cover
Contact Name
Anwar Hafidzi
Contact Email
prodi.htn@uin-antasari.ac.id
Phone
+6285251295964
Journal Mail Official
anwar.hafidzi@uin-antasari.ac.id
Editorial Address
Jalan Ahmad Yani Km. 4.5 Banjarmasin
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Journal of Islamic and Law Studies (JILS)
ISSN : 26568683     EISSN : 26568683     DOI : 10.18592/jils.v5i1.4577
The Journal of Islamic and Law Studies is a multi-disciplinary publication dedicated to the scholarly study of all aspects of science and of the Islamic in Indonesia. Particular attention is paid to works dealing with history geography political science economics anthropology sociology law literature religion philosophy international relations environmental and developmental issues as well as ethical questions related to scientific research. The Journal seeks to place Islam and the Islamic tradition as its central focus of academic inquiry and to encourage comprehensive consideration of its many facets; to provide a forum for the study of Islam and Muslim societies in their global context; to encourage interdisciplinary studies of the Islamic world that are crossnational and comparative; to promote the diffusion exchange and discussion of research findings; and to encourage interaction among academics from various traditions of learning.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2018)" : 9 Documents clear
Prioritas Penyelesaian Dainullah Dan Dainul Ibad Dalam Waris Menurut Empat Mazhab Sa'adah Sa'adah; Samsudin Noor
JOURNAL OF ISLAMIC AND LAW STUDIES Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Syariah UIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.038 KB) | DOI: 10.18592/jils.v2i1.4695

Abstract

Abstract: This study aims to determine the law and consequences of murder cases on the inheritance they leave. The research method used is the research library on the study of the jurisprudence school of heirs who kill and are killed. Research has found that Fuqaha agrees that killing is a barrier to inheritance. People who kill do not inherit people who are murdered. The Maliki School argues that deliberate killing because of anger is the cause of the obstruction of inheritance, as for those committed because of defending rights, is not absolutely a barrier to inheritanceAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hukum dan akibat dari kasus pembunuhan terhadap warisan yang ditinggalkannya. Metode penelitian yang digunakan library research terhadap kajian mazhab fikih terhadap waris yang membunuh dan dibunuh. Penelitian menemukan bahwa Fuqaha bersepakat bahwa membunuh adalah penghalang warisan. Orang yang membunuh tidak mewarisi orang yang dibunuh. Mazhab Maliki berpendapat bahwa pembunuhan sengaja karena amarahlah yang menjadi sebab terhalangnya warisan, adapun yang dilakukan karena mempertahankan hak, tidak mutlak menjadi penghalang mewarisi
Peran Persatuan Bangsa-bangsa Dalam Menciptakan Perdamaian Dari Pertikaian Antar Negara Rizki Fadillah; Rahmad Hidayat; Nina Mahrida; Ahmadi Hasan; Bahran Bahran
JOURNAL OF ISLAMIC AND LAW STUDIES Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Syariah UIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.326 KB) | DOI: 10.18592/jils.v2i1.4568

Abstract

Abstract: This research proves that the United Nations (UN) has an important role in the peace of disputes between countries. This research uses literature review with a descriptive approach. The results prove that since the end of the second world war, almost all countries and international organizations agree that UN peacekeeping operations in conflict resolution need to include the Peacemaking project. Peacekeeping essentially aims to facilitate the transition from conflict situations to peaceful situations by minimizing violence and threats.Abstrak: Penelitian ini membuktikan bahwa Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) memiliki peranan penting dalam perdamaian atas pertikaian antar Negara. penelitian ini menggunakan kajian pustaka dengan pendekatan deskriptif. hasil membuktikan bahwa Sejak berakhirnya perang dunia kedua, hampir seluruh negara dan organisasi internasional sepakat bahwa operasi perdamaian PBB dalam penyelesaian konflik perlu meliputi proyek Peacemaking. Peacekeeping secara esensial bertujuan untuk memfasilitasi transisi dari situasi konflik ke situasi damai dengan meminimalisir kekerasan dan ancaman
Munasabah Al-Quran: Studi Menemukan Tema Yang Saling Berkorelasi Dalam Konteks Pendidikan Islam Rahmat Sholihin
JOURNAL OF ISLAMIC AND LAW STUDIES Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Syariah UIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.784 KB) | DOI: 10.18592/jils.v2i1.3226

