cover
Contact Name
Ika Kusumaningtyas
Contact Email
tyas.kusuma@ugm.ac.id
Phone
+628988833412
Journal Mail Official
bkm.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Bersama Jurnal, Lt. 2 Atas Kantin IKM, FK-KMK UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berita Kedokteran Masyarakat
ISSN : 02151936     EISSN : 26148412     DOI : https://doi.org/10.22146/bkm.v37i2.2320
Core Subject : Health,
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles 115 Documents
Search results for , issue "Vol 34, No 5 (2018)" : 115 Documents clear
Sosial determinan kesehatan kasus HIV/AIDS pada pegawai negeri sipil di kabupaten Nunukan tahun 2017 Eka Putri Rahayu
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.876 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37596

Abstract

Berdasarkan laporan kasus HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kab. Nunukan di Provinsi Kalimantan Utara mencatat bahwa ada penemuan kasus baru sebanyak 12 kasus di sepanjang tahun 2016. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yang berjumlah 10 kasus pada tahun 2015. Dari seluruh penderita yang dimaksud, teridentifikasi ada yang berprofesi sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil), 12 persennya PNS. Mereka yang tertular penyakit tersebut rata-rata ibu rumah tangga dan kepala rumah tangga, yang berusia produktif. Peningkatan kasus HIV/AIDS justru dari kalangan masyarakat umum sedangkan dari tempat lokalisasi, Dinas Kesehatan Kab. Nunukan tak menjumpai adanya peningkatan. Bahkan kasusnya ditemukan di pedesaan jauh seperti di Krayan, Kab.Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi sosial determinan kesehatan kasus HIV/AIDS pada pegawai negeri sipil di kabupaten Nunukan tahun 2017. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam. Informan yang diwawancarai diantaranya adalah peneliti HIV/AIDS, penanggung jawab program KPAI serta dosen bidang promosi kesehatan. Instrumen yang digunakan diantaranya panduan wawancara mendalam dan dilengkapi dengan alat perekam suara. Hasil yang didapat adalah adanya pengetahuan masyarakat yang minim akan HIV/AIDS memunculkan stigma yang terbentuk di masyarakat, adanya akses ke pelayanan “plus-plus” meskipun berada di daerah terisolir, adanya dominan penyebab kasus HIV/AIDS pada PNS adalah akibat gonta ganti pasangan. Hal ini tidak terlepas dari perilaku seksual. Rata-rata penderita HIV/AIDS berada di usia produktif. Dibutuhkan kerjasama dengan stakeholder terkait untuk melaksanakan program penanggulangan kasus HIV/AIDS. Fungsi pengawasan dan penindakan juga harus ditingkatkan dalam hal pelaksanaan kebijakan program HIV/AIDS.
Peningkatan jumlah tenaga kerja Indonesia, human trafficking dan kematian tenaga kerja Indonesia Florida Agata Suni
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.37597

Abstract

Globalisasi dapat memberikan kemajuan dan dampak positif bagi banyak orang. Hidup dalam era globalisasi mempermudah manusia untuk mendapatkan segala sesuatu. Namun dibalik itu ada dampak negative yang juga dirasakan oleh banyak kalangan salah satunya adalah kalangan orang berpenghasilan rendah. Dengan penghasilan yang rendah tidak dapat menjawab permasalahan yang ada di era global ini sehingga mereka rela menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negara asing yang sebagian besarnya menjadi pembantu rumah tangga untuk membantu keluarga di Indonesia. Jumlah pengiriman TKI terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, jumlah ini juga sebanding dengan jumlah TKI tidak berdokumen serta illegal. Hal ini akan mempersulit TKI untuk mendapatkan akses ke layanan kesehatan dan layanan sosial lainnya. Apabila TKI tidak mendapatkan layanan kesehatan maka dapat mengancam nyawa mereka. Penelitian ini bertujuan menunjukkan tingginya angka kematian, human trafficking dan determinant penyebab kematian TKI. Metode penelitian mencakup analisis data dan Jurnal. Sejak tahun 2012 – 2017 tercatat sebanyak 1.267 kasus TKI meninggal di tempat pengabdian. Lebih dari separuh penyebab kematian TKI dikarenakan sakit dan pemulangan jasad tidak utuh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang sebagian besarnya adalah ibu rumah tangga dan anak perempuan (perekrutaan illegal) yang seharusnya mengambil peran penting dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa tetapi tidak mendapatkan perhatian yang khusus dari pemerintah terutama dalam mendapatkan layanan kesehatan di negara tempat mereka mengabdi sehingga berakhir dengan kematian. Pemerintah harus meneggakkan kebijakan yang telah dikeluarkan sehingga tidak ada lagi perekrutan TKI illegal yang berakhir dengan kematian serta memastikan para TKI mendapatkan Hak Asasi Manusia secara penuh salah satunya adalah dengan mempermudah TKI untuk mengakses layanan kesehatan di wilayah kerja mereka masing-masing.
The effect of residential ecosystem zone with stunting event in Kupang Joice Deby Nafi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1257.342 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37598

