cover
Contact Name
Ika Kusumaningtyas
Contact Email
tyas.kusuma@ugm.ac.id
Phone
+628988833412
Journal Mail Official
bkm.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Bersama Jurnal, Lt. 2 Atas Kantin IKM, FK-KMK UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berita Kedokteran Masyarakat
ISSN : 02151936     EISSN : 26148412     DOI : https://doi.org/10.22146/bkm.v37i2.2320
Core Subject : Health,
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles 1,528 Documents
Healthcare-seeking pattern in Sleman District, Yogyakarta: an observational analysis using secondary data of longitudinal surveillance system HDSS-Sleman cycle 2 (2016) Razan Madyasta Athayanandi Wibowo
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.271 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40542

Abstract

ABSTRACTObjective Several factors that already persist in the society, namely person´s socioeconomic status (SES), beliefs and illness severity perception might play an important role for healthcare-seeking decision. This paper aims to investigate and describe the care-seeking behaviour pattern upon Sleman District´s population.Methods Secondary data derived from standardised interview and questionnaire were analysed. Each head of the household was asked regarding their family sociodemographic background, health status, and care-seeking behaviour pattern. The interview was belong to the second survey wave, gathered in amount of 19,593 participants, and were taking place between July and September 2015. Cut-off method was used to screen eligible participants, in which 11,516 remain. Bivariate analysis was done using Pearson-chi square method in order to observe the goodness of fit of population’s care-seeking pattern with sociodemographic variables and health status. Multivariate analysis was run through the logistic regression in order to predict and explain the relationship between care-seeking pattern and sociodemographic variables. Results In Sleman District, Yogyakarta, Indonesia –based on HDSS-Sleman second wave´s survey analysis, about four out of ten samples who stated themselves as sick in 2015 did still not practice care-seeking behaviour. Several demographic factors such sex, age, educational backgrounds, family wealth and health insurance ownership are significantly related with the care-seeking decision. But there was no significant care-seeking difference against parental ethnicity, as well as in District’s rural and urban area.Conclusions It has been confirmed that care-seeking behaviour upon Sleman District’s population depends on the person’s socioeconomic status and illness severity. Some important findings were including U-shaped function of care-seeking behaviour against some age groups and educational background.Keywords HDSS-Sleman, healthcare-seeking behaviour, Pearson-chi square, socioeconomic status (SES)
Tantangan pengelolaan program gizi bagi penduduk desa terpencil di Sumatera Utara Zola Pradipta; Rimson Sianturi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.965 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40546

Abstract

Masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan yang belum mampu diatasi oleh negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia. Prevalensi masalah gizi kurang pada balita di Indonesia masih mengalami peningkatan, yaitu 36,8% (tahun 2007) menjadi 37,2 % (tahun 2013) untuk kasus stunting dari 18,4% (tahun 2007) menjadi 19,6% (tahun 2013). Status gizi pada bayi atau balita, salah satunya pola asuh makanan. Selain pola asuh makan, karakteristik individu yang melakukan asuh makan dalam hal ini adalah ibu, juga mempengaruhi pertumbuhan bayi atau balitA. Kekurangan gizi secara garis besar disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor langsung dan tidak langsung yang mempengaruhi status gizi adalah asupan makanan (energi dan protein) dan penyakit penyerta. Faktor tidak langsung adalah tingkat pengetahuan, tingkat pendidikan, pola asuh, sosial budaya, ketersediaan pangan, pelayanan kesehatan dan faktor lingkungan. Sepanjang tahun 2013 Dinkes Sumatera Utara mencatat ada 1.269 kasus gizi buruk di Provinsi Sumatera Utara.Puskesmas sebagai Pemberi pelayanan yang dekat dengan masyarakat harus membuat sistem pendataan dan perencanaan,mencatat, mengelompokkan status gizi, status pendidikan dan status ekonomi dengan menggunakan sistem informasi lokal berbasis posyandu. Technical assistance (support system) bisa dilakukan dengan melibatkan ahli pendidikan khususnya gizi untuk membuat media belajar khusus untuk simulasi langsung tentang cara dan makanan apa yang seharusnya dikonsumsi untuk pemenuhan asupan gizi. Dengan kegiatan tersebut masyarakat diharapkan mampu untuk membuat menu makanan sendiri serta pemahaman masyarakat setempat tentang gizi tidak simpang siur. Untuk menyikapi keseriusan kegiatan tersebut, puskesmas bisa membuat strategi dengan melibatkan kader desa yang dianggap berpengaruh terhadap masyarakat setempat. Kegiatan tersebut merupakan UKM yang mempunyai banyak fungsi, diantaranya : (1)efektifitas waktu dan biaya, (2)penyerapan informasi oleh masyarakat merata dan tidak simpang siur, (3)sasaran kegiatan jelas, (4)masyarakat merasa diperhatikan, (5)kepedulian antar warga terjalin dengan baik dan (6)pembentukan kader antar tetangga sangat dimungkinkan. Untuk penyaluran Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dari puskesmas ke desa sangat terpencil bisa menggunakan jasa pihak ketiga sebagai operating core, contohnya tukang penjual sayur yang sekali seminggu berjualan ke daerah tersebut bisa dititipkan PMT untuk disampaikan ke kader desa dan selanjutnya didistribusikan ke masyarakat dengan tepat waktu dan tepat sasaran.
HIV menjadi bahaya yang mengintai masyarakat warga binaan pemasyarakatan (WBP) Ni Putu Ega Pragantini
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.162 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40548

