cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 313 Documents
Hubungan Lama Rawat Inap dengan Lepas dari Ventilasi Mekanik pada Pasien dengan Percutaneous Dilatation Tracheostomy Siagian, Rizki Pratama; Lubis, Bastian; Irina, Sinta
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 1 (2025): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i1.365

Abstract

Latar Belakang: Percutaneous Dilatation Tracheostomy (PDT) adalah prosedur invasif untuk masalah pernapasan yang memerlukan ventilasi mekanik untuk mendukung fungsi pernapasan. PDT sering dilakukan di unit perawatan intensif (ICU) pada pasien yang sulit disapih dari ventilasi mekanik. Prosedur ini diharapkan dapat mempercepat pelepasan dari ventilasi mekanik serta mengurangi biaya perawatan. Metode: Penelitian ini bersifat retrospektif yang menggambarkan profil pasien yang dilakukan PDT. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Sampel merupakan rekam medis pasien yang dilakukan tindakan trakeostomi pada tahun 2022 di ICU RSUP H. Adam Malik. Hasil: Terdapat hubungan antara lama rawat inap dan lepas dari ventilasi mekanik pada pasien pasca PDT (nilai p=0,033). Pasien dengan rawat inap yang lebih lama cenderung memerlukan waktu yang lebih lama untuk lepas dari ventilasi mekanik. Rerata lama rawat inap di ICU adalah berkisar 20,09 ± 6,36 hari dan lepas dari ventilasi mekanik pada pasien yang sudah dilakukan PDT berkisar 4 ± 1,44 hari. Sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk perawatan berbeda-beda pada pasien tergantung kondisi dan penyakit yang diderita, namun diperoleh dari penelitian ini biaya selama rawatan di ICU dengan pasien setelah diberikan tindakan PDT <14 hari lebih rendah daripada pasien yang dilakukan PDT >14 hari. Simpulan: PDT pada pasien <14 hari lebih disarankan karena durasi lepas dari ventilasi mekanik lebih pendek, sehingga lama rawat inap di ICU lebih singkat dan biaya perawatan di ICU dapat berkurang. Selain itu, upaya yang terkoordinasi dan perawatan yang tepat harus dilakukan agar dapat mempercepat pemulihan pasien.
Perbandingan Deksmedetomidin dan Deksametason Intravena untuk Pencegahan Menggigil setelah Anestesi Spinal pada Operasi Sectio Caesarea Ricardo, Dion; Wijaya, Dadik Wahyu; Ihsan, Muhammad; Wahyuni, Arlinda Sari
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 1 (2025): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i1.367

Abstract

Latar Belakang: Postspinal anesthesia shivering (PSAS) adalah aktivitas otot rangka involunter yang berulang sebagai respons fisiologis terhadap hipotermia inti untuk meningkatkan produksi panas metabolik. PSAS meningkatkan konsumsi O2, produksi CO2, katekolamin plasma, dan curah jantung. Terapi farmakologis yang digunakan untuk menjaga suhu adalah dexmedetomidin dan dexametason. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan deksmedetomidin dan deksametason intravena sebagai pencegahan menggigil setelah spinal anestesi pada operasi seksio sesarea. Metode: Desain penelitian ini menggunakan uji klinis acak terkontrol secara random tersamar ganda, untuk menilai perbandingan deksmedetomidin dan deksametason intravena sebagai pencegahan menggigil. Populasi yang terpilih akan dibagi secara acak menjadi dua kelompok, yaitu kelompok A (pemberian deksmedetomidin) dan B (pemberian deksametason). Kemudian dinilai parameter hemodinamik pada kedua kelompok dan menilai Intensitas menggigil dengan skala lima poin yang divalidasi oleh Crossley dan Mahajan, di mana derajat 0 = tidak menggigil, derajat 1 = piloereksi atau vasokonstriksi perifer tetapi tidak terlihat menggigil, derajat 2 = aktivitas otot hanya pada satu kelompok otot, derajat 3 = aktivitas otot lebih dari satu kelompok otot, dan derajat 4 = seluruh tubuh menggigil. Hasil: Pada perbandingan kedua kelompok perlakuan didapatkan jumah sampel yang paling banyak mengalami kejadian menggigil ada pada kelompok B sebanyak 17 orang dibandingkan kelompok A sebanyak 6 orang. Pada analisis uji Chi Square didapatkan p value <0,05 yang menandakan perbedaan nilai kedua kelompok bermakna secara statistik. Simpulan: Deksmedetomidin lebih baik dalam mencegah kejadian shivering dibandingkan dengan deksametason.
Perbandingan Efek Antinosiseptif Isoflurane dan Sevoflurane Berdasarkan Refleks Dilatasi Pupil dan Kadar Norepinefrin dengan Menggunakan Konsentrasi Minimum Alveolar 1.0 Albab, Ahmad Ulil; Wirawan, Nur Surya; Ratnawati; Arif, Syafri Kamsul; Husain, Alamsyah Ambo Ala; Adil, Andi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 1 (2025): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i1.369

