cover
Contact Name
Ika Kusumaningtyas
Contact Email
tyas.kusuma@ugm.ac.id
Phone
+628988833412
Journal Mail Official
bkm.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Bersama Jurnal, Lt. 2 Atas Kantin IKM, FK-KMK UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berita Kedokteran Masyarakat
ISSN : 02151936     EISSN : 26148412     DOI : https://doi.org/10.22146/bkm.v37i2.2320
Core Subject : Health,
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles 1,528 Documents
[PHSS] MENINGKATKAN PROMOSI KESEHATAN GIGI DI PUSKESMAS Putri Raisah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12.703 KB) | DOI: 10.22146/bkm.45195

Abstract

Purpose : adanya perubahan perilaku dari masyarakat kearah perilaku sehat sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal.Isi : Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat merupakan sarana kesehatan yang sangat penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Untuk itu peranan puskesmas hendaknya tidak lagi menjadi sarana pelayanan pengobatan dan rehabilitatif saja tetapi juga lebih ditingkatkan pada upaya promotif dan preventif. Oleh karena itu promosi kesehatan gigi menjadi salah satu upaya wajib di puskesmas. Salah satu promosi kesehatan gigi di puskesmas adalah menyelenggarakan penyuluhan. Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut adalah usaha terencana dan terarah untuk menciptakan suasana agar seseorang atau kelompok masyarakat mau mengubah perilaku lama yang kurang menguntungkan untuk kesehatan gigi, menjadi lebih menguntungkan untuk kesehatan giginya. Lesson Learned : Hasil yang diharapkan dari penyuluhan kesehatan gigi dalam jangka pendek adalah tercapainya perubahan pengetahuan dari masyarakat. Dalam tujuan jangka menengah, hasil yang diharapkan adalah adanya peningkatan pengertian, sikap, dan keterampilan yang akan mengubah perilaku masyarakat kearah perilaku sehat. Tujuan jangka panjang adalah masyarakat dapat menjalankan perilaku sehat dalm kehidupan sehari-harinya.
Analisis bagaimana mengatasi permasalahan stunting di Indonesia? Awaludin Bima
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.607 KB) | DOI: 10.22146/bkm.45197

