R2. Nilai NRS didokumentasikan pada jam ke 4 (T1) dan 8 jam (T2). Selain itu juga dicatat parameter hemodinamik, kejadian PONV, dan blok motorik. Hasil: Nilai NRS-R1 T1 memiliki nilai mean 0,33 ± SD. NRS-R1 T2 dengan nilai mean ± SD 1±0,85. Nilai NRS-R2 T1 memiliki nilai mean ± SD 0±0. Nilai NRS-R2 T2 memiliki nilai mean ± SD 0,41±0,51. Kejadian hipotensi (SBP <90mmHg) tidak diamati pada kedua grup. Terdapat kejadian PONV lebih tinggi pada kelompok pemberian morfin 2 mg + NaCl 0,9% pada T1 dan T2 namun tidak bermakna secara statistik, dan kejadian blok motorik pada kelompok morfin 2 mg dengan ropivakain 0,2% lebih banyak pada T1 namun tidak bermakna secara statistik. Simpulan: Penggunaan anestesi epidural 2 mg morfin + 5 mg ropivakain lebih superior dibandingkan pemberian 2 mg morfin dengan NaCl 0,9 % dalam mengurasi NRS pascaoperasi.
Hubungan Konsentrasi Levobupivakain Isobarik 0,0625%, 0,125%, dan 0,25% pada Blok Fascia Iliaca Terhadap Skor Nyeri dan Rescue Analgesia Satya Nugraha, Eva; Salahuddin, Andi; Datu, Madonna Damayanthie; Gaus, Syafruddin; Ratnawati; Nurdin, Haizah
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 3 (2024): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i3.357

Abstract

Latar Belakang: Fraktur femur terbuka dapat ditangani dengan tindakan Open Reduction Internal Fixation (ORIF). Dibutuhkan analgesia yang adekuat pada periode pascabedah untuk efektivitas rehabilitasi dan mencegah komplikasi. Intervensi blok kompartemen fascia iliaca dapat dilakukan untuk manajemen nyeri pascabedah pada pasien operasi ORIF femur. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan konsentrasi obat levobupivakain isobarik 0,0625%, 0,125% dan 0,25% pada blok fascia iliaca terhadap skor nyeri dan kebutuhan rescue analgesia pascabedah. Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimental, dengan rancangan acak tersamar ganda pada pasien ortopedi yang menjalani ORIF dengan metode consecutive sampling. Data yang diambil adalah skor nyeri pascabedah pada jam ke-4, 8, 12 dan 24 setelah blok fascia iliaca dengan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), serta jumlah kejadian pemberian rescue analgesia dalam 24 jam pascabedah. Uji normalitas data menggunakan tes Kolmogorov-Smirnov. Hasil: Pada 4 jam setelah tindakan blok fascia iliaca tidak ditemukan perbedaan pada ketiga kelompok. Terdapat perbedaan NRS yang signifikan pada jam ke 8 dengan nilai p= 0,037, serta pada jam ke-12 dan 24 jika dibandingkan pada ketiga jenis konsentrasi levobupivakain dengan nilai p < 0,001. Tidak terdapat perbedaan jumlah kejadian rescue analgesia yang signifikan jika dibandingkan pada ketiga jenis konsentrasi levobupivakain dengan nilai p = 0,111. Simpulan: Blok fascia iliaca dapat digunakan sebagai salah satu manajemen analgesia multimodal pada ORIF femur. Skor nyeri dan kebutuhan rescue analgesia lebih rendah pada kelompok levobupivakain 0,125% dan 0,25% dibandingkan 0,0625%.
Gambaran Komplikasi Percutaneous Dilatational Tracheostomy pada Pasien Kritis di Intensive Care Unit (ICU) RSUP H. Adam Malik Medan Thibri, Muhibbut; Muhammad Ihsan; Lubis, Bastian
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 3 (2024): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i3.368

