cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsms@unisba.ac.id
Phone
+6282321980947
Journal Mail Official
bcsms@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series : Medical Science
ISSN : -     EISSN : 28282205     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsms.v2i2
Core Subject : Humanities, Health,
Bandung Conference Series: Medical Science (BCSMS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Kedokteran dengan ruang lingkup Age, ASI, BPJS Kesehatan, CGT, Dokter layanan primer, Fungsi diastolic, Gender, Hepatitis A dan B, Interval Anak Balita, ISPA, JKN, Nyeri leher, Origin, Paritas, Pasien, Denyut Nadi, Imunisasi, Perawat, Phlebitis, PHBS, pneumonia Abortus Spontan, Pola Menstruasi, rumah sakit Pendidikan, Sektor Informal Pengetahuan, Shift kerja malam, sindrom koroner akut, Status Gizi Mahasiswa kedokteran, status sosio ekonomi, Tekanan Darah, Tingkat Stres, Troponin T , Type of occupation, ventrikel kiri, dan Wanita Premenopause. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 494 Documents
Gambaran Karakteristik Pasien Covid-19 dengan Riwayat Penyakit Kardiovaskular di Sebuah Rumah Sakit di Provinsi Jawa Barat Mochammad Rachmat Deriansyah; Poernomo; Titik Respati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.7148

Abstract

Abstract. COVID-19 patients who have recovered can experience long COVID, one of the risk factors is comorbidities. Cardiovascular disease is one of the comorbidities of COVID-19. The NICE guidelines and the CDC define long COVID as individuals with symptoms of COVID-19 that persist for more than 4 weeks after first infection. This study aims to determine patient characteristics based on age and gender of COVID-19 patients with a history of cardiovascular disease who experience long-term events of COVID. This research is a descriptive observational study with a cross-sectional design. took place from March – November 2022. Patient data was taken based on medical records and the statistical analysis used was univariate. The results of this study showed that the majority of the 88 patients were mostly in the age range of 60-75 years (45.4%), female (51.1%), and duration of hospitalization <14 days (65.9%) . It can be concluded that the majority of COVID-19 patients are aged 60-75 years, female sex, and are hospitalized <14 days. Abstrak. Pasien COVID-19 yang sudah sembuh dapat mengalami long COVID, salah satu faktor resiko adalah komorbid. Penyakit kardiovaskular merupakan salah satu komorbid dari COVID-19. NICE guidelines beserta CDC mendefinisikan long COVID sebagai individu dengan gejala dari COVID-19 yang persisten lebih dari 4 minggu setelah pertama terinfeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien berdasarkan usia dan jenis kelamin dari pasien COVID-19 dengan riwayat penyakit kardiovaskuler yang mengalami kejadian long COVID. Penelitian ini adalah penelitian observasional secara deskriptif dengan rancangan cross-sectional. berlangsung dari Maret – November 2022. Data pasien diambil berdasarkan rekam medis dan analisis statistik yang digunakan adalah univariat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas dari 88 pasien, paling banyak berada di rentang usia 60-75 tahun (45,4%), jenis kelamin perempuan (51,1%), dan durasi rawat inap <14 hari (65,9%). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas pasien COVID-19 berusia 60-75 tahun, jenis kelamin perempuan, dan dirawat <14 hari.
Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Ibu, Anemia Saat Kehamilan, Dan Berat Bayi Lahir Rendah Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita Di Puskesmas Selaawi Tahun 2022 Muhammad Bushido Abdullah; Hidayat Widjajanegara; Zulmansyah
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5876