Abstract

Objektif :  Kasus HIV yang mencapai 1%-6% dilapas  disebabkan prilaku menyimpang yang terjadi di lingkungan lapas meningkatkan resiko  penularan HIV bagi Warga Binaan Pemasyarakatan. Program screening ataupun VCR merupakan upaya untuk melakukan deteksi dini dan pengobatan lanjutan bagi mereka yang terdeteksi positif HIV.  Metode : Penulisan ini menggunakan metode Literatur Review dari berbagai hasil penelitian terkait HIV di Lapas, didukung oleh data sekunder dan menggunakan analisa dengan pendekatan teori pembelajaran Prilaku untuk mengungkapkan mengapa deteksi HIV tidak bisa menjaring Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang berprilaku beresiko. HASIL : Belum semua Lapas di Indonesia memiliki sumberdaya kesehatan yang representative terhadap upaya pencegahan dan pengobatan penderita HIV. Kegiatan  VCT yang dilakukan dilapas setiap 3 bulan sekali masih bekerjasama dengan Dinas Kesehatan setempat. Proses  VCT tidak diminati oleh WBP yang memiliki prilaku beresiko karena ketakutan akan hasilnya dan Stigma yang akan mereka terima. Konsekwensi yang tidak menyenangkan ini akan mengurangi minat WBP untuk melakukan Pemeriksaan. Rendahnya akses WBP terhadap pengetahuan tentang kesehatan menyebabkan prilaku menyimpang yang beresiko seperti pembuatan tatto menggunakan alat secara bergantian tetap dilakukan WBP. Kesimpulan : Deteksi dini maupun penanganan kasus HIV bagi WBP memerlukan bukan hanya kegiatan VCT namun juga dibutuhkan perencanaan yang matang untuk menyiapkan sumber daya kesehatan di semua lapas yang ada di Indonesia. Penyiapan petugas yang terlatih khusus untuk Konseling HIV sanggat diperlukan agar proses edukasi bagi WBP dapat terus dilakukan tanpa menunggu jadwal rutin VCT Dinas Kesehatan. Bagi WBP yang Positif HIV dan telah selesai menjalani masa binaannya agar pengobatannya diserahkan ke dinas kesehatan domisili WBP
Social support group berbasis SMS, door to door, dan counseling inspection sebagai service delivery yang dilakukan kader dalam sahabt ibu sejati di Boyolali Putut Wisnu Nugroho
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.073 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40551

