cover
Contact Name
Ika Kusumaningtyas
Contact Email
tyas.kusuma@ugm.ac.id
Phone
+628988833412
Journal Mail Official
bkm.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Bersama Jurnal, Lt. 2 Atas Kantin IKM, FK-KMK UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berita Kedokteran Masyarakat
ISSN : 02151936     EISSN : 26148412     DOI : https://doi.org/10.22146/bkm.v37i2.2320
Core Subject : Health,
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles 1,528 Documents
Pola pencarian informasi perilaku penurunan berat tubuh di indonesia menggunakan google trends Ira Dewi Ramadhani; Lutfan Lazuardi; Leny Latifah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.722 KB) | DOI: 10.22146/bkm.45171

Abstract

Sistem pendukung keputusan pengadaan alat kesehatan di rumah sakit Raihan Raihan
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.45178

Abstract

Kebutuhan alat kesehatan di Rumah Sakit guna memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat  sangat diperlukan. Rumah Sakit harus membuat suatu keputusan yang tepat dalam hal pengadaan alat kesehatan yang dilaksanakan secara kerjasama dengan vendor karena berkaitan dengan kebutuhan, kualitas, garansi dan anggaran yang harus dipertanggungjawabkan. Selama ini, pada umumnya Rumah Sakit saat proses pengadaan alat kesehatan hanya mengandalkan intuisi tim manajemen tanpa berdasarkan analisis kebutuhan. Sistem Pendukung Keputusan (SPK) atau Decission Support System adalah salah satu sistem informasi untuk menyediakan informasi, memberikan prediksi dan mengarahkan pengguna informasi agar dapat melakukan pengambilan keputusan dengan lebih baik. Tujuan dari penelitian ini ingin menganalisis apakah dengan SPK dapat membantu dalam proses pengadaan alat kesehatan di Rumah Sakit dengan lebih objektif dibandingkan dengan cara manual. Adanya sistem komputerasi sangat membantu dalam pemecahan masalah, terutama dalam hal sistem pendukung keputusan agar supaya dapat menghasilkan informasi yang objektif, akurat, relevan dan cepat dalam mengambil keputusan. SPK berperan membantu tim manajemen rumah sakit untuk mengambil keputusan dalam hal pengadaan alat kesehatan. Metode yang digunakan yaitu Analytical Hierarchy Process (AHP). Aplikasi ini mampu menghasilkan Sistem Pendukung Keputusan pengadaan alat kesehatan sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya seperti kualitas, harga, ketersediaan, spesifikasi dan garansi seperti yang diharapkan oleh Rumah Sakit. Implementasi SPK dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dapat membantu dan mempermudah dalam pengadaan alat kesehatan di Rumah sakit sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat.
Determinan sosial perilaku merokok usia dewasa di kota Kediri Mohamad Anis Fahmi; Ningsih Dewi Sumaningrum; Ahmad Hidayat
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.45179

Abstract

Tujuan:  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor determinan sosial perilaku merokok di Kota Kediri. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional, dilakukan pada jenis kelamin laki-laki usia dewasa 25-64 tahun yang ada di Kota Kediri. Variabel-variabel determinan sosial yang diteliti adalah umur, tingkat pendidikan, lama pendidikan, penghasilan rumah tangga, pekerjaan dan lokasi tempat tinggal. Analisis statistik dilakukan univariat dan bivariat. Analisis univariat untuk mengetahui prevalensi perokok dan determinan sosial. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui odds ratio (OR) dan p-value variabel determinan sosial dengan merokok. Software statistik yang digunakan adalah SPSS. Hasil: Penelitian dilakukan pada 425 responden, didapatkan prevalensi perokok pada laki-laki dewasa di Kota Kediri adalah 79.53%. Variabel determinan sosial yang paling berpengaruh terhadap perilaku merokok adalah tingkat pendidikan rendah (OR: 3.63; p-value: 0.001) dan sedang (OR: 3.48; p-value: 0.000) dibandingkan dengan pendidikan tinggi. Variabel lain tidak ada yang berpengaruh secara signifikan. Simpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor pengetahuan merupakan determinan sosial yang paling berpengaruh terhadap perilaku merokok. Meningkatkan pengetahuan dapat merubah perilaku merokok pada orang dewasa di daerah penghasil rokok seperti Kota Kediri. Puskesmas dan dinas kesehatan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui penyuluhan rutin.
Hospital readiness at Yogyakarta and surrounding areas to implement telepsychiatry Daniel C.A. Nugroho; Eko Nugroho; Carla Raymondalexas Marchira
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 5 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.967 KB) | DOI: 10.22146/bkm.45180

