cover
Contact Name
Bayu Brahma
Contact Email
journal.cancer@gmail.com
Phone
+628176389956
Journal Mail Official
admin@indonesianjournalofcancer.or.id
Editorial Address
National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital Research and Development Building, 3rd-floor Jl. Letjen S. Parman Kav. 84-86, Slipi West Jakarta
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesian Journal of Cancer
ISSN : 19783744     EISSN : 23556811     DOI : https://www.doi.org/ 10.33371
Core Subject : Health, Science,
Indonesian Journal of Cancer is a peer-reviewed and open-access journal. This journal is published quarterly (in March, June, September, and December) by Dharmais Cancer Hospital - National Cancer Center. Submissions are reviewed under a broad scope of topics relevant to experimental and clinical cancer research. Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. All submitted manuscripts will go through the double-blind peer review and editorial review before being granted acceptance for publication. The journal publishes original research articles, case reports, and review articles under the following categories: cancer management, cancer prevention, cancer etiology, epidemiology, molecular oncology, cancer diagnosis and therapy, tumor pathology, surgical oncology, medical oncology, radiation oncology, interventional radiology, as well as early detection.
Arjuna Subject : Kedokteran - Onkologi
Articles 562 Documents
Ekspresi Heat Shock Protein 70 (HSP70) dan Caspase-3 sebagai Prediktor terhadap Operabilitas Kanker Serviks Stadium IIB setelah Mendapat Kemoterapi Neoajuvant Paclitaxel-Carboplatin Hermawan Udiyanto; Brahmana Askandar; Dyah Fauziah
Indonesian Journal of Cancer Vol 7, No 3 (2013): Jul - Sep 2013
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1074.677 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v7i3.287

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran ekspresi HSP70 dan Caspase-3 terhadap keberhasilan operabilitas kanker serviks stadium IIB setelah pemberian kemoterapi neoajuvant Paclitaxel-Carboplatin 3 seri. Metode: ekspresi HSP70 dan caspase-3 diperiksa dengan pengecatan imunohistokimia pada 40 potongan biopsi jaringan pasien kanker serviks IIB yang memenuhi kriteria inklusi, yang melakukan pengobatan di RSUD dr. Soetomo, Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, mulai Desember 2006 hingga Juli 2011. Kriteria inklusi meliputi penderita yang telah dilakukan evaluasi keberhasilan terapi (operabilitas) pasca-kemoterapi neoajuvant Paclitaxel-Carboplatin sebanyak 3 seri berturut-turut, dengan interval pemberian 3 minggu. Evaluasi keberhasilan terapi (operabilitas) tidak mengikuti kriteria respons terapi berdasarkan RECIST (Response Evaluation Criteria in Solid Tumours). Waktu pemeriksaan 3 4 minggu setelah pemberian kemoterapi yang terakhir. Operabilitas tumor, yaitu kondisi klinis kanker serviks di mana pada pemeriksaan dalam vagina (vaginal toucher/VT) dan pemeriksaan dalam rektum oleh tim ginekologi onkologi setelah penderita mendapatkan kemoterapi neoajuvant Paclitaxel-Carboplatin 3 seri dinyatakan bahwa pada parametrium secara klinis tidak didapatkan infiltrasi tumor. Jenis dan bentuk penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional, studi case control pada penderita kanker serviks IIB yang mendapat kemoterapi neoajuvant Paclitaxel-Carboplatin sebanyak 3 kali dengan interval pemberian kemoterapi 3 minggu.Hubungan antara ekspresi HSP70 dan caspase-3 dengan operabilitas post-kemoterapi neoajuvant Paclitaxel-Carboplatin dianalisis dengan regresi logistik. Ekspresi HSP70 negatif dan HSP70 positif mempunyai jumlah total yang sama, yaitu 20 orang (50%), masing-masing 9 orang pada kelompok operabel dan 11 orang pada kelompok inoperabel. Tidak ada perbedaan yang bermakna hubungan antara HSP70 dengan operabilitas ( p = 1 ), dengan OR = 1,00 ( 95%CI : 0,28-3,47 ). Ekspresi caspase-3 positif sebanyak 24 orang (60,0%), masing-masing 13 orang pada kelompok operabel dan 11 orang pada kelompok inoperabel. Pada ekspresi Caspase-3 negatif, sebanyak 16 orang (40,0%), masing-masing 5 orang pada kelompok operabel dan 11 orang pada kelompok inoperabel. Tidak ada perbedaan yang bermakna hubungan antara ekspresi caspase-3 dengan operabilitas ( p = 0,154 ), dengan OR = 0,06 ( 95%CI : 0,69-9,81). Kombinasi antara ekspresi HSP70 (+) dan ekspresi caspase-3 (-), sebanyak 8 orang (20%), masing-masing 2 orang pada kelompok operabel dan 6 orang pada kelompok inoperabel. Sedangkan pada kelompok selain kombinasi antara ekspresi HSP70 (+) dan ekspresi caspase-3 (-) sebanyak 32 orang (80%), masing-masing 16 orang pada kelompok inoperabel dan 16 orang pada kelompok operabel. Tidak ada perbedaan yang bermakna hubungan antara kombinasi ekspresi HSP70 (+) dan ekspresi caspase-3 (-) dengan operabilitas ( p = 0,217 ), dengan OR = 3,0 ( 95 % CI : 0,525-17,159).Kesimpulan: ekspresi HSP70 dan caspase-3 tidak dapat dijadikan sebagai prediktor operabilitas pada kanker serviks stadium IIB yang mendapatkan neoajuvant kemoterapi Paclitaxel-Carboplatin.Kata kunci: Kanker serviks stadium IIB, kemoterapi neoajuvant Paclitaxel-Carboplatin, operabilitas pascakemoterapi neoajuvant.
Analisis Ketahanan Hidup Tumor Testis Sel Germinal di RS Sardjito Periode 2007-2013 Denny Achmad Prayoga; HR Danarto
Indonesian Journal of Cancer Vol 10, No 4 (2016): October - December 2016
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.189 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v10i4.490