Abstract

Stunting in children was one of malnutrition due to the limitations of overall socioeconomic conditions in the past. As a height, stunting was indexed by the age of less than minus two standard deviations (<-2 SD) or height of children under five was shorter than should be achieved at a certain age (Kemenkes 2010). Based on Riskesdas in 2013, the incidence of stunting in Indonesia tends to increase. The prevalence of under-fives stunting in 2013 was 37.2%. It was higher than in 2010 at 35.6%. The prevalence of stunting in East Nusa Tenggara was the highest nationally by 58.4% in 2010 and 51.7% in 2013 while in Kupang district the stunting incidence was still around 46.3% (Kemenkes 2013). The aims of this study were on determine the effect of residential ecosystem zone on the occurrence of stunting. Based on the results of the study, it conducted on 132 subjects spread in the highlands and low, known that environmental sanitation, intake of energid an infectious disease in fact be the determining factor of stunting events in children. The hilly area of NTT took care of the availability of food and health services. People in upland areas had more difficult access to health services, access to information, and the availability of primary needs than lowland communities. Poor people were faced with the fact that infrastructure does not support so they cannot obtain optimal health services. Communities were very limited with information about health and are further aggravated by cultural practices that do not support a healthy lifestyle. Stunting problems would cause problems in the future, if it was not handled early. It because of stunting not only inhibits physical growth alone, but also affected the mental and intelligence of children who could lead to poverty. Therefore, the stunting problem must get a quick intervention in order to save the nation's grater.
“Person with disabilities” and their “social determinants of health”- the neglected paradigm of public health Mohammad Monjurul Karim
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.999 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37600

Abstract

This study was conducted to aware the audience to be more concern about “person with disabilities” and their “social determinants of health” as an emerging area in public health. WHO mentioned, 15% of the global populations are suffering from some form of disabilities and the number is higher comparing the report of 1970s. Public health aim to prevent mortality, morbidity and disability in different sectors (Donald, Lollar & John, 2003). But its alarming that disability preventive program often neglected in public health programs. Even the link between diseases and disability is often overlooked in several cases like GBS, encephalitis, transverse myelitis etc. Reduced inflow and increased outflow of finance and social determinants of health impact negatively on the life of the person with disabilities. Continuous effort to improve the social determinants of health worked tremendously over the last few decades to improve the life of human being globally, which is unfortunately sometimes worked as predisposing factor to the increased number of disabilities. But effort to reduce burden of disability and to improve SDH is just negligible. The 67th World Health Assembly adopted a resolution endorsing the WHO global disability action plan 2014–2021: Better health for all people with disability. It reflects the major shift in global understanding and responses towards disability. It could be concluded that it’s the high time to look more precisely in this neglected area whiting various discourse of SDH which will be a big burden of the public health in coming days. More research is required to minimize number of disability as well the after math of disability.
Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon di Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah Tahun 2017 Cahyadin Cahyadin; Henny Indriyanti
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.94 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37613

