cover
Contact Name
Bayu Brahma
Contact Email
journal.cancer@gmail.com
Phone
+628176389956
Journal Mail Official
admin@indonesianjournalofcancer.or.id
Editorial Address
National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital Research and Development Building, 3rd-floor Jl. Letjen S. Parman Kav. 84-86, Slipi West Jakarta
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesian Journal of Cancer
ISSN : 19783744     EISSN : 23556811     DOI : https://www.doi.org/ 10.33371
Core Subject : Health, Science,
Indonesian Journal of Cancer is a peer-reviewed and open-access journal. This journal is published quarterly (in March, June, September, and December) by Dharmais Cancer Hospital - National Cancer Center. Submissions are reviewed under a broad scope of topics relevant to experimental and clinical cancer research. Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. All submitted manuscripts will go through the double-blind peer review and editorial review before being granted acceptance for publication. The journal publishes original research articles, case reports, and review articles under the following categories: cancer management, cancer prevention, cancer etiology, epidemiology, molecular oncology, cancer diagnosis and therapy, tumor pathology, surgical oncology, medical oncology, radiation oncology, interventional radiology, as well as early detection.
Arjuna Subject : Kedokteran - Onkologi
Articles 562 Documents
Korelasi Ekspresi ezrin dan CD44 dengan Respons Kemoterapi pada Pasien Osteosarkoma CHRISTIAN BAMBANG SULISTIO; SJAHJENNY MUSTOKOWENI; NILA KURNIASARI
Indonesian Journal of Cancer Vol 11, No 3 (2017): July - September 2017
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1060.936 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v11i3.513

Abstract

Osteosarcoma is the most common malignant bone tumor in children and young adults. The process of metastasis and recurrence involves several proteins, including ezrin, and CD44 that are shown to be involved in tumor growth,metastasis and recurrence. To analyse the corelation of ezrin and CD44 expression with chemotherapy responsse in osteosarcoma patient. Cross sectional method on paraffin block of Osteosarcoma in Anatomic Pathology Laboratory of RSUD dr Soetomo, (January 1, 2010 - December 31, 2015). There were 17 out of 26 cases of amputated osteosarcoma which are met the inclusion criteria were performed immunohistochemical staining with ezrin and CD44 antibodies. The corellation of ezrin and CD44 expression with chemotherapy responsse was analyzed using Spearman’s rho test. The coeficient correlation in this experiment p<0.05, there was no corellation of ezrin expression with chemotherapy responsse of osteosarcoma. There was no correlation of CD44 expression with chemotherapy responsse in osteosarcoma. There was no correlation of ezrin and CD44 expression with chemotherapy responsse of osteosarcoma. There was no corellation of ezrin and CD44 expression with chemotherapy responsse of osteosarcoma.ABSTRAKOsteosarkoma merupakan tumor ganas tulang, sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. Proses metastasis dan rekurensi melibatkan beberapa protein, di antaranya ezrin dan CD44 yang terbukti ikut serta dalam pertumbuhan tumor, metastasis, dan rekurensi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara ekspresi ezrin dan CD44 dengan respons kemoterapi. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional blok parafin osteosarkoma di Laboratorium Patologi Anatomi RSUD Dr. Soetomo (1 Januari 2010–31 Desember 2015). Sebanyak 17 kasus sesuai kriteria inklusi dari 26 kasus osteosarkoma yang telah diamputasi dilakukan seleksi serta pemeriksaan imunohistokimia dengan antibodi ezrin danCD44. Hubungan ekspresi antara ezrin dan CD44 dengan respons kemoterapi dianalisis menggunakan uji Spearman’srho. Pada penelitian ini, nilai koefisien korelasi p<0,05 sehingga tidak terdapat hubungan antara ekspresi ezrin denganrespons kemoterapi pada osteosarkoma, di mana nilai p=0,868 (p>0,05). Tidak terdapat hubungan antara ekspresi CD44 dengan respons kemoterapi pada osteosarkoma di mana nilai p = 0,740 (p> 0,05).Tidak terdapat korelasi antaraekspresi ezrin dengan CD44 dengan respons kemoterapi osteosarkoma, nilai p=0,113 (p>0,05). Tidak terdapat hubungan antara ekspresi ezrin dan CD44 dengan respons kemoterapi pada pasien osteosarkoma.
Ekspresi Phosphatase Regenerating Liver-3 dan E-Cadherin pada Kanker Serviks Stadium Awal dan Lanjut Lokoregional SHARVIANTY ARIFUDDIN; BRAHMANA ASKANDAR; UPIK ANDERIANI MISKAD
Indonesian Journal of Cancer Vol 6, No 3 (2012): Jul - Sep 2012
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33371/ijoc.v6i3.205