Abstract

Latar belakang: Percutaneous dilatational tracheostomy (PDT) diindikasikan pada kegagalan ekstubasi, obstruksi jalan napas bagian atas, proteksi jalan napas, akses pembuangan sekresi napas serta untuk menghindari cedera orofaring dan laring yang serius akibat intubasi translaring yang berkepanjangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan bagaimana komplikasi yang dapat terjadi pada prosedur PDT. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan metode cross-sectional. Setelah diperoleh persetujuan dari Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara, dilakukan pengambilan sampel berupa rekam medis seluruh pasien kritis yang menjalani trakeostomi di ICU RSUP H. Adam Malik pada bulan Januari hingga Desember 2022. Hasil: Dari total 37 pasien, perempuan (54%) lebih banyak dibandingkan laki-laki (46%). Pasien terbanyak berada pada rentang usia 40-60 tahun (43%). Diagnosis paling umum adalah masalah endokrin (26%), diikuti masalah pernapasan (21%), sementara masalah gastrointestinal (3%) adalah yang paling jarang di ICU. Indikasi trakeostomi terbanyak adalah gagal weaning ventilator (23 pasien), sedangkan yang paling sedikit adalah Obstruksi Saluran Nafas Atas (OSNA) dengan 1 pasien. Sebagian besar trakeostomi dilakukan setelah lebih dari 7 hari perawatan di ICU (84%). Mayoritas trakeostomi pada pasien kritis di ICU RSUP H. Adam Malik dilakukan tanpa bantuan bronkoskopi. Komplikasi yang dialami pasien trakeostomi di ICU mencakup perdarahan ringan, emfisema subkutis, infeksi terlokalisir, dan cedera trakea. Simpulan: Indikasi trakeostomi terbanyak adalah gagal weaning dan dilakukan dalam waktu rawatan lebih dari 7 hari. Komplikasi yang terjadi adalah perdarahan ringan, emfisema subkutis, infeksi terlokalisir, dan cedera trakea.
Neuroanesthesia Management of Complex Meningioma Case: A Comprehensive Approach for Minimizing Edema and Bleeding Krisnayanti, Ida Ayu Arie; Suarjaya, I Putu Pramana; Juwita, Nova; Adhi Putra, Hendrikus Gede Surya
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 3 (2024): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i3.378

Abstract

Introduction: Meningioma is an extra-axial tumor originating from the arachnoid membrane cells. Most meningiomas are benign, circumscribed, slow growing and can be treated surgically according to the location of the lesion. The three main symptoms are headache, altered mental status and paralysis. Case Illustration: This case report discusses about A 41-year-old female patient came in conscious condition complaining of head pain that had been complaining since 2 years ago accompanied by complaints of nausea, vomiting and tonic-clonic seizures which were complained of 1 day before surgery. MRI examination of the brain with contrast, suggest a solid mass stinging firm contrast, dural tail is present, accompanied by perifocal edema measuring 4 x 4.1 x 4 cm in the right sphenoid wing urging the brainstem and midline to the left as far as 0.6 cm, depressing the optic chiasma and extending to the cavernous sinus tract right optic view shows a meningioma. The patient was managed under general anesthesia and lumbar drainage to reduce perioperative intracranial pressure. Conclusion: Various neuroanesthesia approaches including patient positioning, optimal neuroanesthesia management are needed so that oedema and bleeding from surgery can be minimized.
Potensi Terapi Stem Cell pada Neuropati Optik Wahyuni, Devi Azri; Legiran
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 3 (2024): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i3.386

Abstract

Stem cell merupakan sel yang memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi dan regenerasi melalui pembelahan sel maupun stimulasi faktor perkembangan suatu jaringan. Neuropati optik merupakan sekumpulan gangguan dengan kelainan dan disfungsi saraf optik yang dapat bersifat primer maupun sekunder. Neuropati optik dapat mengurangi kualitas hidup penderitanya karena menyebabkan defek penglihatan yang mayoritas bersifat ireversibel. Terapi penggantian sel dan efek neuroprotektif adult stem cell telah diteliti untuk mengurangi hilangnya retinal ganglion cell (RGC) dan aksonnya serta meningkatkan kelangsungan hidup RGC dan regenerasi aksonal. Tinjauan literatur ini membahas potensi pemanfaatan adult stem cell dalam beberapa kasus neuropati optik sebagai salah satu alternatif terapi mutakhir dalam memulihkan kemampuan penglihatan dan kualitas hidup penderitanya. Stem cell ditemukan memiliki banyak potensi, namun masih perlu studi dan riset lebih lanjut untuk meneliti keamanannya pada manusia.
Severe Respiratory Acidosis in Acute Exacerbation COPD, Is that Possible to Treat? Siti Wahdiyati; Limalvin, Nicholas Prathama; Maulidiyah, Novita; Limantara, Ferry; Kurniawan, Fajar
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 3 (2024): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i3.395