Abstract

Latar Belakang: Tantangan yang dihadapi berkaitan dengan penggunaan anestesi umum adalah dalam melakukan penilaian nyeri pada pasien yang tidak sadar. Refleks dilatasi pupil merupakan penilaian stimulasi berbahaya dan efek analgesik di bawah anestesi inhalasi. Diameter pupil juga dinyatakan sebagai ukuran kadar norepinefrin. Belum ada penelitian yang mengkaji perbandingan efek antinosiseptif antara isoflurane dan sevoflurane yang diukur dengan refleks dilatasi pupil dan kadar norepinefrin di bawah konsentrasi minimum alveolar yang ekuivalen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efek antinosiseptif isoflurane dan sevoflurane berdasarkan refleks dilatasi pupil dan kadar norepinefrin dengan menggunakan konsentrasi minimum alveolar 1.0. Metode: Desain penelitian ini adalah uji klinis acak tersamar tunggal. Populasi penelitian yaitu seluruh pasien yang menjalani pembedahan dengan anestesi umum menggunakan Laryngeal Mask Airway (LMA). Sampel dibagi menjadi dua kelompok secara acak yaitu kelompok I (isoflurane) dan kelompok II (sevoflurane). Dilakukan preoksigenasi dengan menggunakan 1.0 MAC. Setelah target bispectral index score (BIS) 40-65 tercapai, dilakukan insersi LMA. Setelah tercapai MAC 1.0, dilakukan pengambilan sampel darah pertama untuk pemeriksaan kadar norepinefrin. Dilakukan pupilometri dan stimulasi tetanik, dicatat skor pupillary pain index (PPI) yang didapatkan, kemudian dilakukan pengambilan sampel darah kedua untuk pemeriksaan kadar norepinefrin. Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna pada perbandingan skor PPI antara kelompok isoflurane dan sevoflurane. Kadar norepinefrin setelah stimulasi lebih tinggi secara signifikan pada kelompok sevoflurane. Simpulan: Efek antinosiseptif isoflurane setara dengan sevoflurane berdasarkan refleks dilatasi pupil. Efek antinosiseptif sevoflurane lebih baik dibandingkan isoflurane berdasarkan kadar norepinefrin. Isoflurane mungkin memiliki mekanisme antinosiseptif lain selain jalur norepinefrin.
Hubungan PCO2 Gap dengan Kejadian Awal Sepsis pada Pasien dengan Ventilasi Mekanik di Ruang Perawatan Intensif RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Baderu, Muhammad Rum; Salam, Syamsul Hilal; Salahuddin, Andi; Ahmad, Muhammad Ramli; Muchtar, Faisal; Adil, Andi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 1 (2025): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i1.370