Abstract

Latar belakang: Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi yang berdampak serius terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Salah satu masalah gizi yang menjadi perhatian utama saat ini adalah masih tingginya anak balita pendek (Stunting). Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan karena asupan gizi yang kurang dalam waktu yang cukup lama sebagai akibat dari pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi yang diperlukan.Indonesia merupakan negara dengan prevalensi gizi kurang pada balita cukup tinggi. Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010 dan 2013, dan Pemantauan Status Gizi Tahun 2015 dan 2017, menunjukan prevalensi stunting masih tinggi dan tidak menurun mencapai batas ambang WHO. Riskesdas Tahun 2010 mencapai 35,6% dan Tahun 2013 mencapai 37,2 %,  Pemantauan Status Gizi (PSG) Tahun 2015 (29.0%) dan Tahun 2017 (29,6 %). Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2013 menunjukkan prevalensi stunting mencapai 37,2%. Di sisi lain, hasil riset Bank Dunia (2017) menggambarkan kerugian akibat stunting mencapai 3-11% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Dengan nilai PDB 2015 sebesar Rp11.000 Triliun, kerugian ekonomi akibat stunting di Indonesia diperkirakan mencapai Rp300-triliun Rp1.210 triliun per tahun. Sedangkan pada Balita Stunting (Tinggi Badan per Umur). Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Stunting pada balita dapat menyebabkan menurunnya produktivitas dan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa mendatang. Retardasi pertumbuhan atau stunting pada anak-anak di indonesia terjadi sebagai akibat dari kekurangan gizi kronis dan penyakit infeksi dan memengaruhi 30% dari anak-anak usia dibawah lima tahun. Tujuan: menganalisis dan menunjukkan serta mencari permasalahan stunting di indonesia dari sudut pandang akademisi. Dan juga mencoba menawarkan solusi solusi serta strategi untuk mengatasi maslah stunting di indonesia. tetapi perlu dukungan semua sektor serta perencanaan jangka panjang. Metode: argumentative dengan telaah beberapa jurnal sebagai acuan. Serta mencoba menganalisis Kebijakan kebijakan pemerintah terkait dengan perbaikan gizi diantaranya yaitu: (1) Peraturan Presiden No. 42 Tahun 2013 tentang Percepatan Perbaikan Gizi, (2) Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Sehat, (3) Peraturan Presiden No. 83 Tahun 2017 tentang Kebijakan Strategis Pangan dan Gizi. Hasil: Berdasarkan penelitian yang di lakukan Aryastam NK., Tarigan I, bahwa menunjukan Prevalensi Balita stunting di Indonesia cukup tinggi. Distribusinyapun tidak merata, antara desa kota maupun antar provinsi. Hasil-hasil survey yang pernah dilakukan di Indonesia dari tahun 1992 hingga 2013, atau selama sekitar 20 tahun, penurunan prevalensi stunting hanya sebesar 4%. Bahkan proporsi sekitar 37% tampak stagnan dari tahun 2006 hingga 2013. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar 2013, kesenjangan antar provinsi tampak cukup lebar, yakni proporsi 20% (Yogyakarta) hingga 48% (NTT). Stunting sebagai masalah gizi yang bersifat kronis tidak dapat dipisahkan dengan masalah gizi kurang secara umum. Masalah gizi kurang (BB/U <-2 SD) menurut data Riskesdas menunjukkan proporsi yang cukup stagnan, yaitu 18,4% (2007); 17,9% (2010); dan 19,6% (2013). Dari berbagai literature yang penulis temui menunjukan bahwa permasalahan stunting di indonesia di sebabkan akibat Faktor Multi Dimensi. Diantaranya yaitu : (1) Praktek pengasuhan yang tidak baik : (a) Kurang pengetahuan tentang kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan,(b) 60 % dari anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan ASI ekslusif, (c) anak usia 0-24 bulan tidak menerima Makana Pengganti ASI. (2) Terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan anc (ante natal care), post natal dan pembelajaran dini yang berkualitas: (a) ibu hamil belum mengkonsumsi suplemen zat besi yang memadai, (b) Menurunnya tingkat kehadiran anak di Posyandu (dari 79% di 2007 menjadi 64% di 2013) berdasarkan data risnakes, (c) Tidak mendapat akses yang memadai ke layanan imunisasi. (3) Kurangnya akses ke makanan bergizi: (a) ibu hamil anemia, (b) makanan bergizi mahal. (4)Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi : (a) rumah tangga masih BAB diruang terbuka, (b) rumah tangga belum memiliki akses ke air minum bersih. Kesimpulan: (1) Melakukan pembentukan kebun gizi di setiap desa desa dengan pemanfaatan anggaran  dana desa yang telah di gelontorkan oleh pemerintah. Lewat peraturan yang dikeluarkan tersebut, Warga Desa bisa terlibat aktif menghadirkan aneka kegiatan yang berhubungan upaya penanganan stunting yang berfokus pada kebun gizi pada tiap tiap desa dengan pendekatan keluarga. Sehingga Kehadiran Dana Desa tidak hanya berfokus pada Pondok Bersalin Desa (Polindes),maupun (Posyandu), namun berfokus pada pembentukan kebun gizi dengan pendekatan keluarga dengan berbasis pemberdayaan masyarakat sehingga bisa dilakukan edukasi edukasi mengenai gizi pada wadah tersebut.(2) Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2013 harus disikapi dengan koordinasi yang kuat di tingkat pusat dan aturan main dan teknis yang jelas di tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga pelaksana ujung tombak. Diseminasi informasi dan advocacy perlu dilakukan oleh unit teknis kepada stake holders lintas sektor dan pemangku kepentingan lain pada tingkatan yang sama. Sehingga Dibutuhkan upaya yang bersifat holistik dan saling terintegrasi.(3) Mendorong Kebijakan Akses Pangan Bergizi, akses air bersih dan sanitasi serta melakukan Pemantauan dan Evaluasi secara berkala. (4)Memperkuat survailens gizi masyarakat sehingga dapat mendeteksi secara dini permasalahan permasalahan gizi yang muncul di masyarakat
Pengaruh promosi kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap menyikat gigi pada siswa sekolah dasar Doddy Suprapto; Rafiah Maharani Pulungan
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.004 KB) | DOI: 10.22146/bkm.45199

