Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Perbedaan Ekspresi HBME-1 dan E-Cadherin pada Nodular Hiperplasia, Karsinoma Papiler, dan Folikular Tiroid ROOSANDRIS, PRIMA; KUSUMASTUTI, ETTY HARY; KURNIASARI, NILA
Indonesian Journal of Cancer Vol 11, No 4 (2017): October- December 2017
Publisher : Indonesian Journal of Cancer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1225.36 KB)

Abstract

Thyroid lesion can be neoplastic and non neoplastic, whether benign or malignant. There are some cases in which pathologists have difficulties to differentiated those lesions. Aim: To analyze the expression of HBME-1 and E-cadherin on nodular hyperplasia, papillary carcinomas and follicular carcinomas. Paraffin blocks of nodular hyperplasia, papillary carcinoma and follicular thyroid were collected from Departement of Pathology Dr Soetomo General Hospital from January 1st, 2012 to December 31th, 2014. Immunohistochemical staining for HBME-1 and E-cadherin were performed. The difference of expression HBME-1 and E-cadherin were analyzed by Mann Whitney test, and the correlation between HBME-1 and E-cadherin determined using Spearman test. There were significant difference of HBME-1 expression between Nodular hyperplasia and Thyroid carcinoma(p≤0,05). There were also significant difference of HBME-1 between papillary and follicular carcinoma thyroid(p≤0,05). There were no significant difference of E-cadherin expression between Nodular hyperplasia and Thyroid carcinoma(p≥0,05). Conclusion: HBME-1 can be used as a marker to distinguish benign and malignant lesion of thyroid gland, and also to distinguish papillary carcinoma and follicullar carcinoma thyroid. ABSTRAK Lesi tiroid dapat berupa lesi non-neoplastik dan neoplastik, baik jinak maupun ganas. Membedakan tumor tiroid jinak dan ganas sangat penting untuk penatalaksanaan klinis yang tepat sehingga sering kali patolog menemui kesulitan dalam membedakan lesi tiroid jinak dan ganas. Penelitian ini bertujuann membuktikan adanya perbedaan ekspresi HBME-1 dan E-cadherin antara nodular hiperplasi, karsinoma papiler, dan karsinoma folikular tiroid. Dilakukan pemeriksaan imunohistokimia pada blok parafin dari nodular hiperplasia, karsinoma papiler, dan karsinoma folikular yang tersimpan di Instalasi Patologi Anatomi RSUD Dr. Soetomo (1 Januari 2012 sampai dengan 31 Desember 2014 sebanyak 35 sampel sesuai kriteria inklusi) dengan antibodi HBME-1 dan E-cadherin. Ekspresi HBME-1 dan E-cadherin dianalisis dengan uji Mann Whitney, sedangkan korelasi antara HBME-1 dan E-cadherin diuji dengan Spearman Test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan ekspresi HBME-1 yang signifikan antara nodular hiperplasia dan karsinoma tiroid( p≤0,05); terdapat perbedaan ekspresi HBME-1 yang signifikan antara karsinoma papiler tiroid dan karsinoma folikular tiroid (p≤0,05). Tidak terdapat perbedaan ekspresi E-cadherin yang signifikan pada nodular hiperplasi dan karsinoma tiroid (p≥0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa HBME-1 dapat digunakan sebagai marker untuk mebedakan lesi jinak dan ganas kelenjar tiroid, serta dapat digunakan untuk membedakan karsinoma papiler tiroid dan karsinoma folikular tiroid.
Korelasi Ekspresi ezrin dan CD44 dengan Respons Kemoterapi pada Pasien Osteosarkoma SULISTIO, CHRISTIAN BAMBANG; MUSTOKOWENI, SJAHJENNY; KURNIASARI, NILA
Indonesian Journal of Cancer Vol 11, No 3 (2017): July - September 2017
Publisher : Indonesian Journal of Cancer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1060.936 KB)

