cover
Contact Name
Akhmad Mahbubi
Contact Email
akhmad.mahbubi@uinjkt.ac.id
Phone
+628567081343
Journal Mail Official
shagribisnis.journal@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Jakarta, Jl. Lkr. Kampus UIN, Cemp. Putih, Kec. Ciputat Tim., Kota Tangerang Selatan, Banten 15412
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Sharia Agribusiness Journal
ISSN : 27982300     EISSN : 27982068     DOI : 10.15408/saj
Sharia Agribusiness Journal is an academic journal published by Department of Agribusiness, Faculty of Science and Technology, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. This scientific periodical focused on agribusiness studies particularly with Islamic perspective published twice a year (May and November). Sharia Agribusiness Journal specializes on agricultural management, economic, technology, social including sharia perspective such as halal food and empowerment by Islamic institution (Masjid and Pesantren).
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2023)" : 5 Documents clear
Strategi Pengembangan Kacang Hijau Kabupaten Demak Jawa Tengah Sri Suhartini; Iwan Aminudin; Elpawati Elpawati
Sharia Agribusiness Journal Vol 3, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/saj.v3i1.32888

Abstract

The main production centre for mung beans in Indonesia is Demak Regency. Mung bean in Demak Regency is a plant grown in paddy fields with the methuk system before the rice harvest by spreading the seeds. Mung bean planting is carried out from the end of May, and mung bean production starts from August to November. Mung beans have been planted, used for food and beverage needs, and exported to Asian countries since 2015. Statistical data for 2012-2021 shows an increase in the harvested area of 4.32% and production of 4.88%, but productivity has decreased by 2.30%. This decrease indicates that the development of green beans is not going well. This research was conducted to analyse green bean development strategies and formulate appropriate procedures for implementation in Demak Regency. The IFE and EFE matrices obtained values of 2.612 and 2.958, resulting in an Automatic meeting point in cell V. Based on the SWOT Matrix, the strategy for developing green bean agribusiness in Demak Regency is a hold and maintain or stabilization strategy. QSPM shows that the right approach is to increase the quality of mung beans by increasing the skills of farming actors and using the latest agricultural machinery (Strategy 3). Utilizing the potential of the land in collaboration between Stakeholders for production in other seasons (Strageti 4). Application of cultivation according to technology recommendations by using technology and information to increase production (Strategy 1). Carry out routine maintenance of normalization of irrigation canals to reduce sediment build-up (Strategy 2) Keywords: Mung Bean, IE, SWOT, QSPM AbstrakSentra produksi utama kacang hijau di Indonesia adalah Kabupaten Demak. Kacang hijau di Kabupaten Demak merupakan tanaman yang ditanam di persawahan dengan sistem methuk sebelum panen padi dengan menyebarkan bijinya. Penanaman kacang hijau dilakukan mulai akhir Mei, dan produksi kacang hijau dimulai pada Agustus hingga November. Kacang hijau telah ditanam, dimanfaatkan untuk kebutuhan makanan dan minuman, serta diekspor ke negara-negara Asia sejak tahun 2015. Data statistik tahun 2012-2021 menunjukkan peningkatan luas panen sebesar 4,32% dan produksi sebesar 4,88%, namun produktivitas mengalami penurunan sebesar 2,30% . Penurunan ini menandakan bahwa perkembangan kacang hijau tidak berjalan dengan baik. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis strategi pengembangan kacang hijau dan merumuskan prosedur pelaksanaan yang tepat di Kabupaten Demak. Matriks IFE dan EFE diperoleh nilai 2,612 dan 2,958, sehingga terdapat titik temu otomatis pada sel V. Berdasarkan Matriks SWOT, strategi pengembangan agribisnis kacang hijau di Kabupaten Demak adalah strategi hold and maintain atau pemantapan. QSPM menunjukkan bahwa pendekatan yang tepat adalah meningkatkan kualitas kacang hijau dengan meningkatkan keterampilan pelaku pertanian dan menggunakan mesin pertanian terkini (Strategi 3). Memanfaatkan potensi lahan hasil kerjasama antar Stakeholder untuk produksi pada musim lainnya (Strageti 4). Penerapan budidaya sesuai anjuran teknologi dengan memanfaatkan teknologi dan informasi untuk meningkatkan produksi (Strategi 1). Melaksanakan pemeliharaan rutin normalisasi saluran irigasi untuk mengurangi penumpukan sedimen (Strategi 2) Kata Kunci : Kacang Hijau; IE; SWOT; QSPM
Strategi Pengembangan BUMDes Insan Barokah di Desa Ellak Laok Nur Winda Dewi Agustina; Isdiana Suprapti
Sharia Agribusiness Journal Vol 3, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/saj.v3i1.32695

