cover
Contact Name
Ahmad Bahrudin
Contact Email
jurnalkriyaisipp@gmail.com
Phone
+6281328690849
Journal Mail Official
jurnalkriyaisipp@gmail.com
Editorial Address
Jl. Bahder Johan Padangpanjang
Location
Kota padang panjang,
Sumatera barat
INDONESIA
Relief: Journal of Craft
ISSN : -     EISSN : 28092945     DOI : -
RELIEF: Journal of Craft contains scientific articles of research, conceptual ideas, creation of craft, craft design, ornaments, and interdisciplinary studies related to the field of craft (kriya).
Articles 56 Documents
PERKEMBANGAN BENTUK SUNTIANG ANAK DARO DI KOTA PARIAMAN Kartika Firdha Mulya; Ahmad Akmal; Yulimarni Yulimarni
Relief : Journal of Craft Vol 5, No 1 (2025): Relief: Journal of Craft
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/relief.v5i1.6129

Abstract

Salah satu budaya tradisional Minangkabau adalah baralek. Baralek adalah upacara perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita di Minangkabau. Pakaian mempelai pria disebut roki dan dilengkapi dengan asesoris lainnya. Pakaian wanita lengkap terdiri dari baju kurung (atasan), kodek (bawahan), hiasan kepala berupa suntiang, dan aksesoris lengkap lainnya. Penelitian ini berfokus pada perkembangan bentuk suntiang yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu yang dikenakan pada anak daro di Kota Pariaman, perkembangan bentuk, dan ragam hias suntiang.Metode yang digunakan penulis dalam mempelajari perkembangan bentuk suntiang anak daro di Kota Pariaman adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan, wawancara dan dokumentasi. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data melalui data referensi, data lapangan, setelah itu data dikumpulkan dan dianalisis sesuai dengan kebutuhan, kemudian ditarik kesimpulan.Hasil penelitian perkembangan suntiang anak daro dapat dilihat dari cara pemasangan dan bentuk suntiang, yaitu dari suntiang tusuak berkembang menjadi suntiang songkok. Suntiang songkok terdiri dari tiga bentuk, pertama suntiang berbentuk kipas atau mahkota, kedua suntiang berbentuk gonjong rumah gadang, ketiga suntiang berbentuk tingkuluk tanduak. Suntiang anak daro tersusun dari gabungan beberapa unsur berupa bungo sarunai dengan motif bunga melati, kambang goyang dengan motif bunga ros, mansi-mansi dengan motif cumi-cumi, burung merak dan kote-kote atau jurai-jurai yaitu beberapa helai yang memiliki motif berupa ikan, kupu-kupu dan burung.
Analisis Semiotik Bentuk Motif Minangkabau pada Perhiasan Raswoodart Nayya Adinda Putri
Relief : Journal of Craft Vol 5, No 2 (2026): Relief: Journal of Craft
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/relief.v5i1.5633

Abstract

Perhiasan kayu di Raswoodart mengunakan bentuk motif yang mengandung makna simbolik. Bentuk motif yang digunakan tersebut mengacu pada nilai budaya Minangkabau, yang dimaknai sebagai tanda (signs) dalam sistem komunikasi visual. Mengunakan teori semiotika, penelitian ini menganalisis bagaimana bentuk visual motif, seperti Kurambiak, Itik pulang Patang, Gonjong Rumah Gadang, dan lainnya. Bentuk ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga menyampaikan pesan budaya, nilai sosial, dan identitas etnis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis semiotik, berdasarkan teori Charles Sanders Peirce (ikon, indeks, dan simbol) serta Roland Barthes (denotasi dan konotasi). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi visual terhadap produk Raswoodart, wawancara langsung dengan seniman Ravi Mahendra, dan kajian pustaka terkait motif dan budaya Minangkabau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setip motif mengandung makna mendalam yang mencerminkan filosofi hidup masyarakat Minangkabau. Simbol-simbol tersebut menjadi narasi visual dan kultural. Perhiasan Raswoodart dapat dibaca sebagai sistem tanda yang kompleks, di mana estetika, tradisi, dan makna berpadu membentuk ekspresi seni yang autentik dan bermuatan budaya.
ANGSA PUTIH SEBAGAI IDE PENCIPTAAN PADA KRIYA KULIT Paulina Wati Tumeang
Relief : Journal of Craft Vol 5, No 2 (2026): Relief: Journal of Craft
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/relief.v5i2.30809