Abstract

Abstract. Stunting is a condition of developmental and growth disorders in infants over 2 years old caused by chronic malnutrition which can result in children's height being too short for their age. The prevalence of stunting in Garut district reaches 35.2%. Stunting risk factors are divided into extrinsic factors and intrinsic factors. The purpose of this study was to determine the relationship between the education level of the mother, anemia during pregnancy, and low birth weight with the incidence of stunting in toddlers at the Selaawi Health Center in 2022. The subjects of this study were toddlers 2-5 years old who had a MCH cohort, with a sample size of 140 using this technique. probability sampling. The research methodology is analytic observational with a retrospective approach. Statistical test using Fisher's exact test. The results show that stunting toddlers come from mothers with higher education 24.3% and from mothers with low education 75.7%. Toddlers who are not stunted come from mothers with a high education level of 37.1% and come from mothers with a low education level of 62.9%. Stunted toddlers come from mothers with a history of anemia during pregnancy 7.1%, and toddlers who are not stunted come from mothers with a history of anemia during pregnancy 2.9%. Stunted toddlers are toddlers with a history of LBW 10% and toddlers who are not stunted are toddlers with a history of LBW 2.9%. Statistical test results showed p> 0.05 for each independent variable tested. In conclusion, there is no relationship between maternal education level, anemia during pregnancy, and LBW with the incidence of stunting in toddlers at the Selaawi Health Center. Abstrak. Stunting merupakan keadaan gangguan perkembangan dan pertumbuhan pada bayi di atas 2 tahun yang disebabkan oleh kurang gizi kronis sehingga dapat mengakibatkan tinggi anak terlalu pendek berdasarkan usianya. Prevalensi stunting di kabupaten Garut mencapai 35,2%. Faktor risiko stunting terbagi menjadi faktor ekstrinsik dan faktor intrinsik. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan ibu, anemia saat kehamilan, dan berat bayi lahir rendah dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Selaawi tahun 2022. Subjek dari penelitian ini balita 2-5 tahun yang memiliki kohort KIA, dengan besar sampel 140 dengan teknik pengambilan sampel probability sampling. Metodologi penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan retrospective. Uji statistik menggunakan Fisher’s exact test. Hasil menunjukkan bahwa balita stunting berasal dari ibu dengan pendidikan tinggi 24,3% dan dari ibu dengan pendidikan rendah 75,7%. Balita tidak stunting berasal dari ibu dengan tingkat pendidikan tinggi 37,1% dan berasal dari ibu dengan pendidikan rendah 62,9%. Balita stunting berasal dari ibu dengan riwayat anemia saat kehamilan 7,1%, dan balita tidak stunting berasal dari ibu dengan riwayat anemia saat kehamillan 2,9%. Balita stunting merupakan balita dengan riwayat BBLR 10% dan balita tidak stunting merupakan balita dengan riwayat BBLR 2,9%. Hasil uji statistik menunjukkan p > 0,05 untuk setiap variabel bebas yang diuji. Simpulan, tidak terdapat hubungan tingkat pendidikan ibu, anemia saat kehamilan, dan BBLR dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Selaawi.
Pola Asuh Orang Tua Tidak Berhubungan dengan Tingkat Kecemasan pada Siswa SMPN Satu Atap Tukdana Indramayu Isyah; Mia Kusmiati; Elly Marliyani
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5972