Abstract

ABSTRACTObjective: To know survival of germ cell testicle tumor at Sardjito hospital who had chemotherapy or radiotherapy and its factor which influenced their survivalMethod: From year 2007 until 2013, we collected patients with germ cell testicle tumor at Sardjito hospital who had chemotherapy or radiotherapy. The clinical factor that studied were age, histopathology findings, the TNMS staging, clinical staging, therapy and survival status. We evaluate their survival up to five years after therapy. Correlation between survival status with age, histopathology findings, the TNMS staging, clinical staging,therapy and prognosis were analyzed using Fisher Exact Test. The Kaplan Meier survival analysis was used to calculate survival of germ cell testicle tumor. Result: There are 23 patient of germ cell testicle tumor whom 21 patients had chemotherapy and 2 patients had radiotherapy. There are no correlation between survival status with age, histopathology findings, the TNMS staging, clinical staging, therapy and prognosis (p>0.05). Based on Kaplan Meier survival analysis, their survival were better on age < 30 years old (p=0.534), seminoma type (p=0.860), had chemotherapy (p=0.599), T3 (p=0.031), Nx (p=0.394), Mx (p=0.781), 51 staging (p=0.623) dan 3rdstadium (p=0.732). Based on risk classification, survival of seminoma with intermediate prognosis were better than seminoma with good prognosis (p=0.631) whereas survival of non seminoma with good prognosis were higher than non seminoma with intermediate or poor prognosis (p=0.014). Conclusion: Germ cell testicle tumor at Sardjito hospital had dominant of seminoma type and had already developed into advanced staged with chemoterapy as therapy. Survival of germ cell testicle tumor were lower than other country. T3 staging and non seminoma with good prognosis could be prognostic factor of germ cell testicle tumor at Sardjito hospital.ABSTRAKObjektif: Untuk mengetahui gambaran ketahanan hidup pasien tumor testis jenis sel germinal di RS Sardjito yang dilakukan kemoterapi maupun radioterapi serta faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan hidup tumor testis jenis sel germinal Bahan dan cara: Dari tahun 2007-2013, dilakukan pendataan pasien dengan tumor testis jenis sel germinal di RS Sardjito baik yang dilakukan kemoterapi maupun radioterapi. Data yang dipelajari adalah usia, jenis histopatologi, stadium T, N, M, S, stadium klinis dan status ketahanan hidup. Dilakukan evaluasi ketahanan hidup hingga 5 tahun post terapi. Dilakukan analisa bivariat menggunakan tes Fisher untuk menilai hubungan antara ketahanan hidup dengan faktor-faktor seperti usia, jenis histopatologi, stadium T, N, M, S, stadium klinis, jenis terapi dan prognosis. Digunakan kurva Kaplan Meier untuk menilai gambaran ketahanan hidup pasien tumor testis sel germinal. Hasil: Ada 23 pasien tumor testis jenis sel germinal di RS Sardjito periode 2007-2013 dimana 21 pasien mendapatkan kemoterapi dan 2 pasien mendapatkan radioterapi. Tidak dijumpai hubungan bermakna antara ketahanan hidup pasien tumor buli jenis sel germinal dengan usia, jenis histopatologi, stadium T, N, M, S, stadium klinis dan prognosis(p>0.05). Berdasarkan kurva Kaplan