Abstract

Tujuan: untuk menyelidiki hubungan antara ekspresi PRL-3 dan E-Cadherin dengan stadium, jenis histopatologi, dan derajat diferensiasi kanker serviks. Metode: penelitian ini merupakan studi analitik dengan pendekatan potong lintang di beberapa rumah sakit pendidikan Bagian Obstetri dan Ginekologi, Makassar, mulai Januari hingga Juni 2011. Ekspresi PRL-3 dan E-Cadherin diperiksa dengan pengecatan imunohistokimia pada 16 kanker serviks stadium awal dan 15 stadium lanjut lokoregional. Hasil: ekspresi PRL-3 tidak berbeda bermakna antara kanker serviks stadium awal dengan stadium lanjut lokoregional, antara berbagai jenis histopatologik dan derajat diferensiasi (p>0,05). Ekspresi E-Cadherin juga menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara berbagai stadium, jenis histopatologi, dan derajat diferensiasi (p>0,05). Tidak didapatkan korelasi bermakna antara ekspresi PRL-3 dengan E-Cadherin pada penelitian ini. Kesimpulan: tidak ada hubungan antara ekspresi PRL-3 dan E-Cadherin dengan stadium, jenis histopatologi, dan derajat diferensiasi kanker serviks.Kata Kunci: Kanker serviks stadium awal, kanker serviks stadium lanjutlokoregional, adenokarsinoma, karsinoma sel skuamosa, derajat diferensiasi, PRL-3, E-Cadherin.
Kolon Endometriosis Dukut Respati Kastomo
Indonesian Journal of Cancer Vol 1, No 2 (2007): Apr - Jun 2007
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1149.059 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v1i2.13

Abstract

Pendahuluan: Endometriosis sering dihubungkan dengan genitalia interna wanita, terdapat pada 75 % wanita usia produktif. Pada keadaan tertentu diagnosis kelainan kolon berhubungan endometriosis karena 26 % endometriosis terdapat pada rektosigmoid dan 13 % menimbulkan komplikasi. Perubahan keganasan di kolon terjadi pada 0,7% -1 % kasus, di ovarium 78 %.Metoda : Data penderita keganasan kolon dari tahunl994 sampai 2006 yang di teliti secara retrospektif observasional dijumpai dua kasus endometriosis kolon. Dari kasus ini dibahas studi pustaka, diagnosis, tindakan operatif dan tindak lanjut terapi.Hasil: Dilaporkan dari 600 keganasan kolon yang dioperasi, dua penderita secara histopatologis didiagnosis endometriosis, pertama di kolon transversum, yang kedua di rektosigmoid beserta adenomiosis uterus.Bahasan: Endometriosis kolon terdiagnosis pasca bedah secara histopatologis setelah pra bedah didiagnosis keganasan kolon. Karena menimbulkan obstruksi dilakukan tindakan reseksi kolon.
Ekspresi Relatif mRNA Hypoxia Inducible Factor-1? pada Sel Glioma Penderita Novi Silvia Hardiany; Mohamad Sadikin; Septelia Inawati Wanandi
Indonesian Journal of Cancer Vol 7, No 1 (2013): Jan - Mar 2013
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.441 KB) | DOI: 10.14414/ijoc.v7i1.272

