cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 313 Documents
Innovation of a Three-Dimensional (3D) Printed Video Laryngoscope for Difficult Airway Management in a Rural Setting Hadiwijono, Vanessa Juventia; Muhammad, Emerald
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.414

Abstract

Background: Managing difficult airways remains a critical challenge in anesthetic practice, particularly in resource-limited settings. While modern video laryngoscopes are effective, their high cost and limited availability hinder their use in peripheral areas.Case Illustration: We report a 41-year-old woman with an abscess colli sinistra, classified as ASA III, who presented with a difficult airway requiring general anesthesia for surgical debridement. Due to anticipated intubation difficulty and limited access to advanced equipment, we employed an innovative 3D-printed video laryngoscope made of polyethylene terephthalate glycol (PETG), equipped with a endoscopic camera. The device facilitated successful endotracheal intubation without complications.Conclusion: TThis case highlights the potential of affordable, customizable 3D-printed video laryngoscopes as an alternative airway management tool in low-resource settings.
Manajemen Anestesi Perioperatif pada Pembedahan Skoliosis Yahya, Corry Quando; Elizeus Hanindito; Hori Hariyanto
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.436

Abstract

Anestesi pada pembedahan skoliosis merupakan tantangan tersendiri. Skoliosis mempengaruhi banyak organ seperti gangguan muskuloskeletal, penurunan densitas tulang, serta penurunan fungsi jantung dan paru. Koreksi skoliosis adalah operasi mayor yang terkait dengan komplikasi serius seperti perdarahan masif, atelektasis, kesulitan penyapihan ventilator dan nyeri kronik. Oleh sebab itu, pemahaman mendalam terhadap implikasi dari skoliosis merupakan kunci dalam mempersiapkan tatalaksana secara holistik. Penanganan dan target optimalisasi pada pasien yang akan menjalani pembedahan skoliosis mulai dari fase praoperatif, intraoperatif hingga pascaoperatif akan disajikan pada ulasan artikel ini.
Magnesium as Immediate Management for Suspected Intraoperative Malignant Hyperthermia Crisis: A Case Report from Indonesia Farida Soenarto, Ratna; Kusuma Manggala, Sidharta; Montolalu, Gabriela; Listyana, Tia; Kurniawan, Celine
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.437

Abstract

Background: Malignant hyperthermia (MH) is a life-threatening disorder triggered by certain anesthetics and characterized by a hypermetabolic state in skeletal muscles. Magnesium sulfate is gaining recognition as a crucial adjunct in the immediate management of MH, particularly when dantrolene is not readily available. This case report presents a successful use of magnesium during an MH crisis, emphasizing its potential as a life-saving intervention in resource-limited settings. The report adds to the growing evidence supporting magnesium's role in early MH management, especially when there is a delay in dantrolene administration.Case Illustration: A 2-year-old healthy boy underwent Achilles tendon lengthening under general anesthesia. Post-induction, the patient developed signs of increased sympathetic activity, muscle rigidity, and hypercarbia. Due to dantrolene unavailability, 400 mg of magnesium sulfate was administered, which successfully reduced muscle rigidity and stabilized hemodynamics. Dantrolene was later given, further improving the patient's condition. The patient was extubated 28 hours later and fully recovered, highlighting the critical role of magnesium in managing this crisis.Conclusion: Early detection and management of MH are crucial for patient survival. In the absence of dantrolene, MgSO4 serves as an effective alternative for immediate intervention. This experience underlines the importance of having alternative treatment strategies in resource-limited settings and stresses the need for continued education and preparedness for MH crises.
Korelasi Mean Arterial Pressure terhadap Renal Resistive Index, Serum Kreatinin, dan Produksi Urin pada Pasien Operasi Tulang Belakang yang Dilakukan Pembiusan Umum dengan Teknik Hipotensi Terkendali di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah I Made Prema Putra; Sidemen, IGP Sukrana; Kurniyanta, I Putu; Tjokorda Gde Bagus Mahadewa; Tjokorda Gde Agung Senapathi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.440