Abstract

  ABSTRACTThe Holy Qur'an was revealed by Allah as a guide for Italian people, especially for those who are devout. Understanding the instructions contained in the Al-Quran needs to be supported with related sciences, for example: asbab an-nuzul, munasabah, makki and madani and so on. The study of the chronological historicity of the verse is seen from asbab an-nuzul science. Not all verses of the Koran have specific asbab nuzul, to complete it, the science of munasabah is offered as an effort to correlate between verses (surah) in the Koran.The source of knowledge from this munasabah is based on ijtihadi, so there are differences about the various variations. This paper will discuss the relationship between themes and sub themes in the educational approach. This research results that in the theme of education using the term apperception, which is connecting between the lessons that are issued with the lessons to be discussed by connecting various related themes. so that the theme of the verse will always be related to the same scientific pattern until the discussion is finished. ABSTRAKKitab suci Al-Quran diturunkan Allah swt sebagai petunjuk buat manusia Italia, terkhusus lagi bagi orang yang bertaqwa. Memahami petunjuk yang terkandung dalam Al-Quran perlu disupport dengan ilmu-ilmu yang terkait, misalnya: asbab an-nuzul, munasabah, makki dan madani dan seterusnya.Studi tentang historisitas kronologis turunya ayat dilihat dari ilmu asbab an-nuzul. Tidak semua ayat Al-Quran memiliki asbab nuzul yang spesifik, untuk melengkapinya ditawarkan ilmu munasabah sebagai upaya untuk mengkorelasikan antar ayat (surah) dalam Al-Quran.Sumber ilmu dari munasabah ini didasarkan pada ijtihadi, sehingga terdapat perbedaan tentang berbagai ragamnya. Tulisan ini akan membahas tentang hubungan tema dan sub tema dalam pendekatan pendidikan. penelitian ini menghasilkan bahwa dalam tema pendidikan menggunakan istilah apersepsi, yaitu menghubungkan antara pelajaran yang dikeluarkan dengan pelajaran yang akan dibahas dengan menghubungkan berbagai tema yang terkait. sehingga tema ayat akan selalu berhubungan dengan pola keilmuan yang sama hingga selesai pembahasannya. 
Hukum Talak Yang Dijatuhkan Oleh Suami Karena Dipaksa Menurut Madzhab Hanafi Dan Madzhab Syâfi’i Imam Alfiannor; Risna Febrianti; Ilham Masykuri Hamdie; Siti Aisyah
JOURNAL OF ISLAMIC AND LAW STUDIES Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Syariah UIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.823 KB) | DOI: 10.18592/jils.v2i1.4696

Abstract

Abstract: Abstract: This study aims to determine what if the divorce that was dropped was based on coercion. The method used in this research is literature study which discusses the concept of talak from the Hanafi and Syaf'ii schools. This research proves that the Hanafi Madzhab, the law of divorce for people who are forced to remain legitimate (fall) because they say it (lafadz), is accompanied by an intention or not according to the Hanafi School, lafadz is one of the legal requirements for dropping talak. Furthermore, the Hanafi Islamic School is of the opinion that from the point of view of the objectives of the Shari'a, an action that is done because it is forced is invalid.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana jika talak yang dijatuhkan itu berdasarkan paksaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka yang membahas tentang konsep talak dari mazhab Hanafi dan Syaf’ii. Penelitian ini membuktikan Madzhab Hanafi hukum talak orang yang dipaksa tetap sah (jatuh) karena ia mengucapkanya (lafadz), disertai niat ataupun tidak menurut Madzhab Hanafi, lafadz merupakan salah satu syarat sah dalam menjatuhkan talak. Lebih lanjut Madzhab Hanafi berpendapat dari segi tujuan syariat bahwasanya perbuatan yang dilakukan karena dipaksa maka tidak sah perkataannya.
Konsep Muzhaharah Terhadap Pemimpin Dalam Perspektif Hukum Tata Negara Dan Hadits Nabi Saw Nur Zaqia
JOURNAL OF ISLAMIC AND LAW STUDIES Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Syariah UIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.286 KB) | DOI: 10.18592/jils.v2i1.3228