Meier diketahui ketahanan hidup tumor testis sel germinal lebih baik pada usia < 30 tahun (p=0.534), jenis non seminoma (p=0.860), stadium T3 (p=0.031), Nx (p=0.394), Mx (p=0.781), S1 (p=0.623) dan stadium 3 (p=0.732). Berdasarkan klasifikasi resiko, ketahanan hidup tumor testis jenis seminoma dengan prognosis sedang lebih baik dibandingkan tumor testis jenis seminoma dengan prognosis baik (p=0.631) sedangkan ketahanan hidup jenis non seminoma dengan prognosis baik lebih tinggi dibandingkan tumor testis jenis non seminoma dengan prognosis sedang dan buruk (p=0.014). Kesimpulan: Tumor testis sel germinal di RS Sardjito mayoritas jenis seminoma dan sudah dalam stadium lanjut dengan kemoterapi sebagai sarana terapi. Angka ketahanan hidup tumor testis jenis sel germinallebih rendah dibandingkan negara lain. Stadium T3 dan grup non seminoma prognosis baik dapat dijadikan faktor prognostik ketahanan hidup tumor testis sel germinal di RS Sardjito.
Association of Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) and Mammalian Target of Rapamycin (mTOR) with Radiotherapy Response in High-Grade Sarcomas Eny Soesilowati; Afiati Afiati; Herry Yulianti; Bethy Suryawathy Hernowo; Adji Kusumadjati
Indonesian Journal of Cancer Vol 16, No 2 (2022): June
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1509.397 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v16i2.868

Abstract

Background: Sarcoma is a rare malignant aggressive tumor originating from mesenchymal elements. High-grade sarcoma has a poor prognosis. The mortality rate of high-grade sarcomas is 50–75%. Radiotherapy is needed in high-grade sarcoma. Radioresistance in the high-grade sarcoma is still common. Vascular endothelial growth factor (VEGF) and mammalian target of rapamycin (mTOR) are molecular markers that play a role in radioresistance. This study aimed to analyze the association of VEGF and mTOR with radiotherapy response in high-grade sarcoma. Method: This study was an analytic observational study with a cross-sectional design. The minimum samples based on Lameshow’s formula included 40 selected paraffin-embedded tissue blocks from biopsy high-grade sarcoma, consisting of 20 samples of radioresistance and 20 samples of radiosensitive. Immunohistochemistry staining for VEGF and mTOR were performed on all samples. Statistical analysis used the Chi-Square test. The significance of the data was obtained when p-value <0.05.Result: High immunoexpression of VEGF (OR = 17, p < 0.05) and mTOR in high-grade sarcoma showed a significant association with radiotherapy response (OR = 16, p < 0.05). The stepwise logistic regression analysis revealed that both VEGF and mTOR immunoexpression influenced radiotherapy response simultaneously. Conclusion: In this study, which used a minimum sample, it can be concluded that the higher VEGF and mTOR immunoexpression showed the higher radioresistance in high-grade sarcoma.  
Harapan Serta Konsep Tuhan pada Anak Usia Sekolah yang Menderita Kanker Fransisca M Sidabutar; Julia Suleeman Candra
Indonesian Journal of Cancer Vol 2, No 3 (2008): Jul - Sep 2008
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1950.811 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v2i3.51