Abstract

Angsa putih memiliki ciri bentuk tubuh besar, leher panjang, kaki pendek berselaput besar, bulu berwarna putih bersih, dan mata biru. Angsa putih ini berjenis embden. Angsa putih melambangkan sifat kasih sayang, kesetian dan jiwa sosial yang tinggi. Pengkarya terinspirasi pada objek angsa putih menjadi karya hiasan dalam bentuk dua dimensi dengan media kulit. Pengkarya tertarik terhadap bentuk, karakter, sifat kesetiaan pada kelompok dan warna bulunya putih bersih, terciptanya karya seni kriya kulit ini. Landasan penciptaan yang digunakan ekspresi, bentuk, fungsi, estetis dan warna. Metode yang digunakan dalam penciptaan mulai dari tahap eksplorasi, tahap perancangan dan tahap perwujudan. Tahap eksplorasi merupakan awal penggalian sumber ide penciptaan melalui dokumentasi informasi seperti buku, jurnal, laporan skripsi, dan lain sebagainya. Tahap perancangan dilakukan mulai dari gambar acuan, yang menghasilkan sketsa alternatif, menjadi desain terpilih, dan tahap perwujudan untuk mewujudkan karya mulai dari bahan, alat dan teknik yang digunakan. Karya dihasilkan oleh pengkarya berjumlah tujuh karya yang berjudul, Awal Yang Baru, Awal Suatu Kehidupan, Bersama, Berenang, Menikmati, kebebasan, dan komunikasi. Setiap karya memiliki ukuran kecil, sedang, dan besar. Karya ini menceritakan tentang aktivitas angsa putih dalam kehidupanya, setiap judul karya memiliki makna atau arti untuk menyampaikan pesan melalui objek hewan angsa putih yang dibuat oleh pengkarya.
PERMAINAN TRADISIONAL JONG PADA RELIEF KAYU Muhammad Wahyudi
Relief : Journal of Craft Vol 5, No 2 (2026): Relief: Journal of Craft
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/relief.v5i2.30813

Abstract

Permainan tradisional Jong merupakan salah satu warisan budaya masyarakat pesisir Kepulauan Riau yang hingga kini masih dilestarikan melalui kegiatan perlombaan tahunan. Keunikan permainan ini terletak pada bentuk Jong sebagai miniatur perahu layar tanpa awak yang bergerak mengandalkan kekuatan angin, serta proses pembuatannya yang membutuhkan keahlian dan pengetahuan tradisional. Kondisi tersebut mendorong pengkarya untuk mengangkat permainan tradisional Jong sebagai ide penciptaan karya seni kriya dalam bentuk relief kayu, dengan tujuan memperkenalkan dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal melalui medium seni rupa. Penciptaan karya ini menggunakan landasan teori bentuk, estetika, warna, dan fungsi. Metode penciptaan dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Tahap eksplorasi dilakukan melalui studi pustaka, pengamatan langsung, serta pengumpulan data visual dan wawancara dengan pihak yang berkaitan. Tahap perancangan diwujudkan dalam bentuk sketsa alternatif yang kemudian dipilih menjadi desain terpilih. Tahap perwujudan dilakukan dengan menggunakan media kayu surian dan teknik ukir relief sedang, disertai proses finishing menggunakan wood stain berwarna coklat dan lapisan bio polish. Hasil penciptaan berupa tujuh karya relief kayu dua dimensi yang berjudul Nyarik Kayu, Narah Kayu, Tunggu Kejap, Suson Bebares, Mule, Dah Siap, Ambek Juare. Karya ini menggambarkan rangkaian proses permainan Jong, mulai dari pencarian bahan, pembuatan Jong, hingga pelaksanaan perlombaan. Karya-karya tersebut berfungsi sebagai media ekspresi personal pengkarya, sarana komunikasi visual budaya, serta elemen dekoratif interior. Melalui penciptaan karya ini diharapkan permainan tradisional Jong dapat dikenal lebih luas dan menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya Kepulauan Riau melalui seni kriya kayu.
MOTIF EMUN BERKUNE KERAWANG GAYO DALAM PENCIPTAAN KRIYA KAYU Ansar Salihin
Relief : Journal of Craft Vol 5, No 2 (2026): Relief: Journal of Craft
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/relief.v5i2.3802