Abstract

Osteosarcoma is the most common malignant bone tumor in children and young adults. The process of metastasis and recurrence involves several proteins, including ezrin, and CD44 that are shown to be involved in tumor growth,metastasis and recurrence. To analyse the corelation of ezrin and CD44 expression with chemotherapy responsse in osteosarcoma patient. Cross sectional method on paraffin block of Osteosarcoma in Anatomic Pathology Laboratory of RSUD dr Soetomo, (January 1, 2010 - December 31, 2015). There were 17 out of 26 cases of amputated osteosarcoma which are met the inclusion criteria were performed immunohistochemical staining with ezrin and CD44 antibodies. The corellation of ezrin and CD44 expression with chemotherapy responsse was analyzed using Spearman’s rho test. The coeficient correlation in this experiment p<0.05, there was no corellation of ezrin expression with chemotherapy responsse of osteosarcoma. There was no correlation of CD44 expression with chemotherapy responsse in osteosarcoma. There was no correlation of ezrin and CD44 expression with chemotherapy responsse of osteosarcoma. There was no corellation of ezrin and CD44 expression with chemotherapy responsse of osteosarcoma.ABSTRAKOsteosarkoma merupakan tumor ganas tulang, sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. Proses metastasis dan rekurensi melibatkan beberapa protein, di antaranya ezrin dan CD44 yang terbukti ikut serta dalam pertumbuhan tumor, metastasis, dan rekurensi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara ekspresi ezrin dan CD44 dengan respons kemoterapi. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional blok parafin osteosarkoma di Laboratorium Patologi Anatomi RSUD Dr. Soetomo (1 Januari 2010–31 Desember 2015). Sebanyak 17 kasus sesuai kriteria inklusi dari 26 kasus osteosarkoma yang telah diamputasi dilakukan seleksi serta pemeriksaan imunohistokimia dengan antibodi ezrin danCD44. Hubungan ekspresi antara ezrin dan CD44 dengan respons kemoterapi dianalisis menggunakan uji Spearman’srho. Pada penelitian ini, nilai koefisien korelasi p<0,05 sehingga tidak terdapat hubungan antara ekspresi ezrin denganrespons kemoterapi pada osteosarkoma, di mana nilai p=0,868 (p>0,05). Tidak terdapat hubungan antara ekspresi CD44 dengan respons kemoterapi pada osteosarkoma di mana nilai p = 0,740 (p> 0,05).Tidak terdapat korelasi antaraekspresi ezrin dengan CD44 dengan respons kemoterapi osteosarkoma, nilai p=0,113 (p>0,05). Tidak terdapat hubungan antara ekspresi ezrin dan CD44 dengan respons kemoterapi pada pasien osteosarkoma.
KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIKA PADA KOMPETENSI DASAR MENGHITUNG LUAS PERMUKAAN DAN VOLUME KUBUS, BALOK, PRISMA, DAN LIMAS Kurniasari, Nila
EKUIVALEN - Pendidikan Matematika Vol 2, No 1 (2013): EKUIVALEN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purworejo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.596 KB)

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah: mengetahui kemampuan koneksi interkonsep matematika, kemampuan koneksi antar konsep matematika, kemampuan koneksi matematika dengan mata pelajaran lain, dan koneksi matematika dengan kehidupan sehari-hari pada kompetensi dasar menghitung luas permukaan dan volume kubus, balok, prisma, dan limas. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti. Teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan cara tes wawancara. Partisipan dalam penelitian ini adalah 12 siswa kelas IX SMP Negeri 17 Purworejo. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan snowball sampling. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, sedangkan analisis data dilakukan dengan langkah-langkah penyajian data, reduksi data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam melakukan koneksi interkonsep matematika belum dimiliki secara penuh, siswa tidak dapat melakukan koneksi antara konsep luas permukaan dan volume dengan konsep matematika lainnya, siswa dapat melakukan koneksi matematika dengan mata pelajaran ekonomi, dan siswa dapat melakukan koneksi matematika dengan kehidupan sehari-hari. Kata kunci: koneksi matematika, konsep
Ekspresi Galectin-3 dan Cyclin D1 pada Nodular Hiperplasia, Karsinoma Papiler dan Folikuler Tiroid Fibriani Dyah Sofiana; Tulus Panuwun; Nila Kurniasari
Majalah Patologi Indonesia Vol 25 No 3 (2016): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.971 KB)