Abstract

Latar Belakang: Teknik hipotensi terkendali dilakukan pada beberapa operasi mayor termasuk pada operasi tulang belakang. Perlu untuk mengetahui rentang mean arterial pressure (MAP) pada hipotensi terkendali yang dapat mempertahankan laju filtrasi glomerulus dengan mengevaluasi renal resistive index (RRI), serum kreatinin, dan produksi urin. Metode : Penelitian analitik korelatif ini dilakukan selama empat bulan. Semua pasien yang memenuhi kriteria eligibilitas dan memberikan persetujuan dimasukkan dalam studi. Data primer dikumpulkan saat pasien berada di ruang rawat inap, meliputi usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh (IMT), produksi urin, serum kreatinin, dan nilai RRI. Selama operasi, dicatat nilai rentang dan rerata MAP selama anestesi umum dengan teknik hipotensi terkendali. Pemeriksaan RRI, serum kreatinin, dan produksi urin diulang pascaoperasi. Hasil: Terdapat korelasi negatif kuat antara rerata MAP dan RRI, dengan koefisien korelasi (r) -0,625 (p < 0,001), yang menunjukkan bahwa semakin rendah rerata MAP, semakin tinggi nilai RRI, dan sebaliknya. Korelasi positif sedang ditemukan antara rerata MAP dan produksi urin (r = 0,433; p <0,001), serta korelasi negatif rendah antara MAP terendah dan serum kreatinin (r = -0,243; p = 0,040). Analisis kurva ROC menunjukkan AUC sebesar 0,916. Cut-off MAP optimal untuk mempertahankan nilai RRI normal adalah ≥ 52,5 mmHg (sensitivitas 0,955 dan 1-spesifisitas 0,560). Simpulan : Terdapat korelasi negatif kuat yang signifikan antara rerata MAP dan RRI, korelasi negatif rendah yang signifikan antara rerata MAP dan serum kreatinin, serta korelasi positif sedang yang signifikan antara rerata MAP dan produksi urin pada pasien yang menjalani operasi tulang belakang.
Masa Depan Renal Resistive Index (RRI) sebagai Pegangan Indeks Pemantauan Fungsi Ginjal Perioperatif Marilaeta Cindryani
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.446

Abstract

Disfungsi ginjal akut pascaoperasi (acute kidney injury/AKI) tetap menjadi komplikasi signifikan pada pasien bedah mayor, berdampak pada mortalitas dan durasi rawat. Renal Resistive Index (RRI), yang diperoleh melalui ultrasonografi Doppler ginjal, semakin banyak digunakan sebagai indikator noninvasif untuk memantau perfusi ginjal secara real-time, terutama pada pasien dengan risiko tinggi seperti sepsis, syok, atau penggunaan vasopresor. Tidak seperti kreatinin serum yang bersifat lambat dan tidak spesifik, peningkatan nilai RRI dapat mendeteksi AKI secara lebih dini dan sensitif terhadap perubahan hemodinamik akut. Berbagai studi menunjukkan bahwa RRI berguna dalam deteksi AKI subklinis, evaluasi respons terhadap terapi cairan dan vasopresor, serta prediksi luaran pascaoperasi. Namun, keterbatasan tetap ada, karena nilai RRI juga dipengaruhi oleh faktor sistemik seperti usia, tekanan darah, arteriosklerosis, ritme jantung, serta penggunaan obat-obatan tertentu. Interpretasi RRI membutuhkan pemahaman fisiologi hemodinamik secara menyeluruh dan keterampilan teknis yang baik. Pelatihan operator dan standardisasi pengukuran sangat penting untuk menjamin keakuratan dan konsistensi hasil. RRI berpotensi menjadi alat pemantauan penting dalam manajemen ginjal perioperatif dan intensif, tetapi penggunaannya perlu mempertimbangkan konteks klinis secara holistik. Dengan pendekatan yang tepat, RRI dapat memperkuat strategi perlindungan ginjal dan personalisasi terapi pada pasien kritis.
Gabapentin dan Gabapentin-Amitriptilin sebagai Adjuvan Analgetik Nyeri Kanker di Klinik Nyeri RSUP H. Adam Malik Medan Ramadhan, Muhammad; Tanjung, Qadri Fauzi; Silaen, Ester Lantika; Hamdi, Tasrif; Ihsan, Muhammad; Amelia, Rina
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 3 (2025): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i3.350