Abstract

Tujuan: Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) merupakan upaya memantau secara terus menerus penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) yang membutuhkan respon cepat. SKDR mengamati 23 penyakit berpotensi KLB melalui portal online yang sewaktu-waktu dapat memberikan sinyal KLB jika melebihi nilai ambang batas pada masing-masing penyakit. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan laporan SKDR dan penilaianpada proses pelaksanaannya. Metode: Data yang dianalisis adalah laporan mingguan SKDR Kabupaten Blora tahun 2017. Analisis dilakukan secara deskriptif. Penilaian proses pelaksanaan SKDR dilakukan melalui wawancara dengan petugas surveilans Puskesmas dan Dinas Kesehatan Blora. Hasil: Jumlah peringatan dini KLB selama tahun 2017 adalah 83. Semua peringatan dini tersebut telah direspon dan dikonfirmasi dalam waktu kurang dari 24 jam. Ketepatan laporan adalah 82,0% dan kelengkapan 97,0%. Penyakit dengan laporan SKDR tertinggi adalah ILI, diare akut, suspek demam tifoid dan pneumonia. Permasalahan SKDR adalah perbedaan sumber laporan setiap puskesmas dan jumlah layanan kesehatan desa atau Pustu yang mengumpulkan laporan mingguan tidak selalu sama. Simpulan: SKDR Kabupaten Blora cukup baik dalam kelengkapan dan ketepatan laporan. Puskesmas dan Dinas Kesehatan perlu memaksimalkan monitoring pada layanan kesehatan dalam mengumpulkan laporan.
Provider initiative test and counseling (PITC) sebagai upaya perluasan tes HIV pada populasi khusus Sitti Sudrani
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.613 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37615

Abstract

Latar belakang: Prevalensi HIV di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara terus meningkat dan menyebar hingga di populasi ibu rumah tangga. Dalam 7 tahun terakhir 21.6 % pasien HIV adalah ibu rumah tangga. Meski masih dalam level concentrated epidemic, angka ini telah menunjukkan meluasnya infeksi HIV pada masyarakat umum dan terlambatnya upaya pengendalian. Tes HIV sukarela untuk diagnosa tidak sebanding dengan laju epidemi HIV yang sangat cepat. PITC menjadi pilihan untuk menemukan sebanyak mungkin orang yang telah terinfeksi HIV pada populasi khusus dan memfasilitasi mereka untuk mendapatkan perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP). Tujuan: Mengevaluasi input, proses dan output layanan PITC dalam meningkatkan jumlah orang di populasi khusus yang dites HIV dan mengetahui hasilnya. Hasil: Sasaran program adalah populasi khusus yang terdiri dari ibu hamil dan pasien dengan penyakit terkait HIV yang berkunjung ke puskesmas atau berada di wilayah kerja puskesmas yang mendapat pelayanan di posyandu atau kunjungan rumah pada 13 wilayah kerja puskesmas di Kota Kendari. Kegiatan meliputi: pemberian informasi tentang HIV, penawaran tes, tes HIV, penyampaian hasil tes dan konseling serta rujukan ke PDP jika hasil HIV positif. Pelaksana PITC adalah tim yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, laboran dan Petugas RR. Simpulan: Terjadi peningkatan yang signifikan pada jumlah orang yang dites HIV dan mengetahui hasilnya melalui PITC di 15 puskesmas di Kota Kendari.
Penyelidikan KLB keracunan makanan acara ruwahan di desa Mulo, Gunung Kidul provinsi DIY Mur Prasetyaningrum; Z. Chomariyah; Trisno Agung Wibowo
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.843 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37616

