cover
Contact Name
Sigit Apriyanto
Contact Email
info@jcopublishing.com
Phone
+6281215263928
Journal Mail Official
info@jcopublishing.com
Editorial Address
Jl. R. Fatah, No. 50, RT3/4, Sidamulya, Kec. Wanareja, Kab. Cilacap
Location
Kab. cilacap,
Jawa tengah
INDONESIA
Insan Cendekia: Jurnal Pendidikan
Published by CV. Tripe Konsultan
Core Subject : Education, Social,
Insan Cendekia: Jurnal Pendidikan (JIC) adalah jurnal terbitan CV. Tripe Konsultan bekerja sama dengan Kelompok Kerja Guru (KKG) guru kelas Kec. Wanareja yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2020. Jurnal Insan Cendekia menerima manuskrip baik dari artikel asli maupun literature review. Jurnal Insan Cendikia memiliki cakupan yang membahas tentang kajian Model Pembelajaran, Media Pembelajaran, Bahan Ajar, Manajemen Sekolah, dan hal yang bersentuhan dengan Sekolah Dasar.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2023): April" : 6 Documents clear
METODE PENDIDIKAN PERSPEKTIF TAFSIR TARBAWI Suyati, Suyati; Ali , Ismun; Radinal, Willy; Arrohmatan, Arrohmatan
Jurnal Insan Cendekia Vol. 4 No. 1 (2023): April
Publisher : CV. Tripe Konsultan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54012/jurnalinsancendekia.v4i1.133

Abstract

Penelitian ini berusaha untuk mengkaji ayat-ayat Al Quran yang berhubungan dengan metode pendidikan, kajian ini semacam ini disebut juga Tafsir Tarbawi. Latar belakang penelitian ini adalah saat ini masih banyak pendidik yang belum menyadari bahwa Al Quran juga menkaji tentang masalah pendidikan, sehingga mereka lebih condong mengambil referensi dari buku-buku yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan ke-Islaman, untuk itu kami menyusun jurnal yang mengkaji metode, pendidikan dari sudut pandang kajian Tafsir Tarbawi. Melalui jurnal ini peneliti merumuskan beberapa permasalahan, di antaranya pengertian dari Tafsir Tarbawi, pengertian metode pendidikan, dan metode pendidikan kajian Tafsir tarbawi. Penelitian ini berjenis kualitatif deskriptif, dengan pendekatan pendalaman teori (Grounded Theory), dengan teknik kajian pustaka (Library Research) lalu menganalisa isinya (Content analisis). Hasil penelitian ini adalah Tafsir Tarbawi merupakan upaya menyikap dan menjelaskan makna-makna Al-Quran secara tematik tentang pendidikan. Metode pendidikan dalam Alquran pada hakikatnya banyak sekali namun paling tidak ada delapan di antaranya diskusi, metode tanya jawab, metode ceramah, metode demontrasi, metode eksperimen, metode keteladanan, metode amtsal, metode targhib wa tarhib, dan metode tikror. Metode-metode pendidikan secara secara intrinsik tertera dalam Al Quran, seperti Metode Diskusi terdapat pada Al Quran Surat An-Nahl ayat 125, metode Tanya Jawab dalam Surat Assoffat ayat 100-109, Metode Ceramah dalam surat Yunus ayat 23, Metode demonstrasi dalam surat Al Kahfi 66-82, Metode Eksperimen Surah Arrohman ayat 33, metode Keteladanan dalam surat Al-Ahzab ayat 21, Metode Amtsal Al Baqarah ayat 17, metode Targhib wa Tarhib Albayyinah ayat 6-8, dan metode tikror dalam surat Al Fatihah ayat 6-7.
MANAJEMEN PENDIDIKAN HUBUNGAN MASYARAKAT BERBASIS HUMANIS MULTIKULTURALIS ABDURRAHMAN WAHID Suaidi Al Auny, Muhammad; Arrohmatan , Arrohmatan
Jurnal Insan Cendekia Vol. 4 No. 1 (2023): April
Publisher : CV. Tripe Konsultan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54012/jurnalinsancendekia.v4i1.254