Abstract

Latar Belakang: Sepsis merupakan disfungsi organ yang disebabkan oleh gangguan respon imun inang terhadap infeksi. Perbedaan karbon dioksida vena ke arteri sentral, atau PCO2 gap menjadi biomarker penyakit kritis. Namun, penanda ini memiliki keterbatasan karena parameter hemodinamik dan ScvO2 tidak menjamin perfusi jaringan yang adekuat serta mortalitas dan kegagalan organ masih tinggi. Belum ada penelitian yang mengkaji hubungan PCO2 gap pada pasien terventilasi mekanik dengan kejadian sepsis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan PCO2 gap sebagai prediktor kejadian sepsis pada pasien terventilasi mekanik di ruang perawatan intensif RSUP Wahidin Sudirohusodo. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kohort prospektif. Populasi penelitian adalah pasien yang menjalani prosedur pemasangan ventilasi mekanik di ruang perawatan intensif. Pemeriksaan PCO2 gap, yang mencakup PCO2 arteri dan PCO2 vena, dilakukan pada hari ke-1 pemasangan ventilasi mekanik (T0), hari ke-2 (T1), dan hari ke-3 (T2). Selain itu, dilakukan pemeriksaan fisik dan penunjang, serta evaluasi menggunakan Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) dan Sindrom Respon Inflamasi Sistemik (SIRS) untuk diagnosis sepsis pada T0, T1, dan T2. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara PCO2 gap dengan kejadian sepsis pada hari ke-1, ke-2, dan ke-3 setelah pemasangan ventilasi mekanik (p >0,05). Simpulan: PCO2 gap tidak berhubungan dengan tingkat kejadian sepsis dan menjadi prediktor yang kurang efektif dalam memprediksi kejadian sepsis pada hari ke-1, ke-2, dan ke-3 setelah pemasangan ventilasi mekanik.
Perbandingan Preloading Cairan 20 cc/kgBB dan 30 cc/kgBB setelah One-Hour Bundle terhadap Nilai Laktat pada Pasien Sepsis di Ruang ICU Rendi Sidiq; Hamdi, Tasrif; Bisono, Luwih; Yunanda, Yuki
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 1 (2025): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i1.371

Abstract

Latar Belakang: Sepsis adalah disfungsi organ yang mengancam jiwa akibat respons tubuh yang tidak teratur terhadap infeksi. Kadar laktat serum sering digunakan sebagai biomarker kegagalan organ, di mana kadar yang lebih tinggi menunjukkan tingkat kerusakan yang lebih parah. Meskipun preloading cairan 20–30 cc/kgBB direkomendasikan dalam resusitasi sepsis pada periode one-hour bundle, efektivitas dosis yang berbeda masih belum jelas. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan dosis preloading cairan 20 cc/kgBB dan 30 cc/kgBB terhadap kadar laktat pada pasien sepsis di RSUP H. Adam Malik. Metode: Penelitian ini merupakan randomized clinical trial dengan metode double-blind, melibatkan 36 pasien sepsis yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok 1 (20 cc/kgBB) dan kelompok 2 (30 cc/kgBB). Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna dalam kadar laktat 6 jam setelah loading cairan (p>0,05). Namun, terdapat perbedaan signifikan pada nilai klirens laktat (p=0,002), di mana kelompok 1 (32,55 ± 30,69 mmol/L) memiliki klirens lebih tinggi dibandingkan kelompok 2 (15,62 ± 50,61 mmol/L). Simpulan: Preloading cairan 20 cc/kgBB setelah one-hour bundle meningkatkan nilai laktat klirens pada pasien sepsis.
Perbandingan Efektivitas antara Blok Subtenon dengan Blok Peribulbar pada Pembedahan Vitreoretinal Sonambela, Sander; Salahuddin, Andi; Hilal Salam, Syamsul; Arif, Syafri Kamsul; Musba, Andi Muhammad Takdir; Rum, Muhammad
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 1 (2025): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i1.374