Abstract

Tujuan: Studi ini untuk mengetahui gambaran KLB keracunan pangan yang terjadi di desa Mulo menurut deskripsi epidemiologi, faktor risiko dan penyebab KLB keracunan makanan. Metode: Studi ini menggunakan studi analitik case control, dimana kasus adalah orang yang mengalami sakit pada tanggal 7 - 8 Mei 2017, tinggal di desa Mulo dan mengkonsumsi makanan olahan dari bapak S dan K. Instrument menggunakan kuesioner. Hasil: KLB terjadi di Desa Mulo RT 5 dan 6 dengan jumlah kasus sebanyak 18 orang dari total population at risk 112 orang dengan gejala utama diare (100%), mual (72,2%), demam (66,6%), pusing (66,6%) dan muntah (50%). Dari diagnosa banding menurut gejala, masa inkubasi dan agent penyebab keracunan, kecurigaan kontaminasi bakteri mengarah pada E. Coli (ETEC). Masa inkubasi 1-16 jam (rata-rata 9 jam) dan common source curve. Penyaji makanan ada dua (pak K dan pak S). Dari perhitungan AR, berdasarkan sumber makanan mengarah pada makanan dari pak S (AR=42,8%). Bedasarkan menu, perhitungan OR dan CI 95 % jenis makanan yang dicurigai sebagai penyebab KLB adalah urap/gudangan (OR=4,33; p value0,0071) dan sayur lombok (OR=6,31; p value 0,0071). Sampel yang didapatkan adalah sampel air bersih, feses, dan muntahan penderita, sampel makanan tidak didapatkan karena keterlambatan informasi dari masyarakat. Hasil laboratorium, Total Coliform sampel air bersih melebihi ambang batas, sampel feses dan muntahan mengandung bakteri Klebsiella pneumonia.Simpulan: Terdapat 3 (tiga) faktor yang diduga sebagai penyebab keracunan pada warga Desa Mulo yaitu air bersih untuk mengolah makanan tercemar bakteri patogen, pengolahan makanan tidak hygienis dan penyajian makanan pada suhu ruang lebih dari 1 jam.
Kejadian luar biasa makan siang di PT X Indonesia kecamatan Kalasan kabupaten Sleman Yogyakarta tahun 2017 Vivin Fitriana; Rieski Prihastuti; Adi Isworo; Riris Andono Ahmad
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.11 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37617

Abstract

Tujuan: Tanggal 17 Mei 2017 Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menerima laporan dari Rumah Sakit Islam Yogyakarta adanya pasien yang mengalami gejala mual, muntah, diare, lemas, nyeri perut dari PT. X Indonesia sebanyak 36 orang. Penyelidikan dilakukan untuk mengkonfirmasi KLB, menentukan faktor risiko dan upaya pengendalian. Metode: Penyelidikan ini menggunakan cohort retrospektif. Kasus adalah karyawan PT. X Indonesia yang mengkonsumsi makan siang tanggal 16 Mei 2017 pukul 12:00 WIB dan mengalami dua atau lebih gejala; diare atau mual atau keringat dingin atu pusing disertai gejala lainnya mulai tanggal 16-18 Mei 2017 setelah mengkonsumsi makan siang. Penemuan kasus secara active case finding dan pengumpulan data melalui wawancara di PT X Indonesia dan observasi. Sampel makanan dan fases dilakukan pemeriksaan mikrobiologi. Hasil: Penyelidikan menemukan 218 kasus keracunan makanan. Kasus terbanyak pada laki-laki (73,36%) dengan dominasi umur <20 tahun (80%). Gejala yang dirasakan diare (80,73%), mual (59,17%),  dan keringat dingin(50,45%). Keracunan makan terjadi 16-18 Mei 2017 dan puncaknya 17 Mei 2017 pukul 04.01-08.00 WIB. Penularan keracunanan makanan terjadi secara common soure. Analisis menunjukkan bahwa makanan penyebab KLB yaitu ayam bumbu bali (RR=4,02; p= 0,000; CI= 1,0-3,1). Hasil observasi diketahui suplayer ayam merupakan suplayer baru. Dan hasil pemeriksaan laboratorium ayam bumbu bali positif Stapyloccocus aureus. Simpulan: Terjadi KLB keracunaan makanan di PT X Indonesia 16-18 Mei 2017 disebabkan oleh ayam bumbu bali yang terkontaminasi oleh bakteri Stapyloccocus aureus. Proses memasak, kebersihan dan penyimpanan makanan pada suhu ruangan menjadi penyetus keracuanan makanan. Rekomdasi yang dapat dilakukan dengan monitoring berkala dalam proses pembuatan makanan.
Kontak penderita di lingkungan rumah sebagai faktor dalam kejadian luar biasa campak di dua desa di Kecamatan Jiken Blora Dahlan Napitupulu; Andarias Paskawanto Kolawi; Dibyo Pramono; K. Mualim
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.962 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37618

