cover
Contact Name
Dhini Dewiyanti
Contact Email
jlbi@iplbijournals.id
Phone
+628122184048
Journal Mail Official
dhinijlbi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Antropologi 20. Komp. UNPAD. Cigadung. Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia
ISSN : 23019247     EISSN : 26220954     DOI : https://doi.org/10.32315/jlbi
Jurnal ini menerima tulisan ilmiah dalam bentuk artikel hasil penelitian, artikel diskursus, dan artikel metode penelitian. Ruang lingkup keilmuan yang diwadahi oleh jurnal ini meliputi bidang arsitektur lanskap, arsitektur perilaku dan lingkungan, pengelolaan pembangunan dan pengembangan kebijakan, perancangan arsitektur, perencanaan dan perancangan kota, perencanaan wilayah dan perdesaan, perumahan dan permukiman, sains dan teknologi bangunan, sejarah dan teori arsitektur dan kota, sistem infrastruktur wilayah dan kota, serta bidang keilmuan lingkungan binaan lainnya.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 11 No. 1 (2022): JLBI" : 6 Documents clear
Ruang-Emosi: Place Attachment Karyawan Kantor terhadap Ruang di dalam Bangunan Kantor Azwar; Bachtiar, Jasmine C. U.
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2022): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.202 KB) | DOI: 10.32315/jlbi.v11i01.95

Abstract

Manusia dan ruang merupakan subjek dan objek yang akan selalu saling mengikat satu sama lain karena manusia butuh tempat berlindung. Ruang ‘space’ hanya akan disebut tempat ‘place’ ketika manusia memberi makna terhadap ruang. Konsepsi ruang yang dapat memenuhi kebutuhan pengguna masih terus dilakukan hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kategori ruang yang menyenangkan dan menakutkan bagi pengguna dan untuk melihat kecenderungan hubungan variabel jenis kelamin dengan penilaian pengguna terhadap ruang. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan grounded theory. Data dari responden (N=124) dikumpulkan dan diolah dengan open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan empat kelompok persepsi berdasarkan jenis kelamin yaitu “persepsi laki-laki”, “persepsi perempuan”, “kesepahaman persepsi”, dan “perbedaan persepsi”. Laki-laki cenderung memersepsikan ruangan dengan menilai perilaku manusia yang berada di dalam ruang, sementara perempuan cenderung kepada utilitasnya. Terdapat beberapa kategori penilaian ruang, seperti: fungsi, lingkungan, perilaku, ruang dan utilitas. Kategori tersebut menjadi faktor yang berperan dalam menentukan persepsi ruang yang menyenangkan ataupun menyeramkan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat diimplementasikan dalam desain ruang kantor sehingga penggunaan ruangan diharapkan menjadi lebih produktif. Humans and space, respectively, were subjects and objects that bind each other since humans need shelter. A space could only be identified as a place when humans gave meaning to it. Previous research related to space conceptions and users' needs was still being carried out. This study aims to identify categories of space that were fun and scary by analyzing the tendency of the relationship between gender and the user's assessment of space. The study used a qualitative method with a grounded theory. Data from respondents (N=124) were collected and analyzed by open, axial, and selective coding. The results show four office perceptions based on gender: men's perceptions, women's perceptions, approval perception, and different perceptions. Men tend to perceive the room by judging human behavior, while women's perception tends to assume from the utility. There are several spatial assessment categories: function, environment, behavior, space, and utility. These categories are the factors that determine whether the space is fun or scary. The findings of this study are likely to be used in a design, particularly for office space, to make that environment more productive at work.
Hubungan antara Pendapatan dan Pola Kunjungan pada Kawasan Wisata Kuliner di Indonesia Sukardi, Arisa Aulia R.; Kusuma, Hanson E.; Riska, Annisa Safira
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2022): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.871 KB) | DOI: 10.32315/jlbi.v11i01.71