Abstract

Menurut WHO prevalens karies gigi sangat tinggi yaitu sebanyak 87% dari anak-anak usia sekolah di seluruh dunia. Salah satu penyebabnya adalah masih rendahnya perilaku menyikat gigi pada anak. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan pengetahuan dan sikap siswa sebelum dan setelah diberi promosi kesehatan melalui penyuluhan dengan media power point yang bermateri menyikat gigi, video animasi cara menyikat gigi dan menggunaan alat peraga gigi beserta sikat gigi untuk mendemontrasikan cara menyikat gigi di SDN 07 Cilandak Barat. Jenis penelitian ini adalah penelitian dengan metode pre eksperimental. Teknik sampling penelitian menggunakan purposive sampling dengan besar sampel 100 orang. Kemudian data dikumpulkan dengan cara membagikan angket secara langsung. Data dianalisis dengan menggunakan uji wilcoxon signed ranks test dan paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum promosi kesehatan 78,0% siswa yang memiliki pengetahuan baik dan 47,0% siswa yang bersikap positif setelah promosi kesehatan melalui penyuluhan, ada 99,0% siswa yang memiliki pengetahuan baik dan 59,0% siswa yang bersikap positif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, ada pengaruh promosi kesehatan melalui penyuluhan terhadap pengetahuan dan sikap menyikat gigi siswa di SDN 07 Cilandak Barat. Disarankan kepada sekolah agar memberikan promosi kesehatan secara rutin kepada siswa untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap menyikat gigi siswa.
Paparan toluen di udara ambien industri percetakan terhadap kadar hippuric acid urin pada pekerja industri percetakan di kota Medan tahun 2018 Mutiara Nauli; Taufik Ashar; Rahayu Lubis
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 6 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (25.146 KB) | DOI: 10.22146/bkm.45210

Abstract

Toluene exposure and urine hippuric acid level in printing workers in Medan in 2018Purpose: The printing industry has been one of the growing industries. The printing industry in Indonesia in 2011 is estimated to reach 4.7 percent or higher than the average world growth, which is only 1.6 percent. The production and printing services needs in Indonesia are significantly increasing. Industrial processes that use labor, especially those related to using chemicals in the production process, will be at high risk of potential hazards. According to the Ministry of Industry and Trade, 45 industries use hazardous materials, one of which is the printing industry. This study aims to analyze exposure to toluene through urine hippuric acid levels in the printing industry workers. Methods: This research is a quantitative observational analytic study using a cross-sectional design conducted from March to July 2018. The sample of this study is 50 respondents located in 6 printing industries in Medan City. Most of the respondents are males, which is 38 people (76%). Results: The average value of ambient air toluene exposure in 6 printing companies was 6.97 ppm, much lower than the threshold value of 50 ppm, and the average hippuric acid level of printing employees is 143.5 mg/g creatinine, which is far from the threshold value of 1600 mg/g creatinine. There is a correlation between sex with hippuric acid levels (p <0.05). Conclusions: Printing business owners should monitor their employees' health periodically. The Health Ministry also needs to regulate the protection of workers from toluene. To reduce toluene exposure, printing industry owners should equip their employees with personal protective equipment and manage better office hours, a day off, and furlough.
Implementasi Penerapan WHO Code Dalam Pembatasan Produk Penganti ASI Susu Formula Studi Kasus PT. Tigaraksa Satria, Tbk Cabang Yogyakarta ronny soviandhi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1403.792 KB) | DOI: 10.22146/bkm.45212

Abstract

Abstrak: Judul Implementasi Penerapan WHO Code Dalam Pembatasan Produk Penganti ASI Susu Formula Studi Kasus PT. Tigaraksa Satria, Tbk Cabang Yogyakarta  Tujuan Untuk melihat implementasi penerapan WHO Code Pemasaran produk Pengganti ASI susu formula oleh PT. Tigaraksa Satria Cabang Kota Yogyakarta terhadap channel-channelnyaMetode Peneletian Kualitatif dengan studi kasus mengenai implementasi penerapan WHO Code Pemasaran Produk Pengganti ASI susu formula oleh PT. Tigaraksa Satria Cabang Kota Yogyakarta. Deep interview dengan aktor-aktor implementator kebijkan.Hasil Implementasi penerapan WHO Code Code Pemasaran Produk Pengganti ASI susu formula oleh PT. Tigaraksa Satria Cabang Kota Yogyakarta sudah dilaksanakan dengan baik kepada channel-channelnya ini dibuktikan dengan tanda terima surat pemberitahuan WHO Code dan wawancara dengan buyer dan userKesimpulan Implementasi penerapan WHO Code Pemasaran Produk Pengganti ASI susu formula oleh PT. Tigaraksa Satria Cabang Kota Yogyakarta agar lebih maksimal dengan perlu adanya dukungan dari aktor-aktor yang bertanggung jawab pada produksi (principal), distributor, petugas kesehatan dan masyarakat userKeywords Implementasi, WHO Code, Susu Formula
Pengalaman ODHA Dalam Mengakses Terapi ARV (Studi Kualitativ) Debby Febriani
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.45215