Abstract

Purpose: This study aims to determine hospitals’ readiness before implementing telepsychiatry.Method: This case study analyses the results of interviews from Head of Psychiatry Department or equivalent, information systems administrator and psychiatrist at 3 Mental Hospitals and 1 General Hospital. Interviews and observations were then compared with related theories.Results: RSJS Magelang does not have adequate infrastructure for telepsychiatry implementation. RSUP Sardjito having difficulties in terms of management, infrastructure and the desire to use telepsychiatry. RSJ Grhasia having obstacles in terms of management and fulfillment of infrastructure needs. RSJD Soedjarwadi does not have any obstacles if they start to implement telepsychiatry.Conclusion: RSJD Soedjarwadi is ready to implement telepsychiatry. As for other hospitals need further improvement, mainly in their infrastructure
Sistem pendukung keputusan tindakan pencegahan kejadian luar biasa penyakit di wilayah provinsi kepulauan Bangka Belitung Fikry Pratama
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (963.303 KB) | DOI: 10.22146/bkm.45182

Abstract

Undang-undang No. 4 tahun 1984 mengenai Wabah Penyakit Menular serta PP No. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular mengatur agar setiap wabah penyakit menular atau situasi yang dapat mengarah ke wabah penyakit menular (Kejadian luar biasa – KLB) harus ditangani sedini mungkin. KLB penyakit adalah status yang mengklasifikasikan peristiwa meningkatnya jumlah penderita suatu penyakit pada satu wilayah tertentu dalam satu rentang waktu. Keputusan yang diambil dalam penanganan KLB penyakit dilakukan dengan memberikan respon yang lebih cepat untuk menghindari masalah kesehatan yang lebih besar sehingga dapat menekan jumlah penderita serta membatasi penyebaran penyakit pada daerah tersebut. Tahapan preventif dapat dilalui dengan penyusunan rencana kegitan untuk menghadapi kemungkinan KLB. Upaya pencegahan dilakukan melalui perbaikan faktor risiko, penanggulangan penyakit dari sumber penularan, pemutusan mata rantai penularan penyakit, peningkatan kerentanan sekelompok masyarakat berdasar ciri epidemiologi serta memperkuat sistem pelayanan kesehatan. Sistem Pendukung Keputusan dibangun dengan menerapkan metode CBR (Case Based Reasoning) untuk menghasilkan peringatan dan rekomendasi tindakan pencegahan terhadap KLB, dimana metode ini mengkalkulasikan solusi terhadap kasus-kasus yang telah terjadi dengan mengukur tingkat kemiripan dengan kasus yang sedang terjadi. Konsep dari metode cased based reasoning ditemukan dari ide untuk menggunakan pengalaman-pengalaman yang terdokumentasi untuk menemukan solusi terhadap masalah yang sedang terjadi. Dalam pelaksanaannya terdapat empat langkah proses pada metode CBR, antara lain : retrieve, reuse, revise dan retain. Sistem dapat menyediakan peringatan dini pada daerah kabupaten dengan menggambarkan karakteristik KLB penyakit berdasarkan kriteria variabel waktu, tempat dan orang.
Analisis temporal efek cuaca terhadap leptospirosis di kabupaten Bantul, Yogyakarta tahun 2010-2018 Nur Lathifah Syakbanah; Anis Fuad; Hari Kusnanto
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (889.29 KB) | DOI: 10.22146/bkm.45186