Abstract

Pendahuluan: Pasien kanker merasakan nyeri yang mempengaruhi kualitas hidup terutama pasien kanker stadium lanjut. Beberapa agen yang digunakan pada nyeri kanker adalah morfin, parasetamol, dan amitriptilin. Antidepresan, anti-epileptik, dan kortikosteroid mulai dieksplorasi untuk terapi nyeri pada penyakit non-kanker, namun penggunaannya dalam nyeri kanker masih belum dipelajari dengan baik. Beberapa studi menyimpulkan manfaat penggunaan gabapentin pada nyeri neuropatik dan nosiseptif, hingga kini belum ada studi efikasi agen tersebut pada nyeri kanker, maka penelitian terfokus kepada efikasi kombinasi antara amitriptilin dan gabapentin. Metode: Penelitian ini menggunakan Randomized Clinical Trial dengan sistem blinding. Dua kelompok sampel diobservasi sebelum pemberian (T0), hari ke-1 (T1), ke-3 (T2), dan ke-7 (T3). Kelompok A menerima gabapentin dan kelompok B menerima gabapentin dengan amitriptilin. Analisis data menggunakan uji t independen atau Mann-Whitney. Hasil: Sebanyak 62 orang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok A mengalami keluhan mual, muntah, penurunan nafsu makan, dan pusing terbanyak sedangkan kelompok B mengalami keluhan sulit tidur terbanyak. Secara statistik, kelompok A maupun B mampu mereduksi skala nyeri berdasarkan skala pengukuran NRS dan pain detect (p<0,001) serta data keluhan awal dijumpai perbedaan signifikan (p<0,001). Perbedaan yang bermakna secara signifikan antara kedua regimen yang dianalisis juga tidak dijumpai dengan nilai p>0,05 pada seluruh waktu, kecuali pada variabel NRS di T3 (gabapentin (4,03±0,59)) dan kombinasi (3,53±0,82); p=0,009). Simpulan: Temuan mengindikasikan perbedaan yang signifikan mungkin baru terlihat pada hari ke-7 pasca observasi, meskipun pada dasarnya regimen kombinasi lebih efektif untuk mereduksi nyeri dibandingkan gabapentin tunggal. Kelompok kombinasi mengalami penurunan derajat nyeri yang lebih tinggi namun hanya signifikan pada waktu T3-T2 menggunakan skala NRS.
Perbandingan Tingkat Kesulitan Intubasi dengan Menggunakan Bantal dan Tanpa Bantal di Ruang Operasi RSUP H. Adam Malik Sinaga, Ade Putra Fratama; Hamdi, Tasrif; Tanjung, Qadri Fauzi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 3 (2025): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i3.406

Abstract

Latar Belakang: Intubasi endotrakeal merupakan teknik yang cepat, sederhana, dan aman untuk mencapai tujuan manajemen jalan napas. Posisi kepala dan leher yang tepat, sering kali ditingkatkan dengan bantal kepala, sangat penting untuk laringoskopi dan intubasi trakea yang efektif, karena dapat meningkatkan sudut oksipito-atlanto-aksial dan memperbesar ruang submandibular. Metode: Penelitian cross-sectional acak di RSUP H. Adam Malik Medan ini membandingkan kesulitan intubasi dengan dan tanpa menggunakan bantal. Sebanyak 24 subjek dibagi dua kelompok, masing - masing 12 orang. Data meliputi usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh (IMT), status ASA, skor Wilson, dan skor Cormack-Lehane. Hasil: Rata-rata usia kelompok tanpa bantal 49,4 ± 12,1 tahun dan dengan bantal 44,3 ± 14,4 tahun. Sebagian besar subjek tanpa bantal adalah laki-laki, sedangkan dengan bantal perempuan. IMT ratarata masing-masing 21,0 ± 1,65 kg/m² dan 21,8 ± 1,85 kg/m². ASA I lebih banyak pada kelompok tanpa bantal, sedangkan ASA I dan II sama pada kelompok dengan bantal. Tidak ada perbedaan signifikan karakteristik dasar kedua kelompok. Skor Wilson memprediksi intubasi mudah pada sebagian besar pasien. Skor rata-rata Wilson lebih tinggi pada kelompok tanpa bantal (15,9 ± 1,6) dibanding dengan bantal (10,8 ± 1,8; p<0,05). Skor Cormack-Lehane menunjukkan kelompok dengan bantal lebih sering pada tingkat 1 dibanding tanpa bantal yang dominan tingkat 2 (p<0,05). Simpulan: Intubasi tanpa bantal membutuhkan sedikit bantuan, sementara sebagian besar pasien yang menggunakan bantal dapat dengan mudah diintubasi. Tidak ada perbedaan yang signifikan di antara kedua kelompok.
Gambaran Kejadian Kandidiasis Invasif Berbasis Risiko di GICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2019-2023 Suwandi, Sean Natanael; Nurita Dian Kestriani Saragi Sitio; Raissa Adelia Rinaldi; Leonardus Widyatmoko; Nisa Fauziah
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 3 (2025): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i3.418