Abstract

Ibu hamil dengan resiko tinggi adalah kondisi yang memerlukan pengawasan dan perhatian khusus. Untuk mewujudkan diperlukan adanya terobosan yang langsung melakukan pengawasan. Pengawasan dan perhatian diperlukan untuk mecegah terjadinya komplikasi kehamilan yang berakibat kematian. Kematian Ibu saat kehamilan, persalinan dan masa nifas masih menjadi ancaman yang serius. Bahkan menjadi sangat penting karena menjadi indikator keberhasilan suatu daerah dalam hal mensejahterakan masyarakat, adanya kasus kematian ibu menjadi tolak ukur kesehatan suatu bangsa, sehingga dunia pun perlu  membuat dokumen yang tertuang di dalam Sustainable Development Goal (SDGs) di antaranya adalah menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi penduduk pada tahun 2030 dengan salah satu strateginya melakukan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), targetnya dengan mengurangi AKI hingga di bawah 70 per 100.000 KH [1]. Kematian ibu sebagian disebabkan karena minimnya informasi kesehatan, jauh dari akses pelayanan kesehatan dan penanganan persalinan yang terlambat. Owolabi (2014) menyatakan proses kelahiran di rumah paling umum di daerah pedesaan dan terjadi pada keluarga miskin, serta banyak dari kelahiran ini ditolong oleh Petugas Kelahiran Tradisional (dukun) [2].Kegiatan pelayanan ibu hamil terutama yang mengalami resiko tinggi selama ini masih fokus berada di dalam gedung (puskesmas), sementara pengawasan di luar gedung masih belum begitu maksimal, masih bergantung kepada keluarga. Peranan kader yang terampil di masyarakat diharapkan mampu melakukan pengawasan terhadap ibu hamil, di Nigeria ketersediaan tenaga terampil ditambah dengan lingkungan yang memungkinkan untuk menyediakan pelayanan obstetrik merupakan tindakan yang sangat penting serta pelayanan dan perawatan neonatal dibutuhkan untuk mencapai penurunan yang signifikan dalam kematian ibu dan bayi [3].Peranan kader masyarakat di Kabupaten Boyolali melalui program sahabat ibu sejati sangat di butuhkan untuk membantu memberikan motivasi ibu hamil di pedesaan  yang jarang hadir di posyandu, maupun pemeriksaan kondisi kesehatan janin serta berperan untuk memotivasi ibu di pedesaan untuk melakukan persalinan di pelayanan kesehatan, upaya-upaya tersebut dilakukan untuk mencegah kasus kematian yang tidak diinginkan, Andrews et.al (2004) mengungkapakan keuntungan menggunakan kader atau petugas kesehatan masyarakat adalah memberikan dukungan sosial dan perawatan yang kompeten secara budaya, serta hemat biaya [4]. Kader masyarakat yang direkrut merupakan ibu yang berada di sekitar ibu hamil dan pernah merasakan kondisi hamil sehingga secara ikatan emosional memiliki kesamaan rasa, budaya, dan setara. Kader masyarakat ini telah mendapatkan pelatihan dan pendidikan dari puskesmas setempat.Ada 3 modus layanan kader yang terintegrasi untuk mewujudkan satiti. pertama adalah melakukan kunjungan dari rumah ke rumah untuk menemukan ibu hamil baru, bila menjumpai ibu hamil baru, kader akan menyampaikan informasi melalui aplikasi Lapor Bumil melalui SMS ke nomor 08156758888 sehingga data ibu hamil akan tersimpan di bank data di Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali dan akan di filter sesuai wilayah kerja puskesmas   , kedua kader akan melakukan kegiatan konseling melalui data ibu hamil yang sudah tercatat di SMS maupun aplikasi Satiti berbasis android, konseling yang dilakukan adalah mengingatkan ibu hamil untuk memeriksakan usia kehamilan serta memotivasi sesuai informasi kesehatan yang diterima ibu hamil melalui SMSBunda. Aplikasi SMS Bunda merupakan layanan berbasis SMS yang memberikan informasi kesehatan pada masa kehamilan, masa nifas, dan sampai anak berusia 2 tahun atau selama 1000 hari pertama kehidupan. Selama 1 periode tersebut Ibu Hamil akan menerima 152 SMS, Jareethum et.al [5] mengatakan Kepuasan Wanita Hamil Menerima Layanan Pesan Pendek melalui Ponsel untuk Dukungan Prenatal, ketiga kader akan melaporkan kondisi ibu hamil kepada bidan koordinator di puskesmas.
Pemberian home made healthy food atau ready to eat sebagai alternatif strategi pemberian makanan tambahan Yunita Arisanti
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (767.8 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40553