Abstract

Tujuan: Menganalisis efek suhu udara, kelembapan udara dan curah hujan terhadap kejadian leptospirosis secara temporal di Kabupaten Bantul tahun 2010-2018. Metode: Desain penelitian menggunakan studi ekologi berbasis time-series, antara faktor cuaca (suhu udara, kelembapan udara dan curah hujan) dari stasiun cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY dan kejadian bulanan leptospirosis di Kabupaten Bantul selama periode 9 tahun, 2010-2018. Pearson’s correlation dan time-lag correlation dilakukan dengan STATA 13 guna mengamati asosiasi secara temporal, selanjutnya disajikan dalam grafik time-series dengan Microsoft Excel. Hasil: Karakteristik cuaca di Kabupaten Bantul untuk suhu udara, kelembapan udara, dan curah hujan masing-masing sebesar 27.2°C, 84%, dan 171 mm. Kejadian leptospirosis selama 2010-2018 sejumlah 779 kasus, tertinggi 120 kasus di bulan Mei dan 154 kasus pada tahun 2011. Suhu udara 3 bulan sebelumya (lag 3) berhubungan positif dan lemah terhadap kejadian leptospirosis (r=0.2493). Pola fluktuasi grafik time-series suhu udara tidak diikuti kejadian leptospirosis pada 2 tahun awal dan akhir periode. Kelembapan udara 1 bulan sebelumya (lag 1) berhubungan positif dan lemah terhadap kejadian leptospirosis (r=0.2921). Pola fluktuasi grafik time-series kelembapan udara tidak diikuti kejadian leptospirosis pada 2 tahun awal periode. Curah hujan 3 bulan sebelumya (lag 3) berhubungan positif dan sedang terhadap kejadian leptospirosis (r=0.5297). Pola fluktuasi grafik time-series curah hujan diikuti kejadian leptospirosis selama periode. Simpulan: Kejadian leptospirosis berhubungan dengan efek time-lag suhu udara, kelembapan udara dan curah hujan yang terjadi beberapa bulan sebelumnya. Diperlukan sistem kewaspadaan dini pemerintah dan masyarakat di daerah endemis menghadapi ancaman leptospirosis selama musim hujan.
Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan wisata alam DIY Muhammad Arbi Siregar
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.724 KB) | DOI: 10.22146/bkm.45188

Abstract

Tujuan: Merancang Desain SMK3 yang aplikatif di lingkup wisata alam DIYMetode: Analisis Konten terhadap 8 Jurnal ilmiah terbitan tahun 2014 – 2019 yang setidaknya memuat kata kunci tourism safety, rural tourism, dan tourism adventure.Hasil: Bagian terpenting dari keseluruhan desain SMK3 wisata alam adalah merancang suatu strategi yang bisa mengedukasi wisatawan tentang segala risiko potensial yang mungkin dihadapi, mengingat fakta bahwa sebagian besar wisatawan alam tidak menyadari potensi bahaya, tidak memiliki survival skill, tidak terlatih, sering kali abai dengan keselamatan dirinya dan dalam menerima informasi keselamatan. Strategi aplikatif dan solutif yang bisa diterapkan untuk mewujudkan SMK3 wisata alam yang integratif, komprehensif dan berkesinambungan yaitu :Pendirian Sentra K3 Wisata Terpadu di setiap tempat wisata rural – wisata alam di DIY.Merancang analisis risiko menggunakan pendekatan dan perspektif tempat dan wisatawan dengan memperhatikan pengalaman sosial dan sikap serta perilaku yaitu menggunakan Teori planned behavior (TPB) untuk melihat perspektif dan