Abstract

Kanker pada anak adalah penyakit mematikan namun bisa disembuhkan. Setidaknya selama lima tahun anak harus menjalani pengobatan serta tantangan di dalamnya. Anak membutuhkan harapan dan salah satu sumbernya adalah konsep Tuhan. Harapan adalah daya kehendak dan strategi yang dimiliki individu untuk mencapai sasaran. Konsep Tuhan adalah gagasan seseorang tentang karakteristik Tuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara dan observasi. Tiga anak usia sekolah yang menjalani pengobatan kanker menjadi subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak memiliki sasaran untuk sembuh, daya kehendak berupa keyakinan dan semangat untuk menjalani pengobatan, serta strategi menghindari hal-hal yang dianggap menjadi penyebab penyakitnya. Anak menganggap Tuhan sebagai penyembuh. Saran bagi orang tua anak usia sekolah yang mengalami kanker untuk memberikan pemahaman pada anak akan penyakitnya sesuai kapasitas dan kesiapan psikis anak.Kata kunci: Harapan, konsep Tuhan, anak usia sekolah, kanker.
Peran Serum IL-6 dan CA-125 Prabedah sebagai Prediktor Resektabilitas Tumor pada Kanker Ovarium Tipe Epitel ANDI KURNIADI; YUDI M HIDAYAT; DODI SUARDI; HERMAN SUSANTO; GATOT N.A.W; HERU PRAYITNO
Indonesian Journal of Cancer Vol 11, No 4 (2017): October- December 2017
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1245.528 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v11i4.533

