cover
Contact Name
Ika Kusumaningtyas
Contact Email
tyas.kusuma@ugm.ac.id
Phone
+628988833412
Journal Mail Official
bkm.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Bersama Jurnal, Lt. 2 Atas Kantin IKM, FK-KMK UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berita Kedokteran Masyarakat
ISSN : 02151936     EISSN : 26148412     DOI : https://doi.org/10.22146/bkm.v37i2.2320
Core Subject : Health,
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles 1,528 Documents
Masih perlukah program pelayanan kesehatan bergerak pada daerah terpencil, tertinggal dan kepulauan (pengobatan massal) gratis di provinsi Bengkulu? Dessyana Iriani; Irma Fitrilia; Wing Ma Intan
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1775.618 KB) | DOI: 10.22146/bkm.44725

Abstract

Analisis stakeholder program eliminasi Filariasis di Pasaman Barat dari sisi konfigurasi organisasi Agung Puja Kesuma
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.837 KB) | DOI: 10.22146/bkm.44735

Abstract

Tujuan: Pemberian Obat Pencegahan Masal (POPM) satu tahun sekali selama 5 tahun merupakan salah satu strategi program eliminasi filariasis di daerah endemis Filariasis. Program ini melibatkan banyak stakeholder untuk mencapai Indonesia Bebas Filariasis 2020. Kabupaten Pasaman Barat merupakan salah satu kabupaten yang telah selesai melaksakan POPM dan telah lulus TAS 1 filariasis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengekplorasi stake holder yang terlibat dalam pelaksanaan POPM dan peran yang telah dilakukan dalam pelaksanaan POPM dari kacamata konfigurasi organisasi.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian evalusai kebijakan dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam dan telaah dokumen.Hasil:  Stake holder yang  terlibat dalam POPM dalam rangka program eliminasi filarisasis di Pasaman Barat adalah Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Bappeda, PKK, Kecamatan, Ketua Adat, Kepala Desa, Kader  dan masyarakat sebagai sasaran. Lembaga Donor Internasional yaitu RTI (Research Triangle Institute) turut berperan serta pula pada POPM tahun 2015. Dalam konfigurasi organisasi sebagai apendix apex adalah bupati, midle line manajer adalah Kepala Dinas Kesehatan, sebagai tecnostructure (bisa pembuat standar/pengawas) adalah pemegang program filariasis di  Dinkes Kabupaten. Konfigurasi POPM filariasis sebagai operating core adalah bidan desa/kader, sebagai pendukung adalah RTI. Penyandang dana, Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, sekolah-sekolah, kelompok adat, camat, nagari, sebagai klien yang dilayani adalah masayarakat.Kesimpulan: Struktur organisasi yang jelas, memiliki pengaruh yang besar terhadap kesuksesan sebuah program, untuk itu setiap bagian organisasi harus memiliki komitmen yang tinggi dalam mencapai tujuan organisasi.
Inovasi kampung rasa sebagai intervensi PIS-PK di Puskesmas Semanggang Kabupaten Kotawaringin Barat Sri Budi Utami
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.136 KB) | DOI: 10.22146/bkm.44736

Abstract

Hospital safety performance (case study of Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta) Ketut Ima Ismara
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.904 KB) | DOI: 10.22146/bkm.44763

Abstract

Performansi K3 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta termasuk yang terbaik beberapa tahun terahkir. Permasalahannya adalah pengukuran performansi K3 masih menggunakan pendekatan jumlah kejadian. Seharusnya sudah mulai menggunakan pendekatan pengukuran perilaku pencegahan kejadian. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan secara statistik hasil pengukuran performansi kerja berdasarkan perilaku mengikuti prosedur untuk mencegah kejadian. Penelitian menggunakan metode expost facto dengan 360 perawat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta sebagai responden  sampel dari 1024 populasi di tahun 2016 yang berasal dari semua bagian yang berpotensi risiko cedera tertusuk dan tersayat (CTS).Hasil penilitian menunjukkan adanya Kecenderungan performansi dengan persentase 52,24 % masuk kategori sangat tinggi, 35,24 % tinggi, 10,02% sedang, 1,97% rendah, dan hanya 0,54% masuk dalam kategori kecenderungan sangat rendah. Hal tersebut mengindikasikan responden masuk dalam kategori performansi yang sudah sangat tinggi.Kesimpulannya adalah Performansi K3 yang bersifat positif menjadi tolok ukur utama dalam penerapan sistem manajemen K3 di rumah sakit, untuk menekan angka kejadian CTS yang bersifat reaktif. Sangat direkomendasikan bagi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta untuk meningkatkan pengelolaan iklim K3 dan memperkuat budaya K3, yang ditandai dengan performansi positif berupa perilaku pencegahan cedera dan atau kecelakaan  di setiap lingkungan unit kerja.
Pentingnya kolaboratif seorang hygiene gigi dikesehatan gigi dan mulut di Indonesia Wing Ma Intan
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (840.996 KB) | DOI: 10.22146/bkm.44803