Abstract

Perkembangan pariwisata yang sangat pesat merupakan salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Keanekaragaman kuliner di Indonesia menyimpan potensi pariwisata yang besar untuk dikembangkan. Kawasan wisata kuliner merupakan sebuah kawasan wisata yang tidak hanya menyediakan ragam kuliner tetapi aktivitas lain yang dapat mendukung kegiatan berwisata seperti area berolahraga, arena bermain, area hiburan, tempat berbelanja dan lain-lain. Sehingga dalam menyusun perencanaan pengembangan kawasan wisata yang optimal maka perlu untuk mengetahui pola kunjungan wisawatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola kunjungan masyarakat di kawasan wisata kuliner berdasarkan penghasilan yang mereka dapatkan. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif – eksploratif. Data dikumpulkan dengan kuesioner daring yang berisi pertanyaan terbuka dan tertutup. Hubungan antara data kegiatan, intensitas, durasi, mitra dan tingkat pendapatan dianalisis dengan analisis korespondensi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa masyarakat dengan kategori pendapatan Lower Middle Income (LMI) lebih menyukai jenis Wisata Hedonis, masyarakat dengan pendapatan Upper Middle Income (UMI) lebih menyukai jenis Wisata Atraksi, berbanding terbalik dengan masyarakat High Income (HI) justru hanya melakukan wisata yang masih berkaitan dengan produktivitas. One of the catalysts of a country's economic success is the rapid rise of tourism. Indonesia's culinary variety has much promise for tourist development. The culinary tourism area is a tourist area that provides a variety of culinary and other activities that could support travel activities such as sports areas, playgrounds, entertainment areas, shopping places, and others. So it is vital to determine the pattern of tourist visits to compile an appropriate tourism area development plan. This research aims to figure out the pattern of community visits in culinary tourist zones dependent on the amount of money they make. The approach used in this study was qualitative - exploratory. An online questionnaire with open and closed questions was used to collect data. Correspondence analysis was used to examine the link between activity data, intensity, duration, and income levels. According to the findings, persons in the Lower Middle Income (LMI) category choose hedonic tourism. In contrast, those in the Upper Middle Income (UMI) income category favor attraction type. Those in the High Income (HI) category only conduct tours still tied to productivity.
Prinsip Keberlanjutan dan Ketahanan Lingkungan pada Rumah Tongkonan Toraja Nabilunnuha, Muhammad Bintang; Novianto, Didit
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2022): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.643 KB) | DOI: 10.32315/jlbi.v11i01.79

Abstract

Rumah Tongkonan merupakan rumah adat Suku Toraja dari Provinsi Sulawesi Selatan yang mencoba bertahan hingga saat ini sebagai wujud kekayaan Arsitektur Nusantara. Meskipun begitu, rumah konstruksi kayu sudah mulai ditinggalkan karena diklaim tidak tahan lama dan tidak sesuai dengan kebutuhan manusia modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang prinsip struktur, keberlanjutan, ketahanan, dan pemaknaan bangunan Rumah Tongkonan serta kaitannya terhadap lingkungan. Metode penelitian yang digunakan merupakan metode deskriptif-kualitatif melalui studi literatur dan analisis eksplorasi yang diharapkan mampu memperoleh pembuktian yang sulit didapat dari lapangan. Hasil dari analisis eksplorasi pada studi ini ditemukan bahwa, pertama, desain berwawasan lingkungan Rumah Tongkonan merupakan wujud respon arsitektural terhadap kondisi alam, iklim dan geografi di suatu daerah. Kedua, dari segi struktur dan konstruksi, struktur Tongkon pada Rumah Tongkonan menerapkan sistem konstruksi yang berkelanjutan dan memiliki ketahanan yang baik. Ketiga, rancangan berkelanjutan tidak hanya melalui bentuk fisik tetapi juga dari pemaknaan dalam Rumah Tongkonan melalui bahasa bentuk. Artikel ini menyimpulkan, karena keseluruhan prinsip desain arsitekturnya membuat rumah ini bertahan hingga kini maka Rumah Tongkonan masih relevan dan perlu diadaptasi serta dikembangkan dalam arsitektur kontemporer di Indonesia. Tongkonan is a traditional Toraja house from South Sulawesi that attempts to remain as an example of Archipelago (Nusantara) architecture. Nonetheless, due to concerns about longevity and compatibility with modern lives, timber-built houses have begun to be abandoned. The purpose of this research is to examine the Tongkonan building's structural principles, sustainability, resilience, significance, and relationship to the environment. The research methodologies included doing a descriptive-qualitative literature review and exploratory analysis to gather evidence that was difficult to get from the field survey. The findings revealed that, first and foremost, Tongkonan House's environmentally friendly design is a sort of architectural reaction to the site's natural circumstances, climate, and geography. Secondly, the Tongkon structure applied a sustainable construction system and was highly resilient in terms of structure and construction. Finally, in Tongkonan, sustainability is about physical form and meaning through the language of form. According to this report, the general architectural design principles have allowed this home to exist till now. Therefore, Tongkonan House is still relevant, and it has to be updated and improved in modern Indonesian architecture.
Makna Elemen Shared Space Street Bagi Pesepeda pada Jalur Pedestrian di Koridor Komersial Pecinan Kota Magelang Hadi, Dwiwangga Sang Nalendra; Saptorini, Hastuti; Fauzi, Hilmi Nur
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2022): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.167 KB) | DOI: 10.32315/jlbi.v11i01.90