Abstract

Introduction: Chronic obstructive pulmonary disease (COPD), currently the third leading cause of death worldwide, is a common condition characterized by progressive airflow limitation and tissue destruction. Patients with COPD may present to the Emergency Room (ER) with severe acute exacerbations (AECOPD), which can be associated with acute respiratory failure—a life-threatening condition with a mortality rate approaching 50% in Indonesia—requiring rapid intervention and ICU admission. In this report, we present a severe respiratory acidosis in AECOPD case with successful emergency followed by ICU management and the frequent pitfalls. Case Illustration: In this report we present a-67 years old male, pedicab driver and smoker came to the ER with acute onset shortness of breath and decrease of consciousness with history of shortness of breath in last 10 years. In primary survey we found clear wheezing sound, tachypnea, intercostal retraction, decrease of peripheral oxygen saturation, tachycardia and verbal respond of consciousness. Blood gas analysis result interpreted severe respiratory acidosis with pH 6.90 and pCO2 128.5 mmHg. Chest radiograph showed infiltrate that became the cause of exacerbation. Endotracheal intubation was performed due to decreased consciousness, persistent tachypnea and pCO2 over 100 mmHg. This patient was hospitalized for 12 days including 9 days in ICU followed by 3 days in regular ward. Conclusion: The goal for AECOPD management is to minimize and prevent the negative effects of the exacerbation.
Efficacy of Quadratus Lumborum Block Compared to Paravertebral Block on Pediatric Patients Undergoing Abdominal Surgery Sudiantara, Putu Herdita; Widnyana, I Made Gede; Putra, Kadek Agus Heryana; Kurniyanta, I Putu; Senapathi, Tjokorda Gde Agung
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 3 (2024): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i3.415

Abstract

Background: Abdominal surgery is a major procedure associated with severe postoperative pain in pediatric patients. Quadratus lumborum block (QLB) is considered an effective pain control in such cases. Paraverterbral block (PVB) is another option for postoperative pain management. The aim of this study was to compare the effectiveness of quadratus lumborum block with paravertebral block. Methods: This single-blind randomized controlled trial included 22 pediatric patients who underwent abdominal surgery at Sanglah Hospital, Denpasar between August – October 2022. Research subjects were divided into 2 treatment groups; group A consisted of general anesthesia combined with quadratus lumborum block and group B consisted of general anesthesia combined with paravertebral block. Duration of analgesia was recorded based on the time to analgesic rescue, FLACC pain scale at 0, 2, 4, 6, 12 and 24 hours and total opioid consumption 24 hours after surgery. Statistical analyses were performed using SPSS. Results: Eleven patients received QLB and PVB respectively. There was a significant difference in mean analgesia duration of 1287 ± 129.69 minutes compared to 750 ± 122.22 minutes (p < 0.001) (CI 95%: 425.18 – 649.36), median FLACC pain scale at 12 (1 (IQR 2) vs 4 (IQR 1)) and 24 hours postoperative (1 (IQR 2) vs 3 (IQR 1)) between QLB and PVB (p < 0.001 and p < 0.007). Mean 24-hour postoperative opioid consumption was significantly lower in the QLB compared to the PVB. Conclusion: QLB has better effectiveness than PVB in pediatrics undergoing abdominal surgery.
Terobosan Minimal Nyeri dan Cepat Pulih: Peran Blok Kuadratus Lumborum dalam Manajemen Nyeri Pediatrik Pascaoperasi Abdomen Tantri, Aida Rosita
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 3 (2024): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i3.424