Abstract

Tujuan: Mengenalkan peran Hygiene Gigi sebagai bagian dari profesi kesehatan gigi dan mulut di Indonesia. Isi: Kesadaran kebersihan gigi dan mulut di Indonesia terbilang rendah. Berdasarkan Riskesdas 2013, diketahui 25,9% penduduk mengalami permasalahan gigi dan mulut, terjadi peningkatan sebesar 2,4% dari Riskesdas 2007. Hanya sebanyak 31,1% menerima perawatan gigi dan mulut, sedangkan 68,9% lainnya tidak. Mengapa kesehatan gigi dan mulut penting? Karena kondisi gigi dan mulut berhubungan langsung dengan kesehatan masyarakat secara umum. Mencegah penyakit gigi dan mulut lebih dini berarti mencegah gangguan sistemik seperti kelainan katup jantung, infeksi ginjal dan penykit kronis lainnya. Masyarakat Indonesia cenderung untuk mencari pengobatan gigi dan mulut jika sudah terjadi penyakit dan memerluka perawatan kompleks. Hal ini memerlukan fokus tindakan dalam hal promotif dan preventif bersifat intervensi yang hanya dapat dilakukan apabila Dokter Gigi tersebut berperan dalam pelayanan primer. Perlu adanya profesi yang berfokus pada promotif dan preventif mengingat profesi Dokter Gigi umumnya berfokus pada kuratif dan rehabilitatif. Hygiene Gigi adalah profesi ahli kesehatan gigi dan mulut profesional yang melakukan perawatan primer serta berperan dalam pengembangan pendidikan kesehatan gigi dan mulut, administratif manajerial, pelayanan pencegahan dan servis therapeutic secara keseluruhan melalui promosi kesehatan gigi dan mulut yang optimal. Dalam praktiknya, Hygiene Gigi memiliki peran ganda dalam pencegahan serta peningkatan kesehatan gigi dan mulut. Lesson Learned : Hygiene Gigi dapat membantu kegiatan UKGMD yang dilakukan oleh Puskesmas serta kegiatan lainnya atau menciptakan inovasi kegiatan promotif dan preventif. Dengan demikian, angka penyakit gigi dan mulut akan menurun dan angka kesadaran masyarakat di Indonesia akan meningkat dengan bertambahnya kunjungan di pelayanan kesehatan gigi dan mulut untuk melakukan kegiatan preventif sebelum terjadi penyakit.
Evaluation of the simplicity and completeness on two models (manual and web-based) reporting of the case-based measles surveillance system in Special Region of Yogyakarta (DIY) Kornelius Langga Son; Andri Setyo Dwi Nugroho; Th. Baning Rahayujati
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (868.064 KB) | DOI: 10.22146/bkm.44820