Abstract

Latar belakang Berbagai kesulitan sering ditemukan dalam membedakan tumor tiroid jinak dan ganas dengan pola dan morfologi tertentu. Oleh karena itu ketepatan diagnosis sangat penting dalam penatalaksanaan klinis yang tepat. Galectin-3 merupakan gen yang berperan pada apoptosis dalam karsinogenesis, sedangkan cyclin D1 merupakan regulator siklus sel. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan dan korelasi ekspresi galectin-3 dan cyclin D1 pada nodular hiperplasia, karsinoma papiler, dan karsinoma folikuler. Metode Penelitian ini menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah blok parafin nodular hiperplasia, karsinoma papiler dan karsinoma folikuler yang ada di Departemen Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo Surabaya mulai 1 Januari 2012 sampai 31 Desember 2014. Tiga puluh lima sampel terdiri atas 3 kelompok yaitu 19 nodular hiperplasia, 8 karsinoma papiler dan 8 karsinoma folikuler. Pemeriksaan ekspresi galectin-3 dan cyclin D1 dilakukan menggunakan metode imunohistokimia. Perbedaan ekspresi galectin-3/cyclin D1 pada ketiga kelompok sampel dianalisis dengan uji Kruskal Wallis dan uji Mann-Whitney. Sedangkan korelasi ekspresi galectin-3 dan cyclin D1 dianalisis dengan uji Spearman. Hasil Uji Kruskal Wallis dan uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan bermakna ekspresi galectin-3 pada nodular hiperplasia, karsinoma folikuler, dan papiler, serta perbedaan tidak bermakna ekspresi cyclin D1 pada ketiga kelompok. Analisis dengan Test Spearman menunjukkan adanya korelasi tidak bermakna ekspresi galectin-3 dan cyclin D1 pada ketiga kelompok. Kesimpulan Galectin-3 dapat digunakan sebagai penanda lesi jinak dan ganas kelenjar tiroid khususnya tipe berdiferensiasi baik. Kata kunci: cyclin D1, galectin-3, karsinoma folikuler tiroid, karsinoma papiler tiroid, nodular hyperplasia tiroid.
Ekspresi CXCR4 dan Ki-67 pada Limfoma Folikuler Derajat Rendah dan Derajat Tinggi Ridholia Ridholia; Dyah Fauziah; Nila Kurniasari
Majalah Patologi Indonesia Vol 25 No 3 (2016): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1243.852 KB)