Abstract

Glioma merupakan tumor otak primer yang cukup sering ditemukan di Indonesia di antara keganasan otak lainnya. Penderita glioma mempunyai angka harapan hidup yang rendah dikarenakan seringnya mengalami resistansi terapi. Hipoksia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi respons terapi radiasi. Penelitian ini menganalisis ekpresi mRNA HIF-1?, sebagai petanda jaringan hipoksia, pada glioma derajat rendah dibandingkan dengan glioma derajat tinggi. Sampel terdiri dari 15 jaringan glioma derajat rendah, 6 jaringan glioma derajat tinggi, dan 21 sel lekosit dari penderita glioma sebagai kontrol sel normal. Ekspresi relatif mRNA HIF-1? ditentukan secara kuantitatif dengan menggunakan Real Time RT-PCR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi mRNA HIF-1? pada glioma derajat tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan glioma derajat rendah, namun tidak bermakna secara statistik. Hal yang menarik yaitu ditemukan peningkatan ekspresi mRNA HIF-1? dengan nilai yang bervariasi pada 73 % sampel glioma derajat rendah dibandingkan dengan sel lekosit sebagai kontrol sel normal. Begitu juga pada glioma derajat tinggi ditemukan peningkatan mRNA HIF-1? dengan nilai yang bervariasi pada 100% sampel. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat variasi derajat hipoksia pada glioma derajat rendah dan derajat tinggi yang mungkin mempengaruhi keberhasilan terapi radiasi.Kata kunci: Glioma, mRNA HIF-1?, hipoksia
Senyawa Antikanker dari Dadap Ayam (Erythrina variegata) Tati Herlina
Indonesian Journal of Cancer Vol 3, No 4 (2009): Oct - Dec 2009
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.633 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v3i4.135

Abstract

Dadap ayam (Erythrina variegata) secara tradisional dikenal oleh masyarakat lokal sebagai obat antikanker. Bagian tumbuhan ini yang biasa digunakan sebagai pengobatan adalah daun, tetapi kandungan senyawa kimia aktif biologisnya belum banyak dilaporkan. Pencarian komponen aktif yang terdapat di dalam tumbuhan E. variegata sangat penting sebagai nilai tambah untuk bahan obat herbal antikanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui senyawa yang beraktivitas antikanker dari bagian daun dan kulit batang E. variegata secara in vitro terhadap sel kanker payudara T47D. Penelitian dilakukan dengan cara ekstraksi metanol dan fraksionasi dari daun serta kulit batang E. variegata yang dipandu dengan uji antikanker secara in vitro menggunakan metode Sulforhodamin B (SRB). Selanjutnya, fraksi aktif dipisahkan komponen-komponennya dengan kombinasi kolom kromatografi yang dipandu dengan uji antikanker secara in vitro, diperoleh tiga senyawa aktif (1-3). Struktur kimia senyawa aktif (1-3) ditetapkan berdasarkan data spektroskopi dan perbandingan data dari senyawa yang berhubungan dari penelitian sebelumnya, dan diidentifikasikan sebagai turunan steroid (1-3). Senyawa (1-3) memperlihatkan aktivitas antikanker secara in vitro terhadap kanker payudara T47D dengan IC50 masing-masing 6,5; 5,3; dan 3,2 ?g/ml. Daun dan kulit batang E. variegata menunjukkan sumber bahan antikanker payudara.Kata kunci: antikanker, Erythrina variegata, sel kanker payudara T47D
Pheochromocytoma: A Clinicopathologic Case Series I Gusti Ayu Sri Mahendra Dewi; Desak Putu Gayatri Saraswati Seputra
Indonesian Journal of Cancer Vol 14, No 1 (2020): March
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.558 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v14i1.682