Abstract

Abstract. Introduction: Anxiety disorders of adolescents in Indonesia have a prevalence of 65-78% with a percentage in West Java of around 6.5%. Adolescence is a period of transition, a time when individuals are looking for self-identity, and a period of troubled age. Middle school is the right time to represent early adolescence with an age range of 11-17 years. One of the causes of anxiety in adolescents is the authoritarian parenting style. The purpose of this study was to determine the relationship between parenting style and anxiety levels in junior high school students in Indramayu. Methods: This study was conducted in March-July, this study was an observational analytic study with a cross sectional design. The sample in this study used a total sampling of 41 grade 8 students at SMPN 1 TUKDANA ATAP. Measuring tools used are Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) and Parenteral Authority Questionnaire (PAQ) questionnaires. Data analysis used Chi Square test with p-value <0.005. Results: Research shows that parents with democratic parenting style are 61%, authoritarian parenting style is 39%. Most student respondents did not have anxiety, namely 34%, mild anxiety 29%, severe anxiety 22%, and moderate anxiety 14%. The results showed that there was no relationship between parenting style and anxiety level (p-value = 1.000). Discussion: This type of democratic parenting shows responsible attitudes and behavior, accepts criticism openly, is willing to accept, and has stable emotional control so it doesn't cause anxiety in adolescents. Anxiety in adolescents is caused by many factors, such as not being able to adjust to changes, economic problems, physical changes, etc. Abstrak. Pendahuluan: Gangguan kecemasan pada remaja di Indonesia memiliki prevalensi 65-78% dengan jumlah persentase di Jawa Barat sekitar 6,5%. Masa remaja merupakan masa transisi, masa saat individu mencari identitas diri, dan masa usia bermasalah. Masa SMP merupakan masa yang tepat untuk merepresentasikan dari masa remaja awal dengan kisaran usia 11-17 tahun. Salah satu penyebab kecemasan pada remaja adalah pola asuh orang tua dengan tipe otoriter. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua dengan tingkat kecemasan pada siswa sekolah menengah pertama di Indramayu. Metode: Penelitian ini dilakukan pada bulan maret-juli, penelitian ini merupakan analitik observasional dengan desain cross sectional. Sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling sebanyak 41 orang siswa kelas 8 SMPN 1 ATAP TUKDANA. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dan Parenteral Authority Questionnaire (PAQ). Analisis data menggunakan uji Chi Square dengan p-value <0,005. Hasil: Penelitian menunjukan bahwa orang tua dengan tipe pola asuh demokratis yaitu 61%, pola asuh otoriter 39%. Responden siswa terbanyak tidak memiliki kecemasan yaitu 34%, kecemasan ringan 29%, kecemasan berat 22%, dan kecemasan sedang 14%. Hasil penelitian menunjukan tidak terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan tingkat kecemasan (p-value= 1,000). Diskusi: Tipe pola asuh demokratis menunjukan sikap dan perilaku tanggung jawab, menerima kritikan secara terbuka, mau menerima, dan kontrol emosi yang stabil sehingga tidak menimbulkan kecemasan pada remaja. Kecemasan pada remaja disebabkan oleh banyaknya faktor, seperti tidak bisa menyesuaikan diri terhadap perubahan, masalah ekonomi, perubahan fisik, dll.
Durasi Screen-time pada Anak Usia Sekolah di Era Pandemi Covid-19 Andita Noveralioni; Miranti Kania Dewi; Lisa Adhia Garina
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5993

Abstract

Abstract. High screen-time duration can have an impact on decreasing children’s concentration and learning motivation. This study aims to determine the screen-time duration and sleep quality in school-age children during the COVID-19 pandemic. The method used is quantitative analysis with a crossosectional research design. Subjects totaling 210 students at SD Bandung Islamic School, were selected using a total sampling technique. Data collection was taken through primary data using the screen-time duration questionnaire. The result showed that most of the respondents who had a long screen-time duration were 124 children (59.0%). This can be caused by changes in government policies such as social distancing, working from home, and closing schools, causing students to study virtually through electronic media screens. Abstrak. Durasi screen-time yang tinggi dapat berdampak pada menurunnya konsentrasi dan motivasi belajar anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui durasi screen-time pada anak usia sekolah selama pandemi COVID-19. Metode yang digunakan adalah analisis kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Subjek berjumlah 210 siswa di SD Bandung Islamic School, dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data diambil melalui data primer menggunakan kuesioner durasi screen-time. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden yang memiliki durasi screen-time lama sebanyak 124 orang (59,0%). Hal ini dapat disebabkan oleh perubahan kebijakan pemerintah seperti social distancing, work from home, dan penutupan sekolah sehingga menyebabkan pelajar perlu belajar secara virtual melalui layar media elektronik.
Gambaran Karakteristik Pterygium pada Pasien di RSUD Al Ihsan pada Tahun 2016 – 2021 Lyvia Asyara Syaaf; Caecielia; mayarani
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6013