Abstract

Latar Belakang: Penyakit vitreoretinal adalah penyebab umum gangguan penglihatan dan kebutaan. Anestesi regional telah mendapatkan perhatian yang lebih luas, terutama dalam berbagai bedah mata, mayoritas pasien yang mendapatkan regional anestesi adalah blok nervus oftalmikus dengan blok subtenon sebanyak 46,9%, peribulbar 19,5%, dan retrobulbar 0,5%. Pemilihan anestesi lokal dan regional yang tepat pada bedah mata tergantung pada prosedur yang direncanakan, durasi yang diperlukan, dan karakteristik pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektivitas dari blok subtenon dan blok peribulbar pada operasi vitreoretinal. Metode: Desain penelitian ini adalah uji klinis acak tersamar tunggal. Populasi penelitian adalah pasien yang menjalani prosedur pembedahan elektif vitreoretinal. Sampel penelitian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok blok subtenon dan kelompok blok peribulbar. Mula kerja dan lama kerja blok sensorik dan motorik dicatat. Parameter hemodinamik dinilai sebelum blok peribulbar, 15 menit setelah injeksi, dan setiap 15 menit sampai akhir operasi. Dilakukan pencatatan kebutuhan blok tambahan selama pembedahan pada tiap kelompok. Hasil: Tidak ditemukan perbedaan mula kerja dan lama kerja blok sensorik pada kedua kelompok. Terdapat perbedaan mula kerja blok motorik pada kedua kelompok (p=0,031). Tidak ditemukan perbedaan lama kerja blok motorik pada kedua kelompok. Tidak ditemukan perbedaan kebutuhan blok tambahan pada kedua kelompok (p=0,210). Simpulan: Blok subtenon dan blok peribulbar sama-sama dapat digunakan pada pembedahan vitreoretinal secara efektif namun blok subtenon memberikan hasil yang lebih baik.
Hubungan Intra-abdominal Pressure Terhadap Gastric Residual Volume pada Pasien Sepsis Aulia, Miftah Furqon; Lubis, Bastian; Lubis, Andriamuri Primaputra
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 1 (2025): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i1.375

Abstract

Latar Belakang: Sepsis merupakan salah satu penyebab terjadinya Abdominal Compartment Syndrome (ACS). ACS muncul apabila disfungsi organ terjadi sebagai hasil dari hipertensi intra-abdominal lebih dari 20 mmHg atau tekanan perfusi abdomen kurang dari 60 mmHg. Hipertensi intra-abdominal (IAH) dan ACS telah menjadi penyebab serius terhadap morbiditas dan mortalitas pada pasien bedah dan medis kritis dalam 10 tahun terakhir. Peningkatan intra-abdominal pressure (IAP) menjadi salah satu elemen pengukuran parameter fisiologis rutin pada pasien kritis dan dapat menunjukkan prognosis. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross-sectional untuk mencari hubungan antara IAP terhadap Gastric Residual Volume (GRV) pada pasien sepsis di Intensive Care Unit (ICU). Subjek penelitian diambil dengan teknik consecutive sampling hingga jumlah subjek penelitian terpenuhi. Hasil: Hubungan IAP terhadap GRV menunjukkan bahwa rerata IAP pada T0 sebesar 17,7 ± 1,62 berkorelasi dengan rerata GRV T0 sebesar 263,75 ± 11,34. Sementara itu, rerata IAP pada T1 sebesar 15,7 ± 1,26 berkorelasi dengan rerata GRV T1 sebesar 243,75 ± 12,79. Analisis statistik menunjukkan nilai p <0,05, yang mengindikasikan hubungan yang signifikan antara IAP dan GRV dengan nilai r=0,625. Korelasi ini bersifat positif, yang berarti semakin tinggi nilai IAP, maka semakin tinggi pula nilai GRV. Simpulan: Terdapat hubungan IAP terhadap GRV pada pasien sepsis di ICU RSUP H. Adam Malik Medan di mana dapat disimpulkan bahwa peningkatan IAP berkorelasi dengan peningkatan GRV.
Teknik Anestesi pada Awake Craniotomy: Sebuah Laporan Kasus Simamora, Fareza Rifki; Bisono, Luwih; Hamdi, Tasrif; Sitepu, John Frans; Harahap, Awi Tifani M
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 1 (2025): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i1.401