Abstract

Introduction: Pheochromocytoma is a rare neuroendocrine tumor derived from the chromaffin cells of adrenal medulla. The incidence ranges from 0.005% to 0.1% in the general population.Case Presentation: This case series reported 4 patients with pheochromocytoma who were diagnosed at Sanglah General Hospital Denpasar over a period of three years (2017–2019). The age ranged from 15–59 years with the mean age of 41 + 18.9 years. A similar proportion was found for both sexes. Clinical features include lumps, headaches, flank region pain, palpitations and cold sweat. Hypertension was found in 3 cases. Local examination revealed the solid mass in the flank region in all cases; enlarged lymph nodes were found in one case, namely in the paraaortic region. Abdominal MSCT examination findings showed: a solid mass with cystic components in suprarenal; sizes ranging from 1.9 x 2.6 x 2.2 cm to 21.6 x 14.3 x 17.8 cm; bilateral (1 case), unilateral (3 cases); contrast enhancement and hypervascularization, without calcification (4 cases); central necrotic (1 case). All patients underwent radical adrenalectomy. Microscopic features showed the tumor mass which consisted of the proliferation of chromaffin cells forming alveolar (Zellballen) and solid nest patterns separated by capillary blood vessels. The cells were polygonal-shaped with clear cytoplasm, round-shaped nucleus, and moderate pleomorphic. Mitosis was not found. These histomorphologic findings supported the diagnosis of pheochromocytoma.Conclusions: Diagnosis and optimal treatment plans can be established through rapid and precise recognition of pheochromocytoma in order to achieve better outcomes.
Physical Wellbeing in Cervical and Breast Cancer Survivors: A Cross-sectional Study in Surabaya, Indonesia Ni Putu Wulan Purnama Sari
Indonesian Journal of Cancer Vol 12, No 3 (2018): July-September
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (816.368 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v12i3.614

Abstract

Background: Cervical and breast cancer are the two top leading cases of female cancer worldwide. Both cases share some similar clinical manifestations as specific symptoms of cancer. Physical wellbeing often decreased as frequent symptoms appear. This study aimed to compare and analyze the physical wellbeing among cervical cancer and breast cancer survivors (CCS and BCS).Methods: This cross-sectional study involved 47 CCS and 58 BCS in the district of Rangkah, Gading, and Pacarkeling, Surabaya, Indonesia. Instrument of Quality of Life – Cancer Survivors (QOL-CS) was used for data collection. Independent sample T test and Mann-Whitney U test were used in data analysis (α< .05). Results: More severe fatigue, appetite changes, pain, sleep disturbance, constipation, nausea-vomiting, and menstrual changes were found in CCS. More poor perceived health status and optimal physical wellbeing were found in BCS. Overall, most sufficient physical wellbeing was found in both groups. There were significant differences of fatigue, pain, sleep disturbance, appetite changes, constipation, health status (p<.001 for each), nausea-vomiting (p= .004), and menstrual changes (p= .001) were found between groups. Overall, physical wellbeing was significantly different between groups (p< .001). Sleep disturbance (84.7% of influence) and appetite changes (75.7% of influence) were the best predictors for determining physical wellbeing in CCS and BCS respectively.Conclusion: More severe cancer symptoms were found in CCS, but more poor perceived health status was found in BCS. There was a significant difference of physical wellbeing found between CCS and BCS. 
Pengaruh Ketidakhomogenan Medium pada Radioterapi Supriyanto A. Pawiro; Sugiyantari -; Tirto Wahono
Indonesian Journal of Cancer Vol 3, No 1 (2009): Jan - Mar 2009
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.924 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v3i1.68