Abstract

Nyeri pasca-operasi pada pasien pediatrik, khususnya setelah pembedahan abdomen, memerlukan manajemen yang hati-hati untuk mencegah dampak negatif seperti gangguan mobilitas, kecemasan, dan trauma jangka panjang. Salah satu teknik yang efektif untuk mengatasi nyeri ini adalah Quadratus Lumborum Block (QLB), sebuah metode anestesi regional yang berkembang dari teknik truncal block. Berbeda dengan Transversus Abdominis Plane (TAP) block, QLB tidak hanya mengurangi nyeri somatik pada dinding perut, tetapi juga visceral melalui penyebaran anestesi lokal ke ruang paravertebral toraks. Teknik ini terbukti efektif dalam mengurangi kebutuhan opioid pada pasien pediatrik, yang sangat penting mengingat risiko efek samping opioid pada anak-anak, seperti depresi pernapasan dan ketergantungan. Keunggulan QLB juga terletak pada kemampuannya untuk memberikan analgesia multimodal, memungkinkan kontrol nyeri yang lebih baik dengan mengurangi efek samping obat sistemik. Namun, pelatihan yang memadai bagi tenaga kesehatan dalam melakukan QLB, terutama dengan panduan ultrasonografi, sangat diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitas teknik ini. Dengan demikian, QLB memiliki potensi besar dalam meningkatkan manajemen nyeri pasca-operasi pada pasien pediatrik, mempercepat pemulihan, dan memberikan pengalaman pasca-operasi yang lebih nyaman.
Perbandingan Bupivakain 0,5% 15 mg dan Fentanil 25 mcg dengan Bupivakain 0,5% 15 mg dan Morfin 100 mcg terhadap Nilai Oksigenasi Serebral pada Pasien yang Menjalani Anestesi Spinal Sibarani, Nicholas Hamonangan; Irina, Sinta; Hamdi, Tasrif
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 1 (2025): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i1.359

Abstract

Latar Belakang: Salah satu teknik pemantauan oksigenasi jaringan yaitu near-infrared spectroscopy (NIRS). Anestesi spinal menurunkan oksigenasi serebral (rSO2) pada penggunaan fentanil dan morfin sebagai adjuvan dari bupivakain. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian randomized control trial, dengan tujuan untuk mengetahui perbandingan rSO2 dan hemodinamik pada pasien yang menjalani anestesi spinal. Didapatkan total sampel 36 pasien yang dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok yang mendapat bupivakain 0,5% 15 mg ditambah fentanil 25 mcg dan bupivakain 0,5% 15 mg ditambah morfin 100 mcg. Nilai rSO2 dinilai pada sebelum tindakan spinal (T0), 5 menit setelah spinal (T1), dan 30 menit setelah anestesi spinal (T2). Hasil: Rerata rSO2 pada kelompok bupivakain dengan tambahan fentanil berkisar antara 68–72 pada sisi kiri dan kanan. Sementara itu, rerata rSO2 pada kelompok bupivakain dengan tambahan morfin berkisar antara 69–70 pada kedua sisi. Terdapat perbedaan signifikan pada nilai rSO2 pada T1 dan T2 kelompok bupivakain 0,5% 15 mg dengan fentanil 25 mcg dibandingkan dengan kelompok bupivakain 0,5% 15 mg dengan morfin 100 mcg. Simpulan: Pada kelompok dengan tambahan fentanil, terjadi penurunan rSO2 yang tidak signifikan pada T0 dan T1 di kedua sisi kepala, namun penurunan yang signifikan ditemukan pada T2. Sementara itu, pada kelompok dengan tambahan morfin, terjadi penurunan rata-rata rSO2 dari T0 ke T1 dengan nilai penurunan yang tidak signifikan, tetapi penurunan rSO2 yang signifikan ditemukan pada kedua sisi kepala pada T2. Secara keseluruhan, kedua kelompok obat memberikan pengaruh yang serupa terhadap perubahan rSO2.