Abstract

Latar Belakang: Awake craniotomy adalah prosedur bedah saraf yang dilakukan pada pasien kondisi sadar yang umumnya dilakukan pada fokal epilepsi dan pengangkatan tumor otak di daerah vital. Prosedur ini memungkinkan pengangkatan lesi sambil menilai gejala yang dialami pasien secara real-time. Ilustrasi Kasus: Laki-laki 33 tahun datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP H. Adam Malik Medan dengan keluhan nyeri kepala yang dirasakan sejak satu minggu yang lalu. Gejala ini semakin memberat dalam 12 jam terakhir disertai riwayat muntah dua kali. Pasien memiliki riwayat penyakit space-occupying lesion (SOL) intrakranial, riwayat kemoterapi 11 kali, dan riwayat operasi VP shunt. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pasien didiagnosis SOL intrakranial dengan masa residu tumor. SOL ini juga mengobliterasi ventrikel lateralis bilateral. Setelah mendapat penanganan awal, pasien kemudian dirujuk ke sejawat bedah saraf untuk penanganan lebih lanjut, sejawat bedah saraf memutuskan untuk melakukan tindakan kraniotomi stereotatik biopsi. Tindakan ini difasilitasi dengan teknik anestesi awake. Tindakan anestesi pada awake craniotomy ini menggunakan premedikasi intravena yaitu sulfas atropin 0,25mg, dexamethasone 5mg, fenitoin 50mg, diazepam 2,5mg, fentanil 100mcg, dexmetomidin 20mcg/jam. Sebelum dilakukan insisi diberikan infiltrasi di daerah yang akan diinsisi menggunakan ropivikain 0,75% 20ml yang dicampur dengan lidokain 2% 4ml dan sebelum dilakukan burr-holl tengkorak di daerah kranium diberikan fentanil 50 mcg secara intravena. Simpulan: Dalam prosedur awake craniotomy, menjaga kesadaran pasien selama operasi memungkinkan tim medis untuk memantau fungsi vital di otak secara langsung, sehingga meminimalkan risiko kerusakan pada area otak yang kritis.
Capillary Leak Syndrome pada Pasien Sakit Kritis Nurdin, Haizah; Prasetyadhi, Jokevin
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 1 (2025): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i1.408

Abstract

Capillary leak syndrome (CLS) merupakan sindrom gangguan homeostasis cairan yang sering ditemukan pada penyakit kritis. Insiden sebenarnya dari sindrom kebocoran kapiler masih belum diketahui. Ciri utama CLS adalah permeabilitas kapiler yang mengakibatkan perpindahan cairan dan penurunan tekanan onkotik koloid. Tanda klinis CLS dapat mencakup ketidakstabilan hemodinamik, hipovolemia intravaskular, dan edema generalisata. Evaluasi kadar cairan ekstraseluler invasif dan non-invasif, penanda serum dan sistem penilaian CLS, indeks kebocoran pembuluh darah, dan mikroskop intravital dapat digunakan untuk mendiagnosis CLS. Penatalaksanaan CLS saat ini bertujuan untuk memperpendek durasi kebocoran kapiler, meningkatkan tingkat keberhasilan resusitasi, dan menghilangkan faktor predisposisi penyebab penyakit utama. Terapi CLS mencakup bantuan pernapasan, terapi cairan, peningkatan permeabilitas kapiler, continuous blood purification, menjaga endothelial surface layer (ESL), serta terapi eksperimental untuk stabilisasi endotel.
Manajemen Anestesi pada Pasien Pheochromocytoma dengan Tindakan Adrenalektomi: Laporan Kasus Irwanda, Faisal; Anggraeni, Novita
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 1 (2025): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i1.417

Abstract

Pendahuluan: Pheochromocytoma adalah tumor yang berasal dari sumsum adrenal atau rantai simpatik (paraganglioma) dan dapat menimbulkan tantangan selama anestesi, laringoskopi, serta prosedur intraoperatif. Pheochromocytoma merupakan salah satu tumor yang dapat berbahaya jika tidak dikelola dengan baik sebelum operasi. Ilustrasi Kasus: Seorang wanita berusia 37 tahun dengan pheochromocytoma direncanakan menjalani adrenalektomi. Selama tiga bulan terakhir, mengalami pusing, keringat berlebihan, kecemasan, detak jantung tidak teratur, serta nyeri punggung bawah, dengan riwayat hipertensi resisten terhadap terapi. Pemeriksaan menunjukkan tekanan darah 161/102 mmHg, dengan hasil laboratorium normal, dan USG abdomen mengungkapkan tumor adrenal kanan berukuran 12x5 cm yang dicurigai sebagai pheochromocytoma. Simpulan: Manajemen farmakologis sebelum operasi, pengawasan ketat selama operasi, dan keseimbangan antara vasodilatasi dan vasokontriksi selama operasi sangat penting dalam manajemen perioperatif pheochromocytoma.