Abstract

Pemikiran multikulturalisme Abdurrahman Wahid berbasis penghargaan dan perlindungan tertinggi terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). Multikulturalisme Abdurrahman Wahid sebagai dasar dan esensi pembebasan tanpa dasar apapun, kecuali manusia itu sendiri. Pemikiran multikulturalisme Abdurrahman Wahid berusaha menempatkan Islam sebagai etika sosial dan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut terangkum dalam maqashid assyari'ah, yang di dalamnya mencakup lima hak dasar manusia (al-kulliyat alkhams). Sedangkan relevansi pemikiran multikulturalisme Abdurrahman Wahid dilihat dari kesamaan perlakuan untuk mendapatkan pengakuan atau dihargai eksistensinya, persamaan memiliki kesempatan, dan perlakuan yang sama di depan hukum, tanpa memandang budaya, ras, etnis, jenis kelamin, dan agama. Persamaan ini juga diikuti dengan rasa kepekaan terhadap budaya yang masih bersifat imperial dan menggerakkan budaya kelompok yang bersifat imperial tersebut untuk memiliki perasaan dan sikap yang sama dengan kelompok atau budaya lain, sehingga persamaan menjadi sesuatu yang niscaya dimiliki.
MATERI PENDIDIKAN KEAGAMAAN PERSPEKTIF ANTROPOLOGI Prasetyo Adi, Dwi; Basri, Sairul; Waluyo, Budi; Arrohmatan, Arrohmatan
Jurnal Insan Cendekia Vol. 4 No. 1 (2023): April
Publisher : CV. Tripe Konsultan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54012/jurnalinsancendekia.v4i1.255

Abstract

Materi pendidikan agama bukan hanya sekedar metafisika belaka, dalam semua bangsa, bentuk, objek kendaraan, dan ibadah diliputi aura kesungguhan moral yang mendalam dan suci. Kesucian di mana pun mengandung arti dan hakiki. Suci tidak hanya mendorong rasa pengabdian, tetapi juga menuntutnya, tidak hanya persetujuan intelektual, tetapi juga komitmen emosional. Apakah yang suci itu disebut Mana, Brahma, Buddha, Tritunggal atau yang lainnya. Semua digambarkan sebagai sesuatu yang lebih dari sekedar duniawi, yang mau tidak mau memiliki implikasi yang sangat dipertimbangkan bagi arah perilaku manusia. Agama tidak hanya bersifat etis. Sumber vitalitas moralnya terletak pada keyakinan yang dipahami. Dengan keyakinan agama diungkapkan karakteristik mendasar dari realitas "Yang harus ada" yang memaksa muncul dari "yang ada" sebagai pendekatan yang aktual dan komprehensif terhadap tuntutan-tuntutan yang mendasari tindakan-tindakan manusia yang paling spesifik dalam konteks eksistensi manusia.
ANALISIS GENDER TENTANG KESETARAAN HAK TALAK BAGI PEREMPUAN Hariadi, Hariadi; Kurnia Lestari, Aprida; Lukman Irawan, M. Nur; Arrohmatan, Arrohmatan
Jurnal Insan Cendekia Vol. 4 No. 1 (2023): April
Publisher : CV. Tripe Konsultan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54012/jurnalinsancendekia.v4i1.256

Abstract

Dalam pola pemikiran deduktif, pendekatan skriptural-tekstual lebih diperluas untuk fokus pada jenis dan karakteristik pemikiran monistik, yaitu pemahaman yang berangkat dari asumsi bahwa makna dan teks adalah hal yang tidak terpisahkan. Implikasi yang paling signifikan dari pendekatan tekstual ini adalah kurangnya ruang untuk sejarah. Lebih jauh lagi, pendekatan ini akan mengabaikan fenomena alam sekitar, budaya, dan masyarakat yang selalu berubah. Sehingga setiap diskriminasi, subordinasi, inarginalisasi, dan ketidakadilan dalam relasi gender hanya bisa dibuang jauh-jauh dari legitimasi tekstual agama dengan mempertimbangkan sejarah teks itu sendiri dan tanpa ada niatan untuk mengikis habis teologi norma secara mutlak. Secara khusus, dalam artikel ini, masalah yang akan dikaji dengan pendekatan sejarah teks ini adalah QS. Al-Baqarah (2): 229 atau kepemilikan hak talak dengan menggunakan pendekatan sosio-teologis Engeneer.
PENDIDIKAN AQIDAH DALAM KULTUR MITOLOGIS Ariwibowo, Gandung Agung; Tamyiz, Tamyiz; Arrohmatan , Arrohmatan
Jurnal Insan Cendekia Vol. 4 No. 1 (2023): April
Publisher : CV. Tripe Konsultan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54012/jurnalinsancendekia.v4i1.258