Abstract

The success of ovarian cancer therapy is determined by optimal cytoreduction performed prior to chemotherapy. Maximum residual tumor after cytoreduction and before chemotherapy is essential for prognosis. Factors affecting tumor mass resectability are the surgeon, location of the mass, ascites more than 1000 mL, carcinomatosis, mass in lymph nodes more than 1 cm, mass at the liver parenchym, large mass up to diaphragm and pre-operative CA-125 > 500 MIU / L will increase the likelihood of suboptimal cytoreduction. IL-6 and CA-125 play a role in the occurrence of those factors, so both examinations are expected to improve the prediction of cytoreduction resectability and determine the appropriate choice for the treatment of ovarian cancer, either cytoreduction or neoadjuvant chemotherapy.The design of this study is cross sectional that is by examining patients suspected of ovarian malignancy, checking for their preoperative IL-6 and CA-125 levels and their resectability. Data analysis done by univariat and bivariate. For categorical data tested by chi-square test or Exact Fisher test, significance test used unpaired T test or Mann Whitney test. Analysis of numerical variables by numerical using Pearson correlation analysis or Spearman correlation analysis as well as correlation between numerical variables with nominal variables using Eta Correlation test. The data obtained is recorded in a special form and then processed with SPSS version 24.0 for WindowsPatients collected during the study period were 54, where only 36 people met the inclusion and exclusion criteria. It was found that most subjects were aged 40-64 years (77.8%), mean value of CA-125 for suboptimal cytoreduction group was higher than optimal cytoreduction (1099,75 + 1242,555 vs 311,23 + 160,165), which is statistically significant, p = 0,000 (p value <0,05), CA 125 cut off point in this research was 432 with sensitivity value of 72,2% and specificity value of 77,88%. The mean value of IL-6 for the suboptimal cytoreduced group was greater than the optimized cytoreduction (137.72 + 107.658 VS 62.20 + 66.330), which is statistically significant, p = 0.009 (p value <0.05), IL-6 cut off point at this study was 64.9 with a sensitivity of 72.2% and a specificity of 72.2 %. There was a positive correlation with a strong correlation strength between CA-125 levels and the operating outcome, p = 0.012 (p <0.05), there was a positive correlation with a small correlation strength between IL-6 levels and the outcome of surgery, p = 0,016 (p <0,05) and there was correlation between IL-6 and CA-125 presurgery with operating outcome (suboptimal and optimal cytoreduction) with cut off point 418,5 with sensitivity value 88.9% and specificity value 72,2% .Conclusion: There is a correlation between the levels of IL-6 and CA-125 and ovarian cancer resectability. ABSTRAKKeberhasilan terapi kanker ovarium  ditentukan oleh optimalnya sitoreduksi yang dilakukan sebelum pemberian kemoterapi. Maksimal residual tumor setelah sitoreduksi dan sebelum kemoterapi sangat penting untuk prognosis. Faktor -faktor yang mempengaruhi resektabilitas massa tumor adalah operator, lokasi massa,  asites lebih dari 1000 mL, karsinomatosis, massa di limfa lebih dari 1 cm, massa diparenkim hati, massa yang besar sampai ke diafragma dan kadar CA-125 pre-operatif > 500 mIU/L akan meningkatkan kemungkinan sitoreduksi suboptimal. IL-6 dan CA-125 berperan peran dalam terjadinya faktor – faktor tersebut, sehingga pemeriksaan kedua-duanya diharapkan dapat meningkatkan prediksi resektabilitas sitoreduksi dan menentukan pilihan tatalaksana kanker ovarium yang tepat yaitu sitoreduksi atau kemoterapi neoajuvan.Rancangan penelitian ini adalah cross sectional yaitu dengan melakukan pemeriksaan kadar IL-6 dan CA-125 prabedah  penderita tersangka keganasan ovarium kemudian dilihat resektabilitasnya.. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariate. Untuk data kategorik diuji dengan uji chi-square atau uji Exact Fisher , Uji kemaknaan  digunakan uji T tidak berpasangan atau uji Mann Whitney. Analisis variabel numerik dengan numerik menggunakan analisis korelasi Pearson atau analisis korelasi Spearman serta korelasi antara variabel numerik dengan variabel nominal menggunakan uji Korelasi Eta. Data yang diperoleh dicatat dalam formulir khusus kemudian diolah dengan program SPSS versi 24.0 forWindowsPasien yang berhasil dikumpulkan selama periode penelitian sebanyak 54 orang, yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi hanya 36 orang. diperoleh data bahwa subjek terbanyak adalah usia 40 – 64 tahun (77,8%), Nilai rerata CA-125 untuk kelompok sitoreduksi suboptimal lebih besar dibandingkan dengan sitoreduksi optimal (1099,75 + 1242,555  VS 311,23 + 160,165 ) bermakna secara statistik     p = 0,000 (nilai p < 0,05), cut off point  CA 125 pada penelitian ini adalah 432 dengan nilai sensitivitas 72,2% dan nilai spesifisitas 77,88%. Nilai rerata IL-6 untuk kelompok sitoreduksi suboptimal lebih besar dibandingkan dengan sitoreduksi optimal (137,72 + 107,658 VS 62,20 + 66,330) bermakna secara statistik p = 0,009 (nilai p < 0,05), cut off point  IL-6 pada penelitian ini adalah 64,9 dengan  sensitivitas 72,2% dan  spesifisitas 72,2%%. Terdapat korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang cukup kuat antara kadar CA-125 dengan luaran operasi p = 0,012 (p < 0,05), terdapat korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang kecil (tidak erat) antara kadar IL-6 dengan luaran operasi, p = 0,016 (p < 0,05) dan terdapat korelasi antara kadar IL-6 dan CA-125 prabedah dengan luaran operasi (sitoreduksi suboptimal dan optimal ) dengan cut off point 418,5 dengan nilai sensitivitas 88.9% dan nilai spesifisitas 72,2%.Simpulan : Terdapat korelasi antara kadar IL-6 dan CA-125 prabedah dengan resektabilitas  kanker ovarium
Quality of Life among Post-Mastectomy with and without Reconstruction Breast Cancer Patients in Onkologi Surabaya Hospital Cindy Angelina Limantara; Ario Djatmiko
Indonesian Journal of Cancer Vol 15, No 2 (2021): June
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.295 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v15i2.766