Abstract

Pemberian Home Made Healthy Food (Ready to Eat) Sebagai Alternatif Strategi PMT(Arisanti, Yunita1, KMPK 2017 Pascasarjana IKM FKKMK UGM)Latar Belakang : Di Indonesia, saat ini tercatat 4,5% dari 22 juta balita atau 900 ribu balita di Indonesia mengalami gizi kurang atau gizi buruk dan mengakibatkan lebih dari 80% kematian anak (Kemenkes, 2012). Stunting dan under nutrition juga lebih tinggi di daerah pedesaan, daerah yang sering mengalami kekeringan panjang, kabupaten rawan pangan dan daerah yang sulit akses. Populasi rentan yang ingin ditanggulangi dalam program ini adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang mengalami malnutrisi pada masyarakat dengan penghasilan dibawah satu juta rupiah.Tujuan : Dapat memberikan inovasi dalam rangka strategi pemberian makanan tambahan di posyandu bagi populasi rentan dengan memanfaatkan sumber daya lokal, baik dari bahan pangannya, pelaksana kegiatan dan pendanaan dari desa (dana desa dan subsidi bank sampah).Hasil : Bentuk kegiatan dalam program ini adalah Ibu Dukuh ditunjuk menjadi koordinator dan pengawas kegiatan karena dianggap mampu menggerakkan anggota PKK mengatasi malnutrisi di wilayah padukuhannya. Pendistribusian dilakukan oleh kader di tiap dusun dan sasaran program cukup membalas dengan memberikan sampah yang masih bisa dijual. Kelebihan dari program ini adalah pemberian makanan tambahan langsung diberikan dalam bentuk jadi, ibu tidak perlu repot memasak, standar gizi terpenuhi, dan waktu pemberian teratur dua kali sehari.Kesimpulan : Tim dapur umum padukuhan dapat dikembangkan di pedesaan yang masih kental nuansa gotong royong dan jiwa sosialnya dengan layanan pemberian makanan ready to eat (home made healthy food) sebagai alternatif model pemberian PMT dalam rangka penanggulangan gizi buruk dan ketahanan pangan terhadap populasi rentan yang mengalami malnutrisi, yang keberlangsungan program ini menjadi tanggung jawab masyarakat desa tersebut. Puskesmas berfungsi sebagai supporting staff yang mendampingi dan turut mengawasi program ini.
Edukasi makan sehat anak dalam program sekolah sehat SDN Jatisari Sleman Windri Lesmana Rubai; Hafidhotun Nabawiyah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.432 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40554

Abstract

Latar Belakang : Riskesdas tahun 2013 menunjukkan kurang gizi pada anak usia 5-12 tahun sebesar 11,2 % yang disebabkan karena berbagai hal diantaranya tidak sarapan pagi dan lebih suka makanan yang tidak/kurang bergizi. Sebagai kelompok umur yang rentan, masalah gizi pada anak usia sekolah seperti kurus dan stunting akan berdampak pada performa belajar di sekolah, yang pada gilirannya akan mempengaruhi kualitas Sumber Daya Manusia. Tujuan : Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi tentang makan sehat kepada anak usia sekolah serta membantu anak-anak untuk membiasakan diri berperilaku makan seah satunya dengan membawa bekal makanan sehat dari rumah.  Konten:  Kegiatan edukasi gizi dilakukan pada seluruh siswa. Mereka diajarkan tentang makanan bergizi, apa yang mereka makan dan apa manfaat bagi tubuh. Anak-anak diberikan kesempatan untuk bercerita tentang makanan kesukaan, tanpa ada judment apakah makanan tersebut sehat atau tidak. Materi diberikan secara sederhana dan interaktif melalui metode games. Siswa-siswi mampu menyebutkan apa saja yang termasuk jajanan sehat dan apa saja yang tergolong jajanan kurang sehat sehat. Sebagian besar siswa mampu menyelesaikan games “Kelompok Bahan Makanan” dengan baik, Di akhir sesi, dibuatlah kesepakatan bersama para siswa untuk membawa bekal dan makan bersama pada hari yang ditentukan. Pembelajaran: Pemberian edukasi yang interaktif tidak hanya menarik, tetapi juga mudah diikuti dan dipahami oleh siswa.  Kegiatan makan bersama setiap hari Sabtu membuat minat mereka untuk membawa bekal makanan dari rumah semakin meningkat. Program ini dapat berjalan dengan dukungan dari berbagai pihak khususnya orang tua dan guru.
Literasi kesehatan pasien kanker tentang traditional complementary and alternative medicine (TCAM) Andham Dewi; Supriyati Supriyati; Heny Suseani Pangastuti
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.655 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40561