Abstract

Telah dilakukan pengukuran Percentage Depth Dose (PDD) pada medium homogen dan nonhomogen dengan menggunakan bilik ionisasi plan paralel Markus. Phantom homogen dibuat dari susunan lapisan akrilik setebal 30 cm, dan phantom nonhomogen dibuat dengan menyisipkan lapisan gabus ekivalen paru-paru setebal 4 cm yang dimasukkan ke dalam susunan akrilik. Penyinaran dilakukan dengan sinar-X 6 MV dan 10 MV yang diproduksi oleh LINAC Varian 2100C. Perbedaan prosentase dosis kedalaman (PDD) pada medium homogen dan nonhomogen rata-rata sebesar 4,3% pada sinar-X 6 MV dan 3,7% pada sinar-X 10 MV. Pemberian gabus pada akrilik mengakibatkan peningkatan dosis sampai 11,7% pada sinar-X 6 MV dan 10,2% pada sinar-X 10 MV. Faktor koreksi yang dihasilkan sebagai akibat adanya material ekivalen paru-paru/gabus mencapai 1,19 pada sinar-X 6 MV dan 1,15 pada sinar-X 10 MV.Kata kunci: Medium tak homogen, Markus chamber, faktor koreksi
Survival Analysis of Pediatric Wilms Tumor Based on Risk Identification Andy Andy; Yacobda Sigumonrong
Indonesian Journal of Cancer Vol 16, No 1 (2022): March
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.367 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v16i1.829

Abstract

Background: Wilms Tumor (WT) or nephroblastoma is the most common primary malignant tumor of the kidney found in children (comprising about > 95% of all kidney tumors). The study of WT prognostic factors has not been elaborated enough in Indonesia. This study aimed to determine the prognostic factors of WT patients in Adam Malik Hospital, Medan. Methods: This study was conducted with a retrospective design due to the rarity of WT cases. A total of 21 WT patients diagnosed from 2003 to 2019 were taken from medical records at Adam Malik Hospital, Medan. Univariate and multivariate Cox regression analyses were performed to determine the independent prognostic factors of WT. The primary endpoint of this study was patients’ overall survival (OS) obtained by the Kaplan-Meier analysis on significant variables. Results: From the univariate Cox regression analysis, gender was found to be the sole significant factor (HR = 0.218, p = 0.005) where males have a lower hazard ratio. The multivariate Cox regression analysis yielded an age of diagnosis (HR = 13.860, p = 0.014) and complete tumor removals (HR = 0.056, p = 0.008). The Kaplan-Meier analysis was performed on three significant variables mentioned before. Only gender yielded a significant Mantel-Cox log-rank score (p = 0.002) with male patients found to have better survivability with a median survival of 476 days compared to that of females of 11 days. The three-year survival of males was 45.45% while all females did not survive until the cut-off. Conclusions: Three prognostic factors, including children’s gender, age of diagnosis, and tumor removal status, were confirmed to be prognostic factors for the overall survival of children with WT. Further studies covering broader demographic areas were suggested to confirm significant results.
Gambaran Kualitas Hidup Pasien Kanker Pediatrik Usia Sekolah FRANSISCA SIDABUTAR; ANGGIE REGIA ANANDARI; EZRA -; INGRID KARLI; YUSNITA KATAGORI; HENNY WIRAWAN
Indonesian Journal of Cancer Vol 6, No 2 (2012): Apr - Jun 2012
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33371/ijoc.v6i2.186

Abstract

Memiliki kualitas hidup yang tinggi merupakan tantangan tersendiri bagi anak usia sekolah (6-12 tahun) yang mengalami kanker. Hal ini disebabkan mereka harus menjalani proses pengobatan kanker yang menyakitkan serta menimbulkan efek samping yang negatif dan menahun. Pengobatan kanker juga memisahkan anak dari keluarga dan sekolah. Padahal, kedua konteks tersebut adalah konteks yang sentral dalam menjalani tugas perkembangannya sebagai anak usia sekolah. Dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara dan observasi, penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran kualitas hidup lima anak usia sekolah yang sedang menjalani pengobatan kanker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun subyek mengalami dampak pengobatan yang berat, ia tetap dapat memiliki kualitas hidup yang baik pada dimensi fisik, psikologis, sosial, dan kognitif. Saran bagi relawan dan staf medis agar menyediakan kesempatan bagi pasien anak untuk belajar dan saling berinteraksi di dalam kamar di rumah sakit, serta penambahan jadwal terapi psikologis untuk membantu anak menangani emosi negatif yang dialaminya selama proses pengobatan.Kata kunci: kualitas hidup, anak usia sekolah, kanker