Abstract

Background: The quality of life (QoL) of breast cancer (BCa) patients is an outcome of therapy that is often overlooked. In real life, postoperative breast cancer patients experience deep trauma in view that breasts are a symbol of femininity, which are very valuable for any female. This study aims to compare the QoL in patients who received mastectomy only and mastectomy with reconstruction.Methods: A retrospective comparative study of 25 post-mastectomy to 25 post-mastectomy with reconstruction BCa patients in Onkologi Surabaya Hospital. The subjects are patients who visited between July 2019 until March 2020, as many as 50 samples in accord with the inclusion and exclusion criteria. The assessment was performed using 3 instruments, including the hospital anxiety and depression scale (HADS), body image scale (BIS), and female sexual function index (FSFI). The collected data were analyzed using SPSS 15.0 for Windows.Results: A significant difference in mean values was seen in body image and sexual function. Post-mastectomy BCa patients presented more body image disturbance (p < 0.05). Better sexual function is claimed by post-mastectomy with reconstruction BCa patients in Onkologi Surabaya Hospital (p < 0.05). Meanwhile, the depression and anxiety values did not differ significantly in both groups (p > 0.05).Conclusions: Patients who underwent mastectomy and breast reconstruction have a better QoL in comparison with patients who received mastectomy only, in the domains of body image and sexuality function.
Terapi Bedah pada Fraktur Patologis Tulang Panjang Ekstremitas di Rumah Sakit Kanker "Dharmais" Achmad Basuki
Indonesian Journal of Cancer Vol 1, No 3 (2007): Jul - Sep 2007
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1346.017 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v1i3.19

Abstract

Fraktur patologis tulang panjang ekstremitas pada pasien kanker metastasis tulang mengakibatkan morbiditas yang sangat serius. Kejadian ini terus meningkat dengan semakin baiknya harapan hidup pasien kanker. Tujuan pengobatan pasien penyakit kanker pada stadium lanjut adalah meningkatnya kualitas hidup yaitu : hilang rasa nyeri, mencegah terjadi fraktur patologis dan memudahkan perawatan medis. Intervensi bedah lebih agresif pada pasien dengan metastasis tulang yang risiko fraktur (impending fracture) dapat mencegah pasien jatuh ke keadaan yang lebih buruk dan pasien dapat melajutkan terapi tambahan.Pada evaluasi, didapat 24 pasien fraktur patologis pada pasien kanker metastasis tulang. 17 pasien dilakukan operasi sisanya 7 pasien tidak dioperasi. Dari 24 pasien, 9 pasien fraktur patologis ekstremitas atas dan 15 pasien fraktur patologis ekstremitas bawah. Paska operasi, pasien dapat mobilisasi dan rasa nyeri hilang. Penatalaksanaan bedah pada fraktur patologis metastasis tulang sebaiknya berpegang pada keadaan umum pasien, bukan pada harapan hidup pasien.
Hubungan antara Ekspresi p63 dengan Jenis Histopatologis Penderita Kanker Serviks Stadium IB2 dan IIA
Indonesian Journal of Cancer Vol 8, No 3 (2014): Jul - Sep 2014
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.759 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v8i3.354