Abstract

Latar belakang: Prevalensi nasional kanker semakin meningkat yaitu pada tahun 2018 sebesar 1,8% berdasarkan data Riskesdas. Sebagian besar pasien kanker tertangani pada saat stadium tinggi sehingga mempengaruhi hasil pengobatan. Keberhasilan penanggulangan penyakit kanker dipengaruhi oleh keterlambatan pengobatan medis serta penggunaan Traditional Complementary And Alternative Medicine (TCAM). Penggunaan TCAM terbukti secara signifikan mempengaruhi penundaan pengobatan medis pada pasien kanker. Perilaku pengambilan keputusan pasien untuk berobat dipengaruhi oleh literasi kesehatan pasien.Tujuan: Studi literatur ini bertujuan untuk memahami pentingnya peningkatan literasi kesehatan dalam pengambilan keputusan pasien kanker.Konten: Beberapa penelitian menunjukkan banyak pasien yang menggunakan TCAM baik sebelum ataupun selama menjalani pengobatan medis. Praktik penggunaan TCAM pada pasien kanker sebelum pengobatan medis akan berdampak pada penundaan pengobatan medis serta memperparah kondisi penyakit. Sedangkan penggunaan TCAM yang bersamaan dengan pengobatan medis dapat memengaruhi keberhasilan pengobatan medis. Literasi kesehatan adalah kemampuan individu untuk memperoleh akses, memroses, memahami, serta menggunakan informasi untuk meningkatkan status kesehatan, menentukan keputusan kesehatan dan berperilaku sesuai informasi yang didapatkan. Beberapa penelitian menunjukkan belum terpenuhinya kebutuhan informasi pasien kanker mengenai TCAM. Sumber informasi mengenai TCAM paling banyak berasal dari teman pasien dan internet. Selain itu pengguna TCAM tidak pernah mendiskusikan penggunaan TCAM ataupun mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan meskipun menurut informan tenaga kesehatan merupakan sumber informasi yang paling dipercaya. Peningkatan literasi kesehatan dapat dilakukan melalui pemenuhan kebutuhan informasi pasien terkait TCAM. Hal tersebut dapat dilakukan melalui: edukasi kesehatan melalui peer group; edukasi kesehatan berbasis internet; media alat bantu pengambilan keputusan pasien kanker; serta edukasi kesehatan melalui tenaga kesehatan/fasilitas pelayanan kesehatan. Diperlukan studi lebih lanjut mengenai peningkatan literasi kesehatan dan pemenuhan informasi kesehatan mengenai TCAM pada pasien kanker untuk mendukung upaya promosi kesehatan dalam pencegahan dan rehabilitasi penyakit kanker.
Pentingnya pemahaman moral terkait perilaku perundungan (bullying) pada anak usia sekolah Nur Haidam
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.685 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40572