merancang desain intervensi manajemen risiko yang sesuai.Penggunaan Geographic Information System – GIS dan integrasinya dengan SMK3 wisata alam mengingat GIS dapat memberikan informasi spasial untuk mendukung dalam membuat keputusan dan perencanaan serta desain SMK3 termasuk keamanan dan kesehatan makanan bagi wisatawan dan lain sebagainya untuk keberlanjutan sistem wisata yang terintegrasiSafety communication berupa safety sign yang merupakan komunikasi searah8. Agar efektif, safety sign harus memenuhi kaidah memperingatkan, mudah dimengerti, komprehensif, dan kesesuaian.Kolaborasi elemen pemerintahan yaitu PEMPROV, PEMKAB, BPBD, DINAS PARIWISATA, PUSKESMAS, MUI serta UNIVERSITAS ke dalam sentra K3 Wisata Terpadu untuk melaksanakan fungsi SMK3 wisata alam sangat berpeluang untuk di terapkan di DIY mengingat bahwa DIY sendiri merupakan daerah rawan bencana yang sebenarnya elemen pemerintahan sudah berkolaborasi dengan sendirinya ketika ada titik kerawanan bencana terdeteksi. Provinsi DIY sangat berhasil dalam memberdayakan masyarakat dalam mengembangkan potensi wisata baru. DIY juga dikenal dengan sebutan provinsi sejuta relawan karena sangat mudah untuk menggerakkan relawan di DIY sehingga integrasi pemberdayaan masyarakat dan pemberdayaan relawan adalah sangat berpeluang diterapkan untuk mendukung penerapan SMK3 wisata alam.BPBD, MUI, PUSKESMAS dan DINAS PARIWISATA dapat berperan dalam desain aplikasi GIS dan integrasinya dengan Food Halal dan Food safety. Rancang desain Analisis Risiko dengan pendekatan TPB dan safety communication berupa safety sign dapat diperankan  oleh UNIVERSITAS dan BPBD sekaligus sebagai fungsi integrasi pemberdayaan masyarakat dan relawan. Dan sebagai pelaksana di lapangan adalah masyarakat dan relawan yang terlatih, teredukasi dan terintegrasi dengan elemen pemerintahan. Sistem pemberdayaan masyarakat melalui pariwisata semakin sempurna dengan mengintegrasikan SMK3 wisata melalui pemberdayaan relawan dan pengintegrasian fungsinya dengan segenap elemen pemerintahan. Sehingga strategi akhirnya adalah mengedukasi wisatawan tentang segala risiko potensial yang mungkin dihadapi serta peningkatan kesadaran tentang safety behavior dapat menjadi safety culture bagi wisatawan alam dapat terwujud dengan partisipasi aktif dari pemberdayaan relawan dan masyarakat sebagai ujung tombak.Terakhir, fungsi kebijakan, anggaran, dan pengawasan sangat penting sebagai penopang keberlangsungan dan kesinambungan sistem manajemen wisata rural – wisata alam di DIY. Peran dan partisipasi aktif DINAS PARIWISATA, PEMPROV dan PEMKAB sangat penting di awal integrasi SMK3 wisata ke dalam manajemen wisata alam di DIY yang mengandalkan pemberdayaan masyarakat.Kesimpulan: Aplikasi Praktis SMK3 Wisata Alam DIY :(a) Sentra K3 Wisata Terpadu di setiap tempat wisata alam (b) Desain SMK3 dari perspektif tempat dan wisatawan dengan menggunakan pendekatan TPB (c) GIS system dan food safety (d) Safety Communication : Safety Sign.
Tantangan dalam pengelolaan regulasi kawasan bebas rokok di area sekolah SMA di kecamatan Kahu Sulawesi Selatan Arfiah Jauharuddin
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.45192