Page 11 of 57 | Total Record : 562


Filter by Year

2007 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 3 (2025): September Vol 19, No 2 (2025): June Vol 19, No 1 (2025): March Vol 18, No 4 (2024): December Vol 18, No 3 (2024): September Vol 18, No 2 (2024): June Vol 18, No 1 (2024): March Vol 17, No 4 (2023): December Vol 17, No 3 (2023): September Vol 17, No 2 (2023): June Vol 17, No 1 (2023): March Vol 16, No 4 (2022): December Vol 16, No 3 (2022): September Vol 16, No 2 (2022): June Vol 16, No 1 (2022): March Vol 15, No 4 (2021): December Vol 15, No 3 (2021): September Vol 15, No 2 (2021): June Vol 15, No 1 (2021): March Vol 14, No 4 (2020): December Vol 14, No 3 (2020): September Vol 14, No 2 (2020): June Vol 14, No 1 (2020): March Vol 13, No 4 (2019): December Vol 13, No 3 (2019): September Vol 13, No 2 (2019): June Vol 13, No 1 (2019): March Vol 12, No 4 (2018): October-December Vol 12, No 3 (2018): July-September Vol 12, No 2 (2018): April-June Vol 12, No 1 (2018): Jan - Mar Vol 11, No 4 (2017): October- December 2017 Vol 11, No 3 (2017): July - September 2017 Vol 11, No 2 (2017): April - June Vol 11, No 1 (2017): Jan-Mar Vol 10, No 4 (2016): October - December 2016 Vol 10, No 3 (2016): July - September 2016 Vol 10, No 2 (2016): April - June 2016 Vol 10, No 1 (2016): Jan - Mar 2016 Vol 9, No 4 (2015): Okt - Des 2015 Vol 9, No 3 (2015): Jul - Sept 2015 Vol 9, No 2 (2015): April-Juni 2015 Vol 9, No 1 (2015): Jan - Mar 2015 Vol 8, No 4 (2014): Oct - Dec 2014 Vol 8, No 3 (2014): Jul - Sep 2014 Vol 8, No 2 (2014): April-Juni 2014 Vol 8, No 1 (2014): Jan - Mar 2014 Vol 7, No 4 (2013): Oct - Dec 2013 Vol 7, No 3 (2013): Jul - Sep 2013 Vol 7, No 2 (2013): Apr - Jun 2013 Vol 7, No 1 (2013): Jan - Mar 2013 Vol 6, No 4 (2012): Oct - Dec 2012 Vol 6, No 3 (2012): Jul - Sep 2012 Vol 6, No 2 (2012): Apr - Jun 2012 Vol 6, No 1 (2012): Jan - Mar 2012 Vol 5, No 4 (2011): Oct - Dec 2011 Vol 5, No 3 (2011): Jul - Sep 2011 Vol 5, No 2 (2011): Apr - Jun 2011 Vol 5, No 1 (2011): Jan - Mar 2011 Vol 4, No 4 (2010): Oct - Dec 2010 Vol 4, No 3 (2010): Jul - Sep 2010 Vol 4, No 2 (2010): Apr - Jun 2010 Vol 4, No 1 (2010): Jan - Mar 2010 Vol 3, No 4 (2009): Oct - Dec 2009 Vol 3, No 3 (2009): Jul - Sep 2009 Vol 3, No 2 (2009): Apr - Jun 2009 Vol 3, No 1 (2009): Jan - Mar 2009 Vol 2, No 4 (2008): Oct - Dec 2008 Vol 2, No 3 (2008): Jul - Sep 2008 Vol 2, No 2 (2008): Apr - Jun 2008 Vol 2, No 1 (2008): Jan - Mar 2008 Vol 1, No 4 (2007): Oct - Dec 2007 Vol 1, No 3 (2007): Jul - Sep 2007 Vol 1, No 2 (2007): Apr - Jun 2007 Vol 1, No 1 (2007): Jan - Mar 2007 More Issue