Abstract

Latar belakang Limfoma folikuler adalah neoplasma yang terdiri dari proliferasi sel B germinal centre ganas yang bercampur dengan sel tidak ganas seperti sel T helper (Th), sel dendritik folikuler (FDC), makrofag. sentrosit dan sentroblas yang merupakan sel yang dominan pada limfoma folikuler . Perjalanan klinis limfoma folikuler dapat diprediksi dengan menentukan derajat berdasarkan jumlah rata-rata sentroblas pada 10 folikel neoplastik per lapang pandang besar. CXCR4 adalah reseptor kemokin yang terdapat pada sel tumor dan berikatan dengan ligan CXCL12 yang disekresi oleh sel stroma follicular reticular (FRCs). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sentroblas mengekspresikan CXCR4 sedangkan sentrosit tidak mengekspresikan CXCR4. Ikatan ligan CXCL12 dengan reseptor kemokin CXCR4 akan menguraikan protein G dan mengaktifkan faktor transkripsi NFκB melalui Akt. Selain itu, aksis CXCR4/CXCL12 dapat menon-aktifkan protein BAD yang merupakan protein pro apoptosis sehingga proliferasi sel terus terjadi. Indeks proliferasi dapat diukur dengan ekspresi Ki-67. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis ekspresi CXCR4 dan Ki-67 pada limfoma folikuler. Metode Penelitian observasional analitik ini dilakukan dengan pendekatan potong lintang Sample penelitian adalah blok parafin dari semua kasus limfoma folikuler di Laboratorium Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode Januari 2007-Desember 2014. Ekspresi CXCR4 dan Ki-67 dihitung secara kuantitatif. Perbedaan ekspresi CXCR4 dan Ki-67 dianalisis menggunakan uji statistik Mann-Whitney dan uji T. Hubungan ekspresi CXCR4 dan Ki-67 dianalisis dengan uji statistik korelasi Spearman. Hasil Didapatkan perbedaan bermakna antara ekspresi CXCR4 pada limfoma folikuler derajat rendah dan limfoma folikuler derajat tinggi (p=0,027, p0,05). Didapatkan hubungan bermakna antara ekspresi CXCR4 dan Ki-67 pada limfoma folikuler derajat rendah (p=0,036, p0,05), koefisien korelasi r= -0,452. Kesimpulan Ekspresi CXCR4 dapat digunakan untuk membedakan limfoma folikuler derajat rendah dan tinggi, sedangkan ekspresi Ki-67 tidak dapat digunakan untuk membedakan limfoma folikuler derajat rendah dan tinggi. Kata kunci: CXCR4, derajat, limfoma folikuler, Ki-67.
Analisis Ekspresi p21 dan CDK6 pada Karsinoma Payudara Invasif Tipe Luminal A, Luminal B dan HER2/neu Nasrun Bakri; Nila Kurniasari; Dyah Fauziah
Majalah Patologi Indonesia Vol 28 No 1 (2019): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.169 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma payudara adalah keganasan paling sering ditemukan pada wanita. Berbagai literatur menunjukkanbahwa p21 dan CDK6 mempunyai peranan pada proliferasi sel tumor di berbagai keganasan. Korelasi danperbedaan ekspresi p21 dan CDK6 pada klasifikasi subtipe molekular karsinoma payudara invasif belumbanyak diteliti. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ekspresi p21 dan CDK6 pada karsinoma payudarainvasif tipe luminal A, luminal B dan HER/neu.MetodePenelitian ini dilakukan secara retrsospektif dengan desain observasional analitik cross sectional blok parafinkarsinoma payudara invasif subtipe luminal A, luminal B dan HER2/neu di Laboratorium Patologi AnatomikRSUD Dr. Soetomo Surabaya. Hasil penelitian dilakukan dengan uji statistik Kruskal-Wallis untuk uji beda danuji statistik Spearman untuk uji korelasi.HasilPenelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna ekspresi p21 (p=0,402) dan CDK6 (p=0,238) padasubtipe luminal A, luminal B dan HER2/neu. Tidak terdapat korelasi bermakna antara ekspresi p21 dan CDK6pada luminal A (p=0,211), luminal B (p=0,286) dan HER2/neu (p=0,192).KesimpulanEkspresi p21 dan CDK6 tidak mempunyai perbedaan bermakna pada karsinoma payudara invasif subtipeluminal A, luminal B dan HER2/neu
Correlation Between IFNγ+ and CTLA-4+ Tumor Infiltrating Lymphocytes In Luminal And Non-Luminal Breast Carcinoma Irene Lingkan Parengkuan; Sjahjenny Mustokoweni; Nila Kurniasari
Qanun Medika - Jurnal Kedokteran FK UMSurabaya Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1539.508 KB) | DOI: 10.30651/jqm.v3i2.2778