Abstract

Tujuan : Fenomena perilaku merokok pada remaja sekarang semakin mengkhawatirkan dan telah menjadi tren dan bukan hal yang baru di antara siswa SMP dan SMA, bahkan beberapa siswa sekolah dasar juga sudah menunjukkan perilaku merokok. Perilaku merokok dalam kehidupan sehari-hari seringkali ditemui dimana-mana, baik instansi pemerintahan, tempat umum maupun tempat pendidikan yaitu sekolahan. Adapula remaja yang merokok di sekolahan mereka baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, seperti halnya mereka merokok di kantin ataupun di mushola sekolah.Berbagai pengaruh rokok terhadap kesehatan manusia, antara lain: menyebabkan penyakit jantung koroner, trombosis koroner, kanker, bronkitis atau radang cabang tenggorok, dan kematian pada janin. Selain itu efek lain bagi kesehatan yang ditimbulkan karena merokok antara lain: wajah keriput, gigi berbercak dan nafas bau, lingkungan menjadi bau. Salah satu kandungan rokok yaitu nikotin juga memiliki efek pada otak antara lain menyebabkan ketergantungan dan toksisitas pada fungsi kognitif yang dapat mempengaruhi penurunan fungsi kognitif akan berdampak pada proses pembelajaran dan perolehan nilai akhir. Penelitian ini bertujuan ntuk mengurangi/menurunkan jumlah penggunaan rokok pada siswa. Metode : Kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia masih menimbulkan perdebatan yang panjang, mulai dari hak asasi seorang perokok, fatwa haram merokok di tempat umum sampai dengan dampak anti rokok terhadap perekonomian dan tenaga kerja di Indonesia. Besarnya devisa yang diberikan oleh perusahaan rokok dan perdebatan panjang tersebut membuat pemerintah Indonesia masih menunda menandatangani dan meratifikasi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Padahal hasil kajian di beberapa negara menunjukkan bahwa kebijakan merupakan cara yang efektif untuk mengendalikan tembakau atau lebih khusus lagi untuk mengurangi kebiasaan merokok.Hasil : Regulasi dan kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia masih sangat minimal karena nilai ekonomi tembakau. Meskipun merokok sudah tidak diperbolehkan di kantor pemerintah, fasilitas kesehatan dan sekolah, regulasi pengendalian tembakau belum dilaksanakan sepenuhnya, terutama di sekolah. Perdebatan panjang terhadap perlunya kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia sebetulnya tidak perlu terjadi mengingat dampak kesehatan yang diakibatkan penggunaan tembakau atau kebiasaan merokok. Kesimpulan : Implementasi kawasan tanpa rokok adalah salah satu upaya dalam melindungi mereka yang tidak merokok tetapi terkena paparan asap rokok atau perokok pasif. Rekomendasi : (1) Seluruh guru terutama kepala sekolah aktif turut serta dalam mengawasi siswa termasuk melakukan penggeledahan atau pemeriksaan larangan membawa rokok sebelum masuk pada area sekolah. (2) Kepala sekolah harus dengan tegas melarang merokok bagi siswa di kantin sekolah dan diawasi oleh penjaga kantin (3) Mengeluarkan peraturan dengan memberi peringatan kepada pemilik warung yang berada di pinggiran sekolah yaitu tidak diizinkan menjual rokok kepada siswa apabila masih ingin berjualan di sekitar sekolah. (4) Guru-guru harus memberikan contoh ikut menaati peraturan dengan cara ikut tidak merokok di area sekolah atau paling tidak, pada daerah yang dapat terlihat oleh siswa.(5) Kepala sekolah membuat program dengan rutin melakukan pemutaran video setelah upacara bendera tentang bahaya atau efek negatif merokok yang harus ditonton oleh semua siswa. (6)Menyediakan boneka khusus bagian paru-paru (boneka anatomi manusia) di laboratorium sekolah untuk diperlihatkan pada siswa simulasi bahaya terpaparnya asap rokok terhadap kesehatan terutama bagi paru-paru dan dilakukan setiap 1x seminggu. (7) Melakukan pendekatan kepada orang tua pada saat rapat orang tua murid dengan mengingatkan mereka, jika tidak ingin anak mereka menjadi perokok selamanya, maka berilah contoh dengan tidak merokok di rumah, karena zat nikotin pada rokok juga dapat berpengaruh pada prestasi belajar siswa.
Kebutuhan dan tantangan akses jaminan kesehatan bagi penyandang tuna netra di Indonesia Khaerani Arista Dewi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.412 KB) | DOI: 10.22146/bkm.45193

Abstract

Tujuan: Diskriminasi pada masyarakat tuna netra terjadi di beberapa sektor. Salah satunya pada akses jaminan kesehatan. Jaminan kesehatan belum bisa menyeluruh didapat kaum tuna netra. Penelitian ini mengeksplorasi kebutuhan dan tantangan akses kesehatan bagi tuna netra di IndonesiaIsi : Penelitian dilakukan dengan melakukan review 10 jurnal atau artikel di Indonesia dan di beberapa negara mengenai akses jaminan kesehatan pada tuna netra. Lesson learned: Penyandang tunanetra mengalami tantangan mengakses jaminan kesehatan. Hambatan yang disoroti adalah ketidaktahuan mengenai ketersediaan jaminan kesehatan, administrasi yang rumit, biaya, transportasi, dan lain sebagainya. Dibutuhkan kerjasama pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat agar hak para penyandang tuna netra terpenuhi.
PISPK berbasis KKN: potensi program integrasi untuk menjangkau masyarakat kelompok rentan Alhaynurika Nevyla Putri
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.389 KB) | DOI: 10.22146/bkm.45194