Abstract

HPV is known the main etiology of cervical cancer, through its E6 and E7 oncogenes that inactivate p53 and retinoblastoma protein, thus suggested as the mechanism of phenotype changes. As the p53 homologs was found, p73 and p63, study focusing on p53 is more complex. Analysis of p63 expression by immunohistochemistry has prognostic and predictive value on several tumor types. P63 has main role on stratified epithelial growth by maintaining proliferation and differentiation. This study was analytic observational with cross sectional design. All subjects underwent cervical biopsy and were analyzed for p63 expression by immunohistochemistry. Statistical analyze used in this study were chi square and Mann Whitney. This study has been approved by the institution ethical committee. We found no significant correlation between subjects characteristic (age, marital age, parity) and clinical stage of cervical cancer (p>0.05). Our samples consisted of 25 squamous cell carcinoma (64%), 11 adenocarcinoma (28%), and 3 adenosquamous carcinoma (8%). Expression of p63 had no correlation with clinical stage, however its nuclear expression was significantly higher on squamous carcinoma type (72%) compared to adenocarcinoma (11%), with p < 0.001. Conclusion: expression of p63 on squamous cell carcinoma cervix is significantly higher compared to adenocarcinoma or adenosquamous.
Radiology Appearance of Malignant Peripheral Nerve Sheath Tumor: a Case Report Aziza G Icksan; Yopi Simargi; Elisna Syahruddin; Heriawaty Hidajat
Indonesian Journal of Cancer Vol 3, No 4 (2009): Oct - Dec 2009
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.632 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v3i4.144

Abstract

Malignant peripheral nerve sheath tumor (MPNST) merupakan sarkoma jaringan lunak yang jarang. Tumor ini meliputi MPNST sampai 10% dari 1-2 per 100.000 populasi/tahun kasus sarkoma jaringan lunak. Makalah ini memaparkan kasus MPNST yang ditemukan di permukaan tubuh, yaitu kepala bagian frontal, temporal, parietal kanan, leher, lengan kiri, torso, dan di organ-organ dalam yaitu otak, paru-paru, hepar, ginjal kanan, intraabdomen kiri, dan tanpa terkait dengan neurofibromatosis tipe 1 (NF1) serta tanpa riwayat terapi radiasi. Pasien hanya mengeluh sakit pada benjolan di punggung. Gambaran computed tomography (CT) otak ditemukan massa jaringan lunak di subkutis frontal dan parietal, serta lesi hipodens di serebri frontal yang menyangat di perifer setelah pemberian kontras dicurigai ke arah keganasan. Pada foto toraks dan CT paru ditemukan nodul multipel. Tampak pula massa pada ginjal kanan dan massa intrabdomen kiri. Massa heterogen pada hepar lobus kiri ditemukan pada ultrasonografi abdomen. Pemeriksaan histologi memastikan diagnosis MPNST. Pasien ini direncanakan untuk perawatan paliatif.Kata kunci: Radiologi. MPNST, sarkoma
Model of CanReg5 Implementation for Indonesia JONATHAN ADITYA MULYONO; BENS PARDAMEAN; EVLINA SUZANNA
Indonesian Journal of Cancer Vol 6, No 4 (2012): Oct - Dec 2012
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33371/ijoc.v6i4.278

Abstract

Sistem registrasi kanker telah dibangun untuk mengelola data kanker di Rumah Sakit Kanker Dharmais dan beberapa rumah sakit di daerah. Namun, sistem yang ada dinilai tidak cukup untuk mendukung proses pengelolaan data di seluruh wilayah di Indonesia, sehingga sistem CanReg5 telah dipilih sebagai perangkat lunak untuk mendukung sistem registrasi kanker yang baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model sistem untuk mengotomatisasi proses mengumpulan dan analisis data kanker menggunakan CanReg5 di seluruh daerah di Indonesia. Studi ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metodologi pengumpulan data melalui wawancara dengan seluruh staf dan dokter yang terlibat dalam kegiatan registrasi kanker. Hasil penelitian ini adalah model arsitektur jaringan berbasis registrasi kanker rumah sakit dengan keamanan khusus dan rencana pemulihan bencana untuk mengantisipasi dampak dari kerusakan sistem. Perkiraan jumlah staf yang berhubungan dengan tanggung jawab dan estimasi perangkat diperlukan untuk mendukung sistem yang disediakan. Keberhasilan penerapan model ini akan memberikan platform untuk pengembangan sistem registrasi kanker di negara berkembang yang besar dengan sumber daya terbatas.Kata kunci: registrasi kanker, CanReg5, Rumah Sakit Kanker Dharmais, Virtual Private Network, VPN.