Abstract

ABSTRACT The role of tumor infiltrating lymphocytes (TIL) in breast carcinoma depends on the molecular subtype, especially the expression of the estrogen receptor. A greater mutation load in the non-luminal subtype leads to continuous activation of the immune system resulting in exhausted T lymphocytes. Observational research with a cross-sectional approach was conducted on 40 formalin fixed paraffin-embedded tissue from breast carcinoma at the Anatomical Pathology Laboratory of Dr. Soetomo General Hospital Surabaya during January 2017 -  December 2018. Samples were divided into two groups based on their status of ER expression. The parameter was a positive percentage of TIL immunoreactivity against IFNγ and CTLA-4 antibodies. Percentage of IFNγ+ TIL is higher in the luminal subtype (p =0.001), whereas the percentage of CTLA-4+ TIL is higher in the non-luminal (p =0.001). These expressions were significantly correlated with the molecular subtype of breast carcinoma (p=0.001). A significant correlation between IFNγ+ and CTLA-4+ TIL were found (rs=-0.350, p=0.027). Exhausted T lymphocytes express some inhibitor molecules such as CTLA-4. CTLA-4 (Cytotoxic T-Cell Lymphocyte Associated Protein-4) suppresses immune system function including the activity of IFN-γ as an important molecule in anti-tumor immunity and forms an immunosuppressive and pro-tumor microenvironment. Different level of expressions of IFNγ+ (p=0.001) and CTLA-4 + (p=0.001) TIL were proven to be related to the molecular subtype of breast carcinoma (rs=-0.683, p=0.001; rs=0,501, p=0.001, respectively). The negative correlation between IFNγ+ and CTLA-4+ TIL shows the role of CTLA-4 as an inhibitory molecule to the immune system (rs=-0.350, p=0.027).Keywords : tumour infiltrating lymphocytes, IFNγ, CTLA-4, breast carcinoma,  luminal molecular subtypeCorrespondence to: lingkan.parengkuan@gmail.com ABSTRAK Peran tumour infiltrating lymphocytes (TIL) pada karsinoma payudara berhubungan erat dengan subtipe molekuler, terutama ada atau tidaknya ekspresi reseptor estrogen. Beban mutasi yang besar pada subtipe non-luminal menyebabkan pengaktifan sistem imun terjadi terus menerus dengan hasil akhir terbentuknya subset limfosit T yang kelelahan. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan potong lintang ini menggunakan sampel 40 blok parafin dari penderita karsinoma payudara di Laboratorium Patologi Anatomi RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode 1 Januari 2017 – 31 Desember 2018 yang dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan ada atau tidaknya ekspresi reseptor estrogen. Parameter penilaian adalah jumlah persentase TIL area tumor invasif yang terpulas positif dengan antibodi IFNγ dan CTLA-4. Ekspresi IFNγ+ TIL didapatkan lebih tinggi pada subtipe luminal (p=0,001), sedangkan ekspresi CTLA-4+ TIL didapatkan lebih tinggi pada subtipe non-luminal (p=0,001). Analisis statistik menunjukkan adanya korelasi signifikan antara ekspresi IFNγ+ TIL dengan CTLA-4+ TIL (rs=-0,350, p=0,027). Salah satu sifat dari sel limfosit T kelelahan adalah mengekspresikan molekul inhibitor sistem imun antara lain CTLA-4 (Cytotoxic T-Cell Lymphocyte Associated Protein-4). CTLA-4 akan menekan fungsi sistem imun dan berdampak pada penurunan aktivitas IFN-γ yang merupakan salah satu molekul penting dalam imunitas anti-tumor sehingga terbentuklah lingkungan mikro yang imunosupresif dan pro-tumor. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan ekspresi IFNγ+ TIL (p=0,001) dan CTLA-4+ TIL (p=0,001) pada kedua kelompok yang secara bermakna berhubungan dengan subtipe molekuler karsinoma payudara (secara berurutan mendapatkan nilai (rs=-0,683, p=0,001 dan rs=0,501, p=0,001). Korelasi negatif antara IFNγ+ TIL dengan CTLA-4+ TIL menunjukkan adanya peran CTLA-4 sebagai molekul inhibisi terhadap sistem imun (rs=-0,350, p=0,027).Kata kunci                  : tumour infiltrating lymphocytes, IFNγ, CTLA-4, karsinoma payudara, subtipe molekuler luminalKorespondensi            :lingkan.parengkuan@gmail.com
Skrining Kanker Serviks dengan Pemeriksaan Pap Smear di Puskesmas Tanah Kali Kedinding Surabaya dan Rumah Sakit Mawadah Mojokerto Gondo Mastutik; Rahmi Alia; Alphania Rahniayu; Nila Kurniasari; Anny Setijo Rahaju; Sjahjenny Mustokoweni
Majalah Obstetri dan Ginekologi Vol. 23 No. 2 (2015): Mei - Agustus 2015
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.563 KB) | DOI: 10.20473/mog.V23I22015.54-60