Abstract

Latar Belakang : Secara global, permasalahan kesehatan yang belum dapat ditemukan obatnya sampai saat ini adalah obat untuk HIV AIDS. Penderita HIV AIDS semakin tahun semakin meningkat. Saat ini terdapat 2,1 juta infeksi baru HIV yang menyebabkan sekitar 36,7 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV dan 1,1 juta kematian akibat HIV AIDS hingga akhir tahun 2015. Indonesia memiliki jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Desember 2017 sebanyak 280.623 dan kumulatif AIDS sebanyak 102.667 orang. Provinsi Bengkulu hingga Desember tahun 2017 melaporkan HIV 625 kasus, AIDS 360 kasus hingga total angka HIV AIDS adalah 985 kasus. Beberapa penelitian telah meneliti hubungan antara HIV, stigma dan akses terapi ARV terhadap kepatuhan terapi antiretroviral dan mengatakan bahwa untuk meningkatkan jumlah ODHA yang mengikuti terapi ARV.Tujuan  : Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang pengalaman ODHA dalam mengakses terapi ARV.Metode : Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan rancangan penelitian fenomonologi. Teknik simpel random sampling digunakan untuk mendapatkan informan, sesuai kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada 10 informan utama dan 4 informan pendukung sebagai significant others. Keabsahan data melalui triangulasi, member checking dan peer debriefing dan dilakukan di klinik CST RSUD Dr M Yunus Bengkulu.Hasil : Memutuskan untuk memulai pengobatan ARV juga bukan merupakan hal yang mudah bagi ODHA. ODHA memahami bahwa  HIV AIDS adalah penyakit yang harus diberikan penanganan segera yaitu minum obat ARV. Menerima dengan ikhlas adalah cara ODHA berdamai dengan hatinya. Jarak rumah dengan layanan kesehatan serta waktu tempuh, biaya yang harus dikeluarkan, kemudahan dalam proses pengurusan administrasi dan ketersediaan obat merupakan hal – hal yang sangat berkaitan dengan ODHA dalam mengakses terapi ARV. Layanan petugas kesehatan, dukungan keluarga, waktu tunggu dilayanan kesehatan dan stigma dari masyarakat  sangat mempengaruhi ODHA  dalam mengakses terapi ARV.Kesimpulan: tidak terjangkaunya akses layanan menjadi masalah utama bagi ODHA, perlunya ada penngembangan program baru dalam mengatasi masalah ini, sehingga ODHA dapat mengakses layanan kesehatan tanpa harus menerima stigma buruk dari masyarakat. 
Awareness of civil society with health on cleanlinity of Ciliwung river: study of public response on online news media in DKI Jakarta Faiq Hilmi Ciptadi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.45225

Abstract

BACKGROUND : Urban hygiene and sanitation is a public health risk factor. Ciliwung river in DKI Jakarta was known full of garbage piles, and the reports about efforts made to clean the river in the online news has generated responses. This study aims to describe the voice of civil society on public health.METHODS : Case study method was used in online news media about clean Ciliwung river. With the inclusive criteria of commented newsletters with the keyword "Ciliwung bersih" published between April 1, 2015 and April 30, 2017, 57 news were obtained generated through https://news.google.co.id/. But some news with irrelevant themes and commentary were excluded, so 14 news were used. Content analysis is done and the results are described in a narrative-descriptive writing.RESULTS : The government's revitalization policy of the Ciliwung River, followed by the growth of community movements concerned with river cleanliness, has resulted settlement of the Ciliwung river cleanliness issue. From the analysis of 14 news, 3 key themes were obtained which are availability of environmental health for people, existence of health-oriented government with leadership, and active participation of the community. Responses include, happiness and appreciation for the government and society, voice of hope for the clean river and the call to make further environmental health changes.CONCLUSION : The news of clean river invites public response to care about environmental health problems, which provides lessons the ability to visualize the benefits of cleanliness and health rises community awareness.
Keinginan bekerja di daerah pedesaan dan terpencil pada mahasiswa kedokteran tahun ke 4 Universitas Gadjah Mada Ghani Ikhsan Majid; Mubasysyir Hasanbasri
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.222 KB) | DOI: 10.22146/bkm.45227