Abstract

Latar Belakang: Kandidiasis invasif (KI) adalah keadaan ketika ditemukannya Candida spp. pada pemeriksaan kultur darah atau bagian tubuh lainnya di mana sering terjadi pada pasien unit perawatan intensif (ICU). Diagnosis dan deteksi dini penting dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi serius, menjadi tantangan di negara berkembang yang diakibatkan oleh keterbatasannya dalam metode diagnosis dan ketersediaan obat. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan metode potong lintang dengan cara pengambilan data seluruhnya (total sampling). Data pasien diambil dari rekam medis pasien yang dirawat di GICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2019-2023, berupa data demografis, data klinis, hasil pemeriksaan penunjang, faktor risiko yang ada, dan hasil luaran pasien. Hasil: Pemeriksaan laboratorium dilakukan kepada pasien GICU dan didapatkan 81 pasien positif kandidiasis dengan data rekam medis yang lengkap. KI memiliki angka kejadian 18,5% dari total pasien positif kandidiasis. Gejala dan tanda klinis yang paling umum terjadi pada KI adalah demam. Sebanyak 50 pasien (61,7%) memiliki faktor risiko berupa durasi perawatan, penggunaan antibiotik, dan penggunaan alat medik >7 hari. Hampir seluruh antijamur yang diberikan kepada pasien KI adalah fluconazole (86,7%). Angka kematian pasien kandidiasis invasif pada pasien GICU pada tahun 2019-2023 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung mencapai 73,3%. Simpulan: Kandidiasis invasif pada pasien GICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2019–2023 memiliki angka kejadian 18,5% dengan faktor risiko utama berupa lama perawatan, penggunaan antibiotik, dan penggunaan alat medik >7 hari. Mortalitas pasien cukup tinggi, sehingga diagnosis dini dan terapi antijamur yang tepat sangat penting untuk meningkatkan luaran pasien.
Efektivitas Blok Nervus Maksilaris Suprazigomatika pada Pasien Miastenia Gravis yang Menjalani Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS) Kadek Agus Heryana Putra; Lesmana, Pita Mora; Tjokorda Gde Agung Senapathi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 3 (2025): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i3.422

Abstract

Pendahuluan: Secara global, prevalensi dan insidensi miastenia gravis meningkat, dengan tingkatinsidensi 5,3 orang per juta dan prevalensi 77,7 orang per juta. Dengan meningkatnya prevalensi,penting bagi seorang anestesiolog untuk mengetahui patofisiologi dan komplikasinya, terutamakrisis miastenia. Salah satu pencetus terjadinya krisis adalah berupa nyeri pascaoperasi. Padakasus ini, kami memilih teknik pembiusan tanpa pelumpuh otot dan teknik blok nervus maksilarissuprazigomatika sebagai teknik analgetik pascaoperasi pasien miastenia yang menjalani functionalendoscopic sinus surgery (FESS).Deskripsi Kasus: Pasien perempuan usia 32 tahun didiagnosis pansinusitis dan riwayat miasteniagravis terkontrol dengan terapi direncanakan menjalani FESS bilateral. Induksi dilakukan dengankombinasi agen anestesi sevofluran dan propofol serta analgetik fentanyl. Sebelum ekstubasi,pasien diberikan blok maksilaris dengan pendekatan suprazigomatik menggunakan bupivakain0,25% sebanyak 5 ml pada masing-masing sisi. Ekstubasi dilakukan berdasarkan penilaian kekuatanotot menggunakan Train of Four (TOF). Pasien berhasil diekstubasi tanpa komplikasi, dengan nilaiNumeric Rating Scale (NRS) 0/10 pada 48 jam pascaoperasi.Simpulan: Kombinasi sevofluran dan propofol dengan blok maksilaris pendekatan suprazigomatikefektif untuk manajemen anestesi dan nyeri akut pascaoperasi pada pasien miastenia yang menjalaniFESS.
Hyperlactatemia Post-CABG: Case Studies in Three Patients Wardhana, Ardyan; Kurniawaty, Juni
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 3 (2025): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i3.429

Abstract

Introduction: Hyperlactatemia after CABG may signal intra- or postoperative complications by reflecting a mismatch between tissue oxygen supply and metabolic demand, with potential for organ dysfunction and worse outcomes. This case report examined contributing factors—including metabolic acidosis, postoperative metabolic stress, and inotropic agents—to guide targeted interventions and improve clinical results. Case Description: Three patients underwent CABG, with the first and second remaining hemodynamically stable in the ICU on dobutamine and nitroglycerin, whereas the third required norepinephrine, epinephrine, and temporary pacing for instability. None exceeded 4 mmol/L during CPB or immediately after separation, yet all showed immediate-onset hyperlactatemia (IHL)—a phenomenon reported in 17% of cases, especially with longer CPB/cross-clamp times. All subsequently developed late-onset hyperlactatemia (LHL) at 4–12 hours: first and third patient had hyperglycemia, whereas the second reached the highest 12-hour lactate peak without hyperglycemia. LHL likely reflected type-B lactate from postoperative inflammatory/metabolic stress and insulin resistance, typically normalizing within 12–24 hours without a marked drop in base excess. Third patient’s sharp4-hour surge was plausibly epinephrine-related—more consistent with preserved metabolic reserve than with adverse prognosis. Conclusion: In post-CABG patients, hyperlactatemia may arise from non-hypoxic, multifactorial mechanisms (inflammation, metabolic stress, and inotropes) and thus warrants context-aware interpretation and targeted management rather than reflexive attribution to tissue hypoxia.