Abstract

Myth is a religious story that tells about the origin of gods, acts of nature, people or society and others. Sometimes the story is very important in the community who are not familiar with reading and writing as an oral tradition that is actualized in the form of ritual. The myths associated with a sacred story, namely primordial events that occurred in the beginning. Therefore the existence is mystery. Human cannot know their behavior if it is not manifest in humans. Myth is not the result of intellectual thought or logic. Taken into the nature of reality as event regularity, as part of reality as well as the reality of what happened. Reality is repeated that has meaning, while that cannot be repeated mean there is no meaning and is not called reality. This explanation is understood that the myth is interpreted as the accumulation of theology (Aqidah) education conceptions of imaginative musings about life, death, destiny, man, god, heaven, creation, etcetera are widely developed in Indonesian society, which was educated in religion by its parents, but cannot be separated from the mythological culture that has developed from generation to generation.
IDE KEBANGSAAN DAN PENDIDIKAN ETIKA HASYIM ASY’ARI DALAM KONTEKS KEKINIAN Asnan, Hamid; Handoko, Cipto; Arrohmatan, Arrohmatan
Jurnal Insan Cendekia Vol. 4 No. 1 (2023): April
Publisher : CV. Tripe Konsultan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54012/jurnalinsancendekia.v4i1.260

Abstract

Pemikiran pendidikan Hasyim Asy’ari dapat ditelusuri dari karya-karya dan inovasi yang diterapkan dalam manajemen pendidikan di Pesantren Tebuireng Jombang. Banyak hal yang dilakukan pada periode pertama ternyata menjadi trend pada masa sekarang. Diantaranya adalah pendidikan etika, baik pada santri maupun guru, juga pada profesionalisme guru dan manajemen pendidikan. Pemikiran Hasyim Asy’ari dalam bidang pendidikan lebih menekankan pada masalah etika dalam pendidikan. Meskipun tidak menafikan beberapa aspek lain dalam pendidikan, dalam hal ini banyak dipengaruhi oleh keahliannya dalam bidang Hadits, dan pemikirannya dalam bidang tasawuf dan fikih yang sejalan dengan teologi al-Asy’ari dan al Maturidi. Juga sejalan dengan pemikiran al-Ghazali yang lebih menekankan pada pendidikan spiritual. Hal lain yang menarik dan perlu ditekankan dalam membahas pemikiran dan pandangan yang ditawarkan oleh Hasyim Asy’ari adalah etika dimana guru harus membiasakan diri untuk menulis, mengarang dan meringkas, yang mana pada masanya hal ini jarang sekali ditemui. Dan hal ini beliau buktikan dengan banyaknya buku-buku karangan atau tulisan beliau. Gagasan-gagasan yang diungkapkan oleh beliau terkait etika guru dengan murid menunjukkan profesionalitas beliau sebagai seorang pendidik. Hal ini terlihat dari rangkuman gagasan-gagasan yang dilontarkannya tentang kompetensi seorang pendidik, khususnya kompetensi profesional. Di sisi lain, tampak bahwa apa yang ditawarkan Hasyim Asytari lebih bersifat pragmatis, yakni apa yang ditawarkannya berangkat dari praktik yang pernah dialami. Hal inilah yang menjadi nilai tambah dalam konsep yang dikemukakan oleh pendiri Pesantren Tebuireng ini.

Page 1 of 1 | Total Record : 6