Abstract

Abstract. Pterygium is an overgrowth of fibrovascular tissue of the nasal conjunctiva. The p revalence in the world is 10.2%. The aim of the study was to describe the characteristics of pterygium in patients at Al Ihsan Hospital in 2016-2021. This research was a descriptive observational study using medical records. The research subjects were selected by purposive sampling supporting 959 people. The results of 40-year-old pterygium sufferers 40-50 years, namely 243(25.3%), women, namely 713(74.4%), housewives, namely 593(61.8%), in rural areas, namely 937(97.7%), not attending school, namely 364 ( 37.9%), had no family history, namely 861(89.8%), did not smoke, namely 627(65.4%), comorbid hypertension, namely 574(40.2%), pterygium stage 2, namely 446(46,6%), clinical symptoms of red eye was 506(52.8%),medical management was 620(64.7%), had no recurrence was 869(90.6%), in the right eye was 358(37.3%),the religion of Islam is 956 (99.7%). It was concluded that pterygium occurs mostly in women aged 40-50 years, housewives, in rural areas who do not attend school, are Muslim, have no family history, do not smoke, with comorbid hypertension, suffer from stage 2 pterygium, in the right eye with clinical symptoms of red eyes, recurrence and medical management. Abstrak. Pterygium merupakan pertumbuhan berlebih jaringan fibrovascular nasal konjungtiva. Prevalensi di dunia 10,2%. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran karakteristik pterygium pada pasien di RSUD Al Ihsan tahun 2016-2021.Penelitian ini deskriptif observasional menggunakan rekam medis.Subjek penelitian dipilih dengan purposive sampling berjumlah 959 orang. Hasil didapatkan mayoritas penderita pterygium berusia 40-50 tahun yaitu 243(25,3%), perempuan yaitu 713(74,4%), ibu rumah tangga yaitu 593(61,8%), di perdesaan yaitu 937(97,7%), tidak sekolah yaitu 364(37,9%), tidak memiliki riwayat keluarga yaitu 861(89,8%), tidak merokok yaitu 627(65,4%), komorbid hipertensi yaitu 574(40,2%), pterygium stage 2 yaitu 446(46,6%), gejala klinis mata merah yaitu 506(52,8%), penatalaksanaan medis yaitu 620(64,7%),tidak memiliki rekurensi yaitu 869(90,6%), pada mata kanan yaitu 358(37,3%), beragama Islam yaitu 956(99,7%). Disimpulkan pterygium banyak terjadi pada perempuan 40-50 tahun, ibu rumah tangga, di perdesaan yang tidak bersekolah, beragama Islam , tidak memiliki riwayat keluarga, tidak merokok, dengan komorbid hipertensi, menderita pterygium stage 2, di mata kanan dengan gejala klinis mata merah, rekurensi dan penatalaksanaan manajemen medis.
Pengaruh Tingkat Kecemasan terhadap Kualitas Tidur pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung yang Sedang Menyusun Skripsi Nopianti Sari Fatonah; Tita Barriah Siddiq; Caecielia Makaginsar
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6025

Abstract

Abstract. Anxiety is a condition that everyone experiences when they feel something dangerous about themselves. Long-term anxiety can lead to poor sleep quality. Inadequate or poor-quality sleep can cause disturbances in cognitive and psychological functioning as well as a decrease in physical health. The purpose of this study was to determine the effect of anxiety on sleep quality in FK Unisba students who were preparing their thesis during the COVID-19 pandemic for the 2021/2022 academic year. This study used an analytic observational research method with a cross-sectional design. The research subjects totaled 134 students who were selected by a simple random sampling technique and met the inclusion and exclusion criteria. Data collection was taken using the Taylor Manifest Anxiety Scale questionnaire to assess anxiety levels and the Pittsburgh Sleep Quality Index to assess sleep quality. Data were analyzed using the chi-square statistical test. The results showed that the majority of anxiety levels were in the mild category, with as many as 49 respondents (36.57%), with 44 people (32.84%) experiencing poor sleep quality. The results of the value analysis give a p of 0.003 which indicates that the level of anxiety experienced by students affects the quality of sleep. Poor sleep quality causes students who are preparing their thesis to experience various obstacles due to bold preparation which can trigger anxiety so that students do not get peace to sleep. Keywords: Anxiety, Sleep Quality, Student, Thesis Abstrak. Kecemasan adalah suatu kondisi yang dialami setiap orang ketika merasakan sesuatu yang berbahaya pada diri mereka sendiri. Kecemasan jangka panjang dapat menyebabkan kualitas tidur yang buruk. Kualitas tidur yang tidak memadai atau buruk dapat menyebabkan gangguan pada fungsi kognitif dan psikologis serta penurunan kesehatan fisik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kecemasan terhadap kualitas tidur pada mahasiswa FK Unisba yang sedang menyusun skripsi di masa pandemi COVID-19 tahun akademik 2021/2022. Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Subyek penelitian berjumlah 134 mahasiswa yang dipilih dengan teknik simple random sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data diambil dengan menggunakan kuesioner Taylor Manifest Anxiety Scale untuk menilai tingkat kecemasan dan Pittsburgh Sleep Quality Index untuk menilai kualitas tidur. Data dianalisis menggunakan uji statistik chi-square. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas tingkat kecemasan pada kategori ringan sebanyak 49 responden (36,57%), dengan 44 orang (32,84%) mengalami kualitas tidur yang buruk. Hasil analisis memberikan nilai p sebesar 0,003 yang menunjukkan bahwa tingkat kecemasan yang dialami mahasiswa berpengaruh pada kualitas tidur. Kualitas tidur buruk diakibatkan mahasiswa yang sedang menyusun skripsi mengalami berbagai kendala akibat penyusunan secara daring yang dapat memicu kecemasan, sehingga mahasiswa tidak mendapatkan ketenangan untuk tertidur. Kata Kunci: Kecemasan, Kualitas tidur, Mahasiswa, Skripsi
The Literature Study: Pap Smear as a Method for Early Detection of Cervical Cancer: Studi Literatur : Pap Smear sebagai Metode Deteksi Dini Kanker Serviks Khusnul Mulya Kautsar
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cervical cancer has the third highest mortality rate in the world from all cancer cases. This figure can be prevented through pap smear examination. This study aims to collect adequate data regarding the pap smear as a method of early detection of cervical cancer. The method used is a literature study by collecting several previous studies on pap smears as a method of early detection of cervical cancer. The results of this study explain the pap smear starting from history, definition, principles, purposes, benefits, recommendations, examination procedures, and interpretation of the results. Thus, it can be concluded that the pap smear is an examination that aims to see pre-cancerous lesions which is recommended for women aged 30-60 years every three years to prevent cervical cancer.
Hubungan Skor APGAR Keluarga dengan Kualitas Hidup Penderita MDR TB di Poli MDR TB RSUD SMC Kabupaten Tasikmalaya Daffa Muhammad Desyawalsah; Dicky Santosa; Susan Fitriyana
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6066