Abstract

Tujuan: Maldistribusi dari dokter yang bekerja di kota dan desa, termasuk daerah terpencil dapat diprediksi dari faktor individual calon dokter. Jika ketika mahasiswa mereka sudah tidak berkeinginan, besar kemungkinan hal itu tidak berubah. Karena itu pemerintah tetap penting memikirkan sistem yang mendorong mahasiswa berkeinginan bekerja di daerah terpencil dan sulit. Faktor individu mahasiswa akan besar sekali tertarik bekerja di kota di tempat pasar bagi layanan kedokteran sangat tinggi.Metode: Sejumlah 205 mahasiswa kedokteran tahun keempat. 181 (dari 209) mahasiswa reguler dan 24 (dari 94) mahasiswa internasional). Self reported questionnaire melalui google form. Pertanyaan ya atau tidak untuk keinginan bekerja di daerah pedesaan dan daerah terpencil. Variabel prediktor mencakup jenis kelamin, besar di desa dan di kota, karir sebagai pekerja di puskesmas, dan suka mengelola program.Hasil: Penelitian ini membutikan temuan yang sejalan dengan prinsip pasar. Mahasiswa lebih tertarik bekerja di kota daripada di daerah pinggiran. Meski demikian, laki-laki lebih besar kemungkinan berkeinginan pergi ke daerah dibanding perempuan (57% versus 45%). Mahasiswa bermobil pribadi jauh lebih kecil berkeinginan pergi ke daerah dibanding mahasiswa pengendara motor (37% versus 56%). Di antara mereka yang ingin menjadi spesialis, yang belum bisa memutuskan karir ke depan, dan yang memiliki karir yang non spesialis, pilihan ke daerah konsisten lebih rendah daripada pilihan ke kota (kurang dari 45%). Hanya untuk yang berkeinginan memiliki karir di puskesmas, mereka lebih besar persentase yang ingin ke daerah (56% versus rata-rata 45%)Kesimpulan: Motivasi mahasiswa kedokteran berkarir mengikuti pola pasar. Agar distribusi dokter terpenuhi di daerah terpencil, pemerintah harus membangun kebijakan khusus agar mahasiswa tertarik bekerja di daerah terpencil.
Hubungan antara kebiasaan merokok, minum kopi, dan status gizi dengan hipertensi pada karyawan office boy Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta tahun 2018 Muhammad Ikhsan Amar; Ismu Wahid Ramadhani; Avliya Quratul Marjan
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.076 KB) | DOI: 10.22146/bkm.45255

Abstract

Hypertension is one of the high incidence diseases in Indonesia. Hypertension is a condition where blood vessels have high blood pressure (systolic blood pressure ≥ 140 mmHg or diastolic blood pressure ≥ 90 mmHg). The prevalence of hypertension in adulthood was 23.3% in Indonesia. The purpose of this study was to determine the relationship of smoking habits, coffee drinking, and nutritional status with hypertension in office boy at Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. The design of this study was cross sectional with 70 respondents sample in total that was taken by random sampling method. Data were analyzed by univariate and bivariate by Chi Square test. The results showed that there was a relationship between smoking habits (p = 0.005), drinking coffee (p value = 0,000), and nutritional status (p value = 0.005) with hypertension. The writer expected that if respondents could quit smoking, drinking coffee, and managed dietary habit it could increase the standard of health and decrease the incidence of hypertension.
[PHS5] Trend membully balik: perlukah regulasi pembatasan konten kekerasan pada anak? Hafidhotun Nabawiyah; Dian Mawarni; Anggita Purnamasari
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.542 KB) | DOI: 10.22146/bkm.45282