Abstract

Trotoar Timur di Koridor Komersial Pecinan Kota Magelang dimanfaatkan sebagai shared space street dimana pengguna formalnya adalah pejalan kaki dan pesepeda. Sebelum pandemik, pejalan kaki menjadi pengguna dominan. Semakin tingginya minat bersepeda khususnya saat pandemik, membuat pesepeda juga mulai mengimbangi dominansi pejalan kaki sehingga menimbulkan potensi konflik. Metode pengumpulan data dilakukan dengan mengamati fisik jalur, aktivitas yang terjadi, berpartisipasi aktif sebagai pesepeda, dan wawancara mendalam dengan pesepeda. Data diperkuat dengan studi literatur yang berkaitan dengan placemaking, makna, dan shared space street. Analisis data dilakukan berdasarkan teori placemaking oleh Relph, PPS.org, dan pendekatan menemukan makna menurut Rapoport. Makna secara semiotik dieksplisitkan pada elemen signage bagi pesepeda yang lebih lengkap, jalur yang menarik secara visual, dan koridor jalur yang dilingkupi pohon peneduh membuat elemen-elemen tersebut bermakna dalam mendukung kegiatan bersepeda, seperti bersepeda santai hingga beristirahat. Peneliti merekomendasikan penambahan street furniture yang dieksplisitkan sebagai traffic calming pesepeda untuk meminimalisir konflik yang mungkin terjadi akibat penggunaan jalur secara bersama dengan pejalan kaki.  The east sidewalk in the Magelang City Chinatown Commercial Corridor is used as a shared space street where the formal users are pedestrians and cyclists. Before the pandemic, pedestrians were the dominant users. The increasing interest in cycling, especially during a pandemic, makes cyclists also begin to balance the dominance of pedestrians, causing potential conflicts. Data collection methods were carried out by observing the physical path, the activities that occurred, actively participating as cyclists, and in-depth interviews with cyclists. The data is strengthened by literature studies related to placemaking, meaning, and shared space street. Data analysis was conducted based on the placemaking theory by Relph, PPS.org, and the meaning-finding approach according to Rapoport. Semiotic meanings are expressed in signage elements for cyclists that are more complete, visually attractive trails, and pathway corridors covered by shade trees make these elements meaningful in supporting cycling activities, such as relaxing cycling to resting. The researcher recommends adding street furniture which is explicit as a traffic calming cyclist to minimize conflicts that may occur due to the use of the lane together with pedestrians.
Preferensi Tempat Bekerja dan Belajar Produktif Rhamadana, Vebryan; Bachtiar, Jasmine C. U.
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2022): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.79 KB) | DOI: 10.32315/jlbi.v11i01.97