Abstract

BUMDes Insan Barokah has several village potentials that are quite likely to be developed into profitable business units. However, the village's potential has not been utilized optimally due to the limited ability of BUMDes administrators and several other problems. The purpose of this study is to determine internal and external factors in BUMDes Insan Barokah, formulate alternative BUMDes Insan Barokah development strategies, and find out the priority development strategies for BUMDes Insan Barokah. The analytical methods used are IFE and EFE matrix, IE matrix, SWOT matrix, and QSPM analysis. The results showed that there were 12 internal factors and 11 external factors from BUMDes Insan Barokah. Based on the results of the IE matrix, the strategic position of BUMDes Insan Barokah is in quadrant V (defensive strategy). Then there are 10 alternative strategies resulting from the SWOT matrix analysis. Based on the QSPM analysis, the strategy that is the top priority is the WO1 strategy (Improving BUMDes business management and human resource performance to improve village potential management). Therefore, there is a need for awareness and commitment from BUMDes management Insan Barokah to really improve BUMDes management.Keywords: BUMDes; Strategy management; SWOT; QSPMAbstrak:BUMDes Insan Barokah memiliki beberapa potensi desa yang cukup berpeluang untuk dikembangkan menjadi unit usaha yang menguntungkan. Namun, potensi desa tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan kemampuan pengurus BUMDes dan beberapa permasalahan lainnya. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor internal dan eksternal pada BUMDes Insan Barokah, merumuskan alternatif strategi pengembangan BUMDes Insan Barokah, dan mengetahui prioritas strategi pengembangan BUMDes Insan Barokah. Metode analisis yang digunakan yaitu matriks IFE dan EFE, matriks IE, matriks SWOT, dan analisis QSPM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 12 faktor internal dan 11 faktor eksternal dari BUMDes Insan Barokah. Posisi strategi dari BUMDes Insan Barokah berdasarkan hasil matriks IE yaitu berada pada kuadran V (strategi bertahan). Kemudian terdapat 10 alternatif strategi yang dihasilkan dari analisis matriks SWOT. Berdasarkan analisis QSPM, strategi yang menjadi prioritas utama yaitu strategi WO1 (Memperbaiki manajemen usaha dan kinerja sumber daya manusia BUMDes untuk meningkatkan pengelolaan potensi desa). Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran dan komitmen dari pengurus BUMDes Insan Barokah untuk benar-benar memperbaiki manajemen BUMDes.Kata Kunci: BUMDes, Manajemen strategi, SWOT, QSPM
Pengendalian Kualitas Produksi Tahu Segitiga Goreng di UMKM Raf Kota Serang Zulfa Fitriana; Eny Dwiningsih; Agustina Senjayani
Sharia Agribusiness Journal Vol 3, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/saj.v3i1.33233