Abstract

Tujuan: Mengekplorasi kejadian pembullyan balik yang terjadi di jaringan internet. Isi: bullying tidak hanya terjadi dalam keadaan interaksi secara langsung tetapi juga menggunakan media sosial. Media sosial digunakan oleh 130 juta orang Indonesia. Dengan pengguna paling banyak pada kelompok remaja. Kelompok ini merupakan kelompok yang masih rentan dengan beragam informasi yang beredar. Penggunaan media sosial ini memberikan manfaat dalam kecepatan penyebaran informasi. Setiap kalangan dapat  mengakses informasi dengan mudah sehingga kita dapat memberikan informasi terkait pencegahan perundungan bagi anak-anak remaja. Lesson learned: Blow up kasus bullying yang membuat semua orang tahu siapa pembully dan korban yang di bully padahal belum diketahui siapa yang salah. Kedua, kesehatan mental korban bullying akan terganggu. Pada akhirnya, masyarakat tidak berhak untuk memperluaskan kasus pembullyan yang belum diklarifikasi oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Perlu kerjasama dengan KOMINFO untuk memblokir konten kasus bullying.

Page 91 of 153 | Total Record : 1528


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 02 (2026) Vol 42 No 01 (2026) Vol 41 No 12 (2025) Vol 41 No 11 (2025) Vol 41 No 10 (2025) Vol 41 No 09 (2025) Vol 41 No 08 (2025) Vol 41 No 07 (2025) Vol 41 No 06 (2025) Vol 41 No 05 (2025) Vol 41 No 04 (2025) Vol 41 No 03 (2025) Vol 41 No 02 (2025) Vol 41 No 01 (2025) Vol 40 No 12 (2024) Vol 40 No 11 (2024) Vol 40 No 10 (2024) Vol 40 No 09 (2024) Vol 40 No 08 (2024) Vol 40 No 07 (2024) Vol 40 No 06 (2024) Vol 40 No 05 (2024) Vol 40 No 04 (2024) Vol 40 No 03 (2024) Vol 40 No 02 (2024) Vol 40 No 01 (2024) The 12th UGM Public Health Symposium Vol 39 No 12 (2023) Vol 39 No 11 (2023) Vol 39 No 10 (2023) Vol 39 No 09 (2023) Vol 39 No 08 (2023) Vol 39 No 07 (2023) Vol 39 No 06 (2023) Vol 39 No 05 (2023) Vol 39 No 04 (2023) Vol 39 No 03 (2023) Vol 39 No 02 (2023) Vol 39 No 01 (2023) Vol 38 No 12 (2022) Vol 38 No 11 (2022) Vol 38 No 10 (2022) Vol 38 No 09 (2022) Vol 38 No 08 (2022) Vol 38 No 07 (2022) Vol 38 No 06 (2022) Vol 38 No 05 (2022) Vol 38 No 04 (2022) Vol 38 No 03 (2022) Vol 38 No 02 (2022) Vol 38 No 01 (2022) Vol 37 No 12 (2021) Vol 37 No 11 (2021) Vol 37 No 10 (2021) Vol 37 No 09 (2021) Vol 37 No 08 (2021) Vol 37 No 07 (2021) Vol 37 No 06 (2021) Vol 37 No 05 (2021) Vol 37 No 04 (2021) Vol 37 No 03 (2021) Vol 37 No 02 (2021) Vol 37, No 1 (2021) PHS8 Accepted Abstracts PHS7 Accepted Abstracts Vol 36, No 12 (2020) Vol 36, No 11 (2020) Vol 36, No 10 (2020) Vol 36, No 9 (2020) Vol 36, No 8 (2020) Vol 36, No 7 (2020) Vol 36, No 6 (2020) Vol 36, No 5 (2020) Vol 36, No 4 (2020) Vol 36, No 3 (2020) Vol 36, No 2 (2020) Vol 36, No 1 (2020) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium Vol 35, No 11 (2019) Vol 35, No 10 (2019) Vol 35, No 9 (2019) Vol 35, No 8 (2019) Vol 35, No 7 (2019) Vol 35, No 6 (2019) Vol 35, No 5 (2019) Vol 35, No 4 (2019) Vol 35, No 3 (2019) Vol 35, No 2 (2019) Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) More Issue