Abstract

ABSTRACTThe emergence of community actions especially students as a response to the socio-political conditions in a country for policies that are not pro-people, raises the problem of understanding these actions. The formulation of the problem in this research is how the history of demonstrations in the perspective of Islam and how the law demonstrates leaders who are not trustworthy in the perspective of hadith. This type of research is a literature study. The research results obtained that the concept of muzhaharah against leaders who are not trustworthy in the perspective of Constitutional Law is legal but is expected not to be accompanied by vandalism or anarchism that is with polite and wise language without opening disgrace and blaspheming the authorities . ABSTRAKMunculnya tindakan-tindakan masyarakat khususnya Mahasiswa sebagai respon terhadap kondisi sosial politik di sebuah negara atas kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat, menimbulkan problematika pemahaman atas tindakan-tindakan tersebut. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana sejarah demonstrasi dalam perspektif islam dan bagaimana hukum mendemo pemimpin yang tidak amanah dalam perspektif hadis. Jenis penelitian ini adalah penelitian studi pustaka.Hasil penelitian diperoleh bahwa konsep muzhaharah terhadap pemimpin yang tidak amanah dalam perspektif Hukum Tata negara ialah sah-sah saja namun diharapkan tidak disertai dengan perusakan atau anarkisme yaitu dengan bahasa yang santun dan bijak tanpa membuka aib dan menghujat penguasa . 
HUKUM ABORSI MENURUT IMAM AL-GHAZALI DAN YUSUF AL-QARDHAWI Siti Nur Rahmah; Anwar Hafidzi; Arie Sulistyoko
JOURNAL OF ISLAMIC AND LAW STUDIES Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Syariah UIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.19 KB) | DOI: 10.18592/jils.v2i1.4560

Abstract

Abstract: Clear regulation is needed regarding the arrangement in term of Opinions on abortion have various views from many scholars as well as the law of abortion itself, because abortion is a controversy among scholars and society. From the opinions of Imam Al-Ghazhali and Yusuf Al-Qardhawi about abortion, it can be used as a reference for knowledge to address contemporary problems, such as this abortion. In the opinion of Imam Al-Ghazhali, he emphasized that abortion is absolutely forbidden and accepts the Ijab and Qobul Akad at the time of conception. Then according to Yusuf Al-Qardhawi's view regarding the law of permissible abortion, because in his opinion, he put forward the maslahah side to the soul of the conception itself, namely Mother, he accepts this with the existence of equality of legal causes.Abstrak: Pendapat terhadap aborsi memiliki berbagai pandangan dari banyak ulama begitupun hukum dari aborsi itu sendiri, sebab aborsi merupakan kontroversi dari kalangan ulama dan masyarakat. Dari pendapat imam Al-ghazhali dan Yusuf Al-Qardhawi tentang aborsi dapat dijadikan bahan rujukan pengetahuan untuk menyikapi masalah masalah kontemporer, seperti aborsi ini. Dalam pendapat Imam Al-ghazhali, beliau menekankan aborsi adalah mengharamkan secara mutlak dan mengqiyaskan dengan Akad Ijab dan Qobul pada saat terjadinya pembuahan. Kemudian menurut pandangan Yusuf Al-Qardhawi mengenai hukum aborsi ialah memperbolehkan, sebab dalam pendapatnya, beliau mengedepankan adanya sisi maslahah bagi jiwa dari pengandung sendiri yaitu Ibu, beliau mengqiyaskan hal ini dengan  adanya persamaan sebab hukum.
HUKUM MENGULANG SALAT JAMAAH DALAM SATU MASJID MENURUT EMPAT MAZHAB Miftah Faridh; Afif Amrullah
JOURNAL OF ISLAMIC AND LAW STUDIES Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Syariah UIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.309 KB) | DOI: 10.18592/jils.v2i1.4693