Abstract

AbstractQuality of product is one of the primary factors determined business succesfulness, yet it still become a major challenge for Food Small Medium Entreprises (SMEs) to address. UMKM Raf is one of the food SMEs  produces fried triangular tofu and has plans to develop its business in order to reach a wider market segmentation through product quality improvement. With a product defect rate of 16.4 percent which is above the company's tolerance value for defective products of 5% it indicates that the quality and consistency of tofu quality control in UMKM Raf has not been achieved. This research are aimed  to study the quality control of fried tofu production; to identify the defect in fried tofu product wether it is controllable or not; to identify the major/ dominant defect in fried tofu product; to analysis factors caused the defect and propose recommendation for improvement in RAF, a prominent fried tofu manufacturer, a food SME in Serang Regency. Data collected through observation on product, process and field, checksheet forms filling, and interviews, deployed using Statistical Quality Control (SQC) approach. The population in this study is fried tofu triangle, which is 215,040 pieces with a multistage cluster random sampling. The results showed that the control of product quality was in an uncontrolled state with the values of UCL, CL and LCL respectively 0.3658; 0.1756 and 0 are out of control because there are 2 points that are above the UCL value, namely at the 8th and 27th points. The dominant type of defect is the size is not suitable and the tofu gembos has a cumulative percentage value of 51.3% and 74.0%, respectively, with the factors causing the defect are raw materials, labor, methods, machinery and the environment.Keywords : Quality Control; SQC; Control Chart p; Pareto Chart Kualitas produk merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan usaha, namun masih menjadi tantangan utama bagi Usaha Kecil Menengah (UKM) Pangan. UMKM Raf merupakan salah satu UKM makanan yang memproduksi tahu segitiga goreng dan berencana untuk mengembangkan usahanya guna menjangkau segmentasi pasar yang lebih luas melalui peningkatan kualitas produk. Dengan tingkat kecacatan produk sebesar 16,4 persen yang berada di atas nilai toleransi perusahaan untuk produk cacat sebesar 5% menandakan kualitas dan konsistensi pengendalian mutu tahu di UMKM Raf belum tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengendalian mutu produksi tahu goreng; mengidentifikasi cacat pada produk tahu goreng apakah masih dapat dikontrol atau tidak; mengidentifikasi cacat utama/dominan pada produk tahu goreng; menganalisis faktor-faktor penyebab cacat dan mengusulkan rekomendasi perbaikan di RAF, produsen tahu goreng terkemuka, sebuah UKM makanan di Kabupaten Serang. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi produk, proses dan lapangan, pengisian formulir checksheet, dan wawancara, yang disebar dengan pendekatan Statistical Quality Control (SQC). Populasi dalam penelitian ini adalah tahu goreng segitiga sebanyak 215.040 buah dengan multistage cluster random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian mutu produk dalam keadaan tidak terkendali dengan nilai UCL, CL dan LCL masing-masing 0,3658; 0,1756 dan 0 tidak terkendali karena ada 2 titik yang berada di atas nilai UCL yaitu pada titik ke-8 dan ke-27. Jenis cacat yang dominan adalah ukuran tidak sesuai dan tahu gembo memiliki nilai persentase kumulatif masing-masing sebesar 51,3% dan 74,0%, dengan faktor penyebab cacat adalah bahan baku, tenaga kerja, metode, mesin dan lingkungan. Kata kunci : Quality Control; SQC; Peta Kendali p; Bagan Pareto
Daya Saing dan Trend Ekspor Teripang Indonesia P., Rahma Ayunda
Sharia Agribusiness Journal Vol 3, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/saj.v3i1.33116

Abstract

Indonesian waters as a country that has large areas of coral reefs, so that Indonesia has a variety of marine products, one of which has high economic value, namely sea cucumbers. Production of sea cucumbers in Indonesia continues to increase but only relies on marine catches causing unstable sea cucumber production. The stipulation of COP 18 CITES which regulates the protection, preservation and utilization of several types of sea cucumbers whose circulation is restricted based on volume. One of them is the black milk sea cucumber (Holothuria whitmaei) which can be found in Indonesian waters.This study analyzes the export competitiveness of sea cucumbers to the main destination countries, namely China, Hong Kong, South Korea, and Singapore and analyzes the export trend of Indonesian sea cucumbers for forecasting the next 10 years. The scope of research includes sea cucumbers with HS code 160561. The methods used are RCA, EPD and linear trend.The results of research using the RCA method in China have an average value of 1.27 which has a comparative advantage and Hong Kong, South Korea and Singapore do not have a comparative advantage. The EPD method shows that Indonesian sea cucumbers are in the Falling Star position in the four main destination countries. In the linear trend analysis, the export value of Indonesian sea cucumbers has increased (positive) and the export value of Indonesian sea cucumbers is predicted to continue to increase. The trend value is positive and indicates a positive development cycle movement which means that Indonesia's sea cucumber exports still have the opportunity to increase for the next ten years.AbstrakPerairan Indonesia memiliki wilayah terumbu karang yang luas, sehingga Indonesia memiliki keanekaragaman hasil laut, salah satunya yang memiliki nilai ekonomi tinggi yaitu teripang. Produksi teripang di Indonesia terus meningkat namun hanya mengandalkan hasil tangkap laut menyebabkan produksi teripang tidak stabil. Ditetapkannya COP 18 CITES yang mengatur perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan beberapa jenis teripang tangkap laut dibatasi peredarannya berdasarkan volume. Salah satunya terdapat teripang susu hitam (Holothuria whitmaei) yang dapat ditemukan di perairan Indonesia .Penelitian ini menganalisis daya saing ekspor teripang ke negara tujuan utama yaitu China, Hongkong, Korea Selatan, dan Singapura serta menganalisis trend ekspor teripang Indonesia untuk peramalan 10 tahun kedepan. Ruang lingkup penelitian mencakup teripang dengan kode HS 160561. Metode yang digunakan adalah RCA, EPD dan trend linier.Hasil penelitian dengan metode RCA pada negara China nilai rata-rata 1,27 memiliki keunggulan komparatif dan pada Hongkong, Korea Selatan, dan Singapura tidak memiliki keunggulan komparatif. Metode EPD menunjukan teripang Indonesia terdapat pada posisi Falling Star pada ke empat negara tujuan utama. Pada analisis trend linier nilai ekspor teripang Indonesia meningkat (positif) dan nilai ekspor teripang Indonesia diramalkan akan terus meningkat. Nilai trend yang positif dan menunjukkan pergerakan siklus perkembangan yang positif yang berarti ekspor teripang Indonesia masih berpeluang meningkat untuk sepuluh tahun kedepan. 
Analisis Tataniaga Ubi Kayu (Studi Kasus: Gapoktan Mandiri Jaya, Desa Cikarawang) Yuli Wiyanti; Junaidi Junaidi; Titik Inayah
Sharia Agribusiness Journal Vol 3, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/saj.v3i1.32889