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi lesi prekanker serviks dengan cara melakukan skrining kanker serviks menggunakan pemeriksaan Pap smear.Bahan dan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan metode pendekatan cross sectional yang dilakukan pada 140 wanita, terdiri dari 90 orang dari Puskes-mas Tanah Kali Kedinding Surabaya, dan 50 orang dari Rumah Sakit Mawadah Mojokerto, dengan usia 20-70 tahun. Pemeriksaan spesimen sitologi serviks dengan pengecatan Papaniculaou dan klasifikasi hasil pemeriksaaan sitologi berdasar-kan klasifikasi Papaniculaou dan sistim Bethesda. Pemeriksaan inspeksi visual asam asetat (IVA) adalah metode lain untuk skrining kanker serviks dilakukan dengan mengoleskan asam asetat 5% pada area serviks dan melakukan pengamatan satu menit kemudian.Hasil: Hasil pemeriksaaan Pap smear menunjukkan Papaniculaou kelas I (sama dengan normal pada klasifikasi sistim Bethesda) yaitu 12.1%, kelas II (sama dengan NILM pada klasifikasi sistim Bethesda) yaitu 86, 4%, dan kelas III (sama dengan LSIL pada klasifikasi sistim Bethesda) yaitu 1,4%. Hasil pemeriksaan IVA menunjukkan 6,43% positif dan 93,57% negatif. Hasil pemeriksa-an IVA positif terdapat pada 9/140 orang yang merupakan proses keradangan dan infeksi, bukan merupakan lesi prekanker.Simpulan: Prevalensi lesi prekanker yaitu 1,4%. Pemeriksaan IVA menunjukkan hasil positif semu yang disebabkan oleh proses radang atau infeksi pada serviks. 
Cryotherapy Has No Significant Effect on MMP-9 and TGF-β1 Expression in Fungal Corneal Ulcer Dwita Permatasari; Hendrian Dwikoloso Soebagjo; Ismi Zuhria; Nila Kurniasari; Hari Basuki Notobroto; Cinintha Nandini
The Indonesian Biomedical Journal Vol 13, No 3 (2021)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v13i3.1516

Abstract

BACKGROUND: Usually, surgical intervention is needed to eradicate the fungal microorganism that cause fungal corneal ulcers. However, since surgical intervention is invasive, the latest technology uses cryotherapy in treating it. Cryotherapy plays a vital role in the wound healing process. We aimed to evaluate is to study the decreased expression of matrix metalloproteinase 9 (MMP-9) and transforming growth factor β1 (TGF-β1) in fungal corneal ulcers after the administration of cryotherapy.METHODS: Aspergillus flavus fungus was injected to the intrastromal corneas of all Sprague Dawley rats. The rats were divided into four groups, the first group was not given any therapy, the second group was given topical natamycin therapy, the third group was given cryotherapy, and the fourth group was given a combination between cryotherapy and topical natamycin therapy. Therapy was given after five days of follow up on the formation of a corneal ulcer. After four days of therapy, the eyes were enucleated to determine MMP-9 and TGF-β1 expression.RESULTS: The result in the third group showed lower MMP-9 expression (20.0±10.0% cells per field of view) compared to the second group (40.0±20.0% cells per field of view) and the fourth group (30.0±25.0% cells per field of view), but had the same MMP-9 expression value as the first group. There was no significant difference in MMP-9 expression between the four groups (p=0.356). The third group reduced more TGF-β1 expression (10.0±12.50% cells per field of view) compared to the fourth group (30±27.5% cells per field of view) and the first group (30±32.5% cells per field of view). There was also no significant difference in TGF-β1 between the four groups (p=0.315).CONCLUSION: There is no significant difference in the expression of TGF-β1 and MMP-9 after the cryotherapy treatment.KEYWORDS: corneal ulcer, cryotherapy, MMP-9, TGF-β1
The Role of MMP-9 and VEGF in the Invasion State of Bladder Urothelial Carcinoma Novalia Chumaladewi Guntarno; Anny Setijo Rahaju; Nila Kurniasari
The Indonesian Biomedical Journal Vol 13, No 1 (2021)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v13i1.1348