Abstract

Perilaku perundungan (bullying) masih kerap terjadi pada anak usia sekolah, termasuk pada anak Sekolah Dasar (SD). Perilaku ini memberikan banyak dampak negatif terhadap tumbuh kembang anak, baik perkembangan psikomotor maupun psikologis. Jika dilihat dari beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya perundungan atau lebih dikenal dengan istilah bullying salah satunya adalah kurangnya pendidikan empati terhadap oranglain. Hal ini tentu terkait pemahaman moral. Anak yang memiliki pemahaman moral yang tinggi akan menilai suatu perbuatan apakah itu bernilai baik atau buruk. Secara tidak lansung anak akan menjaga perilakunya agar tidak melukai atau menyakiti perasaan oranglain atau dengan kata lain tidak akan melakukan perilaku bullying terhadap temannya. Hal ini tentu berbeda dengan anak dengan pemahaman moral yang rendah, setiap tindakannya tidak akan dipikirkan sehingga mereka akan cenderung melakukan perilaku bullying. Tulisan ini bertujuan menilai pemahaman moral anak berdasar tayangan video pendek dengan melihat tanggapan (reaksi) anak pada saat pemutaran video. Pemutaran video pendek dilakukan ditiap kelas yang didampingi fasilitator dengan video berisi tayangan contoh perilaku bullying. Kemudian setelah itu tiap anak akan diberi kesempatan untuk memberikan komentar, mengungkapkan perasaannya yakni menilai video yang ditonton dan secara bersama-sama akan menyepakati hal-hal yang tidak boleh dilakukan terhadap sesama teman serta konsekuensi yang akan diterima apabila melakukan hal yang telah disepakati tidak boleh dilakukan tersebut. Hal yang menarik dari kegiatan ini adalah, salah satu kelas pada saat menyaksikan video tersebut, mayoritas dari mereka malah tertawa terbahak-bahak melihat beberapa kejadian yang ditayangkan dalam video pendek tersebut. Bukannya merasa iba tetapi menganggap lucu. Hal ini menunjukan bahwa sekelompok anak pada kelas tersebut cenderung memiliki pemahaman moral yang rendah, yakni belum bisa membedakan perbuatan yang bernilai buruk yang harus dihindari, tidak boleh dilakukan. Sehingga pemahaman moral terhadap anak dianggap sangat penting dalam mencegah perilaku bullying.   
Pengembangan telemedicine dalam mengatasi konektivitas dan aksesibilitas pelayanan kesehatan Karl Frizts Pasaribu; Dedy Arisjulyanto; Baiq Tiara Hikmatushaliha
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.93 KB)

Abstract

Indonesia merupakan suatu negara berkembang dengan banyak masalah dan tantangan dalam bidang kesehatan, baik dari masalah penyakit maupun kesenjangan dan ketidakmerataannya fasilitas dan pelayanan kesehatan di Indonesia. Mengatasi masalah ini dengan pemanfaatan teknologi  dalam kesehatan merupakan langkah tepat dalam pemecahan masalah di bidang kesehatan, pengembangan pelayanan kesehatan berbasis telemedicine, salah satu solusi pelayanan kesehatan yang merata di Indonesia, baik dalam pemantaun status gizi, maupun status kesehatan masyarakat, dan bahkan konsultasi jarak jauh dengan petugas-petugas kesehatan yang memiliki kompeten yang cukup baik, tanpa harus memikirkan jarak dan waktu, contoh pemanfaatan telemedicine diantaranya Teleradiology - penggunaan ICT untuk mengirimkan gambar radiologi digital, Telepathology - penggunaan ICT untuk mengirimkan hasil patologis digital, Teledermatology - penggunaan ICT untuk mengirimkan informasi medis mengenai kondisi kulit, dan Telepsychiatry - penggunaan ICT untuk evaluasi psikiatri dan / atau konsultasi melalui video dan telepon. Dalam proses realisasi pengintegrasian pelayanan kesehatan yang merata perlu dilakukan kerjasama multisektoral yang akan saling menunjang dalam pelaksanaanya, yaitu Kementerian Kesehatan, Kementerian Pembangunan Umum, Kementerian Sosial dan Kementerian Komunikasi dan Informasi, sehingga masalah kesenjangan dan ketidakmerataan informasi dan pelayanan kesehatan di Indonesia mampu teratasi.
Konselor kesehatan peduli remaja sekolah di Gondomanan Yogyakarta Bernadette Josephine Istiti Kandarina; Sarah Maria Saragih; Fahmy Arif Tsani; Pramudji Hastuti
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.40577