Abstract

Tujuan: Pada hari Selasa, tanggal 19 Mei 2017, Dinas Kesehatan Kabupaten Blora menyampaikan bahwa di Desa Janjang dan Desa Nglebur terdapat 7 orang terdiagnosa sebagai kasus campak klinis . Pada tahun 2016, kejadian campak sebesar 44 kasus, tahun 2015 tidak ada kasus campak, tahun 2014 sebesar 43 kasus. Penyelidikan dilakukan dengan tujuan memastikan adanya kejadian luar biasa (KLB) campak, menentukan faktor risiko terjadinya KLB dan melakukan tindakan pencegahan. Metode: Penyelidikan dilakukan dengan menggunakan pencarian kasus aktif untuk menemukan kasus baru. Penelitian kasus kontrol 1:2 dilakukan untuk menentukan faktor risiko. Kasus adalah seseorang menderita penyakit dengan gejala klinis berupa panas dan rash disertai salah satu gejala batuk, pilek atau mata merah dan diare. Kontrol adalah orang yang tidak memiliki gejala pada kasus dan mempunyai riwayat kontak dengan kasus. Faktor risiko yang diamati adalah Status imunisasi, riwayat sakit campak dan bepergian 2 minggu sebelum KLB campak. Pengumpulan data identitas penderita, riwayat sakit campak dan bepergian dalam 2 minggu sebelum sakit dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner.  Pengumpulan data mengenai status imunisasi menggunakan data sekunder puskesmas atau buku imunisasi. Analisis dilakukan menggunakan chi square dan regresi logistik untuk mendapatkan nilai odds ratio (OR). Hasil: Total terdapat 19 kasus dengan 27,69% umur <9 tahun dan  0,66% dari desa Janjang. KLB campak berlangsung selama 6 minggu (10 April 2017 – 29 Mei 2017) dengan puncak kasus pada minggu ke tiga bulan Mei 2017. Riwayat tidak pernah sakit campak merupakan faktor risiko yang berpengaruh pada KLB ini (OR = 5.56; 95% CI = 2.93 - 71.43) sedangkan status imunisasi dan riwayat bepergian bukan merupakan faktor risiko. Simpulan: Telah terjadi KLB campak di Desa Janjang dan Desa Nglebur Kecamatan Jiken pada 10 April 2017 sampai dengan 29 Mei 2017 dengan index case sdr. Da. Cara penularan melalui kontak dengan penderita di lingkungan rumah. Selektif imunisasi dilakukan untuk memutus rantai penularan.
Evaluasi program pengendalian leptospirosis di kabupaten Gunungkidul 2017 Agus Salim Arsyad
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.56 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37619

Abstract

Tujuan: Leptospirosis adalah suatu infeksi zoonosis global yang disebarkan melalui air yang disebabkan oleh bakteri dari genus Leptospira. Data surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul menunjukkan peningkatan kasus leptospirosis pada tahun 2017 dibandingkan dengan tahun 2016. Pada Januari-April 2017 terdapat 54 kasus leptospirosis yang tersebar di delapan kecamatan. Dari 56 kasus terdapat 16 kasus yang meninggal dan Case Fatality Rate (CFR) 26,78 %. Evaluasi yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui gambaran dan permasalahan pelaksanaan program pengendalian leptospirosis di Kabupaten Gunungkidul. Metode: Ini adalah penelitian deskriptif yang berfokus pada input, process dan output dari program pengendalian leptospirosis. Data dikumpulkan dengan mewawancarai petugas leptospirosis di Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul dan sebelas puskesmas yang memiliki kasus leptospirosis pada tahun 2017 dengan menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Peneltian dilakukan selama bulan Mei sampai September 2017. Hasil: Program pengendalian leptospirosis merupakan bagian dari program zoonosis yang baru dibentuk pada bulan Maret 2017. Hasil evaluasi pada aspek input, semua petugas zoonosis sudah mendapatkan pelatihan walaupun didapatkan setelah puncak kasus pada bulan Januari-April tahun 2017; Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul sudah mengusahakan dengan optimal ketersediaan Rapid Diagnostic Test (RDT) untuk puskesmas yang ada kasus leptospirosis. Pada aspek process, belum adanya perencanaan untuk kegiatan pengendalian leptospirosis karena merupakan program baru, kegiatan penyuluhan dilakukan pada saat Penyelidikan Epidemiologi (PE). Pada aspek output, semua kasus sudah dilakukan PE dan tercatat, hanya ada satu puskesmas yang tidak melakukan PE terhadap semua kasus leptospirosis, hal ini terjadi karena adanya tugas ganda dan kurangnya koordinasi petugas zoonosis dengan petugas surveilans di puskesmas. Simpulan: Program zoonosis terutama pengendalian leptospirosis telah dilaksanakan di Kabupaten Gunungkidul walaupun ada beberapa kelemahan pada input, prosess, dan output. Berdasarkan evaluasi, perlu dibuat perencanaan yang tepat untuk program pengendalian leptospirosis pada tahun 2018, keseragaman dalam pelaporan, dan peraturan yang baku dalam program pengendalian leptospirosis yang melibatkan program lintas sektoral.