Abstract

Purpose: In order to eliminate measles in 2020, the Health Office of DIY has developed the surveillance system by implementing CBMS into two different models (Manual and Web-Based Reporting) that has the main purpose to increase the performance of CBMS in detecting new cases, reporting data about the spread of measles after conducting massive campaign of measles in 2017. This study aimed to evaluate the simplicity and completeness of the CBMS in both models.Method: Descriptive evaluative study was conducted in DIY from January 2019 to March 2019. A total of thirty-four (n=34) respondents of health offices in 5 districts, 20 public health care offices and 4 hospitals. Samples were defined by using purposive sampling based on the completeness of the report. Data about simplicity was collected by using structure questioners from 34 respondents. While in measuring completeness, due to lack of information in the health offices, we only observed secondary data in primary health care offices and hospitals. Data were analyzed by using stata 13.Results: For the attribute of simplicity, 64.31% of respondents mentioned that the manual reporting form was too complicated. Meanwhile, only 8.82% of respondents considered that web-based reporting was more complicated. For the attribute of completeness, we observed the reporting completeness of 9 variables on both models which completeness of 4 variables in manual reporting including the number of epidemiology (77%), the number of vaccination (73%),  date of specimen collection (89.1%), and final classification (36%) were lower than the target (90%). Compared to web-based reporting, there were only 2 variables including date of specimen collection (79%) and final classification (65) which were lower than the target (90%).Conclusion: The study revealed that CBMS web-based reporting is more simple and complete than CBMS manual reporting. It was clearly seen that completeness in the final classification has the lowest percentage in both models. The system must be simplified, so that lack of reporting completeness on both models can be overcome.
Mengenal DHIS2: platform integrasi data Niko Tesni Saputro; Lutfan Lazuardi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1125.885 KB) | DOI: 10.22146/bkm.44833

Abstract

Latar Belakang: Disintegrasi data kesehatan terjadi tidak hanya di tingkat pusat, melainkan juga provinsi hingga kabupaten/kota. Hal tersebut bisa berdampak terhadap kualitas kebijakan kesehatan yang dihasilkan, maka perlu dilakukan integrasi data. WHO menyerukan penggunaan data repository untuk integrasi data. DHIS2 hadir sebagai platform data repository yang dapat memenuhi kebutuhan pusat dan daerah.Tujuan: Mengenal DHIS2 sebagai platform data repository untuk integrasi data.Konten: DHIS2 merupakan alat generik dengan basisdata pra-konfigurasi, model metadata terbuka dan desain antarmuka yang fleksibel, sehingga memungkinkan pengguna untuk merancang konten dari sistem informasi tertentu tanpa memerlukan pemrograman. DHIS2 sangat fleksibel sehingga orang yang melakukan kustomisasi dapat dengan mudah mengubah proses bisnis dalam sistem tersebut sesuai kebutuhan. DHIS2 mempunyai struktur what, where dan when, yang dalam aplikasi, what ditunjukkan dengan data element, where ditunjukkan dengan organisation unit dan when ditunjukkan dengan periods. DHIS2 memungkinkan pengguna untuk menentukan indikator, menggabungkan data element ke dalam formula, laporan, tabel dan grafik untuk dianalisis. DHIS2 juga dapat menghasilkan dashboard data terintegrasi sehingga membantu pembuatan kebijakan kesehatan.Hasil: DHIS2 telah diterapkan di beberapa negara, seperti Ethiopia, Uganda, Botswana, Iran, Kenya, Zanzibar, dan negara lainnya. Secara umum, DHIS2 mampu mengintegrasikan berbagai sumber data kesehatan potensial untuk berbagai program kesehatan dengan berbagai metode pencatatan dan pelaporan, baik berbasis web, Excel maupun kertas. Selain itu, data dapat diakses lebih mudah, mencakup semua kebutuhan indikator kesehatan dan dapat dipantau serta dianalisis sampai tingkat komunitas (puskesmas). Sebagai upaya mengatasi disintegrasi data kesehatan, Kementerian Kesehatan berusaha menerapkan Aplikasi Satu Data Kesehatan (ASDK), menggunakan platform DHIS2. Kementerian Kesehatan telah mengadopsi DHIS2 sejak tahun 2016. Melalui penerapan ASDK, maka seluruh kabupaten/kota di Indonesia menggunakan DHIS2. Kementerian Kesehatan melaksanakan roll-out penerapan ASDK untuk 50 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.Kesimpulan: DHIS2 merupakan platform data repository yang dapat digunakan untuk integrasi data baik di tingkat pusat maupun daerah. Keywords: DHIS2, data repository, integrasi.
Edukasi cuci tangan terhadap pengetahuan dan perilaku kebersihan pada ibu balita di kota Tangerang Titus Priyo Harjatmo; Wakhyono Budianto
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.276 KB) | DOI: 10.22146/bkm.44849