Abstract

Abstract: This study aims to determine the law and legal basis (istidlāl) of repeating congregational prayers in one mosque according to the opinions of four schools, namely the Hanafi, Maliki, Syafi'i, and Hanbali schools. This research is a normative descriptive analytical study with a comparative approach. The results showed: First, the Hanafi, Maliki, and Syafi'i schools argued that the law of repeating (ie establishing) congregational prayers after the first congregation is makruh. This is if the mosque already has an imam, muezzin, and regular congregation. Meanwhile, the Hanbali school is of the opinion that it is permissible in addition to the Grand Mosque and the Prophet's Mosque. Second, the arguments used by the Hanafi school, the Maliki school, and the Syafi'i school are: (1) the hadith of the Prophet. never been late to pray then he did not do it in congregation at the mosque, (2) the history of the friends praying individually if they missed the congregational prayer, (3) repeating the congregation is not an act of salaf, (4) causing division of the Muslims, and (5) opening up opportunities underestimating congregational prayers. Meanwhile, the arguments of the Hanbali school are: (1) the generality of the hadith about the virtue of congregational prayer, (2) the hadith of the Prophet. advising someone to accompany a friend who has not prayed in congregation, (3) there is an age that is not used as a habit, and (4) it is not an intention to separate himself from the Muslim congregation.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hukum dan dasar hukum (istidlāl) mengulang pelaksanaan salat jamaah dalam satu masjid menurut pendapat empat mazhab, yakni mazhab Hanafi, maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Penelitian ini merupakan penelitian normatif yang bersifat deskriptif analitis dengan pendekatan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’i berpendapat bahwa hukum mengulang (yakni mendirikan) salat jamaah setelah jamaah pertama adalah makruh. Hal ini jika di masjid tersebut sudah memiliki imam, muazin, dan jamaah tetap. Sedangkan mazhab Hanbali berpendapat boleh selain di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Kedua, argumentasi yang digunakan mazhab Hanafi, mazhab Maliki, dan mazhab Syafi’i adalah: (1) hadis Nabi Saw. pernah terlambat salat kemudian beliau tidak melakukannya berjamaah di masjid, (2) riwayat para sahabat salat sendiri-sendiri apabila ketinggalan salat jamaah, (3) mengulang jamaah bukan perbuatan salaf, (4) menimbulkan perpecahan kaum muslimin, dan (5) membuka peluang orang meremehkan salat berjamaah. Sedangkan argumentasi mazhab Hanbali adalah:  (1) keumuman hadis tentang keutamaan salat berjamaah, (2) hadis Nabi Saw. menganjurkan seseorang untuk menemani sahabatnya yang belum salat berjamaah, (3) ada uzur yang tidak dijadikan kebiasaan, dan (4) bukan niat untuk memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin.
Keterkaitan Antara Hadis dan Politik di Indonesia pada Era Digital (Kajian Hadis Tentang Larangan Memberi Jabatan Bagi Orang yang Meminta Jabatan) Muhammad Torieq Abdillah; Noor Syifa Humairoh; Anwar Hafidzi; Sulaiman Kurdi
JOURNAL OF ISLAMIC AND LAW STUDIES Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Syariah UIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.358 KB) | DOI: 10.18592/jils.v2i1.4562