Page 6 of 12 | Total Record : 115


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 02 (2026) Vol 42 No 01 (2026) Vol 41 No 12 (2025) Vol 41 No 11 (2025) Vol 41 No 10 (2025) Vol 41 No 09 (2025) Vol 41 No 08 (2025) Vol 41 No 07 (2025) Vol 41 No 06 (2025) Vol 41 No 05 (2025) Vol 41 No 04 (2025) Vol 41 No 03 (2025) Vol 41 No 02 (2025) Vol 41 No 01 (2025) Vol 40 No 12 (2024) Vol 40 No 11 (2024) Vol 40 No 10 (2024) Vol 40 No 09 (2024) Vol 40 No 08 (2024) Vol 40 No 07 (2024) Vol 40 No 06 (2024) Vol 40 No 05 (2024) Vol 40 No 04 (2024) Vol 40 No 03 (2024) Vol 40 No 02 (2024) Vol 40 No 01 (2024) The 12th UGM Public Health Symposium Vol 39 No 12 (2023) Vol 39 No 11 (2023) Vol 39 No 10 (2023) Vol 39 No 09 (2023) Vol 39 No 08 (2023) Vol 39 No 07 (2023) Vol 39 No 06 (2023) Vol 39 No 05 (2023) Vol 39 No 04 (2023) Vol 39 No 03 (2023) Vol 39 No 02 (2023) Vol 39 No 01 (2023) Vol 38 No 12 (2022) Vol 38 No 11 (2022) Vol 38 No 10 (2022) Vol 38 No 09 (2022) Vol 38 No 08 (2022) Vol 38 No 07 (2022) Vol 38 No 06 (2022) Vol 38 No 05 (2022) Vol 38 No 04 (2022) Vol 38 No 03 (2022) Vol 38 No 02 (2022) Vol 38 No 01 (2022) Vol 37 No 12 (2021) Vol 37 No 11 (2021) Vol 37 No 10 (2021) Vol 37 No 09 (2021) Vol 37 No 08 (2021) Vol 37 No 07 (2021) Vol 37 No 06 (2021) Vol 37 No 05 (2021) Vol 37 No 04 (2021) Vol 37 No 03 (2021) Vol 37 No 02 (2021) Vol 37, No 1 (2021) PHS8 Accepted Abstracts PHS7 Accepted Abstracts Vol 36, No 12 (2020) Vol 36, No 11 (2020) Vol 36, No 10 (2020) Vol 36, No 9 (2020) Vol 36, No 8 (2020) Vol 36, No 7 (2020) Vol 36, No 6 (2020) Vol 36, No 5 (2020) Vol 36, No 4 (2020) Vol 36, No 3 (2020) Vol 36, No 2 (2020) Vol 36, No 1 (2020) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium Vol 35, No 11 (2019) Vol 35, No 10 (2019) Vol 35, No 9 (2019) Vol 35, No 8 (2019) Vol 35, No 7 (2019) Vol 35, No 6 (2019) Vol 35, No 5 (2019) Vol 35, No 4 (2019) Vol 35, No 3 (2019) Vol 35, No 2 (2019) Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) More Issue