Filter by Year

2007 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 3 (2025): September Vol 19, No 2 (2025): June Vol 19, No 1 (2025): March Vol 18, No 4 (2024): December Vol 18, No 3 (2024): September Vol 18, No 2 (2024): June Vol 18, No 1 (2024): March Vol 17, No 4 (2023): December Vol 17, No 3 (2023): September Vol 17, No 2 (2023): June Vol 17, No 1 (2023): March Vol 16, No 4 (2022): December Vol 16, No 3 (2022): September Vol 16, No 2 (2022): June Vol 16, No 1 (2022): March Vol 15, No 4 (2021): December Vol 15, No 3 (2021): September Vol 15, No 2 (2021): June Vol 15, No 1 (2021): March Vol 14, No 4 (2020): December Vol 14, No 3 (2020): September Vol 14, No 2 (2020): June Vol 14, No 1 (2020): March Vol 13, No 4 (2019): December Vol 13, No 3 (2019): September Vol 13, No 2 (2019): June Vol 13, No 1 (2019): March Vol 12, No 4 (2018): October-December Vol 12, No 3 (2018): July-September Vol 12, No 2 (2018): April-June Vol 12, No 1 (2018): Jan - Mar Vol 11, No 4 (2017): October- December 2017 Vol 11, No 3 (2017): July - September 2017 Vol 11, No 2 (2017): April - June Vol 11, No 1 (2017): Jan-Mar Vol 10, No 4 (2016): October - December 2016 Vol 10, No 3 (2016): July - September 2016 Vol 10, No 2 (2016): April - June 2016 Vol 10, No 1 (2016): Jan - Mar 2016 Vol 9, No 4 (2015): Okt - Des 2015 Vol 9, No 3 (2015): Jul - Sept 2015 Vol 9, No 2 (2015): April-Juni 2015 Vol 9, No 1 (2015): Jan - Mar 2015 Vol 8, No 4 (2014): Oct - Dec 2014 Vol 8, No 3 (2014): Jul - Sep 2014 Vol 8, No 2 (2014): April-Juni 2014 Vol 8, No 1 (2014): Jan - Mar 2014 Vol 7, No 4 (2013): Oct - Dec 2013 Vol 7, No 3 (2013): Jul - Sep 2013 Vol 7, No 2 (2013): Apr - Jun 2013 Vol 7, No 1 (2013): Jan - Mar 2013 Vol 6, No 4 (2012): Oct - Dec 2012 Vol 6, No 3 (2012): Jul - Sep 2012 Vol 6, No 2 (2012): Apr - Jun 2012 Vol 6, No 1 (2012): Jan - Mar 2012 Vol 5, No 4 (2011): Oct - Dec 2011 Vol 5, No 3 (2011): Jul - Sep 2011 Vol 5, No 2 (2011): Apr - Jun 2011 Vol 5, No 1 (2011): Jan - Mar 2011 Vol 4, No 4 (2010): Oct - Dec 2010 Vol 4, No 3 (2010): Jul - Sep 2010 Vol 4, No 2 (2010): Apr - Jun 2010 Vol 4, No 1 (2010): Jan - Mar 2010 Vol 3, No 4 (2009): Oct - Dec 2009 Vol 3, No 3 (2009): Jul - Sep 2009 Vol 3, No 2 (2009): Apr - Jun 2009 Vol 3, No 1 (2009): Jan - Mar 2009 Vol 2, No 4 (2008): Oct - Dec 2008 Vol 2, No 3 (2008): Jul - Sep 2008 Vol 2, No 2 (2008): Apr - Jun 2008 Vol 2, No 1 (2008): Jan - Mar 2008 Vol 1, No 4 (2007): Oct - Dec 2007 Vol 1, No 3 (2007): Jul - Sep 2007 Vol 1, No 2 (2007): Apr - Jun 2007 Vol 1, No 1 (2007): Jan - Mar 2007 More Issue