Abstract

Kegiatan produktif seperti bekerja dan belajar dewasa ini mengalami perubahan. Dalam dunia pendidikan, belajar mandiri memiliki peran penting sebagai inti dari proses belajar sehingga membutuhkan ruang-ruang lain di luar ruang formal. Perubahan kecenderungan juga terjadi dalam dunia kerja seperti bekerja yang dapat dilakukan tanpa terikat dengan tempat dan waktu. Kecenderungan tersebut memunculkan kebutuhan yang lebih besar terhadap tempat bekerja dan belajar. Penelitian ini merupakan studi awal untuk melihat preferensi tempat bekerja dan belajar. Preferensi tersebut penting untuk dilihat oleh arsitek sebagai dasar dalam menyediakan tempat bekerja dan belajar yang baik. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan metode grounded theory. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner daring kepada responden (N=108). Selanjutnya, data diolah dengan open coding, axial coding, dan selective coding. Dari analisis yang dilakukan, ditemukan bahwa terdapat empat kelompok preferensi tempat bekerja dan belajar yakni kelompok formal, rekreatif, kondusif, dan personal. Arsitek dapat merancang ruang bekerja dan belajar dengan melihat karakteristik dari kelompok yang akan diwadahi berdasarkan keempat kelompok preferensi tersebut. Penelitian lanjutan sangat diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan yang ada sehingga menguatkan teori yang muncul tentang empat kelompok preferensi tempat bekerja dan belajar. Working and learning are two productive activities that are evolving. Independent learning is an essential part of the educational process that necessitates alternative venues outside the official classroom. Trends shift in the workplace, where work can be done without location or time constraints. This disposition has a stronger desire to work and learn. This study offers a preliminary look at people's preferences for working and learning spaces. These preferences are fundamental for architects when designing a healthy work and study environment—choosing the grounded theory method to produce qualitative research. First, respondents (N = 108) received an online questionnaire to fill out. Then, the data processing process uses open, axial, and selective coding. According to the findings, there are four types of virtual working and learning settings: formal, recreational, conducive, and personal. Architects may create working and learning environments that consider the unique characteristics of the various groups that will be accommodated based on the four preferences groups. Further research is needed to validate the findings—study options—to improve the hypothesis surrounding the four categories of work and study options.
Strategi Permukiman Tangguh Bencana berdasarkan Studi Morfologi Kampung Pengok Kidul, Yogyakarta Kusuma, Ajeng; Roychansyah, Muhammad Sani
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2022): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.581 KB) | DOI: 10.32315/jlbi.v11i01.67

Abstract

Frekuensi terjadinya bencana vulkanis di Kota Yogyakarta cukup signifikan, material Gunung Merapi yang terbawa aliran air juga berdampak terhadap pendangkalan sungai. Realitas lain mengindikasikan bahwa faktor alam tidak hanya menjadi penyebab tunggal, kendati ulah manusia yang mampu memicu bencana. Fenomena permukiman padat dengan orientasi morfologi dekat aliran sungai, menggiring problematika baru. Alih-alih menjadikan sungai sebagai halaman depan (front-yard) hunian, mayoritas masyarakat masih beranggapan sungai sebagai halaman belakang (back-yard). Paradigma seperti ini masih ditemukan di Kampung Pengok Kidul, Kecamatan Gondokusuman, Kelurahan Baciro. Dilema ini mengantar pada pertanyaan kesiapsiagaan serta bagaimana kelayakan kondisi lingkungan bermukim dalam konteks tangguh bencana. Observasi empiris dinilai mampu mengungkap kondisi yang senyatanya serta teori studi morfologi permukiman dengan mengidentifikasi periodisasi permukiman guna meninjau sejauh mana terjadinya perubahan. Urgensi riset bernaksud mengkaji ulang kelayakan hunian serta menjadi panduan bentuk permukiman padat huni di bantaran sungai tangguh bencana. Hasil penelitian berupa strategi morfologi permukiman yang ideal, ditinjau dari eksplorasi objek dan studi literatur. The frequency of volcanic disasters in Yogyakarta is quite significant; Mount Merapi material carried by water flows also impacts river silting. Another reality indicates that natural factors are not the only cause, although human activities can trigger disasters. The dense settlements phenomenon with a morphological orientation near river flows leads to new problems. Instead of using the river as a residential front yard, the people still think of the river as a backyard. This paradigm is still found in Pengok Kidul Village, Gondokusuman District, Baciro Village. This dilemma leads to the question of preparedness and how appropriate the environmental conditions are to live in the context of disaster resilience. Empirical observations are considered capable of revealing the actual needs and the theory of settlement morphology by identifying the periodization of settlements to review the extent of changes. The urgency of the research aims to feasibility review of housing and become a guide for the form of densely inhabited settlements on disaster-resilient riverbanks—the research results of ideal settlement morphology strategy, object exploration, and literature study.

Page 1 of 1 | Total Record : 6