Abstract

Latar belakang: Status gizi bayi dan balita merupakan salah satu indikator gizi masyarakat, dan bahkan telah dikembangkan menjadi salah satu indikator kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan bahwa sebesar 18,0% balita menderita status gizi sangat pendek dan 19,2% pendek. Target gizi kurang berdasarkan MDGs 15,5%. Penelitian ini mempunyai tujuan tujuan umum adalah menganalisis edukasi cuci tangan terhadap pengetahuan dan perilaku kebersihan pada ibu-ibu balita. Sedangkan tujuan khusus adalah: 1)Mengidentifikasi karakteristik balita meliputi umur dan jenis kelamin balta, 2) Mengidentifikasi karakteristik orang tua meliputi pendidikan, pekerjaan,3) Menganalisis pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi.pada ibu-ibu balita, 4) Menganalisis pengetahuan sesudah edukasi antara kelompok perlakuan dan kasus dan kontrol. Metode: Rancangan penelitian ini adalah quasi ekperimen pada dua kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol yang dilakukan di wilayah Kecamatan Neglasari Kota Tangerang pada bulan September 2018. Jumlah sampel ibu balita sebanyak 40 orang ibu balita yang mendapat perlakuan edukasi cuci tangan dan 40 orang ibu balita yang tidak mendapatkan perlakuan edukasi cuci tangan. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner. Hasil: Dari hasil analisis data penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa besarnya masalah stunting pada batita sebesar 28,0% dan 20,9% terjadi pada batita usia 0-23 bulan. Sebanyak 31,1% batita menderita Diare pada 1 bulan yang lalu dan 31,4% dan menderita ISPA. Kebiasaan pengasuh tidak mencuci tangan dengan sabun 23,9%, kebiasaan ibu/pengasuh tidak mencuci tangan setelah BAB sebesar 4,9%. Bila dilihat berdasarkan kelompok umur balita menunjukkan bahwa sampel balita yang berusia 0-23 bulan sebanyak 46,2% dan yang berusia di atas 23 bulan sebesar 58,3%. Berdasarkan pekerjaan Orang tua, ditemukan sebanyak 81,2% ibu yang tidak mempunyai pekerjaan atau sebagai ibu rumah tangga. Demikian juga ayah sebagian besar mempunyai pekerjaan sebagai sebagai home industri. Proporsi balita yang stunting cukup tinggi sebesar 22,6% lebih rendah dari hasil Pemantauan Status Gizi tahun 2016 sebesar 27,5%. Bila status gizi berdasarkan indeks TB/U dikaitkan dengan kelompok umur maka masalah stunting terjadi pada semua kelompok umur yaitu sebesar 24,3% pada usia di bawah 23 bulan dan sebesar 20,9% pada usia 23 bulan ke atas. Dari 33,1% balita pendek, sebanyak 16,2% balita mempunyai berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) normal yang berpotensi mengalami kegemukan. Sebanyak 57,5% pengetahuan ibu tentang cuci tangan dalam kategori kurang dan 42,5% dalam kategori baik. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi (p<0,05) dan ada perbedaan skor pengetahuan pada kelompok edukasi dan tidak edukasi (p<0,05). Simpulan: Rekomendasi yang disampaikan bahwa nampaknya edukasi cuci tangan dapat meningkatkan pengetahuan ibu balita sehingga diharapkan ibu balita mempunyai kebiasaan perilaku cuci tangan. Untuk itu materi cuci tangan hendaknya disisipkan pada setiap penyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh Puskesmas. 
The involvement of TB counselors increased the case finding figures of child TB in Fanayama and Maniamolo Sub-districts in South Nias Regency Rachmat Willy Sitompul; Dewi Sukowati; Pedaman Halawa
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1178.773 KB) | DOI: 10.22146/bkm.44855