Abstract

 Abstract Cassava commodity is placed as one of the main food crop commodities that needs to be continuously developed. Cikarawang village in Bogor is one of the cassava production centers. However, there are problems related to fluctuating selling prices, disproportionate selling prices with increases in input prices, and high margins in the cassava trade system that must be faced by cassava farmers there, especially Gapoktan Mandiri Jaya. These problems are the implications of the length of the commerce channel and the many commerce institutions involved. From these problems, this study aims to determine the variations in the commerce formed and determine the efficient cassava trading channel in Gapoktan Mandiri Jaya by using the analysis of commerce margin, farmer's share, and profit to cost ratio. This research was conducted by taking samples from cassava farmers in Gapoktan Mandiri Jaya and using other data taken from supporting stakeholders, namely traders, collectors, wholesalers, and retailers. The results of this study indicate that the trading institutions involved are farmers, collectors I, traders collectors II, wholesalers, retailers, and consumers (households and industries). These institutions formed 6 variations of the cassava commerce. The most efficient commerce channel is the 5th commerce consisting of farmers, collector I (village), retailers, and end consumers with the smallest margin of Rp. 2,250 and the highest profit and cost ratio of 4.79. Keywords: Commerce; cassava; efficiency AbstrakKomoditas ubi kayu ditempatkan sebagai salah satu komoditas utama tanaman pangan yang perlu terus dikembangkan. Desa Cikarawang di Bogor menjadi salah satu sentra produksi ubi kayu. Namun, terdapat permasalahan terkait harga jual yang fluktuatif, tidak sebandingnya harga jual dengan kenaikan harga input, dan tingginya marjin tataniaga ubi kayu yang harus dihadapi petani ubi kayu di sana, khusunya Gapoktan Mandiri Jaya. Permasalahan-permasalahan tersebut adalah implikasi dari panjangnya saluran tataniaga dan banyaknya lembaga tataniaga yang terlibat. Dari permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi saluran tataniaga yang terbentuk dan menentukan saluran tataniaga ubi kayu yang efisien di Gapoktan Mandiri Jaya dengan menggunakan analisis margin tataniaga, farmer’s Share, dan rasio keuntungan terhadap biaya. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sample dari petani ubi kayu di Gapoktan Mandiri Jaya dan menggunakan data-data lain yang diambil dari stakeholder pendukung yaitu pedagang, pengumpul, grosir, dan pengecer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lembaga tataniaga yang terlibat adalah petani, pedagang pengumpul I, pedagang pengumpul II, pedagang grosir, pedagang pengecer, dan konsumen (rumah tangga dan industri). Lembaga-lembaga tersebut membentuk 6 variasi saluran tataniaga ubi kayu. Saluran tataniaga yang paling efisien adalah saluran tataniaga ke-5 yang terdiri dari petani, pedangang pengumpul I (desa), pedagang pengecer, dan konsumen akhir dengan marjin terkecil yaitu, Rp2.250 dan rasio keuntungan dan biaya paling tinggi sebesar 4,79. Kata Kunci : tataniaga; ubi kayu; efisiensi 

Page 1 of 1 | Total Record : 5