Abstract

Multi Drug Resisten Tuberculosis merupakan salah satu penyakit yang sulit ditangani. Penderita MDR TB sering mengalami penurunan kualitas hidupnya dari aspek fisiologis, psikologis, dan keuangan. Keluarga yang sehat merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas hidup penderita MDR TB. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis hubungan Skor APGAR keluarga dengan kualitas hidup penderita MDR TB di Poli MDR TB RSUD SMC Kabupaten Tasikmalaya. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Subjek adalah penderita MDR TB yang berjumlah 79 orang yang dipilih melalui Covenience Sampling. Pengambilan data diambil melalui data primer dengan menggunakan kuisioner APGAR keluarga dan SF-36. Pengolahan data menggunakan uji person chi-Square. Hasil penelitian menunjukan bahwa responden dengan keluarga fungsional 61 0rang (77,2%), keluarga kurang fungsional 15 orang (19,0%), keluarga tidak fungsional 3 orang (3,8%). Sedangkan untuk responden yang memiliki kualitas hidup baik 65 orang (82,2%) dan kualitas hidup buruk 14 (17,7%). Hasil dari penelitian ini tidak terdapat hubungan antara Skor APGAR Keluarga dengan Kualitas Hidup penderita MDR TB di RSUD SMC Kabupaten Tasikmalaya.
Hubungan Antara Burnout Sydrome Dengan Kelulusan Nilai Sistem Mahasiswa Fakultas Kedokteran Nissa Febriany Amadhea
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6068