Abstract

Abstract: The hadith is one of the guidelines of muslims in the act in addition to the quran, also has a relationship with the travel of the implementation of the political as in Indonesia, especially in terms of power. Especially in this digital era of understanding and to-sharh (explanation) the contents of the hadith is already a little different from time immemorial. Like for example what happened today in Indonesia, the guidelines in politics seems to have forgotten the teachings in the quran and the hadith, with mutual pursuit of office. The purpose of this study was to determine whether the requested post is still relevant today especially in Indonesia using the system of democracy or the shift times will not change in the slightest understanding of the hadith. This research uses the descriptive qualitative method. Data collection techniques in the form of a literature study. The results of this study show that the facts and the reality of what happened in Indonesia often have differences and contrary to the depiction in the hadith, where according to a hadith regarding the provision of office or power, no post for people who ask for a position. While the reality on the political scene in Indonesia opposite happens, where people are a race and seeks to gain power and position which is considered high and features. Abstrak: Hadis yang merupakan salah satu pedoman umat Islam dalam bertindak selain alquran, juga memiliki keterkaitan dengan perjalanan pelaksanaan politik seperti yang ada di Indonesia, khususnya dalam hal kekuasaan. Terlebih di era digital ini pemahaman dan men-syarh (menjelaskan) isi hadis sudah sedikit berbeda dengan zaman dahulu. Seperti contohnya yang terjadi saat ini di Indonesia, pedoman dalam berpolitik sepertinya telah melupakan ajaran dalam alquran maupun hadis, dengan saling mengejar jabatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah meminta jabatan masih relevan di zaman sekarang terkhusus di Indonesia yang menggunakan sistem demokrasi ataukah pergeseran zaman tidak akan merubah sedikit pun pemahaman tentang hadis tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data berupa studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fakta dan realita yang terjadi di Indonesia sering kali memiliki perbedaan dan bertolak belakang dengan penggambaran di dalam hadis, di mana menurut hadis mengenai pemberian jabatan atau kekuasaan, dilarang memberi jabatan bagi orang yang meminta sebuah jabatan. Sedangkan realita di kancah perpolitikan di Indonesia terjadi sebaliknya, di mana orang berlomba dan berusaha untuk mendapatkan kekuasaan dan jabatan yang dirasa tinggi dan bergengsi.
Pembunuhan Sebagai Halangan Mewarisi menurut Mazhab Maliki Dan Mazhab Syafi’i Inawati M Jaini Jarajab; Siti Rosyidah; Endang Pristiawati; Hidayatun Nisa
JOURNAL OF ISLAMIC AND LAW STUDIES Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Syariah UIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.817 KB) | DOI: 10.18592/jils.v2i1.4694

Abstract

Abstract: This study aims to determine the law and consequences of murder cases on the inheritance they leave. The research method used is the research library on the study of the jurisprudence school of heirs who kill and are killed. Research has found that Fuqaha agrees that killing is a barrier to inheritance. People who kill do not inherit people who are murdered. The Maliki School argues that deliberate killing because of anger is the cause of the obstruction of inheritance, as for those committed because of defending rights, is not absolutely a barrier to inheritanceAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hukum dan akibat dari kasus pembunuhan terhadap warisan yang ditinggalkannya. Metode penelitian yang digunakan library research terhadap kajian mazhab fikih terhadap waris yang membunuh dan dibunuh. Penelitian menemukan bahwa Fuqaha bersepakat bahwa membunuh adalah penghalang warisan. Orang yang membunuh tidak mewarisi orang yang dibunuh. Mazhab Maliki berpendapat bahwa pembunuhan sengaja karena amarahlah yang menjadi sebab terhalangnya warisan, adapun yang dilakukan karena mempertahankan hak, tidak mutlak menjadi penghalang mewarisi

Page 1 of 1 | Total Record : 9