Abstract

Purpose: The number of TB case detection rate in 2017 in South Nias Regency is 18%. This figure is still far from the national target of TB case detection rate. In addition, the absence of data for child TB cases is another worrying problem considering that only 9% of TB patients in South Nias are treated properly according to standards.Method: Since 2015, Wahana Visi Indonesia (WVI) in collaboration with the South Nias Health Office has trained TB counselors in 8 villages in the work area of 2 health centers covering 2 sub-districts in South Nias. As many as 55 TB counselors have been trained and actively involved in conducting case discoveries in their respective villages. One of the material that should mastered by TB counselors is to use a scoring system in determining suspected child TB cases and then refer the patients to the health center for further treatment. Results: The involvement of TB counselors in the discovery of suspected child TB cases in their respective areas is expected to contribute to increase the number of case detection rate of child TB at the health center.Conclusion: There were no cases of child TB recorded at those 2 health centers before. Then, 3 cases reported in 2016. In 2017 there were 6 cases of child TB recorded in 2 health centers. This number increased to 12 in 2018. The cause of this increase is due to the involvement of TB counselors using a scoring system and applied referral mechanisms.
Pengembangan sistem informasi dan modifikasi formulir asuhan gizi sebagai upaya mempermudah pelaksanaan PAGT di RSU Haji Surabaya Ridna Tri Widyaningrum
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1967.598 KB) | DOI: 10.22146/bkm.44862

Abstract

Page 83 of 153 | Total Record : 1528


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 02 (2026) Vol 42 No 01 (2026) Vol 41 No 12 (2025) Vol 41 No 11 (2025) Vol 41 No 10 (2025) Vol 41 No 09 (2025) Vol 41 No 08 (2025) Vol 41 No 07 (2025) Vol 41 No 06 (2025) Vol 41 No 05 (2025) Vol 41 No 04 (2025) Vol 41 No 03 (2025) Vol 41 No 02 (2025) Vol 41 No 01 (2025) Vol 40 No 12 (2024) Vol 40 No 11 (2024) Vol 40 No 10 (2024) Vol 40 No 09 (2024) Vol 40 No 08 (2024) Vol 40 No 07 (2024) Vol 40 No 06 (2024) Vol 40 No 05 (2024) Vol 40 No 04 (2024) Vol 40 No 03 (2024) Vol 40 No 02 (2024) Vol 40 No 01 (2024) The 12th UGM Public Health Symposium Vol 39 No 12 (2023) Vol 39 No 11 (2023) Vol 39 No 10 (2023) Vol 39 No 09 (2023) Vol 39 No 08 (2023) Vol 39 No 07 (2023) Vol 39 No 06 (2023) Vol 39 No 05 (2023) Vol 39 No 04 (2023) Vol 39 No 03 (2023) Vol 39 No 02 (2023) Vol 39 No 01 (2023) Vol 38 No 12 (2022) Vol 38 No 11 (2022) Vol 38 No 10 (2022) Vol 38 No 09 (2022) Vol 38 No 08 (2022) Vol 38 No 07 (2022) Vol 38 No 06 (2022) Vol 38 No 05 (2022) Vol 38 No 04 (2022) Vol 38 No 03 (2022) Vol 38 No 02 (2022) Vol 38 No 01 (2022) Vol 37 No 12 (2021) Vol 37 No 11 (2021) Vol 37 No 10 (2021) Vol 37 No 09 (2021) Vol 37 No 08 (2021) Vol 37 No 07 (2021) Vol 37 No 06 (2021) Vol 37 No 05 (2021) Vol 37 No 04 (2021) Vol 37 No 03 (2021) Vol 37 No 02 (2021) Vol 37, No 1 (2021) PHS8 Accepted Abstracts PHS7 Accepted Abstracts Vol 36, No 12 (2020) Vol 36, No 11 (2020) Vol 36, No 10 (2020) Vol 36, No 9 (2020) Vol 36, No 8 (2020) Vol 36, No 7 (2020) Vol 36, No 6 (2020) Vol 36, No 5 (2020) Vol 36, No 4 (2020) Vol 36, No 3 (2020) Vol 36, No 2 (2020) Vol 36, No 1 (2020) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium Vol 35, No 11 (2019) Vol 35, No 10 (2019) Vol 35, No 9 (2019) Vol 35, No 8 (2019) Vol 35, No 7 (2019) Vol 35, No 6 (2019) Vol 35, No 5 (2019) Vol 35, No 4 (2019) Vol 35, No 3 (2019) Vol 35, No 2 (2019) Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) More Issue