Abstract

Motif emun berkune adalah salah satu warisan budaya masyarakat di daerah Gayo (Aceh). Motif ini merupakan salah satu dari motif kerawang Gayo yang diterapkan pada rumah adat Gayo, produk budaya ini memiliki peran dan fungsi dalam sejarah perkembangan peradaban Gayo. Karena motif emun berkune selain dapat dinikmati sebagai hasil sebuah karya seni, juga mengandung makna filosofi dan penggambaran budaya Gayo itu sendiri. Motif emun berkune (awan bercabang-cabang) merupakan motif yang berbentuk geometrik, pada ujung motif berbentuk lingkaran memusat dan memiliki beberapa cabang. Motif emun berkune memiliki makna berpindah-pindah (merantau) atau memisahkan diri untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Landasan penciptaan karya terdiri dari landasan seni kriya ekspresi fungsional, bentuk dan landasan stilisasi. Perubahan bentuk secara stilisasi motif emun berkune dalam kriya kayu baik karya ekspresi maupun karya fungsional, berarti merubah bentuk motif emun berkune dengan cara menggayakan unsur-unsur bentuk yang ada di dalam motif. Karya yang diciptakan terbagi dua, yaitu karya fungsional dan karya ekspresi. Secara bentuk karya ini berbentuk karya dua dimensi dan karya tiga dimensi.
VISUALISASI KESENIAN DIDONG GAYO PADA RELIEF KAYU Chandra Riky
Relief : Journal of Craft Vol 5, No 2 (2026): Relief: Journal of Craft
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/relief.v5i2.30860

Abstract

Kesenian Didong Gayo merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional masyarakat Gayo di Aceh Tengah yang mengandung nilai budaya, religius, sosial, dan estetika. Didong tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian pesan moral, ajaran agama, serta sarana memperkuat nilai kebersamaan dan kekeluargaan dalam kehidupan masyarakat Gayo. Seiring dengan perkembangan zaman, kesenian Didong Gayo menghadapi tantangan dalam hal pelestarian dan pengenalan kepada generasi muda. Karena itu, penciptaan karya seni kriya ini bertujuan untuk memvisualisasikan kesenian Didong Gayo ke dalam bentuk karya seni dua dimensi berupa panel relief kayu sebagai upaya pelestarian dan pengenalan budaya lokal.Karya ini diciptakan dengan menggunakan media kayu surian melalui teknik ukir relief tinggi (high relief). Proses penciptaan meliputi tahapan eksplorasi, perancangan, dan perwujudan karya. Tahap eksplorasi dilakukan dengan pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi, dan penggalian referensi visual mengenai kesenian Didong Gayo. Tahap perancangan diwujudkan dalam bentuk sketsa alternatif hingga desain terpilih yang merepresentasikan rangkaian prosesi dan gerak dalam pertunjukan Didong. Selanjutnya, tahap perwujudan dilakukan melalui proses pengolahan bahan, pengukiran, hingga finishing menggunakan pewarna dan pelapis yang bertujuan menonjolkan nilai estetis serta karakter serat kayu.Hasil penciptaan berupa tujuh karya panel relief yang memvisualisasikan berbagai tahapan dan makna dalam kesenian Didong Gayo. Karya-karya ini diharapkan dapat menjadi media ekspresi keindahan dan sarana pembelajaran bagi masyarakat luas dalam mengenal dan melestarikan kesenian tradisional Didong Gayo.