Abstract

Burnout Syndrome merupakan istilah yang mengacu pada munculnya keadaan kelelahan, baik fisik maupun mental yang terjadi pada orang yang profesinya melibatkan tanggung jawab khusus Mahasiswa Fakultas Kedokteran tingkat 3 semester 6 mempelajari Reproductive System, pada penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa nilai mahasiswa mencapai titik terendah pada semester 6. Sample pada penelitian berjumlah 86 sampel dengan 2 mahasiswa (2,3%) yang mengalami burnout syndrome, dan mayoritas mahasiswa tidak mengalaminya, yaitu 84 mahasiswa (97,7%). Kelulusan system reproduksi pada penelitian ini dominan yaitu pada kelompok yang lulus, sebanyak 47 mahasiswa (54,7), dan yang tidak lulus sebanyak 39 mahasiswa (45,3%). sampel yang mengalami Burnout Syndrome sebanyak 2 sampel hanya terdapat pada kelompok yang tidak lulus kelulusan system reproduksi dan pada kelompok yang tidak mengalami Burnout Syndrome sebanyank 47 sampel pada kelompok lulus dan 37 sampel pada kelompok tidak lulus. Hasil uji chi-square menunjukkan nilai p pada table di atas yaitu 0,116 (>0,05), sehingga dapat dikatakan tidak ada hubungan antara kejadian Burnout Syndrome dengan Kelulusan system Reproduksi. Faktor lain yang mungkin mempengaruhi kelulusan seperti banyaknya materi pada sistem reproduksi, gaya belajar yang belum tepat, keadaan emosional dan stress dan adanya faktor lain.
Hubungan Usia Terdiagnosis dengan Status Gizi dan Pubertas Pasien Thalasemia Beta Mayor di Poli Anak RSUD Al Ihsan Annisa Berlia Maharani Kaka Nisa; Agung Firmansyah Sumantri; Yuliana Ratna Wati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6075

Abstract

Abstract. Thalassemia is a hereditary blood disorder that is commonly found in the world. It is estimated that thalassemia sufferers in West Java reach 40% of the total thalassemia patients in Indonesia. Most patients diagnosed with thalassemia are estimated at the age of 1-5 years. Growth and development disorders occur in patients with beta thalassemia major. Early diagnosis makes it possible to provide maximum management so as to minimize puberty delays and impaired nutritional status. This study aims to determine the relationship between diagnosed age and nutritional status and puberty in pediatric thalassemia patients at Al Ihsan General Hospital. The sample in this study were beta thalassemia major patients aged 13-18 years as many as 21 patients. This study used an observational analytic method with a cross-sectional study design. Data collection was carried out by direct examination and analyzed by fisher's exact test with SPSS software. The results showed that the diagnosed age was < 5 years 81% and > 5 years 19%, 23.8% poor nutritional status and 76.2% good nutrition, 19% late puberty and 81% not late. Bivariate results showed a relationship between age diagnosed and nutritional status (p=0.532) and puberty (p=0.546) in pediatric beta thalassemia patients at Al Ihsan Hospital. With adequate iron chelation therapy, it is hoped that thalassemic sufferers will experience the same growth and development as normal children. In this study, nutritional status and puberty did not show a relationship with the age at diagnosis because they were under control. Keywords: Age Diagnosed, Nutritional Status, Puberty, Thalassemia. Abstrak. Thalasemia merupakan kelainan darah herediter yang banyak ditemukan di dunia. Diperkirakan penderita thalasemia di Jawa Barat mencapai 40% dari total pasien thalasemia di Indonesia. Pasien yang terdiagnosis thalasemia terbanyak diperkirakan pada usia 1-5 tahun. Gangguan tumbuh kembang banyak terjadi pada pasien dengan thalasemia beta mayor. Diagnosis dini dimungkinkan pemberian tatalaksana yang maksimal sehingga meminimalisir keterlambatan pubertas dan gangguan status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia terdiagnosis dengan status gizi dan pubertas pada pasien thalasemia anak di RSUD Al Ihsan. Sampel pada penelitian ini adalah pasien thalasemia beta mayorberusia 13-18 tahun sebanyak 21 pasien. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan desain penelitian cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan secara langsung dan dianalisis dengan uji fisher exact dengan Software SPSS. Hasil penelitian menunjukkan usia terdiagnosis usia < 5 tahun 81% dan > 5 tahun 19%, status gizi kurang 23,8% dan gizi baik 76,2%, pubertas terlambat 19% dan tidak terlambat 81%. Hasil bivariat menunjukkan hubungan antara usia terdiagnosis dengan status gizi (p=0,532) dan pubertas (p=0,546) pada pasien thalasemia beta mayor anak di RSUD Al Ihsan. Dengan terapi kelasi besi adekuat diharapkan penderita thalasemia mengalami tumbuh kembang yang sama dengan anak normal. Pada penelitian ini status gizi dan pubertas tidak menunjukkan hubungan dengan usia terdiagnosis karena sudah terkendali. Kata Kunci: Status Gizi, Thalasemia, Usia Terdiagnosis, Pubertas.