Abstract

Objective Studi evaluasi terhadap pelaksanaan program pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) di salah satu Puskesmas di Kota Yogyakarta pada bulan Mei 2017 menunjukkan bahwa pelaksanaan program tersebut belum berjalan optimal dan belum dirasakan keberadaannya dan kemanfaatannya oleh siswa-siswi remaja di sekolah. Oleh karena itu, diperlukan penguatan program PKPR melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) bersama dua mitra terpilih yaitu SMA N 10 Yogyakarta dan SMA Santa Maria Yogyakarta yang merupakan target dari program PKPR yang berada di wilayah kerja Puskesmas Gondomanan.  ContentLesson learntKendala pelaksanaan program PKPR adalah ketidaksiapan kader/konselor kesehatan remaja yang telah dibentuk dari sisi pengetahuan, persepsi, dan motivasi terhadap tugas dan fungsi kader/konselor remaja dan belum terdapat modul yang terstandarisasi. Sehingga kegiatan ini terfokus kepada pemberian pelatihan dan pembuatan modul kesehatan remaja.ActivitiesKegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan meliputi (1) Penggalian masalah kesehatan remaja di sekolah melalui focus group discussion (2) Perumusan dan pengembangan modul kurikulum pelatihan kader/konselor kesehatan remaja sebaya melalui metode focus group discussion bersama puskesmas, guru UKS, siswa dan orang tua siswa (3) Sosialisasi program PKPR di dua sekolah mitra terpilih. (4) Pelatihan konselor kesehatan remaja di dua mitra sekolah (5) Pelantikan konselor kesehatan remaja (6) Pengukuran status gizi siswa oleh konselor kesehatan remajaRencana Tindak LanjutKegiatan monitoring status kesehatan akan dilakukan secara berkala dan berkelanjutan oleh konselor kesehatan remaja dan dikoordinasikan dengan pihak Puskesmas Gondomanan.RekomendasiKegiatan ini dapat memicu sekolah menengah atas lainnya untuk mengimplementasikan program Konselor Kesehatan Remaja.

Page 76 of 153 | Total Record : 1528


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 02 (2026) Vol 42 No 01 (2026) Vol 41 No 12 (2025) Vol 41 No 11 (2025) Vol 41 No 10 (2025) Vol 41 No 09 (2025) Vol 41 No 08 (2025) Vol 41 No 07 (2025) Vol 41 No 06 (2025) Vol 41 No 05 (2025) Vol 41 No 04 (2025) Vol 41 No 03 (2025) Vol 41 No 02 (2025) Vol 41 No 01 (2025) Vol 40 No 12 (2024) Vol 40 No 11 (2024) Vol 40 No 10 (2024) Vol 40 No 09 (2024) Vol 40 No 08 (2024) Vol 40 No 07 (2024) Vol 40 No 06 (2024) Vol 40 No 05 (2024) Vol 40 No 04 (2024) Vol 40 No 03 (2024) Vol 40 No 02 (2024) Vol 40 No 01 (2024) The 12th UGM Public Health Symposium Vol 39 No 12 (2023) Vol 39 No 11 (2023) Vol 39 No 10 (2023) Vol 39 No 09 (2023) Vol 39 No 08 (2023) Vol 39 No 07 (2023) Vol 39 No 06 (2023) Vol 39 No 05 (2023) Vol 39 No 04 (2023) Vol 39 No 03 (2023) Vol 39 No 02 (2023) Vol 39 No 01 (2023) Vol 38 No 12 (2022) Vol 38 No 11 (2022) Vol 38 No 10 (2022) Vol 38 No 09 (2022) Vol 38 No 08 (2022) Vol 38 No 07 (2022) Vol 38 No 06 (2022) Vol 38 No 05 (2022) Vol 38 No 04 (2022) Vol 38 No 03 (2022) Vol 38 No 02 (2022) Vol 38 No 01 (2022) Vol 37 No 12 (2021) Vol 37 No 11 (2021) Vol 37 No 10 (2021) Vol 37 No 09 (2021) Vol 37 No 08 (2021) Vol 37 No 07 (2021) Vol 37 No 06 (2021) Vol 37 No 05 (2021) Vol 37 No 04 (2021) Vol 37 No 03 (2021) Vol 37 No 02 (2021) Vol 37, No 1 (2021) PHS8 Accepted Abstracts PHS7 Accepted Abstracts Vol 36, No 12 (2020) Vol 36, No 11 (2020) Vol 36, No 10 (2020) Vol 36, No 9 (2020) Vol 36, No 8 (2020) Vol 36, No 7 (2020) Vol 36, No 6 (2020) Vol 36, No 5 (2020) Vol 36, No 4 (2020) Vol 36, No 3 (2020) Vol 36, No 2 (2020) Vol 36, No 1 (2020) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium Vol 35, No 11 (2019) Vol 35, No 10 (2019) Vol 35, No 9 (2019) Vol 35, No 8 (2019) Vol 35, No 7 (2019) Vol 35, No 6 (2019) Vol 35, No 5 (2019) Vol 35, No 4 (2019) Vol 35, No 3 (2019) Vol 35, No 2 (2019) Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) More Issue