Abstract

Tujuan: Menggambarkan potensi integrasi Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PISPK) dengan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai upaya penjangkauan masyarakat kelompok rentan.Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PISPK) dilaksanakan oleh Puskesmas dengan mendatangi rumah-rumah penduduk guna memberikan layanan kesehatan di luar gedung. Tenaga kesehatan di Puskesmas merupakan aktor utama dalam pelaksanaan PISPK, namun kuantitas dan kualitas SDM yang ada banyak dilaporkan sebagai salah satu hambatan. Sembari mendapat pekerjaan untuk kunjungan rumah, upaya kesehatan lain yang telah dilakukan sejak awal juga tetap menjadi beban kerja yang perlu diselesaikan, sehingga waktu dan tenaga pelaksana PISPK menjadi terbatas. Selain itu, menjangkau seluruh rumah di wilayah kerja Puskesmas dengan berbagai hambatan geografis dan jumlah tenaga pelaksana yang ada juga sulit dilakukan.Di sisi lain, program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan secara berkala di daerah 3T atau daerah yang membutuhkan oleh beberapa perguruan tinggi, memiliki potensi integrasi dengan PISPK. Kedatangan mahasiswa ke daerah dapat berperan sebagai pelaksana PISPK. Dalam melakukan pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa KKN akan banyak berinteraksi langsung dengan warga sekitar. Keterlibatan mahasiswa di masyarakat dapat meningkatkan akses layanan kesehatan primer pada kelompok masyarakat dengan situasi rentan. Persebaran lokasi KKN di seluruh Indonesia menumbuhkan potensi horizontal scaling up. Pelaksanaan KKN di lokasi yang sama untuk beberapa periode mendukung potensi keberlanjutan program. Dengan demikian, PISPK berbasis KKN perlu dipertimbangkan sebagai upaya peningkatan kesehatan dengan pendekatan keluarga, terutama dengan situasi rentan.

Page 90 of 153 | Total Record : 1528


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 02 (2026) Vol 42 No 01 (2026) Vol 41 No 12 (2025) Vol 41 No 11 (2025) Vol 41 No 10 (2025) Vol 41 No 09 (2025) Vol 41 No 08 (2025) Vol 41 No 07 (2025) Vol 41 No 06 (2025) Vol 41 No 05 (2025) Vol 41 No 04 (2025) Vol 41 No 03 (2025) Vol 41 No 02 (2025) Vol 41 No 01 (2025) Vol 40 No 12 (2024) Vol 40 No 11 (2024) Vol 40 No 10 (2024) Vol 40 No 09 (2024) Vol 40 No 08 (2024) Vol 40 No 07 (2024) Vol 40 No 06 (2024) Vol 40 No 05 (2024) Vol 40 No 04 (2024) Vol 40 No 03 (2024) Vol 40 No 02 (2024) Vol 40 No 01 (2024) The 12th UGM Public Health Symposium Vol 39 No 12 (2023) Vol 39 No 11 (2023) Vol 39 No 10 (2023) Vol 39 No 09 (2023) Vol 39 No 08 (2023) Vol 39 No 07 (2023) Vol 39 No 06 (2023) Vol 39 No 05 (2023) Vol 39 No 04 (2023) Vol 39 No 03 (2023) Vol 39 No 02 (2023) Vol 39 No 01 (2023) Vol 38 No 12 (2022) Vol 38 No 11 (2022) Vol 38 No 10 (2022) Vol 38 No 09 (2022) Vol 38 No 08 (2022) Vol 38 No 07 (2022) Vol 38 No 06 (2022) Vol 38 No 05 (2022) Vol 38 No 04 (2022) Vol 38 No 03 (2022) Vol 38 No 02 (2022) Vol 38 No 01 (2022) Vol 37 No 12 (2021) Vol 37 No 11 (2021) Vol 37 No 10 (2021) Vol 37 No 09 (2021) Vol 37 No 08 (2021) Vol 37 No 07 (2021) Vol 37 No 06 (2021) Vol 37 No 05 (2021) Vol 37 No 04 (2021) Vol 37 No 03 (2021) Vol 37 No 02 (2021) Vol 37, No 1 (2021) PHS8 Accepted Abstracts PHS7 Accepted Abstracts Vol 36, No 12 (2020) Vol 36, No 11 (2020) Vol 36, No 10 (2020) Vol 36, No 9 (2020) Vol 36, No 8 (2020) Vol 36, No 7 (2020) Vol 36, No 6 (2020) Vol 36, No 5 (2020) Vol 36, No 4 (2020) Vol 36, No 3 (2020) Vol 36, No 2 (2020) Vol 36, No 1 (2020) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium Vol 35, No 11 (2019) Vol 35, No 10 (2019) Vol 35, No 9 (2019) Vol 35, No 8 (2019) Vol 35, No 7 (2019) Vol 35, No 6 (2019) Vol 35, No 5 (2019) Vol 35, No 4 (2019) Vol 35, No 3 (2019) Vol 35, No 2 (2019) Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) More Issue