Abstract

BACKGROUND: Bladder cancer is the tenth-most common cancer in worldwide and the majority are urothelial carcinomas. The depth of invasion plays important role in the prognostic and therapeutic factor in urothelial carcinomas. The expression of vascular endothelial growth factor (VEGF) and matrix metalloproteinase-9 (MMP-9) may associated with the progression of bladder carcinoma, such as depth of invasion. In this study, the correlation between these two markers in urothelial bladder carcinoma invasion will be analyzed.METHODS: An analytical observational research with cross-sectional were conducted on 54 formalin fixed paraffin-embedded tissue from radical cystectomy (RC) which were diagnosed as bladder urothelial carcinoma at the Anatomical Pathology Laboratory of Dr. Soetomo Academic Hospital, Surabaya and divided based on the T stage were immunostained using VEGF and MMP-9 monoclonal antibodies. The difference of VEGF and MMP-9 expression in T stage of bladder urothelial carcinoma were analyzed using Kruskal-Wallis and Anova test, the correlation between VEGF and MMP-9 expression in various T stage of bladder urothelial carcinoma were analyzed using Spearman test. RESULTS: This study showed no significant difference of VEGF expression among T stage of bladder urothelial carcinoma (p>0.05) but there was significant difference of MMP-9 expression in T stage of bladder urothelial carcinoma (p=0.043). There was a correlation between VEGF and MMP-9 in various T stage of bladder urothelial carcinoma (rs= 0.50, p=0.001).CONCLUSION: The significant correlation of VEGF and MMP-9 expression in bladder urothelial carcinoma may prove the synergistically role of both proteins in tumor invasion by MMP-9 degradation extracellular matrix.KEYWORDS: urothelial carcinoma, VEGF, MMP-9, T stage
Co-Authors Agustin, Leonita Aisyah Shabrina Alphania Rahniayu Anggoro, Adhitri Anggray Puspasari Anny Setijo Rahaju, Anny Setijo Ariani, Grace Arisca Arisca Arum Dewi Pusparini Askandar Tjokroprawiro Budi Harjanto Budi Harjanto Budi Utomo Budiono Budiono CHRISTIAN BAMBANG SULISTIO Cinintha Nandini Dewi Sartika A. W. Djuanda, Stephanie N. Dwita Permatasari DYAH FAUZIAH, DYAH Edi Suyanto Endang Retnowati Eva Silvia Yahya Fibriani Dyah Sofiana Fira Soraya Gatot Soegiarto Gatut Hardianto, Gatut Gondo Mastutik Gunawan, Vania A. Hari Basuki Notobroto Heriyawati, Heriyawati I'tishom, Reny Ilmiah, Khafidhotul Imam Susilo Irene Lingkan Parengkuan Khafidhotul Ilmiah Khafidhotul Ilmiah Kusumastuti, Etty H. Kusumastuti, Etty Hari KUSUMASTUTI, ETTY HARY Lefi, Achmad Lilihata, Jilientasia G. Maharani, Andi RK. Marhana, Isnin A. Marisca Ma’rifatu Ulfa Hidayati Mohammad Hasan Machfoed Muhammad Hafiz Nasrun Bakri Natasya Dyah Ayu Purnamasari Novalia Chumaladewi Guntarno Nugraha, Ricardo A. Nugroho, Gilang MS. Nurul Istiqomah Patikawa, Febria Rizky PRIMA ROOSANDRIS Pudji Lestari PUNGKY MULAWARDHANA, PUNGKY Qonitatillah, Ana Rahaju, Anny S. Rahmi Alia Rahmi Alia, Rahmi Ridholia Ridholia Ridholia Ridholia Ridholia Ridholia, Ridholia Rinjani, Lalu GP. ROOSANDRIS, PRIMA Rosyid, Alfian N. S.Pd. M Kes I Ketut Sudiana . Sari, Aditya Sita Semedi, Bambang P. Sjahjenny Mustokoweni, Sjahjenny Soebagjo, Hendrian Dwikoloso SULISTIO, CHRISTIAN BAMBANG Supriadi Supriadi Tulus Panuwun Ummi Maimunah Wahyu, Dwi Willy Sandhika Windhu Purnomo Wira Santoso Ongko Wiratama, Priangga A. Wiratama, Priangga Adi Yandi, I KR. Zuhria, Ismi